Family

Disclaimer:

Kuroshitsuji © Yana Toboso

Pairing:

Sebas x Ciel

Warning:

Yaoi, No lemon, OOC, OC, Kissu scene

Chapter 3:

=Girlfriend=

"Selamat pagi ayah, ibu" ucap Theodore Michaelis.

"Pagi." Balas Ciel.

Sedangkan Sebastian hanya tersenyum kearah putranya itu. Pria berambut hitam itu sedang menelepon seseorang menggunakan BB Torch-nya.

"Kita lanjut nanti siang saja ya. Ok? Bye." Ucap Sebastian sambil memutuskan sambungan teleponnya.

"Dari siapa?" tanya Ciel sambil meminum tehnya.

"Rekan kantor." Balas Sebastian singkat.

"Ayah, hari ini Theo berangkat bersama ayah kan?" tanya Theo pada ayahnya yang kini sedang meminum secangkir cappucino. Sebastian memandang kearah anaknya yang bermata biru itu.

"Sorry, Theo. Tapi hari ini ayah harus buruburu. Jadi kamu diantar oleh ibumu saja ya." Ucap Sebastian sambil melahap sandwichnya.

"Hm... baiklah ayah." Ucap Theodore.

Sebastian pun selesai sarapan dan setelah menciu kening Ciel serta Theo, dia pun langsung membawa BMW-nya menuju kantor.

"Sepertinya, belakangan hari ini ayah sibuk ya bu..." ucap Theo sambil memandang Ciel.

Ciel mengangguk sebagai tanda setuju pada perkataan anaknya barusan.

"Ya begitulah. Perusahaan ayahmu itu sedang berkembang dengan pesat. Bahkan rencananya mau membuka cabang di Asia." Jelas Ciel.

Theo dan Ciel pun selesai sarapan. Ciel kini mengantar anaknya itu menggunakan Lamborghini favoritnya. Usia Theo sekarang sudah 10 tahun dan usia pernikahan SebasCiel sudah 6 tahun. Namun beberapa bulan terakhir, Sebastian jadi bersikap agak lain. Pria berambut ebony itu kini mulai jarang mengantar Theo dan lebih sering menghabiskan waktunya diluar rumah meski saat weekend sekalipun. Bahkan, Sebastian dan Ciel sekarang sudah jarang atau mungkin tidak pernah lagi melakukan hal yang biasanya dilakukan suami-istri di kamar. Ciel menjadi penasaran akan perubahan sikap Sebastian padanya.

"Bye mom!" ucap Theo sambil keluar dari mobil dan berlari memasuki gerbang sekolahnya.

"Bye, dear." Balas Ciel sambil melaju kembali menuju kantornya.

Theo memasuki gerbang sekolah bersama dengan Alicia, teman anak itu.

"Theodore, mana ayahmu yang keren itu?" tanya Alicia.

"Dia sudah berangkat duluan ke kantor. Jadi dia tidak bisa mengantarku." ucap Theo.

"Begitu ya. Padahal semua siswi di kelas sudah menyiapkan kamera untuk memotret ayahmu itu." Ucap Alicia. Mendengar hal itu, Theo hanya tertawa kecil. Mereka pun menuju kelas mereka sambil bercanda.

=*=F=*=

Tampaklah suatu gedung bertingkat dengan jumlah lantai 35 lantai. Bangunan itu nampak seperti bangunan lainnya di London. Namun perusahaan didalamnya sangat berbeda dari perusahaan pada umumnya. Regalia Company adalah perusahaan elektronik dan kendaraan terbesar di Eropa. Kini perusahaan itu sudah membuka cabang hampir di seluruh Eropa, Amerika, dan Australia.

"Dan sekarang saya ingin mencoba membuka cabang di Asia." Ucap Sebastian saat di wawancarai oleh salah satu wartawan majalah.

"Baiklah. Erima kasih atas waktunya, Tuan Michaelis." Ucap wartawan itu.

"Ya. Terima kasih kembali." Ucap Sebastian sambil menunjukkan senyuman khasnya itu.

Wartawan itu pergi meninggalkan Sebastian yang kini sedang duduk di kursi besarnya. Memandang keluar jendela dan menghela nafasnya. Terlihat dari ekspresi pria itu bahwa dia sedang bosan. Dia kemudian mengambil telepon yang ada di mejanya untuk memanggil sekretarisnya. Tak lama kemudian pintu pun terketuk dari luar.

