Minna... sudah lama saia ga mampir, hehehe... gomenasai #bungkukbungkuk saia ke sini mau bayar hutang XD

Makasih buat yang udah baca dan review fic ini ya... buat SunakumaKYUMIN, Yuuki-abcd, dan Animea Lover Ya-ha, aku bales reviewnya di pm ^^ dan buat yang ga log in,

Sabaku no Uchiha: gomenasaaaiii... ini ga bisa cepet ya, huhuhuhu makasih udah review :'D

Devil Bats: Musashi kan emang Hiruma versi kalem (?) dia emang kadang suka manggil ayahnya dengan sebutan sialan, dasar anak-anak durhaka -.- untung Kurita ga ketularan.. makasih banyak ya

Marela 166: aahh... di chap ini juga Hirumanya so sweet lho.. ffufufufu #plok terimakasih XD

Baiklah... mari kita mulai~~

.

.

Deai no Chikara

Dislaimer: Riichiro Inagaki-Yusuke Murata

Story: Mayou Fietry

Pair: Hiruma- Musashi-Kurita

Hiruma x Mamori

Musashi x OC

Kurita x OC

Genre: Friendship, humor, romance

Warning: OOC, OC seperti biasa, typo yang selalu setia, humor garing, gaje, ngaco, abal tingkat akut,


Mamori menatap punggung tegap Hiruma yang mulai menjauh, wajahnya masih menunjukan raut terkejut. Hiruma... Tahu siapa yang selama ini mengganggunya? Mata biru itu melirik handphone yang di telapak tangannya, kemudian kembali menatap punggung Hiruma. Tanpa sadar, sebuah senyum kecil terukir di bibir Mamori.

"Mamo-chan?"

Gadis itu menoleh dengan cepat saat mendengar suara yang sangat ia kenal dari arah rumah. Ia kembali tersenyum saat melihat ibunya, yang sepertinya akan membuang sampah.

"Kenapa baru pulang? Ini sudah malam, kau bilang sudah tidak ada kegiatan klub," Mami Anezaki berjalan menuju tempat sampah di depan rumahnnya.

"Aku tadi habis menjenguk ayahnya Musashi-kun di rumah sakit," jawab Mamori.

Tapi sepertinya sang ibu tidak terlalu mendengar ucapan putri tunggalnya, karena matanya yang sama persis dengan Mamori tiu tengah memperhatikan Hiruma yang sudah jauh, postur tubuh itu sepertinya ia kenali. "Kau diantar seseorang?"

"Aku memintanya Hiruma-kun mengantarku, ini sudah malam dan aku rasa akan sangat aman kalau dia bersamaku."

Mami memicingkan mata mendengar pengakuan putrinya, pikirannya tengah mencerna kalimat yang terlontar dari bibir manis malaikat kesayangannya itu.

"Eh..." Mamori seperti menyadari perubahan wajah sang ibu. "Sepertinya aku salah bicara, maksudku, sepertinya ibu salah paham." Setelah mengatakan itu Mamori segera masuk ke rumah meninggalkan ibunya yang tengah tertawa.

"wah, wah, sepertinya Mamo-chan sudah besar ya, sudah punya pacar," ledek Mami sambil mengikuti Mamori masuk ke rumah.

"Mou! Ibu, dia bukan pacarku."

"Ahaha... baiklah, tapi suruh dia mampir kalau mengantarkanmu pulang lagi,"

Mamori berhenti di tangga yang menuju kamarnya lalu menatap Mami. "Aku harap ibu menarik kembali ucapan ibu," ungkap Mamori. Ia sungguh tidak bisa membayangkan komentar sang ibu jika Hiruma si setan itu mampir ke rumahnya. Bisa-bisa tidak dapat restu. Eh? Mamori memukul kepalanya pelan, menghilangkan pikiran konyol yang baru saja hinggap di otaknya.

Gadis itu menghela nafas pelan saat tiba di kamar, ia merapihkan semua barang-barangnya kemudian mengganti baju, masih terlalu malas untuk mandi, Mamori memutuskan duduk di meja belajarnya, mengulang kembali pelajarannya di sekolah. Tapi kemudian ia memandang keluar jendela kamarnya. "Apa Hiruma-kun sudah sampai ya?" ia bergumam sendiri.

Pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil di meja belajar, melihat foto dirinya dan Hiruma yang sedang duduk di bench, foto yang diambil Suzuna setelah Christmast Bowl. Untuk pertama kalinya Hiruma tidak menolak difoto berdua dengan Mamori. Saat itu, Hiruma yang duduk di samping kiri Mamori mencubit pipi kanan Mamori, secara otomatis, tangan besarnya seolah merangkul Mamori. Gadis itu tersenyum sendiri mengingatnya.

"Hm... pantas saja ibu panggil tidak menyahut, ternyata sedang memandangi foto Hiruma,"

Mamori tersentak kemudian segera menutup bingkai foto itu. Ia menoleh dan tersenyum garing pada sang ibu yang entah sejak kapan ada di belakangnya. "A-apa yang sedang ibu lakukan?" tanyanya.

"Hiruma-kun itu kelihatannya tampan dan baik ya," Mami seperti tidak mendengar perkataan putrinya.

"Mou... ibu," Mamori sadar, wajahnya kini mulai memerah.

"Ahaha... tadi ibu tanya kau sudah makan belum, kau tidak menjawab, ibu kira kenapa, ternyata sedang melihat foto."

