Jongin X Sehun
.
.
Do not copy-paste or repost because this story is from my own imagination. I just add names for fill the casts, EXO is belong to their own self.
Close the tab if you don't like it.
Warning! These is Straight, YAOI, with YURI and some sexual contents for some chapters.
.
Benar-benar tidak dianjurkan untuk yang merasa 'belum' cukup umur karena...
Very much of dirty talk in every chapters.
Hope you like it~
.
.
Chapter 2
Sehun menarik Tao untuk duduk bersebelahan dengan dirinya, "Kau serius?" perempuan cina itu bertanya penuh dengan rasa penasaran yang meledak-ledak. Membuat Sehun makin jengkel saja. "Tentu saja, kau kira aku bohong? Memangnya apa untungnya buatku? Huh?" Sehun mendengus, merangkul pinggang Zitao yang lebih kecil dari dirinya. Menunjukkan sikap aslinya, tanpa seorangpun diluar sana tahu.
"Lalu bagaimana dengan kita?"
"Aku juga tidak tahu!" Sehun menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan gemas. Tao tertawa melihat kekasihnya yang aneh itu. "Kau itu wanita yang manly, lebih daripada siapapun dan lelaki dimanapun yang pernah aku temui seumur hidupku. Kurasa kau tidak perlu khawatir akan hal itu." Tao berusaha merayunya, mencoba menenangkan pikiran Sehun dengan sugesti-sugesti positifnya yang mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja buat Sehun.
Namun, Sehun tidak bisa menepis segalanya dan berpikir semuanya akan baik-baik saja. Ia tahu sifat orang tuanya yang memaksa itu. Kalau Sehun bukan lesbian, perempuan yang menyimpang atau apapun itu, ia akan baik-baik saja seperti yang dikatakan Tao dan menerima semuanya dengan lapang dada. Tapi disini posisinya adalah Sehun yang tidak menyukai laki-laki, lalu dipaksakan menjalin komitmen sakral dengan laki-laki. That so mental abuse. So much.. untuk Sehun.
"Tapi ini tidak mudah,"
"Aku tahu, dan aku akan menunggumu. Aku akan selalu ada untukmu disini Sehun-ah."
Sehun menoleh, setelah membuang arah ke segala penjuru yang tidak jelas akhirnya ia menatap wajah cantik seorang Zitao yang tengah menyalurkan rasa pengertiannya untuk Sehun. Lebih dari siapapun itu. Sehun mengangkat kedua sudut bibirnya, mencetak senyuman simpul yang mampu membuat Tao menghembuskan nafas lega juga. Memastikan Sehun tidak akan stress hanya karena memikirkan hal-hal kuno seperti perjodohan ini. Sehun itu wanita mandiri yang berpikir terbuka, berusaha memegang seluruh dunia nya dalam genggamannya sendiri. Tanpa mau ada yang mengusiknya. Dan Tao adalah salah satu semangatnya. Sehun itu ambisius, dan Tao yakin kalau perempuan itu akan memperjuangkannya juga. Walaupun hubungan aneh mereka, yang membuat orang-orang bisa menatap penuh rasa jijik kearah dirinya dan Zitao sekalipun, Tao yakin kalau Sehun itu akan menjadi pelindungnya dimana saja. Oh Sehun mengatakan kalau ia menyayangi seorang Huang Zitao apa adanya.
"Aku pegang kata-katamu, Huang Zitao." Sehun mencubit hidung kekasihnya itu sampai merah. "Ya! Sakit!" Tao mengusap-usap hidungnya yang meradang itu.
"Lihat hidungku merah! Dasar kekasih biadab kau!" Tao menjambak rambut panjang Sehun karena gemas. "Auh! Ya! Zitao! Aduh sakit!" kedunya tertawa setelahnya.
"Aku bercanda."
"Aku tahu Huang Zitao."
"Itu kau tahu."
"Siapa yang bilang aku tidak tahu?"
"Eum, maksudku—"
Tao belum sempat melanjutkan ucapannya. Sehun mencuri sebuah kecupan kecil pada bibirnya itu. Tubuhnya agak bergetar, reaksi yang sama setiap kali Sehun mengecupnya, atau mengajaknya bercinta. "Aku mencintaimu." Tao langsung menghambur, memeluk Sehun dalam. Menunjukkan segalanya dengan pelukan yang ia berikan. Sehun membalasnya juga, "Aku juga mencintaimu."
.
.
.
