Songs for daddy
(TRANSLATION)
Author: Bar_Ohki
Translated by: timamiyippie
A/N: I said that I'll publish this story at night, but, because my class at school is canceled, so this is the next chapter for you. :D By the way, there's a mistake at the prologue, I wrote chapter 1 there, sorry, it's just the prologue. The real chapter 1 is the nightswimming one.
Cerita sejauh ini: Hiruma Youichi telah menghilang selama beberapa tahun tanpa penjelasan apa pun. Anezaki baru saja mendapatkan anak yang sangat aneh di kelasnya bernama Emiko.
Song: Photograph is by Nickelback, I do not own it.
Chapter 2
Photograph
"Emiko benar-benar sudah besar…" Hiruma Youichi mengomentari foto yang ia pegang. Foto seorang wanita dengan wajah berbentuk hati, rambut hitam panjang, dan mata coklat yang besar. Ia memeliki fitur yang lembut. Tak dapat dikatakan dari foto itu, karena wanita itu hanya berdiri di sebuah batang pohon, seberapa tinggi ia. Hiruma, telah mengetahui wanita itu untuk beberapa tahun, tahu bahwa ia memiliki tinggi yang hampir sama dengannya. Di bagian kiri bawah foto terdapat beberapa kata yang ditulis hati-hati dengan pena. 'Chizue, 1 bulan'.
Hiruma mengembalikan foto tersebut ke album yang ia letakkan di meja. Hiuma Youichi adalah pria yang kurus, dengan wajah tirus dan fitur-fitur yang 'runcing'. Rambutnya spiky, warna hitam dan sangat berantakan. Bagian tubuh Hiruma yang paling dikenang adalah mata hijaunya, yang seperti mata kucing, gigi-nya yang tajam, dan telinga runcing, yang seperti telinga peri. Dia berotot dan atletik, walaupun sudah pensiun dari dunia olahraga bertahun-tahun yang lalu.
Hati-hati, dengan jari-jarinya yang panjang, ia menutup album foto itu. Tulisan di sampul dari kulit merah tersebut terbata 'Hiruma' yang ditulis dengan huruf yang cocok dengan cincin emas kecil di jari manis kanannya. Setelah menutup album itu, Hiruma meninggalkannya di meja untuk menyelesaikan kekacauan piring-piring kotor di wastafel. Dia bersenandung pelan sambil membersihkan semua kotoran dari piring.
Terdengar pintu dibanting keras di bagian lain apartemen.
"Youichi dimana kau?!" Suara seorang wanita tua memekik keras dari sekitar tempat pintu dibanting.
"Kenapa kelelawar tua sialan itu harus datang?" Hiruma mendesis pelan. Ia lalu menoleh dan berteriak, "dapur!"
Langkah kaki marah berderap di apartemen, berhenti di ambang pintu dapur. Hiruma tidak perlu melihat wanita tua itu untuk tahu siapa yang datang.
"Apa kau mendengar kata-kata yang keluar dari mulut cucu perempuanku akhir-akhir ini!?" Saburo Haruka berkata dengan ribut saat ia melaju untuk berdiri di samping Hiruma.
"Aku percaya kata-kata itu adalah kata-kata yang sebaris dengan 'Papa, buat kelelawar tua itu pergi!"… . Kenapa kau bertanya?" Hiruma tidak mengalihkan pandangannya dari piring-piring kotor.
"Kau anak ja-!" Kata-kata Saburo terputus oleh tatapan mematikan yang Hiruma berikan padanya.
"Jangan menghina ibuku hanya karena kau tidak bisa menerima lelucon kecil." Hiruma berkata dengan suara yang tenang namun berbahaya. Hiruma menghela napas dan kembali mengalihkan pandangannya ke piring. "Kata-kata apa?"
"Ia terus menanyakan dimana ibunya!" Kata Saburo. Ada nada marah dalam suaranya. "Kau bilang kau bisa mengatasinya!"
