Creating Love (Again?!)

Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye

Main Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Support Cast:

Choi Siwon

Genre: Romance, Drama, Family

Warning: Genderswitch! typo(s), abal, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ THEN!

LIKE? ENJOY READING^^

.

.

.

"Joongie-ya, maaf kami tidak bisa menungguimu lebih lama lagi. Kami masih ada jadwal. Tapi kau tenang saja, Daesung hyung sudah memberi Yunho izin kali ini untuk tidak ikut. Sebentar lagi dia akan kesini. Oh ya, Junsu juga titip pamit, dia masih ada kuliah siang ini. Yah, kupikir itu saja, kau istirahatlah dulu. Annyeong."

Terdengar suara langkah menjauh dan kemudian suara pintu tertutup. Jaejoong menghela nafas lega di balik selimut. Dia segera bangun dan mencerna kata-kata tadi. Perlahan senyum mengembang sempurna di wajahnya. Yes!

.

.

CHAPTER 3

.

.

Yunho melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Jalanan cukup sepi membuat Yunho semakin lama semakin menambah kecepatan mobilnya. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang meninggalkan Jaejoong di rumah sakit. Sendirian pula. Tapi yah, semoga itu hanya perasaanya saja.

Kimi wa doko ni ite? Dare to doko ni ite? Donna fuku o kite? Nani shite waratterun darou? Boku wa kokoni ite.. Ima mo koko ni ite.. Kimi to futari de mata aeru to shinjiteiru yo~

Lagu Stand by You milik DBSK melantun. Yunho melirik sebuah tas putih di jok samping. Tas Jaejoong yang selamat dari kecelakaan tadi. Seorang suster yang memberikannya padanya sebelum dia pergi. Yunho merogoh tas itu dan mengambil ponsel yang tengah berkelap-kelip.

"Yeoboseyo?" Yunho mengangkat telepon yang masuk itu.

"Yeoboseyo, sajang-eh? Sajangnim?"

"Sajangnim?" Yunho menautkan alisnya bingung. Dia melihat caller id di layar. Seohyun. Ah! kalau tidak salah itu nama sekretaris Jaejoong. Yunho merutuki dirinya sendiri. "Oh, Jaejoong sedang ada urusan. Ada apa?"

"Tuan Shin sudah datang. Dia bilang dia sedang terburu-buru. Bisakah Kim sajangnim kesini sekarang?"

"Ne?" Yunho buru-buru memutar otak. "Mian Seohyun-ssi, Jaejoong benar-benar ada urusan penting sekarang. Bagaimana kalau diganti lain hari saja? Dan tolong sampaikan maaf pada Tuan Shin itu, Jaejoong benar-benar tidak bisa pergi sekarang."

Hening sejenak. Sepertinya di seberang telepon Seohyun sedang berpikir.

"Ngg.. baiklah. Saya akan mencoba merundingkannya."

"Gamsahamnida."

"Eh, maaf.. tapi kalau boleh tahu ini dengan siapa?"

"Ne? Ah, ini saudara sepupunya," jawab Yunho asal.

"Ohh.. ye, algesseumnida. Maaf mengganggu."

Yunho menghembuskan nafas lega. Bagaimana bisa Jaejoong bekerja dengan keadaan seperti ini? Aish, yeoja itu benar-benar merepotkan.

Yunho memarkirkan mobilnya di basement parkir rumah sakit. Dia meraih tas berisi pakaian Jaejoong dan bergegas memasuki rumah sakit dengan terburu-buru hingga membuatnya menabrak seorang suster.

"Ah, choesonghamnida!"

"Gwenchana."

"Mari saya bantu," Yunho memegang lengan suster itu dan hendak membantunya berdiri ketika tiba-tiba suster itu mendongak. Mata Yunho langsung melebar sementara suster itu ikut membelalakkan mata dan mendekap mulutnya.

"Jaejoong?!"

Suster itu menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Dia melepaskan pegangan Yunho dan segera berlari keluar sebelum Yunho sempat mencegahnya.

