Fade into You
(Fade #1)
(Remake)
Chanbaek's fanfiction based of novel by Kate Dawes
Jadi, ini bukan murni ceritaku. Aku hanya me-remake dari novel karya Kate Dawes dan mengganti nama dalam cerita dengan nama anggota EXO dan lain-lain.
Cerita seluruhnya karangan Kate Dawes
GS, M rated.
Warn! NC scene.
*
Selama perjalanan ke studio, aku tersadar bahwa mungkin Chanyeol memberi peran kepada Jessica hanya untuk agar aku datang ke kantornya. Apakah itu mungkin?
Tidak, tentu tidak. Paranoid sepertinya telah menguasaiku. Tidak mungkin seorang produser besar Hollywood akan menyewa seorang aktris hanya untuk mendapatkan sedikit waktu kebersamaan dengan seorang asisten agen aktris. Terlalu banyak resiko dan uang yang
dihamburkan. Seluruh reputasinya bisa jatuh hanya karena satu film yang gagal.
Sangat konyol memikirkan bahwa semua ini adalah hanya tipu muslihatnya agar aku datang ke kantornya. Dia memiliki banyak cara untuk melakukan itu. Mungkin tidak secepat ini, tapi dia bisa mendapatkan apa saja yang dia mau.
Aku sampai di gerbang penjaga dan diberitahu di mana untuk memarkir. Saat aku berjalan, mataku melihat sekeliling mencari apakah ada artis terkenal. Ya, aku masih cukup baru di Hollywood untuk melihat para bintang.
Aku menemukan kantor Chanyeol tanpa kesulitan. Ketika berjalan, aku disambut oleh seorang wanita pirang tinggi, dan terpana oleh kemungkinan yang sangat nyata bahwa dia adalah wanita yang sama
ketika sedang berbicara dengan Chanyeol pagi itu saat di Las Vegas. Aku tidak melihat wajahnya, tapi itu masuk akal bahwa asistennya mungkin ada di sana. Mungkin dia bepergian dengan dia sepanjang waktu. Mungkin dia ada di sana sendiri dan mereka kebetulan bertemu satu sama lain. Atau mungkin dia sedang tidur dengannya...
Apapun masalahnya, aku belum pernah bertemu denganya ketika pertama kalinya aku berada di sini.
Dia melihatku dan berkata, "Hai, bisa saya bantu?"
"Saya Byun Baekhyun. Untuk bertemu Chanyeol…Mr. Park."
"Oh, ya, dia sudah menunggu Anda. Ke kanan dan masuk." Dia memberiku senyum ramah.
Area menerima tamu milik Chanyeol lebih besar dari seluruh kantor kami dan sepertinya tumitku mengklik ekstra keras saat aku berjalan ke pintu kaca buram yang mengarah ke kantornya. Aku mengambil napas dalam-dalam, memutar pegangan, dan melangkah masuk.
Chanyeol sedang duduk di sofa tepat di bawah poster besar film terakhir yang ia buat. Aku begitu gugup, terakhir kali aku di sini, aku tidak melihat detail kantornya. Ada cermin besar dan meja krom, kursi kulit hitam besar di balik itu, dan dua kursi yang lebih kecil di sisi lain. Di dinding ada poster film yang besar, menggunakan bingkai yang mahal, dan masing-masing memiliki pencahayaan sendiri.
"Baekhyun," katanya, berdiri untuk menyambutku.
"Hai, Chanyeol."
"Silakan duduk." Dia menunjuk ke sofa.
Aku ingin duduk di salah satu kursi di seberang sofa, dengan meja kopi besar yang memisahkan kita. Setiap langkah yang dibuatnya memancarkan kepercayaan diri, kewibawaan, dan seks. Aku tahu aku tidak seharusnya duduk di sampingnya.
Ia mengulurkan tangannya, mengundangku, dan aku menyambutnya.
Tapi aku duduk beberapa meter darinya.
Chanyeol mengangkat lengannya dan dengan dramatis mengendus. "Apakah aku bau?"
"Tidak." Sebenarnya anda harum luar biasa. "Kenapa?"
"Karena kau duduk begitu jauh dariku. Kupikir kau memiliki alasan."
Ya aku punya alasan. Tapi aku tidak bisa benar-benar mengatakan padanya bahwa aku membutuhkan sedikit ruang diantara kami jadi aku tidak akan terjebak dalam permainannya di kamar hotel dulu.
Aku terus menjaga suara agar tetap terdengar profesional. "Aku ke sini hanya untuk mengambil kontraknya."
