Emergency update di tengah minggu ujian ; ; Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk meninggalkan review untuk penulis malas ini TTvTT chicken vulpes vulpes, Chiharu Nao TomatoOrange, Shigure, cutevilpinkiss, Changru Minru, SheraYuki, i'msweet-i'myummy, IcaRosica, tharaaw, dan Guest-san!

Happy early birthday, Kuroba Kaito!

Warning: Hint pairing and pieces of puzzles to solve!

Disclaimer: D.C/Case Closed bukan milik penulis dan merupakan sebuah mahakarya dari Gosho Aoyama, di sini penulis hanya memiliki hak penuh atas fanfic ini dan akun di mana fanfic ini berada.


.

.

Door #3 Greetings

You don't have to say everything to be a light. Sometimes a fire built on a hill will bring interested people to your campfire
― Shannon L. Alder

.

.

"Mereka sudah pulang?" Conan bertanya saat Shinichi datang menghampirinya. Remaja itu menggeser kakinya, menekuknya di depan tubuhnya agar ada ruang kosong bagi saudaranya untuk duduk bersama. Sesaat ia melirik ke arah jam bandul tua dalam ruangan itu dan menghelakan nafasnya.

Shinichi mengerang pelan ketika tubuhnya mendarat sempurna pada sofa.

Pria itu melebarkan tangannya pada punggung sofa, membiarkan salah satunya kini menjadi sandaran kepala remaja yang duduk di sampingnya. "Selama ini kupikir teman-temanmu adalah yang paling menyebalkan. Rasa ingin tahu mereka itu."

Conan terkekeh pelan.

"Apa semua itu sampai hari ini?"

"Beberapa tiba dua hari yang lalu, tapi aku baru mengeluarkannya dari kotak surat," Conan kemudian mengoper beberapa surat yang ia pisahkan sebelumnya. "Kali ini kau menang, Shinichi-niichan. Kaito hanya mendapat tujuh surat. Rekor baru."

Shinichi berdecak pelan.

"Dua surat tagihan, tiga surat dari penyedia jasa tv kabel, dan dua sisanya dari penggemarnya yang setiap bulan mengirim surat ke rumah ini—"

"Juga sepuluh rangkaian bunga dan bingkisan," potong Conan sambil menunjuk ke arah sudut ruangan.

"—cih! Sudah kubilang padanya untuk tidak memberitahu alamat rumah ini."

Tanpa mengalihkan pandangannya dari konsol game yang dipegangnya, Conan menyambar sesuatu pada sisi kanan tubuhnya dan mengopernya pada Shinichi.

Detektif itu menghelakan nafasnya saat sebotol krim oles yang dibutuhkannya kini berada pada posesinya.

Sejak terbangun tadi pagi ia berusaha menemukannya untuk menghilangkan rasa gatal yang mulai terasa perih pada tubuhnya, namun—terima kasih pada perubahan tata letak barang-barang pada rumahnya—gagal. Akhirnya detektif muda itu menyuruh adik sepupunya untuk membelinya ke apotek terdekat selagi dirinya dibuat sibuk dengan dua orang polisi dan beberapa anak buah mereka.

"Apa kantor polisi disana tidak menyediakan kantung tidur?"

Shinichi mengerang dengan kesal.

Kedua tangannya sibuk mengoleskan krim pada lehernya yang semakin memerah karena ia garuk.

"Bisa menyalakan lampu ruangan saja sudah patut disyukuri. Kantor itu sudah berubah menjadi gudang penyimpanan alat-alat pertanian—mereka bahkan memakai jeruji besi untuk menjemur hasil panen mereka."

Detektif itu menjulurkan tangannya tepat di depan wajah saudaranya. Ia tidak berkata apapun ketika sepasang mata bulat itu menatapnya bingung, sebagai gantinya ia menepuk pundaknya dua kali.

Conan hanya menghelakan nafasnya. Ia paham betul apa maksud kakaknya itu dan segera menghentikan permainannya.

"Seribu yen untuk lima belas menit pertama, setuju?" Tanyanya sambil memposisikan tubuhnya senyaman mungkin dengan tangan Shinichi di pangkuannya.

"Dasar," gerutu Shinichi pelan. "Bukankah kau panen besar di kamar Kaito?"

Conan membuat suara berdeham yang terdengar bangga. Kedua tangannya mulai bergerak memijat lengan sang detektif dan membuat detektif itu menghelakan nafas lega.

"Aku hanya menemukan tiga ratus yen di saku kemejanya dan pecahan lima ratus di atas mejanya. Sepertinya ia tahu kalau aku yang mengambil uangnya dan menyembunyikannya di suatu tempat—apa kau tahu, Niichan?"

Shinichi mengangkat sebelah alisnya dan mendongakan kepalanya. Sambil menatap langit-langit ruangan yang dihiasi dengan lukisan langit, detektif itu menggumam pelan.

