Makasih untuk semua review; dukungan dan kritik membangunnya, saya senang sekali hehe
Beserta para Siders yang masih bersedia mengintip maupun membaca fiksi saya ini, saya benar-benar berterima kasih. Walau pun tak terlihat namun gimana-gitu (?) :"D
Untuk beberapa hal lain yang mungkin kurang mengenakan juga yah apa adanya dan harus saya terima, tapi terima kasih juga, loh. Saya jadi banyak belajar dari kesalahan jadinya
Q & A :
"(1) Sasuke itu siapa? (2) Kok Hinata di culik? (3) Terus Kakashi sama Sasuke beda kelompok? (4) Kenapa Sakura jadi Pendiem? (5) Sai itu siapa? (6) Kira-kira selesainya berapa chapter?" —(thx :Hirano Lawliet) 1. Sasuke nanti di jelasin, kok asal-usulnya hehe. 2. Karena ada misi rahasia (?). 3. Iya. 4. Tekanan batin gitu, karena byk masa lalunya dan kehilangan tujuan hidup. 5. Baca aja . 6. Saya ga bisa buat banyak chap, jadi insya allah sih di bawah 10.
"Kakashi siapa?" —(thx : Genusro) Mafia, pernah jadi penyelundup obat-obat terlarang, sisanya baca aja
"(1) About Kakashi and Sakura? (2) Where did Sai stand? Friend or Foe btw?" —(thx : Hilda9Achillius9Fitra) Previously, I'll answer it with Bahasa 1. KakaSaku di sini sengaja dibikin rate-m soalnya masih gakuku bikin sasuhina ratem-nya. Saya sendiri suka hubungan Kakasaku disini soalnya dramatis(?) apakah mereka akan berakhir bahagia? Haha baca terus ya. 2. somethimes the smallest things have the biggest meaning,itu yang berusaha saya tegakkan dalam fic ini. Apakah Sai akan berperan penting atau hanya sekedar cowok lewat di fic ini? Bagaimana menurut kalian?
"(1)Apakah ceritanya begini (dengan penjelasan Hydesan). (2) Kata Fee p dari kata pay? (3) Scene lemon asemnya?) —(thx:Hyde'riku) Wah-wah, makasih loh review-nya. Saya sepertinya banyak mengeluarkan typo _ _) sumimasen. 1. Setengahnya benar, namun masih ada yang tidak sejalan dgn fic ini hehe, spt nya fic saya cukup simple namun kebawa ribet juga, ya - 2. Fee punya artian sendiri, yah intinya sih sama aja 'bayaran'. 3. Di chap ini baru ada lime-nya. Saya masih galau untuk menentukan eksplisit atau implisitnya fic ini, sumimasen Lain kali lebih panjang juga gapapa, kok. Saya berterima kasih nih atas peringatannya dan berusaha lebih teliti
"Ehm, gak ada lemon?" —(thx:Luluk Minam Cullen) Baru ada lime
"Sasuke tunangan Hinata, namun Hinata belum tahu?"—(thx: Hinauchiha69) Wah wah, salah :B baca dulu yuk nanti di kasih tau deh
Masih saya pertimbangkan ini mau yang eksplisit atau implisit—ma fist fiction with mature rate, so.
Namun, saya perigatkan dalam fiksi ini mungkin mengandung konten lime.
Stacie Kaniko©
PROUD TO BE PRESENT
THE MISSION
Disclaimer : This Story is mine, all of casts just borrow from Masashi Kishimoto.
SasuHina, slight KakaSaku, SaiSaku
Look at the rating + OoCness inside for the warn
No copycat and plagiarize, because it's sinning!
P.s : first action-story. So, anata-tachi dapat menilai sendiri dan memberi masukan jika ada yang kurang sesuai
Chapter 3 : Meet again.
"Enam petang kita main sebagai visitor. Ada yang kurang jelas?" Lelaki berambut hitam yang diikat tinggi itu menatap serius orang-orang dihadapannya.
"Shikamaru, kenapa aku harus menjaga si alis tebal itu," pemuda bermata sapphire itu mengerucutkan bibirnya, dan melipat kedua tangan di dada, "aku juga turun bisa, kan?"
"Tidak. Kau disini bersama Shino."
Pemuda berjubah hitam yang mengenakan kacamata hitam itu hanya duduk tenang seraya mengutak-atik laptop ditangannya—mulai bekerja.
"Itu tidak adil!"
"Diamlah Naruto, bisakah kau menjalani tugasmu, dan tidak protes." Sosok lain berkulit albino menatap serius teman disampingnya itu.
"Diamlah. Lakukan rencana sesuai strategi tadi, kalau kalian memang ingin misi ini complete." Sosok bernama Shikamaru itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Just do it, benefit kita disini, mereka bekerja tanpa melihat latar. Markas besarnya hanya menjadi tempat suplai sementara." Pada akhirnya lelaki berkacamata itu mengeluarkan suaranya.
Shikamaru tersenyum tenang, "that's right."
Ting tong
Ting tong
Mereka terdiam sesaat, tak lama sosok pemuda albino itu berdiri dan melirik dari lubang pintu, sedikit terkejut sebenarnya. Dengan cepat ia berbalik dan memberi code pada sosok berambut nanas itu untuk mendekatinya.
Tak sampai satu menit mereka berdiskusi, akhirnya mereka membuka pintu.
Dua sosok dibalik pintu itu menatap datar, jarak satu meter dibelakangnya ada beberapa orang yang mereka bawa. Dari penampilannya pun Shikamaru dan Sai mengenal siapa wajah-wajah tak asing itu.
Sosok yang sedari tadi hanya diam akhirnya pergi melihat keadaan diruang tamu, tak lama ia membeku kala menatap sosok yang tentu saja ia kenal, "...aniki?"