"Aku sudah makan tadi," jawab Mamori tanpa menyinggung lagi masalah foto, bisa-bisa tidak akan selesai.

"Ditraktir Hiruma-kun?"

"Tidak, aku bayar sendiri, tadi dia tidak makan, dia hanya minum kopi—astaga!" sepertinya penyakin over protective Mamori kambuh disaat yang sangat tidak tepat. Gadis itu terlalu khawatir begitu ingat Hiruma belum makan dan malam sudah mulai larut sekarang, buru-buru ia mengambil handphonenya, mengetik sebuah pesan singkat pada Hiruma.

To: Hiruma Youichi

"Kau HARUS makan sesuatu, setan jelek."

"Hahahahaha..."

Suara tawa sang ibu menyadarkan Mamori. Gadis itu menoleh, dan wajahnya kembali memerah menyadari betapa konyol tingkahnya yang sangat mengkhawatirkan Hiruma disaat sang ibu tengah menggodanya. Gadis itu mematung beberapa saat.

"MOU!" Mamori menjerit menahan malu sementara sang ibu terus saja tertawa.

"Sudahlah, kau cepat mandi, kau bau dan Hiruma-kun pasti tidak akan betah kalau aroma tubuhmu seperti ini, Mamo-chan."

"Aku tidak peduli padanya!" Mamori membuang muka, berharap ibunya tidak melihat wajahnya yang sudah sangat memerah.

Ibunya itu berhenti tertawa kemudian mengusap rambut Mamori penuh kasih. "Baiklah, oyasumi." Ucap wanita itu kemudian keluar kamar putrinya.

"Oyasumi, ibu," jawab Mamori pelan. Ia melirik handphonenya yang bergetar. Balasan dari Hiruma mungkin, sekarang Mamori merasa menyesal kenapa dia harus mengirimi Hiruma pesan seperti tadi. Mamori meraih handphonenya kemudian membuka sebuah pesan masuk yang benar-benar dari Hiruma.

From: Hiruma Youichi

"Wah... sepertinya ada yang sedang khawatir padaku,"

Mamori merengut. Jawaban macam apa itu? Ia rasanya ingin melempar kepala Hiruma dengan bola amefuto. Buru-buru Mamori menjawab.

To: Hiruma Youichi

"Kalau kau sakit, memangnya siapa lagi yang akan direpotkan kalau bukan aku. Tidak ada orang yang mau menolong setan jahat sepertimu."

Setelah memastikan pesannya terkirim, Mamori bangkit dari posisinya. Ia menyambar handuk yang tergantung rapi di balik pintu kamarnya kemudian menuju kamar mandi, sesaat dia kembali mengingat perkataan sang ibu. Mungkin Hiruma tidak akan betah di dekatnya kalau dia bau.

Plok.

Mamori menampar pipinya sendiri dengan pelan, ia menyangkal pikiran konyol yang hinggap di kepalanya. Sepertinya akhir-akhir ini Mamori sering memikirkan yang aneh-aneh. "Kurasa aku hanya lelah," ia bergumam sendiri sedetik sebelum melakukan mandi kilat.

Usai dengan mandi malamnya yang sangat cepat, Mamori segera menuju kamar, menyambar handphone dan melihat pesan balasan dari Hiruma. Oh, inilah alasan malaikat cantik itu mandi kilat, ia tidak sabar melihat balasan Hiruma.

From: Hiruma Youichi.

"Jadi menurutmu, aku ini merepotkan?"

DEG.

Wajah Mamori berubah sedih saat membaca balasan Hiruma. Apakah Hiruma pikir Mamori tidak ikhlas membantu pekerjaannya selama satu tahun ini? Apa Hiruma berfikir Mamori tidak senang berada di sampingnya selama ini?

Meski hari-hari yang mereka lalui dipenuhi dengan pertengkaran, tapi itu adalah hari-hari terbaik yang pernah Mamori miliki. Gadis itu tersenyum pahit, ia merebahkan diri di tempat tidur kemudian mulai mengetik balasan untuk Hiruma.

To: Hiruma Youichi

"Tentu saja kau merepotkan, kau selalu membuat onar, dan aku sangat sial karena selalu membereskan semua ulahmu. Cepatlah makan, tuan Hiruma. Kau itu bukan robot, jadi jangan forsir tubuhmu. Kalau sampai malam ini kau tidak makan, besok aku akan menyumpal mulutmu dengan sepuluh cream puff yang sangat manis."

Kekekeke... Mamori tersenyum jahat membayangkan dirinya memaksa Hiruma makan cream puff, pria itu pasti akan sangat marah. Belum selesai dengan fantasinya, handphonenya kembali berhgetar. Pria itu cepat sekali membalas.

From: Hiruma Youichi

"Aku tidak yakin kau merelakan cream puff sialan itu untuk orang lain. Sepuluh cream puff sialan itu pasti sudah habis sebelum kau memasukannya ke mulutku. Kau 'kan rakus."

"Mou! Enak saja!" seru Mamori saat membaca balasan Hiruma. Mamori 'kan tidak rakus, setidaknya, itu menurut dirinya sendiri.

To: Hiruma Youichi

"Kau juga rakus. Kau rakus pada permen karet."

