Annyeong~
Author dateng lagi nih!
Apdetnya cepet, kan? Hahaha.
Abis baca review dari kalian semua, author makin semangat buat lanjutinnya. Semoga di chapter ini reviewnya gak menurun T_T
So, keep reading and review ya! Hohoho.
HE'S BEAUTIFUL
Cast: Kim Jongin, Oh Sehun, Kris, Tao, Chanyeol
Genre: Drama, Romance
Rated: T
Author: Ohorat
Disc: FF ini murni dari otak saya. Jika ada kesamaan di ff lain, mohon maaf.
Jangan copas, Tuhan maha melihat, lho. Haha.
Warning: Boys Love. Yaoi. Typo(s)
.
.
.
.
Sehun mengurut pelipisnya. Ia merasa tidak enak badan setelah sampai kelas pagi ini. Jam dinding di kelas itu baru menunjukkan pukul 6.20. Apa? Sepagi itu?
Namja albino itu sengaja berangkat ke sekolah lebih pagi karena ia tak mau bertemu dengan namja yang akhir-akhir ini mengusik hidupnya. Ya, Kim Jongin. Gara-gara namja aneh itu –menurut Sehun- ia harus merelakan jam sarapannya. Benar, Sehun belum memakan apapun pagi ini. Ia pun lupa tak membawa mantelnya. Ah, sial sekali hari ini.
Sehun menenggelamkan wajahnya di antara lengan yang ia tumpukan diatas meja. Kepalanya mulai pening. Haruskah ia pergi ke kantin? Jam segini mana mungkin kantin buka. Ia jadi merutuki dirinya sendiri karena sudah menolak perintah Kris untuk sarapan dulu.
.
.
.
.
"Sehun-ah, kau tidak apa-apa?" Tao berbisik saat jam pelajaran pertama berlangsung. Ia sedikit heran dengan wajah teman sebangkunya yang terlihat pucat.
Sehun menggeleng, "Gwaenchana. Aku hanya sedikit lapar."
"Kau tidak sarapan dulu?"
Sehun kembali menggeleng, "Aku tidak mau melihat namja itu lagi. Ia pasti akan datang ke rumah dengan alasan mengambil power banknya lagi."
Tao terkekeh geli, "Apa kau tidak menyadarinya?"
Namja bersurai cokelat madu itu memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Bahkan siswi SMP saja tahu, jika ada lelaki yang berusaha mendekatimu dengan cara apapun, ia pasti menyukaimu."
Sehun terdiam. Bibir keringnya sedikit terbuka setelah mendengar penjelasan Tao. Kepalanya pun terasa semakin pening. Tapi, ada sesuatu yang berdenyut cepat didalam dadanya.
"Kau ini benar-benar tidak peka, Sehun-ah." Tao masih terkekeh sebelum mendapat tatapan tajam dari sang guru di depan sana.
.
.
.
.
"Ada apa denganmu? Sepertinya cemas sekali." Seorang namja bertubuh jangkung dengan sebuah headphone yang menggantung di lehernya menepuk bahu namja sudah lama ini menjadi teman bandnya.
"Aku mencemaskan Sehun." Jawabnya tedengar khawatir.
"Sehun? Sepupumu itu? Memangnya dia kenapa?"
Namja bersurai pirang itu menatap temannya, "Tadi pagi dia tidak sempat sarapan. Aku khawatir dia kenapa-kenapa."
"Si tubuh kurus itu suka sarapan juga?" candanya sambil terkekeh.
"Dia tidak bisa jika tidak makan satu hari. Mungkin dia takut Jongin datang kerumah lagi."
Namja dengan telinga lebar itu menoleh, "Jongin? Kenapa dengan dia?"
"Beberapa hari ini dia sering mengganggu Sehun. Dan kau tahu, Chanyeol-ah? Kemarin Sehun menamparnya."
"Apa? Si Jongin ditampar?"
Dan terdengar tawa yang begitu menggelegar dari keduanya sampai-sampai penghuni kampus yang tengah berlalu lalang di depan mereka menatap keduanya heran.
