Part 3: The Game has Already Started

Angin sore yang lembut yang berhembus ke tiga saint muda yang sedang berlari-lari dalam tujuan dari angkasa nun jauh disana. Dedaunan bercampur kelopak mawar yang jatuh di tangga-tangga kuil Sanctuary menambah hawa sejuk dan menyenangkan pada sore itu. Tiba-tiba salah seorang dari mereka membuka percakapan yang memecahkan keheningan saat mereka berlari

"Regulus, Yato, pertama kita akan ke Kuil Athena." Kata Tenma yang masih berlari.

"Kenapa kita tidak ke kuilnya Albafica-san dulu?" Tanya Regulus.

"Ah, itu nanti saja."

"Huh, bilang saja mau bertemu Athena-sama." Yato berbisik ke Regulus.

"Iya benar, bilang saja dia mau bertemu dengan Athena-sama." Regulus berbisik balik.

"Apa kalian bilang?" Kata Tenma dengan nada agak tinggi.

"Ah tidak, kami tidak berkata apa-apa. Hehehehe…" Mereka berdua tertawa kaku."

"Lewat sini." Tenma langsung loncat diikuti keduanya."

Akhirnya setelah beberapa saat, mereka sampai di kuil Athena. Sunyi, suci dan damai, itulah Kuil Athena. Kuil yang Suci dan tak bernoda.

"Sasha!" Teriak Tenma "Sashaaa…" Tenma berkeliling.

"Itu dia Athena-sama." Kata Regulus menunjuk ke luar taman yang disertai Tenma yang langsung berlari ke arah taman diikuti dengan Regulus dan Yato

"Sasha!"

"Ah, Tenma. Ada apa, Tenma? Apa ada sesuatu?" Tanya Sasha.

"Ng…" Tenma bingung, karena Sasha, Pope dan Sagitarius Sisyphus seperti sedang bersiap-siap akan pergi. "Kalian mau kemana?"

"Kami ada urusan dinas. Ada sesuatu yang penting sampai membuat kalian kemari?" Tanya Sisyphus.

"Begini Sisyphus-san, kami ingin bertanya. Apakah kemarin kalian mendengar suara tangisan bayi?" Tanya Tenma

"Tangisan bayi?" Pope bingung

"Saya tidak mendengarnya." Jawab sang Pope

"Rasanya saya tidak mendengarnya." Jawab Sisyphus

"Aku juga tidak mendengar suara tangisan bayi. Memangnya ada apa, Tenma?" Tanya Sasha yang bingung.

"…" Tenma menoleh kearah Regulus dan Yato, kemudian disambut oleh gelengan kepala Regulus. "Tidak ada apa-apa." Jawab Tenma. "Kalau begitu terima kasih Sasha, Sisyphus-san dan Pope-sama." Kata Tenma yang langsung pergi meninggalkan kuil Athena diikuti Regulus dan Yato.

"Berarti tinggal satu lagi…" Kata Tenma

"Albafica-san?" Tanya Regulus

"Iya, ayo kita kesana." Kata Tenma yang langsung berlari dengan Yato dan Regulus menuju kuil Pisces

Akhirnya mereka sampai di kuil Pisces. Sama seperti Kuil Athena, tetapi bedanya kuil ini sangat sepi, karena pemiliknya sering berada di taman mawar.

"Albafica-san." Panggil Tenma mencari sekeliling di luar Kuil

"Ada keperluan apa kalian datang kemari?" Jawab Albafica yang datang dari taman mawar di Kuil Pisces.

"Bolehkah kami bertanya sesuatu?" Kata Regulus

"Bertanya tentang apa?"

"Apakah kemarin Albafica-san mendengar suara tangisan bayi?" Tanya Yato

"Suara tangisan bayi, ya? Hmm… iya, aku mendengarnya tadi malam. Sebelum Manigoldo datang ke Kuil ku. Memangnya ada apa?" Tanya Albafica dengan wajah bingung.

"Apa?" Tenma, Regulus dan Yato kaget dan wajahnya memucat

"Kau serius, Albafica-san?" Tanya Regulus yang kaget

"Ya" Albafica mengangguk.

"Kita harus memberitahu yang lain." Ujar Tenma

"Maksudmu?" Tanya Albafica yang bingung.

"Nanti kuberitahu, Albafica-san." Kata Regulus. "Ayo Tenma, ayo Yato." Regulus yang langsung pergi dari Kuil Pisces dan mencari Degel, Kardia, Aspros, dan Defteros.

"Wah, gawat… Jangan-jangan nanti Albafica-san…" Tenma khawatir

"Hush! Tenma, jangan berkata yang tidak-tidak! Dia itu kuat!" Bentak Regulus

"Tapi, kan…" kata Tenma

"Sudahlah Tenma, aku sedang tidak ingin membicarakan ini dulu. Aku malas." Ujar Regulus yang mukanya cemberut, tetapi tampak sedih karena matanya tampak berkaca-kaca.

Tenma, Regulus, dan Yato mencari keberadaan Degel, Kardia, Aspros dan Defteros dalam hening dan hampa dalam diam, karena mereka tau, kameradnya yang satu ini sangat terancam. Kamerad yang paling mereka sayangi akan… Ah sudahlah. Berat untuk mengatakannya. Dan akhirnya ketiganya menemukan Aspros, Defteros, Degel dan Defteros sedang berada di Kuil keempat, Kuil Cancer.

"Yo! Regulus, Tenma dan Yato." Kata Defteros melambaikan tangannya. Dan ketiganya berhenti di depan Kuil Cancer.

"Yo Regulus, jadi bagaimana, apakah mereka mendengar suara tangisan bayi?" Tanya Defteros.

"…" Regulus membuang muka, mata nya sudah sangat berkaca-kaca seakan mau mengeluarkan airmata.

"Regulus…" Degel memegang pundak Regulus dan menatap wajahnya. "Mereka mendengar suara tangisan bayi, atau tidak?" Tanya Degel menatap matanya.

"Enghh…" Regulus makin membuang muka. "Jangan tatap aku!"

"Regulus kau ini…" Perkataan Defteros terputus, karena Aspros menutup mulutnya

"Regulus… Apakah ada di antara mereka mendengar suara tangisan bayi?" Pertanyaan Degel kali ini membuat hati Regulus terluka semakin perih. Ingin rasanya dia menangis, mengetahui kameradnya…

"Enghh…" Air mata Regulus mulai keluar.

"Hmphh…" mata Tenma juga berkaca-kaca, dia memalingkan mukanya. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan sobatnya itu.

"Regulus…" Degel memegang kedua pundak Degel dan setengah berlutut di hadapan Regulus, kemudian menatap Regulus. "Kalau mau menangis, menangislah… Tak ada yang melarangmu menangis." Degel tersenyum

"Huwaaaa…" Regulus menangis dan langsung memeluk Degel. Dia merasa kalau senyumannya Degel saat itu sangat lembut selembut senyum tulus Albafica yang pernah dia lihat.

"Keluarkan lah semua perasaanmu, entah itu sedih atau senang atau marah. Keluarkan." Perkataan teduh yang dikeluarkan Degel itu, mengingatkan Regulus pada Albafica.

"Hmphh… " Tenma juga ikut menangis, tapi tidak sekencang Regulus. Entah kenapa, dia paling tidak bisa melihat sobatnya ini menangis.