"Ya! Tunggu!"

Yunho berlari menyusulnya keluar rumah sakit. Yeoja itu tidak menghiraukannya dan terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang dengan wajah ketakutan. Yunho yang melihatnya langsung miris.

Apa-apaan ini? Dia bahkan takut melihat suaminya sendiri?

"Ya! Jaejoong!"

Mereka terus berlarian di sepanjang jalan hingga akhirnya sampai di daerah pertokoan, melewati bergerombol siswi sekolah yang tengah berjalan sambil berceloteh ria. Mereka langsung histeris begitu melihat Yunho.

"Kyaaa~ Yunho Cassie!"

"Omo! Tampannya!"

"Oppa!"

Mereka semua berlarian mengejar Yunho. Begitu pula dengan yeoja-yeoja lain yang berada di sekitar tempat itu. Yunho menoleh ke belakang dan terperanjat mendapati pengikutnya yang sudah bejibun. Bisa dipastikan sekarang dia tidak menggunakan penyamaran apapun. Paboya!

Yunho berusaha untuk tidak menghiraukannya dan kembali fokus pada sosok Jaejoong yang kini sudah jauh di depannya. Aigo, gadis itu sedang sakit kenapa larinya bisa cepat sekali?

"Yunho oppa!"

"Kyaaa! Itu Yunho!"

Pengikut Yunho semakin bertambah seiring dengan langkah yang diambilnya. Mereka mengejar Yunho dengan penuh semangat, membuat Yunho bergidik ngeri tiap menoleh ke belakang.

"Ya! Mau kemana kau?!" seru Yunho begitu melihat Jaejoong sudah berada di seberang jalan. Jaejoong hanya tersenyum sinis dan memeletkan lidahnya lalu kembali meneruskan larinya.

"Kau!" Yunho benar-benar merasa kesal sekarang. Dia hendak menyusul ke seberang tapi urung begitu lampu lalu lintas berubah warna dari merah menjadi hijau dan mobil-mobil mulai berlalu lalang di depannya.

"Aish, jinja!" Yunho menghentakkan kakinya keras. Dan sedetik kemudian dia hanya bisa pasrah ketika para pengikut-pengikut di belakang mulai mengerubunginya.

.

..GJ..

.

"Hosh.. hosh.."

Nafas Jaejoong terengah-engah sementara keringat mulai membanjiri pelipisnya. Dia menoleh ke belakang dan sedikit lega karena sosok namja yang tadi mengejarnya sama sekali tak terlihat.

"Haish, dasar namja gila!" umpatnya.

Jaejoong menghentikan larinya dan bersandar pada dinding salah satu toko sembari mengatur nafasnya yang masih memburu. Sial sekali, dia kira dengan memakai seragam suster yang dia ambil di ruang ganti suster bisa membuatnya kabur dengan mudah, tapi ternyata namja itu dapat mengenalinya. Aish..

Jaejoong menyisir rambut panjangnya yang berantakan dengan jari, menarik nafas dalam-dalam, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Dia harus cepat-cepat pulang ke rumah sebelum bertemu namja yang mengaku-ngaku sebagai Yunho itu lagi.

"Haah.. hah.. mau kemana kau?"

Sebuah tangan mendarat di bahu Jaejoong membuat gadis itu kaget dan menoleh. Panjang umur, namja itu kini tepat berada di belakangnya sambil menatapnya penuh kemenangan. Huwaa, sejak kapan dia ada disini?!

Dengan sigap Jaejoong menyingkirkan tangan namja itu dan langsung berlari secepat mungkin.

"Aish, ya!"

Jaejoong mengabaikan seruan namja itu dan tetap berlari meskipun dadanya sudah terasa sesak. Jaejoong menyempatkan diri menoleh ke belakang. Namja itu jauh di belakangnya dan hampir tidak terlihat, namun bukan tidak mungkin dia berhasil menangkapnya nanti.

BRUKK!

