a/n:
sedang bersemangat menulis lanjutan fic ini, lagipula beberapa review yang anda semua berikan menambah semangat saya untuk menulis. Ok, tidak perlu berpanjang lebar, silahkan membaca chapter lanjutannya dan tolong berikan review anda...mungkin masih ada misstypo...
KEMUNCULAN SESAAT
.
.
~1 Tahun setelah penjelasan~
Kagamine Len membereskan buku-buku pelajarannya dan memasukkan ke dalam tas. Hari ini sangat melelahkan sekali. Para guru-guru di sekolah mencekoki mereka semua dengan nasehat panjang lebar mengenai "cara yang baik untuk menjawab soal ujian agar lulus dengan sempurna". Len mendengus, kalau hanya satu atau dua kali saja mungkin para murid-murid masih bisa bersabar. Tapi seakan-akan semua guru sekolah mereka sepakat untuk memberikan wejangan itu di setiap akhir pelajaran mereka, menyebabkan dalam satu hari mereka bisa mendengarkan nasihat itu sebanyak 8 kali. Jadi, jangan salahkan para siswa jika mereka tertidur saking hapalnya dengan wejangan-wejangan tersebut.
"Hei Len, ada yang menunggumu di luar," panggil salah seorang kawan kelasnya sambil melongokkan wajahnya dari balik pintu.
Len kembali mendengus, inilah hal kedua yang tidak disukainya.
Len melangkahkan kaki dengan perasaan malas, sudah hapal siapa yang akan mencegatnya di luar kelas nanti. Dengan malas, Len memandang sosok yang menunggunya. Dua orang pria berjas formal dengan warna gelap. Mereka mengenakan kacamata hitam yang sekali lagi mengundang dengus meremehkan dari Len.
"Sudah kubilang, aku belum menemukannya," ujar Len sebal.
"Tapi Len-sama, harusnya tugas anda-,"
"Tugasku sekarang adalah belajar menghadapi ujian nasional yang akan diselenggarakan oleh atasanmu itu," Len melangkah hendak memasuki ruang kelas lagi.
"Len-sama, perhatikan bicara anda, kalau anda bukan seorang Knight-," ujar Pria yang satu lagi. Len menatap kedua pria itu dengan tatapan terdingin yang ia miliki.
"Lalu? Kalian mau apa?" tantang Len, kedua pria itu hanya bisa terdiam. Len tidak mengacuhkan kedua pria itu dan kembali melangkahkan kaki memasuki ruang kelas.
Len merasa sebal dan malas dengan kedua pria tadi. Kembali terbayang bagaimana mereka berdua tiba-tiba saja memaksa memasuki kehidupan Len.
~000~
Flashback
Len hanya terdiam, pemuda itu terlalu terkejut setelah dianugerahi gelar "Knight" oleh Mikuo-sama.
"Mikuo-sama, apa maksudnya ini?" Len meminta penjelasan.
"Seperti yang kukatakan, aku sudah terlalu tua, butuh pengganti ksatria yang baru, kau memiliki kemampuan yang hebat, kau jadi ksatria yang selanjutnya," jelas Mikuo-kun dengan sangat sabar.
"Tapi itu tak mungkin, saya tidak sanggup melakukannya," bantah Len.
Mikuo meletakkan tangannya di bahu Len, berusaha menenangkan pemuda itu.
"Tenang saja, selama aku masih hidup aku juga akan terus mendampingimu untuk mencari dan melindungi High Summoner," jelas Mikuo.
"Tapi-," Len masih berusaha membantah.
"Selain itu, kita juga tidak dapat membiarkan pemerintah mencari High Summoner," potong Mikuo cepat. Len melempar pandangan 'apa maksudmu'.
"'Kan aku sudah bilang, High Summoner memiliki kekuatan yang tidak biasa. Kau pikir pihak pemerintah juga tidak menginginkan kekuatan itu?" kembali Mikuo menjelaskan dengan amat sabar.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan?" Len bergumam tidak yakin.