Chanyeol turun dari sofa sampai dia tepat di sebelahku. Aku melihat kembali secara dekat pada matanya yang dalam, dan bibirnya yang berbentuk sempurna.
Dia menaruh jari di bawah daguku. "Aku sudah tidak sabar menunggumu sampai di sini." Dia membungkuk dan menciumku,
ciuman lembut, tidak dengan lidah.
Ketika ia mundur kembali, aku berkata, "Kita benar-benar harus menghentikan ini. Atau...setidaknya membicarakannya."
"Kenapa merusak momen ini dengan bicara?"
Apakah dia serius? Dia tampaknya memiliki cara yang halus dengan wanita dalam segala aspek, jadi mengapa dia mengisyaratkan bahwa bicara itu tidak perlu?
"Tidakkah kau pikir ini adalah ide yang buruk?" Tanyaku.
Matanya meninggalkanku, dan tatapannya melayang ke tubuhku, kedadaku, kemudian kakiku, yang terlihat dari rok yang kupakai.
"Aku tak bisa memikirkan ide yang lebih baik daripada kau dan aku bersama-sama."
"Dan 'bersama-sama' yang kau maksud adalah seks, kan? Hanya seks."
Dia mengangkat bahu. "Apa pun yang kau suka. Apa yang kau suka, Baekhyun?"
Aku tak pernah melakukan diskusi yang begitu terus terang seperti ini sebelumnya. Itu membuatku sedikit gugup, tapi tidak sampai ketitik dimana aku akan kehilangan tekadku. Aku meminta sesuatu untuk minum, dan Chanyeol segera menawariku White Russian.
"Apakah hanya itu yang kau minum?" Tanyaku.
Dia mengangguk sambil berdiri dan berjalan ke area bar dikantornya. "Sejak SMA. Aku tak pernah menyukai bir. Tidak pernah menyukai semua yang pernah aku coba, Tapi White Russian...dari awal
mencoba aku sudah menyukainya dan tetap setia sampai sekarang."
Aku tertawa. "Air, terima kasih."
"Dingin atau panas?"
"Hanya air putih saja. Apa pun yang kau punya."
Aku melihat dia berdiri di bar, membelakangiku. Hari ini ia mengenakan kaos putih lengan panjang, celana jeans biru, dan sepatu bot coklat gelap. Kaos menempel ditubuhnya, memamerkan bahu dan punggungnya yang lebar, pinggangnya langsing. Berkat celana jeans, aku melihat pantatnya yang indah untuk pertama kalinya, dan harus membuang mata darinya sebelum ia berbalik dan menangkap basah diriku. Dia seolah-olah sudah diciptakan dengan sangat hati-hati, dan dengan susah payah dibangun oleh seseorang yang mempunyai selera yang bagus dan sangat detail.
Aku memandang ke luar ke arah jendela besar dan untuk pertama kalinya melihat ke dalam area studio. Dari lantai tiga kantornya, aku bisa melihat beberapa set luar ruangan, beberapa di antaranya tampak tidak asing dari film yang pernah kulihat. Di kejauhan, Hollywood hills sebagai latar belakangnya. Satu-satunya kelemahan dalam pemandangan ini adalah tidak mampu untuk melihat tulisan yang terkenal di lereng bukit.
Chanyeol sedang membuat minumannya sambil berkata, "Hanya air putih saja, ya? Aku tak pernah mengira kau seorang gadis yang suka sesuatu yang biasa."
"Saya tidak suka sesuatu yang rumit."
"Ah, sayang sekali. Kadang-kadang kerumitan bisa sangat menarik. Setidaknya, itulah yang aku temukan."
Jelas, kami tidak berbicara tentang air di sini, dan kami berdua tahu itu. Dia bergabung denganku di sofa, sambil menyodorkan sebotol air putih.
"Jadi," katanya, "Kau ingin bicara. Mari kita bicara."
Aku meneguk air dingin itu, mencoba untuk mencari tahu apa yang akan kukatakan.
"Aku yang bicara duluan," katanya, menyelamatkanku. "Mari kita terbuka. Kita tertarik satu sama lain. Kita berdua lajang-"
"Apakah kita begitu?" Aku menyela.
"Aku iya. Apakah aku salah menilai situasimu?"
Aku menggeleng. "Tidak, kau tidak salah."
"Baik. Jadi apa yang menghentikanmu?"