Jaejoong merasakan tubuhnya menabrak sesuatu dan detik berikutnya dia sudah terjatuh dengan posisi terjerembab. Aish, ini pasti gara-gara tadi terlalu sibuk melihat ke belakang. Tapi tunggu, kenapa dia tidak merasa apa-apa ya?

"Gwenchanayo, agasshi?"

Jaejoong membuka matanya dan terkejut mendapati seorang namja tampan berada persis di depan wajahnya alias tertindih tubuhnya. Jaejoong yang segera sadar buru-buru bangkit dan berkali-kali membungkuk minta maaf.

"Choesonghamnida, choesonghamnida."

"Gwenchana," namja itu ikut berdiri sembari tersenyum. Dia meraih kacamata hitamnya yang terjatuh ke tanah dan memakainya lalu mengambil sebuah kantong plastik yang sepertinya juga ikut terjatuh.

Jaejoong hanya cengo, terpesona dengan senyuman namja itu. Aigo~ tampan sekali.. Tapi dengan cepat Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. Omo, mikir apa dia disaat-saat genting seperti ini? Eh? Genting?

Jaejoong menoleh ke belakang. Namja yang mengejarnya kini tengah berlari bingung sambil celingak-celinguk di antara kumpulan pejalan kaki, sementara di belakangnya berlarian segerombolan yeoja yang berteriak histeris.

"Aish, ottoke?"

.

..GJ..

.

"Ne, ne, sebentar lagi aku pulang, dasar cerewet. Dan tolong bilang pada Changmin tidak usah meneror nomorku atau aku serius tidak akan membelikan bakpaonya, arraseo?"

Siwon menutup flap ponselnya dengan gusar. Member-membernya memang sangat cerewet jika melihat dirinya bepergian karena pasti ada saja yang akan dititipkan mereka. Huh.. padahal niatnya keluar dorm hari ini hanya untuk berjalan-jalan sore tapi ujung-ujungnya malah belanja seperti ini. Aish, jinja! Lain kali dia harus belajar dari pengalaman untuk keluar dorm secara diam-diam.

BRUKK!

Siwon merintih tertahan ketika tiba-tiba sesosok yeoja jatuh menimpanya. Apa lagi sekarang?

"Gwenchanayo, agasshi?" dia mencoba bersuara. Yeoja itu membuka matanya dan membelalak terkejut. Saat itu juga Siwon tersadar bahwa kacamatanya terlepas karena dia bisa melihat jelas wajah yeoja itu. Dia langsung merutuki dirinya sendiri. Apa yeoja ini mengenalinya?

Tak lama yeoja itu bangkit dan membungkuk berulang kali.

"Choesonghamnida, choesonghamnida."

"Gwenchana," Siwon berusaha berdiri sambil memamerkan senyum termanisnya. Dia segera meraih kacamata hitamnya yang tergelatak di tanah dan memakainya. Tak lupa setelah itu mengambil kantong belanjaan berisi titipan member lain yang terletak tak jauh dari tempat kacamatanya tadi.

Siwon mengamati yeoja di depannya itu. Cantik, itu kesan pertama. Dan juga-aigoo.. wajahnya polos sekali. Kyeopta! Tunggu, apa dia seorang perawat? Terlihat dari pakaian serba putih yang dikenakannya. Tapi, ada apa perawat berkeliaran disini?

Belum sempat Siwon berpikir lebih jauh, yeoja itu berdesis pelan.

"Aish, ottoke?"

Dan detik berikutnya Siwon hanya bisa terperangah bingung ketika yeoja itu dengan secepat kilat sudah berada dibalik punggungnya sambil mencengkram erat hoodie-nya.

"Sembunyikan aku, jebal!"

"Ne?" Siwon menoleh ke belakang, agak mengernyit. Yeoja itu menundukkan kepalanya, sementara cengkramannya makin kuat. Sembunyi? Sembunyi dari apa? Pikirnya bingung. Seolah bisa membaca pikiran Siwon, yeoja itu mendongak. Terlihat raut ketakutan di wajahnya.