*** Stacie_The Mission ***
Ruangan itu layaknya kamar tidur yang lain. Bedanya, bagian meja rias terisi penuh dengan berbagai macam produk kecantikan berlabel Italia dan Perancis. Seutuhnya, kamar itu tak lah begitu luas dan berbentuk persegi yang membosankan. Terdapat jendela panjang yang tertutup tirai putih susu, yang tak dapat tertembus dari luar. Tak ada yang tahu bahwa dalam ruangan itu terdapat dua wanita yang nampak memikat dengan penampilannya.
Salah seorangnya, tenju saja si gadis Hyuuga yang tengah memasang wajah penuh kerutan di dahi.
Hinata menatap bingung bercampur takut cermin dihadapannya. Dikenakannya sebuah gaun hitam diatas lutut yang terlihat menantang dan menampakan beberapa bagian tubuhnya yang seputih susu. Make up natural—kecuali untuk lipstik, karena warnanya merah menyala— dan hair style yang cantik.
Sosok wanita beriris ruby itu tersenyum tenang, "Sudah selesai." Ia memperhatikan hasil karyanya. Tubuh mungil nan berisi Hinata telah disulap layaknya boneka yang elegan dan sensual.
Hinata menunduk takut-takut dan meremas tepi dress-nya, "a-ano... Ini semua... U-untuk apa?" Ia bahkan sedikit mengernyit menatap kuku jarinya yang diukir.
"Segalanya akan kau ketahui jika kau berani membuka kotak pandora." Wanita terkekeh pelan dan berjalan kearahnya, dan memakaikan jubah pesta warna putih untuk menutupi tubuh gadis itu. Matanya berkilat geli.
"E-eh?"
Wanita itu menarik pergelangan tangan gadis itu, dan membawanya melintasi lorong, "Jangan terlalu serius. Kisah ini berbeda dengan Pandora, jadi kau tak perlu cemas." Ia mengerling sesaat san melanjutkan, "Kau akan segera tahu, my dear."
Hinata terdiam, rasa takut terus menerus menghantui membuat perutnya terasa tak nyaman. Tak lama, mereka berdua sampai di depan sebuah pintu.
Wanita bermanik rubi tu mengetuk perlahan. Setelah diberikan kode untuk masuk, ia membuka pintunya. Di dalam, terdapat sesosok lelaki berambut keperakan tengah terduduk disebuah kursi ruangan itu. Detak jantung Hinata menjadi lebih tak beraturan dari sebelumnya. 'L-lelaki gila yang kasar itu... kenapa aku di bawa kesini?'
Hinata meronta sedikit, membuat Yuhi Kurenai, si wanita beriris Rubi melemparkan tatapan memperingatkan yang langsung Hinata pahami. Hinata langsung membatu dan menutup matanya ketakutan dan menggigit bibir.
Kakashi sesaat menatap intens gadis berambut Indigo itu sebelum pada akhirnya menatap wanita disebelahnya, "Menarik."
Kurenai tersenyum tenang dan menutup kembali pintu itu, "Bayaran yang setimpal untuk waktu yang tidak sedikit." Perlahan Kurenai berjalan mendekati sosok lelaki itu. Diremasnya pelan bahu kekar sang lelaki dan bergumam pelan, "Nanti sore bisa kekamarku?"
"Aku tidak janji." Tak lama ia melihat jam tangannya dan berdiri. Dilangkahkannya kakinya menuju gadis yang tengah menundukan kepalanya, "Saatnya pergi."
Dengan cepat gadis itu mendongak, "E-eh?"
*** Stacie_The Mission ***
"Jika kita bekerja sama, bisnis kita akan lebih maju dan memenuhi target. Proyek ini bukan proyek remeh—aku sudah dapat sponsor, apa yang kau khawatirkan sebenarnya?"
"berhentilah berpura-pura, Sabaku. Aku sudah tahu kalau kau yang membuatku nyaris bangkrut." Lelaki paruh baya bermanik Pearl itu menatap tajam.
Sosok berambut merah itu terdiam sesaat, "Apa untungnya untukku? Selama ini hubungan kerja sama berlangsung baik. Selain itu, bisa kau buktikan tuduhan tak beralasanmu?" Ia menghisap filter rokoknya tenang.
Hyuuga menatap dingin sosok yang duduk dihadapannya itu, "kau tahu, Sabaku? Dalam dunia bisnis, kawan pun bisa menjadi lawan, kapan pun."
Sabaku tersedak asapnya sendiri, "apa maksudmu, Hiashi? Kita sudah berteman sejak lama dan bercita-cita membuat sebuah perusahaan besar bersama. Aku hanya mewujudkan keinginanmu!"
Hyuuga tersenyum pahit, "Itu dulu, saat aku tak tahu kelicikanmu."
"Kelicikan?"
"Kau mencuri arsip-arsip penting milik perusahaanku dan menjualnya! Kau tahu besar kerugiannya?! Bahkan strategi sahamku kau jual pada pihak lawan, kau licik!" Hyuuga itu menggebrak meja kebesarannya dengan amarah.
Sabaku itu membeku.
"Kau tahu apa artinya kalah tender ini untukku? Tidak, bahkan lebih dari itu. Nilai sahamku runtuh! Kenapa kau lakukan semua ini? Gila!"
"Heh? Buktikan jika itu memang benar." Orang itu menghembuskan asap rokoknya dan mematikan rokok yang baru terbakar setengah itu di dalam asbak.
"Setiap perbuatan, pasti ada hasilnya. Bukti itu akan kucari." Ia sembunyikan Pearl-nya di balik kelopak mata dan mengernyit. "Sekarang katakan, kenapa kau masih ingin menawarkan kerja sama?"
"Kau membelikan Puterimu beberapa pulau, bukan? Jual saja pulau itu, tak perlu berlagak miskin. Dan untuk kerja sama, aku ingin membuat beberapa cabang kantor lagi. Letak tanahmu ideal." Ia kembali memainkan filter rokok dalam sang asbak, "Hyuuga Corp. yang memimpin pertambangan minyak di Jepang nyaris diambil alih dan bankrut karena harga minyakmu terus turun, jadi investor membanting saham secara drastis.