"Masuklah." Ucap Sebastian.

Seorang perempuan muda sekitar umur 25 tahun-an memasuki ruangan Sebastian. Wanita itu memiliki rambut hitam bergelombang dan juga mata amethyst yang indah. Wajah wanita itu sangat cantik. Membuat siapapun yang melihatnya terpesona karenanya.

"Anda memanggil saya, tuan?" tanya wanita itu sambil menghampiri meja Sebastian.

"Ya. Dan jangan memanggilku seperti itu lagi. Aku sudah sering memperingatkanmu kan?" ucap Sebastian sambil tersenyum kearah wanita itu.

"Mm... baiklah~ Sebastian Michaelis~" ucap Jessica Cathcart, sekretaris baru itu.

"Kemarilah, sayang.." ucap Sebastian sambil menepuk mejanya.

Wanita itu pun menghampiri meja Sebastian dan duduk diatasnya. Sepertinya sang Presdir tidak keberatan sama sekali dengan tindakan sekretarisnya itu. Justru tindakan wanita itu membuat pria itu tersenyum.

"Hm.. ada apa? Kamu bosan ya?" tanya Jessie, nama panggilan wanita itu.

"Temani aku~" ucap Sebastian sambil menyentuh dagu Jessie dan tersenyum.

Kini mereka berdua pun larut dalam ciuman yang panjang dan memabukkan. Dulu Sebastian hanya melakukannya dengan Ciel. Tapi entah sekarang... apa yang dipikirkannya. Sebastian memutuskan untuk selingkuh..!

Flashback (5 bulan yang lalu)

"Sekretaris baru?" tanya Bard, salah satu staff Sebastian.

"Ya, namanya Jessica Cathcart." Ucap Sebastian sambil memegang bahu Jessie.

"Salam kenal semuanya." Kata Jessie sambil membungkukkan badannya.

"Mulai sekarang bekerja samalah dengannya." Ucap Sebastian sambil memasuki ruangannya.

"Hah... aku capek sekali..." desah Sebastian sambil menjatuhkan dirinya keatas kursi dibelakang meja kerjanya.

Belakangan hari ini, Sebastian memang jarang beristirahat karena pekerjaannya yang cukup banyak. Belum lagi setiap hari (hampir) dia selalu menghadiri meeting untuk bekerja sama dengan perusahaan lainnya. Selain itu, masalah terkadang datang dari karyawan yang bekerja padanya. Benar-benar hal yang melelahkan untuk Sebastian. Saat sedang ingin mengecek kembali laporan yang diserahkan oleh Finnian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Sebastian menghela nafasnya dan berkata dalam hati, "Siapa lagi sih yang datang? Baru saja bertemu dengan tuan Trancy.. masa ada tamu lagi. Kuharap itu malaikat yang mau membantuku untuk mengerjakan tugasku."

"Siapa?" tanya Sebastian.

"Ini saya, Jessica tuan." Ucap suara dari balik pintu.

"Masuklah." Ucap Sebastian.

Maka new secretary itu pun masuk dan duduk dihadapan Sebastian untuk menanyakan beberapa hal mengenai perusahaan. Sebastian menanyakan kembali kenapa Jessie tidak menanyakannya pada Bard, dan wanita itu menjawab bahwa Bard menjelaskannya dengan sangat aneh. Namun... saat Sebastian menjelaskan tentang perusahaan yang dikembangkannya, mata pria itu memandang wanita dihadapannya dengan serius. Sebuah persepsi uncul dkepala pria tersebut. Sebuah persepsi yang biasanya dipikirkan oleh pria saat melihat tubuh indah seorang wanita adalah...

"Aku ingin menikmati tubuhnya~ sudah lama juga aku tidak merasakan tubuh perempuan. Habisnya selama ini aku sama Ciel terus sih... hmm... baiklah, sudah kuputuskan!" ucap Sebastian dalam hatinya.

Sebelum menjadi seorang gay, Sebastian adalah seorang playboy yang cukup hebat. Pemuda itu berpacaran dengan banyak sekali gadis yang dianggapnya menarik. Dalam waktu 1 bulan saja, pemuda itu bisa 4 kali ganti pasangan. Sebastian memacari para gadis itu hanya untuk.. yah menikmati tubuh mereka saja dan mencari petualangan dalam hal seks. Tapi meskipun banyak gadis yang sudah tahu bahwa Sebastian orang yang seperti itu, entah kenapa banyak juga yang masih ingin. Hah... mungkin dipikiran mereka, kapan lagi bisa berpacaran dengan pemuda tampan seperti dia? Dan kini, mangsa Sebastian selanjutnya adalah Jessica Cathcart, sekretarisnya sendiri. Sebastian kini mulai mendekati sekretarisnya itu dan membuat wanita itu agak kaget.