Kris dan Chanyeol memang sudah saling mengenal sejak lama karena mereka satu universitas. Dengan adanya club musik, mereka akhirnya bertemu dan memutuskan untuk membentuk sebuah band. Jongin sendiri yang kebetulan teman sepermainan Chanyeol saat SMP, ikut bergabung karena Chanyeol yang mengajaknya. Chanyeol tentu memiliki alasan mengajak temannya itu, selain suaranya bagus, Jongin juga memiliki kharisma yang kuat untuk menarik perhatian para penggemarnya nanti. Terbukti dengan banyaknya penggemar Jongin di sekolah. Bahkan mereka semua menjuluki 'bad boy' untuk Jongin. Jongin sendiri tidak keberatan, karena menurutnya itu terdengar keren. Dasar Jongin.
.
.
.
.
Tangan Sehun bergetar saat mengganti seragamnya dengan pakaian olahraga. Jam pelajaran sudah berganti 3 menit yang lalu. Ia tidak berniat untuk izin ke uks sedikitpun. Karena Sehun memang salah satu siswa yang gila akan nilai. Ia tidak mau kehilangan nilai olahraganya hanya karena sakit seperti ini. Ia harus kuat, karena setelah ini adalah jam makan siang.
"Sebaiknya kau ke uks saja, Sehun-ah." Tao menatap cemas sahabatnya yang kini berjalan berdampingan dengannya menuju lapangan.
"Sudahlah, aku baik-baik saja. Lagipula sebentar lagi juga jam istirahat. Aku pasti bisa melewatinya." Sehun menegaskan suaranya seolah ia baik-baik saja.
"Tapi aku khawatir. Aku akan bilang pada Songsaengnim-"
Tangan Sehun membekap mulut Tao, "Ck! Sudah kubilang aku baik-baik saja!"
Tao hanya bisa menurut. Ia memandang cemas punggung sahabatnya yang tengah berlalu menghampiri para siswa-siswi yang sudah berkumpul.
"Dasar keras kepala!" gumamnya kesal.
.
.
.
.
Suasana kelas XII-3 IPA itu saat ini terlihat hening. Sangat hening sampai membuat beberapa siswa ataupun siswi didalamnya menguap beberapa kali. Ya, jam pelajaran matematika telah berlangsung. Gurunya pun termasuk salah satu guru killer di sekolah itu. Dan itulah yang membuat suasana kelas menjadi hening dan mencekam.
Seorang siswa mendecak kesal sebelum kemudian mengangkat tangannya ke udara, "Songsaengnim, aku permisi ke toilet!"
Setelah mendapat anggukan disertai tatapan tajam dari sang guru, siswa itu bersorak dalam hati sambil melenggang pergi dari kelas menyeramkan itu.
Para siswa-siswi dikelas sana terlihat iri karena mereka tak bisa seberani itu pada guru killer dihadapannya. Satu alasan yang membuat mereka kagum pada sosok Kim Jongin.
.
Namja bertubuh tegap itu berjalan santai melewati koridor. Mulutnya tak berhenti bersiul disepanjang jalan. Matanya menelusuri setiap kelas yang ia lewati. Ia tidak bermaksud tebar pesona, tapi tetap saja ada yang menjerit di dalam kelas sana. Setampan itukah kau, Kim Jongin?
Sudut bibirnya terangkat saat ia melihat kelas sang pujaan hati di depannya. Tadi pagi ia tak sempat melihatnya karena Kris bilang sepupunya itu sudah berangkat duluan. Jadi, rupanya Sehun sedang menghindarinya?
Ya, Jongin telah berbohong pada guru killer itu. Ia tidak berniat untuk pergi ke toilet. Ia ingin melihat wajah cantik itu yang mungkin sekarang tengah fokus mendengarkan guru didepan kelas.
Tapi…
Langkahnya terhenti saat melihat kelas itu ternyata kosong tak berpenghuni. Ia tahu, pasti ini jam olahraga. Ia segera memutar balik dan berjalan cepat menuju lapangan olahraga yang tak jauh dari sana.
Bibirnya tak henti mengulas senyum, ia jadi membayangkan sang pujaan hati tengah berkeringat dengan nafas terengah. Ah, pasti cantik sekali.
.
.
.
.
"Kalian siap?" terdengar suara songsaengnim yang begitu tegas dan segera mendapat anggukan dari ke-4 siswa dihadapannya.
Tao terlihat cemas melihat Sehun yang sebentar lagi akan berlari dilintasan sana. Sehun terlihat tidak baik-baik saja. Keringat dingin mulai membasahi wajah dan lehernya. Tangannya pun bergetar saat menyentuh tanah.