"Sederhana saja, kau hanya perlu mencari dan melindungi High Summoner," tanggap Kaito dengan cepat dan riang.
"Bagaimana saya harus mencarinya?" tanya Len dengan nada khawatir.
"High Summoner dan Knight memiliki ikatan hati yang sangat kuat. Walaupun mereka terpisah oleh jarak yang jauh, akan tetapi hati mereka akan selalu bersatu," Mikuo menjelaskan dengan lembut. Len masih belum mengerti.
"Tenang saja, suatu saat kau pasti akan menemukannya berkat ikatan hati yang kalian miliki," Mikuo menenangkan Len.
"Bagaimana bisa?" Len masih tidak yakin.
"Jika seorang bangsa ksatria telah dianugerahi title "Knigh bagi High Summoner" secara otomatis kekuatan di dalam diri kalian berdua akan saling mencari satu sama lain. Kekuatan itupulalah yang akan berusaha menyatukan ikatan hati kalian," Mikuo meyakinkan.
Len mendengarkan penjelasan itu, tak lama kemudian Len mengangguk paham. Matanya menunjukkan tekad dan kekuatan.
TING TONG
Keempat kepala itu menoleh ke arah suara bel pintu.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini ya?" Meiko hendak bangkit untuk membuka pintu.
"Haha, maaf, itu pasti gangguan," Mikuo tertawa garing sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gangguan?" Len memiringkan kepala.
"Pihak pemerintah," Kaito berucap dengan nada tidak suka.
~000~
Len menghela napas dan menidurkan kepalanya di meja kelasnya. Moodnya mendadak merasa tidak enak, salahkan kedatangan para agen pmerintah itu. Len menyeringai lelah. Pihak pemerintah sepertinya juga tidak bodoh. Walaupun bangsa ksatria berusaha melindungi dan merahasiakan jati diri High Summoner, pihak pemerintah ngotot mencari tahu dengan mengikuti gerak-gerak bangsa ksatria yang menjadi "Knight High Summoner".
Len merasa heran juga, kalau pihak pemerintah bisa langsung mendatangi tempatnya beberapa menit setelah dirinya dianugerahi title "Knight" kenapa mereka tidak langsung saja mencari High Summoner?
Len menegakkan badannya dan mengambil tasnya untuk pulang. Ia perlu menanyakan permasalahan yang baru terpikrkan kepada Mikuo-sama. Sesaat langkah Len terhenti, teringat dengan dua agen pemerintah menyebalkna yang berdiri di depan kelasnya. Untunglah ruang kelas sudah agak sepi, hanya tinggal tersisa beberapa murid. Len membuka jendela dan melompat ke bawah lapangan sekolah, padahal saat itu Len berada di lantai 3. Len berterima kasih sekali atas pengajaran dari ayahnya dan Mikuo-sama untuk memaksimalkan penggunaan kekuatan bangsa ksatrianya.
Teman-teman sekelas Len juga tidak terlalu mempermasalahkan. Pemandangan Len meloncat dari lantai 3 dan baik-baik saja memang sudah menjadi pemandangan sehari-hari jika Len kedatangan dua tamu aneh berjas formal gelap dan berkacamata hitam.
~000~
Len meloncati atap-atap rumah layaknya seorang shinobi. Berlari menuju rumahnya.
"Aku pulang," teriak Len sambil memasuki rumah.
"Ah, selamat datang Len," Meiko menjulurkan kepalanya dari ruang dapur, tangannya sedang sibuk mengaduk sesuatu menggunakan spatula kayu.
"Ibu, Mikuo-sama dimana?" Len langsung bertanya,
"Di halaman belakang," jawab Meiko sambil kembali ke ruang dapur.
Tanpa membuang waktu, Len langsung berlari ke halaman belakang tempat Mikuo berada. Mikuo sedang berlatih pedang dengan pedang kayu. Len mengakui, walau Mikuo beralasan bahwa dirinya sudah terlampau tua dan lemah untuk bermain pedang tapi setelah satu tahun berlatih Len masih beum sanggup untuk mengalahkan Mikuo.
