THE STONE SMILE
Present by Loveless Sevensins
Characters © Masashi Kishimoto
Chapter 3: the discovering
Gelap... gelap sekali...
Dimana mereka? Aku takut sekali...
Diluar hujan turun dengan deras. Petir tak malu menunjukkan diri.
Udara dingin memaksaku kembali kedalam selimut, mengurungkan niatku untuk ketempat mereka. Kutahan rasa takutku saat petir kembali menyambar.
"KYAAAAAAAAAAAAAAA...!"
Jeritan keras yang membuat mataku terbelalak kaget.
Spontan, aku turun dari kasurku dan berlari ke arah sumber suara.
Tak lagi kuhiraukan petir dan lantai marmer yang dingin menusuk telapak kakiku.
Perasaanku tak enak. Kuharap di sana mereka sudah siap untuk mengejutkanku dengan teriakan 'kena kau!' atau 'kau tertipu bocah!'.
Tapi, kenyataan berkata lain. Saat sampai di tempat itu... yang mengejutkanku bukanlah sebuah keisengan melainkan pemandangan yang bahkan tak pernah muncul dalam mimpi terburukku sekalipun.
Dan hal terakhir yang kulihat adalah warna merah...
DEG!
Mataku terbuka tiba-tiba, kaget. Nafasku memburu. Keringatku bercucuran.
Terdiam sejenak, aku bangkit dari posisiku untuk duduk.
Mimpi.
Sekilas terbersit kelegaan bahwa itu hanyalah mimpi. Kelegaan yang dengan cepatnya sirna dan terganti oleh perasaan yang bahkan sulit untuk kujelaskan.
Andai semua itu hanyalah mimpi. Setidaknya aku dapat berdoa agar mimpi itu tak menjadi kenyataan.
"konyol..."
Gumamku tersenyum pahit sambil memijat kepalaku yang mulai terasa sakit.
Kulirik sekilas jam waker di meja kecil di samping kasur. 3:40 a.m.
Sempurna.
Waktu yang tepat untuk bangun dan sadar bahwa aku hanya sendirian diatas kasur king size itu.
Ya, sendirian. Lagi-lagi Sasuke tidak pulang kerumah. Dan lagi-lagi tak mengabariku hingga aku tertidur karena lelah menunggu. Jam berapa ya kira-kira saat aku tertidur? Sekitar jam 11? Atau jam 12?
Perlahan kuletakkan tanganku dan meraba tempat di sampingku. Tempat yang seharusnya terisi oleh tubuh seseorang yang masih tertidur sambil merangkulku dalam dekapannya.
Di luar hujan turun dengan deras serta petir yang sesekali menyambar.
Sendirian di kasur yang berukuran king size menambahkan hawa dingin yang bahkan tak dapat dibendung oleh selimut.
Suasana gelap dan sunyi mencekam diselingi oleh petir dan kilat yang mengagetkan membuatku seakan bernostalgia ke dalam mimpiku. Kembali kesaat itu. Kuambil nafas berat dan menghembuskannya kembali, memeluk tubuhku sendiri mencoba menghentikan getaran tubuh yang tak terkendali.
'sepertinya aku takkan bisa tidur lagi...'
XxXxX
1:32 p.m.
Kututup buku yang sedang kubaca.
Teringat akan janji Sakura tadi pagi kalau dia akan datang mengunjungiku sekitar pukul 2.
'hmm... mungkin sebaiknya aku mandi dulu...' pikirku seraya bangkit dari dudukku untuk kekamar mandi.
Masuk ke dalam bath-tub yang sudah disiapkan oleh Iruka-san, aku tersenyum membayangkan apa saja yang akan aku dan Sakura lakukan dan bicarakan saat dia datang nanti.
Jujur, aku rindu padanya. Dia wanita yang baik serta ceria. Mudah bergaul dan cerdas. Serta kecantikan dan keeleganannya yang memancarkan kedewasaan membuatku iri.
Andai aku terlahir menjadi dirinya, hidupku pasti sangat menakjubkan.
Menghela nafas panjang.
Tersadar dari lamunanku, tak terasa ternyata sudah cukup lama aku berendam hingga air yang tadinya hangat mulai terasa dingin. Kuputuskan untuk mengakhiri acara mandiku seraya bangkit berdiri keluar dari bath-tub hingga rasa sakit tak terkira menyerang kepalaku.
Kuremas kuat rambutku, kutekan kulit kepalaku sekuat mungkin berharap sakitnya akan pergi. Namun rasa sakit itu tak kunjung hilang hingga pandanganku kabur dan kegelapan menyelimuti.
Hal pertama yang kulihat saat kubuka mataku adalah langit-langit kamar yang berwarna biru cerah, kamarku dan Sasuke. Saat kualihkan pandanganku, kulihat wajah cemas Sakura dan Iruka-san.
'apa yang terjadi?'
"Naruto? Apa yang terjadi?" ujar sakura menyuarakan pertanyaanku. "kau tadi pingsan di kamar mandi! Untung saja kami menemukanmu!"