Jongin mendudukkan dirinya diatas sofa empuk yang ada diruangan kerjanya. Melepas segala penatnya setelah mengumpat, dan meneriakkan kata-kata kotor dengan sekeras-kerasnya. Bahkan orang yang ingin menyerahkan data laporan hari ini harus memindahkan ke penanggung jawab lain karena melihat anak dari pemilik perusahaannya sedang dalam kondisi tidak baik—tentu saja, Jongin bahkan menyumpahi mereka yang masuk ruangannya hari ini akan mati dijalan detik itu juga. Menyeramkan. Suara ketukan lain menggema didalam ruangannya, Jongin ingin sekali lagi berteriak namun niatannya langsung terputus. Sosok Yixing tengah menyembul dari balik pintunya, "Apa aku boleh masuk?"
Lelaki itu bertanya dengan hati-hati, walau bagaimanapun Jongin tetap atasannya. Meskipun usia anak itu beberapa tahun dibawahnya dan perilakunya sangat buruk—terlebih dalam seksualitas. Jongin mendengus berkali-kali, menggantung Yixing terdiam disitu hingga beberapa menit setelahnya. Entah kenapa perasaannya kacau sekali, Jongin merasa dirinya mudah marah akan kesalahan apapun, walaupun itu benar... Akan tetap salah dimatanya. Apa hanya karena perjodohan konyol dengan wanita membuatnya sampai burden self begitu?
Jongin merasa frustasi sendiri kalau mengingat dirinya gila hanya karena hal-hal seperti itu akhir-akhir ini. "Jongin?"
Jongin menarik nafas banyak-banyak, "Masuklah hyung." Yixing masuk. Sambil menenteng berkas yang ada.
"Kau baik-baik saja?" ia bertanya, mendudukkan dirinya disamping Jongin tanpa dipersilahkan. Dan Jongin merasa tidak peduli. "Jongin?"
Jongin menatap nyalang kearah pria itu, "Bisa kau diam?"
Yixing mengatupkan bibir tipisnya, "A-aku hanya ingin menyerahkan ini." Untuk kesekian kalinya ia berusaha tidak melakukan kesalahan. Jongin seperti monster kali ini. Dan benar, anak itu malah mempelototi map yang ia sodorkan, "Kau masih bisa memberikan pekerjaan, saat kau tahu aku sedang kacau begini huh?!" Jongin berdiri, meneriakki Yixing yang mengeratkan pegangan pada map saking takutnya.
"Kau itu bodoh atau apa?"
"J-jongin..."
Jongin menarik lengan pemuda yang lebih pendek itu, mencengkeram lengan jasnya sampai rasanya seperti mau robek. Yixing membuang pandangannya kemanapun, dan itu membuat seorang Kim Jongin semakin geram dan memaksakan tangan besarnya menyeret paksa dagu runcing Yixing agar menatap hanya kearahnya. "S-sakit..." seru pemuda itu lirih, Jongin langsung maju dengan cepat meraup bibirnya. Semuanya terasa sangat sesak. Ia menarik pinggul Yixing dengan paksa, mengeratkan tubuh keduanya sampai kemaluan mereka saling bergesekkan. Selalu seperti ini, dan monster seperti Kim Jongin selalu tidak ada yang menandingi. Dirinya terlalu lemah untuk mengingatkan kalau ini salah, terlalu lemah juga untuk memberitahu Jongin kalau dirinya adalah laki-laki, dan terlalu susah untuk disanggupi hanya untuk mengatakan bahwa dirinya merasa tidak dihormati sebagai yang lebih tua.
Jongin merasa belum puas dengan semua ini, ia melepaskan ciuman sepihak mereka dan langsung mendorong kasar tubuh itu keatas sofanya. "J-Jongin..."
Jongin menarik baju Yixing dengan kasar, merobeknya dengan tidak berperikemanusiaan. Membuat pemuda itu telanjang dengan keaadaan menahan malu. "Hyung!" Jongin menarik lagi dagu itu, mengharuskan Yixing untuk menatap dua netranya yang penuh dengan amarah. Yixing meneteskan air matanya, "Jangan menangis!" ia membentak tanpa sadar. Membuat isakan lirih Yixing senyap secara tiba-tiba. Jongin melepaskan celananya hingga selutut, tanpa melepaskan pandangannya dari paras seorang Zhang Yixing.
"Lihat aku!"