"Mikuo-sama,"
Mikuo menghentikan permainan pedangnya, "Ah, sudah pulang? Bagaimana persiapan ujianmu?"
"Menyebalkan, saya kembali dihadang pemerintahan, mereka menuntut agar saya menemukan High Summoner," aku Len dengan cepat. Mikuo hanya tertawa lepas.
"Hei, aku menanyakan kabar persiapan ujianmu, bukan hubunganmu dengan pihak pemerintah," ujar Mikuo geli.
"Tetap saja, mereka mengganggu konsetrasi ujian saya," Len masih cemberut. Mikuo hanya bisa tertawa.
"Nah, apa yang bisa kubantu untukmu anak muda," Mikuo mendudukkan dirinya di samping Len.
"Saya berpikir, bukankah pihak pemerintah mampu menemukan tempat saya berada setelah anda memberikan title untuk saya," gumam Len. Mikuo hanya mengangguk menyetujui.
"Lalu, kenapa mereka tidak bisa segera menemukan keberadaan High Summoner?" tanya Len penasaran.
Mikuo terdiam sesaat, belum menjawab. Ia hanya memandangi langit biru yang perlahan berubah menjadi senja, berusaha mencari kata-kata yang tepat.
"Jangan lupakan kalau High Summoner itu memiliki kemampuan lebih dari manusia biasa," gumam Mikuo.
"Maksud anda, High Summoner menggunakan kekuatannya?" Len bergumam.
"Mereka menggunakan kemampuan dewa untuk melindungi keberadaan mereka dari pihak yang mengejar mereka," Mikuo mengangguk membenarkan.
"Lalu apa gunanya bangsa ksatria – kita – untuk melindungi mereka?" Len masih belum paham.
"Kau melupakan satu hal Len, walaupun mereka memiliki kekuatan yang hebat mereka tetaplah keturunan dewa yang memilih hidup sebagai manusia. Mereka ingin hidup sebagai manusia. Tugas kita adalah mencari dan melindunginya, bukan hanya agar mereka bisa menyelesaikan tugas akhir mereka, tetapi juga agar mereka bisa menikmati bagaimana hidup sebagai manusia biasa sebelum nyawa mereka menghilang," jelas Mikuo dengan suara sendu. Len hanya menatap Mikuo dengan pandangan aneh.
"Apakah Miku-sama dapat menikmati hidupnya sebagai manusia biasa?" tanya Len takut-takut.
Mikuo sesaat memandang Len dengan pandangan kaget, tetapi kembali mengarahkan pandangannya ke langit. "Setidaknya, aku sudah berusaha," Mikuo menghembuskan napasnya.
"Bagaimana anda menemukan Miku-sama?" Len penasaran. Mikuo tersenyum mengingatnya.
"Saat itu aku berumur 21 tahun dan ia berumur 19 tahun, 10 bulan lagi menuju 20 tahun," gumam Mikuo.
"Kenapa anda lama sekali menemukan Miku-sama?" mata Len membulat tidak percaya.
"Ia sengaja menutup koneksi hati antara diriku dengan dirinya, beralasan bahwa ia tidak mau merepotkan aku untuk selalu menjaganya," Mikuo terkadang tersenyum mengingat kembali kenangannya.
"Saat itu aku baru saja menghancurkan kekuatan Bahamut karena segel yang menguncinya hampir terlepas. Aku berhasil mengalahkan kekuatan bayangan Bahamut, tapi banyak sekali korban berjatuhan akibat tragedi itu. Saat itulah aku bertemu dengannya," potong Mikuo.
"Aku tak bisa melupakan saat itu, ia bernyanyi dengan suara merdu, mengantarkan nyawa-nyawa yang melayang akibat perbuatan Bahamut dengan nyanyiannya yang begitu indah," jelas Mikuo.
"Saat itulah, aku bertemu dengannya, Miku sang High Summoner," Mikuo menutup ceritanya. Matanya menerawang ke langit jauh.
"Apakah...anda mencintai Miku-sama," tanya Len ragu-ragu. Mikuo langsung memandang Len dengan tatapan yang tegas.
