Genre: Drama/Romance?
Pairing: Taoris/Kristao/Fantao
Cast: Huang Zitao
Wu Yifan
The Rest of EXO members
Rate: T
Summary: Bukan salah Yifan jika dia dilahirkandengan segala kelebihan yang dimilki. Diatampan? Jelas iya. Dengan rambut pirangmencolok bagaikan tokoh utama manga yangkeluar dari komik. Sayangnya, banyak orangmerasa salah paham dengan ketampanan yangdimilikinya terutama karena Bitch face-nya."Sungguh Hyung. Dia seperti cuter version dariwajah bitchy yang kau miliki itu – ParkChanyeol.
Warning: OOC, Boyslove, alur kecepatan, typo(S)bertebaran, cerita amburadul dll.
Italic n bold = 'Flashback'
Cuter version?
.
.
Silahkan tinggalkan page ini jika anda tidak
berkenan
Dengan para cast dan warning-nya
.
Menerima Segala kritikan dan saran yang
bersifat membangun
Tanpa menghancurkan semangat dan imajinasi
author
.
Enjoy the story
.
.
.
Menurut Yifan, Zitao tidak berubah. Dia tetap polos dan menggemaskan seperti saat terakhir mereka bertemu. Dulu memang rambutnya berwarna hitam legam, dan sekarang dengan rambut blonde-nya Zitao terlihat semakin cantik.
Like a barbie
Setelah melihatnya, Yifan tidak heran jika pemuda manis di depannya ini agak mirip dengannya, apalagi dengan warna rambutnya. Sekilas memang mirip. Orang lain bahkan ada yang menganggap mereka seperti saudara ataupun anak kembar, tapi hal itu tidak berlaku untuk Yifan karena baginya sosok Zitao sudah sejak dulu menempati tempat tersendiri di hatinya. Bukan sebagai saudara tentu saja. Ikatan yang lebih dari itu.
Tapi mengetahui Zitao seolah-olah tidak mengenal dirinya membuat Yifan kecewa, dan bodoh. Karena yang dia lakukan sekarang hanya bisa membatu juga terdiam menatap sosok yang saat ini berdiri tidak jauh darinya dengan ekspresi tidak percaya. Zitao... Benar-benar Melupakannya? Panda kecil-nya ini tidak mengingat dirinya? Apa waktu 6 tahun terlalu lama, hingga membuat sosok yang dikasihinya dari dulu ini tidak mengenal dirinya lagi?
Setelah berdebat dengan hatinya, Yifan memutuskan untuk melangkah mendekat membuat sosok Zitao mengerutkan dahi-nya bingung.
"Tao-er..."Lirih Yifan.
Deg
Ini untuk pertama kalinya Zitao merasa ada sebuah perasaan asing yang familiar. Perasaan rindu. Padahal dia yakin tidak mengenal pemuda di depannya ini. Tapi kenapa ada setitik keinginan untuk sekedar memeluknya dan menghilangkan rasa asing yang dirasakannya itu?
"Fanfan-ge merindukan little panda."Lanjutnya pelan. Tangan Yifan kemudian terangkat kedepan dan mengelus dengan lembut poni panjang yang dimiliki Zitao.
Kyungsoo yang sedari tadi melihat adegan yang tidak jauh darinya itu hanya menatap bingung. Tidak mengerti dengan kejadian yang tiba-tiba saja terjadi di depannya.
"Siapa?"Ulang Zitao lagi. Sosok yang mirip panda itu mulai mundur ke belakang, ketakutan. Bagaimana tidak takut jika orang asing menyentuhmu tanpa izin? Apalagi sosok pemuda tinggi di depannya ini memiliki wajah yang mencurigakan.
"Kau akan mengingatnya nanti."Setelah mengatakan hal itu, Yifan tersenyum sangat tipis ke arah Zitao dan melangkah menjauh. Meninggalkan dua sosok yang memandang punggung tegapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.
.
.
.
"Hihihi... Naga ini mirip dengan Fanfan-ge."Kata Zitao kecil dengan senyum lucu tertoreh di bibir mungilnya.
"Kenapa gege kau samakan dengan Naga, Tao-er?"Tanya Yifan. Anak berusia 12 tahun itu menatap Zitao kecil bingung.