Gadis itu tertawa pelan dengan jawaban yang ia tulis untuk Hiruma. Apa Hiruma akan membalas lagi? Sepertinya pria itu akan malas dengan bahasan yang tidak penting seperti ini. Mamori memutuskan untuk memejamkan matanya, dan kalau Hiruma membalas, ia akan mengucapkan terima kasih untuk hari ini.

Drrt... Drrrtt

Mamori segera membuka mata kemudian mengambil handphone di bawah bantalnya. Hiruma masih membalas. Tanpa sadar, gadis itu tersenyum senang sambil membuka balasan dari Hiruma.

From: Hiruma Youichi

"Otakmu jadi tidak waras, sepertinya kau mulai ngantuk. Sebaiknya tidur sana dan jangan menggangguku, manajer jelek. Aku akan menendangmu sampai Pluto kalau kau terlambat besok."

"Hahahaha..." Mamori tertawa pelan membaca jawaban Hiruma. Menyenangkan sekali rasanya berkirim pesan dengan pria itu. Sepertinya, ini pertama kali ia dan Hiruma melakukan hal seperti ini, biasanya mereka hanya akan berkirim pesan jika ada yang penting, dan itu tidak pernah lama. Malam ini, bahkan yang mereka bahas tidak bisa dibilang penting. Tapi Mamori akui, ia cukup senang.

To: Hiruma Youichi

"Iya, kapten, sekarang aku sudah di tempat tidur. Sebaiknya kau juga cepat tidur, tapi sebelumnya pastikan cacing-cacing dalam perutmu sudah diberi makan. Terima kasih sudah mengantarku pulang tadi, dan... uhm, aku ingin bertanya sesuatu besok. Oyasumi."

Mamori kembali meletakan handphonenya di tempat semula. Ia kembali teringat yang Hiruma lakukan saat tiba di depan rumahnya tadi. Penelepon misterius itu, apa Hiruma tahu siapa orang itu? Besok akan ia tanyakan pada Hiruma, setelah itu ia mulai terlelap.

Saat bangun keesokan Harinya, Mamori tidak menemukan pesan balasan dari Hiruma di handphonenya, padahal ia berharap Hiruma membalas pesan terakhirnya semalam, tapi ya sudahlah, bukan masalah, lagi pula pagi ini mereka akan bertemu.

Gadis itu bangun dari tempat tidunya untuk mandi dan menyelesaikan semua persiapan sekolahnya sebelum kemudian turun ke dapur untuk menyiapkan bekal, untuk Sena dan dirinya.

"Ohayou, ibu," sapa Mamori saat melihat ibunya tengah sibuk di dapur.

"Ohayou sayang," balas Mami sambil menata beberapa makanan di meja. "Pagi ini ayahmu pulang, jadi ibu masak banyak."

Mamori tersenyum. Karena pekerjaannnya sebagai pilot, ayahnya jadi tidak setiap hari ada di rumah, dan kata-kata "ayah pulang" adalah dua kata yang sangat menyenangkan bagi Mamori. Gadis itu mengamati meja makan, alisnya menyatu saat melihat tiga kotak bekal. "Ibu, itu untuk siapa?" tanyanya.

"Itu?" Mami menunjuk tiga kotak bekal yang diperhatikan Mamori. "Ini untuk Sena," ia menyerahkan kotak berwarna biru muda pada Mamori. "Yang ini untukmu," lalu kotak berwarna pink. "Dan yang ini... untuk Hiruma-kun." Terakhir, Mami menyerahkan kotak berwarna hijau pada putrinya.

Mamori cengo, mulutnya terbuka mendengar jawaban sang ibu. "Kenapa Hiruma juga?"

"Melihatmu semalam panik karena dia belum makan, membuat ibu berfikir, sepertinya Hiruma itu orang yang susah makan, jadi ibu buatkan untuk dia juga. Calon atlet harus makan teratur 'kan?"

Mamori makin cengo dengan jawaban ibunya. "Tapi, dia itu... pasti menolak,"

"Kalau begitu jangan biarkan dia menolak kali ini. Sudah, sekarang kau cepat sarapan." Mami menarik kursi kemudian mulai mengambil sarapan. Mamori mengikuti sang ibu, sementara kepalanya berfikir keras bagaimana cara agar Hiruma menerima pemberian ibunya tanpa mengejek.

.

.

.

"Nona Umeda, sepertinya kau ini mulai bandel," suara suster Oka yang menyeramkan membuat bulu kuduk Yukari merinding.

Kenapa? Kenapa harus suster ini yang menemaninya melepas gips? Yukari berteriak dalam hati, sementara asistennya yang sejak tadi berdiri di belakang kursi rodanya tidak menanggapi apa pun.

"Aku akan mengutukmu kalau kau berani meninggalkan kamar lagi, nona Umeda," ungkap suster Oka dengat tegas.

"Ha-hhai, suster Oka bisa mengutukku supaya menang di setiap pacuan, ahahaha..." Yukari mencoba mencairkan suasana.

Suster Oka tidak menanggapi. Wanita menyeramkan itu berjalan menjauhi Yukari dan asistennya untuk mengambil beberapa perlengkapan. Saat itulah joki muda ini mencubit lengan besar pria yang menjadi asistennya. "Kau melapor pada suster itu kalau aku keluar kamar?" desisnya.

