Anomali

A Vocaloid fanfiction by DarkAoRin

Character focused in Taito and Gakupo, the rest are OCs.

This fiction contains boyxboy relationship (Yaoi).

Read at your own risk.

Vocaloid ©Crypton ©Yamaha

I hope you enjoy!


Tiga: Dilema Besar

Hari Sabtu. Papa bekerja hanya sampai pukul tiga sore, sisanya biasanya akan dihabiskan dengan menonton film bersama Mama. Entah di rumah atau di luar.

Nah, hari ini, melihat Mama yang mencatok rambut sedikit lebih lama dari biasanya dan Papa yang langsung mandi begitu sampai di rumah, sepertinya mereka berniat keluar malam ini.

"Di kulkas ada sup." Papa bicara padaku, tapi tangannya sibuk menata rambut dengan gel.

Aku tak mengalihkan pandangan dari layar televisi, "Iyaa."

"Sayang, bisa tolong ambilkan parfumku? Di ruang tamu, sebelah telepon." suara Mama berseru dari kamarnya, Papa langsung bergerak sigap.

Aku tersenyum geli melihatnya. Pembunuh bayaran juga manusia, 'kan…

Satu jam lamanya kedua orang ini bersiap untuk acara Kencan Malam Minggu mereka. Seperti hari yang sudah-sudah, aku bagaikan melihat pasangan ideal di komik. Seorang wanita cantik tinggi semampai dengan seorang pria tampan yang gagah.

"Ja ne~" Mama melambaikan tangannya genit padaku. Aku membalasnya ala kebanci-bancian, Mama terkekeh.

Mama mengingatkanku sesaat sebelum beliau menutup pintu, "Kalau kau mau keluar juga, jangan lupa kunci pintunya, ya."

Aku mengacungkan jempol. "Hati-hati, Ma, Pa."

Pintu ditutup, sekarang aku hanya mendengar suara pembawa berita di televisi yang kebetulan sedang menyiarkan peristiwa pembunuhan kemarin; tiga orang berandalan yang tewas dibunuh secara brutal. Kalau kubilang sih, nggak brutal-brutal amat. Si pembawa berita hanya mengatakan 'tewas dengan lebih dari sepuluh tusukan benda tajam yang tersebar di seluruh area tubuh', tapi, yah, bagi orang biasa, tentu saja itu mengerikan. Pembunuhnya tidak diketahui, sama sekali.

Aku mengangkat alis. Lagi-lagi Papa melakukan pekerjaannya dengan rapi seperti seharusnya. Mama sekarang jarang beraksi, dikarenakan Papa yang khawatir. Rasa cinta memang bisa mengubah segalanya, ya. Haah…

Bosan, aku berguling-guling di sofa-sekaligus-kasur-ku yang nyaman. Aku memandang rumah ini. Rumah besar biasa, seperti keluarga pada umumnya. Di saat sendirian seperti ini, aku suka melihat foto orangtuaku yang asli.

Ayahku setampan Papa, dengan rambut dan mata ungu gelap seperti milikku. Ibuku juga secantik Mama, dengan mata berwarna hijau dan rambut pirangnya yang dipotong pendek, pas sekali dengan wajah beliau yang mungil. Dulu sih, aku sangat menyesal kenapa mereka harus meninggal sehingga Mama dan Papa yang harus merawatku dan menjadikanku seperti mereka – seorang pembunuh bayaran. Tapi sekarang, yah, bisa karena biasa. Tak ada gunanya menyesali masa lalu. Hanya bikin sakit hati saja.

Lima belas menit berlalu dan aku baru sadar, kini aku mendapati diriku sedang berjalan mengitari taman sepi di depan blok. Hanya berjalan saja, membuat jejak di gundukan salju. Duh, di saat bosan aku bisa menjadi seseorang yang linglung, ya.

"Taito-kun,"

Wah, suara Gakupo.