Tao benar-benar kesal pada sahabatnya yang keras kepala itu. Ini memang tes penting, tapi tidak seharusnya ia memaksakan diri.
PRIIITTT!
Peluit sudah berbunyi dan ke-4 siswa itu segera berlari sekuat tenaga untuk menjadi yang lebih unggul. Detak jantung dan deru nafas Sehun mulai tak beraturan. Langkahya pun semakin melemah membuat ke-3 siswa lainnya berhasil menyusulnya.
"Ayo, Sehun-ah!" ucapnya meyakinkan diri sendiri. Ia mengepalkan kedua tangannya dan kembali berlari sekuat tenaga.
'Tadi pagi kita berangkat bersama, bukankah lebih baik jika sekarang kita pulang bersama juga?'
'Aku hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat.'
'Naik atau kucium kau sekarang juga.'
'Bahkan siswi SMP saja tahu, jika ada lelaki yang berusaha mendekatimu dengan cara apapun, ia pasti menyukaimu.'
'Kau ini benar-benar tidak peka, Sehun-ah.'
Kepalanya terasa semakin pening, pandangannya tiba-tiba memudar, jantungnya pun berdenyut cepat, tubuhnya melemah, ia jatuh.
"Sehun-ah!"
Samar-samar ia mendengar beberapa derap langkah kaki menghampirinya. Ia mendengar beberapa teman dan gurunya memanggil namanya. Dan semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
Kris terlihat gelisah di kursinya. Baru saja ia mendapat pesan dari Jongin bahwa Sehun jatuh pingsan saat pelajaran olahraga. Hal yang ia takutkan terjadi juga. Hey, apa kalian lupa? Sehun itu adik sepupunya. Ia juga sudah mendapat pesan dari orang tua Sehun agar menjaganya. Ia takut akan dimarahi paman dan bibinya lalu diusir. Ia tidak mau itu terjadi.
Kelasnya juga baru dimulai, Kris tidak mungkin pulang sekarang. Ia harus menunggu 2 jam lagi. Dengan segenap hati, jiwa dan raga ia menyuruh Jongin untuk mengurus Sehun sementara. Bukankah ini juga salah satu bantuan agar mereka semakin dekat? Kau pintar, Kris.
.
.
.
.
Sehun menggeliat kecil. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, perlahan penglihatannya kembali pulih. Ia mengernyit saat merasakan ada benda diatas keningnya. Kompresan? Ia pun melepas kain kecil yang sudah kering itu. Setinggi itukah demamnya?
Dahinya kembali berkerut, ia merasakan sesuatu yang berat di atas perutnya. Dengan jantung yang berdetak tak karuan ia sedikit mengangkat kepalanya dan melihat sesuatu yang berat itu.
Tangan?
Tangan siapa ini?
Sehun menoleh kesamping kanannya.
Sesosok namja tengah tertidur dengan nafas teratur disampingnya.
Apa?
Namja?
Sehun membulatkan matanya, "AAAAAA!"
.
.
.
.
Tbc…
Gimana? Masih pendek kah? Semoga ngga(?)
Kalo masih mau lanjut, reviewnya yang banyak ya xD author kan lanjutin ff juga tergantung minat para readers ^^
Q: Sehun sama Jongin kok gak saling kenal? Mereka kan satu sekolah?
A: Sehun itu disini sifatnya sulit bergaul, lebih tepatnya males bergaul. Dan temen satu-satunya cuma Tao, hahaha. Lagipula, sekolah mereka kan gede, jadi gak gampang kenal sama adik/kakak kelas.
Big thanks to:
Kriswu393, urikaihun, Kim XiuXiu Hunnie, daddykaimommysehun, DiraLeeXiOh, DarKid Yehet, askasufa, leeyeol, Mr. Jongin albino, YoungChanBiased, kireimozaku, , Kamong Jjong, afranabilah19, , Nagisa Kitagawa, Srdkj414, Wind, Kaisehun, zyln, novachokyuhyun, Guest, d5, jung oh jung, mrblackJ, mfaz, missy84, SehunnieEXO, kaihunxo, LKCTJ94, chuapExo31, bubblehyun, NyunSehun, , sehunnoona, filutfiyani, soo-iceu, Su Hoo, kaysaiko, byunperverthun, DarkJong-Whitehun, sayangsemuamembersuju
