Chocolate Love – 3

Pair: Anmitsu

WARNING! Sho-ai :3 AU! Idol Life

HAPPY READING!

Aku sekarang sedang berada di depan apartemen Horikawa. Aku langsung menuju pos penjagaan, dan mengatakan keperluanku datang dipagi buta seperti ini. Dan syukurlah, Horikawa ternyata sudah mengatakannya kepada penjaga, sehingga aku bisa langsung masuk dan memarkirkan mobilku tanpa harus buang-buang waktu, tenaga dan napas untuk berdebat.

Setelah mobilku terparkir sempurna, aku langsung menuju lift. Sambil menunggu lift turun, aku melayangkan pandanganku, berpikir macam-macam tentang Kiyomitsu. Tak sampai tiga menit, lift pun terbuka. Aku langsung masuk, dan melihat tombol angka-angka itu dan tiba-tiba teringat.

..Horikawa,

Tinggal dilantai berapa ya?

Aku lupa. Sialan.

Aku langsung keluar dari lift, kemudian mengirim pesan kepada Horikawa,

.

To: Hori mama

Subject: Aku lupa.

Kau tinggal di lantai berapa ya?

.

Aku merutuki kebodohanku. Aku hanya bisa berdoa semoga Horikawa stay disebelah ponselnya.

TRING

Doaku terkabul. Terima kasih Tuhan.

.

From: Hori mama

Subject: Aku lupa

Lantai 3, nomor 4 -_-

.

Baiklah! Seolah lift didepanku ini mengerti bahwa aku sudah tahu harus menuju kemana, lift ini terbuka lagi. Aku langsung masuk, memencet tombol angka 3, dan menunggu sampai di lantai tujuanku.

Lantai 1.. 2.. ini kenapa lantai 3 jauh sekali dari tempat parkir sih? Ish.

..TING

Akhirnya. Aku sudah sampai di lantai 3. Setelah pintu lift terbuka, aku langsung keluar, dan mencari kamar nomor 4. Syukurlah. Aku sudah ingat kamar Horikawa yang mana. Untung tidak terlalu jauh dari lift.

Setelah sampai di depan kamar Horikawa, aku langsung menekan bel rumahnya. Dan tak selang lama, aku mendengar suara Horikawa berkata, "…iya, sebentaarr"

CKLEK.

Pintu terbuka, dan aku melihat sosok Horikawa yang memandangku senang.

"Dimana dia?" tanyaku langsung.

"Hei, tenanglah dulu. Dia ada didalam sekarang. Di ruang makan. Kami sedang makan sekarang," kata Horikawa sambil sedikit memiringkan tubuhnya, memersilahkan aku masuk, "Aku tidak tahu bagaimana reaksinya nanti saat melihatmu. Aku tentu saja tidak bilang kalau kau akan datang. Katakan saja padanya kalau kau kemari untuk mengambil apamu lah yang tertinggal di rumahku. Aktinglah kau kaget melihatnya," tambah Horikawa dengan pelan.

Aku mengangguk.

Kulihat Horikawa mengambil napas dalam-dalam, lalu berbisik pelan padaku, "..kita mulai dramanya,"

Aku mengangguk lagi.

"Ah! Yasusada! Kau kenapa kemari malam-malam ish!" katanya sedikit keras, aku rasa memang dia sengaja agar Kiyomitsu mendengarnya.

"Yah, aku lupa kalau aku ingin mengambil tumbler ku yang tertinggal kapan hari. Aku nanti ingin pergi ke gym, dan aku tidak bisa minum kalau tidak dari tumbler itu," jawabku.

..bodoh banget ya alasanku. Aku melihat Horikawa memandangku dengan pandangan, 'kau-bodoh-atau-apa-pakai-alasan-tak-logis-seperti-itu'.

Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa berpikir! Aku hanya memikirkan Kiyomitsu dikepalaku.

"Haah, kau seperti anak kecil. Ya sudah, masuklah," katanya sambil menuntunku melewati ruang makan.

Horikawa tiba-tiba menoleh saat melewati ruang makan, dan masuk sambil memegang kilat tanganku, menyuruhku untuk mengikutinya.

"Ah, maaf ya Kashuu. Yasusada tiba-tiba datang, apa masih ada sisa makanan yang kau buatkan tadi—eh? Kau kenapa?" aku mendengar Horkawa tiba-tiba bertanya, dan aku langsung khawatir, kemudian masuk mengikuti Horikawa kedalam ruang makan.

Aku melihat Kiyomitsu menutupi mukanya dengan syal merah yang selalu dipakainya, sambil sedikit gemetaran. Aku dan Horikawa saling memandang, bingung dengan tingkah laku Kiyomitsu yang tiba-tiba aneh.

"..Kiyomitsu?" tanyaku sambil mencoba meraih tangan kecil dan putihnya yang masih menahan syal merah itu agar terus menutupi wajahnya.

Saat aku dapat meraih tangan Kiyomitsu, aku merasakan Kiyomitu sedikit kaget, dan menegang. Aku bingung. Sangat bingung. Perlahan aku mencoba menarik tangannya kebawah, agar dia melepaskan tangannya itu, dan aku bisa melihat wajah cantiknya.

Namun tak seperti dugaan, Kiyomitsu mengeratkan pegangannya pada syalnya, tidak membiarkanku untuk melihat wajahnya dengan mudah. Aku menghela napas. Aku tidak mau memaksa Kiyomitsu dengan kekerasan.

"Hahh.. Kiyomitsu. Kau kenapa? Turunkan syalmu ya, kumohon. Kalau seperti ini, aku dan Horikawa jadi bingung dan khawatir dengan apa yang terjadi padamu.. ya?" kataku halus, sangat halus. Aku berusaha membujuknya.

Dia akhirnya melonggarkan pegangannya, dan mulai menurunkan perlahan syalnya. Memerlihatkan wajahnya yang—eh?

Penuh luka?

"Yasusada.. maaf.." katanya pelan sambil matanya mulai berkaca-kaca.

Aku melihat Horikawa dengan pandangan, 'apa-yang-terjadi-padanya-?!' dan Horikawa malah balas memandangku, 'mana-kutahu-?-makanya-kau-kusuruh-kesini-!'

..sudah semacam esper ya aku dan Horikawa? Bisa baca pikiran satu sama lain lewat pandangan.

"Ki-Kiyomitsu..?" tanyaku perlahan sambil memandangnya bingung, "Kau—"

"Maaf.. aku takut kau jadi membenciku karena rupaku sekarang.. aku takut melihatmu tadi, jadi aku menutupi wajahku.. aku, aku.. penampilanku sudah rusak.. aku tidak mau kau.. kau ri—"

"Hei! Sudahlah, masalah penampilanmu, aku tidak peduli," kataku sambil menarik kursi didepannya, kemudian duduk, "Yang kupedulikan, bagaimana bisa kau mendapat semua luka ini, dan SIAPA yang melakukannya padamu?!"

Aku menekankan pada kata-kata 'siapa'. Kalau aku sampai tahu siapa pelakunya, aku akan membunuhnya karena sudah melukai KiyomitsuKU.

Kiyomitsu terdiam. Dia seperti bingung. Horikawa kulihat juga ikut bingung. Aku lebih bingung. Semua bingung.

..apa sih.