"Memang" Jawab Hiruma, "Emiko tahu siapa ibunya dan mengunjungi makamnya sebulan sekali. Sekarang, aku percaya kata yang ia ucapkan adalah 'mama' yang ia tidak miliki."
"Apa yang kau bicarakan!?" Saburo protes. "Chizue adalah ibunya!-"
"Tepat." Tangan Hiruma berhenti. "Chizue ibunya, bukan 'mama', bukan 'mom', hanya ibunya."
"…Kau benar-benar tidak tahu cara membesarkan seorang anak." Saburo berkomentar, melotot. "Makin hari makin jelas bahwa kau tidak berkompeten sebagai orang tua."
"Pertandingan jauh dari selesai, kelelawar!" Hiruma balas melotot. "Jangan katakana ini sebagai kekalahan sampai wasit memanggil."
"Jangan panggil aku 'kelelawar', kau kafir!" Ucap Saburo geram.
"Kenapa kau tidak buat dirimu berguna dan keringkan ini?" Hiruma menawarkan handuk. "Bagaimanapun, kau bilang aku 'tidak akan pernah bisa mengisi tempat seorang wanita di rumah' dua kali minggu lalu."
"Aku tidak disini untuk mencuci piring kotormu!" Saburo melotot.
"Kau sungguh munafik." Hiruma memutar mata ke arahnya. "Paling tidak kau sudah tahu aku bisa atau tidak melakukan pekerjaan rumah tangga."
"Apa ini yang kau letakkan di meja?" Saburo memutuskan untuk mengganti subjek pembicaraan agar tidak kalah berargumen dengan Hiruma.
"Hanya beberapa foto yang ingin aku tunjukkan pada Emiko." Hiruma menjawab singkat. "Ia sudah cukup besar untuk tahu apa yang terjadi dengan mereka."
Saburo tidak memahami apa yang Hiruma katakan, jadi ia membuka album tersebut. Foto pertama adalah foto Chizue dalam gaun pengantin putih dan Hiruma dalam tuksedo hitam. 2 halaman berikutnya adalah foto mereka pindah ke apartemen baru. Setelah itu ada foto-foto mereka secara terpisah, bersama teman maupun tidak. Ada beberapa foto Hiruma bermain football.
"Keluarkan ini." Saburo menunjuk salah satu foto football tersebut. "Aku tidak ingin Emiko berhubungan dengan permainan barbar yang suka kau mainkan itu."
"Tidak akan." Hiruma menjawab sambil mengeringkan sebuah piring. "Football adalah bagian dari diriku, bagian dari dirinya, aku tidak akan menyembunyikan hal ini dari dia."
"Youichi, aku akan mengambil Emiko darimu jika kau terus memaksakan omong kosongmu padanya." Saburo mendesis.
Hiruma menutup album tersebut. "…Emiko adalah putriku dan aku membesarkannya dengan segenap kemampuanku. Jika kau terus mengklaim aku tidak mampu menjalani tugas ini, aku akan mengambilnya dari kehidupanmu, keluargamu, dan bisnismu yang berharga."
"Hanya kalau kau memenangkan hak asuhnya." Saburo memberi Hiruma tatapan datar.
"Apa aku akan kalah?" Hiruma bertanya seolah-olah ia bingung akan hal ini.
"Tentu saja!" Bentak Saburo marah.
"Hmm…" Hiruma tampak seperti ia berpikir keras. "Para idiot dipersilakan untuk bermimpi, kurasa…"
"Kau bajingan!" Desis Saburo.
"Bahasa!" Hiruma balas membentak. "Aku tidak ingin putriku menirukan kata-kata itu padaku atau pada gurunya!"
Saburo tidak memiliki argumen untuk itu.
"Sekarang, bisakah kau menghiburku dan mengatakan dimana putriku sebelum aku menelepon polisi?" Tanya Hiruma, suaranya menunjukkan bahwa kesabarannya sudah mencapai batas.
_=_=_=_=_
Ini hanya sekedar puncak gunung es..
REVIEW PLEASE!