"Jessica Cathcart.." desah Sebastian ditelinga wanita itu.

"Tu.. tuan Michaelis?" tanya Jessie sambil sedikit grogi dan blushing seketika.

"Jessica, jangan terlalu formal.. Panggil saja aku Sebastian~" ucap Sebastian sambil menjilati telinga wanita berambut hitam itu.

"Mm~ kalau begitu panggil saja saya dengan Jessie.." ucap Jessie dengan wajah yang memerah.

Posisi Jessie kini berada di pangkuan Sebastian. Punggung Jessie berada diatas tubuh Sebastian. Kepala Jessie berada di dada Sebastian. Jessie membelakangi Sebastian. Tangan Sebastian melingkar di pinggang Jessie sedangkan mulut Sebastian sedang membuat kissmark di leher Jessie. Sebastian kini mulai membuka dasinya dan melepaskan pakaian atasnya. Setelah pintu erkunci, maka mereka pun melakukan kegiatan orang dewasa yang sudah menikah pada umumnya.

End of Flashback

Sebastian sudah selesai mencium Jessie dan sekarang dia mengajak wanita itu untuk ke tahap-tahap yang lebih 'dalam'. Mereka terkadang melakukannya hingga berjam-jam namun tidak ada satu karyawan pun yang menyadari kegiatan mereka didalam. Jessie dan Sebastian pun kini klimaks dan mulai mengatur nafas mereka.

"Hah... hah... kamu benar-benar hebat..!" ucap Jessie sambil mengatur nafasnya.

Sebastian membalas ucapan Jessie itu dengan senyumannya yang khas.

"Aku sudah sering melakukannya." Ucap pria yang berumur 30 tahun itu.

"Umurmu sudah 30 tahun..? tapi wajahmu sama seperti orang yang berumur 20 tahun." Kata Jessie sambil mulai memakai pakaiannya kembali.

"Mm? Benarkah? Semuda itukah aku?" tanya Sebastian sambil tersenyum.

Jessie mengangguk dan menjawab, "Ya. Kamu terlihat sangat muda"

"Mungkin karena aku sering ML. Jadi ya seperti ini hasilnya." Ucap Sebastian sambil memandang jam tangannya.

"Oh begitu ya?"balas Jessie.

Sebastian telah selesai dengan pekerjaannya mengecek semua dokumen dan sekarang dia sedang tidak ada kegiatan apapun. Istilahnya, dia sekarang lagi free. Dan sebuah de pun muncul dari pikirannya.

"Jessie, ikutlah kerumahku." Ucap Sebastian.

Mendengar hal itu, Jessie memiringkan sedikit kepalanya tanda bahwa ia benar-benar bingung.

"Mmm... apa?" ucap Jessie polos.

"Kerumahku. Kebetulan anakku sedang sekolah sedangkan istriku masih ada di kantor. Jadi dirumahku kosong sekarang." Ucap Sebastian sambil mengambil tas kerjanya.

Wanita berambut ebony itu pun menyetujui ajakan atasannya tersebut. Saat Sebastian keluar dari ruangannya bersama Jessie, semua karyawan bingung. Kemudia sebastian beralasan bahwa ia ingin mengajak Jessie untuk menunjukkan proyek baru perusahaan tersebut. Mereka menuju bagasi dan memasuki mobil Sebastian. 15 menit kemudian, mereka pun sampai didepan rumah kediaman Michaelis itu. Mata amethyst wanita itu terpanah akan tempat tinggal Sebastian itu. Sebuah rumah dengan 2 tingkat, namun memiliki infrastruktur yang luar biasa. Megah dan mewah pastinya.

"Ini rumahmu? Besar sekali!" ucap Jessie sambil tersenyum. Sebastian pun mengajak Jessie untuk langsung masuk kedalam rumah itu. Well, jarak dari gerbang rumah itu dengan pintu utama memang agak jauh, jadi Sebastian menghentikan mobilnya tepat didepan pintu masuk. Setelah menyuruh Jessie untuk masuk, Sebastian pun masuk setelah memarkirkan mobilnya dibagasi. Mereka kini tiba di ruang tamu.

