Percayakah kau akan dunia yang lain; selain di mana kita berada? Di mana setiap 'kau' yang lain memiliki memori dan kisah yang berbeda?
x0x0x
Disclaimer: Harvest Moon doesn't belong to me.
Ayaka Aoi presents: Meant to be Together.
Warning! AU, maybe OOC and some typo(s), fast-plotted, based main character's POV, etc.
Inspired from Amnesia anime.
x0x0x
Chapter 3: Meeting
x0x0x
BRUK
"Ouch…" ringisku, reflek saat aku menabrak seseorang, karena aku tidak menyadari ada orang lain di depanku. Ya, kuakui ini salahku berjalan sambil menunduk.
"Ah–Maaf, Claire."
Aku dapat melihat sosok itu mengulurkan tangannya, dan suaranya yang lembut menawarkan bantuan. Aku menengadahkan kepalaku, bermaksud untuk melihat siapa–oh well, walau pun aku tahu wajahnya seperti apa, aku tidak akan tahu siapa dia–yang kutabrak secara tidak sengaja. Yang kudapat hanyalah siluet hitamnya yang menghadap padaku, membelakangi arah datangnya cahaya, menyilaukan. Aku refleks menundukkan kepalaku yang terasa agak pusing, memegangnya dan mataku yang sedikit perih,
"Kau… tidak apa-apa Claire? Kau terlihat sedikit pucat…"
dan sekarang aku dapat merasakan sosok itu berlutut. Menyentuh bahu kiriku, mengusapnya.
Uh, pusingnya sudah agak hilang….
Aku mengangkat kepalaku, dan aku langsung menahan napas saat mendapati wajah lelaki itu sangat dekat, dekat sekali, menatapku dengan tatapan khawatir. Suhu tubuhnya memancar sampai ke pipiku.
Wajahku memanas….
Manik biru langitnya menatapku khawatir–setidaknya itu yang dapat kubaca dari gerakan matanya. Lelaki bertopi itu kemudian bangkit dan menawarkan uluran tangannya. Aku masih menatapnya–
–gestur tubuhnya yang tinggi dan tegap–
–coat berwarna krem yang membalut tubuhnya–
–topi bertuliskan UMA yang ia kenakan–
–beberapa helai rambut pirang pucatnya menjuntai keluar dari topi yang menutupi sebagian wajahnya–
–iris aquamarinenya yang berkilat, dan–
"Hei Claire, kau baik-baik saja, 'kan?"
Ah! Aku ketahuan melamun!
Bagaimana kalau dia curiga?
Bagaimana kalau dia tahu ada yang berbeda?
Bagaimana kalau dia tahu bahwa aku–
–"Claire? Apa perlu kuantar ke klinik?"
Aku mengerjap-kerjapkan kedua mataku. "Ah, ti-tidak, tidak usah." Aku meraih uluran tangannya, dan kemudian berdiri dengan bantuan pemuda itu.
Aku harus pergi dari sini, secepatnya, segera! Sebelum dia menyadari semuanya!
"M-Maaf, aku ada perlu, aku pergi duluan," pamitku gugup, setelah membungkukkan badanku, "dan, maaf juga sudah menabrakmu. Terima kasih sudah membantuku." Aku langsung berbalik dan menuju ke arah pantai–yang suara ombak bersahutannya terdengar dari sini.
Aku bisa merasakan pemuda itu menatap punggungku yang menjauh dengan tatapan bingung.
x0x0x
Butiran pasir pantai yang bersih menyapaku–terhampar luas, seluas pantai ini. Desir ombak yang lembut membisiki telingaku. Dan–mentari yang bersinar dengan teriknya menghujani tubuhku.
Terlihat beberapa payung khas pantai–yang tidak kutahu namanya–berdiri tertancap di bibir pantai, dibiarkan begitu saja dengan karpet yang tergelar di bawah naungannya. Dan di sudut pantai terlihat tumpukan kotak-kotak kayu–entah isinya apa.