Yixing hanya diam, kedua matanya memerah. Ia menjadi pelampiasan Jongin untuk yang kesekian kalinya. Dan semuanya begitu cepat, penis itu sudah menusuk lubangnya dengan menghentak, membuatnya terangkat, dadanya membusung, menggigit bibir—demi menahan teriakkan pilu miliknya. Jongin terengah, mendesah lega saat miliknya sudah masuk sepenuhnya. Ia tidak mempedulikan kesakitan Yixing, ia hanya peduli dengan dirinya sendiri. Seolah-seolah ia tengah memasuki boneka manekin.
Yixing melenguh, menahan sakitnya yang teramat saat merasakan Jongin langsung bergerak dengan cepat, menumbuk kedalaman itu berkali-kali. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah meremas kepala sofa, juga menggaruk-garuk tekstur kasar pada karpet dibawah sana.
"Ahh.. ahhh..."
Jongin mendesah, dan mendesah sedangkan Yixing menggigit bibirnya semakin dalam.
"Hyung! Aku keluar!" ia berteriak sendirian, menyanyi sensual memenuhi ruangannya. Dan setelah beberapa detik, ia mendapatkan orgasmenya dengan sangat nikmat. Tubuh bidangnya langsung rubuh, menimpa sosok lemah yang ada dibawahnya. Kali ini Yixing menangis, membiarkannya terdengar keras saat Jongin sudah mendengkur halus.
Jongin merasakan risih dengan suara Yixing itu, namun setelah semua amarahnya berlalu... dirinya merasakan iba itu mulai masuk menyelip ke mata hatinya sendiri. "Hyung?"
Ia menyapa dengan halus, sangat berbeda dengan yang tadi. Sangat jauh dengan monster modenya tadi.
"Kau berjanji untuk kembali kan?"
Jongin mengernyit, "Maksudmu?"
Yixing mengusap air matanya dengan susah payah, menahan kesedihannya dibalik senyum mirisnya itu. "Wanita itu, yang ayahmu ceritakan padaku."
Jongin terdiam sebentar, menatap Yixing yang menggambarkan dirinya sangat merasakan sakit hati. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Jongin mengusap peluh didahinya, mengelapi air mata disetiap sudut wajah lelaki itu. "Karena aku takut kau meninggalkanku." Entah apa yang Jongin rasakan ini benar, tapi ia merasakan sesuatu yang berbeda.
"Dan kau selalu menjadikanku boneka seksmu."
"Hyung..." Jongin merasa kasihan sendiri entah kenapa, ia mulai sadar pada akhirnya kalau yang ia perbuatkan pada Yixing itu sudah terlalu jauh dan keterlaluan sekali. "Tidak begitu."
"Lalu? Kau akan tetap menerimanya?"
Jongin menatap pemuda dibawahnya lama, menusuk untuk mengais-ngais isi dari tatapan itu sendiri. Sendu dan sedih, rasanya seperti Jongin akan meninggalkannya untuk selama-lamanya hari ini. "Aku tidak tahu." Jongin memeluk lelaki itu, mengecupi garis penghubung dari leher hingga tengkuk dan berjalan lagi ke belakang telinga. Yixing terdiam, ia memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak ia tanyakan. "Kau tidak akan menyukai perempuan kan?"
Jongin menengadahkan kepala, "Hyung kau ini bicara apa?" Jongin bertanya dengan halus walaupun ia merasa tersinggung. Ia membelai tiap helaian pendek rambut lawan mainnya.
"Bisa saja kau biseks."
"Hyung, aku ini gay. Kau tahu itu."
"Kau bersungguh-sungguh?"
"Tentu saja sayang.. Wanita itu sangat merepotkan. Kau tidak perlu khawatir akan ini." ia akhirnya menjawab.
"Bagaimana bisa kau begitu yakin?"
"Karena aku mencintaimu." Jongin merasa memberikan harapan pada seseorang yang tidak seharusnya begitu, namun entah kenapa ia merasa bersalah dengan Yixing atas segalanya.
"K-kau.." pemuda dibawahnya menatap tidak percaya, Jongin memasang senyum simpulnya seperti biasa.
"Iya, aku mencintaimu."
.
.
.
Sehun selalu bersikap seperti ini. Dan pada akhirnya ia akan menekuk wajahnya sehari penuh. Sehun hanyalah dirinya sendiri yang meyakinkan kalau hidup itu tidak butuh orang lain selain Zitao dan dirinya sendiri. Keluarganya juga termasuk—pilihan yang paling terakhir. Sehun benci mengakui kalau Tao terlalu takut untuk mengumbar hubungan mereka kepada orang diluaran sana. Sehun ingin menjalani romansanya seperti orang normal, walaupun persepsinya berbeda. Namun Tao menolak dengan alasan... mereka berdua harus saling mengerti kalau dengan dirinya dan Tao bermesraan di infrastruktur umum atau sejenisnya, maka orang lain akan berkomentar.