Aku menaruh botol air di atas meja dan menyilangkan kakiku. "Aku tidak melakukan...ini. Aku tak akan tidur dengan dengan seorang pria secara tiba-tiba hanya karena mereka hot."
Chanyeol tersenyum. "Jadi kau pikir aku hot."
Kepalaku langsung jatuh. "Ya. Ya, kupikir dirimu hot, oke? Puas?"
Dia meneguk White Russian-nya. "Senang? Ya. Meskipun aku bisa lebih senang lagi."
"Dengar, apa yang ku maksud adalah bahwa dibutuhkan lebih dari sekedar beberapa baris naskah dan langkah yang halus untuk bisa masuk ke dalam celanaku."
"Sebenarnya, kau memakai rok. Tapi itu hanya masalah teknis."
Aku menyukai selera humornya dan tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Dan, untuk di catat," ia melanjutkan, "Aku belum menulis satu baris naskah pun untuk ini."
"Oke, aku percaya kata-katamu untuk itu."
Dia duduk kembali di sofa, sekarang lebih dekat padaku. Aku mencium lagi aroma yang luar biasa maskulin dan hampir saja
bertanya padanya apa yang ia gunakan, tapi memutuskan untuk tidak melakukannya.
Sebaliknya, aku berkata, "Aku tidak tertarik pada casting cauch romp." (Cauch romp: hubungan seks yang dilakukan artis agar
mendapat peran dlm suatu film.)
Ia melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa terbahak. Ketika ia kembali menatapku dia berkata, "Aku juga tidak, Baekhyun. Bahkan, aku belum pernah mendengar 'casting cauch romp' seperti yang kau katakan sepanjang karirku di kota ini."
"Tidak?"
Dia menggelengkan kepalanya. "Ini adalah sesuatu dari masa lalu. Setidaknya, kupikir begitu. "
"Kau memiliki wanita pilihanmu sendiri, aku yakin. Omong-omong, ketika aku meninggalkan Las Vegas Minggu pagi, aku melihatmu dengan wanita berambut pirang di luar restoran."
Dia memiringkan kepalanya ke samping. "Ah, ya. Dia mencoba untuk menjual sesuatu padaku."
"Ya, aku berani bertaruh dia pasti melakukan itu." Aku meraih botol air.
"Dia bukan seorang pelacur. Dia bekerja di perusahaan yang memiliki hotel dan kasino dan satu lagi di the strip. Dia mencoba membujukku untuk membeli penthouse yang satu lagi."
"Satu lagi?"
Dia mengangguk. "Aku punya satu di hotel tempat kita menginap."
Ya Tuhan. Jika dia membawaku ke penthouse, aku tak akan pernah bisa keluar dari sana tanpa memberi apa yang dia inginkan. Malam itu hampir saja aku menginginkan sesuatu dan itu nyaris menjadi hal yang pasti.
"Jadi," kataku, "Kau akan membeli satu lagi?"
Chanyeol mengerutkan dahi. "Aku tak melihat adanya kebutuhan punya dua penthouse di Vegas."
"Pemikiran yang bagus."
"Terima kasih." Dia menyeringai dan meneguk minumannya. "Mari kita kembali ke casting couch..."
"Jangan. Aku ingin kembali membahas pekerjaan saja."
Ini akan menjadi waktu yang tepat untuk berdiri, meminta kontrak, dan kembali pulang. Tapi tangan Chanyeol tiba-tiba bertumpu pada kakiku. Aku menunduk dan melihat dia menggerakkan tangannya, dan telapak tangannya mengusap lututku dengan punggung jari telunjuknya.
Aku melihat dia melakukan itu selama beberapa detik, mengagumi bagaimana sedikit sentuhan mengirimkan kejutan rangsangan di kakiku. Dadaku terasa berat, dan aku merasa putingku mengeras.
"Kau menginginkan ini seperti aku menginginkannya," katanya. "Aku melihatnya dalam caramu melihatku."
Aku menoleh untuk menatapnya dan dalam sekejap wajahnya bertemu dengan tatapanku, bibirnya menyentuh bibirku. Mulutku terbuka dan lidahnya masuk mengikuti undanganku tanpa ragu-ragu.
Tak ada yang bisa menghentikannya, dan pada saat itu, aku tak lagi memiliki keinginan untuk menghentikan apa yang dia lakukan.
Dia mengendalikan ciuman itu, panas dan licin, mendominasi dengan menjilat secara sensual sepanjang lidahku.
Chanyeol menjauh dari wajahku sejenak. "Kau tidak mengatakan tidak."