"...mungkin anemiaku kambuh...?" kataku tak yakin.
"ya ampun! Bagaimana sih kau ini! Jaga kesehatanmu donk! Jangan ceroboh! Lihat dirimu! Kau bahkan jauh lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu!"
"...maaf..."
Hanya itu yang terucap olehku, perlahan saat melihat kekhawatiran Sakura. Kulirik Iruka-san yang hanya tersenyum dan mohon diri.
"ck, daripada itu, mana Sasuke? Apa dia tak mengurusimu dengan baik? Kok kau bisa sampai sekurus ini sih?"
"..."
"...Naruto?"
"ya...?"
"ada apa? Apa ada masalah?"
Sempat ragu tapi akhirnya kuputuskan untuk mengatakannya pada Sakura.
"Sasuke...dia sudah beberapa hari tidak pulang kerumah... dia bahkan tak mengabariku..."
Mata emerald Sakura membulat lebar, bibir mungil merah mudanya sedikit terbuka. Suaranya bergetar,"a-apa...? mu-mungkinkah_..."
Menyerngit, kutatap Sakura. Bingung. "ada apa? Apa kau tau sesuatu Sakura?"
"..."
Sakura membuka mulutnya kemudian menutupnya kembali. Seakan enggan dan ragu. Membuatku semakin penasaran akan apa yang ingin dia katakan.
"katakanlah... kumohon," pintaku.
"Sasuke... mungkin dia... kembali kepada Ino..."
"eh?"
"Yamanaka Ino, mantan pacar Sasuke saat sma. Mereka berpacaran sejak SMP, tapi berpisah saat Ino memutuskan untuk kuliah ke NY. Dan saat acara reuni kemarin dia kembali ke Jepang..."
Mataku terbelalak. Nafasku tercekat.
Yamanaka Ino... mu-mungkinkah dia wanita yang waktu itu? Wanita yang ditatap lekat oleh Sasuke di pesta reuni itu? Wanita cantik itu? Mantan pacar? Mereka pacaran sejak SMP?
"...begitu..."
jawabku tak tau harus berkata apa. Lidahku terasa kelu.
"ta-tapi mungkin saja tidak begitu Naruto! Mereka sudah lama tidak bertemu. Jadi pasti mereka sudah melupakan satu sama lain dan punya kehidupan baru. Itu semua hanya cinta monyet remaja saja!"
Aku tersenyum getir.
Tidak. Tidak Sakura. Itu bukan sekedar cinta monyet belaka. Aku sangat yakin kalau mereka benar-benar saling mencintai dan masih belum melupakan segalanya saat kuingat tatapan mereka saat itu.
Tatapan terkejut dan penuh rindu itu. Namun walau pun begitu, aku tak berani mengatakannya pada siapa pun. Begitu pula pada wanita yang menatapku cemas saat ini.
Tak seorang pun.
"maaf Sakura, tapi bisakah kau pulang saja hari ini?"
"eh? Ta-tapi_"
"maaf tapi aku lelah sekali... aku ingin istirahat..."
Sakura tampak ragu. Mungkin dia khawatir padaku.
Aku senang, tapi saat ini aku benar-benar ingin sendiri. Aku merasa sangat lelah. Kepalaku terasa pusing dan perutku mual. Terlebih lagi, baru kusadari bahwa matahari sudah lama tenggelam.
"baiklah kalau begitu... tapi berjanjilah padaku. Jangan melakukan hal bodoh."
"umm..."
Jawabku lemah seraya merebahkan diri saat Sakura pergi meniggalkanku sendirian.
Mataku menerawang memandang langit-langit kamar.
'Putus saat SMA ya...' pikirku.
Berarti saat itu mereka berumur 17 atau 18?
Mataku terbelalak. Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu dan mencoba mengkalkulasikan ingatanku dari umur Sasuke saat itu dan waktu pertama kali kami bertemu. 18 dan 16.
Kuremas kain baju di bagian dadaku. Tak bergerak dari posisiku semula. Masih tetap berbaring.
Kepalaku pusing. Dunia serasa berputar.
Badanku terasa dingin, kepalaku panas. Nafasku sengal. Keringat bercucuran. Tenggorokanku sakit. Badanku terasa nyeri, terutama tulang-tulangku.
Kusentuh dahiku. Panas.
'sejak kapan aku demam?'
Kutepis pertanyaan bodoh itu. Untuk apa lagi kupertanyakan hal seperti itu? Jika ada hal yang layak dipertanyakan, itu adalah 'sejak kapan aku sehat?'
Menghela nafas, kuselipkan helaian rambutku di jari-jariku, kurentangkan tangan dan mengarahkannya menutupi pandanganku yang sedari tadi menatapi langit-langit kamar.
Rambut pirang yang kupanjangkan sejak setahun kami mulai berpacaran.
Selama dua tahun rambut ini kupanjangkan hingga sekarang sudah mencapai pinggulku.
Tak sekalipun aku berniat untuk memotongnya walau tau itu tidak normal, mengingat bahwa aku adalah laki-laki.