Tak lama, aku mulai mendengar Kiyomitsu berbicara,

"…Yasusada,"

"Hm?" responku cepat, sambil tersenyum.

"Bolehkah.. aku.." dia memutus-mutus permintaannya, kemudian memandang Horikawa, yang langsung dibalas senyuman olehnya.

"Apa, Kiyomitsu? Bilang saja kau mau apa dariku," kataku meyakinkan Kiyomitsu untuk terus mengatakan permohonannya.

Kiyomitsu kemudian diam, dan memandang aku. Lalu dia menarik napas, dan akhirnya berkata,

"..memelukmu?"

Aku merasa ada yang meledak di dadaku. Ini pertama kalinya. Kiyomitsu yang meminta.

Aku tekankan ya.

KIYOMITSU YANG MEMINTA.

TUHAN. APA INI PETUNJUK BAGI HAMBA BAHWA PERASAAN HAMBA AKAN TERBALASKAN? NGAHAY.

"Eh?" tanyaku belum percaya.

"Ma-maaf, aku lancang ya.. lupakan saja permintaanku.. maaf," katanya dengan wajah yang memerah, dan matanya masih berkaca-kaca.

"Bo-boleh kok! Boleh, tentu saja. Kau boleh memelukku selama apapun yang kau mau!" kataku, dan aku tak bisa menyembunyikan wajah bahagiaku.

Aku tiba-tiba merasa ada yang memandangku. Ternyata Horikawa.

Ah.

Aku lupa kalau ada Horikawa disini.

Saat aku memandangnya, dia langsung memasang pandangan, 'hoo-jadi-benar-dia'

Huwa.

Padahal aku sudah mencoba menyembunyikannya dari teman-temanku serapat mungkin!

Eh? Tidak-tidak.. aku bukannya berniat ingin menyembunyikannya selamanya. Aku baru akan memberitahu kepada teman-temanku saat perasaanku sudah terbalaskan. Kalau saat pendekatan begini.. aku tidak ingin teman-temanku tahu. Selain mereka pasti akan ikut campur, yah.. aku tidak ingin mereka memandangku kasihan kalau ternyata Kiyomitsu menolak perasaanku.

Tapi sekarang semua gagal. Aku lupa kalau ini di apartemen Horikawa, dan Horikawa ada disebelahku! Aarrgghh!

"Ehem. Baiklah, Kashuu sepertinya lebih bisa bercerita dengan TEMAN DEKAT nya empat mata.. ah, tak usah khawatirkan aku. Ceritakan saja padaku kalau kau sudah selesai bercerita pada Yasusada. Aku tahu, kau pasti lebih nyaman bercerita pada Yasusada dulu kan daripada langsung kami berdua? Rasanya pasti seperti diinterogasi. Aku akan mencari tumbler Yasusada dulu dikamar, kalian berbicaralah dengan tenang~" katanya dengan nada yang aneh, yang seperti senang karena telah memergokiku, sambil keluar ruangan.

Sialan. Pasti dia akan menyebarkan gosip di grup.

Ah sudahlah. Yang penting aku berdua dengan Kiyomitsu.

"..Nah, lalu?" tanyaku memecah keheningan, dan aku berdiri dari tempatku duduk.

"Eh?" dia bertanya dengan wajah bingung.

"Katamu, kau mau memelukku? Kemarilah," kataku sambil tersenyum.

Aku melihat Kiyomitsu tiba-tiba gelisah. Lalu dia berdiri, dan mendekatiku perlahan. Dia memegang lenganku, sambil menunduk. Kemudian dia berkata lagi,

"Benar boleh..?"

Aku mengangguk, dan berkata, "Tentu saja,"

Setelah aku berkata seperti itu, dia langsung memelukku. Saat aku balas memeluknya, mengelus rambut lembutnya pelan, dan menepuk-nepuk kecil punggungnya, aku merasakan badannya bergetar, sambil mengeratkan pelukannya.

..ah. kurasa dia menahan keinginannya untuk menangis.

"Menangislah dipelukanku, Kiyomitsu. Tidak apa. Tak usah kau pikirkan apa-apa. Menangislah sepuasmu, sampai kau tenang. Aku akan selalu ada disini," kataku, sambil mengeratkan pelukanku juga.

Aku mulai merasa Kiyomitsu benar-benar menangis. Dia meluapkan segala emosi yang ditahannya. Aku merasakan baju tipisku ini basah karena air matanya. Tapi tak masalah. aku akan menyerahkan seluruh tubuhku untuk membuat dia tenang.

Kiyomitsu sampai menangis. Aku tidak melihat tawa dan senyum Kiyomitsu yang cerah seperti biasanya akhir-akhir ini.

Sungguh.

Dalam hati, aku bersumpah.

Siapapun yang melakukan ini pada KiyomitsuKU, mereka pasti akan menyesali perbuatannya.

Aku rasa sudah lima menit Kiyomitsu menangis di pelukanku. Aku tentu saja tetap mengelus perlahan rambutnya, dan menepuk-nepuk punggungnya. Kemudian, dia melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum kepadaku.

Manis sekali.

Walau masih ada bekas air mata di pipinya. Aku juga tersenyum, kemudian menyuruhnya untuk duduk.

"Lalu.. apa kau mau cerita kepadaku apa yang sudah terjadi padamu dengan semua luka itu? Kau tahu, aku ini temanmu. Aku tentu khawatir tiba-tiba melihatmu seperti ini,"kataku sambil memandangnya lembut.

Teman ya. Iya, teman.

..nyesek ya.

Aku melihat dia menarik napas panjang. Dia seperti bingung akan bercerita darimana. Aku menunggunya dengan sangat sabar, hingga dia siap bercerita.

"Sangat kebetulan ya kita bisa bertemu disini. Aku kira aku bisa menyembunyikannya lebih lama. Takdir ya? Haha," katanya tiba-tiba sambil tersenyum lemah.

..ya anggap saja begitu deh. Takdir.

"Aku.. sebetulnya.. bingung mau bercerita darimana," kata Kiyomitsu, tetap dengan senyum lemahnya.

"Darimanapun tak apa, " kataku cepat. Aku ingin tahu siapa dalang dibalik semua luka Kiyomitsu.

Kiyomitsu tersenyum lagi kepadaku.

"Aku agak takut kalau aku jujur dan bercerita semua, kau akan meninggalkanku dan tidak menganggapku teman lagi.." kata Kiyomitsu lagi.

Hei! Kenapa dia berpikiran senegatif itu tentangku? Aku tentu saja tidak sekejam itu! Apalagi aku? Meninggalkan Kiyomitsu? Gila apa aku?!

"Hei. Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku tidak sekejam itu kok. Mau seperti apapun dirimu, aku tidak peduli. Atau kau mau bagaimana pun, kau tetap temanku," kataku meyakinkan dia bahwa aku akan selalu ada untuknya.

"Walau aku tidak bekerja lagi?"

"Tentu sa—EH!?" aku langsung memajukan tubuhku, mendekati Kiyomitsu karena shock dengan pengakuan tiba-tibanya.

Tidak bekerja lagi?! Apa maksudnya!?

"Sebentar! Apa maksudmu dengan tidak bekerja lagi? Maksudmu.. kau menutup cafému?" tanyaku langsung sambil memandangnya tidak percaya.

Kiyomitsu tersenyum lemah.