Kardia dan Manigoldo sependapat. Dia paling tidak suka orang mengulu-ulur waktu dengan adegan tangis menangis seperti ini. Biarpun Regulus seorang Goldsaint, dia tetaplah masih anak-anak, dia juga masih mempunyai perasaan. Regulus mengingat apa yang terjadi di masa lalu, mengingat ketika dia tidak mampu dalam latihan tiba-tiba Albafica datang dan tersenyum, mengelus kepalanya walaupun tangannya menggunakan sarung tangan supaya Regulus tidak terkena racunnya. Kadang Albafica memberikan trik supaya mempermudah latihannya. Dan saat sudah menjadi Gold Saint, ia harus mengerjakan apa yang menjadi tugasnya sebagai seorang Goldsaint. Kalau Regulus tidak tahu apa yang harus dilakukannya, biasanya dia bertanya pada pamannya. Ketika pamannya sedang tidak bekerja dengannya, dia bingung tugas yang ia kerjakan, dan disaat itu Ksatria Mawar datang dan membantunya, dan tersenyum dengan tulus pada Goldsaint termuda di Sanctuary. Walaupun dia tidak sedekat Albafica dengan Manigoldo atau Albafica dengan Defteros, tetapi Regulus menyayangi Albafica sebagai kakaknya, sama seperti Gold Saint yang lain. Ketika dia tahu, bahwa permainan yang dia mainkan membawa petaka bagi Albafica, Regulus menjadi merasa bersalah. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Degel yang memeluk Regulus mengetahui perasaan apa yang dialami, yaitu marah bercampur sedih. Dia tahu bahwa Regulus menyalahkan dirinya sendiri, dia juga tahu bahwa Regulus sedih, salah seorang dari yang mereka sayangi akan terkena bencana yang hebat. Tenma menangis dan menutupi kedua matanya, Yato yang daritadi bingung apa yang terjadi, dia tidak menangis. Yato menenangkan Tenma. Suasana makin haru. Kardia dan Manigoldo tidak suka adegan seperti ini. Manigoldo menghela napas dan kembali ke kuilnya. Kardia memberi tanda ke Degel, supaya Degel mengurus Regulus. Kardia juga memberi tanda ke Yato, supaya dia ikut dengan Kardia ke dalam kuil Cancer menjelaskan apa yang terjadi. Tenma yang tau akan hal itu, segera menghapus air mata nya dan segera mengikuti Yato. Aspros dan Defteros juga mengikuti Yato masuk ke dalam Kuil Cancer dan menceritakkan apa yeng terjadi

"Aku malas dengan suasana haru yang berkepanjangan." Manigoldo masuk ke ruang utama dan mempersilahkan mereka duduk. "Mari duduklah, kita tidak boleh berbicara sambil berdiri, aku tahu, kalian pasti lelah." Manigoldo langsuung duduk disebelah Kardia, dan disebelah kiri Kardia ada Yato

"Terima kasih Manigoldo." Kata Aspros yang duduk di antara adik kembarnya dan Tenma.

"Jadi, Bisa kah kau ceritakan yang sebenarnya terjadi Yato?" Tanya Kardia

"Jadi, tadi kita pergi ke Kuil Athena, di sana ada Athena-sama, Pope-sama, dan Sisyphus-san. Mereka bilang dia tidak mendengar apa-apa. Ketika kita sampai di Kuil Pisces dan bertemu dengan Albafica-san, dia bilang dia mendengar suara tangisan anak bayi sebelum Manigoldo-san datang ke kuilnya." Kata Yato

"Kemarin kau datang ke kuil Albafica, Manigoldo?" Tanya Defteros ke Manigoldo

"Ya, hanya untuk berkunjung, aku bosan bila berada di kuilku sendirian dan berbicara dengan arwah. Lebih bagus jika ada teman." Jawab Manigoldo santai

"Kenapa kau tidak datang ke tempat lain?" Tanya Defteros dengan nada meninggi

"Bosan." Jawab Manigoldo santai

"Kau…" Kata Defteros

"Sudahlah! Bukan itu masalahnya!" Aspros menengahi keduanya sebelum terjadi adu mulut

"Jadi, Albafica akan tidur panjang?" Tanya Manigoldo

"Eh, Manigoldo-san tahu?" Tanya Yato yang bingung

Tap tap tap

Degel masuk sambil menggandeng tangan Regulus, keadannya seperti orang yang lelah dan juga mengantuk. Degel memberi tanda kalau Regulus sepertinya lelah, Manigoldo mengangguk dan menunjukkan kamar tidurnya. Kemudian Degel mengantar Regulus masuk.

"Baik, lanjutkan." Kata Aspros

"Eh, Manigoldo-san tahu tentang hal itu?" Tanya Yato yang bingung

"Mereka sudah memberitahuku." Jawab Manigoldo sambil menunjuk Aspros dan Defteros. "Oh iya, bagaimana kalau aku pergi ke Kuil Albafica dan membuat dia tidak mengantuk. Jika mengantuk dia mungkin akan tertidur panjang. Jika dia tidak mengantuk, dia tidak mungkin akan tidur panjang. Sementara kalian menyelesaikan permainan ini. Bagaimana?" Usul Manigoldo

"Ah, usul yang bagus!" Kata Defteros. "Alangkah lebih bagus, jika aku yang kesana."

"Tidak Defteros! Kau menemani kakakmu disini!" Kata Aspros

"Huh…" Defteros membuang muka. Tampaknya Defteros kesal

"Tapi apakah itu masuk akal?" Tanya Tenma yang kemudian membuka mulut selama dari tadi dia diam.

"Hmm… Aku tidak tahu. Tapi apa salahnya mencoba?" Manigoldo beranjak dari kursi nya dan mengambil laptop, charger, dan handphone nya. "Aku akan bawa ini untuk memberitahu apa yang terjadi." Manigoldo pergi ke pintu dan berhenti kemudian menoleh ke arah Kardia, Yato, Defteros, Aspros dan Tenma. "Semoga ini berjalan lancar, dan semua selamat." Manigoldo tersenyum dengan khas nya dan kemudian pergi ke Kuil Pisces

"Tumben sekali ya Manigoldo tersenyum." Kata Yato

"Mungkin senyumnya itu untuk Albafica." Kata Kardia tersenyum jahil dan dia tahu bahwa Defteros sedang cemberut.

"Bagaimana kalau kita menghubungi Milo untuk memberitahu ini." Kata Kardia. "Siapa tau dia bisa membantu kita."

"Ah boleh juga usulmu. Tapi diantara kita tidak ada yang membawa laptop." Kata Aspros

"Ah iya, kalau begitu aku yang ambil. Aspros, punyamu akan kuambil" Kata Defteros yang langsung pergi menuju kuilnya

"Aku juga akan mengambil, sekalian memberitahu El-Cid bahwa kita sedang terdesak." Kata Degel.

"Aku juga akan mengambilnya dengan Degel." Ujar Kardia

"Kardia-san, dimana Shion-san, Aldebaran-san, Dohko-san dan Asmita-san?" Tanya Yato.

"Shion dan Dohko sedang ada di Air Terjun di Lushan. Kalau Asmita dia pulang ke India dan akan kembali seminggu lagi, katanya ada yang harus dia kerjakan disana. Kalau Aldebaran, dia sedang menyusul Sisyphus yang sedang dinas bersama Athena-sama dan Pope-sama.

"Lalu bagaimana dengan laptopku, laptop Yato dan laptop Regulus?" Tanya Tenma

"Kalian temani Regulus. Laptop kalian akan kami ambilkan." Ujar Degel

"Hah? Kita akan mengambilkan punya mereka?" Tanya Kardia

"Iya, Kardia. Tenma, laptop kalian diletakkan dimana?" Degel menoleh ke Tenma

"Laptop kami terletak di meja ruang utama."

"Baik, nanti akan kami ambilkan." Degel tersenyum. "Ayo Kardia." Degel meninggalkan mereka

"Huh." Kardia menghela nafas.

"Lalu aku bagaimana?" Tanya Aspros yang bingung karena ditinggal oleh Defteros

"Sudahlah, ayo temani kami menjaga Regulus." Tenma dan Yato menarik kedua tangan Aspros

DEFTEROS'S SCENE:

"Laptopku, laptop abangku, dimana?~" Defteros mencari laptopnya dan laptop Aspros sambil melagukan kalimatnya. "Chargerku, Charger abangku dimana?~ Ya, ya, ya, ya~" Sambil bernyanyi lagu errr… Dengan nada mengalun khas, … errr… Mungkin dangdut… Defteros masih asik mengobrak-abrik kuilnya untuk mencari charger laptop di kuilnya yang berantakan.