"Ada orang gila yang sedang mengejarku! Jebal, tolong aku!"

Yeoja itu kembali menunduk dan semakin merapat ke punggung Siwon. Bisa Siwon rasakan kini tubuh yeoja itu sedikit bergetar. Aigo, apa dia benar ketakutan?

Siwon kembali menghadap ke depan, dan tak lama bagi matanya untuk menemukan siapa yang dimaksud yeoja itu. Tapi tunggu, Siwon menajamkan penglihatannya. Bukankah itu Yunho? Lho, kok?

"Ya~ bukankah it-"

"Jangan bergerak! Kau membuatku terlihat!" yeoja itu memotongnya dan membalikkan kembali tubuh Siwon yang tadi hendak berbalik. Siwon mendesah. Sebenarnya ada apa ini? Tapi, yah.. kalau yeoja ini benar-benar sedang dikejar dan tidak ingin terlihat..

Tanpa pikir panjang Siwon membalikkan tubuhnya dan dengan cepat langsung mendekap yeoja itu, membenamkan kepalanya dalam-dalam ke dada bidang miliknya. Yeoja itu sedikit terperanjat, tapi tetap diam tak bergerak. Mungkin dia sadar posisinya saat ini memang menguntungkan baginya karena tubuhnya benar-benar tersembunyi rapi, meskipun tetap saja dari luar mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah berpelukan erat.

Siwon terpaku. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup kencang. Apa-apaan ini? Tidak mungkin!

.

..GJ..

.

Aish, kemana anak itu?!

Yunho mengatur nafasnya. Dadanya benar-benar sudah sesak sekarang. Tapi dia tidak bisa berhenti berlari. Tidak, sementara di belakangnya gerombolan yeoja-yeoja yang jumlahnya makin membludak masih berteriak histeris dan mengejar-ngejarnya. Beruntung tadi dia bisa melepaskan diri, tapi sekarang? Aish, jangan harap! Mendengar derap langkah mereka saja sudah membuat gempa lokal.

"Taksi!"

Yunho langsung menghentikan sebuah taksi yang lewat. Taksi itu berhenti membuat Yunho menghela nafas lega. Dia segera masuk dan menutup pintu. Bertepatan dengan pengikut-pengikutnya yang berhasil mengejarnya dan secara berjamaah langsung menggedor-gedor kaca pintu taksi.

"Jalan pak!"

Taksi mulai melaju, meninggalkan gerombolan yeoja di belakangnya yang hanya bisa mendesah kecewa.

"Haahh.." Yunho menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya. Akhirnya dia bisa bernafas lagi. Dia menyenderkan kepalanya ke sandaran jok dan meluruskan kedua kakinya. Sebisa mungkin merilekskan dirinya.

Sang supir yang melihat itu hanya tersenyum maklum.

"Mau kemana, tuan?"

"Eh?" Yunho yang sudah berniat untuk santai mau tak mau kembali memutar otaknya. Dia hampir lupa kalau dia sedang mengejar Jaejoong. Yunho merutuki dirinya sendiri. Kemana kira-kira anak itu akan pergi?

Yunho lalu menyebutkan alamat rumah sakit. Akan lebih enak jika dia mengambil mobilnya dulu. Yah, bagaimanapun juga tidak mungkin membawa paksa Jaejoong yang masih dalam keadaan seperti itu menggunakan taksi kan?

.

..GJ..

.

"Gamsahamnida sudah mengantarku," yeoja itu membungkukkan badannya.

Siwon hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya. "Tidak masalah," ujarnya. Dia memandang rumah yang tertutup pagar hijau di hadapannya. Rumah yang kecil dan sederhana.

"Jadi, ini rumahmu?"

"Ne," yeoja itu mengangguk lalu tersenyum. "Kau mau mampir?"

"Ah, tidak. Setelah ini aku masih ada urusan. Lain kali saja," Siwon masih memamerkan senyumnya.