"Haah... mau bagaimana lagi, waktu itu dia datang ke kamar saat kau tidak ada, jadi aku bilang saja kau makan di kantin, dan aku dimarahi." Pria yang berumur tiga tahun dari Yukari itu memberi alasan.

Yukari mendengus, sebal dengan asistennya ini. Dia 'kan butuh jalan-jalan, melelahkan kalau hanya mengurung diri di kamar sementara pertandingan dimulai satu bulan lagi. "Okura-kun, sepertinya aku harus ke kamar mandi." Pamit Yukari pada sang asisten kemudian memutar kursi rodanya keluar dari ruangan bertuliskan "Ruang Gips" tersebut.

Gadis itu menghentikan laju rodanya dua meter dari pintu ruangan tempat ia berada tadi. Matanya tidak sengaja melihat siswa Deimon dengan wajah orang tua yang beberapa hari ini ia temui. Gen Takekura, berdiri di depan meja administrasi bersama seseorang, pagi ini dia sudah berseragam.

"Huuh... masih anak sekolah," gumam Yukari pelan. Tanpa sadar, ia terus memperhatikan gerakan orang itu. Sepertinya Musashi mengambil handphone di saku blazer hijaunya kemudian menempelkannya ke telinga.

"Oh, Anezaki, ohayou," pria itu tersenyum tipis, dan sangat lembut.

Tanpa sadar membuat sesuatu dalam dada Yukari bergejolak. Anezaki itu... kalau tidak salah gadis yang kemarin? Sepertinya mereka berdua dekat, Musashi bahkan sampai tersenyum seperti itu, kelihatannya sangat senang menerima telepon dari Anezaki.

"Mungkin, Musashi-kun menyukai gadis yang kemarin, dia sangat cantik sih," lagi-lagi Yukari bergumam sendiri.

"Ck, apa yang kau lakukan di sini? Katanya ke toilet."

Yukari tersentak, ia mendongak dan menemukan wajah malas asistennya, Okura, pria itu mendorong kursi roda Yukari kembali memasuki ruang gips. Kali ini tidak ada protes dari gadis itu, karena mendadak hatinya terasa galau.

.

.

Morimoto Aguri tidak seperti gadis bangsawan kebanyakan. Ia tidak begitu suka peraturan, terutama peraturan konyol tentang tata krama seorang yang terpandang di rumahnya, menurut Aguri, itu sama sekali tidak berguna. Gadis manis ini lebih suka berangkat ke sekolah dengan kereta api dari pada harus diantar oleh supirnya. Kalau dia bisa melakukannya sendiri, kenapa harus meminta tolong pada orang lain?

Seperti pagi ini, setelah kabur dari ibunya yang ngotot menyuruh Aguri diantar supir, gadis itu berjalan dengan wajah ceria menuju gerbang SMU Deimon, sekolah pilihannya, kedua tangannya memeluk beberapa file, tugas dari Hiruma kemarin yang sudah ia selesaikan. Meskipun dia ragu, apakah pekerjaannya ini sudah benar atau tidak, ia harap tidak terlalu banyak melakukan kesalahan.

Langkah kakinya terhenti saat melihat seorang pria berbadan besar dan bulat baru saja memasuki gerbang sekolah. Senyum di wajah gadis cantik beraroma vanila itu mengembang. Ia setengah berlari mengejar pria itu.

"Kak Kurita!" panggilnya riang.

Pria berbadan besar yang berada beberapa meter di depannya itu menghentikan langkah sebelum menoleh ke arahnya. "Ah, Vanila-chan," sapanya sembari tersenyum.

Aguri membalas senyum itu, ia merasa senang dengan panggilan unik yang diberikan kakak kelasnya itu. "Kak Kurita tidak bersama kak Hiruma dan kak Musashi?" tanya Aguri saat ia tiba di samping pria itu.

"Tidak, rumah kami tidak searah, jadi kami biasanya cuma bersama saat pulang," jawab Kurita kemudian melanjutkan langkah menuju gedung sekolah mereka. "Apa itu tugas dari Hiruma?"

"Uhm," Aguri mengangguk kecil. "Aku tidak tahu apa ini sudah benar atau belum, aku tidak sepandai Mamori-neechan dalam urusan meneliti video pertandingan."

Kurita mengangguk mengerti. "Hiruma itu orang yang baik, dia selalu menghargai pekerjaan orang lain, meski dia tidak mau ada orang yang tahu sifatnya yang satu itu. Jadi, sebaiknya kau bersemangat, kau tidak perlu cemas."

Senyum manis itu kembali muncul di bibir mungil Aguri. "Iya, kak Kurita. Aku yakin dengan kemampuanku."

Mereka terus berjalan bersama sembari membicarakan beberapa hal tentang Devil Bats, Aguri adalah tipe orang yang senang sekali mendengarkan cerita, dan Kurita orang yang suka membagi banyak hal pada teman baru. Mereka berdua tampaknya cocok.

"Nah, itu Hiruma, Vanila-chan," kata Kurita saat ia membuka pintu ruang kelasnya dan langsung mendapati Hiruma yang sudah pacaran dengan laptop di bangku paling belakang. Kurita menarik tangan Aguri agar mengikutinya masuk.

"I-iya, aku akan berikan tugasku padanya sekarang." Aguri jadi sedikit gugup. Aura setan dari Hiruma memang lebih menyeramkan bahkan dibandingkan dengan guru yang paling galak sekali pun. "Hi-Hiruma-san, ini tugas yang kau berikan padaku kemarin, sudah selesai." Gadis cantik itu mengulurkan file di tangannya pada Hiruma yang masih sibuk dengan laptop.