"Iya... Gege seram dan besar seperti Naga."Balas Zitao polos. Bocah menggemaskan dengan pipi chubby itu mengangkat boneka Naga yang dilihatnya kemudian mensejajarkannya dengan Yifan.
"Lihat?"Lanjutnya dengan sumringah. Sedangkan Yifan hanya mengulum senyum dan menatap bocah di depannya dengan lembut.
"Jadi Tao-er ingin membeli boneka Naga apa Panda?"
"Boleh Tao membeli keduanya? Tao juga suka Naga karena mirip dengan Fanfan-ge."Jawab Zitao kecil lirih. Dia mulai memeluk erat boneka Panda yang sedari tadi dibawanya dan menatap boneka Naga yang dipegangnya dengan penuh harap.
Yifan menghela nafas kecil.
"Tidak... Tao-er sudah janji dengan gege untuk membeli satu boneka."Yifan mengambil boneka Naga dari tangan Zitao kecil, membuat ekspresi bocah cilik itu menjadi sendu.
"Jangan sedih nee... Kalau gege punya uang lagi, gege akan membelikan Tao-er boneka Naga."Ucapan Yifan itu membuat Zitao langsung tersenyum lebar.
Yifan yang melihatnya ikut tersenyum tipis. Lega karena bocah cilik di depannya tidak sedih lagi. Yifan benci melihat Zitao sedih, apalagi menangis. Karena entah kenapa Yifan merasakan sakit jika melihat Zitao menangis.
"Gege janji?"Tanya Zitao penuh harap. Yifan mengangguk kemudian mengelus poni bagian depan rambut hitam Zitao dengan lembut.
"Kajja, nanti kita terlambat sampai rumah."
Dua namja cilik berseragam elementary school itu melangkah ke arah kasir dengan tangan bertautan.
.
.
.
Luhan bingung. Dia khawatir dengan adik sepupunya yang entah kenapa berubah menjadi aneh sejak masuk ke mobil. Padahal tadi waktu istirahat sosok mirip panda itu baik-baik saja dan terlihat ceria. Apa ada sesuatu terjadi ketika dia tidak ada? Bagaimanapun, Luhan berjanji akan menghajar siapa saja yang telah berani mengusik adiknya. Awas saja nanti.
"Baby kenapa eoh?"Tanyanya hati-hati. Pemuda cantik itu melirik sang sepupu dari balik kemudi mobilnya. Mereka saat ini perjalanan pulang menuju rumah.
"Gege..."Panggil Zitao pelan. Pemuda itu melamun ke arah jendela. Luhan menjadi makin khawatir.
"Kenapa? Apa Taozi sakit? Apa ada yang mengganggumu di sekolah? Katakan pada gege."Tanya Luhan bertubi-tubi. Fokus Luhan menjadi terbagi antara menyetir dan sosok di sampingnya.
"Tao tidak apa-apa gege... Emm apa Tao boleh tanya sesuatu?"Pemuda manis mirip panda itu mulai menatap Luhan taat. Jangan lupakan ekspresi polosnya yang dari dulu selalu membuat Luhan gemas.
"Tanya apa eoh?"
"Kris... Siapa?"
Deg
"Kenapa Taozi menanyakannya?"Balas Luhan. Pemuda itu mengeratkan tangannya pada setir mobil.
"Tadi waktu di koridor, dia memanggil Tao. Dan Soo-hyung memberi tahu Tao bahwa namanya Kris."Jelas Zitao terdengar bersemangat. Hal itu membuat Luhan mengeraskan ekspresinya.
"Dia bukan siapa-siapa, baby-zii..."Respon Luhan singkat.
"Tapi, Sepertinya dia mengenal Tao."
"Sudahlah... Kau tidak perlu memikirkannya."
"Apa gege mengenal Kris?"
"Sudah gege katakan. Dia bukan siapa-siapa, Zitao!" Tanpa sadar Luhan menaikkan nada ucapannya, membuat Zitao melebarkan matanya terkejut. Pemuda itu menatap Luhan ketakutan.
Apa Gege-nya marah?
"Ba-baby... Maafkan gege, nee? Gege tidak bermaksud membentakmu."Jelas Luhan merasa bersalah. Dia menjadi lepas kendali dan tanpa sadar membentak Zitao. Padahal dia tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya tidak suka Zitao terus menyebut Kris. Luhan tidak mau melihat sepupu tersayangnya terluka. Lagi.