Sehun ingin membeli persediaan makanan di supermarket karena melihat isi kulkas Zitao kosong. Dan hendak ia ajak namun perempuan itu menolak. Sehun benci berbelanja apalagi stok makanan. Ia muak melihat banyak produk dan terlalu pusing untuk memikir juga membandingkan mana yang lebih baik satu sama lain. Perempuan itu akan asal mengambil seperti 'yang penting keju' atau 'yang penting daging' juga 'yang penting buah' dan pulangnya Zitao akan mengomel kalau Sehun membeli buah yang dalamnya busuk dengan harga mahal. Semuanya jadi serba salah. Masa bodoh.
Dirinya berpikir, tinggal ikut apa susahnya. Dan Zitao malah menjitaknya setelah mengucapkan itu. Jadi serba salah untuk kedua kalinya.
Sehun merasa dirinya harus mulai banyak belajar untuk menimbang-nimbang dalam memilih sesuatu seperti memilih konsep iklan untuk stasiun televisi tempatnya bekerja. Dan dirinya tengah berdiri di depan freezer tempat daging disediakan. Zitao selalu berkata kalau dirinya jangan pernah percaya dengan orang-orang pemotong daging di supermarket yang asal bilang kalau daging itu bagus, padahal ternyata sudah tak layak masak lagi. Dan Sehun rugi banyak uang karena daging sapi mahal. Serba salah lagi. Perhitungan orang cina memang menyebalkan. Dasar pelit.
"Anda mau membeli daging sapi?"
Sehun menganggukkan kepalanya karena terlalu malas bicara, ia berpikir kalau ia harus memilih dengan melihat warna daging itu bagus atau tidak. Dan dirasa itu paling segar, Sehun langsung mengetuk-ngetuk kacanya. Dan butcher itu mengangguk. Ia bilang hanya akan membeli satu kilo untuk dimasak daging asap seperti kesukaan Zitao. Ya, dan Zitao yang memasak tanpa Sehun harus membantu. Ia lebih suka mengganggunya, menggodanya dengan mengolesi wajah wanita cina itu dengan bumbu barbeque atau memeluk sambil mencium-cium dari belakang. Jika sudah gemas dengan tingkah Sehun, Zitao sudah siap menyumpal mulut kotornya itu dengan apron.
Sehun menerima daging berbungkus rapi itu, ia masukkan dalam troli belanjaan dan melanjutkan acara memilih bumbunya disana. Perempuan itu tidak menyadari hal-hal paling kecil yang harusnya ia lihat dan merasa peka akan sekeliling. Seorang pria disisinya, yang tengah memilih saus di rak yang sama menatap aneh kearah Sehun. Dan Sehun tidak peduli akan itu.
"Kau.."
Sehun baru menoleh, merasa dirinya diajak bicara. Dan ia berpikir, entahlah bisa jadi. Tetapi pemuda itu seperti tengah melihat hantu saat mata lelaki itu mengarah ke dirinya. "Maaf?" Bagaimanapun Sehun merasa mengomeli orang yang tidak ia kenal hanya karena tatapan yang mengganggu itu kurang sopan. Mungkin memang cara menatapnya yang begitu. "Oh Sehun?"
"Huh?" Sehun jadi merasa telinganya kurang dibersihkan. Orang itu benar-benar menyebutkan namanya tadi? Benarkan?
"Kau, Oh Sehun?"
Sehun hanya mengangguk. Ya, ia memang Oh Sehun dari ribuan Oh Sehun yang mungkin ada di Korea Selatan. "Kau tahu namaku?"
Lelaki itu menggeleng cepat dan langsung meninggalkannya. Begitu saja. Sehun mengernyit, "Huh? Dasar aneh." Ia melanjutkan acara memilih sausnya.
.
.
.
Dan Jongin membatalkan acara memilih sausnya. Ia lebih memilih tempat lain sebagai pelarian daripada berlama-lama disana. Ia hanya takut jikalau ayahnya tahu perihal pertemuan tidak sengajanya dengan Oh Sehun, akan membuat petaka. Apalagi kalau tiba-tiba, misalnya keluarga masing-masing pihak bertemu dan ia maupun Sehun merasa saling mengenal maka semuanya akan semakin mudah. Dan Jongin benci dengan ini semua. Ia hanya akan mengulur waktu walaupun dirinya ingin sekali membatalkannya. Kalau ayahnya tidak mengancam-ancam tentang aset kepemilikkannya, Jongin juga takkan mau menuruti kemauan si tua bangka itu. Demi Tuhan, Jongin sangat benci dengan yang namanya wanita.