"Coba kotak sepatu berwarna emas yang ada di bawah tempat tidur," ujarnya setelah beberapa menit berpikir. "Seingatku kotak itu seharusnya sudah dibuang tetapi ia memungutnya lagi. Kotak itu sebelumnya ada di antara tumpukan bukunya dan baru dipindahkan dua minggu lalu ke bawah tempat tidur."

"Oh! Aku tahu kotak itu!" Seru Conan bersemangat. "Tadi polisi cerewet itu menanyakannya."

"Pasti banyak hal ia tanyakan saat menggeledah gudang itu," komentar Shinichi dengan nada malas.

Ia tidak bersama para polisi itu saat mereka mulai menggeledah kamar Kaito—tepat setelah menggeledah kamar Conan—karena harus mengangkat telpon dari seorang agen asuransi dan tepat setelah telpon itu berakhir, salah seorang teman SMAnya menelpon untuk meminta pendapatnya.

Bukan pembicaraan rumit yang memakan waktu panjang namun bukan pula sebuah pembicaraan basa-basi belaka. Kira-kira dua puluh menit setelahnya ia kembali bergabung dengan para polisi yang telah selesai memeriksa ruangan yang ia sebut gudang tersebut.

Bagaimana tidak?

Kamar Kaito dipenuhi oleh banyak barang.

Baik milik pribadi maupun milik—entah barang siapa saja yang telah dipinjamnya tanpa izin sehingga bisa memenuhi ruangan itu.

Walau semuanya tersusun rapih dan teratur, tetap sulit untuk membedakan ruangan itu sebagai kamar dan sebagai gudang.

"Bagaimana dengan jebakan yang dipasang Kaito?"

Conan menggeleng pelan.

"Sejak terakhir Shiho masuk ke kamarnya untuk membawakan makanan ketika ia cedera, kau ingat? Ia bilang perintah Shiho adalah absolut."

Shinichi berdecak.

"Seharusnya kau beritahu aku lebih awal," komentar Shinichi dengan nada penuh sesal. Sangat disayangkan semua jebakan yang dipasang oleh pesulap muda itu harus musnah saat dibutuhkan.

Pantas saja pria itu terlihat bersih dan ceria ketika pulang.

Shinichi sempat memikirkan sesuatu yang janggal yang ia lewatkan, namun memutuskan keberadaan Nano di rumahnya saja sudah menjadi suatu kejanggalan yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.

Ia pun melupakannya.

Ya.

Petugas menyebalkan itu.

Ia masih belum bisa melupakan apa yang petugas Nano itu lakukan terhadap tumpukan arsip pekerjaannya.

Hah! Setelah ini pun ia harus membereskannya. Menyortirnya kembali dalam folder-folder yang seharusnya dan ada beberapa dokumen yang harus ia selesaikan sebelum besok siang.

Tsk...

Apa hari libur hanyalah sebuah mitos belaka?

"Hei, Shinichi-niichan."

Shinichi menjawab dengan 'hm'.

"Apa setelah hari ini mereka akan memenjarakan Kaito?"

Shinichi mengangkat sebelah alisnya. "Prosesnya tidak secepat itu. Mereka masih harus menemukan bukti, melakukan interogasi, dan mendapatkan kesaksian dari orang-orang di sekitarnya."

"Bukankah seharusnya mereka menahannya untuk sementara waktu? Bagaimana jika ternyata Kaito kabur atau dia memutuskan untuk membu—AACCKK!" Conan refleks menjatuhkan konsol game-nya ketika Shinichi mencubit dan menarik pipinya tanpa ampun.

"Percuma saja kau kuajak ke konvensi pecinta misteri kalau cara pikirmu masih sedangkal itu, Conan."

"Hiihan! Hihikhu—Arghh!" Anak itu mengerang ketika pipinya terbebas dari cubitan Shinichi. Sambil mengelus pipinya anak itu menendang punggung saudaranya dan menggeser posisi duduknya menjauh. "Aku hanya bertanya! Lagipula, itu yang mereka lakukan di film-film aksi."

Shinichi hanya diam menanggapinya.

Pemuda itu lantas berbaring di atas sofa dan membiarkan kedua kakinya dipangku oleh Conan yang masih mengelus pipinya.

Mengetahui kakak sepupunya kini lebih memilih membaca surat-surat yang diterimanya, Conan pun melanjutkan memainkan game yang sempat tertunda.

.

.

.

.

Conan dengan cepat berlari menuju pintu masuk untuk menghampiri sumber suara memekakan yang sempat mengguncang kediaman Kudo. Setibanya di lokasi, yang tidak lain adalah sebuah lorong panjang menuju pintu keluar, ia melihat bola sepaknya menggelinding mendekatinya dan segera memungutnya.