"Aku juga tidak mengatakan ya."
"Biarkan aku mencoba untuk membuatmu mengatakannya."
Mulutnya menguasai mulutku lagi.
Tangan Chanyeol meluncur kepahaku perlahan. Denyut jantungku meningkat dalam mengantisipasi. Satu jari menggelincir kelubang kaki celana dalamku, dan aku merasa ujung jarinya membelai lipatanku yang basah.
"Oh, Tuhan," kataku di dalam mulutnya.
"Itu hampir disebut ya."
Dia terus menggodaku dengan ujung jarinya, lembut sedikit lebih jauh setiap kali, tetapi tidak dekat dengan clitku.
Aku mengambil segenggam rambut dan meremas. Itu tebal, namun lembut, dan genggamanku tampaknya semakin membangkitkan gairah lebih dalam dari dirinya.
"Kita tak perlu melepaskan ini," katanya, sambil menarik bajuku. "Tapi aku harus melihatnya."
Chanyeol melepaskan kait braku, mendorong ke samping, memperlihatkan
payudaraku.
"Ya Tuhan, Baekhyun..." Suaranya menghilang saat dia menundukkan kepala dan menutup bibirnya disekitar putingku. Aku melihat ujung lidahnya menjilati putingku, sementara tangannya meremas
payudaraku yang lain.
Mulutnya beralih ke putingku yang lain. Mereka semakin ketat saat ini, karena perhatiannya, dan juga karena udara dingin yang bergegas melintasi jejak basah yang ditinggalkannya.
Rokku naik sampai pinggul. Ibu jari Chanyeol meraih celana dalamku dan
mulai menariknya turun kakiku.
Aku menunduk dan melihat bahwa itu akan lepas dari satu kaki, tapi kini celana tersebut tergantung dipergelangan kakiku yang lain. Chanyeol meletakkan satu kakiku ke lengan sofa, menarik kakiku yang lain ke pangkuannya, dan itu membuatku sangat terbuka untuknya.
Aku tak pernah merasa begitu rentan terhadap seorang pria sebelumnya. Tapi aku juga belum pernah dikendalikan oleh seorang pria seperti ini.
"Kau belum mengatakan ya, Baekhyun."
"Bukankah posisi ini sudah cukup menjawab?"
Dia menyeringai. "Katakan saja."
Tangannya telah merayap kembali pahaku. Jari-jarinya melingkar di bagian bawah, meninggalkan ibu jarinya melayang kearahku.
Aku menatapnya. "Ya."
Aku memiringkan kepalaku kembali ke sofa sebagai reaksi ketika ibu jarinya bersentuhan dengan clitku. Dia memijat pelan membentuk lingkaran, memberikan lebih banyak tekanan, kemudian berkurang, kemudian lebih lagi.
Aku menatap lurus ke langit-langit ketika aku merasa mulutnya di leherku. Lidahnya menelusuri lingkaran kecil, dan kemudian ia sedikit menghisap.
Cara dia memperlakukan clitku sangat sempurna, dan aku bisa klimaks hanya dengan cara itu saja, tapi itu tidak cukup untuk Chanyeol. Tangannya pindah dan menyelipkan satu jarinya di dalam diriku,
mengubahnya karena ia membiarkannya meluncur masuk dan keluar dalam satu belaian pendek.
"Kau begitu terbuka untukku," katanya.
Suaranya sudah cukup untuk membuatku basah tadi, tapi efeknya adalah menjadi seribu kali lipat dengan jari-jarinya membelai tubuhku, dan memasukiku.
"Ya Tuhan, Baekhyun, kau lebih dari yang aku harapkan."
Aku memikirkan hal yang sama tentang dirinya. Pikiranku pun fokus pada tangannya, karena ia menyelipkan masuk kedua jarinya.
"Oh, ya, please," kataku.
"Katakan apa yang kau suka."
"Itu. Tepat .. te ...te..tepat.. disana. oh, Tuhan... "
Dengan kakiku di atas pangkuannya, aku bisa merasakan kejantanannya keras melalui celananya. Aku ingin menyentuhnya. Aku ingin membuatnya merasa puas, sebaik dia melakukannya padaku.
Pinggulku melawan untuk memenuhi jari-jarinya yang membelai. Aku tidak menahan apapun.
Aku menatap Chanyeol. Dia menatap ke bawah diantara kedua kakiku, akupun melihat ke bawah juga. Jika kakiku telah terbuka lebih lebar, kakiku pasti akan menjadi kram. Tapi tak ada rasa sakit. Kenikmatan itu semuanya berasal dari tangan terampil milik Chanyeol.
