.
.
.
Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"Just Be My Everything"
( c ) Hitomi Sakurako
.
.
.
Chapter 3: Awal Pertemuan 3! Berbagi
Sakura membuka matanya perlahan. Yang ia lihat pertama kali adalah langit-langit kamarnya. Sakura menatap kearah pintu kamar yang berada di sampingnya.
"Kepalaku sakit." Sakura membawa tangannya ke kepalanya. Ia meremas rambutnya. Kemudian bangkit duduk dari tidurnya.
"Sakura! Cepatlah bangun!" teriak Mebuki dari bawah.
Sakura segera beranjak untuk membersihkan diri dan bersiap-siap. Setelah itu, Sakura turun untuk menemui orangtuanya di meja makan.
"Selamat pagi…" ucap Sakura sambil menguap pelan di tangga.
"Oh, Sakura. Cepatlah duduk. Makanan sudah siap." Mebuki menarik salah satu kursi di meja makan dan menaruh sepiring roti bakar di atas meja.
Sakura hanya terdiam sambil mengikuti perintah Mebuki. Saat tengah asyik menikmati sarapannya, seseorang menarik kursi di samping Sakura. Orang itu mulai menyantap sarapannya juga.
Sakura menoleh kearah orang yang duduk di sampingnya. Oh, ia baru ingat kalau di rumah ini ada orang lain selain Ayah, Ibu dan Sakura. Ya, orang itu adalah Uchiha Sasuke yang tengah menikmati sarapan yang sama dengan Sakura.
"Kau masih ada di sini?" tanya Sakura tanpa menatap kearah Sasuke.
"Sakura, tidak sopan berbicara seperti itu. Sasuke akan berada di sini selamanya." Kizashi menegur Sakura.
Sakura tahu itu. Sejak pertama kali akan ke rumah ini, orangtua Sakura memang sudah pernah mengatakan seperti itu, bahwa Sasuke akan tinggal di rumah ini … SELAMANYA!
Tapi, semua hal seperti itu tidak akan sulit apabila Sakura berusaha menyingkirkan sosok dokter itu dari rumah ini.
"Tch, aku akan berusaha menyingkirkanmu." gumam Sakura sambil mengunyah rotinya.
"Kau pikir semudah itu? Orang tuamu bahkan lebih berpihak padaku." Sasuke menyeringai pelan sambil menatap Sakura.
Brak! Sakura berdiri dari duduknya. "Aku pergi duluan." Sakura mengambil tasnya di kursi ruang tamu dan segera memakai sepatunya.
"Sakura, apa kau akan langsung pergi seperti itu?" ucap Mebuki dan Kizashi. Mereka memasang tatapan yang mencurigakan.
"Eh?" Sakura memiringkan kepala karena heran dengan tingkah kedua orangtuanya.
.
.
.
"Tidaaaaak! Aku sudah tidak tahan!" teriak Sakura sambil mencengkeram rambutnya, kesal.
"Kenapa denganmu? Berisik sekali!" Sasuke berjalan mendahului Sakura yang sedang kesal.
Ternyata, maksud dari perkataan orangtua Sakura tadi adalah berangkat bersama dengan Sasuke. Alasannya sangat klasik, karena klinik tempat kerja Sasuke berada sebelum sekolah Sakura.
"Karena kau, masa SMA-ku yang indah langsung hancur!" teriak Sakura.
"Oh, ya. Kau punya mobil. Tapi kenapa kau tidak meminta Paman Kizashi mengantarmu? Kenapa kau lebih memilih jalan kaki?" tanya Sasuke.
Mendadak wajah Sakura berubah, ia mulai terkejut. "Heh? A-aku… Aku, aku hanya ingin berjalan kaki karena… karena lebih sehat!" seru Sakura. Sebenarnya ia menjawab asal-asalan.
Sasuke mengangguk mengerti, kemudian ia mulai mengeluarkan senyum jahatnya."Hoi. Apa kau mau rahasiamu terbongkar?" ucap Sasuke.
"Hah? Rahasia? Aku tidak punya rahasia apapun!" bantah Sakura.
Sasuke mendekati Sakura, kemudian ia menunduk sedikit. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Sakura. "Aku mencintai seseorang. Kau masih ingat penyakitmu, kan?" bisik Sasuke. Napas Sasuke menyapu telinga Sakura.
Sakura menutup telinganya yang barusaja dibisiki oleh Sasuke. "M-memangnya aku pernah mengatakan seperti itu? Aku tidak pernah berbicara seperti itu!"
"Yah, kalau begitu mungkin aku bisa meneriakkannya ke orangtuamu nanti." Sasuke melangkah kearah kliniknya, meninggalkan Sakura yang cuek padahal takut itu.
Sakura melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Ketika beberapa meter lagi sampai di sekolah, Sakura bertemu dengan Sai. Orang yang sangat ingin ditemuinya pagi ini.
