Author's Note: Pertama-tama, saya ingin meminta maaf bagi para pembaca yang merasa kalau saya updatenya kelamaan... Akhir-akhir ini saya sibuk dengan berbagai macam tugas, dan kalaupun sekalinya tidak ada tugas, biasanya saya langsung kalap dan menyerbu PS2 saya, maklum, saya juga lagi tergila-gila dengan Mana Khemia, baru saja saya namatin yang pertama, yang kedua tidak lama langsung dirilis... Jadi ya... Saya langsung kalap dan memainkannya...
Saya akui, chapter ini bukannya pendek lagi, agak keterlaluan malah, karena saya baru sempat menulis sampai sini, tapi karena saya merasa bahwa saya perlu memberitahukan pada anda-anda sekalian kalau saya masih hidup, akhirnya saya memutuskan untuk meng-update chapter ini, walau hanya sedikit... Namun, disamping semua itu, saya tetap berharap supaya anda-anda sekalian menikmati chapter ini...
Chapter 3: Backside of the TV
...Sepulang sekolah, di dunia dalam TV...
"Ng... Senpai? Aku merasakan keberadaan shadow yang agak berbeda dari biasanya, shadow itu berada tepat ditempat kita menemukan Naoto-kun sebelum ini. Aku tidak yakin kalau shadow ini berpengaruh pada kemunculan kabut atau apapun yang merupakan misi utama kita, tapi kemunculan mereka yang terus menerus seperti ini juga cukup mengkhawatirkan..." tutur seorang gadis berambut merah kecokelatan kepada senpainya.
"Oh? Baiklah, ayo kita kesana untuk hari ini." jawab sang ketua dengan singkat. "Aku tidak merasa begitu baik hari ini... Setelah hari ini, ya, setelah hari ini, aku harus mengkondisikan diriku sebaik-baiknya agar aku bisa secepatnya menyelamatkan Nanako dari sini... Aku... tidak boleh gagal..." janji pemuda tersebut dengan dirinya sendiri dalam hatinya.
"Baiklah... Untuk kesana, senpai bisa meminta Naoto-kun untuk menunjukkan jalannya. Aku yakin dia pasti ingat tempat itu." kata Rise dengan singkat.
"Eh?" sahut sang ketua secara refleks. Setelah insiden terakhir yang terjadi diantara mereka berdua, Souji dapat merasakan bahwa sang detektif terus berusaha untuk menjauhinya dan ia juga menemukan dirinya sendiri tengah melakukan hal yang sama. Mereka tidak pernah lagi berbicara satu sama lain disekolah, Naoto pun sudah tidak pernah datang dan mengajaknya untuk pergi bersama sepulang sekolah. Bila mereka secara tidak sengaja berpapasan dikoridor pun, mereka tidak akan berkata apa-apa dan dengan segera berjalan melewati satu sama lain, seakan-akan mereka tidak mengenal satu sama lain. Hal ini telah berlangsung selama seminggu, namun tak sekalipun sang ketua mempertanyakan hal ini pada dirinya sendiri, sampai ia teringat akan mimpinya, sampai saat ini...
"Oh!" seru Rise secara tiba-tiba, ekspresi wajahnya terlihat agak kaget dan panik. "Ehh... Apa lebih baik kalau aku saja yang meminta Naoto-kun untuk mengantar kita?"
Menyadari bahwa kecanggungan antara mereka berdua mulai dikhawatirkan juga oleh teman-temannya yang lain, pemuda berambut abu-abu itu pun segera menjawab, "Tidak, tidak apa. Aku yang akan memintanya." Setelah berkata demikian, sang ketua pun segera pergi untuk menemui sang detektif berambut biru tersebut.
"... Naoto?" panggil sang ketua dengan sedikit keragu-raguan dalam suaranya.
"...Ya, senpai? Ada apa?" jawab sang detektif. Suaranya terdengar tenang seperti biasanya, namun ia masih menghindari kontak mata dengan pemuda yang memanggilnya.