"Satu peraturan yang harus kau ketahui, Len. Pihak yang dilindungi dan pihak yang melindungi tidak boleh bersatu," tegas Mikuo dengan wajah yang tidak dapat dibaca.
"Jika engkau tidak mau mengalami penderitaan, jangan pernah jatuh cinta kepada High Summoner," Mikuo meninggalkan Len yang mendengarkan nasihat terakhir tersebut.
~000~
Di suatu tempat yang lain, seorang gadis sedang bernyanyi dengan indah dan merdu. Matanya menutup, seakan-akan menikmati suara nyanyiannya sendiri. Ia bernyanyi di bagian taman kota dekat danau, bagian taman yang paling sepi dan paling jarang dikunjungi karena posisinya yang terlalu dalam. Gadis itu terus menyanyi sehingga tanpa sadar alam ikut menikmati nyanyian gadis itu. Bunga yang masih kuncup tiba-tiba bermekaran dengan indahnya, tidak peduli bunga itu tumbuh bermekaran padahal bukan di musimnya. Burung-burung hinggap di dahan pohon taman kota tersebut, seakan sengaja menghentikan kepak sayapnya hanya untuk mendengarkan nyanyian gadis itu. Matahari juga bersinar dengan cerah, tetapi tidak terik. Jika para manusia memandang ke arah matahari secara seksama, mereka dapat melihat lingkaran pelangi 7 warna yang mengelilingi matahari tersebut.
Gadis itu memang memiliki kekuatan yang tidak biasa.
Mendadak nyanyian gadis itu terhenti, seakaan sadar akan sesuatu. Begitu gadis itu berhenti menyanyi, matahari tidak lagi menampakkan lingkaran pelangi 7 warnanya, burung-burung kembali beterbangan dan bunga-bunga yang tiba-tiba mekar kembali kuncup. Gadis itu meletakkan tangannya di depan dadanya.
"Maaf ya Len-kun, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menangkapku dengan mudah," bisik gadis itu dengan tenang.
~000~
Len tersentak dan menoleh ke arah sekelilingnya.
"Kenapa Len?" teman yang sedang diajak ngobrol oleh Len beberapa saat yang lalu keheranan.
"Sepertinya ada yang memanggilku," jawab Len sambil masih mencari arah suara itu.
"Itu aku, kau belum meberikan pendapatmu tentang-," Len tidak mendengarkan perkataan temannya itu. Pemuda itu masih terfokus pada suara yang didengarnya sesaat yang lalu dan Len yakin suara itu bukanlah suara temannya.
CRING
Seakan suara lonceng yang lembut memenuhi indra pendengarnya. Len kembali menoleh kearah sekelilingnya, mendapat pandangan aneh dari teman-temannya yang tidak dihiraukan oleh Len.
"Maaf ya Len-kun, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menangkapku dengan mudah,"
Len mendengar suara itu dengan jelas, sebelum Len sempat merespon perkataan tersebut tiba-tiba Len kembali tersentak.
"High Summoner?" bisiknya tidak yakin.
~000~
Itu adalah koneksi hati," jawa Mikuo dengan yakin. Len membulatkan matanya.
"Memang seperti itulah kalau Knight dan High Summoner berkomunikasi lewat hati. Sesaat kau tersentak karena tiba-tiba saja mendapatkan hubunganmu dengannya, tapi saat salah seorang memutuskannya seakan-akan tali yang mengubungkan kalian dipotong dengan paksa," jelas Mikuo lagi sambil mengunyah biskuit yang disediakan oleh Meiko.
Len meletakkan genggaman tangannya di depan dadanya.
"Tapi baguslah, walau hanya sebentar kau mendapatkan koneksi hati dari High Summoner," Mikuo menepuk bahu Len. Len hanya bisa tersenyum bangga.
"Jangan sampai pihak pemerintah mengetahui komunikasi hati kalian," Mikuo memberi nasihat, Len hanya menganngguk paham.