"Hm?" mata hijau itu melirik sekilas. "Ambil itu, Manajer sialan." Perintahnya pada Mamori yang sedang ngobrol dengan teman-temannya tidak jauh dari tempat Hiruma.

Mamori yang merasa acara mengobrolnya terganggu langsung merengut, tapi tidak melontarkan kalimat bantahan sama sekali. Ia berjalan menghampiri Aguri yang tampak gugup.

Adik kelasnya itu mengangsurkan file yang ia bawa pada Mamori. Wajahnya yang putih tampak sedikit memerah, entah karena kesal pada tingkah Hiruma, atau mungkin takut.

"Huuh... dia itu memang menyebalkan, Aguri-chan, beruntung saat kau menjadi manajer nanti, sudah tidak ada orang seperti dia," Mamori menunjuk Hiruma dengan ekspresi wajah yang sangat kesal.

Mau tidak mau Aguri terkikik geli, salut akan keberanian kakak kelas idolanya itu pada sang setan. Sementara Hiruma tetap cuek, tidak peduli dengan komentar Mamori tentangnya.

"Sebaiknya kau kembali ke kelas sialanmu, calon manajer sialan payah." Hiruma lagi-lagi berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.

"Hai, terima kasih Mamori-neechan, Kak Kurita, dan Hiruma-san, jaa." Kemudian Aguri segera menghilang dibalik pintu.

"Vanila bilang dia ragu akan hasilnya," Kurita bergumam pelan.

"Tenang saja, aku yang akan mengecek file ini." Kata Mamori sambil tersenyum kecil. Ia lalu kembali ke bangkunya, melanjutkan sesi ngobrol dengan teman-temannya yang tertunda setelah menyimpan file dari Aguri dalam tasnya. Ia akan memeriksanya bersama Hiruma kalau ada waktu nanti.

Suasana kelas selalu damai saat pelajaran dimulai, bahkan meski sepertinya tidak mengikuti kegiatan belajar, Hiruma tidak berisik, kakinya tidak ia naikan ke atas meja, tidak membuat balon dari permen karet, yang terdengar dari bangkunya hanya sebuah suara tarian jari di atas keyboard, dan pagi ini, suara itu rasanya lebih menarik perhatian Mamori dari sebelumnya.

Otak jenius gadis itu kembali berfikir, bagaimana cara menyerahkan bekal dari ibunya pada Hiruma, tanpa membuat pria itu berfikir yang aneh-aneh, tanpa meledeknya apa lagi sang ibu. Ah, Mamori bersumpah akan melempar bekal yang dibuat ibunya ke wajah Hiruma kalau sampai setan itu berani meledek ibunya.

Sepertinya, dua pelajaran pagi sebelum jam istirahat tidak terlalu masuk ke dalam kepala Mamori. Dan sekarang, saat bel tanda istirahat berbunyi, Mamori merasakan kakinya gemetar, apa dia tidak usah memberikan bekal itu saja ya... kemudian berbohong pada ibunya. Berbohong sungguh sikap yang tidak baik, apa lagi pada ibunya. Haah... Ya sudahlah, coba saja, Mamori.

"Hiruma-kun," panggil Mamori pelan.

Hiruma menoleh pada Mamori sebagai respon.

"Kurasa sekarang waktunya memeriksa pekerjaan Aguri-chan,"

"Baiklah, kemari." Hiruma menutup laptopnya, setuju dengan usul Mamori.

"Uhm... ikut aku." Gadis itu berjalan keluar kelas dengan membawa file dari Aguri beserta dua bekal buatan ibunya.

Hiruma mengikuti langkahnya tanpa curiga, meninggalkan dua sahabatnya yang tengah tersenyum penuh arti.

Mamori membawa Hiruma ke atap. Ia tahu, ini adalah tempat favorite Hiruma setelah ruang klub, karena di sini tidak akan ada orang lain yang mengganggu.

"Kenapa harus ke sini, Manajer sialan? Dan apa itu yang kau bawa?" Hiruma menatap kotak bekal Mamori dengan sangat curiga.

"Eh... i-ini..."

"Apa kau benar-benar akan menyuapiku cream puff sialan? Kekekekeke..."

Pipi Mamori bersemu, ia tidak berfikir Hiruma akan membahas pembicaraan mereka semalam. "Tidak kok, hanya saja, ibuku tiba-tiba membuatkan bekal, untukmu."

"Haaa?" Hiruma menaikan sebelah alisnya tinggi sekali. Apa dia tidak salah dengar? Apa Hiruma harus mengorek telinganya seperti Musashi untuk memastikan apakah pendengarannya masih berfungsi dengan baik?

"Benar, semalam ibu melihatmu waktu kau pulang, ibu juga melihatku mengirimimu pesan soal makan, dan tadi pagi ibu menyuruhku memberikan ini padamu. Dia bilang, sepertinya kau itu tipe orang yang susah makan." Mamori menyerahkan satu kotak bekal pada Hiruma.

"Yakin ini dari ibumu, Manajer sialan? Bukan kau yang cari perhatian dengan membuatkanku bekal?" Hiruma menyeringai seksi.

