Fate/Stay Night Disclaimer Type-Moon

Tapi cerita ini sepenuhnya milik author.

Author tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang di-publish.

.

My Office Girl

Romance, Humor, Drama, Family, and etc.

Rate : M

.

Warning : OC, OOC, AU, AT, AR. Typo (s), Miss-Type dan banyak kekurangan lainnya.

.

Chapter 3 Jealous

.

.

Pemuda itu berjalan mendekat ke arah Arthuria dan juga Rin dengan membiaskan senyuman yang menawan. Baru kali ini Arthuria melihat pemuda tersebut berpakaian non-formal yang membuat Arthuria terpukau.

"Arthuria … tadi Gilgamesh meneleponku dan mencarimu. Bisa kita bicara sebentar?"

Pemuda itu adalah Shirou. Ia tampak begitu bersimpatik terhadap sesuatu yang berkenaan dengan Gilgamesh. Ia merasa bertanggung jawab terhadap hal-hal yang terjadi pada sepupunya itu, termasuk untuk urusan pribadi.

Arthuria yang masih melamun karena terpesona melihat ketampanan Shirou, membuat Rin Tohsaka terpaksa mencubit temannya itu.

"Aw!"

Seketika Arthuria pun tersadar dari lamunannya.

"Rin … sakit tahu!"

Ia menoleh ke arah Rin sambil berbisik dan hal itulah yang membuat Shirou tertawa kecil.

Astaga … senyuman pemuda ini.

Rin tak mau kalah dengan Arthuria, ia pun ikut memandangi Shirou hingga harus berkali-kali menelan ludahnya sendiri. Siapa yang tidak terpesona akan keramah-tamahan Shirou? Mungkin hanya Gilgamesh seorang.

"Bagaimana, Arthuria?" tanya Shirou kembali.

"Em, bagaimana apanya ya? Em, aku tidak mendengarkan dengan jelas."

Arthuria tampak gagap menanggapi pertanyaan dari Shirou.

"Hei, Arthuria. Dia memintamu untuk berbicara dengannya sebentar. Kau masih belum paham juga apa?" tanya Rin sambil berbisik kepada Arthuria.

"Oh, begitu—"

"Sudah, sana! Aku pulang saja. Aku tunggu kau di rumah ya?" Rin menyela.

"Tap-tapi, Rin—"

"Sudah tak apa. Baiklah, aku permisi dulu."

Rin kemudian membungkukkan badannya, berpamitan kepada Shirou. Shirou pun menanggapinya dengan senyuman.

Ada rasa sedikit kesal di diri Rin kala Arthuria tidak memperkenalkan siapa pemuda yang menyapa dirinya. Namun Rin berusaha bersikap biasa-biasa saja dan mencoba mengerti serta bersabar, mungkin belum tiba saja waktunya untuk mengetahui siapa pemuda tersebut. Dan dari mana asal-usulnya.

.

.

.

Beberapa menit kemudian, Arthuria bersama Shirou tiba di taman yang tak jauh dari tempat pertemuan mereka. Taman itu terletak di pinggir jalan, cukup besar dengan pancuran air yang tersorot cahaya yang berwarna-warni. Banyak pemuda dan pemudi yang singgah sesaat di taman itu hanya untuk melepas lelah atau memandangi langit malam.

Arthuria lalu duduk bersama Shirou di sebuah kursi kayu yang ada di taman itu. Kursi panjang dengan sandaran tubuh di belakang. Membuat keduanya dapat sedikit merelaksasikan suasana.

"Maaf jika aku harus menginterogasimu, Arthuria. Namun urusan Gilgamesh adalah urusanku juga. Aku sudah dipercayakan oleh ayahnya untuk membantu segala permasalahan yang ada pada diri Gilgamesh," tutur Shirou kepada Arthuria.

"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Aku merasa aku tidak salah menerimamu untuk bekerja di perusahaan pamanku ini. Kau banyak membuat perubahan yang baik dalam kinerja operasional perusahaan. Termasuk perubahan sikap Gilgamesh."

Shirou tampak terkekeh kala mengingat sikap Gilgamesh yang mau turun tangan langsung saat pemilihan model dari karyawan perusahaannya sendiri. Tidak seperti biasanya Gilgamesh rela menghabiskan banyak waktu hanya untuk mendapatkan beberapa tambahan model untuk diikutsertakan di ajang fashion terkemuka di Paris pada tiga minggu mendatang.