"Dan, aku jadi merasa De Javu, sepertinya High Summoner yag sekarang juga sama keras kepalanya seperti Miku," Mikuo berdiri hendak meninggalkan Len.
"Apa maksud anda?" Len tersentak tak mengerti.
"Mereka sama-sama keras kepala, tidak mau ditemukan secara mudah oleh Knight," Mikuo memandang Len kemudian berjalan meninggalkannya.
Len hanya bisa memandang Mikuo berjalan meninggalkan dirinya.
~000~
Len mendesahkan napasnya, tanda bosan. Beberapa hari sudah lewat semenjak komunikasi hati antara Len dengan gadis High Summoner itu terjadi. Sejak hari itu Len berusaha keras untuk berusaha menyambungkan kembali antara komunikasi hati Len dengan gadis itu. Tapi percuma saja, sepertinya gadis High Summoner itu sengaja memutus ikatan hati mereka agar Len tidak dapat melacak keberadaan gadis tersebut. Mikuo-sama memang benar, sepertinya High Summoner kali ini sama keras kepalanya dengan Miku-sama yang diceritakan oleh Mikuo-sama.
Kehidupan Len yang biasanya berjalan normal telah berubah menjadi tidak normal, terima kasih kepada para penduduk dunia yang sudah mulai berkasak-kusuk ngeri mengenai kebangkitan monster Bahamut dari segelnya. Saat ini tiba-tiba saja Len telah menjadi selebriti dadakan dunia, seorang pemuda yang bertitle Knight High Summoner, mengalahkan ketenaran penyanyi dunia terkenal yang entah-siapa-namanya-dan-Len-juga-tidak-mau-tahu.
Pihak pemerintah dunia juga semakin lama semakin menjengkelkan, karena mereka terus mendesak Len untuk segera menemukan siapakah gadis yang "beruntung" menjadi High Summoner.
"Gadis itu bandel dan keras kepala," begitulah tanggapan singkat Len jika diinterogasi oleh pemerintah dunia dan dicecar oleh warta media.
Seperti biasa, sekolahnya telah dipenuhi oleh wartawan seluruh dunia, tapi Len cukup berterima kasih kepada pihak pemerintah dunia karena berusaha mencegah wartawan bergerombol dan menuntut fakta High Summoner pada diri pemuda itu. Walaupun Len merasa sebal juga jika pemerintah dunia melakukan investigasi jati diri High Summoner, tapi setidaknya pihak pemerintah cukup berguna juga untuk mengusir kerumunan wartawan tak diundang tersebut.
"Bagaiman rasanya jadi selebriti dunia, tuan Knight?" seringai usil temannya muncul, menyadarkan Len dari lamunan.
"Tak ada yang spesial, malah menjengkelkan," rutuk Len. Temannya hanya tertawa usil mendengarkan keluhan Len.
"Kenapa sih kau belum menemukan High Summoner itu?" kembali kawannya mengejar.
"Kau pikir aku tidak mencoba? Gadis itu-,"
"Bandel dan keras kepala. Ya,ya, kau selalu berbicara seperti itu kepada wartawan, kami semua sudah hapal," temannya kembali menyeringai usil. Len hanya bisa mendengus merendahkan.
Len kembali memandang lapangan sekolah yang terletak di bawahnya. Sekarang sudah saatnya pulang, tetapi gerbang utama telah diblokir oleh wartawan. Terpaksa, hari ini Len harus pulang lewat gerbang belakang dan meloncati atap-atap rumah yang ada untuk sampai di rumahnya.
"Len-kun, awas!"
Len merasakan kembali komunikasi hati yang tersambung. Tetapi, sebelum Len sempat merespon,
PRANGGG!
DUARRRR!
KYAAA!
AWAS!
TIARAP!
Len merasakan dirnya terjatuh dan bertiarap di lantai. Tiba-tiba saja terjadi gempa yang sangat hebat, anehnya Len tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Gempa itu terjadi selama dua menit tentu saja Len takut setengah mati. Gempa selama dua menit adalah durasi yang cukup lama. Setelah dirasakan tidak ada lagi goncangan Len mencoba bangkit dan menggerakkan tubuhnya, walau hanya perlahan, Len mampu bangkit dari posisi telungkupnya.