"Lalu, FA Company ada dibelakangmu sebagai tongkat penyanggah. Itu memang hebat, kau berdiri dalam jangka 8 bulan. Namun, jangan lupakan jasa perusahaanku yang menyertai perusahaanmu sampai tahun lalu."
"Jangan bawa-bawa Puteriku dalam permasalahan ini!" Pearl-nya berkilat marah, "juga, aku masih punya banyak teman untuk di ajak bekerja sama. Tak ku butuhkan parasit sepertimu."
"Huh terserah, mengapa akhir-akhir ini kau begitu sombong—." Ia nampak geram, namun teringat akan sesuatu, "—tapi bagaimana jika putri sulungmu itu malah berhubungan dengan putraku, ya?"
"Anakku adalah anak baik-baik. Segala sesuatu untuk kehidupannya yang akan datang serta suaminya pun akan aku urus dan sampai mati pun tak akan kuizinkan ia berhubungan dengan putramu!"
"Bagaimana jika kita taruhan? Jika ternyata anakmu dan anakku menjalin hubungan dibelakangmu, kau akan bekerja sama denganku. Ini politik, temanku Hiashi. Kita lihat permainan kita, deal?"
"Untuk apa semua itu?!" Hyuuga menatap tajam, dalam hati kecilnya mulai resah.
"Sudahlah, aku tak ingin putraku melakukan hal-hal berbau tak beres di luar tali pernikahan. Keluarga Hyuuga yang beradat kental itu pasti mengerti tentang tata krama keluarga." Sosok paruh baya itu berdiri dari kursinya dan berbalik, "sampai jumpa lagi, teman lamaku."
Sosok itu melenggang meninggalkan Hyuuga senior yang tengah mencerna ucapan-ucapannya. Dahinya makin mengerut dalam, 'apa maksud dari ucapan Sabaku?
Yang jelas, ia tengah dilanda cemas yang berlebih sekarang.
Betapa mirisnya kala menyebut, Matan Sahabat. Namun, apa daya Hyuuga Hiashi?
*** Stacie_The Mission ***
Gadis itu menatap takut-takut sosok disampingnya. "A-ano, u-untuk apa... Kau b-bawa aku kem-mari?"
Sosok itu melirik, "Dengar, kau tunggu di sini sampai seorang Sabaku dating. Jika kau berencana untuk kabur, coret saja rencana bodoh itu dari otakmu."
"E-e-eeh?"
"Aku menyiapkan beberapa orang diluar untuk menjaga kalian berdua dari gangguan luar. Selamat bersenang-senang." Lelaki bermasker itu meninggalkan gadis itu sendiri. Suara pintu yang tertutup membuat gadis itu makin frustasi.
'Gila.'
Apa yang harus ia lakukan? Menunggu seorang pria di sebuah penginapan luas ini seorang diri—except anak buah lelaki tadi.
Dan yang membuatnya makin frustasi ialah dandananya yang... Uh, bahkan gadis itu sama sekali sulit untuk menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini..
Tuk tuk tuk.
Suara langkah high-heels mulai terdengar seiringan dengan gadis itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Dalam pikirannya hanya satu, ia harus selamat—well, luar dalam.
Lagipula, ia merasa ada yang mengganjal pikirannya. Yeah, tentang nama yang disebutkan tadi. Rasanya... Tidak asing.
*** Stacie_The Mission ***
"Ada yang ingin ditanyakan?"
"..."
"Baiklah, strategi selesai. Lakukan pekerjaan ini dengan sebaik mungkin.." sosok berambut hitam yang terikat itu menatap serius sekelilingnya.
"Tapi—."
"Sudahlah Naruto, itu memang tugas mereka." Sosok bernama Shino itu angkat bicara, Naruto balas menyipitkan mata kesal dan melipat kedua tangannya.
"Terima Kasih telah mengerti dan untuk keberhasilan misi, apa sarana kalian sudah lengkap?" Sosok bermanik Hazel itu menatap sang pembuat strategi tenang.
"Semua telah sedia."
"Kalau begitu rapat selesai." Sosok lain menutup pembicaraan. Ia adalah pria dengan wajah yang amat mirip dengan Sasuke; iris onyx dan rambut hitam panjangnya ia kuncir kuda. lelaki itu ia bangkit dan meninggalkan meja makan itu.
"Aniki! Aku mau bicara denganmu." Sosok lain itu berdiri dan menatap dingin punggung objeknya.
"Ikuti aku."
Orang-orang lain mulai membubarkan diri dari ruang makan itu dan mengerjakan tugas individunya.
Disisi lain, dua sosok kakak beradik itu memasuki salah satu kamar dan berdiri berhadapan.
"Mau bicara apa?"
"Kenapa tak memberi tahu kami? Kau menghilang dan kembali seperti ini." Sosok itu menatap marah.
"Itu rahasia company. Orang sepertiku tak boleh menyebarkan informasi sembarang."
"Tapi kaasan sakit karenamu!"
"..."
"Kau—."
"Apa yang kau lakukan jika jadi diriku?"
"Kau—."
"Bukankah kau juga tak memberi tahu ayah dan ibu tentang pekerjaanmu ini?"
"..."
"Begitu juga aku—."
"Kita berbeda." Sosok itu berlaku defensif, "Aku tetap muncul dihadapan mereka dan menjalankan tugasku sebagai anak, tapi kau seperti lenyap ditelan bumi." Ia menyeringai geram, "tak ada yang memintamu menjadi anggota seperti itu."
Sosok itu bungkam. Ia menghela nafas dan menyerah. Memang benar, jalan yang diambilnya tidak terlalu baik tanpa memberi tahu kedua orang tuanya. Tapi kembali ia dengan cepat membuang pikirannya satu itu.
"Kau 'harus' kembali setelah ini." Uchiha Sasuke menatap dingin dan meninggalkan lelaki dibelakangnya tanpa menunggu konfirmasi atas seruannya.
