Summary:

Namanya Haruno Sakura. Usianya baru 16 tahun, tetapi ia sudah kehilangan masa depannya. Kehilangan segalanya karena terpaksa. Ia harus menghidupi dirinya sendiri yang kini sebatang kara, tanpa saudara dan orang tua. Semua meninggalkannya, ia terpaksa melakukan itu semua karena tuntutan untuk terus hidup. Namun, semua itu akhirnya berakhir saat ia bertemu laki-laki itu.


"Untitled"

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning:

'semi-hard' Lemon, OOC, Bad plots

Pair: SasoSaku

Hope you like it.


"SAN"

"Kau cantik dan berbakat, Haruno Sakura. Apakah kau tidak akan menyesal masuk dalam pekerjaan ini?" tanya seorang wanita paruh baya yang tengah memperhatikan gadis manis nan lugu di hadapannya. Gadis itu berambut merah muda dan mata sewarna batu emerald yang tidak bercahaya lagi. Begitu memancarkan kesedihan dan beban hidupnya yang sepertinya berat.

"Kumohon, Nyonya Shiroyanagi. Aku membutuhkan uang untuk menghidupi diriku sendiri," ucap Sakura memohon-mohon.

Wanita yang dipanggil Nyonya Shiroyanagi itu tersenyum penuh pengertian pada Sakura. Ia membelai lembut rambut Sakura dengan sayang dan berkata, "Tapi kau tidak harus melakoni pekerjaan pelacur ini, Sakura,"

Wanita baik itu berusaha menyelamatkan masa depan Sakura. Sakura paham benar akan hal itu. Namun inilah satu-satunya jalan yang dapat ditempuhnya. Gadis lugu itu bersikeras, "Kumohon, Shiro-sama. Kumohon," isakkan terdengar jelas dalam nada bicaranya.

Nyonya Shiroyanagi pun menghela napas dan menyerah, "Baiklah, Sakura. Sekarang ganti pakaianmu dengan pakaian yang ada di ruang ganti. Setelah itu, temui aku di ruang utama dan aku akan memperkenalkanmu pada laki-laki di sana."

Sakura mengangguk lemah. Ia berjalan menuju ruang ganti dan mengganti bajunya dengan pakaian minim berwarna shocking pink yang sangat mengekspos kemulusan pahanya dan belahan dadanya dengan sangat jelas. Sakura sedikit tidak nyaman dengan pakaian itu. Terlebih lagi ia harus melakukan hal yang sama sekali baru baginya. Ia harus melepas harta paling berharganya demi kelangsungan hidupnya.

"Sakura, kau sudah siap?" tanya seseorang dari balik pintu. Sakura segera menoleh ke arahnya dan mendapati Nyonya Shiroyanagi tengah menganggukkan kepalanya. Sakura mengangguk samar dan mengikuti langkah kaki wanita itu. Ia berjalan di balik Nyonya Shiroyanagi tanpa memedulikan pandangan iri dari sebagian besar wanita malam yang ada di sana. Beberapa mendecih kesal akibat kecantikan dan keseksian mereka tertandingi oleh Sakura. Namun Sakura tidak mengabaikannya dan terus menerus menunduk untuk menyembunyikan rasa takutnya yang begitu mendalam.

Akhirnya, sampailah ia di gerbang kehancurannya. Ia memberanikan diri untuk mendongak dan mendapati beberapa pria dengan pandangan penuh nafsu tengah menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala, membuat gadis itu merasa semakin tidak nyaman. Beberapa dari mereka tidak melepaskan pandang dari dada Sakura yang tergolong cukup besar dengan belahannya yang begitu menggoda, begitu pula dengan bokong gadis itu yang sangat sekal dan menantang.

"Tuan-tuan, perkenalkan, Haruno Sakura. Gadis baru di sini," ucap Nyonya Shiroyanagi memulai perkenalan.

Beberapa dari laki-laki hidung belang itu segera meremas bagian depan celana mereka. Menggigit bibir dengan raut wajah menjijikkan ketika mendengar perempuan itu masih gadis yang masih sangat segar.