Len memperhatikan keadaan sekitarnya, keadaan cukup parah. Kaca-kaca jendela pecah berhamburan, seakan terjadi ledakan dari luar yang menyebabkan hamburan kaca tersebut menyembur kedalam. Kursi, meja, lampu, bahkan beberapa bagian atap sudah roboh, menimpa beberapa murid yang tidak sadarkan diri. Len tidak paham harus berbuat apa.
Len mencoba melirik ke arah lapangan sekolah di luar, para wartawan dan pasukan pemerintah dunia yang berada di luar juga mengalami kejadian yang sama. Mereka terbaring tidak sadarkan diri, tapi yang lebih parah kobaran api berada di mana-mana.
Len melompat dari jendela lantai tiga menuju lapangan sekolah, berusaha mengamati keadaan. Kobaran api sangat menggila, jika tidak segera diatasi bisa menimbulkan korban jiwa. Akan tetapi Len tidak mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Jangan bengong begitu," Len merasakan kepalanya dipukul. Len hendak mendamprat "Seseorang" yang tidak sopan itu sebelum akhirnya menemukan sosok Mikuo.
"Mikuo-sama, kenapa-,"
"Bukan saatnya bertanya, inilah awal tugasmu sebagai Knight," ujarnya tegas. Len hanya bisa memandang daerah sekitar dengan perasaan bingung.
"Apa kau tidak sadar, api-api itu?" Mikuo menguji, tetapi Len tidak paham apapun.
"Konsentrasi dan engkau akan mengetahui siapa lawanmu," Mikuo sudah menyiapkan pedangnya, Len juga melakukan hal yang sama.
Len menutup matanya, mencoba berkonsentrasi akan musuhnya. Saat itu Len membuka matanya dan memandang semua kobaran api yang ada.
"Mereka makhluk sihir, para tentara Api," tegas Len.
"Benar, inilah salah satu kemampuan Bahamut," ujar Mikuo bangga atas kemampuan Len.
"Bagaimana melawannya?" Len berdesis bingung.
"Percayalah pada kemampuanmu, imajinasikan kekuatan yang diperlukan dan realisasikan dalam pedangmu," Mikuo memberi nasihat.
Len melakukan persis yang diperintahkan oleh Mikuo, saat itulah Len merasakan perbedaan pada pedang yang diimajinasikan dirinya. Len tidak tahu apa yang berbeda, tetapi Len dapat merasakan perbedaan kekuatan pedangnya.
Mikuo dan Len berdiri sambil membelakangi, mencoba melndungi punggung satu sama lain.
"Hari ini akan menjadi ujian praktek pertamamu Len," seringai Mikuo. Len hanya tersenyum tertantang.
Setelah itu, sosok mereka berdua langsung menghilang dan digantikan dengan bunyi desingan angin dan tebasa pedang kepada musuh mereka. Mereka terus menebas, menebas dan menebas lawan mereka. Lawan mereka memang tertebas, tetapi bukan berarti jumlah musuh menjadi berkurang.
"Mikuo-sama, mereka sama sekali tidak berkurang," Len berbisik, Mikuo hanya tersenyum.
"Yah, kemampuan Bahamut yang ini memang merepotkan," gumam Mikuo.
"Bagaimana mengalahkannya?" tuntut Len.
"Itulah yang kupikirkan, hanya High Summoner yang bisa mengalahkan mereka," jelas Mikuo.
Len melirikkan matanya ke arah para korban yang masih belum sadar.
"Padahal panas begini, kenapa mereka belum siuman juga?" Len menyeka keringatnya mengingat kobaran api yang terus menyerang mereka.
"Jiwa para korban dimanfaatkan untuk membangkitkan tentara apai ini," jelas Mikuo singkat. Len hanya bisa mengernyit dan terdiam. Len berusaha mencari cara untuk mengalahkan para tentara api dan menyelamatkan para korban, tapi bagaimana caranya?