*** Stacie_The Mission ***
Sosok bermasker itu melintasi lorong, langkahnya tertahan kala mendapati sosok cantik yang menghadang jalannya. Wanita berpakaian hitam merah ketat itu mempertunjukan lekuk tubuh sempurnanya dan tersenyum hangat.
Sosok rupawan itu terus melangkah dan merapatkan tubuh pada sosok kekar dihadapannya. Ia mengadah, dan menatap intens wajah lelaki itu, "Kimi, mampirlah kekamarku dulu."
"Aku ingin menemui Sakura—." lelaki itu terdiam, dan mengernyit begitu wanita itu melingkarkan lengannya dipinggang lelaki itu dan makin mengeratkan tubuhnya.
"Kakashi-kun~" suaranya melirih. "Aitakata." Ia menempelkan pipinya pada dada bidang lelaki itu, "Tak bisakah?"
"... Kurenai, jangan sekarang."
" Yui-chan~"
Si perak tetap tak bergeming, "Sore ini aku tak bisa—." Sosok itu berdecak begitu wanita itu makin merapat dan bergerak-gerak, membuatnya yang notabenenya seorang pria dewasa menjadi tak tenang.
*** Stacie_The Mission ***
Di lokasi yang berbeda, Hinata termenung di salah satu kamar. Rasanya seperti menunggu eksekusi mati. Ia bahkan sedikit heran mengapa make up-nya tidak luntur bahkan setelah terkena liquid dari matanya.
Well, Setidaknya mungkin ia bisa mengubah wajahnya layaknya Yuki ona atau sebangsanya jika maskaranya luntur. Siapa tahu kan, cowok yang akan mendatanginya jadi enggan melihat dirinya?
Baru saja ia ingin mengambil sebuah bantal untuk dipeluknya, sebuah suara menginterupsinya. Tersentak, begitu mendengar suara pintu yang terbuka.
'Gawat! Dia tiba.'
Gadis itu cepat-cepat naik ke atas ranjang tanpa mempedulikan high-heels yang masih ia kenakan dan menutupi tubuhnya dengan selimut—well, ia terlalu takut, dan panik untuk membuat rencana 'menyembunyikan diri' yang lebih cerdas.
Mungkin baru saja setengah menit terlewatkan, ia sigap menahan nafas begitu mendengar pintu kamar itu terbuka. Saking takutnya ia bahkan ingin menjerit, dan menangis, tapi cepat-cepat ia tahan keinginan bodohnya.
Ia tak mendengar suara pintu tertutup, tapi dengan cepat tersentak begitu mendengar suara berat didekatnya.
"Carilah tempat bersembunyi yang bagus."
Dengan perlahan, ia menurunkan selimutnya hingga sebatas bibir. Matanya membulat begitu menyadari sosok yang familier. "Gaara-nii."
Lelaki itu juga terdiam, 'Well, Hinata tak berubah wujud menjadi remaja yang buruk'. "Apa yang kau lakukan disitu?"
Gadis itu cepat terduduk dan menghela nafas lega, membiarkan selimut pelindungnya merosot hingga pinggangnya. Ia cepat-cepat tersenyum lebar pada sosok itu, "lama tak jumpa, Niisan. Kau tak banyak berubah."
Lelaki itu mengangguk singkat, tapi iris Jade-nya sama sekali tak berhenti menatap setengah tubuh gadis itu, ia berujar santai, "pakaian yang bagus."
Gadis itu mendengus sebal dan kembali menarik selimutnya hingga leher, "Banyak orang-orang mengerikan disekitarku belakangan ini dan ini salah satu perlakuan mengerikan mereka."
'Oh kami-sama, Hinata bahkan berkembang menjadi lebih subur dibanding yang kubayangkan. Malam yang menyenangkan'. Lelaki itu menyeringai atas pemikiran mesumnya.
Gadis itu tersadar, dan menatap lelaki itu mengernyit, "Gaara-nii, apa hubunganmu dengan orang-orang jahat itu?" Pearl-nya menatapnya menyelidik.
"Uh?" Alis imaginary nya bertaut, "Anggap saja kenalan lama. Tak perlu cemas."
"Benarkah?! Tapi mereka menjijikan! A-aku tak percaya dengan ucapan anehmu," Alis gadis itu bertaut, tatapan kekhawatiran terpancar dari matanya.
Melihat itu Gaara hanya tersenyum tipis. 'Well, thanks Tousan, I got double benefits'."Tapi kau bersamaku sekarang."
Sikap Gaara memancing kecurigaan yang cukup besar untuk Hinata. Dalam hati kecilnya, ia merasa idiot kala berusaha menyatukan insiden anomali yang tak logis jika di pikir-pikir. Dan sekeras apa pun gadis itu mencoba, tak berhasil jawaban ia temukan.
Ada yang salah. Naluri kewanitaannya menyatakan itu dan rasanya ketidaktenangan menjalar ke seluruh tubuhnya. Sesuatu yang buruk mungkin terjadi kapan saja.
"Gaara-nii, aku mau kau menceritakan apa yang kau tahu padaku." Gadis itu menunduk dalam, menggigit bibirnya dengan perasaan ragu.
"Jujur saja, aku tak tahu apa yang kau khawatirkan."
Hinata terdiam sesaat, "Siapa… siapa mereka? A-aku tak suka kalau kau bohong."
"Tenanglah. Ayahku kenal mereka. Kita akan baik-baik saja."
Namun, gadis itu masih menunduk. 'Bagaimana bisa orang yang mencelakai Sasuke di sebut kenalan? Oh demi—.'
Untuk Gaara sendiri, ia tak begitu mengetahui secara spesifik 'siapa' yang dimaksudkan gadis itu. Toh, ia tak mau begitu peduli. Menurutmu, apa yang akan di lakukan oleh remaja 20 tahun ketika di sodori hal-hal yang menyenangkan secara materi dan fisik?
"—Hinata?"