"Apa maksudmu cari perhatian?" Mamori langsung duduk dan membuka kotak bekal miliknya. "Kau bisa mencobanya, rasanya akan berbeda dengan masakanku,"

Hiruma terlihat tidak yakin, tapi kemudian ia duduk di samping Mamori, membuka kotak bekal pemberian Mamori kemudian mulai memakannya sedikit. Benar kata Mamori, rasanya lebih enak dibanding masakan Mamori biasanya, bukan berarti makasakan Mamori tidak enak, tapi kali ini rasa masakannya mengingatkan Hiruma pada sang ibu. Tanpa sepengetahuan Mamori, pria itu tersenyum sangat tipis.

"Kau bilang ada yang mau kau tanyakan?" tanya Hiruma disela-sela acara makan mereka yang hening.

"Benar, kau tahu, siapa orang yang akhir-akhir ini menerorku?"

"Tidak juga,"

"Lalu kenapa kau mengancamnya semalam?"

Hiruma menyeringai. "Hanya iseng, dan kau akan mengetahuinya kalau kau bertemu orang sialan yang terlihat takut padaku, dan menghindarimu, itu berarti dia si pengganggu sialan itu."

"Kurasa semua orang takut padamu," ungkap Mamori.

"Semua orang, kecuali kau."

Mamori tersenyum bangga mendengar pengakuan Hiruma. Meskipun sebenarnya, ia juga terkadang takut pada Hiruma, takut saat melihat pria itu marah, takut tidak bisa membuat Hiruma merasa lebih baik.

"Aku sudah selesai, ayo periksa pekerjaan Aguri-chan," Mamori meletakan kotak bekal miliknya, lalu memberikan sebuah kopi kaleng pada Hiruma.

Pria itu menerimanya, langsung meminumnya separuh, kemudian membantu Mamori memeriksa hasil kerja calon manajer Devil bats. Kali ini mereka serius, tidak ada yang bicara kecuali saat sangat diperlukan.

Akhirnya Hiruma menutup file itu, tanda bahwa ia sudah mengambil keputusan. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Manajer sialan." Pria itu menyeringai kecil, matanya yang hijau seperti menyampaikan sesuatu pada Mamori.

Manajernya itu ikut tersenyum, menangkap maksud yang ingin disampaikan Hiruma. Mereka memang tidak butuh kata-kata untuk beberapa hal, seperti saat ini, sebuah tatapan mata dan seulas senyuman, keduanya saling mengerti apa yang ingin disampaikan.

"Baiklah, Hiruma-kun," Mamori bangun dari posisinya, membawa dua kotak bekal miliknya yang kosong. "Terima kasih sudah menerima pemberian ibuku," ia kembali tersenyum.

"Hm," balas Hiruma ogah-ogahan.

Mamori merengut. "Mana ucapan terima kasihnya?"

"Kekekeke... akan kuucapkan sendiri nanti," kekeh Hiruma kemudian berjalan meninggalkan Mamori yang masih merengut.

"Huuh... dia tetap saja menyebalkan."

.

.

.

Saat jam pelajaran terakhir selesai, Kurita dan Musashi melangkah berdua keluar gedung sekolah, hari ini para junior belum ada latihan, jadi tidak perlu mampir ke ruang klub. Mereka berdua berencana untuk makan ramen di kedai langganan mereka. Sebenarnya Kurita ingin sekali mengajak Hiruma, tapi karena sejak istirahat tadi pria itu sudah menempel dengan Mamori, Musashi melarang Kurita untuk mengajaknya, sahabat mereka itu butuh privasi sendiri.

Meski Hiruma sepertinya orang yang malas main, tapi pergi dengan Kurita dan Musashi merupakan suatu pengecualian, dan jika mereka mengajaknya sore ini, Hiruma pasti akan mengiyakan, tapi itu sama saja menghancurkan masa pendekatan sang setan dengan Mamori, setidaknya begitulah pikiran Musashi.

"Ne, Musashi, sepertinya Hiruma mulai menyukai Anezaki ya?" Kurita memulai pembicaraan saat mereka keluar gerbang sekolah.

Musashi tersenyum kecil sambil mengorek telinganya. "Mulai katamu? Kau yang selama ini di sampingnya, bagaimana mungkin kau berfikir baru mulai?"

"Eh?" sepertinya kapasitas otak pria berbadan besar itu tidak bisa menampung kalimat dari sahabatnya itu. "Apa maksudmu?"

"Si bodoh itu sudah menyukai Anezaki sejak lama, dia saja yang tidak mau mengakui,"

"EEEHHH?" Kurita nyaris berteriak mendengar kata-kata Musashi, wajahnya tampak sangat terkejut. "Benarkah itu?"

"Hm, coba saja kau ingat-ingat tentang mereka sejak Anezaki bergabung dengan Devil Bats,"

Kurita diam sebentar, ia mengingat lagi sifat Hiruma saat Mamori bergabung. Pria itu tidak pernah benar-benar mengancam Mamori, meski sudah menggenggam buku ancaman, pada akhirnya dia selalu menyimpannya kembali. Kemudian, Hiruma juga pernah memaksa Kurita memberikan sekotak cream puff pada Mamori saat gadis itu menguntit Sena seharian, dengan alasan untuk mengalihkan perhatian Mamori. Yang paling jelas, mungkin saat Hiruma menunggu Mamori di depan pintu masuk menuju lapangan saat mereka akan bertanding melawan Bando Spiders, Hiruma melarang siapa pun masuk karena di dalam Mamori sedang menangis. Juga saat Hiruma muncul tiba-tiba untuk melindungi Mamori di pertandingan Hakushu melawan Taiyou, saat Gaou menghancurkan tribun.