"Konnichiwa, Gakupo-san," aku menyapa. "Baru pulang kuliah?"

Gakupo lalu duduk di bangku taman.

"Nggak, aku nggak ada kuliah hari Sabtu. Aku ke sini mau hunting foto saja, kok. Bosan di rumah terus." dia mengeluarkan kameranya. "Salju itu objek yang indah dan tak pernah membosankan untuk diabadikan."

Aku terkekeh, ikut duduk bersamanya. "Aa, sou, ne. Betul, betul."

Gakupo pun mengeluarkan kameranya dan langsung beraksi. Tapi betapa baiknya dia, selama sibuk mengambil gambar, dia terus mengajakku bicara.

"Oh, ya, kau suka fotografi juga, nggak? Atau hanya sekedar melihat foto-foto, begitu? Suka?"

"Yaah," aku menjawab kaku. Sebetulnya aku memang suka melihat foto, tapi tak pernah berpikir untuk mengabadikan suatu objek atau momen. "Suka, kok."

"Mau lihat hasil karyaku? Hanya ada di kamera ini, sih. Kalau mau lihat hasil yang sudah dicetak, ada di rumah."

Hei, aku teringat sesuatu.

"Tapi 'kan.. kartu memorinya sudah dirusak oleh orang jahat tempo hari itu?"

Dia tertawa.

"Ya, itu juga hal yang kusyukuri. Aku punya dua kartu, yang satu hanya untuk tugas kuliah, dan satunya lagi, yang di sini nih, isinya penting. Karya-karyaku, momen keluargaku, pernikahan kakakku, seperti itulah."

Percaya tak percaya, perasaan lega mengaliri dadaku.

"Hng, kalau begitu… boleh aku berkunjung?" tanyaku polos. Aku nggak mau dicurigai sebagai pribadi yang tertutup di blok ini, oleh karena itu aku berusaha bersikap seterbuka mungkin. Dan, reaksi Gakupo tepat seperti dugaanku. Dia senang bukan main dan langsung 'menggiring'ku ke rumahnya.

Sekarang, yang kulihat adalah rumah mungil dengan gambar di mana-mana. Aku takjub, seni memang tak lekang waktu. Karya hitam-putih sekalipun bisa menjadi sangat menakjubkan bila diambil dengan teknik yang tepat.

"Karya-karya ini harusnya dijual, lho!" aku takjub, sementara mataku mengagumi foto sepia seorang gadis kecil. "Keren sekali,"

Lagi-lagi Gakupo tertawa. "Yaa, aku memang sudah menjualnya beberapa."

"Pasti Gakupo-san memasang harga sangat mahal untuk setiap foto!"

"Nggak juga. Tergantung ukurannya. Biasanya sih, satu foto berukuran A4 kuberi harga lima ratus yen." ia menghampiriku. "Ini foto keponakanku, tak dijual."

"Ahaha. Wow, cantiknya."

Hei. Ada sebuah foto yang menarik perhatianku dari foto-foto lain. Barisan pohon di sebuah hutan. Tampak misterius, dingin, tapi juga tenang.

"Ini keren." aku mengelus bingkainya. "Aku suka ini."

Gakupo terdiam, tak memberi tanggapan apapun. Suasana jadi sedikit aneh.

"Kau tahu, selera kita sama."

Ujarannya barusan membuatku menoleh ke arahnya. Matanya, sepasang iris biru jernih, menatapku dalam-dalam.

"Jika kau mau, aku masih punya cetakannya di gudang penyimpanan. Kuberi gratis. Anggap saja hadiah salam perkenalan dari teman baru."

Aku kaku di tempat sementara Gakupo bergegas ke gudang.

Apa maksudnya ini? Maksudku, aku memang menjalani kehidupan sebagai manusia biasa, aku punya lumayan banyak teman di sekolah. Tapi, mata Gakupo yang menatapku dalam seperti… entahlah.