"U-uh? Ya?" berusaha gadis itu sembunyikan perasaan resahnya.
"Sudah makan?"
Dan saat itu pula perut Hyuuga muda itu bergetar. Dengan pipi merona ia hanya menggeleng. Sepertinya otaknya tengah mogok. Makan malam mungkin akan meringankan bebannya untuk sesaat.
*** Stacie_The Mission ***
Haruno Sakura terus memandangi gorden kamarnya dengan ekspresi hampa. Dilipat lututnya, dan membiarkan tubuh lunglainya tersandar di kepala ranjang.
Ia mengabaikan gemuruh perutnya yang minta diisi, mengingat bahwa sejak kemarin sore sampai sekarang belum memasok apapun—terhitung satu hari ia belum makan.
Well, titipan dari Kakashi sampai sekarang pun belum tertempel sidik jarinya. Yang jelas, ia lebih bersyukur mati kelaparan daripada mengisi perutnya menggunakan makanan yang di beri lelaki itu sekarang.
Baru saja ia memikirkan pertemuan aneh bin tak logis dengan gadis ber-aroma Lavender—untuk sesaat, ia mengejek dirinya sendiri. Sungguh, rasanya seperti lelucon garing, tapi benar-benar terjadi.
Dari dalam dasar hati dan pikirannya, Sakura merasakan sedikit cahaya kehidupan begitu bersama si gadis lavender—dan betapa sialnya baru disadari olehnya—, tapi dengan cepat pula ia menerima rasa kesepian. Manusia tak pernah menang dari rasa kesepian.
Ia mencoba mengingat percakapannya dengan gadis itu, tak disadarinya bahwa seulas senyum tipis yang tulus telah terukir manis dibibirnya. Ia ingat saat-saat menyelimuti tubuh gadis lavender itu dengan baik, ia merasa senang.
"Lavender," Wanita itu bergumam pelan, tak lama ia tersenyum ironis, "kenapa kami-sama mengambil segalanya begitu cepat?"
Ia mencoba merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal, akhirnya diputuskannya untuk berbaring, menahan rasa sedih, dan lapar yang bercampur.
Apa mungkin tak pantas untuknya merasakan hangatnya suasana keluarga barang sesaat?
Ah, rasanya jiwa gadis itu sedikit terguncang sekarang.
Terlebih mengingat kehadiran sosok yang di duga sebagai Sai—Sai miliknya. Sakura menutup wajahnya dengan lengan dan mencoba tidur untuk mengurangi beban pikirannya.
*** Stacie_The Mission ***
Ruangan itu tidaklah luas. Hanya ruang kumpul sebuah penginapan kecil. Di tegah ruangan terdapat meja beserta empat kursi yang mana 3 panjang dan 1 tunggal. Tepat ditengahnya terdapat meja panjang yang sempat mereka gunakan untuk berunding. Dinding semi-kayu itu di hiasi cat berkulit Pastel dan coklat yang tak begitu kontras dengan 2 jendela yang saling membelakangi di dua sisi.
Petang itu, ruangan kumpul sangatlah sepi. Hanya seorang pemuda berkulit pucat dengan tas besar yang menemaninya duduk di sana. Wajah pemuda itu datar, namun sikapnya menunjukan keresahan—nampak dari posisi punggungnya yang tegak.
Sosok dengan surai gelapnya itu duduk termangu. Meja dihadapannya terisi dengan kotak rokok beserta korek gas yang jelas bukan miliknya. Tak lama, terdengar suara desahan dari bibirnya. Ia kembali beralih pada kotak panjang yang menyertainya.
Ia hanya sedang berpikir.
Perlahan, ia buka tas besar itu dan mengambil scope dari tepatnya. Memandangi lensa jernih itu sesaat dan mengecek properti kesayangannya sekali lagi. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan jawaban 'Dalam keadaan baik'.
Sesaat ia dapat melihat bayangannya pada lensa jernih itu. Wajahnya seperti biasa, tak menunjukan emosi sedikit pun.
Ia kembali berpikir bahwa mudah saja menutupi rasa enggannya dengan tatapan datar,—rasanya ia cukup tertekan untuk menjalani misi dengan stategi itu, sayang sekali bukan haknya untuk menentukan strategi—yah, kelebihan Uchiha.
Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang tengah terjadi pada gadis itu sekarang. Cemas? Tidak juga. Tapi jelas konsentrasinya sedikit terganggu.'Gadis itu terlalu naif, paksa sedikit saja langsung game over.'Ia mengernyit kala memikirkannya.
Ia mendesah dan meletakan kembali scope itu ke tempatnya lalu berdiri menghampiri jendela dengan gorden krem sebagai hiasannya.
"Jaraknya hanya tiga blok tapi sama sekali tak membantu." Ia mendengus dan berdeham sekali. Lama sekali waktu berjalan untuknya—dan waktu yang lama itu dapat saja di manfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab yang akan menjadi lawannya nanti—membuatnya ingin mendecih.
"Kau nampak resah."
Sasuke menatap singkat laki-laki berkacamata yang menjadi rekannya itu, "Apa urusanmu?" 'melamun itu tak baik ya, sampai jadi tak sadar. Padahal tadi aku sendiri'
"Hanya ingin menyapa." Shino duduk dengan santai dan meraih kotak rokok dan korek yang terdapat di meja itu dan membakar sebatang. "Kau kelihatan berbeda, memikirkan saudaramu itu, ya?"
"Sama sekali bukan. Berhenti mencampuri urusanku."
"Sorry,kan hanya bertanya."
Pemuda pucat itu diam.
"Lawanmu sekarang hanya bocah ingusan."
"…"
"Namun, sedikit bermasalah juga, sih."
"Kau tahu, apa yang ku benci dari bocah ingusan?" ia berkata dengan geram, suaranya rendah.
Shino lantas berpikir sesaat, "Mereka bodoh, naif, ceroboh, dan emosinya meledak-ledak. Hm, kupikir begitu."