"Musashi, mungkinkah, mereka berdua itu sebenarnya sudah pacaran?" tanya Kurita pelan.

Yang ditanya hanya menoleh, sambil kembali tersenyum kecil. "Jangan tanya padaku,"

"Mungkin mereka sudah pacaran, mungkin saat Death March, waktu itu Hiruma pergi dan Anezaki menyusulnya, mungkin juga saat kita merayakan kemenangan atas Shinryuji, Anezaki dan Hiruma tidak ada di sana, atau mungkin saat Anezaki menunggu Hiruma di ruang kesehatan saat tangannya patah, atau di kapal pesiar waktu kita mengadakan pesta, atau..."

Puk.

Musashi menepuk pelan punggung besar Kurita. "Bagaimana kalau kau tanyakan sendiri padanya?" usul Musashi.

"Ah! Benar juga, aku tanyakan saja langsung pada Hiruma besok," Kurita bersenandung senang. Dia merasa bahagia juga kalau temannya yang penyendiri itu bahagia.

Kadang, Musashi dan juga Kurita tersadar, ada sesuatu dalam diri Hiruma yang bahkan tidak bisa mereka jangkau, sesuatu yang tidak pernah Hiruma tunjukan pada mereka sebagai sahabat terbaiknya, sesuatu yang hanya akan dibagi Hiruma kepada belahan jiwanya.

.

.

.

"Mou! Jalanmu buru-buru sekali!" protes Mamori yang rasanya kesusahan mengikuti langkah cepat kaki jenjang Hiruma yang sudah dua meter di depannya.

Pria itu tetap cuek meniup permen karetnya menjadi balon, mengabaikan protes Mamori yang berisik. Tapi tiba-tiba langkah itu terhenti, membuat Mamori ikut berhenti juga secara otomatis.

"Hiruma?" tanya Mamori saat pria itu hanya berdiri diam di depannya.

Seandainya saja saat ini Mamori memperhatikan wajah sang kapten, wajah tampan pria itu tampak mengeras, rahang kokohnya tampak tegang, namun bola mata hijaunya yang indah tampak bergetar, fokus pada suatu objek di seberang jalan.

"Hiru—" kata-kata Mamori terhenti. Gadis itu terkejut—juga takut melihat ekspresi Hiruma sekarang, ia mengalihkan pandangan menuju apa yang Hiruma lihat, seorang pria yang sepertinya tidak asing, tengah merangkul seorang wanita muda yang umurnya mungkin hanya tiga tahun di atas mereka. Pria itu... sepertinya Mamori pernah melihatnya, saat Christmast Bowl. Bola mata biru itu tampak membulat karena terkejut saat ingatannya berhasil menemukan orang itu.

Dengan tangan gemetar, Mamori menyentuh lengan besar Hiruma, memengganginya erat. Membuat setan itu menoleh padanya, memasang wajah bingung seolah tidak mengerti apa yang terjadi pada Mamori, tapi hatinya sangat tahu, Mamori mengkhawatirkan perasaannya sekarang.

"Ayo," suara Mamori terdengar gemetar. Ia menurunkan pegangannya untuk menggenggam tangan besar Hiruma, sedikit menyeretnya dari jalan itu. Ia tahu, hati Hiruma terasa sakit melihat itu, ayahnya bersama seorang wanita yang Mamori sangat yakin bukan ibu dari setan ini. Rasanya pasti sakit sekali, dan yang ia bisa sekarang hanyalah membawa Hiruma pergi, menjauh dari pemandangan tidak menyenangkan itu.

"Kau cari kesempatan untuk berpegangan tangan denganku, Manajer sialan?"

Tapi Hiruma bukan tipe orang yang senang dikasihani, dia selalu ingin terlihat kuat di depan orang lain, dan dia selalu berbohong untuk menutupinya. Pria itu terkekeh-kekeh meski Mamori tidak menanggapinya sama sekali.

"Aku bisa jalan sendiri, Oneechan..." ledek Hiruma sambil melepaskan tangannya dari Mamori.

Mamori merengut, menatap galak pada pria yang masih tertawa itu. Setan yang sangat jenius, dia menutupi apa yang ia rasakan dengan kekehan menyeramkan namun terdengar seksi itu. Tapi Mamori tidak akan terkecoh pada aktingnya, ia sudah melalui ribuan jam dengan Hiruma, dan ia sangat mengenal pria itu.

"Anggap saja kau tidak melihat apa pun, Manajer sialan," ujar Hiruma pelan setelah kekehannya selesai. Wajahnya mulai kembali datar tanpa emosi.

"Kau bisa percaya padaku, Hiruma-kun," jawab Mamori. "Bahkan jika kau membutuhkan orang untuk mendengarkan semua kekesalanmu, ada aku." Ia bergumam pelan.

Hiruma melirik gadis itu dari sudut matanya, ia tahu Mamori adalah orang yang sangat bisa dipercaya, tapi tidak untuk urusan pribadinya. Ia tidak akan menceritakan sedikitpun tentang hidupnya pada orang lain, tidak Kurita, Musashi, atau bahkan Mamori.