Di arah utara dapat kulihat dua buah bangunan dan sebuah dermaga dengan kapal berukuran tidak terlalu besar yang sedang tidak digunakan. Dua bangunan itu terletak bersebelahan, dipisahkan oleh sebuah kursi kayu panjang yang cukup untuk diduduki empat orang. Bangunan yang berada di sebelah kiri merupakan bangunan yang tampak minimalis dari luar, dengan warna putih yang mendomiasi, baik warna dindingnya maupun warna atapnya. Sedang bangunan di sebelah kanannya tampak sederhana, dinding kayunya polos tanpa cat dan ornamen apa pun, meski bangunan itu tampak lebih besar dari bangunan di sampingnya. Juga terlihat beberapa tong kayu dan temali di sudut bangunan.
Pasti salah satu di antara bangunan itu adalah kafe yang kucari.
Aku melangkah mendekat bangunan yang berada di sebelah kiri, sesuai instingku. Ada sebuah papan yang tertancap di depan bangunan itu.
'Seaside Café, 11 A.M – 1 P.M, 5 P.M – 7 P.M, Summer only'
Ah, instingku benar ternyata.
Aku hampir saja mendorong gagang pintu bangunan itu saat aku menyadari bahwa sekarang belum waktunya kafe ini dibuka. Kulirik jam di pergelangan tanganku, yang jarumnya menunjukkan ke angka 10. Dan kemudian aku mengalihkan pandangan ke sekitarku.
Aku harus menunggu sejam lagi. Untung di sini tidak ada siapa pun.
Aku menarik napas panjang, sekarang masih masuk kategori pagi, tetapi matahari sudah bersinar dengan teriknya. Aku tidak bisa membayangkan sepanas apa nanti di saat tanggal sudah mencapai pertengahan Summer.
Aku mengambil sapu tangan yang ada di kantong celanaku, menghapus peluh yang menetes di pelipisku. Melihat kursi panjang yang kosong tadi, aku melangkahkan kaki menuju kursi itu dan mendudukinya.
Menunggu.
Aku kembali melirik jam di pergelangan tanganku. Waktu baru berlalu sepuluh menit sejak pertama aku tiba di sini. Aku harus menunggu lima puluh menit lagi, ya, lima puluh menit lagi.
Kuakui—temperatur udara di sini benar-benar panas. Mungkin aku bisa memasak hanya menggunakan bahan makanan dan alumunium foil. Kurasa hanya dengan mengubur makanan itu di bawah pasir pantai ini bisa membuat makanan yang kukubur menjadi matang.
Makanan.
Duh, aku baru ingat aku belum memakan apa pun dari tadi pagi.
Ya, sejak pagi perut ini memang belum dimasukkan makanan sepotong pun. Tapi, entah mengapa aku tidak merasakan lapar sama sekali.
Baiklah, mungkin ini bisa disebut hal baik—atau lebih tepat untuk menyebut kata toleransi level tinggi?
Dan juga mengingat fakta darahku tidak mendidih berada di bawah mentari yang bersinar dengan garangnya, bersemangat untuk meradiasikan panas kepada penduduk di sini.
Oh well, after all aku berada di pantai di saat Summer seperti ini, tidak heran di sini terasa begitu panas.
Aku mengusap dahiku dengan sapu tanganku yang sudah kering (lagi).
Tangan kananku memegang kerah bajuku dan mengibas-kibasnya. Panas, ini benar-benar panas. Aku bersyukur 'pekerjaan' di 'kebun' sudah selesai. Aku tidak pernah berpikir apa aku mampu untuk melakukan 'pekerjaan' itu dengan cuaca yang seperti ini.
Ombak yang datang menciptakan alunan suara yang merdu saat menerjang karang dan bibir pantai. Aku sedikit tenang mendengarkan desir itu—setidaknya bisa mengalihkan perhatianku beberapa saat dari panas yang menyengat. Orkestra pantai yang mendamaikan.
Beberapa saat kemudian kulihat dari sesosok lelaki bertubuh kekar—terasa familiar di mataku. Meski pun aku yang kuingat aku baru bertemu Kai, Popuri, Rick, dan juga lelaki bertopi tadi.
Lalu, siapa?
Gesturnya yang tinggi besar membuatnya mudah terlihat meski pun dari kejauhan. Singlet yang dikenakannya tampak sangat ketat di tubuhnya, menunjukkan otot-otot tubuhnya yang besar. Ia mengelap wajahnya menggunakan handuk kecil yang digantungkan di lehernya.
Dan aku masih terduduk, mengamatinya dari kejauhan.