"Nih,"

"…"

Taito, bicaralah sesuatu! 'Wah, nggak usah, Gakupo-san!' atau semacamnya!

"Menolak pemberian itu nggak baik, lho. Aku ikhlas, nih."

"…arigatou."

Setelah dialog kaku barusan, Mataku teralih ke sebuah piano yang diletakkan di sudut ruangan. Wow, Gakupo bermain piano?

"Kau bisa main juga, nggak?" ia seakan mengerti isi pikiranku.

"Ng? Oh, nggak. Di rumah, kami juga bermain musik. Tapi bukan aku. Papa- maksudku, ayahku kadang memainkan gitar dan ibuku menyanyi," kataku mencerocos. "Aku sih, hanya menonton. Hehehe."

Gakupo tersenyum padaku, menyingsingkan lengan bajunya. Lalu, sekali lagi tanpa diminta, ia berjalan ke arah piano, lalu memainkan sebuah bagian lagu dengan mulus. Aku menghampiri dan ikut duduk di sofa di dekatnya.

"Kakakku suka lagu ini," katanya. "Dia cewek hebat, bisa apa saja. Yang mengajariku main piano itu dia, lho."

Aku mendengarkan dengan seksama. Gakupo masih terus mengobrol denganku, tapi jemarinya lincah menekan tuts piano. Jemari yang kurus dan panjang. Permainan pianonya pun indah. Lagu yang dimainkan Gakupo lembut, berirama menenangkan.

"Hoi, jangan tidur di sini, dong! Hahaha…"

Astaga.

"Kau bengong, tuh. Atau mau kumainkan lagu beat?"

Aku kacau sekali, deh.

"Sebaiknya aku pulang sekarang, Gakupo-san." kataku grogi.

"Hee, kenapa buru-buru? Belum malam, lagi."

Wajahku terasa panas.

"…nggak. Aku- orangtuaku sedang pergi dan aku nggak bisa meninggalkan rumah begitu saja. Kata ibuku, nanti akan ada drone yang datang mengantar barang." aku beralasan.

"Wah, oke, oke."

Gakupo mengantarku hingga depan pintu rumahnya,

Tersenyum lagi.

"Sampai jumpa lain waktu, ya."


Kembali sampai di rumah, aku menyembunyikan kepalaku di bantal. Aku tahu ada yang nggak beres dengan diriku.

Perasaan aneh apa ini?! Kenapa aku begitu senang saat melihat Gakupo tersenyum? Dan kenapa Gakupo suka sekali melihat ke arah mataku? Kenapa dia seperti peduli sekali terhadapku dan sebenarnya sih aku juga suka dipedulikan- HEI- NGGAK! APA-APAAN?!

Ini nggak benar. Ini salah. Ini super-duper-salah. Aku bahkan baru dua hari kenal dengannya, dan dia tujuh tahun lebih tua dariku. Ini nggak seharusnya terjadi. Tapi aku merasakannya, jadi bagaimana, dong?

Aduuh, sebaiknya sekolah cepat dimulai dan Kisumi-sensei – wali kelasku – memberiku banyak tugas. Aku harus cari kesibukan lain untuk melupakan apa yang terjadi hari ini, kalau tidak, aku bisa gila sendiri!

Atau, hei, sebuah rencana ekstrim terpikir di otakku. Jika perasaan aneh ini terus berlanjut hingga minggu depan, aku akan melakukannya.

Ya!

Tapi tetap saja, ini salah. Salah. Salaaah!

Ya ampun, Taito…


a/n:

Update kilat! Hari ini Rin nggak ada kerjaan, so, yeah.

Sampe ke part yang asik~ hahahaha XD

Kukira teman-teman pasti udah tau apa yang akan terjadi di chap selanjutnya, kan? Wkwkwk XD ah, Rin tak sabar mengetik kelanjutannya fufufu :3

As always, thanks for the RnR, minna!

==Rin==