Cara dia merabaku adalah lebih baik daripada seks yang pernah aku alami.
Napasku tercekat di tenggorokan dan aku tersentak.
Aku bertanya-tanya apakah pintu terkunci, dan kemudian berpikir bahwa jika seseorang masuk aku bahkan tidak akan peduli. Ini terlalu nikmat.
Aku mulai menggerakkan kakiku yang menutupi pangkuannya. Kejantanan Chanyeol tegang dibawah celana jeansnya. Aku tak tahu bagaimana dia mempertahankan kontrol diri padahal dia bisa menurunkan celananya dalam hitungan detik dan bercinta denganku.
"Aku akan membuatmu orgasme, Baekhyun. Ini semuanya tentang kamu."
Itu adalah jawaban mengapa ia terus memakai celananya. Ini semuanya tentang kamu. Tak pernah seorang pria mengatakan itu padaku. Ide seperti itu tak mungkin pernah terlintas pikiran orang-
orang yang pernah bersamaku.
"Apakah kau siap klimaks untukku?"
"Ya. Ya."
Mulutnya menekan mulutku, nikmat, kuat dan posesif. Dia menundukkan kepala dan lidahnya membelai putingku, kombinasi
antara gigi atas dan lidah memberikan sensasi yang sedikit tajam namun lembut.
Usapan menjadi cepat, dan telapak tangannya menempel clitku. Sempurna.
Chanyeol berkata, "Kau lihat bagaimana panasnya ini nantinya? Kau dan aku?"
Aku berada di titik di mana aku hampir tak bisa berkata-kata. Aku membuat beberapa jenis suara yang hamper berdecit. Darimana itu berasal? Chanyeol telah menariknya keluar dariku, entah bagaimana.
"Seks kita akan begitu nikmat. Aku bisa membuatmu orgasme dengan seratus cara yang berbeda."
Setelah kejadian ini- Atau audisi ini? Aku tak ragu bahwa dia bisa.
"Aku ingin melihat matamu ketika kau orgasme, Baekhyun."
Kepalaku menghadapnya, dan ketika aku menatapnya, mulutnya sedikit terbuka.
"Kau merasakan seberapa keras aku terhadapmu?"
Aku mengangguk, menekan kakiku turun dan merasakan ereksinya. Aku membayangkan bagaimana miliknya merobek celana jeansnya.
"Ini akan berada di dalammu segera, dan kau akan kembali merasakan kenikmatan seperti yang aku berikan sekarang."
"Chanyeol. Kumohon...aku mau..."
"Mau apa? Mau orgasme? Ingin aku membuatmu orgasme?"
"Semua - semuanya," kataku terbata-bata.
Senyum jahat muncul di sudut mulutnya. "Belum. Tidak semudah itu. Ini semuanya tentang kamu sekarang."
"Oh, Tuhan, ya. Aku akan..."
Kata-kataku terhenti saat ia membawaku menuju orgasme. Pinggulku mendorong melawan tangannya. Dua jarinya tepat berada di tempat yang selalu aku temukan dengan jari-jariku sendiri. Sebuah tempat
kebanyakan orang tidak pernah temukan, namun Canyeol telah memusatkan perhatian pada hal itu dengan mudahnya.
"Lihatlah aku," katanya.
Aku melakukan apa yang dia katakan, dan matanya memiliki tampilan seseorang yang baru saja menyelesaikan penaklukan besar.
Dia tahu dia memilikku. Dia tahu aku telah menyerah. Dan aku tak pernah menahannya sedikitpun. Ada intensitas untuk membuat diriku rentan kepadanya dan itu tak kuharapkan. Akan lebih mudah daripada yang aku pikir itu akan terjadi, dan imbalannya adalah di luar harapan
terliarku.
Wajah Chanyeol dekat dengan wajahku, begitu dekat sehingga dahi kami
bersentuhan. Dia menatap jauh ke dalam mataku saat kabut orgasme yang terangkat dariku dan perlahan-lahan memudar kembali ke dunia nyata.
Chanyeol mengaitkan braku lagi, dan menarik bajuku kembali untuk menutupiku. Dia pindah dari sofa dan berlutut di lantai, mengangkat pergelangan kaki yang masih memegang celanaku, dan memasangkan
kembali satu kakiku yang lain. Aku menggerakkan pinggulku untuk
membantunya menarik celana dari kaki ke pinggangku. Setelah merapikan rokku, dia duduk di sampingku sekali lagi.