Turun dari tangga masuk pantai ini, dia berbelok ke arahku. Dan pastinya, ia bisa melihatku, dan ya, ia melihatku dengan pandangan heran.
Woah, apa yang harus aku lakukan? Quick, Claire! Dia datang ke arah sini!
Semakin dekat semakin jelas ia memperhatikanku dengan pandangan yang tidak biasa. Aku langsung mengambil tindakan, aku bangkit dari tempat dudukku.
"Claire?"
Aku membungkukkan tubuhku.
"Pagi," sapaku sekenanya. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
"Uh, ya. Pagi." Aku bisa mendengar ada kebingungan dari nada ucapannya. Aku menegakkan tubuhku, berusaha bersikap 'normal', aku berdiri menghadapnya, meski aku melempar pandanganku ke arah pantai. Of course, aku tidak mau ia tahu kalau ada yang salah dengan… diriku.
"Kau tidak apa-apa, Claire? Kau sudah baikan?" Ia bertanya kepadaku dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Eh?"
Argh, bodoh. Apa yang kau lakukan, Claire?
"Err… kau tidak ingat? Kemarin saat aku sedang mengambil hasil kebunmu, tiba-tiba kau pingsan," jelasnya dengan sedikit bingung dan khawatir. Jari telunjuknya menggaruk pipi kanannya, "kau sudah mendingan? Kau selalu saja memaksakan dirimu."
Oh, jadi yang kemarin itu bukan bayanganku saja….
"Eh, iya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih."
Hening.
"Baiklah kalau begitu."
Kata-katanya yang barusan hanya kubalas dengan anggukan dan senyuman. Sejujurnya, aku tidak tahu mau berkata apa—namanya saja aku tidak tahu.
"Claire?" panggilnya tiba-tiba. Kini kulihat ia menautkan kedua alisnya. Aku hanya mencondongkan kepalaku ke arahnya, jauh di dalam kepalaku ini puluhan pertanyaan yang mungkin ditanyakan olehnya berterbangan dengan liarnya.
"Claire… ada apa? Kau lebih formal dari biasanya."
Aku terdiam. Dan kini, di dalam kepalaku ribuan kata-kata berusaha untuk disambungkan satu sama lain, menciptakan kalimat demi kalimat yang bisa saja kugunakan untuk menjawab pertanyaannya—tanpa membuatnya curiga.
Belum saja aku sempat menemukan jawaban yang tepat, tiba-tiba kudengar suara pintu yang dibuka. Aku refleks menoleh ke asal suara. Dari sebelah kananku, Seaside Café.
Keluar lelaki berbandana ungu yang tidak asing lagi, lelaki yang menemuiku tadi pagi. Kalau dia tadi bilang bahwa kafe ini miliknya, berarti tidak salah lagi Kai namanya.
Thanks, God…
"Hey yo! Claire, Zack!" sapanya dari teras kafe. Ia melambai-lambaikan tangannya dan kemudian mendekat ke tempat kami berada.
"So early, baby! Miss me already? Baru saja tadi pagi aku ke rumahmu, heh," ucapnya saat ia berdiri di sampingku, "and, hello, Zack. It's unusual, sudah selesai pekerjaan pagi ini?" tanyanya santai.
Oh, namanya Zack.
"Ya, Kai. Bisa repot kalau aku tidak menyelesaikannya secepat mungkin. Aku tidak mau menjadi manusia panggang," jawab Zack sambil mengelap wajahnya yang basah karena keringat lagi. Ya, manusia panggang. Aku mulai membayangkan kalau lelaki di depanku menjadi manusia panggang.
Haha—
"Apa yang kalian lakukan di luar seperti ini? Apa kalian punya AC sendiri dalam tubuh kalian?" cengirnya lebar. Masuk akal juga sebenarnya kalau ia bertanya seperti itu.
Dan aku tidak mungkin menjawab—
"Aku ke sini ingin mencari informasi tentang diriku, Kai."
"—Aku hanya lewat saja, dan aku bertemu Claire di sini, jadi aku hanya menegurnya saja tadi," jawab Zack, membuatku bisa bernapas dengan lega untuk sejenak, "oh ya, aku duluan ya, masih ada beberapa yang harus dilakukan," pamitnya yang diiyakan oleh Kai. Lelaki tinggi besar itu kemudian pergi, memasuki bangunan yang berdiri tepat di sebelah kafe.