"Em, maaf. Apa ada yang salah denganku?" tanya Arthuria yang tampak bingung.

"Oh, tidak. Kau tidak salah Arthuria, mungkin saja Gilgamesh yang salah."

"Mengapa bisa begitu?" tanya Arthuria lagi.

"Hm, itu …."

Sejenak Shirou mengingat kembali mengapa Gilgamesh dapat dikatakan salah di pandangan matanya.

"Mungkin dia menyimpan sebuah rasa kepadamu," jawab Shirou sambil menoleh ke arah Arthuria yang duduk di sebelah kanannya.

"Rasa?"

"Iya. Aku merasa hal itu mulai terjadi padanya. Tapi ini hanya sebatas praduga saja. Kau tidak perlu khawatir akan hal ini."

Shirou tersenyum kala menutup ucapannya. Ia lalu beranjak berdiri dari duduknya.

"Kau mau es krim, Arthuria? Kubelikan ya?"

Shirou memang baik hatinya. Ia tidak ingin bertangan hampa kala berbicara dengan Arthuria. Iapun membelikan Arthuria es krim cone rasa vanilla dengan toping cokelat di atasnya. Mereka lalu memakan es krim itu bersama di taman kota.

Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata Gilgamesh melihat keduanya dari seberang jalan taman. Betapa kesal dirinya kala mengetahui jika Shirou sudah mencuri start-nya terlebih dahulu.

"Sial!"

Ia tampak kesal. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah ditinggalkan seenaknya oleh Arthuria dan kini ia melihat Arthuria tengah berduaan bersama sepupunya. Mungkin pribahasa yang tepat untuk mewakilkan keadaannya saat ini adalah … niat memakan durian malah memakan kulitnya.

Ya, sepertinya Gilgamesh harus menahan suatu rasa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya kala ini. Tentunya sambil menunggu waktu yang tepat untuk membahasnya bersama Shirou dan juga Arthuria.

.

.

.

Aku masih merasa kesal atas kejadian semalam. Hari Minggu ini kulalui dengan bermalas-malasan di tempat tidur. Tak seperti biasanya aku begini. Namun entah mengapa rasa malas itu menerjangku setelah melihat kejadian tadi malam.

Di dalam kamarku yang cukup luas dan juga fasilitas yang memadai, membuatku betah berlama-lama di tempat tidur. Jika lapar datang, aku tinggal menyeduh mie saja. Dan jika ingin berendam tinggal menggerakkan kaki menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku ini.

Hidupku tidak kekurangan sedikit apapun. Apa yang kumau bisa kudapat dengan mudah. Tapi entah mengapa semenjak kejadian tadi malam membuatku merasa jika aku ini hanya pria gagal yang kalah dengan sepupuku sendiri.

Ah, sialan memang!

Aku harus mengalami apa yang dinamakan rasa cemburu hanya karena melihat dia bersama sepupuku. Apakah sifat yandere itu mulai ada di dalam jiwaku?

Entahlah…

Aku hanya mengikuti alurnya saja. Mau dibawa ke mana semua ini.

"Tuan Muda …."

Pelayan rumahku mengetuk pintu kamarku dua kali. Memanggilku dari luar agar aku segera membukakan pintu kamar. Tapi aku masih malas untuk bangun dari tempat tidur.

"Ada apa?!" tanyaku dari dalam.

"Tuan, ada tamu untuk Anda hari ini. Nona Sakura Matou ingin segera bertemu."

Pelayanku menyebutkan jika ada tamu yang ingin menemui diriku dan itu adalah Sakura, gadis yang dijodohkan untukku.

Astaga, aku lupa memberitahu jika aku sudah dijodohkan oleh ayahku dengan seorang kembang desa.

Ya, Sakura Matou adalah seorang kembang desa di tempat ayahku tinggal sekarang ini. Menurut ayahku, Sakura sangat baik dan juga cantik. Terlebih postur tubuh gadis ini dapat memperbaiki keturunan di keluargaku. Kalian tahu mengapa? Itu karena Sakura memiliki dada yang cukup besar. Tidak seperti Arthuria si office girl itu!