Aku berpikir betapa uniknya bahwa ia memastikan aku berpakaian lagi, tertutup, dan tidak harus merasa tidak nyaman setelah masa-masa kerentanan telah berlalu.
"Terima kasih," kataku.
Dia mencium keningku dan kemudian memberiku sebuah ciuman panjang, pelan dan manis di bibirku.
Aku ingin tinggal, tapi aku harus pergi. "Aku harus kembali bekerja."
"Ya. Aku tak ingin Kris bertanya-tanya apa yang terjadi." Dia tersenyum. "Aku akan mengambil kontraknya."
Aku pergi dan berdiri di pintu kantornya sementara ia mengambil amplop itu. Ketika ia menyerahkannya padaku, aku mengambilnya, tapi ia menahannya dan menarik kembali.
Aku menatapnya. Dia memiliki senyum yang menyenangkan di wajahnya.
"Terima kasih sudah datang, Mrs. Byun."
"Senang berjumpa dengan anda lagi, Mr. Park."
Dia menyerahkan amplop besar. Aku memegangnya dekat dengan dadaku. Aku sedang menunggu untuk ucapan selamat tinggal mungkin sedikit kecupan di pipi. Sebaliknya, dia bersandar kemudian
mencium telingaku dan berkata, "Lain kali kita tidak akan terburu-buru, dan aku akan menghabiskan waktuku untuk bercinta
denganmu."
Aku menelan ludah. Keterusterangan dalam nadanya mengejutkan, dan hampir pasti akan membuatku tertawa jika itu keluar dari mulut laki-laki lain itu. Tapi sebenarnya adalah, aku terangsang oleh kata-katanya.
Dia meraih pegangan pintu, tapi sebelum ia membuka itu aku berkata, "Kapan tepatnya waktu berikutnya itu?"
Sialan. Ada nada keputus-asaan dalam pertanyaanku aku tidak bermaksud untuk itu.
Dia mendongak seolah-olah dia sedang berusaha untuk menemukan jawabannya. "Aku pikir biarkanlah itu menjadi kejutan."
"Itu pasti membutuhkan waktu lama," kata Kris saat aku berjalan ke kantor.
"Maaf."
Aku mencoba untuk tidak membuat kontak mata dengan dia, meskipun aku tahu itu hanya akan membuatnya semakin tampak
bahwa aku sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"Yah?" Katanya. "Apa yang terjadi?"
"Dengan apa?"
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Kenapa?"
Dia menyipitkan mata sedikit dan menatapku samping. "Kau tidak terlihat baik-baik saja. Kau tampak...berbeda. Apakah ada yang salah?"
Aku pernah mendengar istilah 'rambut kusut sehabis bercinta' sebelumnya, tapi adakah istilah 'rambut kusut sehabis bercinta denganjari'? Apakah itu yang dia maksud? Atau mungkin aku hanya begitu
gugup yang terlihat jelas wajahku. Lagipula, aku tak ingin dia memperjelasnya.
"Semuanya baik-baik saja, Kris. Aku sudah punya kontraknya." Aku merogoh tasku untuk mengambil amplop. "Dan kemudian setelah aku pergi, aku harus berhenti di suatu tempat dan mengurus sesuatu."
Tampaknya dia tidak percaya padaku.
Aku merendahkan suaraku dan menambahkan, "urusan pribadi." Aku
membuat semacam wajah yang tampak malu untuk memperkuat ceritaku, dan tampaknya dia percaya.
"Ah, maaf," katanya.
Aku menggeleng. "Jangan khawatir." Aku menyerahkan amplop ke Kris.
Dia membukanya, mengeluarkan kontrak dan dengan cepat melihatnya. "Apakah kau tahu apa artinya kertas ini? Ini sangat besar artinya bagiku." Dia menatap lagi dengan kebanggaan yang ekstrim di
wajahnya.
"Aku ikut senang mendengarnya."
Dia mendongak dari kertas. "Senang bagi kita semua. Kau bagian dari tim di sini. Aku tidak bisa melakukan ini tanpa bantuanmu."
Ini membuatku sedih mendengarnya. Untuk satu hal, itu adalah hal yang sederhana baginya, dan itu bukan sesuatu yang sering datang di Hollywood. Dan yang kedua ketika aku tahu itu benar bahwa aku telah melakukan banyak hal untuk membantu dia mendapatkan peran
untuk Jessica, dan aku juga melakukan banyak hal untuk menempatkan bisnis Kris ke dalam bahaya.