"Dengarkan gege. Kris itu orang jahat. Jadi baby-Tao tidak boleh dekat-dekat dengannya, arraseo?" Luhan sebisa mungkin menghaluskan suaranya. Dia tahu Zitao anaknya sensitive dan perasa, dia takut nanti pemuda manis itu malah menangis.
"Kris orang jahat?" Ekspresi Zitao berubah panik. Ya tuhan, jadi orang yang tadi ditemuinya adalah orang jahat? Pantas saja wajahnya mencurigakan seperti itu.
"Nee... Kau lihat-kan, wajahnya mengerikan." Kata Luhan dengan nada meyakinkan. Raut wajahnya juga berubah serius. Jujur, hal itu membuat Zitao sedikit takut. Pemuda itu mulai menggigiti jari kukunya dengan wajah pucat pasi.
"Gege benar. Tadi Kris itu melihat Tao seakan-akan ingin memakan Tao. Apa dia jangan-jangan kanibal?" Cemas Zitao. Dia semakin cemas saat Luhan mengangguk pelan dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat.
"Jadi.. Mulai besok jangan dekat dengannya lagi, oke?" jelas Luhan. Zitao mengangguk patuh.
Mobil mereka akhirnya berhenti di sebuah rumah mewah dengan gaya aksiterktur modern. Zitao yang sudah tidak sabar langsung membuka pintu mobil dan berlari ke dalam rumah.
"Mama... Tao kangen." teriaknya.
Sedangkan Luhan hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian menutup matanya sejenak.
'Lebih baik seperti ini.'Batinnya. Dia membuka matanya dan keluar dari mobil.
"Ya, dia akan baik-baik saja selama orang itu tidak mengganggu."Lanjutnya pelan.
.
.
.
"Sepertinya Yifan-hyung mulai gila." Chanyeol mendesis lirih saat matanya sejak tadi awas memperhatikan gerak gerik sahabatnya.
"Jangan dipedulikan. Jarang-jarang melihat Kris-hyung seperti itu." Sehun menyaut.
"Mungkin obatnya sudah mulai habis." Tambah Kai dengan sok polosnya.
"Kenapa kalian asyik ngrumpi, hm? Lebih baik kalian lari keliling lapangan 15 kali." kata Kris dingin dan penuh penekanan sana sini.
Mereka bertiga yang mendengar suara berat Kris membelalakkan mata syok. Gila. Bagaimana mungkin dia bisa mendengar percakapan mereka dari jarak sejauh itu? Kris bahkan berada di pinggir lapangan basket sedangkan mereka tengah pemanasan di tengah lapangan.
"Kenapa Kris-hyung ada di sini sih? Bukannya dia sudah enggan berurusan dengan klub basket lagi?" gerutu Sehun yang langsung berlari keliling lapangan dengan yang lain atas perintah Kris.
"Ini gila! Bahkan Minho-hyung ketua klub basket kita tidak bisa membantah." balas Kai yang berlari di belakang Sehun.
"Bagaimana dia sanggup membantah jika Kris-sunbae sudah seperti pelatih bagi kita? Bahkan Jung-saem begitu percaya padanya." dengan ngos-ngosan Myungsoo ikut menambahi.
"Dan kenapa aku harus ikut lari bersama kalian?" Ratap Chanyeol. Sebenarnya tadi dia datang ke lapangan basket hanya untuk melihat mereka latihan. Tapi... Kemudian Kris datang entah darimana dan menyuruh dia untuk ikut bergabung. Untung dia sudah mengganti baju seragamnya dengan kaos. Poor Chanyeol.
"BERHENTI MENGOBROL!" Teriak Kris dari seberang lapangan. Mereka dengan sigap mempercepat larinya takut-takut Kris kalap dan menyemburkan api.
.
.
.
Katakan Kyungsoo jengkel dengan kekasihnya, Kai. Dia bilang ingin pulang bersama. Tapi tadi dengan sok polosnya Kai mengatakan bahwa hari ini dia ada jadwal latihan basket. Kyungsoo ingin sekali menggampar wajah tampan(mesum)-nya jikalau dia tidak ingat bahwa Kai adalah kekasih tercintanya. Kalau tahu begini, lebih baik tadi dia pulang dengan Luhan dan Zitao. Bukannya terjebak di ruang osis dengan dua orang yang malah asyik bermesraan.
