Jimin dan beberapa team kepolisian berada di depan gereja Banseok, untuk melakukan pemeriksaan pada TKP.
Mayat yang bernama Kim Jongin itu masih tergeletak pada aspal, dengan darah yang sudah mengering di sana.
"Jungkook. Kau menemukan sesuatu?"
"Tidak hyung, hanya beberapa tempat bekal yang tergeletak di sana, dompet berisi uang dan kartu identitasnya."
Ini aneh, Yoongi mengatakan ada suara besi terjatuh. Ia sangat yakin jika besi itu merupakan alat untuk membunuhnya, Yoongi mengatakan suara itu lumayan nyaring terdengar di perkirakan dekat dengan telephonenya.
Jimin perlahan memperhatikan telephone genggam yang tergeletak di sana, dan ternyata sekitar 1 meter dari sana terlihat bercak darah yang membentuk bulat.
Ia memberikan cahaya senter di sana, agar dapat melihat dengat jelas.
"Ada apa? Kau menemukan sesuatu?"
"Ya, ku rasa darah ini membentuk sebuah besi berbentuk bulat. Yoongi mengatakan terdapat suara besi terjatuh, dan suara besi yang membentur tubuhnya."
"Jadi alat untuk membunuhnya adalah besi itu?"
"Ya kurasa begitu, apa team otopsi sudah mengecek tubuhnya?"
"Mereka mengatakan terdapat luka pukul pada bagian kepalanya, sekitar 30 pukulan sehingga membuat setengah wajahnya hancur dan di perkirakan menggunakan alat tumpul."
"Dugaanku benar, kurasa alat itu tak terlalu besar. Mungkin seperti dua kali bola tenis jika di satukan."
"Kau cepat sekali penyimpulkannya hyung, luar biasa."
"Jangan berlebihan Jngkook, kau sama saja dengan kekasihmu itu."
"Ey—itu kenyataannya."
"Ah sudahlah besok kita harus mencari jejak alat itu di mana, dan suruh Taehyung untuk memeriksa telephone ini. Kita lihat siapa yang terakhir mengubunginya, semoga itu petunjuk kita."
"Baiklah, aku akan membereskan alat bukti."
Jungkook merapihkan alat bukti yang terdapat di sana, dan segera memasukannya pada box besar berwarna merah dan putih.
Mereka berharap kasus ini selesai dengan cepat.
•
•
Team kepolisian akhirnya menemukan sang terdakwa setelah 3 hari pencarian dengan bukti-bukti yang ada.
"Kau yakin dia pelakunya Jin hyung?"
"Aku yakin, alat bukti di temukan di rumahnya. Setelah di periksa darah pada alat itu memang darah korban. Yoongi, menjadi saksi hari ini untuk memastikan suara di telephone tersebut memang dia."
"Yoongi? Menjadi saksi?"
"Ya, kita harus segera pergi ke pengadilan hari ini."
Mereka segera membawa barang bukti tersebut dan memberikannya pada polisi untuk di bawa kesana.
Jimin memutuskan untuk ikut menghadiri pengadilan tersebut, ia menaiki sedan silver menuju Kantor Pengadilan Tinggi Seoul. Ia berharap semua kerja kerasnya terbayar hari ini dengan berakhirnya kasus.
JiminPov
Tepat pada pukul 10 pagi pengadilan segera di mulai, aku mendudukan tubuhku di bagian depan dekat dengan tempat eksekusi. Tersangka mulai memasuki ruang sidang dan duduk di bagian kiri bersama dengan pengacaranya.
Lalu Yoongi datang bersama dengan beberapa orang di sana dan duduk di tengah, tempat untuk saksi.
Tok
Tok
Tok
"Sidang saya mulai."
Jaksa penuntut bertanya kepada Yoongi mengenai kesaksiannya bahwa dia adalah orang yang mendengar suara tersangka tersebut.
"Tuan hakim, Byun Baekhyun memang pelakunya." Tersangka terdiam, ia hanya tersenyum.