Tap tap tap…

"Laptopku, tercinta~ Kenapa tergeletak disini?~ Aku frustasi mencarimu~" Defteros mengambil laptopnya dan memasukkannya kedalam tas laptop, kemudian dia membawa tas laptopnya dan tas laptop kakaknya.

Cplak…

"Seperti bunyi suara air." Defteros melihat ke kanan dan ke kiri. "Suaranya seperti berada di dekat sini." Defteros berjalan perlahan-lahan sambil membawa kedua laptop itu.

Tap tap tap…

"Siapa itu?" Defteros mendengar seperti suara orang berlari. Tiba-tiba Defteros melihat di depannya ada bayangan anak perempuan membawa pisau. Dan dengan reflek, Defteros langsung melihat kebelakang dan tidak ada orang. "Hey!" Ketika Defteros berjalan perlahan dan…

Cplakk… Cplakk…

Defteros melihat kebawah, sesuatu yang dia injak adalah… "Da… Darah?! Dari mana da…"

Tes… tess… tes…

Ketika Defteros melihat keatas dan berteriak, "WAAA! Apa itu!?"

Cplash…

Defteros yang kaget dan langsung terjatuh karena kehilangan keseimbangan karena melihat ada banyak daging dan darah di atas kuilnya. "Siapa yang melakukan ini!?" Defteros yang sedang jatuh terduduk, mundur ke belakang, semakin mundur kebelakang, mundur… Mundur… Dia tidak melihat apa yang ada di belakangnya…

Cplak…

Defteros yang sepertinya semakin mundur dan dia merasakan ada sesuatu yang dingin menabrak kepalanya. "A…Apa..." Defteros meraba yang ada di belakangnya. "Dingin… I… Ini…" Defteros yang ragu mencoba melihat kebelakangnya secara perlahan. Dan ternyata…

Splash…

"Lho, rasanya aku menabrak sesuatu tadi…" Defteros yang melihat kebelakang ternyata tidak ada apa-apa segera bangkit berdiri dan membawa kedua laptop nya ke kuil Cancer, tempat kakak kembarnya ini menunggu.

Cplakk… Cplakk…

Defteros yang kesal karena dipermainkan oleh makhluk ini, segera berbalik kebelakang dan membentak, "Hey, sudahlah… Jangan membuatku kesal. Aku bosan dipermainkan seperti ini!" Defteros yang tidak melihat apa-apa segera membalikkan badannya lagi untuk pergi ke luar. Dan…

"Kau ingin bermain sebentar?"

"WAAAA!" Defteros langsung mendorong anak perempuan yang dilihat yang mukanya banyak darah dan hancur dibagian atas kepala kiri hancur, bibirnya sudah hancur dan banyak darah, dan kelopak matanya tidak ada sehingga mata dari anak perempuan yang dia lihat terlihat seakan mau keluar, Defteros tidak memikirkan apakah dia berhasil mendorong anak perempuan itu atau tidak, dia segera berlari membawa kedua laptopnya, terus berlari, terus berlari. Tetapi dia tidak dapat sampai ke pintu keluar dari kuil, sampai beberapa lama kemudian dia akhirnya menyerah dan memilih melewati pintu belakang kuil. Ketika sampai di tangga mendekati kuil Cancer…

DEGEL AND KARDIA'S SCENE:

"Kardia, kau tidak ingin mengambil laptop mu dulu?" Tanya Degel ke Kardia yang mereka sudah sampai di kuil Aquarius

"Nanti saja." Ujar Kardia

"Baiklah." Kata Degel mengambil laptop dan memasukkannya kedalam tas laptop

"Sudah? Ayo kita ke tempat El Cid." Kata Kardia yang bersiap-siap pergi

"Tunggu, aku ingin mengambil ponselku, sepertinya ada di kamarku." Kata Degel

"Baiklah, cepat ambil ponsel mu itu." Kata Degel.

"Baiklah." Ujar Degel yang langsung menitipkan laptopnya ke Kardia dan langsung berlari ke kamar tidurnya.

Degel membuka pintu dan dia langsung dapat melihat ponsel nya ada di atas ranjangnya. Degel yang berjalan mendekati ranjang, tanpa menutup pintunya, tiba-tiba pintunya tertutup sendiri. Degel tidak terlalu memperdulikan, karena dia langsung mengambil ponselnya. Dan dia berjalan ke pintu. Ketika dia akan membuka pintu, pintu itu tidak bisa dibuka, tampak seperti ada yang menahannya dari dalam, karena pintu kamar Degel itu di tarik dari luar dan di dorong dari dalam. Degel mencoba menendang bahkan mendobrak pintunya, tapi usahanya nihil. Akhirnya dia berteriak.

"Kardia! Kardia!" Teriak Degel sambil menggedor-gedor pintu

"Degel!" Kardia langsung berlari kearah kamar Degel. "Degel, apakah kau didalam?"

"Iya Kardia. Dan pintu ini tidak bisa dibuka! Padahal aku tidak mengunci nya sama sekali."

"Oke, kalau begitu kau coba dobrak dari dalam dan aku menarik dari sini." Kata Kardia yang langsung menarik pintu dan Degel mencoba mendobrak.

"Baik."

Brakk…

Brakk…

"Uhh… Tidak bisa, Kardia." Kata Degel yang langsung jatuh terduduk.

"Degel, kau tidak apa-apa?" Kardia mulai panic.

"Tidak, aku tidak apa-apa."

"Bagaimana kalau aku mencoba membuka pintu ini dengan mendobrak dari sini. Kalau tidak bisa juga, aku akan menggunakan Antares Needle ku."

"Ah, baiklah."

Brakk…

Brakk…

Brakk…

"Ah!" Kardia langsung jatuh terduduk membelakangi pintu kamar Degel.

"Kardia! Kau tidak apa-apa?" tanya Degel yang menggedor pintu.

Tes

Tes

Tes

"Aw… Air apa ini?" Kardia langsung meraba rambutnya untuk mengetahui apa yang menetes di atas rambutnya. "Lengket…" Kardia langsung melihat jarinya. "Darah!"

"Kardia! Itu darah apa!" Degel panik.

"Astaga! Degel! Kau tidak apa-apa?" Tanya Kardia menggedor pintunya.

"Aku tidak apa-apa!" Teriak Degel dari dalam.

"Degel! Jawab aku kalau kau tidak apa-apa!" Teriak Kardia

"Daritadi aku sudah berteriak, bahwa aku tidak apa-apa!"

"Astaga! Apa yang terjadi di dalam sana, sampai kau tidak menyahut lagi?" Tanya Kardia sambil menggedor pintunya dan…

Cplashh…

"Hei, apa yang kuinjak… " Kardia melihat dia menginjak darah yang keluar dari bawah pintu kamar Degel! "Darah?" Kardia masih agak shock dan kemudian dia berteriak. "Degel! Apa yang terjadi di dalam sana!"

"Ada apa Kardia?!" Degel menggedor pintu.

"Degel!"

"Kardia, aku tidak apa-apa." Jawab Degel. 'Astaga sepertinya, pintu ini ada yang aneh. Padahal aku sudah berteriak, tetapi Kardia tidak mendengarnya.' Batin Degel

"Degel! Bertahanlah! Aku akan mendobrak pintu ini!" Ujar Kardia yang kemudian mendobrak pintu dengan sekuat tenaga. Degel yang mendengar hal itu langsung menyingkir.

BRAKKK…

Duakk…

Akhirnya pintu itu terbuka, dan Kardia berhasil masuk. Setelah itu dia melihat Degel yang sedang berdiri dengan pucat.