"Bisa kalian berhenti berbuat mesum?" Sahutnya datar. Dia sudah mulai jengah dengan tontonan yang tidak jauh darinya.
"Kami tidak berbuat mesum, Kyungsoo." Balas pemuda manis ber-dimple. Dia beranjak menjauh dari pemuda satu-nya dan duduk di sofa dekat Kyungsoo.
"Terserah... Jadi kapan kau pulang, Suho-hyung?" Tanya Kyungsoo to the point. Dia memutar bola matanya jengah kemudian menatap pemuda lain yang tengah duduk di kursi ketua OSIS.
"Ehm... Sebenarnya Adikku sayang, aku masih ada rapat setelah ini." balasnya dengan senyum canggung. Dia mulai berkeringat dingin saat melihat Kyungsoo memandangnya dengan tajam.
"Bagus. Aku sudah disini lebih dari 30 menit untuk menunggumu yang malah asyik berbuat mesum dan kau bilang ada rapat?" Kata Kyungsoo panjang lebar.
"Bagus sekali Kim Junmyeon." Lanjutnya sinis. Setelah mengatakan hal itu, Kyungsoo beranjak dari duduk manisnya dan melangkah ke arah pintu.
"Katakan selamat tinggal dengan semua koleksi majalah dan VCD XX-mu yang selama ini kau sembunyikan."
Suho melebarkan matanya syok.
"Karena setelah ini aku akan memberikan semua koleksi itu ke eomma-kim."
Kyungsoo ber-smirk ria meninggalkan ruang osis.
Suho membeku.
"TIDAKKKK... KYUNG-SOO..." teriaknya frustasi.
.
.
.
Zitao sudah mandi dan makan, dia bahkan sudah meminum obatnya. Saat ini dia tengah bergeluntungan di ranjang miliknya dengan boneka Panda super besar di pelukannya. Dia bosan dan dalam mood ngambek. Dia ingin pergi ke luar untuk membeli eskrim tapi mama dan Luhan-gege nya melarang. Dengan alasan karena kemarin dia sudah makan es krim. Memangnya kenapa jika hari ini dia makan es krim lagi?
"Mama dan lulu-ge keterlaluan..." teriaknya.
"Pokoknya Tao tidak mau keluar kamar sebelum Tao makan es krim." lanjutnya dengan bibir mengerucut lucu. Dia mulai tidur telentang dan menerawang langit-langit kamarnya.
"Apa Kris itu... yang dibilang mirip dengan Tao?" monolognya.
"Tapi menurut Tao dia lebih tampan. Tao-kan tidak tampan." dia beranjak dari kasur dan berdiri di depan cermin besarnya.
"Iyakan?" tanyanya entah pada siapa. Di depannya sekarang terdapat bayangan dirinya sendiri. Seorang pemuda berambut blonde dengan poni panjang menutupi kening, mata tajam dengan lingkaran hitam seperti panda, hidung bangir dan bibir kucing lucu berwarna soft pink lembut.
Zitao mengerjapkan matanya polos.
"Sayang... Kau boleh memakan es krim. Jangan ngambek lagi nee?" ketukan pintu kamarnya terdengar.
"Benarkah?" teriaknya senang dan membuka pintu kamarnya.
"Jangan banyak-banyak, arra?" Mama-huang mengingatkan.
"Nee... Mama..." jawabnya girang kemudian berlari ke bawah. Meninggalkan mama-nya yang saat ini menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah childish putra tunggalnya.
.
.
.
.
.
T.B.C.
Note : Taoris-nya cuma Flashback untuk chap ini… yang menunggu moment swe33t mereka sabar yah... yup! Taoris memang sudah kenal dari kecil. Tapi karena ada sesuatu hal mereka pisah. Sankyuu buat kalian kalian semua yang telah membaca, review, follow dan Fav. Saranghae~ sini tak kasih cium satu-satu :3
Bagaimana dengan chap ini? Silahkan berikan komentar kalian di kotak repiew.
See u next time~
Review?