"Ia menelpon korban pada satu jam sebelum kejadian, kami telah menemukannya di telephone genggamnya. Suara itu seperti seseorang yang berumur sekitar 20 tahunan, ia memiliki suara tinggi, dan terdengar suara retak pada rahang. Yah itulah suaramu." Ia tertawa, dan mengedipkan matanya pada Yoongi.
"Tsk. Kau akan menyesal."
Sang hakim pun memutuskan ia di kenakan hukuman penjara seumur hidup, dengan pasal pembunuhan berencana.
"Tidak mungkin! Kau berbohongkan?! Yak! Kau tidak salah! Katakan sesuatu!" Keluarga tersangka tak terima dengan hukuman yang di jatuhkan padanya. Keluarga korban berterima kasih pada hakim dan pihak kepolisian, mereka merasa puas dengan keputusan hakim, yah dia memang pantas di hukum mati. Manusia macam apa dia memukul korban dengan besi berbentuk bola, dan membenturkannya hingga mati di tempat.
Aku akhirnya bisa tersenyum lega, kasus pertamaku di Seoul akhirnya selesai dengan tepat dan cepat. Mungkin ini karna Yoongi, ia profiler yang luar biasa. Aku rasa aku menyukai partnerku ini.
Di sisi lain,
Kita lihat apa kau bisa tertawa lagi atau tidak nantinya.
Pria itu duduk di bagian belakang, ia pun tersenyum saat melihat senyum bahagia mereka.
Dark side
Genre : Thriller, Drama.
Rate : T
Cast
Park Jimin X Min Yoongi
Other Cast
Slight! Namjin, Taekook.
BTS©Bighit entertaiment
Story©YoungraPark
I'm not plagiat! This story pure from my imagination and just for my own pleasure.
Enjoy!
Malam ini Jimin beserta teamnya merayakan keberhasilan atas selesainya kasus.
"Ini semua berkatmu Jimin—sshi." Ia adalah Kim Namjoon atasannya dan Yoongi.
"Ah tidak, ku rasa ini karna bantuan Yoongi. Dia yang telah memberikanku beberapa hal yang tidak aku tahu, akukan hanya membantunya saja."
"Tapi kau cepat sekali menemukannya, bahkan orang lain takan secepat ini." Yoongi dengan wajah datarnya, sambil meneguk satu gelas soju.
"Tidak, kau lebih banyak tahu hyung. Aku hanya mencari saja, itu mudah."
"Eyy—kalian ini memang pasangan yang serasi yah."
"Tae—sssstt." Taehyung dan Jungkook juga ada, bahkan Seokjin juga datang menyusul tadi.
"Kau jangan terlalu banyak mabuk!"
"Baiklah kelinci manisku. Aku berhenti." Tangan Taehyung menyentuh dagu Jungkook nakal.
Yoongi melirik swiss di tangan kirinya, kini sudah pukul 9 malam.
"Aku harus pulang sekarang."
"Yoongi kau terburu-buru sekali? Ini masih siang—ayolah." Ia bangun dari duduknya, dan menggunakan coat berwarna coklatnya.
"Maaf Jin hyung, aku harus pulang. Aku sangat lelah, terima kasih untuk hari ini." Ia membungkuk pada mereka yang masih terduduk di sana.
Perlahan kedua kaki Yoongi meninggalkan restoran. "Hyung aku harus pulang juga, adikku sendirian di rumah."
"Kau sama saja dengan Yoongi, baiklah-baiklah."
"Ne, terima kasih untuk traktirnya." Ia membungkuk dan segera membawa tas warna hitamnya, meninggalkan pasangan-pasangan yang sedang bermanja di sana.
•
•
Yoongi perlahan berjalan menuju halte sekitar 2 Km dari restauran, sambil ia menjernihkan pikirannya. Menikmati udara musim semi kota Seoul, dia hanya baru sekitar 6 bulan di sini.
Ia tiba-tiba berhenti di tengah gang kecil, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Dengan perlahan Yoongi kembali menggerakan kedua kakinya dengan berjalan cepat, dan langkah kaki di belakangnya terdengar setengah berlari, mengikutinya.