Si pucat mendengus, "Mereka suka merusak tanpa disadari." Tak ada yang melihat, bahwa tangan kiri pemuda itu terkepal dalam saku celananya. "Dan menyentuh apa yang mereka suka."
*** Stacie_The Mission ***
"Aaah Arigato ne, Gaara-nii." Gadis itu tersenyum sumringah, rasa pusing karena belum memasok makanan pun lenyap sudah, gadis itu kembali meneguk airnya.
Gaara hanya diam, dalam pikirannya ia mencari ide agar ia dapat menikmati malam berdua dengan caranya sendiri. Lagi-lagi alis imaginary-nya bertaut. Mesum no Sabaku.
Bisa-bisanya ia berpikiran mesum dengan wajah datarnya yang memikat.
"Niisan, berapa lama kita kita gak bertemu," gadis itu tersenyum malu-malu. "Kadang aku suka teringat tentang niisan kalau mengenang masa lalu."
"Mengenang? Acara mandi bareng itu?"
PONG~
Wajah gadis itu sontak merah padam, "B-bu-kan yang itu! La-lagipula itu s-saat aku u-umur lima tahun." Suaranya mencicit tiba-tiba, tanpa sadar Ia memainkan dua jari telunjuknya. "A-aku sudah lupa k-kok!" 'Mengapa Gaara-nii sekarang mengingat hal memalukan seperti itu?'
"Hm itu kenangan menyenangkan." Lelaki itu menyeringai tipis dan terkekeh pelan, membuat gadis dihadapannya makin ciut, "kau tetap manja seperti dulu."
"E-eh?—," 'manja dari mana, coba' ",—h-hentikan." Ia menengerutu. Diputuskan untuk berdiri dan meninggalkan ruang makan sebelum lelaki itu makin menggodanya—yang mana makin kesini makin meresahkannya.
Gadis itu terhenti begitu pergelangannya digenggam. "Eh?"
"... Mau kemana?" Di tatapnya intens tubuh gadis itu dari belakang.
Gadis itu menoleh sedikit, "t-toilet, k-kenapa?" Pipinya lagi-lagi merona.
"Hm tidak." Ia melepaskan genggamannya.
Jade-nya menuding punggung gadis itu hingga lenyap dibalik pintu. Ia kembali duduk dan memikirkan strategi pelumpuhannya—
"KYAAAAAAA..."
—nanti.
Langsung ia bangkit dan membuka pintu itu tanpa memberi aba-aba. Baru saja ia masuk beberapa langkah, tubuhnya telah ditubruk oleh gadis berambut Indigo itu.
"K-ke-ke-kecoa" Hinata terengah-engah ketika melanjutkan bicara "... Jauhkan dia. Uh, kumohon." Gadis itu mendongak dan menatapnya memohon. Ia menarik-narik kemeja hitam lelaki itu cepat,—Pearl-nya basah, dan terlihat kalut,—bahunya bergetar.
Penggambaran yang jelas bukan untuk seorang anti kecoa.
satu detik kemudian, Gaara dapat menguasai diri dan melihat sekelilingnya. Oh well, terdapat satu bangkai kecoa dengan posisi terbalik yang terletak di bawah shower.
Pemuda itu bahkan sempat ragu kalau makhluk kecil itu masih bernyawa. Sesaat Gaara terpaku menatap bangkai itu, "Itu?"
"N-ne! niisan onegai." Gadis itu menatap horror bangkai kecil itu. Tanpa menyadari kemeja lelaki itu telah kusut di bagian dada karena remasannya.
Gaara memberi kode gadis itu untuk menjauh dan mengambil saputangan merah marun dari dalam sakunya demi sebangkai serangga dan langsung membuangnya ke kotak sampah mini di sana.
Ia mencuci kedua tangannya dan berbalik. "Itu saja?"
Gadis itu menangguk cepat dengan wajah serius, tak lama ia berhenti mendongak. Di rasakannya canggung begitu melihat kemeja Gaara yang kusut, "g-gomen ne, niisan, k-ke-kemejamu..."
Lelaki itu hanya mengangguk merasa tak terganggu. Tak lama ia mendekati gadis itu dan berbungkuk, "kalau ada yang aneh-aneh cepat panggil aku."
Hinata meneguk Salivanya sendiri dengan sulit, bisikan suara berat lelaki itu jelas terdengar di telinga kirinya, hembusan napas Gaara ke telinganya membuat Hinata malu dan risi, tak lama ia mematung syok saat mendapati benda lunak yang basah menempel di daun telinganya, "e-engh... G-gaara nii?"
Dengan cepat lelaki itu menjilatnya dan memposisikan wajahnya di hadapan wajah sang gadis. Dipandangnya intens wajah yang nampak kekanakan itu, "warukkata na (maaf ya), dengan pakaian seperti itu, kau membuatku sulit berpikir." Ia menyeringai dan meninggalkan gadis itu sendirian dalam kamar mandi dengan wajah semerah tomat.
"I-itu k-kan t-t-ter-terlalu... Vulgar." Well, nyaris saja gadis itu kehilangan kesadarannya. Gaara yang ia kenalnya benar-benar telah menjadi pria dewasa. Reflek ia bergidik begitu mengingat sensasi lembab di daun telinganya tadi.
Nampaknya, masalah kian menumpuk. Ia dapat satu lagi sekarang.
*** Stacie_The Mission ***
Kakashi menggerakan tubuhnya sesaat dan berujar malas, "bangunlah, aku tahu kau tak tidur."
Tak lama sosok wanita itu mengadah dan tersenyum menggoda, "Aku ingin lagi." Di eratkannya lilitan kedua tangan jenjangnya pada perut lelaki itu.
"Aku ingin keluar." Dengan kasar ia menghentakan tangan yang melingkarinya hingga terlepas, cepat-cepat berdiri dan melangkah ke arah kamar mandi tanpa sekalipun melihat ke balik punggungnya.