"Bukan masalah café sih.." katanya sambil mengelus luka ditangannya perlahan, "aku.. sebetulnya sudah berhenti jadi office boy di agensimu sejak kemarin.."

Apa?

Jujur.

Aku kaget. Serius.

Kenapa? Kenapa tiba-tiba dia berhenti?

Aku memandangnya tidak percaya. Kemudian dia balas memandangku, dan tiba-tiba berkata,

"Kau pasti bertanya-tanya kan kenapa aku berhenti? Haha, ekspresi wajahmu benar-benar bisa ditebak," katanya sambil tertawa dan tersenyum manis, seperti biasanya.

Tapi aku melihat ada luka dibalik senyumnya.

"Tentu saja aku bertanya-tanya! Aku kaget, kau tahu?! Kau kenapa? Kenapa tiba-tiba berhenti.." kataku masih dengan nada yang sangat terkejut.

Kiyomitsu menutup matanya sambil tersenyum, lalu mengelus lagi luka ditangannya. Tak selang lama, dia membuka mata ruby indahnya itu.

"Aku.. tiba-tiba dibully di tempat kerja," katanya dengan senyum yang sangat lemah, nyaris tak terlihat.

"Dibully?" ulangku.

"Iya.. seperti tiba-tiba aku dijauhi satu kantor.. kemudian kotak makanku yang dibuang di tempat sampah, baju gantiku yang tiba-tiba sobek saat aku akan ganti.. kemudian.. oh iya, aku minta maaf ya aku kemarin-kemarin tidak membalas pesanmu.. ponselku rusak karena dibuang oleh teman-temanku dari lantai enam.. kemudian, saat kita bertemu di kamar mandi itu.. aku basah kuyup, kan?" katanya, dan aku mengangguk, "Nah itu tiba-tiba aku diguyur dengan air bekas mengepel lantai oleh teman-temanku, haha. Makanya aku malu saat kau tiba-tiba menyapaku, soalnya aku kotor," dia berkata dengan tersenyum lemah lagi, nyaris menangis.

Apa?

Aku shock.

Aku.. bingung harus merespon apa.

Apa-apaan ini? Di agensiku.. ada hal semacam itu? Serius?

"..kenapa? Kenapa tiba-tiba kau dibully?" tanyaku.

Kiyomitsu menggeleng. Dia juga tidak tahu.

"Entahlah. Tapi aku pernah mendengar kata-kata mereka saat mereka memukuliku di belakang kan—"

"APA!?" refleks, aku langsung berdiri sambil berteriak, memotong perkataan Kiyomitsu, "Mereka semua—MEMUKULIMU?"

Kiyomitsu memandangku sambil berkedip lucu, lalu mengangguk ragu-ragu.

"Brengsek.." gumamku pelan, tapi mungkin Kiyomitsu masih bisa mendengarku. Tiba-tiba dia memegang tanganku.

"Tenanglah. Aku tidak apa kok. Aku tidak masalah dengan apa yang mereka lakukan padaku. Lagian, itu sudah berlalu. Lebih baik kau dengar dulu ceritaku sampai selesai," katanya sambil tersenyum lagi, "Duduklah,"

Yaampun.

Kiyomitsu.

Bagaimana bisa kau tetap bisa sebaik ini pada orang-orang yang membuatmu terluka dan sedih? Seberapa kuat hatimu ini, Kiyomitsu?

"Hahh.. baiklah. Lalu? Bagaimana selanjutnya?" kataku menuruti Kiyomitsu, sambil kembali duduk didepan Kiyomitsu.

Kiyomitsu tersenyum.

"Jadi, aku mendengar mereka berkata bahwa aku adalah penghancur hubungan orang.. atau bagaimana gitu. Aku sedikit lupa. Pokoknya, ada juga kata-kata yang mereka lontarkan bahwa aku ini adalah perusak idol terkenal, Yamatonokami Yasusada.." katanya sambil memandangku sayu, "Apa.. benar begitu, Yasusada?"

Apa?

Perusakku?

Merusak apa? Aku tidak merasa dirusak oleh Kiyomitsu. Mana mungkin Kiyomitsu yang lembut ini bisa merusakku? Membuatku semangat hidup sih, iya benar. Kalau perusak.. sok tahu mereka.

"Hell ya. Tentu saja itu salah! Salah besar! Apa-apaan sih mereka? Mereka sudah gila mungkin ya? Apalagi penghancur hubungan orang. Hubungan siapa sama siapa co—"

Tunggu.

Penghancur hubungan orang? Perusakku?

Ah.

Jangan-jangan.. mana mungkin.

"..Perempuan itu?" gumamku.

"Eh?"

"Jangan-jangan.. yang menyebarkan rumor tidak jelas seperti ini diteman-temanmu adalah perempuan itu! Brengsek benar dia! Segitunya dia menginginkanku sampai melukai dan memfitnahmu begini!? Ini keterlaluan! Aku akan buat perhitungan dengan—"

"Yasusada!" potong Kiyomitsu, dengan wajah marahnya –yang bagiku itu imut—

Aku memandangnya, lalu dia balas memandangku. Dia kemudian menggeleng, lalu berkata,

"Kau tidak boleh menuduh orang sembarangan. Siapa tahu bukan dia. Sudahlah. Aku tidak peduli kok mau dikatai apa, terserah. Aku juga tidak peduli dipukuli atau dilukai. Aku memaafkan semuanya. Aku cuma takut kalau kata-kata mereka bahwa aku adalah perusak seorang Yamatonokami Yasusada itu adalah benar.. aku tidak mau kau rusak gara-gara aku.." kata Kiyomitsu sambil memandang tangannya, memandang lukanya.

Kiyomitsu.

Marahlah sedikit, apa kau tidak bisa? Bisakah kau sekali ini saja jangan bertingkah baik dan sabar? Kau sudah seperti ini dan kau masih memaafkan mereka?

Aku yakin.

Surga pasti sedih kehilangan malaikat sebaik dirimu, Kiyomitsu.

"Haaiisshh! Aku sudah bilang itu tidak benar, Kiyomitsu! Kau tidak usah khawatir dengan kata-kata itu. Sudahlah. Yang penting, aku akan coba nanti saat ke kantor, menjelaskan semua perkaramu ini ya. Aku pasti akan mencari siapa otak dari semua penderitaanmu, agar kau bisa bekerja lagi," kataku meyakinkannya.

Alih alih senyum yang kudapatkan, dia malah mengerucutkan bibirnya lucu.

Hah.

Kiyomitsu.

Kumohon.

Jangan goda aku. Aku hampir tidak bisa menahan diri ini untuk mengecup bibir penuh dan merahmu itu. Jangan sampai aku khilaf dan melakukan tindak tidak terpuji terhadapmu.

"Sudahlah Yasusada. Lupakan saja. Aku tidak suka memerpanjang masalah. Yang penting sekarang, aku sudah jujur padamu, dan kau juga tidak menjauhiku, itu sudah cukup membuatku tenang. Aku juga tidak masalah pekerjaanku hilang. Jangan sampai idol terkenal seperti mu jadi ikut mengurusi masalah orang biasa sepertiku. Sudahlah. Ya?" katanya dengan tersenyum manis lagi.

Tuhan.

Tolong bukakan pemikiran lelaki cantik yang ada didepanku.