"M-mohon ban-bantuannya," ucap Sakura lirih. Ia memutuskan untuk segera bersiap diri. Ditatapnya seorang pemuda berambut merah darah tengah menatapnya dengan pandangan datar. Namun tersirat jelas di wajahnya bahwa ia sangat menginginkan tubuh Sakura. Ia menangkup tangannya di depan wajah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

"Penawaran tertinggi," suara Nyonya Shiroyanagi mendengung di kepala Sakura. Ia sungguh seperti hewan kini. Tak berharga dan bisa ditawar dengan seenaknya.

"Seribu Yen!" seru salah seorang.

"Seribu lima ratus Yen!" seru yang lainnya tak mau kalah.

Telinga Sakura rasanya panas sekali. Harga dirinya seperti terinjak-injak mendengar satu persatu mulut pria-pria tua itu menyerukan harga untuk tubuhnya.

"Lima ribu Yen!" yang lainnya pun menimpali dengan suara keras.

Hening cukup lama. Sakura sempat takut saat tak ada lagi yang menawar. Ia takut keperawanannya akan berakhir di tangan lelaki tua menjijikkan yang menawar paling tinggi untuk saat ini. Namun, saat Sakura sedang berkutat dalam ketakutannya, suara maskulin yang sangat tenang berkata, "Aku menawar empat puluh ribu Yen."

Sakura menoleh ke sumber suara. Ia melihat pria berambut merah itu tengah menatapnya sambil tersenyum miring. Ia merasa sedikit lega saat melihat penawarnya adalah seorang laki-laki muda. Kali ini benar-benar hening. Tak ada satu pun suara yang menimpali lagi.

"Baik, diputuskan malam ini giliran Sasori-san," ucap Nyonya Shiroyanagi sembari tersenyum.

"Tunggu."

Tiba-tiba terdengar suara tenang dengan kesan sangat dingin dari arah belakang Sakura dan Nyonya Shiroyanagi. Sontak, seisi ruangan menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sesosok pria dengan rambut emo berwarna raven dan dengan mata sekelam malam tengah menatap datar ke arah mereka. Entah mengapa, Sakura merasa dirinya terjerat dalam sorot mata laki-laki itu. Akal sehatnya sudah tak bekerja lagi ketika melihat dada bidang sang lelaki, dan juga ketampanannya yang luar biasa. Tiba-tiba ia berpikir bahwa ia rela memberikan seluruh tubuhnya untuk laki-laki itu.

"Aku membelinya," kata sosok itu sambil tersenyum miring ke arah Sakura, membuat gadis itu tersenyum malu. "Berapa harganya?"

Nyonya Shiroyanagi melakukan kalkulasi untuk gadis di sebelahnya. Berhubung gadis itu baru bekerja sekitar satu jam untuknya, ia menetapkan harga yang hanya sedikit lebih tinggi dari penawaran pria merah bernama Sasori itu. "Untuk gadis ini, lima puluh ribu Yen," ujar Nyonya Shiroyanagi.

"Cih. Aku hanya membawa dua puluh lima ribu Yen. Akan kubayar sisanya besok," ujar pria itu sembari menyerahkan sejumlah uang pada Nyonya Shiroyanagi yang tersenyum puas, "Sekarang, serahkan gadis itu."

Sakura segera berjalan ke arah 'sang pemilik'. Dan seketika itu juga tangan besar laki-laki itu merengkuh tubuh Sakura. Gadis itu tertunduk dan sesekali mencuri-curi pandang pada pemuda berambut merah yang tengah duduk di antara banyak laki-laki tua. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Namun detik berikutnya ia menyeringai penuh arti sambil menatap mereka.

'Akan kubuat kau menjadi milikku, Sakura,' batin sang pemuda berambut merah itu sembari meninggalkan ruangan.

"Mari," ajak pria bermata hitam kelam itu pada Sakura. Gadis itu hanya mengangguk dan mengikuti langkah pria itu. "Aku Sasuke. Siapa namamu?"

"Ano.. Aku Haruno S-Sakura," jawab Sakura lirih.

"Nama yang indah..." bisik Sasuke di depan telinga Sakura, "Sakura.."

"Sakura.. Sakura.."

Sakura segera tersadar dari lamunannya akan kejadian beberapa bulan yang lalu itu. Ia baru kembali ke alam sadarnya saat Sasori berseru memanggil namanya karena sudah hampir mencapai klimaksnya.

Bisa-bisanya ia melamun saat tengah bercinta.