Melihat reaksi sang detektif, pemuda berambut keabu-abuan itu secara tidak sadar mengerutkan kedua alisnya, perasaannya menjadi tidak menentu, dan ia sendiri tidak begitu memahaminya, namun satu hal yang pasti, perasaannya... tidak enak.
"Umm, tidak, hanya saja, untuk hari ini telah diputuskan bahwa kami akan pergi ke... Secret Base, dungeonmu..." jawab sang ketua. Pada saat itu, pemuda itu dapat melihat bahwa tubuh lawan bicaranya sedikit menegang pada saat ia berbicara tentang dungeonnya. Jelas saja, tidak mungkin ada orang yang menyukai dungeonnya sendiri, tempat yang terlahir dari pikiran, ketakutan dan kegelapan terdalam mereka masing-masing, mengambil wujud di dunia nyata, memperlihatkan isi pikiran dan ketakutan mereka yang terdalam pada setiap orang yang melihat tempat tersebut.
"Oh... Ya... Aku juga harus pergi... kan?" jawab remaja berambut biru tua itu dengan ekspresi enggan diwajahnya.
"Ya... Rise baru saja memberitahuku bahwa ada shadow yang cukup kuat yang muncul di bagian terdalam dungeonmu... Jadi..." jelas sang ketua. Ia tahu bahwa sebenarnya ia tidak perlu mengatakan hal seperti itu pada lawan bicaranya, namun entah mengapa ia pun akhirnya mengatakannya juga, seolah-olah tidak ingin membuat sang detektif salah paham terhadapnya.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu menjelaskan alasannya kepadaku. Kau adalah pemimpin kami, kan? Sudah sewajarnya bila kami semua menjalankan apa yang kau perintahkan pada kami." jawab remaja berkacamata biru tersebut dengan suaranya yang datar, matanya masih menghindari kontak mata dengan sang ketua.
Mendengar jawaban sang detektif, perasaan pemuda berkacamata abu-abu itu semakin tidak menentu. Kata-kata yang diucapkan oleh sang detektif barusan terasa sangat tajam baginya, membuatnya merasa... sedih dan terluka. Padahal biasanya, bila kata-kata itu meluncur dari mulut orang lain, belum tentu ia akan merasa seperti ini. Pada saat itu, ia belum mengerti mengapa setiap kata-kata yang keluar dari mulut sang detektif selalu berdampak besar bagi dirinya, tidak seperti kata-kata yang berasal dari orang lain. Tanpa sepengetahuannya, wajahnya pun telah berubah menjadi lebih muram. Setelah itu, sang ketua pun membalikkan badannya, menghadap kearah teman-temannya yang lain, dan berkata, "Baiklah, semuanya, ayo kita pergi."
Author's Note: Seperti yang saya bilang, chapter ini memang cuma sedikit... Disini, saya juga ingin memberitahu anda-anda sekalian, bagi yang menunggu kelanjutan fic saya yang lainnya (udah, udah, anggap saja ada yang menunggu), saya akan lama dalam meng-update karena saya memprioritaskan fic ini, namun bagaimanapun, saya akan tetap berusaha untuk meng-update mereka. Oh, dan juga untuk para author lain yang selalu saya review ficnya dan telah mengeluarkan chapter baru namun belum saya review, itu berarti belum saya baca, namun bila sudah saya baca, saya pasti mereview, sama juga dengan PM... Untuk itu, mohon maafkan saya... *duduk bersimpuh*. Karena kesibukan yang cukup hebat, saya kurang memiliki waktu luang untuk online dan lain-lain (kecuali untuk main Mana Khemia 2 karena sedang kalap). Ini saja saya bisa meng-update karena saya online sebentar untuk mengirim email berisi slide presentasi tugas saya...
Saya tahu kalau mungkin saya telah mengecewakan anda-anda sekalian, namun... Saya harap anda-anda sekalian tetap bersedia mereview... *duduk bersimpuh* (lagi)