Dia terbuat dari apa sebetulnya? 15% kecantikan, 5% kelembutan, 80% kebaikan?

Bagaimana bisa ada manusia sesempurna dia di dunia inii!? Aagh!

"Haahh! Kiyomitsu, bagaimana bisa kau sebaik ini sih!? Aku bingung, otakmu terbuat dari apa, sampai kau bisa menjadi orang yang sangat baik seperti ini?" aku menutup wajahku dengan telapak tanganku.

"E-eh? Aku tidak sebaik itu.. aku biasa kok. Bukannya memerpanjang masalah itu malah merepotkan? Aku tidak peduli kok walau mereka mau mengancurkanku juga, aku pasti akan memaafkan mereka,"

Aku membuang napasku keras. Aku bingung mengimbangi pemikiran orang yang ada didepanku ini.

"Yaahh.. sudahlah," aku melepaskan telapak tanganku dari mukaku, "Yang penting kau masih sehat. Tak apalah kau tidak bekerja lagi di kantor. Yang penting, aku masih bisa mengunjungimu di café, kan, walau aku tidak bisa melihatmu lagi di kantor?" tanyaku sambil tersenyum.

Tiba-tiba, aku melihat wajahnya menjadi mendung lagi. Dia bergerak-gerak gelisah, sambil memainkan jari-jarinya. Aku merasa heran dan bingung melihat tingkahnya. Aku yakin.. masih ada yang dia sembunyikan.

"Kiyomitsu? Ada apa lagi?" tanyaku khawatir.

Dia tetap bergerak-gerak gelisah tanpa memberi jawaban. Hening menyelimuti kami.

"Anoo.." akhirnya dia buka suara lagi, "Masalah café.."

Aku mengangguk.

"Itu.. sudah tidak ada," katanya.

"Ha!? Maksudmu?" tanyaku, shock lagi.

"itu.. café ku.." dia terdiam, lalu melanjutkannya, "dibakar,"

Rasanya aku terkena serangan jantung mendadak saat mendengarnya.

"AP—APA MAKSUDMU, KIYOMITSU!?" aku bertanya, namun cenderung ke berteriak padanya.

"Ya.. begitu, hehe," katanya sambil tersenyum lemah padaku.

"Bagai—bagaimana kau bisa tahu kalau itu.. dibakar?" tanyaku lagi.

Aku masih belum percaya dengan insiden yang menimpa Kiyomitsu. Ini gila. Ini sudah bukan keisengan lagi. Ini kriminal!

"Aku.. sebetulnya waktu café ku kebakaran, aku masih ada di dalam. Ya kau tau kan kalau caféku juga merangkap sebagai rumahku?" aku mengangguk, "Aku sedikit panik saat itu, tapi aku mencoba tenang, dan menemukan jalan keluar dari café. Aku sekilas melihat kompor, sekering.. semua aman. Agak aneh kalau tiba-tiba caféku terbakar sendiri. Aku ingat, sebelum aku tidur, aku melihat jam, itu masih jam setengah sepuluh, tapi aku sudah tidur karena kecapekan. Untung saja, saat itu aku masih bisa sadar. Biasanya aku kalau sudah capek, tidak akan bisa bangun sampai pagi menjelang. Saat aku mendengar ada orang yang menggedor-gedor pintu café, aku langsung bangun. Syukurlah aku masih hidup, Cuma bajuku yang jadi tidak beraturan begini," kata Kiyomitsu sambil tetap memertahankan senyum di bibirnya.

"Kemudian, api baru bisa padam 3 jam kemudian.. sekitar jam satu pagi tadi. Aku melihat puing-puing café ku.. yah, agak sakit sih. Setelah aku berterimakasih kepada seluruh warga dan meminta maaf karena aku sudah mengganggu jam istirahat mereka, aku iseng berkeliling sekitar situ. Dan aku sekilas melihat.. ada orang yang mengawasi puing-puing café ku dari belakang. Namun aku mencoba membiarkannya. Namun secara kebetulan, aku juga melihat ada tempat penyimpanan bensin, yang besar disekitar situ. Saat aku mendekati tempat bensin itu, aku tiba-tiba disergap oleh orang-orang memakai baju hitam.. mukanya juga memakai slayer, aku tidak melihat mukanya. Dan mereka memukuliku, mencoba membuatku pingsan. Ya.. karena nanti kalau aku tetap sadar, mereka akan semakin melukaiku, aku berpura-pura saja pingsan. Dan berhasil! Yeay!" dia mengambil napas, lalu melanjutkan lagi, "Nah.. aku juga ingin meminta maaf kepada Kunihiro san nanti.. aku sudah menganggunya pagi-pagi buta begini. Secara tiba-tiba lagi. Aku bingung mau pergi kemana.. karena aku juga sudah merepotkan warga sekitar situ, aku sungkan kalau merepotkan lagi.. aku juga tidak punya teman dekat atau keluarga. Jadi aku memutuskan untuk kemari.. aku benar-benar pembuat masalah ya.."

Kulihat dia tersenyum lemah, aku melihat dia ingin menangis lagi.

Ini.. cerita Kiyomitsu.. sangat berat. Aku tidak menyangka semua kejadian yang hanya ada di film, benar-benar terjadi di kehidupan nyata, dan menimpa orang yang kusayangi. Aku bingung harus bereaksi apa. Aku juga merasa penderitaan Kiyomitsu ini adalah salahku.

Aku tiba-tiba berdiri dari tempatku duduk, lalu memeluknya. Aku merasa dia kaget dengan perlakuanku yang aneh ini.

"Ya, Yasu—"

"Maaf ya. Aku merasa ini adalah salahku. Aku sudah membuatmu terluka seperti ini, menderita seperti ini.." kataku, sambil mengeratkan pelukanku.

Aku merasa dia membalas pelukanku, dan dia menepuk-nepuk punggungku.

"Bukan salahmu. Aku tidak merasa ada orang yang salah dengan semua kejadian yang menimpaku ini. Aku menganggapnya ini hanyalah salah satu bagian dari kerasnya hidup kok. Aku yakin, ada hal yang baik dibalik penderitaan yang kurasakan ini," mendengar Kiyomitsu berkata seperti itu, aku mengeratkan lagi pelukanku, "Haha, contohnya, hal baik seperti ini.. aku bisa memasak di rumah idola yang dulu hanya bisa aku lihat dari jauh.. lalu aku bisa memeluk dan dipeluk idola yang sangat aku kagumi seperti ini.. lalu idola yang sangat aku sukai ini juga menganggapku sebagai teman. Ini sudah anugerah terbesar yang aku dapatkan! Jadi hal-hal yang kualami kemarin-kemarin dan tadi itu, kuanggap sebagai bayarannya! Sudahlah, tak apa,"

Aku sudah tidak bisa berpikir apapun. Seperti inilah Kiyomitsu. Hatinya sangat baik. Dia tidak bisa melihat niat buruk seseorang. Dia mudah dijatuhkan seperti ini. Setelah semua yang terjadi, dia yang dilukai, rumah dan café nya dibakar, dia kehilangan pekerjaan. Dia masih tidak bisa marah atau dendam.

Sudah kuputuskan.

Akulah yang harus melindungi Kiyomitsu. Tidak boleh ada yang melukai Kiyomitsu, walau hanya mencabut sehelai rambut dari kepalanya.