"Degel! Kau tidak apa-apa?" Kata Kardia menghampiri Degel.

"Ti… Tidak… Aku tidak apa-apa. Dan aku rasa…. Pintu ini…" Kata Degel yang menatap pintu itu, dan Kardia kemudian melihat bahwa tidak ada darah di pintu maupun di depan pintunya, bahkan di langit-langit pintu tersebut tidak ada darahnya.

"Hah? Tadi aku melihat darah disini." Kardia menghampiri pintu itu.

"Pintu ini… Mungkin… " Kata Degel.

"Hmm… Tidak tidak. Bukan pintu ini. Ingat Degel, tentang apa yang dikatakan Deathmask dan Milo. Kita akan diterror selama 2 hari penuh. Mungkin ini salah satunya." Kardia menjelaskan dan diikuti anggukan Degel. "Kalau begitu, ayo kita ke kuil El Cid." Kardia langsung berjalan ke depan kuil

"Baiklah." Kata Degel yang mengikuti Kardia sambil membawa ponsel dan laptopnya.

Kardia dan Degel berjalan menuju kuil Capricorn, dan disana El Cid sedang berdiri bersandar di kuilnya sambil menatap layar ponsel yang dipegangnya.

"Selamat sore." Sapa Degel.

"Selamat sore. Sedang apa kalian?" tanya El Cid

"Kami ingin mengajak El Cid-san untuk membantu kami." Ujar Degel. "Karena, Albafica sedang dalam bahaya."

"Maksudmu?" El Cid tiba-tiba langsung menutup layar Handphone dan meremas Handphone nya.

"Sudahlah, daripada kau khawatir segera ambil laptop dan handphone mu. Kita akan ke Kuil Cancer. Karena penjelasannya sangat panjang, maka Aspros yang akan menceritakan semua yang terjadi." Kata Kardia.

"Eh?" El Cid berhenti dan membalikkan badan. "Kenapa harus kuil Cancer?"

"Sudahlah, jangan banyak bertanya Cepat ambil laptop dan handphone mu."

"Huh, baiklah." El Cid langsung mengambil tas laptop yang tentunya berisi laptopnya juga handphone nya yang dia pegang di tangan kirinya. "Sudah."

"Ayo, kita akan langsung ke kuil Cancer, karena disana Regulus, Tenma, Yato dan Aspros berkumpul." Ujar Degel yang langsung berlari menuju kuil Cancer

"Hmmm… Baiklah." El Cid ikut berlari menyusul Degel dan Kardia.

"Hei lihat, itu Defteros." Kardia menunjuk Defteros yang sedang berhenti di tengah tangga menuju kuil Cancer. "Ayo kita susul dia." Kardia, Degel dan El Cid langsung menyusul Defteros.

"…" Defteros memegang pundaknya.

"Hoi Defteros!" Panggil Kardia yang berlari menuju padanya

"!" Defteros kaget melihat Kardia di depannya dan Degel juga El Cid yang sudah berada di sampingnya. "Ka… Kalian…"

"Ada apa Defteros-san? Kenapa berdiri disini. Ayo kita ke kuil Cancer. Mereka sudah menunggu." Kata Degel.

"Apakah tadi kalian memegang pundakku?" Tanya Defteros.

"Kita baru sampai disini." Jawab El Cid.

"La… La… Lalu… Lalu tangan siapa yang tadi memegang pundakku?" Wajah Defteros mulai pucat.

DEFTEROS'S POV

"Hah… Hah… Akhirnya aku berhasil kabur dari makhluk aneh itu." Kata Defteros dengan nafas tersengal-sengal yang berhenti di tengah pelarian menuju kuil Cancer. Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pundaknya. "Eh… Apa ini?" Defteros langsung menyentuh sesuatu yang dingin itu tanpa melihatnya. 'Ta-Tangan… Tangan si-siapa ini?' Tanya Defteros dalam batin yang memegang tangan yang dingin itu dengan keringat bercucuran.

"Hoi Defteros!" Teriak Kardia yang berlari menuju padanya.

"!" Defteros kaget melihat Kardia di depannya dan Degel juga El Cid yang sudah berada di sampingnya. "Ka… Kalian…" Defteros masih terdiam dengan wajah pucat. 'Berpikir yang positif, Defteros. Mungkin itu tangan Degel yang suhu nya menurun.' Batin Defteros.

"Ada apa Defteros-san? Kenapa berdiri disini. Ayo kita ke kuil Cancer. Mereka sudah menunggu." Kata Degel.

"Apakah tadi kalian memegang pundakku?" Tanya Defteros.

"Kita baru sampai disini." Jawab El Cid.

"La… La… Lalu… Lalu tangan siapa yang tadi memegang pundakku?" Wajah Defteros mulai pucat. 'Bu-Bukan Degel atau yang lain? La-Lalu siapa? Siapa yang memegang pundakku tadi?' Batin Defteros mengingat sesosok makhluk tadi. 'Apa jangan-jangan…'

END OF DEFTEROS'S POV

"Defteros-san, mengapa wajah anda begitu pucat?" Tanya Degel dengan sopan

"I… Itu… Itu…" Defteros gugup.

"Hah... Kelamaan. Sudahlah, dijelaskannya nanti saja di kuil Cancer. Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi." Ujar Kardia sambil mendorong mereka semua ke kuil Cancer.

Angin sore yang lembut dan juga membawa suasana misterius. Daun-daun yang berterbangan di sekitar kuil karena ditiup oleh angin. Para Gold Saint abad 18 kini sedang dalam keadaan tegang karena terror dari sebuah permainan yang membawa petaka tersebut. Mereka hanya bisa berharap semoga kerabat mereka yang menjadi penjaga kuil ke 12 akan baik-baik saja.

"Defteros, Degel, Kardia! Kalian lama sekali! Padahal hanya mengambil sebuah laptop saja." Aspros menyambut mereka dengan sebuah makian lalu kemudian menoleh kearah El Cid. "Oh El Cid, kau ikut berpartisipasi juga?" Tanya Aspros.

"Yah, karena dipaksa oleh mereka." El Cid sedikit melirik ke arah Degel dan Kardia.

"Itu juga untuk keselamatan temanmu juga." Ujar Kardia yang agak tersinggung karena lirikan mata El Cid ke arah mereka.

"Keselamatan?" Tanya El Cid yang kaget. "Ma-maksudmu?" El Cid mulai bingung atas apa yang dikatakan Kardia.

"Benar apa yang dikatakan Kardia, El Cid. Temanmu Albafica dalam bahaya… Dan mau tak mau kau harus ikut partisipasi dalam hal ini." Jelas Aspros.

"Makasud kalian apa?" Tanya El Cid yang bingung. "Ada apa dengan Albafica? Apa yang terjadi dengannya?" Tanya El Cid yang mulai tidak sabaran karena mendengar Kameradnya dalam bahaya. Yah, mungkin sudah memang sifat dasar seorang teman baik yang langsung khawatir jika mendengarr bahwa temannya sedang dalam bahaya.

"Biar aku jelaskan tentang apa yang sekarang terjadi…" Lalu kemudian Aspros menceritakan apa yang terjadi.

"Baiklah! Kita harus menyelesaikan permainan itu sekarang! Nyawa Albafica sedang dalam bahaya!" Ujar El Cid yang tak sabaran.

"Tenangkan dirimu duru El Cid." Defteros menenangkan El Cid

"Bagaimana aku bisa tenang?" El Cid langsung berjalan keluar kuil menuju kuil Pisces.

"El Cid!" panggil Aspros. "Sekarang Manigoldo berada di tempat Albafica untuk mengalihkan Albafica supaya tidak tertidur. Kau disini… Bantulah kami…"

"…" El Cid terus berjalan tanpa mendengarkan Aspros.