Pinggul Sasori tidak henti-hentinya melakukan gerakan maju dan mundur. Penisnya sudah timbul tenggelam dalam lubang senggama Sakura dengan tempo yang sangat cepat.

Tak lama sesudahnya, pria bermata hazel itu menyemprotkan spermanya ke dalam rahim Sakura. Ia segera terkapar lemah dan jatuh di atas tubuh Sakura. Ia tersenyum mendapati Sakura juga tengah kelelahan. Ia membelai lembut pipi Sakura dan mencium bibirnya dengan lembut juga.

"Kumohon jangan tinggalkan aku," bisik Sasori. Setelahnya ia jatuh tertidur.


"Sasori-kun, kita mau ke mana?" tanya Sakura saat Sasori menggiringnya menuju suatu tempat di sekolah.

"Cih. Kurasa kau sudah tiga tahun bersekolah di sini. Masih saja kau tidak tahu ini jalan menuju atap," Sasori mendecih sambil tangannya tetap menarik tangan Sakura.

"Kita mau apa?" tanya Sakura sembari menyentakkan tangan Sasori dan berdiri diam di depan pria itu.

Sasori memutar bola mata dan kembali menarik tangan Sakura. "Kau sudah tahu apa yang mau kita lakukan," sahut Sasori tidak sabar.

Sakura pun terpaksa menuruti Sasori, karena sebenarnya ia sangat menginginkan hal itu saat ini. Ia berjalan di belakang Sasori dengan sebelah tangan yang di genggam oleh Sasori dengan kasar. Mereka akhirnya sampai di depan tangga menuju atap, dan mulai mendaki undakan-undakan tangga itu. Saat Sasori hendak membuka pintu atap, ia menangkap sebuah suara yang sangat jelas timbul dari apa, dan Sasori segera menghentikan langkahnya.

"Ada apa, Sasori-kun?" tanya Sakura heran ketika Sasori menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Sasori memberikan isyarat agar ia diam, dan perlahan-lahan laki-laki itu mulai maju tanpa suara. Saat Sakura tiba di titik di mana ia dapat mendengar suara itu, ia terpaku sejenak di tempatnya. Desahan. Desahan yang sangat ia kenal. "S-Su-Suke," bisik Sakura lirih dengan nada tak percaya. Kedua mata emerald-nya membulat. Tubuhnya tampak bergetar saat kembali mendengar suara itu.

"―nghhh.. Ino-chan..."

"Ayo, Sakura," bisik Sasori sambil menarik tangan Sakura. Sakura dapat merasakan Sasori meremas lembut tangannya. Mungkinkah itu untuk menenangkannya?

Tanpa sadar Sakura mengangguk dan mulai mengikuti Sasori dari belakang. Sasori menempatkan diri di atas pintu masuk ke atap, dan segera membantu wanita itu naik. Mereka berdua dapat melihat apa yang sedang terjadi di bawah mereka dengan sangat mudah. Sakura menjerit tertahan saat melihat kekasihnya tengah bersetubuh dengan hebatnya dengan salah satu teman sekelasnya, Yamanaka Ino.

"Ssh.. Diamlah Saku-chan," bisik Sasori sambil meraih sesuatu dari saku celananya. Ia menunjukkan benda persegi panjang kecil itu pada Sakura dan menyeringai lebar sambil berkata, "Kita akan mendapatkan video yang sangat bagus, Sakura-chan."

Berikutnya, Sasori mulai mengaktifkan kamera ponselnya dan merekam hal privasi itu dengan sangat serius.

Sakura terisak pelan di sebelahnya. Wanita itu berbaring menghadap langit dengan mata terpejam dan kedua tangan menutupi telinganya, tak sanggup mendengar apa yang tengah dilakukan kekasihnya saat itu. Sasori mendengus kesal. Ia melepas sepatunya, dan membuatnya menjadi penahan ponselnya agar bisa terus merekam kejadian seru di bawahnya. Kemudian, pria Akasuna itu duduk di sebelah Sakura. Ia menunduk dan mengecup bibir wanita itu dengan sangat lembut. Berbeda dengan ciuman yang mereka lakukan kemarin di kamar Sasori. Ciuman ini tidak bermaksud untuk menyalurkan nafsu. Lebih ke arah... kasih sayang.