Jongin merutuk menyebuti nama Zhang Yixing karena lelaki itu yang merengek ingin dibuatkan pasta untuk makan malam diapartemennya nanti. Dan ia ingin menyalahi takdir yang membuat pertemuan pertamanya dengan Sehun hari ini. Walaupun Jongin agaknya ragu, secara disisi lain ia tidak benar-benar memahami wajah seorang Oh Sehun difoto. Dan Oh Sehun tidak hanya ada satu orang di Korea. Bisa saja itu digunakan laki-laki maupun berbalik jenis seperti yang dijodohkan dengannya yaitu perempuan. Tetap saja ia benci dengan perempuan. Sial sekali.
.
.
.
"Sausnya tidak enak!" Yixing merengut dengan gerakan sendok-garpu ditangannya yang terhenti secara tiba-tiba. Jongin mendongak, "Maaf hyung, kau tahu kan kalau aku tidak ahli tentang memilih bahan makanan seperti ini."
Yixing hanya diam, ia melanjutkan acara makannya tanpa banyak bicara lagi. Dirinya terlalu lelah dengan pekerjaan yang menumpuk dari ayah Jongin hari ini. Jongin menyadari Yixing yang sedang tidak enak hati, jadinya ia hanya diam sambil sesekali melirik untuk memastikan kalau Yixing baik-baik saja.
Ya baik-baik saja. Tidak sampai ponsel disaku celana Jongin itu bergetar, menandakan kalau ada panggilan masuk yang berusaha Jongin abaikan. Yixing menubrukkan dua alisnya, "Kenapa tidak diangkat Jongin?"
Jongin menengadah dengan pipi menggembung, ia berusaha mengunyah makanan disini. Yixing mengulang pertanyaannya dan Jongin memperlambat jawabannya hanya karena proses menelan hasil kunyahannya itu terlalu lama. Ia bahkan hampir tersedak. Telponnya masih bergetar, Yixing menegurnya lagi namun sebelah tangan Jongin terangkat untuk menstop ucapan Yixing supaya membiarkannya agar setidaknya minum terlebih dahulu. "Jongin! Angkat telponnya!"
Jongin mendengus tanpa banyak bicara, ia langsung mengangkat tanpa melihat nama yang muncul.
"Yeoboseyo?"
"Jongin..."
"Ayah?" Jongin merasakan kerongkongannya yang kering mendadak. Seperti ia belum minum air berhari-hari dan itu layaknya firasat seperti biasa-biasanya kalau sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang tidak enak, dan sangat buruk.
"Kau bersiap satu jam lagi, datang ke restoran tempat langganan kolegaku, kau tahu kan?"
"Iya?" Jongin tidak sadar kalau pertanyaannya itu membuat ayahnya merasa lega. Berarti Jongin mau.
"Aku tunggu."
Ayahnya langsung memutus panggilan, membuat Jongin gemas sendiri. "Ish. Apa maksudnya itu?"
"Kenapa?" Yixing bertanya dengan santai, ia terlalu tidak peka hanya untuk menyadari raut wajah Jongin. "Ayahku menyuruh untuk bersiap dan tiba satu jam lagi direstoran tempat koleganya biasa makan disana."
Yixing mengangguk, mungkin ingin mengajak anak untuk makan malam memperdekat hubungan antara mereka dengan orang tua. Dan itu baik, pikir Yixing sendiri. "Yasudah sana bersiap."
Jongin mengusap wajahnya agak kasar, lelah dengan pemikiran lambat Yixing. "Hyung, aku baru selesai makan dan aku sudah kenyang."
Yixing hendak membuka mulutnya, namun ia atupkan merasa kalau yang Jongin katakan itu benar. Namun pemikiran lain datang, "Mungkin Kim sajangnim punya suatu hal penting untuk dibicarakan denganmu Jongin."
Jongin ikut berpikir sebentar, namun akhirnya ia mengangguk. Ia merasa harus menuruti saja apa mau ayahnya itu, daripada si tua itu murka dan kesenangannya akan direnggut begitu saja. Jongin tidak mau. Pemuda itu lari dengan terburu, mengambil setelan yang sekiranya pantas untuk ke restoran itu dan langsung datang ke meja makan lagi demi mengucapkan salam pada Yixing. "Aku berangkat hyung." Anak itu mengecup singkat puncak kepala yang lebih tua, dan langsung melangkah panjang-panjang menuju pintu keluar. Dirinya sadar kalau jarak apartemen dengan tempat itu tidaklah sedikit. Yixing tersenyum, semburat samar muncul dikedua pipinya.