Semua itu akan menjadi salah satu rumor tentang Kris yang menggunakan asisten muda untuk membujuk eksekutif studio dengan cara yang tidak etis.
Aku sangat bahagia bahwa itu adalah hari Jum'at dan aku punya dua hari penuh untuk pergi menjauh dari Kris dan kantor.
Di sisa hari itu yang bisa aku pikirkan hanyalah kapan aku bisa bertemu Chanyeol lagi. Dia mengatakan itu akan menjadi kejutan, dan ketika aku meninggalkan kantornya kupikir itu terdengar menarik. Tetapi ketika pulang dari kerja itu membuat sarafku menjadi gila.
Aku punya rencana malam ini untuk pergi ke klub dengan Luhan dan dua temannya yang baru aku kenal. Mungkin itu akan menjadi pengalih pikiranku dari semua yang berhubungan dengan Chanyeol.
"Gaun ini membuatku terlihat seperti pelacur, kan?"
Aku berada di kamar mandi sedang memakai make-up saat Luhan masuk dan mengajukan pertanyaan. Aku ingat dia menanyakan hal yang sama ketika kami berada di Vegas. Aku menatapnya di cermin. Ia mengenakan gaun ketat berwarna peach strapless yang panjang
sampai di kakinya. Itu indah, tapi aku berpikir apa yang akan terjadi jika dia sengaja menginjak tepinya. Pasti payudaranya akan menyembul keluar jika hal itu terjadi.
"Kenapa kau terus menanyakan apakah kau terlihat seperti pelacur?"
Dia berbalik ke samping dan melihat profilnya di cermin. "Aku tak tahu. Aku hanya tidak ingin terlihat seperti pelacur murahan."
"Kau tampak hebat. Tapi ada satu hal saja..." aku bercerita tentang hem dan dia bilang dia sudah memikirkan hal itu, dan jika itu terjadi, mungkin itu akan menjadi pusat perhatian sepanjang malam.
"Itu akan jadi suatu merendahkan," kataku.
Aku selesai bersiap-siap, sementara berdebat dengan diriku sendiri apakah menceritakan tentang apa yang terjadi di kantor Chanyeol pada hari sebelumnya. Terus terang, aku kagum dengan caraku menahan diri.
Luhan memberi tahu arah ke klub favoritnya saat aku menyetir, tempat yang disebut Drais terletak di atas W Hotel di Hollywood Boulevard. Setelah berkunjung ke Las Vegas, aku agak siap untuk beraksi- cahaya, musik, orang-orang tampan berpakaian rapi dan, tapi ini merupakan level yang lebih tinggi. Ini adalah tempat terbagus di Hollywood untuk nongkrong, di tempat itu ada sebuah restoran, kolam renang, dan klub malam. Di dalamnya, musik sangat keras,pencahayaannya memamerkan dinding merah, hitam, ungu, dan hijau. Kursi nyaman yang besar dan sofa di mana-mana. Orang-orang menari di bawah lampu lantai yang besar, lengkap dengan nuansanya. Orang-orang lebih banyak berada di tepi kolam renang.
Itu adalah malam yang indah. Dari sudut pandang dari atap Hotel W, aku memiliki perspektif yang sama sekali baru dari LA. Setidaknya dalam arti visual.
Kami akhirnya berjumpa dengan dua teman Luhan itu yang dia ingin kenalkan kepadaku- Julia dan Rachel. Mereka juga calon aktris, dan dalam waktu sepuluh menit aku mendengar mereka bicara lebih
banyak tentang audisi dan agen dibandingkan yang Luhan dapatkan
dalam sebulan aku tinggal bersamanya. Aneh.
Ketika mereka bicara tentang orang-orang terkenal yang mereka lihat di sini sebelumnya, nama Chanyeol muncul.
"Omong-omong tentang setan," kata Julia.
Kita semua melihat ke arah dia mengangguk ke suatu arah.
Sialan. Ada dia. Berdiri di area bar. Ia bicara kepada dua orang yang tidak kukenal, dan kemudian kami membuat kontak mata. Seringai lambat muncul di wajahnya dan ia mengucapkan kata: "Surprise."
Dan aku memang terkejut. Sebenarnya, bukan karena kata-kata itu. Mungkin tidak ada yang bisa lebih baik untuk menggambarkan apa yang kurasakan, napasku tertahan di tenggorokan, lututku pun jadi lemas, dan aku merasakan sensasi kesemutan di seluruh kulitku yang
menyebabkan putingku menjadi keras dan denyutan yang samar diantara kakiku.