"Diamlah, Sakura. Percaya padaku, semua akan baik-baik saja," bisik Sasori setelah ciuman mereka berhenti. Ia tersenyum pada Sakura. Perlahan wanita itu membuka matanya dan mengangguk pelan. Dengan lembut, Sasori menarik kedua tangan Sakura, agar wanita itu terlepas dari segala ketegangannya. "Paling tidak kau harus membayar karena sudah bercinta denganku," bisik Sasori dalam rangka menggoda Sakura, dan sukses membuat pipi wanita itu memerah.

Sasori kembali berkutat pada aktivitas sebelumnya, ia merekam kejadian seru itu dengan seringai jahat tersungging di bibirnya.

'Ini mempermudah langkahku, Uchiha Sasuke,' batin Sasori puas.

Sakura memberanikan diri untuk melihat kejadian di bawah mereka berdua. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap langsung ke arah dua orang yang tengah melakukan hubungan seks dengan sangat hebat. Perasaan nyeri langsung menyergap dada Sakura, namun ia berusaha untuk melupakan perasaannya.

Pria berambut raven itu tengah menyetubuhi Ino dengan posisi ia berdiri di belakang bokong Ino yang sedang menungging. Dengan biadab, Sasuke menggenjot lubang senggama wanita itu dengan sangat cepat dan meremas buah dada Ino yang menggantung dengan indah. Desahan tertahan keluar dari bibir mungil Ino. Andaikan mereka dapat melihat mereka dari depan, sudah dapat dipastika wajah Ino memerah karena sensasi nikmat yang diberikan Sasuke padanya.

Tak lama, ternyata Sasuke mencapai klimaksnya. Ia menahan penisnya agar tetap bersarang di lubang vagina Ino, dan menyemprotkan spermanya beberapa kali, membuatnya mendesah tak keruan. Sakura mendesah lega ketika melihat Sasuke mencapai klimaksnya, karena ia berpikir bahwa permainan mereka sudah selesai. Namun ternyata Sasuke masih belum puas. Ia mulai menyetubuhi Ino dengan posisi lainnya yang sangat mengundang gairah.

Akhirnya kegiatan dua insan itu berakhir. Sakura kini benar-benar merasa lega. Ia bersiap turun untuk melabrak mereka, namun tangannya segera ditahan oleh Sasori. Pria itu mengutak-atik ponselnya, lalu memasukkan benda itu kembali ke saku celananya.

"Kau harus mengikuti cara mainku, Sakura-chan," ujar Sasori sambil turun dengan gaya anggun dan tidak menimbulkan suara. Kemudian ia membantu Sakura dengan mengangkat tubuh wanita itu. Setelahnya, Sasori dan Sakura mendapati atap sudah tidak ada orang lagi selain mereka. Dengan itu, Sasori tahu bahwa Sasuke dan Ino sudah berada di tangga. Ia menyeringai senang saat membuka pintu atap dengan suara keras.

"—kita sendiri, kan?" tanya suara wanita dengan nada bergetar cemas.

Sakura melihat Sasuke mengangkat tangannya dan mengelus lembut kepala wanita itu lalu berkata, "Tenang, Ino-chan, aku sudah memastikannya."

Tangan Sakura ditarik pelan oleh Sasori, mengisyaratkan agar wanita itu mengikuti Sasori di belakangnya. Kemudian, setelah jarak mereka berdua sudah mulai dekat dengan Sasuke dan Ino, Sasori angkat bicara dengan seringai iblis terpatri di bibirnya, "Cih. Ternyata kau masih seceroboh kemarin, Uchiha."

Kedua insan yang baru saja bersenggama itu pun menoleh menatap Sasori dengan pandangan horror.

"Akasuna, bagaimana kau bisa di sana?" tanya Sasuke dengan geram—lebih terdengar seperti desisan.

"Itulah kehebatanku," timpal Sasori sambil memperlebar seringai iblisnya, "Kali ini aku tidak sendiri."

Dan seiring dengan perkataannya, Sakura bergeser sehingga sosoknya dapat tertangkap oleh Ino dan Sasuke. Dua insan itu kembali terbelalak melihat Sakura yang memandang mereka dengan ekspresi yang tak dapat diartikan—antara dendam, benci, dan sedih.

"S-Sa-Sakura-chan?!" pekik Ino tertahan. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan dan menatap Sakura dengan takut-takut. Sasuke menggenggam tangan Ino yang satunya agar wanita itu tetap tenang.

