NIJI

( Chapter 3 )

Bleach © Tite Kubo

NIJI © Aqua Timez

Warning : OOC, Typo, Don't Like Don't Read, Shounen-ai, GrimmIchi

Like a single season that goes by
Let your sad times remain sad
Don't rush to turn them into happiness
It's okay, I'm here for you
It's okay, I'm not going anywhere
When it's time to run, I'll still run together with you

Grimmjow memandang nisan dihadapannya dengan nanar. Tempat salah satu sahabatnya beristirahat. Dia memutuskan utnuk datang ke tempat ini setelah berhasil sedikit menata perasaannya yang hancur akibat kalimat Ichigo tadi. Tidak disangkanya semua ini akan begitu sulit.

Ini benar-benar menjengkelnya! Dia hanya mau berada di sisi pemuda itu, menjaganya seperti yang pernah dilakukan Renji. Apa itu salah?

Dan sialnya dia ditolak.

Bibir Grimmjow mwnyunggingkan senyum tipis. Dirinya pasti tampak konyol sekarang.

"Bagaimana caranya menaklukkan si Orange itu, Renji?" tanyanya kemudian pada udara kosong.

Jelas tidak akan ada jawaban, tapi Grimmjow terlanjur frustasi. Lagi, hembusan napas Grimmjow terdengar. Dan perlahan, tetes hujan itu dapat dia rasakan.

Sakit.


Kenapa setiap kali memejamkan mata, yang terlihat hanya sosoknya?

Masih banyak 'kenapa' yang ingin Ichigo lontarkan sekarang, meski itu hanya pada angin. Dia merindukan orang itu…

Ichigo merapatkan jaket hitamnya, berharap sedikit mengurangi udara malam yang semakin dingin. Berdiri sendirian di balkon malam-malam begini sebenarnya bukan hobinya. Namun, mimpi buruk itu datang lagi setiap dia mulai memejamkan mata. Ini masih saja menyakitkan. Ichigo ingin melupakan dia, tapi mengenangnya juga adalah salah satu cara agar dirinya dapat bertahan.

Kenapa sulit sekali membuatmu menghilang dariku?

Dipandangnya langit yang sekarang tanpa bintang,"pelangi, heh?"

Mata Ichigo terpejam, mencoba membayangkan garis-garis imajiner yang bisa membentuk sebuah pelangi. Mencoba mengerti kata-kata Renji dulu. Bahwa pelangi dapat dilihat dimanapun dan kapanpun.

Ichigo tertawa masih dengan mata yang terpejam. Sungguh si rambut merah itu berhasil membuatnya gila. Kemana 'pelangi' itu? Kenapa dia tidak bisa melihatnya?

Menyerah, Ichigo akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamanya. Tubuhnya perlu tidur.


"Ichigo!"

Grimmjow mencekal pergelangan tangan Ichigo sebelum pemuda itu sempat menghindar. Kesabarannya habis sudah. Dia tidak bisa lagi menghadapi Ichigo yang terus menghindarinya. Apa seburuk itukah dirinya kini di mata pemuda itu?

"Dengar, kita perlu bicara."

"Apa lagi?"

Masih sama seperti sebelumnya. Nada itu begitu dingin dan ketus.

Susah payah Grimmjow menahan emosi yang hampir memuncak. Diseretnya Ichigo ke sisi lain koridor yang sepi. Mereka saat ini butuh sedikit ruang untuk bicara, tanpa ada satu pun interupsi. Ini perlu diluruskan.

Satu sentakan keras akhirnya bisa melepas cekalan Grimmjo dan mata Hazel itu menatap Grimmjow penuh amarah. Bisa-bisanya orang ini menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang tidak penting begini?

"Apapun yang ingin kau bicarakan, aku harap jangan lama-lama. Aku masih ada urusan?"

Senyum sinis segera terbentuk di bibir Grimjow, "urusan? Urusan tentang Renji-mu yang sudah mati itu, heh?"

BUGH!