"Untunglah bukan vas bunga kesayangan Yusaku-jiisan," gumamnya sambil mengusap bola sepaknya dengan penuh kasih sayang setelah melihat sebuah vas bunga besar tetap berdiri dengan gagahnya.

"Apa yang kau lakukan disitu, Kaito?" Tanya remaja itu pada sesosok pria yang kini berlutut sambil memegangi perutnya.

"Oi, Chibi!" Kaito membentak. "Aku bersusahpayah membawakan makanan untukmu dan kau—o, oi! Hei! Setidaknya tolong aku dulu!"

Conan menjulurkan lidahnya ke arah korban bola sepaknya. Remaja itu pun dengan gerakan cepat merebut dua kantung plastik besar yang dibawa Kaito dan berlari menuju dapur. Sesampainya di dapur, satu per satu ia keluarkan di atas meja.

Aaah~ bisa ia cium harum bau masakan yang kini membuat perutnya tidak hanya mengeluarkan bunyi gemuruh yang keras!

"Kenapa lama sekali?" tanyanya pada sang pria pengantar makanan dengan suara sedikit dikeraskan.

Setelah meletakan tas ranselnya di samping sofa merah di ruang tengah Kaito menyusul ke dapur dan berjalan malas ke arah kulkas. Segelas jus jeruk yang sudah tersedia dalam sebuah pitcher besar dari kulkas dipilihnya untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.

"Kalau kubilang aku harus menolong seorang nenek menyebrang jalan, apa kau akan percaya?"

Conan berhenti mengeluarkan seluruh isi kantong plastik tersebut dan menatap Kaito dengan mata menyipit. Dua detik kemudian ia menggelengkan kepalanya.

"Sudah kuduga," gumam Kaito sembari mengambil sebuah kotak makanan dari tumpukan yang disusun oleh Conan dan membukanya. Uap basah terasa menyembur pada wajahnya. Sejumlah air pun mengalir dari penutup makanan itu dan berkumpul pada sudut yang rendah-menandakan makanan sudah lama dibiarkan tertutup dalam kondisi panas.

Ia membuka pembungkus sumpit dan mulai mengaduk mie yang memenuhi kotak itu. Bahkan mie pun terlihat gemuk dan porsinya seolah menjadi porsi untuk dua orang!

"Sejak kapan ia tidur disana?" Tanyanya sembari mengambil sejumput mie dan mengangkatnya, memisahkannya dari gumpalan besar dalam kotak. Beruntung restauran itu memberikan sumpit plastik karena jika harus menggunakan sumpit kayu, sumpit itu pasti akan patah saat ia mengangkat segumpal mie.

Conan menoleh ke arah dimana 'ia' yang dimaksud Kaito berada. Sulit baginya melihat siapa yang ada disana namun ia tahu siapa yang dimaksudkan. Tentu saja, 'kan? Ia berada di ruangan itu lebih lama dari si pengantar makanan ini!

Ia lantas menjawab, "hmm, 40 menit?"

"Ia menghadapi polisi itu sendirian?"

"Hanya petugas bernama Nano yang menyebalkan itu," Adu Conan dengan suara meninggi. Ia bahkan sempat mengetuk sepasang sumpit yang dipegangnya pada permukaan meja. " Kau tahu? Kita pernah sepakat bahwa Shinichi-niichan adalah manusia dengan rasa penasaran paling menyeramkan didunia, benar? Rupanya kita salah! Nano Cerewet itu adalah dewanya!"

Kaito berhenti mengunyah untuk melihat antusiasme lawan bicaranya dan sesekali melirik ke arah dimana terakhir kali ia melihat sosok Shinichi tertidur. Dengan sebelah alis terangkat ia terus mendengarkan hingga akhirnya mulutnya membuka untuk melontarkan sebuah pertanyaan;

"Apa ia berhasil menemukan nilai ulangan sejarahmu di laci penyimpanan di kamar mandi?"

Conan tersentak mendengarnya.

Dengan tatapan tajam ia melihat sosok Kaito yang nampak acuh dan sibuk dengan mie yang menggumpal.

"D, darimana kau—"

Kaito hanya diam dan berupaya tidak membalas tatapan dua bolamata bulat yang terfokus padanya. Setelah menyuapkan sejumlah mie yang telah berhasil ia pisahkan, ia mengangkat kepalanya dan mengibaskan satu tangannya.

"Ahu hiha hahuk hamarhu!" Belanya dengan mulut penuh. Ia mengunyah dengan cepat lalu menelannya. "Shinichi menceritakannya saat kami menyusul ke acara perkemahan tahun lalu. Ketika itu ia memintaku untuk berbicara dengan ibumu karena ia sudah lelah membohongi ibumu mengenai nilai-nilaimu itu." Pria itu tiba-tiba mengerutkan keningnya. "Apa dengan begini dosa karena berbohong ada padaku?"