'Sasuke bilang aku sedang jatuh cinta. Apakah mungkin…"
"Sakura." Sai menyapa sambil melangkah mendekati Sakura.
Salah satu alasan Sakura tidak ingin berangkat menggunakan mobil ke sekolah adalah karena ia selalu ingin bertemu dengan Sai di jalanan seperti ini. Baginya ini adalah kesempatan Sakura untuk melangkah semakin dekat dengan Sai.
Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas masing-masing. Sakura kembali mengingat perkataan Sasuke soal penyakitnya itu. Kemudian ia tersenyum sendiri.
"Sakura, ada apa?" tanya Sai heran.
Sakura menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja terlalu lucu memikirkan tentang orang yang disukai."
Sai tersenyum. "Kau bisa memikirkan hal seperti itu?"
Sakura mengangguk. "Ya, seperti itulah. Eh, kau mengatakannya seolah-olah aku tidak mengerti apa-apa!" kata Sakura.
Sai mengelus puncak kepala Sakura. "Karena kau masih belum mengerti." Sai melayangkan senyumannya. "Ah, aku duluan."
"Apa maksudnya?" gumam Sakura sambil menyentuh puncak kepalanya.
.
.
.
Bel masuk berbunyi. Sakura segera memasuki kelasnya sebelum gurunya datang. Setelah Sakura duduk di kursinya. Ia mendapat kabar bahwa pada pagi ini guru yang akan menagajar di kelasnya berhalangan hadir.
Sakura memanfaatkan keadaan ini untuk mengerjakan tugasnya yang harus dikumpulkan segera di jam terakhir. Ketika Sakura sedang menulis, beberapa anak siswi mulai mendekatinya. Mereka menarik kursi di sekitar Sakura dan mendudukinya.
"Hei, Sakura! Apa kau sudah mengunjungi klinik baru itu?" tanya seorang gadis berambut coklat atau sebut saja Tenten.
"Klinik baru apa?" tanya Sakura heran.
Tenten mengarahkan telunjuknya ke luar jendela. Tepat pada beberapa meter dari sekolahnya. "Klinik milik dokter Uchiha Sasuke."
Sakura merasakan aura aneh ketika seseorang mulai membicarakan tempat keramat dan hantu pemilik klinik itu. "M-memangnya kenapa?" ucap Sakura agak takut.
"Aku sudah datang ke sana! Tempat itu sangat bersih dan… dokter yang mengawasi tempat itu sangat tampan!" seru gadis berkuncir satu. Namanya Ino.
"Kudengar kau dan dokter itu memiliki hubungan." celetuk seorang gadis berambut oren atau sebut saja Sasame.
"Eh, t-tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Sungguh!" ucap Sakura mencoba meyakinkan sekelompok gadis itu. Tunggu dulu, Sakura mengucapkan hal yang benar, kan? Ia sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Sasuke.
"Aku juga mendengar kalau kalian pacaran!" seru Shion bersemangat.
"Hah?! Dari mana kalian bisa mendengar semua itu?" teriak Sakura terkejut.
"Ternyata memang benar…" ucap Ino sambil mengangguk-angguk.
Sakura meraih kedua bahu Ino. "Apanya yang memang benar?!"
"Kami mendengarnya dari beberapa orang. Aduh, siapa nama dokter itu, ya. Aku lupa…" Sasame menggaruk kepalanya seolah-olah sedang berpikir.
"Sasuke Uchiha." ucap Sakura.
"Ya! Itu dia! Sudah kuduga. Kau bahkan bisa mengucapkan namanya tanpa cacat!" seru Tenten.
Sakura memiringkan kepala. "Apanya yang tanpa cacat, nama jelek seperti itu sangat mudah diingat."
"Apakah itu benar? Kalian berpacaran…" Ino mencolek lengan Sakura. Ia benar-benar menggoda Sakura.
"Bukan seperti yang kau pikirkan! Aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya. Sungguh!" Sakura berusaha keras meyakinkan para gadis itu sebelum gosip-gosip buruk semakin berkembang.
"Heh, jadi kalian tidak memiliki hubungan apapun…"
Sakura mengangguk-angguk. Ia tidak bisa seperti ini karena kalau gosip buruk ini menyebar, itu akan merusak hubungannya dengan Sai.
"Hah, berarti Sai-kun salah memberikan informasi. Aku pikir Sasuke dan Sakura adalah pasangan…" Ino merengut kesal.
Sakura membulatkan mata. "S-Sai-kun?"
Ino mengangguk. "Ya. Sai! Kau tahu, kan? Jangan bilang kau amnesia. Kalian selalu bersama sepanjang hari. Bahkan pada pagi hari pun kalian bersama."
Sakura terdiam. Kemudian ia menatap Ino dalam-dalam. "Benarkah? Kau mendengar sesuatu dari Sai?"
"Tentu saja. Kebetulan kami juga sangat dekat dengan Sai. Jadi ia sering bercerita tentang apapun. Kau tahu, Sai sangat memperhatikanmu." ucap Ino dengan sangat pelan. "Aku kagum padamu, Sakura."