Hah … lagi-lagi aku mengingat dirinya yang sudah membuatku kesal setengah mati. Entah mengapa aku malah merasa tertarik dengan gadis berdada rata sepertinya.

"Tunggu sepuluh menit lagi aku akan keluar!" teriakku dari dalam kamar.

"Baik, Tuan."

Tak lama pelayanku itu pergi dari depan kamarku, akupun segera merapikan diri untuk menemui Sakura di ruang tamu. Tidak mungkin kan jika aku menemuinya hanya dengan memakai celana dalam berwarna kuning ini?

Ya, saking malasnya aku hanya memakai celana dalam sambil menonton televisi.

.

.

.

Beberapa menit kemudian…

Aku menemui Sakura di ruang tamu rumahku. Tapi setelah melihat penampilannya yang sekarang, bukan main alangkah terkejutnya aku. Bagaimana aku tidak terkejut, yang kulihat sekarang ini bukanlah seorang kembang desa, melainkan seorang kembang kota. Mengapa aku berkata demikian? Karena Sakura sudah mengenakan pakaian yang ke barat-baratan. Kaus tanpa lengan dan rok mini serta high heels berwarna hitam.

Astaga … mengapa bisa jadi begini? Apakah dia berniat untu menggodaku?

"Ehem!"

Akupun berdehem memecahkan keheningan. Sontak saja Sakura menoleh ke arahku yang datang.

"Gilgamesh-nii," sebutnya dengan lembut.

"Sakura, mengapa kau menjadi seperti ini?" tanyaku blak-blakan.

"Seperti ini? Apa yang dimaksud adalah cara berpakaianku?" tanyanya polos.

"Ya, apalagi," jawabku sambil berjalan mendekat ke arahnya.

Akupun kemudian duduk di depannya. Tak lama pelayan rumahku menyuguhkan hidangan khas ala rumahku ini. Teh maca dan juga kue brownies kukus. Tapi mungkin tidak hanya di rumahku hidangan semacam ini dapat ditemukan di mana-mana.

"Maafkan aku, Gilgamesh-nii. Aku hanya ingin agar kau lebih tertarik denganku. Maka dari itu, aku merubah penampilanku saat ini," jawabnya sambil tertunduk malu.

Astaga, ternyata benar. Semua perubahan pada dirinya hanya untuk membuatku tertarik.

Aku jadi bingung, bagaimana ya cara menjelaskannnya jika aku sudah terbiasa melihat banyak gadis bertelanjang dada. Sehingga hal yang demikian malah membuatku memandangnya biasa-biasa saja. Tapi aku masih bingung mengatakan hal ini kepadanya. Aku takut menyakiti hati dan perasaannya yang masih murni.

Tuhan … tolong aku ….

"Em, Sakura. Sebenarnya aku lebih menyukai seorang gadis yang apa adanya saja. Menurutku … itu lebih terlihat natural. Ya, natural atau alami. Jika kau seperti ini … aku rasa malah terkesan dipaksakan. Bisakah … bisakah kau hanya menjadi dirimu saja, Sakura?"

Haduh, aku terpaksa harus mengatakannya walau dengan terbata-bata. Jika tidak kukatakan aku khawatir akan lebih membahayakan bagi dirinya. Karena … karena singa dalam sangkar ini akan berontak dan meminta untuk segera keluar dari kandangnya.

Hahaha, bahasaku mungkin terlalu kamuflase bagi kalian. Tapi bagaimana ya, hanya kata-kata itu yang bisa kutuangkan dalam ceritaku ini.

"Begitu, ya? Baiklah, Gilgamesh-nii. Aku akan merubah penampilanku di hadapanmu."

Aku tahu jika Sakura bersedih atas apa yang telah kukatakan. Tapi semua ini demi kebaikan dirinya. Ya, walau itu terkesan menyakitkan.

.

.

.

Hari demi haripun kulalui. Seperti biasa, aku menjadi seorang Gilgamesh yang angkuh dan juga berwibawa di hadapan para karyawanku. Tapi di hari ini, Kamis pukul dua siang waktu Tokyo dan sekitarnya, aku sudah tak tahan untuk memanggil Arthuria agar segera menghadapku. Ada beberapa hal yang harus kubahas bersamanya.

Tak sulit bagiku hanya untuk membuat seorang office girl menghadapku. Hanya selang tiga menit, kini Arthuria sudah berada di hadapanku.