Conan menatap Kaito dengan tatapan menyelidik.

Tentu akan sulit bagi seorang yang sering menjadi korban keusilan seorang Kuroba Kaito untuk memercayai apapun yang diucapkan olehnya. Apalagi ia tahu, salah satu talenta pria itu adalah berakting.

Akan sulit mengetahui kapan pria itu berbohong dan kapan ia mengatakan suatu fakta—Tetapi Shinichi nampak terbiasa dengan itu.

Detektif itu tahu kapan sang penghuni gelap di kediaman Kudo itu berbohong (dan akan langsung merespon dengan kalimat-kalimat sarkastik tajam yang jika diucapkan pada orang normal akan memicu perang) dan kapan kata-katanya adalah kejujuran (tetapi respon yang ia berikan sama saja...)

Hm.

Mungkin ini ada kaitannya dengan kerja sama yang mereka lakukan dulu sebelum Conan tinggal di Beika.

Sesuatu yang tidak pernah ia ketahui dengan jelas apa yang terjadi namun ia tahu hal itu telah menciptakan suatu hubungan rumit antara dua dewasa tersebut.

Bergantian Conan memerhatikan sosok Kaito dan Shinichi yang saat itu sedang tidur di sebuah sofa di ruang tengah dengan sebuah selimut hangat dari kamarnya. Ia tahu ia tidak bisa memercayai Kaito setelah berkali-kali menjadi bahan eksperimen trik sulapnya (tanpa seizinnya), tetapi sejauh ini semua baik-baik saja.

Orangtuanya tidak menelponnya dengan teriakan serta makian. Kalaupun menelpon, mereka hanya menanyakan kondisinya—serta bagaimana kehidupan percintaannya!

Cih...

Artinya Kaito—sejauh ini—belum mengatakan apapun yang berbahaya pada orangtuanya.

"Hei," sahut Kaito dari bangkunya.

Conan mendongak untuk menatapnya dan sedikit terkejut melihat kotak mie Kaito terlihat nyaris kosong. Selapar apa sosok pria muda dihadapannya itu? Apa ia tidak makan apapun dari kemarin?

Seingatnya Kaito makan dua porsi nasi campur kemarin yang dibelinya dari sebuah bazaar di blok 3.

Kaito berhenti makan dan kini mengetuk ujung sumpitnya pada kotak makannya. Selama beberapa detik ia terdiam dan nampak menimbang.

"Apa mereka menanyakan sesuatu? Saat di kamar Shinichi?"

Conan tahu dari Shinichi bahwa seisi rumah itu telah dipasangi penyadap oleh pria di hadapannya.

Dapur, ruang tengah, halaman depan, gudang, dan bahkan kamar mandi di setiap kamar yang ada di rumah itu. Karenanya ia tidak perlu repot-repot menceritakan apa saja yang terjadi di rumah itu pada Kaito. Ia pasti tahu dan bisa mendengar langsung setiap kata yang terucapkan di kediaman Kudo yang megah tersebut.

Kecuali kamar Shinichi.

Entah sejak kapan penyadap di ruangan itu dilepas—mungkin karena Shinichi adalah dewasa muda yang butuh privasi untuk setiap gerakannya? Pasti akan canggung jika orang lain mendengar apa saja yang ia ucapkan ketika Shiho menginap...

"Satu-satunya hal yang mereka tanyakan hanya beberapa keping CD tanpa nama dalam kotak DVD Detektif Samonji."

Geh! Kaito meringis mendengarnya. "Pasti saat itu wajahnya sangat merah."

"Ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya."

"Mereka melihat isinya?" Pasti belum. Shinichi belum membunuhnya karena isi dvd itu.

Conan menggeleng pelan. "Kubilang pada mereka CD itu berisi video saat aku berusia 8 tahun dan saat itu Yukiko-neechan merekam kami mandi bersama."

Pria muda dihadapan Conan terkekeh geli. Ia tahu tentang video itu dan pernah menontonnya secara diam-diam saat menemukannya (tersembunyi dengan sangat professional di sebuah kotak dan diselipkan di antara koleksi dvd milik Yukiko). Tetapi, tawanya (ketika menonton) sangat keras sehingga memancing kehadiran Shinichi dan mendapat sebuah pukulan dengan menggunakan sandal.

"Tunggu," Kaito kemudian tersadar. "bagaimana dengan isi laci di samping tempat tidurnya?"

Conan mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat apa yang dimaksud oleh lawan bicaranya. Setelah itu ia menggeleng. "Laci itu hanya berisi memo, alat tulis, dan jam alarm. Apa perlu ditanyakan?"