"El Cid-san…" Panggil Regulus yang keluar dari kamar bersama Yato dan Tenma. "Aku tahu bagaimana perasaanmu… "

"…" Kemudian El Cid berhenti.

"Saat aku mendengar langsung darinya bahwa dia mendengar suara tangisan bayi… Saat aku menyadari bahwa Albafica sedang dalam bahaya… Aku juga takut kehilangannya… " Ujar Regulus.

"Regulus…" Degel melihat kearah Regulus.

"… Aku juga merasakan apa yang El Cid-san rasakan. Khawatir, sedih, takut kehilangannya… Mungkin tidak hanya aku dan El Cid-san yang merasakannya. Tetapi semua… Kita ini sudah seperti keluarga. Oleh karena itu kita juga takut kehilangannya." Regulus berjalan mendekati El Cid.

"Regulus…" Panggil Tenma dan Yato.

"Aku sudah tidak apa-apa sekarang." Regulus menoleh kearah Yato dan Tenma sambil tersenyum. Lalu Regulus berjalan kembali kearah El Cid. "… Aku minta maaf El Cid-san, karena aku… Albafica sekarang dalam bahaya… Andaikan aku… Aku…" Perkataan Regulus tertahan. Dia tidak kuasa mengatakan karena tertahan oleh isak tangisnya. "Aku…"

"…" El Cid langsung memeluk Regulus. "Kau tidak perlu minta maaf Regulus."

"Tapi… Aku…"

El Cid langsung melepas pelukan dan langsung mengelus kepalanya. "Ini bukan salahmu. Mungkin ini adalah takdir yang harus kita hadapi bersama." El Cid tersenyum lembut kepada Regulus. "Semuanya. Aku minta maaf atas apa yang tadi kuperbuat. Aku ini egois. Aku tidak memikirkan perasaan kalian. Maafkan aku."

"Hey El Cid." Kardia mendekati dan menepuk kedua bahunya, diikuti Defteros yang mendekati El Cid juga. "Santai saja." Ujar Kardia.

"Kami juga seperti itu saat kami tahu bahwa kami dalam bahaya." Ujar Defteros.

"Tenang saja El Cid-san. Kita semua akan menolong Albafica-san." Ujar Degel dengan senyuman pasti.

"Benar, kau tidak perlu sungkan El Cid. Kita akan selalu ada. Benar apa yang dikatakan oleh Regulus, kita ini keluarga." Ujar Aspros yang tersenyum.

"Karena kita keluarga, kita akan saling membantu anggota keluarga yang dalam kesulitan." Tambah Yato dan Tenma bersemangat.

"…" Degel, Kardia, Apros, El Cid, Defteros, dan Regulus melihat ke Yato dan Tenma yang bersemangat.

"Eh? Kenapa?" Tenma gugup.

"Hahahaha…" Kemudian Degel, Kardia, Aspros, Defteros, El Cid dan Regulus tertawa.

"Hei Tenma, kenapa mereka tertawa ya?" Tanya Yato.

"Aku tidak tahu. Hei, apakah ada yang lucu?" Tanya Tenma.

"Ekspresi kalian terlalu polos, bocah. Hahahahaha…" Jawab Kardia yang masih tertawa.

"Sungguh?" Tanya Tenma yang malu-malu sambil menggaruk kepala.

"Sungguh Tenma. Wajah kalian sangat lucu saat bersemangat tadi. Hahahaha…" Ujar Defteros yang tertawa lebih keras lagi.

"Ah… Aku jadi malu. Hehe…" Yato menggaruk kepalanya.

"Hahaha…" El Cid tertawa. "Semuanya, sekali lagi aku berterima kasih pada kalian semua." Kata El Cid sambil tersenyum.

"Daritadi aku sudah bilang, santai saja." Ujar Kardia santai.

"Ah, Baiklah kalau begitu. Kita siapkan alat dan bahannya." Ujar Aspros bersemangat.

"Tu-Tunggu… Alat dan bahan? Apakah kita akan memasak?" Tanya Defteros.

"Hahahaa…" Aspros langsung tertawa saat melihat Defteros yang kebingungan. "Kau ini selalu dianggap serius terhadap segala sesuatu yang kukatakan ini." Aspros tersenyum melihat tingkah Defteros

"Bu-Bukan itu. Tapi maksudku… Ah sudahlah." Defteros menghela nafas.

"Hahaha… Defteros kau lucu sekali. Maksudku alat dan bahan itu adalah… Ya persiapan kita." Jelas Aspros.

"Tu-Tunggu…" Ujar Tenma yang menghentikan pembicaraan.

"Ada apa lagi Tenma?" Tanya Aspros.

"Ada apa Tenma?" Tanya Degel dan El Cid.

"Apakah Degel-san melupakan laptop kami?" Tanya Tenma.

"…" Degel terdiam dan berpikir.

"…" Semua ikut terdiam dan memandang kearah Degel.

"Degel-san?" Tanya Tenma.

"Ah, itu… I-Iya. Kami melupakannya. Maaf, Tenma." Degel meminta maaf.

"Baiklah, kalau begitu tidak apa. Aku dan Yato akan mengambilnya." Ujar Tenma. "Ayo, Yato."

"Tenma. Biarkan aku dan Kardia saja yang mengambilnya. Aku sudah berjanji, dan janji itu tidak boleh dilanggar." Kata Degel.

"A-Apa? Kau dan aku?" Tanya Kardia yang kaget saat namanya disebut.

"Ya, kau dan aku akan pergi ke kuil Leo untuk mengambil laptop mereka." Jawab Degel mantap.

"Ti-Tidak perlu, Degel. Bukankah mereka sendiri yang menawarkan diri untuk mengambil laptop mereka?" Tanya Kardia lagi dengan gusar.

"Tidak, tidak. Pertama kali kita yang menawarkan diri untuk mengambil laptop mereka." Jawab Degel. "Baiklah, tidak membuang banyak waktu lagi, ayo kita ke Kuil Leo, Kardia." Degel menarik Kardia yang sepertinya tidak mau mengambilkan laptop itu bagi Tenma, Yato dan Regulus.

"Degel! Tidak perlu mengambilkan untuk mereka!" Teriak Kardia.

"Hati-hati, Kardia dan Degel." Aspros dan El Cid melambaikan tangan.

"Tunggu! Aku ikut bersama kalian!" Seru Defteros yang langsung berlari ke arah Degel dan Kardia.

"Baiklah, Ayo, El Cid, Tenma, Yato dan Regulus. Bantu aku menyiapkan semuanya." Perintah Aspros.

DEGEL, KARDIA AND DEFTEROS'S POV

"Hey, Defteros. Sedang apa kamu disini?" Tanya Kardia dengan nada tidak senang.

"Ah, itu… Tidak apa. Aku hanya ingin menemani kalian saja." Jawab Defteros dengan nada santai.

"Ah, iya Defteros-san. Bukankah ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Degel.

"Ah-A… Itu…" Ujar Defteros yang terbata-bata.

"Ada apa Defteros-san?" Tanya Degel lagi.

"Itu… Degel… Apakah itu kau yang memegang pundakku saat kita menuju Kuil Cancer?" Tanya Defteros dengan wajah pucat.

Angin dingin berhembus di sekitar mereka bertiga ditambah lagi langit semakin gelap menandakan hari akan berganti malam. Daun daun yang berguguran pun ikut terbang karena hembusan angin pada sore hari itu. Pohon di sekitar mereka bergoyang karena terkena hembusan angin itu juga.

"Memegang pundakmu?" Tanya Degel yang bingung. "Sepertinya tidak."

"Apa?! Kau jangan bercanda, Degel." Ujar Defteros dengan nada meninggi.

"Ta-Tapi aku benar tidak memegang pundakmu, Defteros-san." Ujar Degel yang agak merasa bersalah pada Defteros.