"Kau tahu mengapa aku memanggilmu, Arthuria?" tanyaku kepadanya yang duduk di hadapanku.

"Tidak, Tuan," jawabnya singkat.

Sungguh kesal hatiku saat Arthuria tidak menyadari apa kesalahan yang telah dia perbuat kepadaku. Rasanya aku ingin segera mengurungnya dalam suatu ruangan dan kuhabisi dia dengan semua kegagahan yang kupunya.

Ya, aku ingin membuatnya sulit berjalan setelah kupaksa bergelut denganku … tiga hari tiga malam tanpa henti.

"Ini!"

Aku kemudian memberikannya sebuah map. Dan di dalam map itu berisi perjanjian yang telah kubuat bersama dengan dirinya. Akupun beranjak dari dudukku, kemudian berjalan mendekat ke arahnya.

"Perjanjian kita yang pertama adalah kau harus menuruti apa permintaanku. Tentunya jika kau tidak ingin dipecat karena telah berkata kasar kepadaku waktu itu. Ya … aku sih hanya mengingatkan saja kepada dirimu."

Aku masih bersikap angkuh di hadapannya karena aku merasa sangat malu jika harus menurunkan egoku di hadapan seorang office girl.

"Apa kau sadar jika belum memenuhi perjanjian ini dan malah membuat masalah yang baru. Meninggalkanku sendiri di dalam restoran hotel. Apa kau ingat?!"

Aku sedikit berteriak di kata yang terakhir, berharap dia dapat mengerti apa keinginanku.

"Ma-maafkan aku, Tuan."

Hanya kata-kata itu yang terucap dari mulutnya. Benar-benar menyebalkan. Aku seperti kehilangan jati diriku saat berbicara panjang lebar, namun hanya dibalas dengan singkat.

Sialan!

Aku menggerutu dalam hatiku sambil berpikir bagaimana cara agar aku dapat membuatnya bertekuk lutut di hadapanku ini? Ya, aku ingin membuatnya tidak dapat lepas dari diriku. Dan selalu memohon untuk kujamah setiap malam.

Pikiran kotor itu mulai terbesit di dalam benakku ini. Astaga, geregetan. Amat sangat geregetan dengan sikapnya.

Awas kau, Arthuria!

"Kau benar-benar menyebalkan ya! Baiklah, gajimu bulan ini kutunda. Jika kau ingin mengambil gajimu, maka datanglah ke alamat ini."

Aku kemudian menuliskan sebuah alamat untuk dirinya. Alamat itu berisi sebuah tempat yang belum pernah kukunjungi namun yang kudengar pemandangannya sangat bagus. Aku berniat ke sana bersama Arthuria dan menghabisinya. Rasa kesal ini sungguh tidak dapat tertahan lagi.

Liat saja nanti, aku akan menghukummu.

Arthuria menerima alamat itu. Sepertinya ia tidak tahu di mana lokasi yang kumaksudkan.

"Nanti aku akan menjemputmu. Tunggu saja," ucapku menutup pembicaraan.

Daripada berlama-lama melihat dirinya dan itu membuatku kesal. Maka kuputuskan untuk menyudahi saja percakapan ini.

Benar-benar merepotkan berhadapan dengan seorang wanita.

.

.

.

Waktu yang dinantikan telah tiba. Akhirnya tiba saatnya bagiku untuk segera berperang dengan gadis yang menjengkelkan ini. Ya siapa lagi kalau bukan Arthuria.

Aku kini tengah menunggu di depan rumahnya, sengaja aku berdandan ala Korea agar dia tertarik padaku. Rambut sengaja kusisir ke depan dan memakai anting di telinga kiriku. Berharap dia akan menyukai penampilan baruku ini. Tak lupa aku memakai parfum yang katanya dapat membangkitkan gairah lawan jenis yang menciumnya. Semua sudah kupersiapkan matang-matang.

Eh, itu dia datang. Mengenakan dress berwarna biru langit yang tampak transparan. Astaga ... apa dia sudah mengerti akan maksud diriku?

Dan entah mengapa aku melihat dadanya sedikit berisi malam ini. Aku jadi penasaran itu dada asli atau palsu. Ah, kita liat saja nanti. Aku akan mengobrak-abrik dirinya.

.

.

.

TBC