Kaito tidak merespon dan melanjutkan sisa makanannya. Ia sempat mengerutkan keningnya saat menunduk, melirik dari sudut matanya, dan menggumamkan sesuatu sebelum memasukan sejumput mie ke dalam mulutnya.

Detik berikutnya ia mencoba meraih mug plastik berisi orange juicenya namun belum sempat ia menyentuh gagangnya, gelas itu bergerak dari sudut meja dan jatuh bebas ke lantai.

Pemuda itu lantas beranjak dari tempatnya dan menghampiri gelas yang tergeletak di atas kubangan orange juice. Ketika ia mengulurkan tangannya, gerakannya seketika terhenti.

Sebelah alis Kaito terangkat dibalik helai poninya.

"Oi, Chibi!"

"Apa?"

"Saat mereka memeriksa kamarku," Kaito menoleh ke arah lawan bicaranya. "Apa Shinichi ikut serta?"

"Shinichi-niichan menyuruhku untuk menemani mereka," jelas Conan sebelum ia menoleh ke arah dimana Kaito berada. "Oh, benar juga! Aku baru ingat—" Conan menyeringai puas ke arah Kaito. "—mereka menemukan sebuah flashdisk dengan label 'Teitan Café' dan menginterogasi Shinichi-niichan sebelum mereka pulang."

Kaito tertegun ketika mendengar penjelasan singkat itu.

Kedua tangannya refleks memegangi kedua telinganya sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah dimana seorang detektif tengah tertidur pulas. Namun, bukan penampakan sebuah ruangan yang dipenuhi oleh buku dengan sebuah sofa merah yang dilihatnya dari ambang pintu, melainkan sesosok mahluk yang tengah berdiri mematung dengan kedua tangan bertolak pada pinggangnya.

Flashdisk…?

"Kau sudah bangun, Niichan~?" Tanya Conan dengan suara ceria yang sama sekali tidak terdengar bagus di telinga Kaito.

"Mhm. Selesaikan makananmu secepatnya, Conan," sosok itu berujar dengan nada manis beberapa detik sebelum melakukan peregangan otot-otot lengannya. "Ada hal penting yang harus kubicarakan dengan pria pemilik flashdisk berlabel 'Tantei Café' satu ini."

Oh, shit….

.

.

.

.

"Kau tidur disini malam ini?"

Kaito mengangkat kepalanya dari layar laptop yang sejak tadi berada di pangkuannya.

Seorang pria dengan penampilan segar nampak berdiri dengan bertumpu pada satu kakinya. Kedua tangannya terselip dalam kantong celana pendek yang dipakainya dan sebuah buku diapitnya diantara tubuh dan lengan dalamnya.

Kaito mengangguk pelan lalu menggeser posisi duduknya serta barang-barangnya yang berserakan di sofa.

Semua dalam keadaan aman terkendali.

Tidak ada lagi sesosok iblis jahat yang akan menarik telinganya atau memukulinya dengan sandal karet.

Ia, Kuroba Kaito, sudah sangat yakin amarah detektif itu telah terlampiaskan seutuhnya ketika mereka berada di dapur.

"Conan bilang kau rindu padaku. Jadi, kuputuskan untuk tidur disini."

Di tempatnya Conan hanya mendelik.

Shinichi lantas menduduki spot kosong yang tersedia dan menjulurkan kakinya hingga bisa ia letakan di atas meja. Ia tidak berkata banyak. Hanya membuka buku yang ia bawa pada tempat dimana pembatas terselip, melihat sekilas halaman tersebut, dan mulai membaca pada halaman sebelahnya.

Satu tangan Kaito bergerak mencari tombol volume pada laptopnya.

Suara 'bip-bip' yang sejak tadi mengisi ruangan itu pun perlahan menghilang, menyisakan suara detak jam antik beserta bandulnya yang besar dan gerakan jemari Kaito diatas keyboard. Samar-samar ia bisa mendengarkan suara gumaman Conan yang sedang menghitung sesuatu dan terkadang ia mendengar remaja SMP itu mengutuk gurunya yang telah tega memberinya tugas tersebut.

Suasana malam itu sangat sepi.

Seperti biasanya, memang.

Tetapi perhatian Kaito terpecah pada sekelilingnya. Setelah beberapa tahun menjadi tamu tak diundang di kediaman Kudo dan dua tahun mendiami rumah mewah itu, cukup baginya untuk menyadari ada yang salah dengan lingkungannya.

Tidak, bukan posisi perabot dan tata letak ruangan.

Semuanya terlihat sama dengan kondisi saat ia terakhir berada dalam ruangan itu—ya, malam sebelumnya. Padahal baru saja ada beberapa orang polisi menggeledah rumah itu.

Hm.

Apakah ini mengenai penyadap yang ia pasang?