"Aku pernah mendengar cerita tentang orang itu," kata Julia.
Luhan menatapku dengan ekspresi khawatir. Aku sangat senang tidak menceritakan apa yang terjadi di kantor Chanyeol sore itu.
Rachel menyesap margarita. "katakanlah."
Ya, ceritakanlah, ujarku dalam hati. Mungkin aku perlu tahu lebih banyak tentang Chanyeol sebelum aku membiarkan dia memberiku kejutan yang ia janjikan sebelumnya.
"Mata keranjang," kata Julia.
Luhan menatapku, lalu pada Julia. "Kau pernah mendengar cerita akhirnya?"
Julia mengatakan, "Tidak, tapi aku sudah mendengar banyak hal."
"Seperti apa?" Tanyaku.
"Bahwa dia sudah meniduri banyak aktris."
Luhan tertawa. "Oh, seram. Hei, itu Hollywood. Dia hot dan lajang. Tidak ada hukum yang menentang dia untuk melakukan apa yang dia inginkan."
Julia berbalik ke Luhan. "Jangan katakan kau…"
"Tidak." Luhan menggelengkan kepalanya. "Aku hanya melihat dia secara pribadi cuma sekali, sebenarnya." Dia menatapku.
"Kau?" Kata Julia, melihatku dari atas dan ke bawah, seperti aku adalah seseorang yang tidak mungkin akan sampai dua kali dilihat Chanyeol. Setidaknya itulah kesimpulanku.
Aku tidak repot-repot menjawabnya. Aku hanya tersenyum. Aku tahu apa yang akan terjadi, dan aku memutuskan untuk membiarkan dia bicara untuk dirinya sendiri.
Rachel mengaduk minumannya. "Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan denganku. Lihatlah bagaimana tubuh itu. Sialan." katanya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Oh, sialan." Mata Julia membesar. "Apakah dia...Yep. Dia datang ke mari."
"Come to mama," gumam Rachel.
Tapi dia tidak datang ke arah Rachel. Dia mendatangiku.
"Halo, Baekhyun." Dia mencium pipiku.
Aku berbisik, "Apa yang kau lakukan di sini?"
Mulutnya masih dekat telingaku. "Surprise..."
Rachel dan Julia menatapku, shock tampak terlihat di wajah mereka. Mereka menatap Luhan, yang mengangkat bahu dengan senyum di wajahnya.
Chanyeol meletakkan tangannya di punggungku. "Apakah sejauh ini semua orang bersenang-senang?"
Luhan dan teman-temannya mengatakan iya.
Aku tidak repot-repot memperkenalkan dia ke Rachel dan Julia. Kebencian mereka bagiku sangat jelas dari cara mereka menatapku, tapi aku tak peduli.
Chanyeol menatapku, kemudian pada mereka. "Ku harap kalian semua tidak keberatan ladies, tapi aku harus menculik Baekhyun untuk sementara waktu."
Ketiganya menggelengkan kepala mereka.
Ketika kami sampai beberapa meter jauhnya, Chanyeol bertanya siapa yang menyetir.
"Aku. Kenapa?"
"Kau harus memberikan kunci mobilmu untuk Luhan."
"Kenapa?"
"Agar dia bisa pulang."
Aku tertawa gugup. "Aku tahu apa yang kau maksud, tapi... kita mau ke mana?"
Dia menciumku ringan di bibir. "Ini kejutan, ingat?"
Aku mengambil kunci mobil dari tasku dan berjalan beberapa langkah kembali ke Luhan dan menyerahkan kuncinya.
"Kau akan pergi?"
Aku mengangkat bahu. "Aku tak tahu."
Julia dan Rachel keduanya menatapku dengan mulut terbuka.
"Dia bilang dia punya kejutan bagiku," ujarku. "Aku akan lihat nanti. Atau besok. Atau... kapanpun. "
Aku berbalik dan berjalan pergi, aku merasa seperti baru saja memenangkan putaran kejuaraan catty girl playoffs.
TBC
AN: Halo akhirnya apdet juga. Ada beberapa yang bilang kalau udah pernah baca remake-an ini pake cast Chanbaek. Dan iya, aku juga ngerasa pernah baca tapi setahuku belum sampe end. Dan sekarang aku cari lagi gaada. Entah gaada atau aku aja yang nggak tahu. But, yeah see you next chapter!
Sorry for typo(s).