"Wah... mewah sekali didalam." Ucap Jessie sambil meletakkan tas Guccinya di atas sofa beludru berwarna biru.

"Tidak juga. Aku dan pasanganku hanya suka saja mendesain rumah seperti ini." Kata Sebastian sambil mulai memasuki kamarnya.

Jessie kini sedang duduk disofa yang terlihat nyaman itu. Mata wanita itu terus memandang kearah Sebastian. Tak lama kemudian wanita itu berbaring di sofa tersebut. Terlihat sperti ingin menggoda Sebastian.

"Kamu ingin menggodaku dengan trik murahan itu?" ucap Sebastian.

"Aku tidak menggodamu. Aku hanya sedikit kelelahan saja..." ucap Jessie sambil terus berbaring disofa itu.

Setelah itu, Sebastian pun membawakan segelas jus jeruk. Dan menaruhnya diatas meja yang ada di ruang tamu itu. Mereka sedang berbincang-bincang. Namun, tidak lama kemudian pria itu mulai lgi mengeluarkan tanduknya. Hah... dasar.. desah Jessie dalam hatinya.

=*=F=*=

"Kamu hanya tinggal bertiga saja dirumah ini?" tanya Jessie.

Sebastian hanya mengangguk.

"Sebastian.. boleh aku tanya sesuatu?" tanya wanita itu dengan wajah yang srius.

"Mau tanya apa?" tanya Sebastian.

Jessie menelan ludahnya sebagai tanda bahwa ia sulit untuk mengungkapkan pertanyaan yang akan dia berikan. Sementara itu, Sebastian menunggu dengan jari yang memainkan rambut wanita itu dengan jahil.

"Mm... Sebastian... apa benar kamu... seorang... gay?" tanya wanita itu dengan wajah yang ragu-ragu. Bagaimanapun juga, pertanyaan itu tetap terlihat tidak sopan karena posisi Jessie yang seorang sekretaris sementara Sebastian seorang direktur utama. Mendengar pertanyaan itu, Sebastian hanya menghela nafasnya.

"Ya. Aku seorang gay." Ucap pria itu tanpa ragu dan tidak memikirkan sama sekali apa yang Jessie rasakan ketika ia mendengar pengakuan tersebut.

"Be...benarkah...?" tanya Jessie lagi.

Sebastian membalasnya dengan anggukan. Terlihat tidak ada keraguan sama sekali di mata pria itu.

"Aku menikahi seorang laki-laki yang manis tampangnya kok." Ucap Sebastian lagi.

"Lalu... kenapa kamu tiba-tiba tertarik padaku?" tanya Jessie.

Sebastian memandang mata wanita itu. Tangannya mengelus pipi Jessie dengan lembut dan kemudian dia mencium pipinya.

"Karena aku ingin menjadi diriku yang dulu... aku sudah merasa bosan dengannya." Jelas Sebastian.

"Be...begitukah? kalau begitu, kenapa kamu masih tinggal seatap dengannya?" tanya Jessie.

Sebastian menyeringai mendengar ucapan wanita itu.

"Rencananya aku akan menceraikannya...Secepatnya." ucap Sebastian.

Mendengar ucapan itu, Jessie langsung tersenyum dan memeluk Sebastian.

"Kalau boleh tahu, siapa nama istrimu itu?"

"Namanya Ciel Phantomhive." Ucap Sebastian santai.

Ternyata mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ada orang yang mendengar ucapan mereka daritadi dari balik pintu. Kemudian orang itu pun berlari.

To Be Continue...

A/N: mm... sebelumnya... *bows* sorry banget baru bisa update sekarang X'O habisnya author lagi banayak tugas sekolah yang menggunung sich. Ini diketik habis kebetulan aja pas lagi kerjain tugas. Untung aja gak ketahuan sama okaa-san ==" well... mengenai fanfic kali ini, rasanya bagi fujoshi agak sedikit dikecewakan karena tidak terlalu keliatan adegan SebasCiel nya... dan lagi, Author memasukkan chara baru lagi, Jessica Cathcart. Untuk imagenya, mm... mirip2 sama Suigintou di Rozen Maiden. (pinjam dullu ya charanya... Peach-pit-sensei) welll, pada akhir kata, berkenankan readers semua untuk review? Untuk kali ini mungkin flame juga di tampung.