Atau firasat ada beberapa penyadap tambahan yang tidak diketahuinya?

Dari sudut matanya ia melirik ke arah dimana Shinichi duduk.

Rambut setengah basah detektif itu dijepit sedemikian rupa agar tidak meneteskan air pada buku yang dipegangnya. Novel misteri terbaru yang dibelinya secara online.

Kaus lengan panjang hijau yang dipakainya nampak kusut, sepertinya diambil dari tumpukan pakaian yang belum disetrika, dan ada sedikit ruas basah pada bahunya. Ia mungkin nampak tenang, tetapi gerak-geriknya tidak menampakan ketenangan apapun dari sudut pandang Kaito.

Ya, pengalaman yang berbicara.

Bertahun-tahun ia mengenal detektif itu, rasanya cukup baginya untuk mengetahui gerak-geriknya. Arti dari setiap kebiasaan kecil yang mungkin tidak pernah diperhatikan orang-orang.

Matanya yang terfokus pada deretan kalimat pada novel dalam genggamannya terlihat seperti sedang melihat ke arah lain. Tidak fokus dan menerawang. Gerakan telunjuknya tidak berhenti pada bagian sampul depan buku, membuat sebuah pula abstrak yang berulang. Lalu, ibu jari kaki yang terus bergerak naik-turun dibalik kaus kaki hitam yang bersilangan (detektif itu memiliki kebiasaan memakainya, ia mengaku selalu merasa kedinginan jika menginjak lantai setelah mandi).

We need to talk.

"Bukumu terbalik, Meitantei." Ujar Kaito berinisiatif memulai percakapan mereka. Semoga ini bukan topik mengenai flashdisk haram itu lagi…

"Apa tadi ramai?"

Kaito menggigit bibirnya sembari mengetik sesuatu pada laptopnya yang tiba-tiba dipenuhi huruf-huruf hijau neon. Jika bukan karena volumenya sudah dikecilkan, saat ini ruangan tersebut akan menjadi sangat bising.

Sederet huruf hijau yang baru terus muncul setiap Kaito selesai mengetik sesuatu sebagai balasan dan memenuhi layar hitam hingga menyisakan setidaknya beberapa baris pada bagian bawah.

Ia berhenti sesaat sebelum mengganti jendela tampilan menjadi putih.

Satu tangannya menjepit dagunya sementara tangan lainnya mengetik di atas keyboard. Kali ini dengan speed yang lebih tenang.

"Pengecualian untuk hari ini," ujarnya sebelum menggeser sedikit angle laptopnya dan membiarkan Shinichi melihat apa yang sedang ia ketik. "Aku meminta penjaga makam untuk melarang para fans berziarah hari ini. Mereka boleh kembali besok."

They got us?

Shinichi tidak menjawab dan hanya menggerakan jari telunjuknya dengan membuat bentuk lingkaran pada cover buku. You.

"Seseorang dari perusahaan asuransi menelpon, mereka bilang kau harus menemui mereka besok."

"Hah!" desah Kaito yang belum berganti posisi. Sekali lagi ia mengetik dengan satu tangannya. "Aku merasa seperti seorang ayah yang putrinya diculik. Syukurlah prosesnya berjalan lebih cepat, aku rindu istriku tercinta!"

Unknown. IP address Rusia. Disposable.

"Juga seseorang bernama Matsuyama."

Kaito berdecak saat mendengarnya. "Kenapa pria itu tidak kapok juga."

"Bukankah sebaiknya kau hentikan saja kontrak kerja kekasihnya itu?" Tanya Shinichi sembari menyibak satu halaman dengan malas.

Kaito menghelakan nafasnya sebelum menegakan posisi duduknya. "Itu masalahnya," jawabnya sambil mengetuk badan laptop dengan telunjuknya. "Kekasihnya sudah mengundurkan diri sejak tiga bulan yang lalu. Seingatku ia bilang kekasihnya yang berasal dari Belanda mengajaknya untuk pindah dan mereka berencana menikah. Tsk—mungkin lain kali kupekerjakan asisten pria saja."

"Oh, benar juga!" Seru Kaito tiba-tiba. "Shinichi, pintu mobilmu sedikit lecet karena gesekan koin. Sepertinya ada anak iseng yang melakukannya saat kuparkir di pemakaman."

Drinks? Be waiting in silence.

Satu halaman disibak oleh detektif itu dan alisnya terangkat tiba-tiba. "Conan, apa wali kelasmu sudah kembali mengajar?"

Conan lantas menoleh. "Belum. Kudengar dari guru lain ia akan kembali mengajar minggu depan. "

Sebuah anggukan Shinichi lakukan.

"Mungkin lusa ia akan kembali. Pengacaranya mengirim mail kemarin untuk meminta keterangan," ia melirik sekilas ke arah laptop di pangkuan Kaito dan kembali menatap sepupunya yang kini terkulai lemas di atas karpet. "Apa kau sudah selesai? Katakan jika kau butuh bantuan."