"Benar, untuk apa Degel berbohong." Bela Kardia. "Mungkin saja itu perasaaanmu. Atau memang kau kedinginan karena akhir-akhir ini angin dingin sering berhembus." Ujar Kardia.

"Hah? Perasaanku? Iya juga ya." Defteros menggaruk-garuk kepala.

Tibalah ketiganya di depan kuil Leo dan masuklah mereka kedalamnya. Terasa hawa tidak enak berasal dari dalam Kuil.

"Hei, kok aku merinding ya?" Tanya Defteros kepada Degel dan Kardia dengan wajah pucat.

"Ah, kau selalu saja berperasaan seperti itu, kapan sih perasaan aneh mu itu hilang?" Tanya Kardia agak kesal karena Defteros.

"Defteros-san. Menurutku kau harus berpikiran positif supaya tidak menimbulkan perasaan yang aneh." Ujar Degel menasehati Defteros.

"Ta-Tapi… Tapi… Tapi…" Defteros gugup dan gemetar.

"Ah sudahlah. Tidak ada apa-apa kok." Ujar Kardia menyeret Defteros yang mengetahui bahwa Defteros takut masuk ke dalam kuil Leo karena perasaan Defteros tidak enak.

"Ah, ini laptop mereka, kan?" Tanya Degel yang berjalan menuju di meja ruang utama mengambil salah satu laptop yang terletak di atas meja tersebut.

"Ah iya. Ayo kita ambil dan kita bawa ke Kuil Cancer lalu kita selesaikan ini semua." Ujar Kardia mengambil salah satu dari laptop itu juga.

"…" Defteros tidak bergerak dan terdiam sambil melihat ke lantai kuil Leo tersebut.

"Defteros-san?" Tanya Degel yang melihat Defteros tak bergerak.

"Kita kagetkan saja." Bisik Kardia ke Degel.

"Jangan Kardia, itu…" Sebelum Degel melanjutkan perkataannya, mulutnya ditutup sama Kardia.

"Ssstt… Jangan berisik. Aku ingin mencoba mengagetkan dia." Kardia berbisik sambil tertawa kecil. "1…" Kardia maju selangkah mendekati Defteros. "2…" Kardia pun maju selangkah dan hampir dekat dengan belakang Defteros. "Ti-"

"HAH!" Defteros langsung menghadap kebelakang dan berhasil mengejutkan Kardia sehingga Kardia pun langsung meloncat beberapa langkah, dan ketika hampir jatuh di tahan oleh Degel.

"Hah… Hah… " Kardia tersengal-sengal napasnya karena dikagetkan oleh Defteros. "Untung aku sudah kebal terhadap tipuan seperti itu sehingga jantungku tidak kambuh." Ujar Kardia yang memegang dada kirinya. Ya, Kardia sudah terbiasa dengan tipuan "bocah Sanctuary". (Baca: Yato, Tenma, dan Regulus)

"Huahahahahaa…" Defteros tertawa bangga karena berhasil mengusili Kardia.

"Kau tidak apa-apa Kardia?" Tanya Degel khawatir.

"…" Defteros jadi merasa bersalah karena ia lupa bahwa Kardia punya penyakit jantung. "He-Hei… Kardia…"

"Ah, aku… Tidak apa-apa Degel. Tenang saja. Ini sama seperti tipuan bocah itu." Ujar Kardia agak cemberut lalu tersenyum menyeringai. "Hei, kau belajar tipuan itu dari Yato, Regulus dan Tenma ya?" Tanya Kardia kepada Defteros.

"Ti-Tidak kok." Defteros mengelak dengan wajah memerah di kulitnya yang agak kehitaman, itu karena sepertinya Kardia tahu bahwa tipuannya ia pelajari dari bocah Sanctuary tersebut.

"Hahahaa… Jangan mengelak lagi. Itu kan tipuan yang sreing dilakukan si bocah Sanctuary." Kardia tertawa menghina Defteros karena tipuannya dipelajari dari anak kecil.

"Ti-Tidak! Tipuan ini tiba-tiba lewat di kepalaku." Bantah Defteros dengan wajah semakin memerah.

"Hahahaa… " Tawa Kardia yang melihat wajah Defteros semakin memerah.

TRANG!

"Wajahmu memerah, berarti itu benar. Hahahaa…" Ujar Kardia yang terus menggoda.

"Tidak! Wajahku ini hitam! Bukan memerah!" Bela Defteros.

"Hei… Apa kalian mendengar?" Tanya Degel agak misterius.

"Ada apa Degel?" Tanya Defteros yang bingung tiba-tiba Degel berkata seperti itu.

"Hei sebelum itu, Defteros, kau bawalah ini." Ujar Kardia yang memberikan salah satu tas laptop ke Defteros. "Bawa ini!"

Defteros mengambil tas laptop itu dan dibawanya. "Terima kasih Kardia."

"Hei Degel. Tadi suara apa?" Tanya Kardia.

"Itu… Seperti suara gelas beradu dengan gelas lain." Ujar Degel yang segera masuk ke dalam.

"Hey, Degel. Kau mau kemana?" Tanya Defteros yang memegang lengan kiri Degel.

"Aku mau menyelidikinya ke dalam." Ujar Degel.

"Tidak perlu lah, Degel. Ayo kita segera ke kuil Cancer. Mereka telah menunggu kita." Kata Kardia yang menarik lengan kanan Degel.

"Ta-Tapi…" Kata Degel yang ditarik oleh Defteros dan Kardia menuju kearah pintu luar kuil Leo tetapi pandangannya masih terarah ke dalam ruangan Leo yang agak gelap.

"Sudahlah, Degel." Kata Kardia yang tangannya membuka pintu kuil itu, namun…

Cklek cklek

"Lho… Ini kenapa pintunya?" Tanya Milo yang mencoba membuka pintu.

"Ada apa dengan pintunya?" Tanya Defteros yang bingung. "Coba aku buka pintunya." Ujar Defteros yang membuka pintu itu dengan kasar. "Ugh!"

"Coba hancurkan saja kenop pintunya." Ujar Degel spontan.

"Tapi kita harus membetulkannya lagi, Degel. Karena apabila kita tidak membetulkannya, tentu kita akan diberi hukuman oleh Pope karena sudah merusak property Sanctuary" Ujar Kardia yang sweatdrop tiba-tiba Degel berbicara seperti itu secara spontan.

"Tidak apa. Daripada kita tak bisa keluar dan tak bisa mengantarkan laptop ini ke kuil Cancer." Ujar Degel secara spontan lagi.

"…" Defteros dan Kardia terdiam. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Degel.

"Kalau masalah membetulkan kembali itu masalah mudah. Kita kan Gold Saint. Mengalahkan Specter saja bisa. Tapi membetulkan sebuah kenop pintu saja kita harus lebih bisa." Ujar Degel lagi yang kali ini membuat Defteros dan Kardia tercengang.

"…" Kardia dan Defteros tercengang dan menatap Degel tanpa arti (pikiran kosong).

"Hei, kenapa kalian diam saja. Waktu terus berjalan." Ujar Degel mengguncangkan tubuh mereka.

"Ah, iya! Kau benar Degel!" Ujar Defteros yang menatap Degel dengan mata berbinar. "Aku adalah Defteros, seorang Saint Athena yang dapat mengalahkan Specter. Dan tentu aku bisa menghancurkan dan membetulkan kembali kenop pintu biasa." Defteros semangat menghancurkan kenop pintu itu dengan sekuat tenaga dan segenap Cosmo. Bahkan hampir mengeluarkan Galaxian Explosion nya lagi. Namun usahanya sia-sia. "Sebenarnya kenop pintu ini dibuat oleh apa sih?" Defteros gusar sekaligus kelelahan.

"Dasar lemah. " Ujar Kardia secara Spontan.

"Apa kau bilang?" Defteros langsung naik pitam. "Coba saja hancurkan kenop pintu tersebut bila kau bisa!"