Tap
Tap
Tap
Tap
Tap
Jantungnya berdegup kencang, akhirnya ia mulai berlari, berharap menemukan tempat ramai di sana. Langkah kaki seseorang di belakangnya seirama dengan langkah kaki Yoongi.
Akhirnya Yoongi menemukan supermarket kecil di depan sana, yah sedikit lagi ia akan sampai. Saat ia akan belok kiri dan masuk pintu supermarket ia tiba-tiba menabrak seseorang.
"Ahh!" Dirinya terjatuh ke lantai, seseorang di sana juga menjatuhkan belanjaannya.
"Maafkan aku—aku terburu-buru maaf." Ka memasukan barang-barang yang terjatuh di sana ke dalam plastik putih.
"Yo—Yoongi hyung?"
"Ji—Jimin?"
"Hyung kau kenapa? Ayo aku bantu bangun." Jimin mengulurkan tangannya kearah Yoongi, ia pun berdiri dengan tangan yang sedikit bergetar, nafasnya tak beraturan.
Wajahnya melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan seseorang di belakangnya. Tak ada siapapun di sana pikirnya.
Pria bersurai coklat di depannya memperhatikan tingkahnya, pasti ada yang tak beres ia pikir.
"Hei! Yoongi hyung kau kenapa? Wajahmu pucat."
"Ah itu—hm aku terburu-buru untuk menuju ke halte. Aku haus jadi aku berlari kemari—yah aku haus."
"Hyung ini sudah malam, aku rasa bis terakhir sudah lewat tadi."
"Ah benarkah? Ah sial—aku harus berjalan kaki kalau begitu. Maaf Jimin aku pergi duluan ya."
"Hei tunggu!" ia menarik satu tangan Yoongi.
"Apa?"
"Kau gila berjalan kaki sendirian? Ini sudah malam hyung, akan aku antarkan kau kerumah. Kumohon jangan menolak."
Yoongi juga sebenarnya tak ingin berjalan kaki, karena lumayan jauh untuk menuju ke rumahnya.
"Hm baiklah."
"Ah ini untukmu, kau hauskan? Untung saja aku membelinya tadi." jimin memberikannya satu botol air mineral padanya.
"Terima kasih."
Mereka akhirnya segera menaiki mobil, Jimin mulai menyalakan mesin mobilnya. Pun ia mengemudi dengan kecepatan sedang segera menuju ke rumah Yoongi.
Yoongi Pov
Akhirnya kami sampai di rumah sederhanaku. "Terima kasih, maaf merepotkanmu."
"Ne sama-sama, rumahku juga satu arah hyung jadi tak masalah."
"Baiklah aku akan masuk, selamat malam."
"Hm selamat malam Yoongi hyung." Ia mengedipkan sebelah matanya padaku, dan berlalu pergi meninggalkan rumahku.
Aku menyadarkan tubuhku di sofa berwarna peach ruang tv, melepaskan coatku. Hari ini sangat lelah, aku masih memikirkan siapa yang mengikutiku tadi.
Aku segera membersihkan diri di kamar mandi dalam kamarku yang berada di lantai atas, setelah selesai aku menyelimut tubuhku dengan selimut hingga dagu, tak lupa aku menyalakan lampu di meja nakas sebelah kanan. Kedua mataku perlahan menutup dan datang ke dalam dunia yang lain.
Tanpa Yoongi sadari, pria yang menggunakan hoodie berwarna hitam memperhatikannya dari seberang rumahnya. Tadinya ia mencoba membunuh Yoongi saat bertemu dengannya di jalan, tapi ternyata gagal.
"Aku akan segera membuka kembali nerakamu Yoongi."
Ia menyunggingkan sebelah bibirnya, berbentuk smirk jahatnya, di balik tudung hoodie hitam itu.
TBC
Akan banyak teka-teki dan kejutan setiap chapternya wkwk
Jangan lupa tinggalkan reviewnya^^