Kami tetap berpelukan, dan Kiyomitsu tetap menepuk-nepuk perlahan punggungku. Hingga kami mendengar isakan tangis dari luar ruang makan. Aku melepaskan pelukanku, kemudian Kiyomitsu memandangku.

Aku dan Kiyomitsu akhirnya berjalan perlahan menuju luar, dan kaget saat melihat Horikawa, Kanesada, Nagasone, dan Hachisuka ada di luar. Duduk manis didepan pintu ruang makan. Aku bingung saat melihat Hachisuka yang dipeluk oleh Nagasone, dan Kanesada yang memeluk erat Horikawa yang menangis.

"Kalian—kalian kenapa ada disini!?" tanyaku kaget. Aku melihat Kiyomitsu yang gelisah, dan wajahnya juga kaget.

"Kami tadi dipanggil oleh Horikawa. Horikawa menjelaskan keadaan Kashuu, dan tentu saja kami khawatir dengan apa yang terjadi pada Kashuu. Saat kami datang, kami melihat kalian berpelukan, dan karena tidak ingin mengganggu kalau kami tiba-tiba lewat, kami duduk saja disini. Dan.. tidak sengaja kami mendengar cerita Kashuu.. dan mereka menangis," jelas Kanesada.

Aku memasang senyum aneh kepada mereka,

"Bilang saja kalau kalian ini memang bertujuan menguping pembicaraan kami. Tidak usah sok tidak berdosa begitu," kataku.

Mereka cengengesan. Sialan.

"Kashuu.. hiks," aku mendengar Horikawa berbicara, kemudian memandang Kiyomitsu dengan mata sembab dan wajah penuh airmata, "Kalau kau mau.. tinggallah disini selama yang kau mau! Selamanya juga tidak apa. Tidak perlu merasa sungkan! Tinggallah bersamaku! Kau tidak perlu bekerja.. tidak usah bingung masalah apapun! Jadilah room mateku! Aku.. aku tidak mau.. kau mengalami hal seperti itu lagi.. hiks,"

Kiyomitsu memandang Horikawa, dengan pandangan antara kaget dan bingung.

Lalu, Kiyomitsu tersenyum, dan berkata,

"A-anoo.. tidak usah, Kunihiro san.. tidak apa. Nanti aku mau cari apartemen yang murah saja, dan pekerjaan.. aku tidak mau merepotkanmu. Terima kasih ya hari ini sudah mengijinkanku tinggal disini," Kiyomitsu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Horikawa.

Kurasa, setelah mendengar jawaban Kiyomitsu, Horikawa merasa lebih sedih, dan akhirnya melompat memeluk Kiyomitsu sambil menangis lebih keras. Kulihat Hachisuka juga terbawa suasana, dan akhirnya ikut memeluk Kiyomitsu. Kulihat Kiyomitsu menjadi bingung menenangkan mereka berdua.

Serius deh.

Ini yang kena musibah siapa, yang nangis dan sedih siapa.

Melihat pemandangan miris didepanku, aku sudah tidak tahan. Aku mendekati Kanesada dan Nagasone yang hanya duduk mematung daritadi, sambil memasang tampang kasihan dan bingung. Aku menepuk pundak mereka, menyadarkan mereka. Lalu aku membisiki mereka sesuatu, dan mereka tersenyum.

Aku rasa ideku memang bagus. Haha.

Aku memegang gagang pintu, dan membukanya. Lalu aku mendengar Kiyomitsu memanggilku,

"Yasusada, kemana?" tanyanya.

Aku hanya menoleh sambil tersenyum, dan berkata, "Ra-ha-si-a,"

Kemudian pergi bersama Kanesada dan Nagasone, sambil terus tersenyum.

Meninggalkan Kiyomitsu yang kebingungan dan masih kewalahan menenangkan kedua orang itu.

Aku pergi tidak begitu lama. Setengah jam kemudian, aku, Kanesada, dan Nagasone sudah berada di depan ruang Horikawa. Lalu Kanesada memencet belnya, kemudian langsung dibukakan oleh Horikawa yang matanya masih membengkak bekas menangis. Kanesada yang melihatnya langsung memeluk Horikawa, dan menggendongnya masuk. Aku dan Nagasone mengikutinya dari belakang.

"Sudah puas menangis, kalian?" Tanya Nagasone setelah kami sampai di ruang keluarga, yang dimana disitu ada Hachisuka dan Kiyomitsu.

Hachisuka hanya mengerucutkan bibirnya sambil menutupi matanya yang –kurasa—juga bengkak. Kiyomitsu hanya tersenyum canggung menanggapinya.

"Aku sudah memaksa Kashuu untuk tinggal denganku! Tapi dia tetap tidak mau! Aku hanya tidak mau dia kesusahan lagi! Yasusada, paksa dia!" perintah Horikawa di gendongan Kanesada.

"Oi. Jangan begitu," kata Kanesada sambil tersenyum sweatdrop ke Horikawa.

"Haha, terima kasih Kunihiro san.. tapi aku benar-benar tidak ingin merepotkanmu.. sudahlah, aku tidak apa-apa," kata Kiyomitsu lagi.

Aku menghela napas mendengar perdebatan ini.

"Sudahlah kalian. Dasar berisik," kataku sambil mengambil ikat rambut dari kantungku, dan memakainya, "Kiyomitsu. Kau harus menurutiku kali ini,"

"Eh?" dia memiringkan kepalanya lucu.

Aku mengeluarkan kunci dari saku bajuku, dan memberikannya pada Kiyomitsu.

"Ini adalah kunci dari kamar nomor 17 di lantai ini. Pakailah kamar ini untuk selamanya. Aku sudah membayarnya selama setahun, jadi kau tidak usah bingung," kataku sambil mengambil telapak tangannya, menaruh kuncinya, lalu menggenggam paksa tangannya.

"E-EH!? TA, TAPI—"

"Tidak ada tapi-tapian," kataku dengan nada memerintah.

"Ini, ini disini.. kamarnya sangat mahal! Mana bisa aku membiarkanmu membayarkan semuanya untukku!? Ini—ini gila! Aku—"

"Kiyomitsu," kataku sambil memasang tampang marah, dan kulihat Kiyomitsu langsung terdiam melihatku, "Kumohon. Kali ini saja turuti aku. Lupakan masalah mahal, balas budi, atau apapun tentang hal itu. Aku tidak mau membebanimu. Ini murni aku ingin membantumu, dan kau tidak perlu membalasnya. Kau sudah membiarkanku untuk melepaskan stress beberapa minggu terakhir ini, sudah menjadi balasan yang setimpal,"

Kiyomitsu masih terdiam. Kurasa dia bingung.

"..Kashuu," panggil Hachisuka, dan dia menoleh ke Hachisuka, "Aku juga memohon, terimalah. Kau teman kami. Aku tidak ingin temanku lebih menderita lagi,"

Kiyomitsu semakin bingung.

"Kashuu.. kumohon juga," tambah Horikawa, "Kalau kamu tinggal disini, aku juga senang, kau bisa membantu memasakkan sesuatu untukku!"

"Kashuu, terimalah saja. Percayalah padaku, uang bukan masalah untuk seorang Yamatonokami Yasusada, haha! Kau tidak usah merasa sungkan," tambah Kanesada lagi.