"Lemah. Begitu saja tak bisa. Kali ini pasti bisa dengan Antares Needleku" Kardia akhirnya mengeluarkan Antares Needle nya untuk menghancurkan kenop pintu itu. "Antares Needle!"

Kenop pintu itu tak hancur sama sekali. Kardia langsung kaget. "Se-Sebenarnya… Tidak tidak! Kita hancurkan saja pintu ini!" Ujar Kardia yang langsung mengeluarkan Antares Needle nya lagi untuk menghancurkan keseluruhan pintu tersebut. "Antares Needle!"

Hasil sama saja, pintu itu tetap utuh dan tidak ada sedikitpun yang rusak. Kardia pun ikut naik pitam. "Sebenarnya pintu ini terbuat dari apa sih? Bahkan jika pintu ini dibuat oleh seorang Saint atau dewa sekalipun, harusnya sudah ada sedikit retakkan atau sedikit hancur!"

"Tuh kan, kau saja tak bisa." Ujar Defteros dengan nada agak menghina.

"Hei! Kau jangan mengejekku!" Ujar Kardia yang sepertinya ingin mengajak ribut Defteros yang agak menghinanya

"Tenanglah…" Ujar Degel menenangkan keduanya. "Bukankah setiap kuil ada pintu belakang?"

"…" Kardia dan Defteros terdiam lagi. Heran benar Kardia dan Defteros ini terhadap Degel.

"Degel…" Kardia mengeluarkan aura menyeramkan mungkin. Defteros pun juga ancang-ancang ingin mengirimkan Degel ke luar angkasa menggunakan Another Dimension.

"He-Hei… Te-Teman-teman." Ujar Degel yang tersenyum memaksa. "A-Aku kan lupa. Hahaha…" Degel tertawa garing. "Sudahlah, tahan dulu amarah kalian. Kita kan harus segera keluar dari sini." Ujar Degel lagi.

"Hah, baiklah." Kardia dan Defteros menahan amarah lalu menghela nafas secara bersamaan. Lalu meerka bertiga berjalan kearah pintu belakang.

"Eh, tadi suaranya berasal dari sini." Ujar Degel melihat 2 gelas yang berdampingan di atas meja makan.

"Ah sudahlah Degel. Paling itu hanya serangga yang membunyikan." Ujar Kardia. Namun dalam bantin Kardia dia juga tak yakin bahwa serangga mampu membunyikan gelas itu.

"Aku tak yakin gelas ini dibunyikan oleh serangga, Kardia." Ujar Degel membela diri.

"Kalian ini, sudahlah. Kali ini aku yang jadi penengah kalian." Defteros sweatdrop menengahi Degel dan Kardia yang hampir adu pendapat.

Klik klik

Klik klik

Klik Klik

Terdengar suara lampu yang dimatikan kemudian dinyalakan lagi.

"Kardia! Jangan usil!" Kata Degel yang tahu kebiasaan temannya ini yang terkadang suka usil.

"Eh? Aku? Bukan aku Degel! Aku punya pekerjaan yang lebih penting selain memainkan tombol lampu." Ujar Kardia membela diri.

Klik klik

Klik klik

"Kalau begitu ini pasti ulah Defteros-san." Ujar Degel yang langkahnya terhenti dan langsung melihat ke arah Defteros. "Jangan begitu!"

"…" Defteros menatap Degel kebingungan. "Aku tidak memainkan lampu. Lagipula kan lampunya disana." Ujar Defteros sambil menunjuk ke arah tombol lampu yang berada jauh dari tempat mereka berdiri.

Klik klik

Degel, Kardia, dan Defteros melihat sendiri bahwa tombol lampu tersebut… Dinyalakan dan dimatikan dengan sendirinya.

Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik

Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik Klik

Degel, Kardia dan Defteros melihat sendiri juga tombol lampu tersebut dinyalakan dan dimatikan secara cepat dengan sednirinya.

"WAAAAAA!" Teriak mereka bersamaan dan langsung berlari ke arah pintu belakang. Namun..

Cplak Cplak Cplak

Cplak Cplak Cplak

Mereka merasa bahwa yang mereka injak lagi bukan sebuah daratan…

"Apa yang kuinjak ini?" Tanya Kardia yang terhenti mendengar suara langkah kakinya menginjak genangan air.

"Apa aku menginjak darah lagi?" Tanya Defteros yang agak trauma dengan kejadian di Kuilnya sendiri.

"Sudahlah, kita harus membuka pintu ini!" Ujar Degel yang sudah sampai di depan pintu belakang kuil Leo dan mencoba membuka pintu tersebut. "Ugh! Pintu ini tak bisa dibuka." Ujar Degel yang mencoba membuka pintu tersebut.

"Degel, berdirilah di sebelahku. Biar aku coba hancurkan pintu ini dengan Galaxian Dimension." Ujar Defteros yang siap ancang-ancang Galaxian Dimensionnya.

"He? Kau gila! Kau bisa menghancurkan kuil ini!" Bentak Kardia.

"Sudahlah, jika kuil ini hancur kita akan membangun kembali. Kita kan, Gold Saint. Ujar Defteros bangga. Sudahlah kalian, aku ingin mencoba menghancurkan kuil ini." Defteros melangkah maju satu langkah lalu, "Galaxian Dimension!" Defteros menggunakan Galaxian Dimensionnya untuk menghancurkan pintu itu, tetapi sayangnya baik kuil dan pintunya tidak rusak sedikitpun.

"Aneh…" Ujar Degel yang melihat ke sekeliling kuil yang agak gelap. Tapi sebenarnya kuil itu gelap dan tidak terlalu terang. Melihat ke daratan yang mereka pijaki saja sulit karena betapa tidak terlalu terangnya kuil tersebut.

Cplak

"Ada air di kuil ini?" Tanya Degel yang entah tidak sengaja mundur kebelakang.

"Aku mencium bau aneh juga." Ujar Kardia.

Tap

"Bau aneh? Bau darah?" Tanya Defteros. "Ini kan bau darah." Ujar Defteros mengusap hidungnya.

"…" Degel melihat ke tanah yang dipijaknya yang ternyata adalah… "Da-Da-… Darah!"

"Hah!? Kardia yang melihat ke tanah dipijaknya kaget bukan main. "I-Ini…"

Tap

Tap

"Darah apa ini sebenarnya?" Defteros yang melihat juga tanah yang dipijaknya tercengang sambil menaikkan alisnya. "I-Ini… Apakah si Regulus baru membunuh seseorang?"

"Tidak mungkin Defteros-san." Ujar Degel yang berjongkok dan meneliti darah tersebut.

Tap

Tap

Tap

"Jelas ini darah yang baru mengalir. Jika Regulus membunuh, pasti darah ini akan menjadi darah lama." Degel mencium menyentuh darah yang mengalir di tanah tersebut.

"Bagaimana kau tau, Degel?" Tanya Kardia heran.

"Dari bau darah ini. Jelas ini darah baru. Tercium sangat pekat. Jika ini darah lama, akan tercium bau agak membusuk." Ujar Degel lagi.

"Tadi aku mendengar suara langkah kaki…" Ujar Defteros tiba-tiba. "Tapi sekarang aku tak mendengar nya lagi."

"Mungkin itu hanya—"

TAP

TAP

TAP

Terdengar suara langkah kaki berat yang semakin mendekat.

Plok

GULP. Kardia hanya menelan ludah saat merasakan ada tangan yang menepuk bahunya. "De-Degel…" Panggil Kardia dengan pelan.

"Ya, Kardia?" Tanya Degel yang masih meneliti darah itu.

"Ka-Kau y-yang m-memegang… Memegang… Pundakku kan?" Tanya Kardia terbata-bata.

Degel langsung menoleh kearah Kardia. Namun…

Degel langsung jatuh terduduk "Ka-Kardia! I-Itu dibelakangmu…" Degel menunjuk makhluk aneh yang berdiri tepat di belakang Kardia yang memegang bahu Kardia.