Saat Len dan Mikuo masih terdiam untuk memikirkan cara mengalahkan tentara api, saat itulah pusaran air dari langit jatuh ke tempat tidak jauh dari Len dan Mikuo berdiri. Tidak hanya pusaran air, seorang gadis berambut merah muda lembut dengan kimono berwarna merah muda dan selendang putih yang melilit lengannya juga mendarat ringan dari angkasa, tepat disebelah pusaran air.
Sosok seorang wanita muncul dari dalam pusaran air dan menghentikan pusaran air tersebut. Wanita tersebut memiliki rambut berwarna biru muda panjang yang berkibar. Ia juga mengenakan gaun biru tua berbahan ringan yang juga berkibar seperti rambutnya. Dengan satu gerakan ringan ia melambaikan tangannya dan air yang muncul entah dari mana menerpa para pasukan api itu. Hanya sekejap saja para tentara api itu mengecil dan akhirnya menghilang sama sekali.
Pada saat yang sama, gadis merah muda tersebut juga melantunkan nyanyian yang indah. Nyanyian yang begitu bening dan menentramkan hati. Saat tersadar, Len melihat bahwa luka-luka di tubuhnya telah menghilang. Apakah ini semua karena kekuatan gadis merah muda itu?
Mendadak nyanyian terhenti, kedua wanita tersebut menoleh sesaat kepada Mikuo dan Len sebelum akhirnya melesat menghilang. Len tersentak dan langsung mengejar kedua sosok tersebut, Mikuo tidak jauh di belakangnya. Setelah melewati gerbang sekolah, Len mengarahkan pandangannya ke segala arah mencoba mencari kedua sosok tersebut. Len berdecak kesal sebelum akhirnya menangkap sesosok tubuh di kejauhan horizon sana. Dua sosok, gadis air dan gadis penyanyi itu terbang melayang mengapit seseorang yang tidak dapat Len lihat dengan jelas. Len berusaha menyipitkan matanya, mencoba melihat sosok yang ada di tengah dengan jelas. Akan tetapi sebelum Len sempat memperhatikan dengan jelas, salju berterbangan menghalangi pandangan Len sebelum akhirnya ketiga sosok itu menghilang dalam sekejap.
Len berdesis sebal dan memukul dinding yang ada di sebelahnya. Len memang tidak tahu siapa sosok yang ada di tengah itu, tapi feeling Len mengatakan bahwa sosok itu adalah High Summoner yang dicarinya.
"Kau menemukan High Summoner," Mikuo memperhatikan Len sambil terengah-engah kehabisan napas.
"Aku belum melihat sosoknya dengan jelas," decak Len sebal.
"Setidaknya kau telah bertemu dengannya. Suatu saat kau pasti akan bertemu dengannya lagi," Mikuo berusaha menenangkan Len. Len tampak tidak puas.
"Siapa gadis air dan gadis penyanyi itu?" gumam Len bingung, mencoba mengalihkan kekesalannya.
"Hmm, gadis air itu adalah Undine, sang water spirit. Sementara gadis penyanyi itu adalah Diva, sang song spirit. Mereka berdua adalah nature spirit, kekuatan yang membantu High Summoner," jelas Mikuo.
"Nature Spirit?" tanya Len. Mikuo hanya mengagguk.
"Mereka adalah kekuatan yang dimiliki oleh High Summoner yang terealisasikan. Sekarang sudah cukup tanya-tanyanya, kita harus menelepon ambulans," Mikuo berjalan meninggalkan Len dan kembali memasuki daerah sekolah.
Len kembali memandangi arah dimana High Summoner dan para Nature spirit itu menghilang.
"High Summoner, aku pasti akan menemukanmu," tekad Len dalam hati.
~000~
"Len-kun, akhirnya aku melihatmu, walaupun engkau tidak melihatku. Dan aku tidak ingin engkau melihatku,"
~000~
a/n:
alhamdulillah...selesai juga chapter kedua ini, semuanya thanks for Allah SWT dan para reader sekalian yang telah membaca fic saya...I Love You So Much~~
Review anda please?