Kiyomitsu memandang semua orang dengan pandangan bingung, haru, dan berterima kasih. Dia memandangku, lalu aku membalasnya dengan tersenyum manis. Aku melihat airmata menetes dari mata merah seindah rubynya, lalu memegang erat kunci kamar yang kuberikan tadi, kemudian memeluknya sambil menangis.

"Terima kasih.. semuanya.. terima kasih, Yasusada," katanya sambil menangis, kemudian sedetik kemudian, dia mengangkat wajahnya yang basah karena airmata, dan tersenyum manis sekali, "Sekali lagi, terima kasih,"

Aku memegang dada sebelah kiriku.

Jantungku.

Kau masih sehat? Masih berdetak?

Untunglah masih.

"Sa-sama-sama," kataku sambil memalingkan muka dan membalik tubuhku melawan Kiyomitsu.

Mukaku memerah. Aku takut dia sadar.

Kemudian, aku teringat.

Oh iya, Kiyomitsu kan tidak punya baju. Bagaimana dia mau keluar? Mana mungkin pakai baju yang berantakan gitu kan? Dia juga bilang mau mencari kerja.. bajunya berantakan begitu. Bagaimana?

"Kiyom—"

Kata-kataku terhenti saat aku menoleh ke arah Kiyomitsu, dan melihat Nagasone memegang kancing atas baju Kiyomitsu yang berantakan itu. Nagasone mengutak-utiknya sambil tertawa, dan Kiyomitsu juga hanya pasrah sambil tersenyum. Kanesada, Horikawa, Hachisuka.. kenapa mereka semua juga tertawa?

Oke. Aku cemburu berat.

"..Oi. apa yang kau lakukan, Nagasone?" tanyaku langsung dengan nada mencekam.

Semua orang yang mendengarku langsung menoleh padaku sambil tersenyum sweatdrop.

"I-ini, kancingnya macet.. benangnya nyangkut, dan Kiyomitsu tidak bisa memerbaikinya sendiri," jelas Nagasone, yang tidak aku dengarkan, tentu saja.

"Eh? Iya, Yasusada.. tadi aku mencoba membuka baju ini, karena aku ingat Kunihiro san ingin memeriksa luka yang ada di badanku.. tapi, waktu aku buka, kancingnya macet. Apa kau tidak mendengar kami berbicara tadi?" Tanya Kiyomitsu polos.

Mana mungkin aku dengar, kan.

Aku kan memikirkan kebutuhanmu.

Lha dirimu malah sibuk membuka-buka bajumu didepan banyak orang.

Seandainya aku bisa berteriak disini sekarang, Kiyomitsu. Aku akan berkata,

Kiyomitsu, badanmu hanya boleh dilihatb olehku

..tapi aku mah siapamu. Memang aku punya hak untuk marah padamu?

"..Aku tidak dengar. Buat apa aku dengarkan?" tanyaku.

Aku memang kekanakan ya? Begini saja aku merajuk. Tapi-tapi lho! Memang kalau kalian jadi aku, kalian tidak akan merasa cemburu? Cemburu, kan!?

Aku melihat mereka mulai saling pandang. Kebiasaan mereka saat bingung menenangkanku kalau merajuk. Aku memang menyebalkan. Aku tidak pernah marah ataupun merajuk. Tapi sekalinya merajuk seperti ini, mau dibujuk dengan lambhorgini pun aku tidak akan peduli. Aku akan membaik seiring berlalunya waktu. Tapi itu lama. Tiga harian lah.

Hanya Kiyomitsu yang masih tenang, lalu berdiri, dan mendekatiku.

"..Yasusada pasti lelah ya, tiba-tiba badmood begini?" tanyanya langsung saat dia sudah ada didepanku, "Tadi Kunihiro san menyuruhku membuat teh, apa Yasusada juga mau? Siapa tahu bisa menenangkanmu," katanya sambil tersenyum didepanku.

Aku langsung menahan napasku, dan wajahku panas. Aku hanya bisa mengangguk menanggapinya. Kemudian dia tersenyum lagi, sambil meminta ijin ke Horikawa untuk memakai dapurnya, dan tentu langsung diperbolehkan.

Saat Kiyomitsu asik sendiri didapur, teman-temanku langsung mengelilingku.

"Maafkan aku, Yasusada. Bukan keinginanku, sumpah. Aku Cuma membantu," kata Nagasone yang masih takut aku merajuk.

Untungnya, begitu melihat senyum Kiyomitsu, aku merasa cemburuku dan rasa merajukku langsung hilang entah kemana.

"Aku tahu. Aku sudah tidak marah kok, Nagasone," kataku sambil tersenyum manis.

Setelah aku tersenyum, teman-temanku hanya bisa terdiam.

"..Kau tahu? Kau menakutkan sekarang. Setelah marah tidak jelas, kau langsung bahagia begini. Moodmu mirip roller coaster," tanggap Hachisuka.

"Bagaimana kalau kau langsung bilang saja ke Kashuu kalau kau menyukainya?" Tanya Horikawa langsung, dan langsung diamini oleh semua temanku.

Aku terdiam mendengar kata-kata Horikawa.

"A-aku juga ingin.. tapi ini terlalu cepat, kalian tahu? Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku? Ba-bagaimana kalau setelah itu dia malah jijik denganku? Bagaimana kalau dia ternyata anti dengan hal seperti itu?" kataku ragu.

Mereka terdiam setelah aku berkata begitu.

Kemudian, entah kenapa Horikawa menggembungkan pipinya imut. Yah, tapi buat aku biasa sih. Imutan Kiyomitsu.

"Apa yang kau lakukan, Hori—"

"KASHUU! AKU MAU TANYA!"

..Buset dah.

Ini anak kecil-kecil suaranya mantep. Kalau mau teriak, menjauh dulu dari aku dong. Ini masih didepanku, teriak-teriak. Motong kalimatku lagi. Hah.

"Hm? Mau Tanya apa? Aku sekarang masih menghangatkan pie ayam yang aku buatkan tadi.. sudah mau sarapan kah? Sebentar ya," kata Kiyomitsu sambil tiba-tiba keluar dari dapur.

Horikawa mendekati Kiyomitsu, kemudian memegang lengan Kiyomitsu. Horikawa memandang dalam mata Kiyomitsu, kemudian dia mengatakan sesuatu yang aku tidak menyangka akan keluar dari mulutnya.

"Aku dan Kanesada berpacaran. Aku laki-laki, Kanesada laki-laki. Apa kau sekarang jijik denganku?"

…Horikawa gila.

Kanesada hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menaruh tangannya di pinggang.

Kiyomitsu tentu saja memasang tampang kaget.

Memang kalian ga bakal kaget kalau tiba-tiba dibilangi hal seperti ini? Kaget kan?

Tapi aku juga tidak menyangka dengan balasan Kiyomitsu.

"Hee? Ternyata hal itu benar," Kiyomitsu malah tersenyum manis, "Aku sudah merasa sih, tapi aku kira itu Cuma fanservice atau memang kalian sudah dekat satu sama lain.. ternyata memang berpacaran. Selamat ya,"

Semua anggota Shinsengumi sweatdrop seketika. Lemotnya Kiyomitsu kumat. Sebulan aku berteman dekat dengan Kiyomitsu, aku menyadari kalau kadang ada suatu waktu dimana Kiyomitsu menjadi sangat lemot.