"Oh, begitu.. sayang sekali. Tapi ya sudahlah. Sekali lagi gamsahamnida," yeoja itu kembali membungkuk. Dia tersenyum pada Siwon untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya berbalik membuka pagar.

Siwon mengawasi yeoja itu sampai masuk ke dalam rumah. Aneh, sedari tadi yeoja itu hanya biasa-biasa saja melihatnya. Apa dia tidak mengenalinya? Tidak mengenali seorang Choi Siwon? Hmm.. yah, bisa saja. Siwon mengangkat bahu, berusaha tidak peduli. Meskipun tak bisa dipungkiri dalam hati dia kecewa kalau memang benar yeoja itu tidak mengenalnya.

Siwon memasuki mobilnya dan hendak menyalakan mesinnya ketika tiba-tiba dia teringat sesuatu. Tunggu, apa hubungan yeoja tadi dengan Yunho? Kenapa Yunho mengejarnya? Dan-aigo, dia bahkan lupa menanyakan namanya!

Siwon berdecak. Bagaimana mungkin dia melupakan hal seperti itu? Tapi yah, dia masih bisa menanyakan hal itu nanti. Eh, nanti?

Siwon terdiam sejenak, lalu tersenyum.

"Yah, kalau jodoh mungkin saja kan?"

.

..GJ..

.

Jaejoong membuka pintu dengan hati-hati. Dia melangkahkan kakinya masuk dan detik itu juga dia langsung berhenti, terkesiap.

Rumahnya.. kenapa rumahnya berubah seperti ini?!

Sofa, TV LCD, lukisan-lukisan. Aigoo~ di rumahnya bahkan tidak ada barang-barang seperti itu. Tapi kenapa sekarang..? Jaejoong memandang sekeliling dengan tatapan tak percaya.

"Eomma?" serunya keras. Hening. Tidak ada jawaban.

Dengan sedikit ragu Jaejoong mulai melangkahkan kakinya masuk. Membuka setiap pintu yang menghubungkannya dengan ruangan lain.

"Eom-" Jaejoong terdiam. Lagi-lagi dia tercengang melihat dapurnya yang entah sejak kapan berubah menjadi bagus dan bersih. Jaejoong buru-buru menutup pintu dapur dan mulai sibuk dengan pikirannya. Dia mulai merasa ada yang aneh.

Dengan cepat Jaejoong membuka pintu-pintu lainnya. Dan hasilnya sama, selalu berakhir dengan tatapan tak percaya darinya. Bagaimana tidak, rumahnya berubah! Aigo~ apa yang sebenarnya sudah terjadi? Eomma, Junsu, kemana mereka?! Tidak mungkin ditinggal pingsan sebentar semuanya menghilang dan rumahnya sudah seperti ini kan? Haish!

Jaejoong berlari keluar rumah dan menatap rumahnya dari jalanan di depan. Dia melihatnya seksama. Dari luar tidak ada yang berbeda. Dia lalu menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, memandangi jalanan dan rumah-rumah di sekitarnya. Benar ini adalah kompleks rumahnya, dan berarti rumah itu memang rumahnya! Tapi kenapa..?

"Sudah kuduga kau ada disini."

Sebuah suara namja mengagetkannya. Jaejoong berbalik dan detik berikutnya kedua tangannya sudah terkunci oleh tangan besar namja itu. Jaejoong mendongak, matanya melebar. Namja gila tadi!

"Ya! Lepaskan!"

Jaejoong memberontak dan berusaha menarik tangannya, tapi percuma karena tenaganya sudah habis terkuras dan lagi kekuatan namja itu lebih besar darinya. Jaejoong terengah-engah sementara namja itu hanya menyeringai.

"Neo micheoseyo?! Ya! Turunkan aku!" Jaejoong menjerit histeris ketika namja itu mulai mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi. Ketakutan Jaejoong kini mulai menjalar. Astaga, namja gila ini sungguh mau menculiknya. Otte? Bagaimana kalau namja ini mau menjualnya? atau bahkan memperkosanya? ANDWEEEE!

.

.

.

To be continue...