Kurenai merubah posisinya jadi duduk dan memandangi punggung kekar yang tergoresi beberapa luka itu hingga lenyap dibalik pintu. Senyumannya menghilang perlahan, menunjukan raut yang sulit di baca.
"Kimi, I wanna hold you." Wanita itu tersenyum sinis dan makin erat memeluk selimut yang melindungi tubuh polosnya.
*** Stacie_The Mission ***
Di tatapnya bathtub yang volume airnya berkurang secara perlahan itu, tangannnya meremas-remas tepi baju handuk yang ia kenakan. Rasanya...
Tegang.
Tentu saja stress rasanya mengingat ia hanya mengenakan 'itu' di depan sesosok pemuda beranjak dewasa, namun pikirannya terus menentang. Gaunnya lebih menantang dibanding si jubah handuk. Ia memejamkan mata dan menenangkan diri. Kurang lebih 60 detik, ia membuka kelopak matanya, dan bergumam, "Jangan tegang."
Pearl-nya menuding satu-satunya pintu yang tertera disana. Ragu, tapi tak lama diputuskannya untuk keluar. Well, beberapa konsekuensi telah berlintas didalam sel-sel otaknya.
Di tutupnya pintu dan memutar hingga 180 derajat. Hinata menahan napas kala mendapati Gaara yang mematung hanya berjarak 5 meter darinya tengah meliriknya.
Hinata rasa hawa semakin tegang. Ia rapatkan punggungnya pada pintu kala melihat Gaara berjalan kearahnya makin dekat. Well, jantungnya makin liar berpacu begitu mendapati sosok itu menghimpitnya di antara dirinya dan pintu.
"Hum, mau jelaskan padaku?" Lelaki itu menurunkan tatapannya, memandang lurus-lurus Pearl pucat itu.
"U-u-umh... I-itu... Ka-kalau aku p-pakai gaun t-tadi," dihirupnya napas dalam-dalam, berusaha berhenti tergagap. "Nanti... Nanti Gaara-nii... Jadi... V-vulgar lagi." Ia menatap Jade milik sosok itu dengan gusar.
"Sou kaₒ" Jade-nya mulai menelusuri wajah gadis itu.
"N-ne." Mulai. Gadis itu susah menarik napasnya. Sensasi aneh bercampur dengan rasa gugup yang meledak-ledak ia rasakan dari dalam tubuhnya. Keringat dingin mulai muncul di pelipis, dan tengkuknya.
Rasanya... Berkunang-kunang.
"G-Gaara-nii, ada baju ganti, gak?"
"Tidak tuh."
Hinata menahan diri untuk tidak mengerang. 'Bagaimana dong?'
"Kupikir ini salah, Hina-chan membuntukan logikaku."
Gadis itu makin ciut begitu mendengar suara lelaki itu makin berat. Sesaat batinnya merasa lega begitu mendapati tubuh yang menghimpitnya menjauh—ia mengerang tiba-tiba.
Rasa kalut mulai menghantui dirinya begitu mendapati sosok dihadapannya menahan sisi kanan dan kirinya dengan tangan kekar lelaki itu. Gaara sedikit membungkukan diri. "Hinata, kita main sebentar, ya?"
Pikirannya kosong, buntu rasanya begitu mendapati benda lembut menempel dibibirnya. "Emh!" Ia menutup cepat kedua matanya dan mendorong bahu lelaki itu.
Terus, bibir lelaki itu berusaha menekan bibir sang gadis. Tak lama ia mulai mengulum—1 kali, 2 kali, 3 kali. Makin dalam layaknya menerima sensasi luar biasa menyenangkan untuknya. Terus, melonjak menjadi hisapan kencang.
Di tempat hening itu hanya terisi suara anomali yang hanya dapat di ketahui oleh orang-orang dewasa—atau yang berpikir dewasa mungkin.
Untuk gadis itu, rasanya ia sudah tak memiliki kaki lagi. Di rasakannya ia diantara sadar dan tidak. Napas yang tak beraturan dan degup jantung yang liar, hanya itu.
Lemas, pusing, sensasi yang membuat otak lumpuh. Kedua telapak tangan yang tadinya ia gunakan untuk mendorong bahu itu akhirnya bertolak 180 derajat. Di remasnya perlahan kemeja hitam lelaki itu dengan tangannya yang basah oleh keringat.
Gila. Dan nikmat. Tapi salah. Rasanya... Tak dapat digambarkan.
Gadis itu hanya pasrah mendapati benda lunak yang sukses menerobos ke dalam mulutnya, dan bergeriliya. Ia ingin menangis karena rasanya aneh sekali dan tak wajar. Hinata belum pernah melakukan hal aneh seperti ini. namun, di sisi lain ia menyukainya—well, hormon anak remaja. Suka, suka, suka, takut, dan bersalah.
Tapi jika di pikir-pikir, ia merasa hal ini belum boleh terjadi. Ia ingat nasehat Sensei Biology-nya. Karena banyak remaja Jepang yang telah melupakan norma-norma, dan berhubungan dengan lawan jenis melebihi batas. 'Masih menjadi pelajar, ingat. Aku bahkan belum lulus SMA'
Air matanya menitik mendapati gigitan-gigitan pada bibir merah cherry-nya. Entahlah, rasanya ia ingin menjerit. Sisi mana yang ia pilih?
Namun akhirnya ia memilih pasrah—tak ada yang dapat ia lakukan dengan tenaga ekstra lemah dan kondisi tak di duganya. Well, Satan menang saat ini.
Gadis itu bernapas tak stabil begitu mendapati sumbatan pernapasan di bibirnya menjauh. Namun rasanya makin memusingkan begitu mendapati kepala dengan rambut merah itu menyelip diantara bahu dan dagunya.
Neck.
Diremasnya helaian rambut merah itu kencang mendapati gigitan-gigitan yang seumur hidup baru ia rasakan. Kepalanya mendongak, desahan halus nan membangkitkan keinginan irasional untuk melakukan lebih. Di nikmatinya tanpa sadar hisapan-hisapan kencang dari kedua bibir Sabaku Gaara.