Ia rasa dirinya mencintai Jongin.
.
.
.
Sehun menggerutu sepanjang perjalanannya dalam mobil. Ayah dan ibunya adalah pengkhianat terbesar di muka bumi ini menurut Sehun. Kedua kakaknya yang menyebalkan itu juga tidak pernah berhenti mengolok-oloknya dengan 'bagaimana kalau yang akan kau nikahi itu adalah perjaka tua' dan sejenisnya. Sehun jadi kesal karena ibunya hanya menegur halus dua kakaknya yang kekanakan itu. Sungguh menyebalkan. Dirinya juga merasa ingin mematahkan tiap-tiap tumpuan heels yang dipakai ibu dan dua saudarinya saat masuk kedalam restoran.
Sehun sudah tidak sempat mengagung-agungkan betapa bagusnya restoran ini dalam hati karena kabut dalam pikirannya membuat keruh segalanya. Benak Sehun dan hati Sehun sendiri. Berkali-kali Sehun kirimkan pesan pada Zitao, mengucapkan segala ketakutannya pada perempuan tersayangnya itu. Dan Zitao membalasnya dengan kata-kata yang membuat dirinya terenyuh dan melipat gandakan rasa cintanya, dan 'kau akan baik-baik saja' diakhir kalimat. Sehun merasa 'sedikit' tenang, walaupun rasa takut dan marah yang bercampur aduk itu mengalahkannya. Namun Sehun merasa masih mempunyai semangat yang harus ia pertahankan.
Sehun berkali-kali ijin untuk ke toilet dan ibunya yang biadap itu malah menginjak kaki cantiknya dengan ujung heels yang sungguh menyakitkan dibawah meja. Calon ayah mertuanya itu duduk berseberangan dengan mereka, mengobrol dengan kedua orang tua dan saudari-saudarinya itu membuat dirinya merasa diabaikan saja.
Wanita itu sendiri sibuk memijat sedikit belakang kepalanya yang agak sakit karena rambutnya ditata paksa oleh Baekhyun, juga baju bagus berbahan gatal yang memuakkan pilihan Kyungsoo membuatnya merasa lebih buruk lagi. Semuanya membuat Sehun risih, dirinya merasa tidak nyaman dengan penampilannya sendiri. Entah kenapa, Sehun merasa terbebani dengan gaya yang ia pakai, bagaimanapun... sebenci apapun dengan keadaan, Sehun tetaplah perempuan yang mementingkan penampilan juga. Kecuali jika bersama Zitao.
Tawaan ramai antar dua keluarga itu terhenti, saat seorang pemuda asing berdiri diantaranya. "Maaf, aku terlambat." Lelaki itu membungkuk sopan. Dan membuat Sehun mengumpat dalam hati.
Sial!
.
.
.
To Be Continued—
.
.
.
Or End?
.
.
Sebenernya ini ngetik sedikit ngadet karena niatan selalu ada tapi mood dan ngantuk yang ga memadai, ngantuk berat gatau kenapa. Mungkin efek bintitan banyak ngetik rated m, *eh. Duh, eonni rasanya mager banget. Sorry for late update. Langsung aja.
Thanks To:
[anniewez] [OdultManiac] [miszhanty05] [doremifa] [KeepbeefChickenChubu] [levy95] [Guest1] [LuHanBin] [3nd4h] [utikardiantiii] [whirlwindz27] [librapw5] [bellasung21] [Flowerinyou] [NagisaKitagawa] [darkestlake] [gaemxian137] [melizwufan] [ArcansGirl] [HilmaExotics] [OhLuYan] [Eclaire Oh] [CutRabiul] [yeojanya ohsehun] [BaixianGurls] [izzsweetcity] [jasminejas] [thedolphinduck] [daddykaimommysehun] [Guest2] [dyahclloelfblue] [syakilashine] [Guest3] [sayonara] [afranabilacantik] [mashuang] [SehunGotik] [Kaihun dan Krisho exoL] [elferani] [Xiao yueliang] [HyuieYunnie] [donyblerry] [hyejinpark] [GHanChan] [ZeeKai] [Kaichahun]
Wanna give me some reviews again?