Tanpa sadar, mereka berdua telah sampai di depan rumah Mamori. Tidak begitu jauh dari mereka, terlihat Mami Anezaki tengah mengobrol dengan sahabatnya, Mihae Kobayakawa. Wanita itu tersenyum pada putrinya dan Hiruma, kemudian menghampiri keduanya.

"Ibu, bukankah ibu bilang hari ini ayah pulang?" tanya Mamori saat sang ibu mendekat.

"Iya, dia pulang hanya untuk makan siang, dia berangkat lagi, katanya ada penerbangan lokal, ke Hokaido, besok sore dia baru benar-benar pulang." Mami Anezaki memandang Hiruma dengan lembut, kemudian tersenyum, senyuman yang tidak kalah lembut. "Selamat sore, Hiruma-kun," sapanya ramah.

Hiruma sedikit tegang, ada sesuatu dalam perutnya yang bergejolak, mual. Selama ia hidup, tidak pernah ada orang yang menyapanya seramah itu, bahkan ibunya, dan juga gadis di sampingnya ini. Hanya Mami yang menyapanya dengan ramah dan sopan seperti itu. "I-ya," jawab Hiruma pelan.

Tentu saja membuat Mamori terkikik geli, ini pertama kalinya dia melihat Hiruma mati gaya, dan yang membuatnya seperti itu adalah sang ibu. Gadis itu meraih handphonenya, mungkin ada sesuatu yang menarik terjadi setelah ini.

Sementara Hiruma menatapnya tajam dan penuh aura membunuh, sayang sekali saat ini Mamori tidak terlalu menghiraukannya.

"Mamo-chan memberikan bekalnya padamu 'kan? Aku khawatir dia memakan semuanya sendiri, hahaha..."

"Mou... ibu, aku 'kan tidak rakus."

"Kau rakus, kau bisa makan sepuluh cream puff dalam satu menit," seloroh Hiruma.

Mami tertawa sementara putrinya merengut sebal. "Ayo masuk," ajak Mami berjalan mendahului dua orang itu. "Kau suka bekalnya, Hiruma-kun?" tanya Mami lagi sambil menoleh pada Hiruma.

"I-ya, ari—" Hiruma memicingkan matanya menatap Mamori yang berdiri di belakang Mami sambil menunjukan sebuah handphone. Hiruma sangat tahu, gadis itu tengah merekamnya.

"—gatou,"

"Yes!" Mamori bersorak senang. Ini pertama kalinya ia mendengar Hiruma berterimakasih, dan yang membuatnya seperti ini adalah sang ibu—lagi-lagi.

Mami tersenyum mendengar perkataan Hiruma, tapi kemudian menatap Mamori. Tingkah putrinya itu terlalu menarik perhatian. "kau kenapa, Mamo-chan?" tanyanya.

"Eh? Tidak apa-apa, ahahaha..." Mamori buru-buru membukakan pintu untuk mereka. "Ayo masuk, Hiruma-kun,"

"Ada-ada saja kau," Mami bergumam pelan. "Tunggulah, aku akan buatkan minum," katanya lagi sebelum menghilang di balik pintu dapur.

Saat itu juga Hiruma menjewer keras telinga Mamori. "Kubunuh kau, Manajer sialan." Desisnya seram.

"Sakit!" Mamori menginjak kaki Hiruma, berusaha melepaskan tangan besar pria itu dari telinganya. "Kau menyebalkan. Duduk sana!" perintahnya sambil menunjuk sofa, ia sudah duluan duduk sebelum tamunya itu bereaksi.

Dengan iseng, Mamori memutar video saat Hiruma berterimakasih tadi, gadis itu tertawa pelan, membuat Hiruma kesal, dan gemas.

"Hapus video sialan itu!" perintah Hiruma. Ia menerjang Mamori hingga gadis itu tiduran di sofa.

"Tidak mau!" Mamori menaikan tangannya di atas kepala agar Hiruma tidak meraih handphonenya.

"Tch!" Hiruma berdecak kesal. Dengan lutut kanannya—yang entah dia sadar atau tidak sekarang berada diantara kedua kaki Mamori—sebagai tumpuan, pria itu berusaha mengambil handphone Mamori, satu tangannya memegangi tangan sang manajer yang selalu berusaha mendorongnya.

"Ini minuman kali—Apa yang sedang kalian lakukan?!"

Reflek Hiruma dan Mamori menoleh saat mendengar suara Mami, dan saat itu mereka baru tersadar, posisi keduanya sungguh ekstrim. Mamori terlentang di sofa dengan satu tangan dipegangi Hiruma yang ada di atasnya, lutut Hiruma berada diantara kedua kakinya...

"KYYYAAAA...!"

Tsuzuku

Minna~~ sebenernya chap ini udah selesai dari beberapa bulan lalu.. Cuma saia lagi kehilangan feel dalam dunia fanfic. Gomenasai :'( mungkin chap-chap berikutnya, dan fic yang lain juga akan lebih lama, karena saia mau fokus sama pekerjaan yang lain... tapi saia berusaha untuk tidak membuat fic ini dan Liburan ke Neraka discontinue, doakan saia ya, minna ^^ setelah dua fic ini selesai, mungkin saia akan Cuma bikin oneshot, hehehe...

Sampai jumpa secepatnya... tolong jaga dan ramaikan FESI :'D