"..Anoo Kashuu. Pertanyaannya, apakah sekarang kau menjadi jijik dengan Horikawa?" perjelas Hachisuka.

"Eh? Kenapa jijik? Tidak kok," kata Kiyomitsu sambil memasang tampang bingung.

"Mereka sama-sama laki-laki tapi menjalin hubungan.." kata Nagasone.

"Hmh, kalau untukku sih itu tidak masalah. cinta kan tidak memandang gender. Aku tidak jijik dengan hal seperti itu," kata Kiyomitsu sambil tersenyum.

Entah kenapa, tiba-tiba hening menyelimuti kami berenam. Kiyomitsu kemudian memegang bajunya, lalu berkata,

"Yah aku rasa, kalian sudah menjadi temanku.. dan Kunihiro san juga sudah jujur padaku.. kalian juga sudah membantuku sampai seperti ini.. kurasa, aku juga harus jujur," kata Kiyomitsu tiba-tiba, "Aku sebetulnya juga seperti itu. Aku menyukai laki-laki maupun perempuan. Walau cenderung laki-laki sih. Apa kalian memandangku aneh, sekarang?" Kiyomitsu memasang senyum yang malu-malu.

Ah.

Aku rasa pintu harapan mulai terbuka untukku.


Hahh~ latihan hari ini melelahkan. Latihan drama lagi. Anehnya perempuan itu sudah tidak terlalu mendekatiku. Aku senang sih, tapi merasa aneh dan takut. Kadang-kadang dia memandangku dengan pandangan aneh. Antara takut, bersalah, dan.. bingung? entahlah. Bodo amat.

Oh iya. Masalah perjodohan.. aku sudah menolaknya sih. Tapi entah kenapa, ayahku dan ibuku masih saja mencoba meyakinkan keluarga perempuan itu kalau aku hanya malu. Aku sudah bingung mau bagaimana lagi. Entahlah. Aku capek mengurusi hal itu. Kalau aku dipaksa bertemu keluarga lagi, aku akan menolaknya mentah-mentah. Aku ingin sekali berteriak dan memberontak.. tapi bagaimana dengan karir idolku? Aku takut Kiyomitsu akan kecewa denganku kalau karir idolku dicabut. Dan aku juga tidak bisa membiarkan teman-temanku bersedih karena aku pergi.

Hah.

Perempuan itu menyusahkan.

Ah iya. Hari ini aku datang ke apartemennya Kiyomitsu lagi ah. Bawa apa ya? Ini sudah hampir seminggu Kiyomitsu tinggal di apartemen itu. Dia menjadi sangat dekat dengan Horikawa. Horikawa bercerita padaku bahwa setiap malam, Kiyomitsu selalu bercerita tentangku. Ya tentang live ku lah, apa lah. Semuanya. Haha. Aku rasa walau sudah menjadi teman dekat begini, Kiyomitsu masih mengagumiku sebagai idola. Aku senang sih.

Oh. Sabtu besok adalah waktunya live ya. Kiyomitsu.. ah, aku bawakan saja backstage pass yang dulu aku janjikan dan tiketnya sekalian. Aku rasa dia pasti akan senang. Lalu.. cheese cake kah? Dia sangat suka kue. Baiklah, aku akan mampir ke toko kue dulu setelah ini. Kiyomitsu, tunggu aku~

"Yasusada,"

Aku menoleh saat mendengar namaku dipanggil. Ternyata perempuan itu.

Sungguh.

Moodku langsung rusak seketika.

"Apa?" jawabku dingin. Aku benar-benar sedang tidak ingin diganggu.

"Bisa kita bicara sebentar?"

Aku menghela napasku. Tapi aku mengiyakannya.

Aku lalu mengikuti perempuan itu keluar ruangan. Dia ternyata menuntunku ke belakang gedung. Aku bingung kenapa dia mengambil spot disini. Tak berapa lama, dia berhenti.

"Kau mau bicara apa sih, sampai ke tempat seperti ini?" tanyaku langsung. Aku sebal sekarang.

"Yasusada. Kumohon untuk sekarang ini dengarkan semua perkataanku," katanya, "Dan jangan menyelaku. Biarkan aku berbicara dulu,"

"Apa yang akan kau bicarakan?" tanyaku.

"..Kenyataan,"

Ha?

Apa? Kenyataan apa?

"Jadi. Aku ingin meminta maaf kepadamu, dan tolong sampaikan kepada office boy itu.. Kashuu Kiyomitsu. Aku sudah melukainya. Aku jujur, akulah yang menyuruh para office boy lain untuk membullynya. Aku juga lah yang menyuruh orang untuk membakar café nya—"

Aku langsung membulatkan mataku.

Ternyata benar.

Pelakunya adalah perempuan ini! Dalang dari semua penderitaan KiyomitsuKU!

"BRENGSEK! APA KAU TAHU YANG KAU PERBUAT INI MERUSAK KI—"

"AKU TAHU, YASUSADA!" balasnya berteriak, yang membuatku diam, "Kumohon. Jangan menyelaku. Biarkan aku berkata semuanya. SEMUA,"

Aku diam. Aku mencoba untuk memendam semua emosiku. Aku menggenggam erat tanganku. Mencoba untuk tidak mencekik perempuan didepanku.

"Katakan semuanya padaku," perintahku.

"..Aku meminta maaf. Aku benar-benar merasa bersalah setelah itu. Aku bingung. aku ingin mengatakan semuanya kepadamu. Namun aku takut. Aku takut dengan karirku. Aku takut dengan karirmu. Aku bersikap seperti ini, bersikap seperti perempuan tidak punya etika didepanmu.. semua itu hanyalah akting untuk menyelamatkan karir kita. Percayalah padaku," katanya dengan mata yang berkaca-kaca, "Aku sebetulnya juga tidak menyukaimu seperti itu. Aku menyukaimu sebagai idol, namun tidak sampai menginginkanmu untuk menjadi pasangan hidupmu. Aku sudah mempunyai orang yang aku sukai, dan aku pun sakit dengan perjodohan ini,"

Aku terdiam mendengarnya. Iya aku shock. Kuakui.

"..Lalu? kenapa kau seperti itu? Lalu, karir kita? Apa? Aku tidak mengerti! " kataku.

"Aku sudah bilang kepadamu, aku akan jujur padamu. Jadi aku akan menceritakannya kepadamu. Keluargaku, sebetulnya mempunyai hutang yang sangat besar dengan keluargamu. Sangat besar, bahkan dengan aku yang bekerja sebagai artis seperti ini, sampai tiga puluh tahun pun tidak akan bisa lunas. Karena ini adalah hutang budi. Ayahmu pernah menyelamatkan hidupku dengan mengorbankan ginjal kakakmu—ya, aku tahu kau pasti tidak tahu kalau kau punya kakak. Kakakmu meninggal dua tahun sebelum kau lahir, dan ginjalnya disumbangkan kepadaku. Sehingga aku bisa hidup normal seperti ini," dia menarik napas, "Sehingga, saat ayahmu menginginkanku untuk menjadi menantunya.. keluargaku tidak bisa menolak. Namun ayahmu ingin aku lah yang seolah membujuk untuk menikahimu,"

Mendenar cerita perempuan didepanku, aku blank.

Aku bingung.