Sakura menatap Ino dengan pandangan tajam.

"Yah, lagi-lagi aku tidak hanya menyaksikan pertunjukkan kalian yang menjijikkan itu. Aku dapat ini!" seru Sasori sambil memperlihatkan video yang baru saja ia rekam. Ia tertawa jahat saat melihat Ino dan Sasuke menatapnya dengan tak berdaya.

"Kau..." desis Sasuke.

"Kau mau apa, Uchiha Sasuke?" tanya Sasori dengan penuh kebencian. Tak lupa seringai iblis ia keluarkan.

"Kau mau aku menyerahkan Ino juga, eh?" tanya Sasuke.

Sasori menoleh ke arah Sakura dan bertanya seakan minta persetujuan padanya, "Bagaimana menurutmu?"

Sakura mendongak dan ia menimbang-nimbang sebentar. Lalu ia berkata lirih, "Tak usah disebarkan, Sasori." Kemudian ia berjalan menuruni tangga dan melewati Sasuke dan Ino tanpa berkata apa-apa lagi.

Dengan pandang heran Sasori menatap Sakura yang kian menjauh. Ia pun menyusul Sakura sambil tak lupa melempar pandang sinis pada Sasuke. "Aku tak akan membiarkanmu merebut Sakura lagi."

"Tak pernah dan tak akan pernah lagi," timpal Sasuke. Lalu ia menambahkan dengan bisikan, "Aku sudah mempunyai mainan baru."

Sasori geram mendengar itu. Itu artinya Sasuke menganggap Sakura sebagai mainan lamanya. Dan entah mengapa pria berambut merah darah itu merasa tidak terima Sakura dipandang demikian oleh rival utamanya. Dengan mati-matian, Sasori menahan emosi yang sudah hampir meluap itu, dan pergi meninggalkan Sasuke dan Ino untuk menyusul Sakura.


Sakura tidak berkata apa-apa lagi pada Sasori hari itu, sejak mereka merekam adegan menggairahkan dari Ino dan Sasuke tadi. Bahkan, wanita berambut merah muda itu menolak ajakan Sasori untuk pulang bersamanya. Ia tahu memang kini ia tinggal di rumah Sasori, namun bukan berarti ia harus selalu pulang bersamanya, bukan? Dengan dalih ingin mengerjakan tugas yang sempat tertinggal, Sakura berhasil mengelabui Sasori yang segera pulang meninggalkan dirinya.

Akhirnya, setelah beberapa kali berganti angkutan umum, Sakura sampai di rumah bergaya victorian milik Sasori. Ia berjalan dengan enggan masuk ke rumah barunya itu. Dengan agak bingung karena tidak mendapati mobil Range Rover hitam milik Sasori terparkir di halaman depan, Sakura membuka pintu besar rumah itu dan mulai menginjakkan kakinya yang masih menggunakan sepatu.

Tiba-tiba, pintu yang baru saja dilewati Sakura itu tertutup, membuat Sakura terlonjak kaget.

"Okaerinasai, Sakura-chan."

Sakura menoleh ke belakang dan mendapati sesosok pria berambut merah, yang bukan Sasori tengah menatapnya dengan pandangan liar. Mau tak mau Sakura takut juga dilihat demikian oleh sang pemilik suara.

"G-Gaara-san," bisik Sakura lirih. Ia mundur teratur saat Gaara mulai berjalan mendekatinya.

"Jangan gunakan suffix itu. Panggil aku 'Gaara-kun', oke?" timpal Gaara yang makin mendekati Sakura. Ia merasa kesal juga saat mendapati Sakura masih tetap kukuh mundur perlahan-lahan menjauhinya. "Kau tidak ingin bersenang-senang denganku? Jangan bergaya seperti perawan, Sakura," tambah Gaara sambil menyeringai seram.

"Gaa-Gaara-kun. J-jangan," kata Sakura dengan nada memohon. Ia memang sedang tidak ingin melakukan hubungan seks saat ini, sehingga ia terus menerus mundur tanpa mengetahui apa yang ada di belakangnya.

"Kau milikku malam ini, Sakura. Sasori sedang pergi, dan akan kembali besok pagi," tutur Gaara yang membuat Sakura semakin ketakutan.