Aku mengusap pipiku dengan sapu tangan yang masih kupegang. Aku bisa merasakan kemejaku yang basah karena peluhku sendiri.
"Kau sudah lama menunggu di sini, baby? Kau tampak kepanasan… dan, lihat! Bibirmu benar-benar kering," ia memenggal kalimatnya, "mentari hari ini pasti sangat iri denganmu, ia tidak mau terkalahkan dengan cahayamu yang lebih berkilau darinya."
Tentu saja, syukur aku tidak terbakar. Dan lagi pula, aku tidak mau berkompetisi dengannya.
Aku melihat jam di tanganku. Pukul 10.35.
"Ah, tidak juga," ucapku seraya tersenyum.
"Seriously? Thanks, Godness, aku tidak bisa membayangkan kulit halusmu yang tersiksa radiasi matahari. Kalau begitu ayo masuk."
Eh? Tapi sekarang belum jam buka….
"Uh, i-iya…."
Kai berbalik menuju kafenya sedang tangan kanannya menggenggam tangan kiriku.
"Eh? Tanganmu panas sekali, baby…."
"Hahaha, pengaruh cuaca," jawabku (berusaha) santai dan normal. Perlahan aku merasakan kepalaku yang berdenyut-denyut.
Saat aku mulai mengikuti langkah kakinya tiba-tiba aku merasakan pusing yang teramat sangat.
"Argh!" Sontak aku berhenti dan tangan kananku memegang kepalaku yang terasa sakit dan tertunduk. Aku merasakan keadaan di sekelilingku berputar berkali-kali lebih cepat. Kai yang menyadari ada yang tidak beres denganku langsung menghentikan langkahnya dan menghadapku.
Ia memegang lenganku erat, "Claire! Ada apa, Claire?!"
Aku bisa merasakan ia mengusap kepalaku.
"Pusing…." Aku menjawab sekenanya. Aku mengangkat kepalaku dan menatap wajahnya. Iris cokelat tuanya tampak berbayang-bayang. Berat… aku merasakan kepalaku begitu berat.
Tiba-tiba semuanya gelap.
"Claire! Claire!"
Silaunya mentari yang menyengat tidak terlihat lagi. Aku hanya dapat merasakan tanganku yang digenggam erat dan tubuhku yang berada di lengan seseorang.
Juga suara itu yang terus memanggil namaku—
x0x0x
to be Continued
x0x0x
Chapter 3 updated! 1,704 words! *laughs*
Makasih buat reader(s) yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca fiksi saya! Dan maaf, reader(s)… kalau chapter ini benar-benar plain—saya juga merasakan—dan updatenya benar-benar ngaret ya, lebih dari seminggu… *lirik sudut kanan laptop* Gomen ne…. *bows*
Saya mencoba untuk membuat karakter Kai yang level 'flirtness'nya sama dengan yang muncul di chapter 2, tetapi entah kenapa saya merasa kurang… greget. Sama karakternya maksudnya. Mungkin karena lama updatenya…. *mojok*
Chapter berikutnya, yaa tahulah protagonis kita ini bakal ketemu siapa…. *grins*
Buat yang ga punya clue, tunggu aja ya! XD
Jadi, Trent apa Cliff? XD
Well, review please, ladies and gentlemen? )
x0x0x
Sweety Nime: Hahaha, sekarang udah ngerti belum? Emang sengaja dibuat seperti itu, saya juga ga ngerti kenapa :p udah ketahuan 'kan siapa sosok misterius itu? :3 Sengaja si Zack yang nemuin(?) Claire, karena udah pasti kalau Zack yang nyamper(?) ke rumah Claire setiap hari XD Makasih banyak ya reviewnya! *bows*
The Fairy Witch: Hai hai! Sabar ya, udah bisa kan? *hugs* Waah ternyata ada yang berpihak sama Cliff juga XD *jingkrak2* Kalau Kai, ya udah keburu dimunculkan di chapter ini, jadi, ya… gomen… *bows* Di akhir juga harus pilih salah satu juga 'kan, ga mungkin si Claire malah jadi poliandri (?) XD Oke, makasih banget ya reviewnya!