'Apa yang sebenarnya Ino rasakan saat ini tentang Sai?'
.
.
.
Sakura melangkah menuju ke rumahnya, sebenarnya ia pulang agak terlambat karena Sakura masih memikirkan kata-kata yang Ino ucapkan tadi.
Kalau seseorang tidak mencerna ucapan Ino tadi, mereka pasti tidak akan tahu apa-apa. Tapi Sakura tahu betul apa maksud dari ucapan Ino. Kenapa Ino mengatakan hal itu?
"…ra! Sakura!" teriak seseorang dari belakang Sakura. Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap orang itu. "Eh? Sasuke?"
"Masuklah. Kau belum makan siang, kan?" ucap Sasuke yang berdiri di ambang pintu kliniknya.
Sekarang Sakura berada di dalam ruangan Sasuke. Sedangkan Sasuke keluar sebentar karena ada urusan. Sakura berkali-kali menghela napas.
Ketika Sasuke datang, Sakura dapat melihat Sasuke yang membawa dua kotak makanan. "Kau sungguh-sungguh membawakanku makanan?"
"Apakah wajahku terlihat seperti pembohong? Yah, lagipula ini adalah makanan yang dibuatkan Ibumu. Tadi dia membawa ini karena tidak sempat memberikannya tadi pagi."
Sasuke duduk di hadapan Sakura. Kini mereka siap untuk menyantap makanan masing-masing. Sakura bersemangat membuka kotak makanannya dan mulai memakan beberapa potong telur dadar.
"Oi. Bekalmu kenapa seperti itu?" tanya Sasuke.
"Eh? Apa ada yang aneh?" Sakura tetap melanjutkan makannya.
Sasuke membuka kotak makanannya. Dan di sana terdapat berbagai macam bentuk dan warna yang unik. Tidak seperti milik Sakura yang lebih didominasi oleh warna hijau.
"Ikan, udang, cumi-cumi! Wah, kenapa Ibuku bisa membuatkan makanan seperti itu untukmu?!" ucap Sakura kagum.
"Aku yang harusnya bertanya. Kenapa makananmu hanya seperti itu saja? Orangtuaku berpesan membuatkan makanan ini. Tenanglah, orang tuaku yang mengirimkan uang untuk biaya makananku."
Sakura menggigit timunnya. "Aku yang memintanya. Uang sakuku bulan ini dipotong."
"Dipotong? Kenapa?"
"Aku memakai sebagian untuk membayarkan hutang milik temanku." Sakura tersenyum kikuk.
"Kenapa kau melakukan suatu hal yang tidak penting. Dan lagi, kau bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Ibumu."
Sakura menggeleng. "Mungkin Ibuku akan marah kalau mendengarku mencampuri urusan pribadi orang lain. Tapi aku hanya mencoba membantunya sedikit."
"Jangan berlagak sok pahlawan. Seseorang akan melakukan bantuan ketika ia sudah menyelesaikan masalah pribadinya."
Sakura memukul meja. "Aku bukan sok pahlawan! Aku hanya mencoba membantu!"
"Jangan membantu orang lain kalau hal itu membuatmu tersiksa. Itu memalukan! Kalau kau membuatnya terus bergantung kepadamu, ia tidak akan pernah maju. Kali ini saja, tolong dengar baik-baik perkataanku." ucap Sasuke.
Sakura terkejut, ia terus menatap wajah Sasuke. Kemudian ia mulai tersenyum sambil menundukkan wajah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Begitu, ya. Kau benar. Aku terlalu membiarkannya bergantung padaku. Mungkin aku harus membiarkannya mampu menghadapi semua itu sendirian."
Sasuke mengacak rambut Sakura. "Ya. Kau benar. Kau akhirnya mau mendengarkanku." Sasuke melemparkan senyum manisnya. Dan hal itu membuat pipi Sakura memerah.
"T-tidak juga. Aku hanya mencoba memahami." Sakura membuang muka ke sembarang tempat.
Sakura menatap wajah Sasuke sejenak, kemudian ia tersenyum tipis. 'Ia sudah mau berbagi denganku. Sepertinya aku tidak harus membencinya.'
"Hei, kau boleh memakan bekalku! Kita bisa memakannya bersama." Sasuke mendekatkan kotak makannya ke Sakura. Sakura mengembangkan senyumnya.
Sakura akan segera mengambil sebagian bekal Sasuke, tapi…
"Ah, itu tomat, kan? Huh, aku benci tomat!" gerutu Sakura.
.
.
.
To Be Continued~
Halo. Ketemu sama saya lagi. Maaf baru bisa lanjut sekarang. Terima kasih buat yang sudah menyempatkan ke fic ini. Terima kasih, ya.
Apabila ada saran dan kritik, harap dilempar ke kotak review. Sampai jumpa di chapter depan.
Salam,
Hitomi Sakurako