Se complicated itu kah sebetulnya perjalanan hidupku?

Ini apa? Apa ini kenyataan?

Terlalu drama untuk disebut kenyataan.

"Kenapa.. ayah sampai..?"

"Dia ingin keturunannya juga langsung menjadi artis, dan meneruskan darahnya. Dia tidak ingin kau bersama orang yang biasa-biasa saja. Jadi saat kau selalu menolak ajakanku, ayahmu menyuruhku untuk mengikutimu.. sampai ke café itu. Aku melihat kau bahagia didalam sana. Jujur aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu. Tapi.. kalau aku tidak melakukannya.. maka karirku sebagai artis akan dicabut.. dan aku akan dibuang dari dunia artis. Itu ancaman ayahmu. Tentu denganmu juga. Dia bilang, kalau aku tidak bisa membuatmu jatuh padaku, maka karirmu sebagai idol akan dicabut. Aku jujur, tidak mau hal itu terjadi,"

"Jadi.. yang menyakiti Kiyomitsu.. menghancurkan segalanya itu.. adalah..?"

Aku melihat perempuan itu menarik napas dalam, dan mengatakan sebuah kata yang masih mengejutkan untukku;

"Ayahmu,"

Aku tidak bisa berkomentar apapun.

Apa ini serius?

Benarkah?

"..kau bercanda," kataku.

Segila-gilanya ayah, aku tidak menyangka dia akan sampai seperti ini untuk mewujudkan ambisinya. Ini.. sudah lebih dari gila.

"Aku jujur, Yasusada. Aku pun siap mati kalau aku sampai berbohong," kata perempuan itu mantap. Aku tidak mendengar keraguan dalam kata-katanya.

Dia serius.

Dia jujur.

"Aku tentu sangat merasa bersalah, Yasusada. Oleh karena itu, aku ingin bilang kepadamu.. setelah drama ini, mungkin aku akan membuang diriku dari dunia artis. Aku tidak peduli karirku dicabut. Aku sudah merusak hidup orang lain. Terima kasih untuk semuanya sampai hari ini, dan maafkan aku. Kau boleh mengambil semua hasil kerjaku di drama ini, berikan pada Kashuu Kiyomitsu sebagai permintaan maaf," perempuan itu menunduk didepanku.

Ternyata. Perempuan ini tidak bersalah.

Yang bersalah adalah..

Ayahku.

Otak semua ini.

Otak dari penderitaan Kiyomitsu.

"Aku.. juga minta maaf," kataku, "Aku sudah bertingkah jahat padamu,"

"Tak apa. Oh iya. Setelah aku keluar dari dunia artis ini.. mungkin aku akan membuka restoran. Dengan orang yang kusayangi juga. Aku sudah bicara dengan orang tuaku. Mereka menyetujuinya. Kuharap kau mau datang bersama Kashuu Kiyomitsu," katanya sambil tersenyum.

Aku juga tersenyum.

"Tentu saja,"

Dia kemudian berpamitan, dan pergi meninggalkanku.

Aku melihat langit yang cerah.

Ayahku.

Aku masih belum percaya.

Tapi, kalau ini kenyataan? Aku harus bagaimana?

Ah. Baiklah.


TING TONG

"Iyaa~" aku mendengar suara Kiyomitsu dari dalam rumah, kemudian aku mendengar kunci apartemen dibuka, "Ah Yasusada. Aku hampir saja mau meneleponmu. Ini semua tiba-tiba datang berkunjung. Untung kau juga langsung datang. Ayo masuk,"

Aku masuk ke dalam, dengan menyeret koperku untuk masuk. Aku tidak peduli dengan pandangan teman-temanku yang sepertinya bertanya-tanya kenapa aku membawa koper. Aku menaruh koperku sembarangan, lalu aku membanting tubuhku di sofa.

Teman-temanku memandangku khawatir.

"Kau.. kenapa, Yasusada?" Tanya Kanesada, tapi tidak kudengarkan.

"Kiyomitsu," panggilku, dan membuat dia menoleh memandangku.

Aku menghela napas, dan memandang matanya serius,

"Aku akan tinggal bersamamu disini untuk sementara waktu. Lalu ikutlah denganku untuk pindah kerumahku yang satunya, dan ayo kita tinggal bersama selamanya,"

Aku memandang ke semua teman-temanku, yang memandangku dengan pandangan bingung. Horikawa malah menutup mulutnya. Kiyomitsu hanya memandangku bingung.

"Ya-Yasusada.. apa maksud—"

"Kiyomitsu," potongku, dan membuatnya diam, "Aku sebetulnya menyu—ah, tidak. Aku mencintaimu, Kashuu Kiyomitsu. Maukah kau terus bersamaku untuk selamanya?"


A/N

HAY ARUJI! WAHA! Maafkan saya yang baru up ya :') saya benar-benar sibuk dan galau.. banyak kerjaan.. tapi finally! Selesai :")

Sedikit curhat, kemarin saya.. pergi ke sebuah event di surabaya. Dan saya cosplay jadi Kashuu Kiyoyo gender bend lho aruji xD /lha terus/ siapa tau ada aruji yang melihat saya? /ngarep amat/

Hehe, ya to iu wake de~ apakah aruji semua puas dengan chap ini? xD semua yang nebak salah ya~ hueheheh /digebukin massa/

Terima kasih untuk semua aruji yang sudi membaca, menunggu, dan mendukung saya untuk terus up :") dan untuk aruji gichiaoi.. terima kasih sudah selalu mendukung saya :")

YAP! WAKTUNYA BALAS RESPON!

Hunshine Delight : huee arujii~ yang tenang QAQ *peluk aruji Hunshine* dia jadi OB karena tuntutan hidup, aruji.. mohon dimaklumi ya *dibacok Kiyoyo* Gimana, aruji? Sudah tidak penasaran kan? ^^ semoga puas! Ditunggu respon untuk chap ini xD *digampar*

Sweetberry . ak68: …aruji, sehat? Butuh dicium Mitchan? *lempar Mitchan* /ditebas/ Yasu itu.. cemburuan. Dasar anak-anak. Hmph! /ditebas anmitsu/ Yak, sudah tau kan Kiyoyo kenapa, aruji? ^^ semoga puas yaaa :))

Noir Lumina: Arujii~ udah tau kenyataannya kan? Jangan ngamuk, aruji Noir :") Kiyoyo juga udah maafin kok x'D *peluk aruji Noir* gimana? Maaf ya kalau chap ini kurang panjang QwQ gara-gara sibuk.. sempet kena WB huaaa *nangis* yap, semoga puas!

Guest: Udah tau kan si kacang (re: cashew) /ditebas yasu/ diapain? Huehe :3 yup, sudah up aruji~ semoga puas~

Diva. Ariendita: …err.. antara benar dan salah, aruji x"D tapi terima kasih sudah sudi membaca, sampai nganalisis buat ff ini, aruji Diva!^^ bagaimana? Sudah puas?

Minna, Arigatou ne~ saya harap masih ada yang sudi memberi respon untuk ff karatan(?) ini.. :")

Oh iya.. kemungkinan saya akan up lama lagi, maaf.. kerjaan belum selesai, ini saja nyari-nyari waktu ditengah padatnya arus(?) maafkan saya :")

Have a nice night!

Salam,

Satou Ayumu