Defteros yang sibuk membuka pintu belakang segera menoleh ke belakang. "Ka-Kardia! I-Itu…"

Dengan perlahan Kardia menoleh ke belakang dan—"Waaaa!" Kardia langsung menendang makhluk yang wujudnya seperti wanita, karena kuil itu agak redup dan gelap sambil berlari kesebelah Defteros. Degel pun langsung bangkit dan berlari ke sebelah Defetros juga.

"Kita harus bagaimana? Tanya Degel yang wajahnya tampak pucat.

"Ki-kita… Kita musnahkan saja dia!" Kardia menjawab dengan wajah yang tak kalah pucat dengan Degel. "Bagaimana Defteros?" Tanya Kardia menyenggol Defteros.

"…" Defteros dengan wajah yang tidak kalah pucat dari Degel dan Kardia hanya diam dengan mulut terbuka dan mata melotot. Sementara makhluk itu terus berjalan ke arah mereka.

"De-Defteros-san?" Degel mengguncang tubuh Defteros. "Ki-Kita dalam keadaan bahaya."

"…" Defteros hanya terdiam dengan mata melotot dan mulut terbuka.

"Hoi Defteros!" Kardia langsung memukul kepala Defteros sekeras mungkin.

"Aduh!" Defteros langsung mengaduh kesakitan karena kepalanya dipukul.

"Kenapa kau daritadi diam saja? Kita dalam keadaan bahaya! Kau tau!" Bentak Kardia. Dan makhluk itu semakin mendekati mereka.

"Iya, dia semakin mendekat." Ujar Degel.

"I-Itu… Itu makhluk yang kutemui kemarin bersama dengan Aspros." Ujar Defteros gemetar.

"Baiklah kita lawan saja dia." Kardia habisa kesabarannya dan… "Antares Needle!" Kardia langsung memakai Antares Needle nya ke arah makhluk itu. Namun sayang hanya meninggalkan bolongan di tubuh itu dan makhluk itu terus berjalan. "Cih! Degel, pakai Aurora Executionmu! Bekukan bersama kuil kuilnya juga."

Degel yang tanpa basa basi langsung mengangguk dan mengeluarkan Aurora Executionnya. "Aurora Execution!" Degel langsung mengeluarkan Aurora Execution. Namun sayang. Anehnya kuil itu tidak membeku. Tidak berpengaruh di kuil pada saat seperti itu.

"He-Hei. Kemarin malam saat Aspros mencoba menyerangnya dengan Galaxian Explosion, itu tidak berpengaruh. Monster itu. Makhluk itu. Apapun itu!" Ujar Defteros dengan wajah makin pucat.

"Baiklah! Kita hindari saja makhluk ini!" Ujar Kardia yang langsung memegang tangan Degel dan Defteros lalu berlari menghindari kejaran monster itu. "Bisa gila aku kalau begini terus!" Kardia kesal. Kardia, Degel dan Defteros berlari menuju pintu utama sambil membawa laptop bocah Sanctuary tersebut. Saat mereka sudah hampir dekat dengan pintu utama, Defteros tersandung sehingga menabrak Degel. Dan Degel tidak sengaja mendorong Kardia di depannya. Dan mereka bertiga terjatuh dan menabrak pintu.

Kriett

Pintu terbuka.

"Pintu terbuka! Ayo kita keluar dari kuil ini!" Ujar Defteros yang bangun dan kemudian memegang kedua tangan temannya lalu berlari menuju Kuil Cancer dan keluar dari Kuil Leo.

END OF DEGEL, KARDIA AND DEFTEROS'S POV

Tik

Tik

Tik

Tik

Jam yang digantung di kuil Cancer menunjukkan angka 5.30. Sementara Aspros menunggu di luar kuil Cancer. "Lama sekali mereka ini. Masa hanya mengambil 3 laptop saja membutuhkan waktu setengah jam?" Aspros gusar.

"Waaaa!" terdengar teriakkan dari tangga kuil.

"Seperti suara Degel, Kardia dan Defteros." Aspros berjalan maju beberapa langkah.

"Waaaaaaa!" Defteros, Degel dan Kardia yang berlari tidak sengaja menabrak Aspros.

'Waaaaaaaaaaa!" Teriakkan Aspros tidak kalah kencangnya saat ketiga Saint itu menabrak dirinya.

BRUK!

GDEBUK!

El Cid, Tenma, Yato dan Regulus yang sedang berbincang dan mendengar suara sesuatu yang jatuh dari luar kuil segera berdiri dan keluar kuil untuk melihat sesuatu yang jatuh. Saat mereka berdiri tepat di luar kuil Cancer, Tenma, Yato dan Regulus pun kaget bukan main.

"Aduh!" Kardia teriak mengaduh.

"Ka-Kardia! Y-Ya-Yang Seharurusnya… Hah… Mengaduh itu aku!" Teriak Aspros yang tertindih oleh ketiga Saint. Defteros menimpa Degel. Dan Degel menimpa Kardia. Dan Aspros ada di paling bawah ketiga Saint tersebut.

"Astaga!" Tenma tercengang melihat keempat Saint Senior itu.

"A-Aspros-san! Kardia-san! Degel-san! Defteros-san!" Regulus melihat keempat Saint itu dari bawah ke atas dengan mulut terbuka.

"Kalian ini sedang bermain? Kok tidak ajak kami?" Tanya Yato dengan polos.

"Hei bocah! Jangan melihat kami dengan tatapa seperti itu. Dan kau juga yang di paling atas! Bisakah kau turun! Berat tau!" Bentak Kardia gusar.

"Heh Kardia! Yang seharusnya mengatakan seperti itu harusnya aku!" Bentak Aspros dari bawah. "Defteros! Tidak bisakah kau turun?" Tanya Aspros sambil berteriak dari bawah.

"Iya. Sabarlah." Defteros turun. Kemudian El Cid membantu Degel dan Kardia turun.

"Kalian ini. Kenapa lama sekali mengambil 3 laptop itu saja?" Tanya Aspros yang berdiri dibantu oleh Defteros sambil membersihkan jubbah Saint nya.

"Ma-Maaf kak… Eh. Aspros maksudku." Ujar Defteros menggaruk kepala yang tidak gatal. "D-Di-Di… K-Ku-Kuil… Le-Leo… A-Ada itu…"

"Itu apa Defteros?" Tanya Aspros dengan muka sedikit kesal.

"Maaf Aspros-san. Biar aku yang menjelaskan… …" Degel menjelaskan semua apa yang terjadi.

"…" Aspros hanya diam.

"Kak… Eh, Aspros." Ujar Defteros. "Kau kenapa?" Tanya Defteros sambil mengguncangkan tubuh kakak kembarnya.

Aspros pun kembali ke alam sadar. Lalu berjalan memasukkin kuil Cancer. "Ayo jangan buang waktu lagi. Kita selesaikan permainan terkutuk itu." Kemudian semua Saint disana mengangguk dan ikut Aspros memasukki kuil Cancer.

TBC~


Hai Minna~ Mumumumu~ (-^〇^-)

Sudah menunggu lama dengan sabar ya?
Gomenne minna~ _:(´□`」 ∠):_

(シ_ _)シ

Sebenarnya udah saya post beberapa kemarin, cuma error ya harus post ulang (。≧ _ ≦。) (´;ω;`)

Di Review ya. Kalau ada tambahan buat Next Chap, silahkan bilang aja~

O iya, gomenne buat Defteros dan Aspros yang kena nista saya~ Ohohoho~ *ketawa nista* /? ∠( ᐛ 」∠)_
Saya demen nistain kang Dedep masa /nak ᕕ( ͡° ͜ʖ ͡° )ᕗ

Ya udah ya minna~ Silahkan dinikmati :* Muah muah muah :*