"Ga—hah... Hah... Gaar—engghh... Uumh~"
Sesaat Lelaki itu terhenti dan mendongak. Hum, matanya dilapisi oleh emosi bernamakan nafsu. Ditatapnya dengan tatapan 'aneh' wajah gadis yang telah mengucurkan peluh, tak tahan melihat bibir gadis itu bengkak.
Cepat-cepat ia kembali menunduk, menatap beberapa bekas yang ia hasilkan basah oleh Salivanya. Ia menyeringai, membuat wajah gadis itu makin memerah.
'Oh Kami-sama, apa yang harusnya aku lakukan? Ayah—oh tidak.'Murni ia ingin menangis sekarang.
Bagi gadis itu, sosok dihadapannya ini ialah seorang idola. Well, wajah tampan, dan pembawaan yang menyenangkan baginya. Semua telah mengetahui hubungan Hyuuga dengan Sabaku memanglah baik.
Sejak kecil selalu bermain dengan sosok ini membuatnya senang untuk bermanja-manja. Tentu, Hinata ialah type Moe kalau bisa dibilang. Jadi tentu saja sang lelaki dihadapannya ini senang mendapati keadaan saat ini.
Di tariknya tali ikat simpul dipinggang gadis itu, membuat jubah itu nyaris terbuka, jubah polos gadis itu merosot hingga bahunya yang terbuka. Dengan cepat si gadis remas kedua sisi jubah agar jubah itu tetap melekat ditubuhnya. Dahinya mengernyit. "G-Gaara-nii?!"
Ia menunduk, jantungnya makin berdetak kencang melihat kepala lelaki itu menempel di bahunya, dan menyesapnya sesaat sebelum akhirnya mengecupinya. Apa ini?
Tidak, ini tidak boleh.
Hinata menggerakan bahunya dengan ritme cepat yang gusar. Bibirnya ia gigit agar berhenti mengucapkan rangkaian desahan yang menggelikan itu. Ia-harus-berusaha.
"G-Gaara-nii! D-dame—aaash."
"Emh?"
"D-aaah... Da—hah...akh Dame yooo~"
Hanya ucapan larangan yang mengandung desah? Meskipun gadis itu memberontak layaknya kucing yang mengamuk pun akan tetap ia lakukan prostitusi itu, apalagi hanya sejenis ucapan tanpa daya.
"O-onegai~ aah... ..Negai... Hah.. SASUKE ONEGAI—AKKKKHH."
Dengan Jade yang berkilat marah, ia mendongak, "siapa?"
Oh demi kami-sama, gadis itu terlalu shock mendapati—,
"Aaakhh ittaiiii~."
—remasan kasar nan menggelikan pada dada kirinya.
DOR!
Semua terpaku. Hinata bahkan begitu takut untuk menghirup napasnya, sedangkan sosok berambut merah itu terperanjat mendapati selongsong peluru melesat dengan cepat dan tertancap di dinding, tepat disebelah leher gadis itu.
Dengan cepat Sabaku muda itu menolehkan kepala kebelakang dan shock.
TO BE CONTINUE
RnR, please?
Edited June 30th, 2016
Thanks too much:
Sh always,Hirano Lawliet,J. Vicko vie, Fujimoto Aya,genusro, Hilda9Achillius9Fitra,Hyde'riku, .777,Luluk Minam Cullen, Hana ID,hinatauchiha69, Aria-chan,Rini Andriani Uchiga,HinaHimeLovers8, AND OTHERS!
CHECK PM, NE. UNTUK REP-REVIEW TANPA AKUN :
Sh always :
Gomen, saya masih dalam tahap belajar. Bahasanya saya udah usahakan kurangi untuk . sip, saya coba efektifkan lagi kalimatnya sebisa saya dan di deskripsikan—makasih untuk saran serta kritik membangunnya . Makasih bgt juga tetep mau nunggu lanjutan fic ini. Semoga mengurangi kekurangan yang kemarin.
Makasih RnRnya
J. Vicko vie :
Iya, nih. Sudah lanjut, motifnya mulai terbaca, kan?
Makasih RnRnya
Genusro :
Makasih yah RnR-nye, entar di jelasin deh di kelas
Hyde'riku :
Sebagian sudah saya jelasin ya di awal, sisanya tinggal tunggu fic di chap lain, yaa. Makasih juga ingetin typo, saya gak ngeh loh nulis 'terdevinisikan' duh cerobohnya :'B soal lime kakasaku itu di eps 2 nya kurang greget karena gak niat di letakan lime gitu, itu ide dadakan :D saya belum bisa buat yang gimana gitu, tp gimana menurut hyde-san tentang GaaHina yg ngegantung ceritanya diatas? ._.
Masalah main chara, di chap kemarin emang saya berusaha ulas mengenai KakaSaku dulu, SasuHina saya proses di chap depan. Sasu di sini masih sok misterius gitu kan, jadi belum saya buka dulu anyway.
Review-mu ialah review yg baik kok untuk saya, ini serius. Makasih udah RnR loh
Hana ID :
Hai, sudah di lanjut. Duh ngerasa gaenak di panggil senpai, saya masih banyak yang perlu di perbaiki Hana-san :D sipsip, makasih udh RnR ya
Aria-chan :
Duh makasih loh Aria-chan :D insya allah, ya. Saya juga suka GaaHina soalnya :D sabar, badai pasti berlalu/? Makasih udah RnR ya
Rini Andriani Uchiga :
Sudah dilanjut, nih :D amien amien :D gimana nih menurut Rini-san chap ini? Makasih udah RnR yaa
Oh iya, aku minta doanya ya karena sekarang sedang menunggu hasil ujian masuk Universitas. Semoga aku lolos, aammiin. Makasih banyak!
Regard,
Xia Stacie Kaniko
REVIEW? THANK YOU