"T-tapi— Aaah!" perkataan Sakura terpotong karena ia menabrak sofa, sehingga kini ia terjatuh dengan posisi terbaring di sofa. Hal itu mempersulit gerakan Sakura sehingga Gaara tersenyum puas dibuatnya.

"Lain kali, kau harus lebih berhati-hati," kata Gaara sambil menyeringai. Ia pun segera menindih tubuh Sakura dengan berbaring tengkurap di atas wanita itu.

"J-jangan, Gaara-kun... ahh..." suara Sakura berubah menjadi desahan saat Gaara mulai memijat-mijat payudaranya. Gaara menyeringai senang, dan segera membopong tubuh Sakura ke kamarnya—tanpa izin dari wanita itu. Selama dibopong, Sakura meronta-ronta. "Lepaskan aku, Gaara!"

Namun sayang Gaara tidak bergeming dan tetap membawa Sakura ke kamarnya di lantai dua. Akhirnya mereka pun sampai di dalam kamar Gaara. Kamar yang sangat indah dan didominasi dengan warna merah marun. Dengan cepat Gaara menutup dan mengunci kamarnya, lalu menghempaskan tubuh Sakura ke atas ranjangnya.

"Ingin foreplay atau langsung ke intinya?" tanya Gaara sembari menyeringai dengan tangan mulai melucuti pakaiannya sendiri.

Sakura tidak menjawab. Ia menggigit bibir untuk mengenyahkan dilema yang tengah menyerangnya. Sepertiga dari dirinya tidak ingin tubuhnya dijamah oleh Gaara, namun dua pertiga dari dirinya menginginkannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Gaara melepaskan celana dan celana dalamnya, sehingga penis Gaara mengacung dengan tagak di hadapan Sakura. Wanita berambut merah muda itu membelalakkan mata dan meneguk ludah saat melihat kejantanan Gaara yang dirasanya terlalu besar.

"Lebih besar dari milik Sasori, ya?" tanya Gaara sambil tersenyum menggoda, "Sekarang perlihatkan milikmu."

Dengan cepat Gaara melepas pakaian Sakura mulai dari kemeja sekolahnya, lalu branya. Ia meneguk ludah saat melihat payudara Sakura yang cukup besar dengan putingnya yang merah menggoda. Dengan gemas dan penuh nafsu, Gaara menarik puting Sakura yang sudah mulai menegang.

"Cantik sekali," gumam Gaara dengan bibir mulai menciumi payudara Sakura itu. Lidahnya mulai jahil. Ia mempermainkan dada Sakura dan meninggalkan bercak-bercak merah di sana dengan hisapan dan gigitannya yang sanggup membuat Sakura mendesah dan mengerang nikmat. Tangan Sakura mulai terangkat untuk meremas rambut merah Gaara. Ia merasa dirinya terpuaskan dengan permainan lidah Gaara yang lebih lihai dari Sasori.

"Mmmhh.. Gaara-kun... Aahh..." desah Sakura dengan mata terpejam, menikmati tiap sensasi geli yang mulai menjalari tubuhnya.

"Kita mulai saja, ya?" tanya Gaara tidak sabar. Ia segera melepaskan rok dan celana dalam Sakura sehingga menampakkan penampakan indah yang sangat bersih tanpa rambut sedikitpun. Gaara meneguk ludah lagi dan mulai gelap mata. Tanpa menunggu lama, Gaara mengarahkan penis besarnya ke lubang senggama Sakura. Wanita itu hanya menggigit bibir dengan mata terpejam dan tangan meremas sprei kasur Gaara, menunggu kedatangan tamu di lubang vaginanya.

Dengan mata terpejam, Gaara mulai mendorong pinggulnya, sehingga kepala penisnya mulai membuka gerbang surga dunia itu. Perlahan tapi pasti Gaara mendorong penisnya, menikmati tiap sensasi yang ditimbulkan. Baru saja sepertujuh penisnya yang masuk, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamarnya.

"Gaara-nii! Keluarlah!" seru orang di luar. Gaara memutar bola matanya dan segera menarik diri dari Sakura.

"Sakura, biarkan malam ini menjadi milik kita berdua. Sekarang yang harus kau lakukan hanyalah diam di sini," kata Gaara dengan berbisik, setelahnya ia mencium bibir Sakura.

Seakan terhipnotis, Sakura mengangguk dan membalas ciuman Gaara.