Remaja berkacamata itu menggeleng lemah dan membuang pensil yang dipegangnya ke sembarang arah. Setelah melepaskan kacamatanya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia pun mulai berguling di karpet sambil meneriakan betapa menyebalkannya semua tugas yang diberikan oleh gurunya.

Shinichi hanya bisa menghelakan nafasnya.

Ia tahu sepupu jauhnya itu tidak suka duduk diam dihadapan tumpukan tugas—Oh, hello? Apa ada orang yang menikmati 'tugas' di luar sana?—dan lebih menikmati kegiatan outdoor dengan memanfaatkan kegiatan itu untuk belajar langsung dari alam atau dari video games atau dari cerita-cerita orang disekitarnya.

Berbeda dengan dirinya yang bisa menghabiskan berjam-jam bahkan berhari-hari dalam ruangan yang penuh oleh buku dan merasa akan bosan jika tidak membawa buku apapun bersamanya. (Walau akhirnya pada beberapa kesempatan ia menjadi terlalu sibuk hingga tidak bisa menyentuh buku-buku itu)

Walau begitu, keduanya bisa bekerjasama dengan baik. Shinichi sering membawa bocah itu bersamanya ketika sedang ada panggilan kasus. Biasanya hanya kasus-kasus yang tidak memakan korban jiwa.

Sejak itu orang-orang terdekat Shinichi selalu—tanpa sengaja—menyeret Conan ketika mereka berpapasan. Tentu saja semua akan berakhir dengan pola 'Conan menelpon Shinichi, menceritakan detil kasusnya, dan kasus selesai walau Shinichi tidak ada di lokasi saat itu'.

Pfft.

Wajar saja.

Satu-satunya yang bisa menjadi pembeda di antara mereka secara fisik hanyalah kacamata besar yang bertengger pada batang hidung Conan. Sesuatu yang tidak mungkin terpisah darinya walau dipaksa.

Bahkan saat mandi.

Mau bagaimana lagi? Sejak kecil ia mengalami kelainan pada bola matanya yang membuatnya harus memakai kacamata sejak ia duduk di bangku TK.

Selain itu?

Mungkin suara...?

Suara Conan sedikit lebih nyaring walau ia sedang memulai puncak usia masa remajanya. Tetapi itulah ciri khas anak itu dan Shinichi menyukainya.

Terlebih saat ia mendengar suara khas "Shinichi-niichan" dari mulut kecil yang selalu melontarkan komentar dingin pada orang lain itu.

"Shinichi-niichan!"

HA! Panjang umur!

Shinichi mengerjapkan matanya. Ia menunduk untuk melihat Conan yang tiba-tiba saja sudah berlutut di depannya. Kedua tangan anak itu saling bertautan dan raut memelas terpampang jelas pada wajahnya.

"Boleh aku pinjam uangmu? Akan kuganti saat Mama mengirim uang."

"Uang? Untuk apa?"

"Ada game baru yang ingin kubeli. Tetapi uangku kurang. Aku hanya butuh beberapa ratus yen saja!"

Shinichi menyipitkan matanya.

Terakhir ia mendengar kata 'beberapa ratus yen' ia dikejutkan dengan sebuah tagihan kartu kredit yang membuat kedua orangtuanya harus menelpon dan menceramahinya. Ia sendiri tidak tahu kalau benda dengan harga 'beberapa ratus yen' yang dimaksud oleh sepupunya itu adalah sebuah konsol game terbaru yang dikategorikan limited edition oleh pihak produsen.

Ia tidak begitu mempermasalahkannya.

Karena setiap bulan ia mendapatkan kiriman sejumlah uang dari ibu Conan untuk menunjang kebutuhan putranya itu. Bisa saja ia meminjamkannya dan mengambil gantinya dari kiriman ibu anak itu atau untuk mempermudah, ia hanya cukup menelpon adik dari Yukiko tersebut dan menceritakan pengeluaran yang ada.

Tetapi kalau ia terus mengiyakan semua keinginan anak itu...

Terlebih lagi keinginan 'main game'...

"Tidak."

"Eeeehh?" Suara Conan memekik. "Kenapa?"

"Ibumu menitipkanmu disini untuk belajar, Conan. Kalau kau terus-terusan bermain, ibumu akan marah padaku."

Conan mengerucutkan bibirnya lalu memanjat naik ke pangkuan Shinichi.

"Kau tahu Mama tidak akan pernah bisa marah padamu, 'kan? Kumohon, Niichan! Kau harapanku satu-satunya," ujarnya sambil mengguncangkan bahu sepupunya.