Ya, semuanya karena kau pernah mengatakan bahwa kau menyukai rambut pirangku.
Saat itu, kulakukan apapun yang dapat membuatmu senang. Karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Kau sangat special untukku.
Kupikir begitu juga denganmu, tapi...
'apa aku hanya penggantinya Sasuke...?'
Tanpa kusadari, bulir-bulir airmata yang hangat mulai mengalir menelusuri sisi-sisi wajahku.
Memejamkan mata, kuturunkan tanganku dan meletakkannya di atas perutku. Mengusap perutku yang terasa sakit lagi.
Entah kenapa belakangan ini kondisiku semakin memburuk.
Mulai dari tubuhku yang semakin cepat merasa lelah, nafsu makanku yang berkurang, kepala, tenggorokan dan perutku yang sering sakit, berat badanku menurun drastis, bahkan wajahku pun semakin pucat setiap harinya.
'apa karena aku jarang tidur akhir-akhir ini?'
Masih mengusap perutku, kurasakan sesuatu di bawah rusuk kiriku.
Penasaran, aku bangkit untuk memastikan. Sebuah tonjolan seperti lebam atau lebih tepatnya seperti membengkak.
"kenapa ini?" gumamku bingung.
Tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir dari hidungku. Refleks, kuseka bawah hidungku.
Merah.
Di ruangan gelap yang hanya diterangi sinar bulan purnama yang menyala terang seolah menertawakanku. Terlihat jelas darah segar yang terus mengalir dari hidungku dan membasahi lengan bajuku dengan warna merah yang membawa mimpi burukku.
XxXxX
Di bawah sinar bulan purnama yang indah, seakan tak nyata bagai mimpi. Hal yang selama ini kupikir takkan terjadi. Hal yang kupikir sudah terlambat dan akan kusesali seumur hidup.
Akhirnya kudapatkan lagi dirinya. Takkan kulepaskan lagi. Kupeluk erat tubuhnya. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Menghirup aroma yang selalu kurindukan. Kurapalkan namanya berulangkali bagai mantra untuk meyakinkanku bahwa semua ini adalah nyata.
'aku takkan mengulangi kesalahan yang sama'
Pikirku tanpa tau apa yang telah menanti di depan.
Hembusan angin malam menggelitik telinga seakan menertawakanku.
Andai penyesalan tak datang belakangan...
p.s:
yap! Si dia itu yamanaka Ino! walau pun udah banyak yang nyadar sejak chapter pertama sih... (ketahuan IQ jongkok) TT^TT
And perbedaan umur Sasuke dan Naruto di sini adalah 2 tahun. So,
Now:
Sasuke: 21
Naruto: 19
First encounter a.k.a pertemuan pertama:
Sasuke: 18
Naruto: 16
Reples Session:
namikaze-toki
Iya kasian banget naruto ^^;
hahaha bagus deh kalau suka *kicked*
yes i'll do my best!
Ashahi Kagari-kun
Ampun mas! Jangan anarki donk! *Digerek pake samurai*
Yapz ini udah update sorry telat *sujud*
males login
kya aku juga males! Makanya aku memperbolehan review unlogin disini :P
udah update! ;)
diitactorlove
Aloha juga dii!
Thanks buat riview and supportnya!
Sorry nih update lama *sweatdrop*
ChaaChulie247
LOL iya nih emang aku IQ jongkok! (gak tau malu lagi)
Hahaha masalah naru hamil apa nggak... kita liat nanti aja ya *winks*
I don't care about Taz
Hallo Taz! Salam kenal jugaaa...
thanks udah suka ama cerita ini dan ama aku *huek! Narsis terus bang!*
sasunaru4ever
Wah gawat donk klu naru ampe di culik! *sweatdrop plus gelagapan gaje*
Thanks udah riview!
devil eye's
WOW O_O
Aku baru aja di kecam ama namikaze lovers!
Kyaaa tatut *dibantai berjama'ah*
Vii no Kitsune
Bingo! Selamat anda benar sekali!
Itu typo pertamaku lho! Horee! Banzai!
All hail to me! *di bekep pake kaus kaki jamuran*
Kenapa mesti itakyuu? Ya so pasti karna aku suka donk! BWEEE! *digampar readers pake teflon*
Other pairing? Tau ah gelap! *digotong buat tahlilan*
LiaUzuPot
Kyaaaa! Aku bukan senpai! *mencak2 gaje*
Yosh as you wish! :P
Rose
LOL sabar ya?
Maklum orang malas emang gini!
Usahain update asap ^^;
ttixz bebe
Partner in crime! LOL
Aku sebenarnya sih gak terlalu suka but cerita yang narunya tersiksa tu lebih greget gimana gtu *diinjak2 sekampung*
chea 'sansanurui
Halo juga! Panggil aja sins! *winks*
yah belum nangis ya? *ditusuk pake garpu*
Hehehe sabar ya adek manis? Dibunuh rame2*
P.p.s:
Sorry nih urutan balesan riview nya terbalik!
Maklumlah namanya aja copas alias copy-paste! *direbus buat lauk doggy*