Napas Ichigo terengah setelah melayangkan satu pukulan telak di rahang Grimmjow, membuat pemuda itu jatuh tersungkur karena ulahnya.

"Jangan bicara apapan tentang Renji! Jangan pernah bilang kalau dia sudah mati!"

Grimmjow bangkit dan memandang wajah Ichigo yang kini memerah karena marah. Diusapnya darah yang mengalir dari sudut bibirnya karena pukulan Ichigo. Dia muak sekarang. Benar-benar muak!

"Aku tidak menyangka, kau ternyata selemah ini, Kurosaki. Apa perlu aku membawamu ke makamnya?"

"Kau!"

Satu pukulan lagi sudah siap Ichigo hadiahkan untuk Grimmjow andai tangan pemuda berambut biru itu tidak cepat menahan tangan Ichigo.

"Kau tidak tahu apa-apa!" Ichigo mati-matian menahan amarahnya. "Kau tidak tahu karena kau tidak pernah kehilangan!"

"SIAPA BILANG AKU TIDAK TAHU APA-APA!"

Sesaat yang ada diantara mereka hanyalah keheningan. Dan entah kenapa, Ichigo menunduk. Dia seolah tidak punya kekuatan untuk menatap wajah Grimmjow yang sekarang terlihat begitu putus asa.

"Aku tahu rasanya kehilangan, Ichigo," menghela napas sejenak untuk menetralkan perasaannya yang semakin tidak karuan, Grimmjow berkata dengan lirih. "Bahkan mungkin, aku lebih tahu rasanya daripada kau."

"Kenapa?"

Hazel Ichigo akhirnya berani memandang Grimmjow dan detik berikutnya yang dia temukan adalah satu ekspresi yang sulit untuk diartikan. Ichigo tidak mengerti kenapa dirinya seolah ikut merasakan luka yang Grimmjow derita.

Andai saja dia bisa memilih, lebih baik mereka tidak usah saling mengenal. Dirinya, Renji dan Grimmjow bertemu dalam suatu ikatan yang bernama 'sahabat' namun Ichigo tidak bisa memungkiri bahwa ikatan yang terjalin antara dia dan Renji jauh dari kata sahabat. Dia mencintai pemuda berambut merah itu, begitu juga sebaliknya. Dan sekarang ia mulai paham, mungkin sejak awal dia yang salah karena tanpa sadar telah membuat Grimmjow terluka. Memang seorang Kurosaki Ichigo bukanlah orang yang peka jika menyangkut maslah perasaan.

"Kau tidak pernah melihatku. Yang ada di matamu cuma dia."

Lirih, hingga terdengar seperti bisikan.

Perlahan, kedua tangan Grimmjow membelai sisi wajah Ichigo. Berusaha menyampaikan apa yang ia rasakan. Padahal niat awalnya mengajak Ichigo bicara adalah untuk mendapatkan maaf dari pemuda itu dan membuat semuanya kembali seperti dulu. Tapi ternyata rencananya malah berbelok. Dia ingin Ichigo mengerti akan apa yang dirinya rasakan selama ini. Dia ingin memiliki Ichigo. Utuh.

Jemari Grimmjow bergerak semakin keatas, kini menyentuh helai orange rambut Ichigo lalu membelainya lembut.

Dan anehnya, tidak ada penolakan dari Ichigo.

Mungkin mulai kini dia bisa berharap lebih.

"Daijobu, Ichi," Jemari itu tetap bertahan di rambut orange pemuda yang ia sayangi. "Aku ada disini... untukmu."

T.B.C

An : lagi-lagi chapter pendek T.T

Umm... masih adakah yang ingat dengan fic ini? XD

Gomen saya tidak bisa bales ripiu satu persatu, tapi saya seneng bgt dapat ripiu dari kalian semua *peluk-peluk* dan saya juga tidak bisa sering-sering update fic T.T *lirik fic MIDNIGHT SUN*

O ya, buat aoisakura: gimana kalau aoi yang kasi alamat fb-nya aoi, ntar saya yg nge-add hehehehe.

Yosh! RnR, minna-san?