"Pria mesum disampingmu ini bersedia meminjamkan, tetapi ada syarat tidak senonoh yang harus kulakukan. Apa kau tega?" Ia kemudian memeluk sepupunya dan mulai merengek. "Kau tega membiarkanku terlilit hutang dengan lintah darat mesum seperti orang ini? Kau tega melihatku mati kebosanan ditengah tumpukan game buatan Profesor? Kau te—"

"Syarat apa yang kau berikan?" Tanya Shinichi pada sosok Kaito yang mencoba sealami mungkin mengutak-atik laptopnya agar terhindar dari tuduhan.

Kaito mengerutkan keningnya setelah beberapa saat lalu menoleh ke arah Shinichi. "O, great detective," ujarnya dengan kedua mata membelalak. "Izinkan hamba bertanya satu pertanyaan sebelum menjawab; Apa aku terlihat seperti lintah darat mesum dimatamu?"

Shinichi menganggukan kepalanya tanpa ragu.

"I'm betrayed!" ujar Kaito dengan dramatis.

"Kau tahu? Aku hanya memintanya menjadi asistenku minggu depan. Semua asistenku mulai sibuk dengan kehidupan pribadi mereka. Mami-chan, Rieko-chan, bahkan Yuko-san yang selalu bisa kuandalkan pada detik-detik terakhir. Properti sudah dibuat dan satu-satunya orang bertubuh mungil yang bisa kutemukan saat ini hanya bocah ini."

"Dia menyuruhku memakai telinga kelinci dan ber—"

"Oi!" potong Kaito dengan cepat. "Hanya kostum kelinci putih! Tidak lebih. Shinichi juga per—ACK!" Kaito refleks memukul tangan Shinichi yang mencubit lengannya. "Itu sakit, Shinichi!"

"Aku pernah menonton showmu!" Conan berkata dengan nada curiga. "Sebelum trikmu dimulai kau akan memegang semua asistenmu, 'kan? Lalu, mereka akan mencium pipimu dan menari-nari nakal di sekelilingmu!"

Kaito mendelik.

Dengan satu tangan ia merenggut kacamata yang bertengger di hidung Conan dan tangan lainnya menjepit hidung remaja tersebut.

"Dengar, Bocah Kecil," ujar Kaito sambil menarik hidung anak itu. "Sudah menjadi rahasia umum kalau ketampananku membuat semua orang ingin menciumku. Lagipula, mereka melakukan senam akrobatik! Bukan menari nakal!"

"Lepaskan aku, Lintah Darat Mesum!"

"Bocah pendek!"

"Pesulap mesum!"

"Hei, Mata Empat! Kalau kau ucapkan itu lagi—" dia melirik ke arah Shinichi. "—semua orang di rumah ini akan tahu kau sudah—"

Conan dengan cepat melompat ke arah Kaito dan membungkam mulut pesulap itu. Rona merah menyebar di seluruh wajah hingga ke telinganya.

Kaito pun melawan dengan mendorong remaja itu menjauh dari tubuhnya dan usahanya hanya menjadikan gerakan keduanya semakin terlihat mencurigakan.

"Apa?" Shinichi menatap keduanya dengan tatapan penasaran. Mereka kini sibuk berbisik namun penuh nada ancaman. "Sudah apa?"

Keduanya serentak menggeleng dengan tidak alami dan semakin mengundang rasa penasaran sang detektif.

Ugh, ini bahaya.

Hanya tinggal menghitung waktu hingga pemuda penggila misteri itu tahu rahasia mereka. Rahasia Conan!

Shinichi menyipitkan matanya dan hendak mengatakan sesuatu namun dering telpon menghentikan niatnya. Conan menghelakan nafas lega ketika sepupunya beranjak dari tempatnya untuk mengangkat telpon.

"Apa yang bisa kulakukan agar kau merahasiakannya?" bisik Conan dengan nada ketus. Diliriknya sosok sepupunya yang kini berbicara pada gagang hitam di sudut lain ruangan tersebut. Ia tahu ia akan sangat menyesali apa yang baru saja ia ucapkan.

Rasanya seperti menawarkan daging segar sebagai persembahan untuk sekelompok mahluk buas pemangsa manusia.

Kaito pun menyeringai puas atas persembahan yang telah diberikan oleh remaja di hadapannya. Dengan satu tangan mengusap kepala sang remaja berkacamata, pria itu pun mengeluarkan ponselnya dan menekan satu nomor dari sederet nama pada kontak teleponnya.

"Kau akan menikmati pertunjukannya, Co-chan~"

.

.

.

.


A/N:

TCDWD memasuki masa hiatus panjang. Mungkin akan kembali di-update jika penulis lulus kuliah? (Wait, that'd be 4 years from now LoL reality hurts.)

Don't forget to leave a review, Review dan Update berbanding lurus, lho! ;)