"Hey, nii-san! Cepatlaah!" seru orang yang ternyata adalah Sasori.

"Ya, sebentar!" sahut Gaara dengan kesal. Ia memakai celana panjangnya saja dan segera membuka pintu untuk keluar. Setelah di luar Gaara segera menutup pintunya, tidak membiarkan Gaara melihat ke dalam. "Ada apa?"

Sasori mengerutkan keningnya sembari menatap Gaara dengan heran. Tampak dengan jelas pada bagian depan celananya, bahwa Gaara tidak memakai celana dalam.

"Kau sedang apa di dalam?" tanya Sasori curiga.

Gaara tidak mengubah ekspresinya sedikitpun dan menjawab, "Masturbasi."

"Cih. Aku tidak percaya," timpal Sasori lagi dengan nada mencemooh.

Gaara memutar bola matanya dan segera mengalihkan pembicaraan, "Kau mau apa ke mari?"

"Aku bertanya, kau sedang apa?" tanya Sasori tidak sabar.

"Sudah kubilang aku bermasturbasi!" bentak Gaara kesal.

"Buktikan!" kata Sasori sambil menyeringai. Gaara bungkam, membuat Sasori tersenyum puas. Ia memegang handle pintu dan membukanya secara perlahan. Sasori memperlebar seringainya saat melihat hal yang ada di dalam kamar Gaara. "Menarik. Mainan baru, ya?"

To be continued.


Wkwkwk, sori di sini lemonnya kurang keluar. Tapi di chap depan mungkin akan sedikit lebih asyem. Mmm.. liat balesan Review yuk. Cekidot!

-Ah Rin: Waahahahahaa xDD Nih, GaaSakunya ada di sini dan chap depaan! Di tunggu !

-birumenanti: *kipasin*

-Nivellia Yumie: *kipasin* waahahahha xD aku memang orangnya agak blak blakan -,-a Hm, yah seperti itulah Sakura di sini xD Arigatou! Kochira koso yoroshiku!

-Sky pea-chan: Aaahahaha Arigatou!

-pichi: kamu bisa berpikir demikian sebelum baca chapter selanjutnya, tapi nanti akan berpikir yang sebaliknyaa! ngoahahaha, arigatou!

-hanazono yuri: Gaasaku? SIPP! xD

-Sasusaku 4ever: KURANG HOT? astaga wakakakak xD authornya udah gemeteran itu bikinnyaa. xD tapi nanti kubuat lebih hot deh sesuai permintaan kamuu ;)Arigatou!

-Guest: GaaSaku ada di sini ;) hueeehh 2 hari sekali belom tentu bisa :( gomen yaa~ tapi kuusahakan gak discontinue deh ;) arigatou!

-mako-chan: tau nih si Gaara ngapain deh ikut-ikutan *mandang sinis ke Gaara* *di'sabaku soso'* btw, arigatou sudah meripiu!

-kobito cherry: Huaaahh sayaaang, aku dichidori Sasuuu *peluk Minato* *ditendang ke empang* Hmmm... sebenernya Sasuke cuman lagi emosi aja tuh, jadi dia gatau harus mempersalahkan siapa. Konflik? Ditunggu yaah~ Arigatou!

-sasa-chan: NGAAAH? NaruSaku juga?! uuaaduuh ._. rempong juga nih.. hm.. kucoba yaa, tapi kalo gabisa, gomen! Kamu sama kayak aku rupanya, suka pairing yang berbau Sakura xD btw, arigatou!

-Rieki Kikkawa: APA YA?! ada di chapter ini kan? xD sudah baca toh? Arigatooou~

-pichi: tebakan kamu 98% benaaar! *tepuk tangan* wkwkwk oke deh, aku akan ganbatte! arigatou!

-Haruno Michiko: *kipasin*wakakakakak xD lemon GaaSaku? Ada laaah jelaas xD kwkkwk sankyuu sudah bacaaa~

-kdafarah: hot yaa? xD aku aja sampe gemeteran iniii _ hmmm~ kamu mesum, apalagi aku *blush* Sip lah,ditunggu yaah~ arigatou!

-hankira: Atas dasar cinta atau nafsu ya? Hmmm... *kedip kedip*. Kalo masalah siapa yang atas dasar cinta, kamu akan tahu di chapter selanjut selanjutnyaah~ ditunggu yaah! Sankyuuuuu ^^