Jeongguk membawa mereka semakin masuk ke dalam gua. Tempatnya lembab dan gelap. Air menetes-netes dari langit-langit gua sehingga temperatur di sana cukup rendah. Satu-satunya penerangan adalah lampu teplok yang dipegang Jeongguk.
Nanmjoon berjalan dengan tertatih-tatih samapai Seokjin harus melingkarkan lengannya di bahu Namjoon agar tidak jatuh. Air yang diberi Jeongguk memang ampuh adanya. Beberapa menit setelah berjalan, rasa sakit di kedua kakinya mulai berkurang dan Namjoon pun sudah bisa berjalan dengan normal.
"Hei, Jeongguk," panggil Seokjin.
"Apa?" balas Jeongguk tanpa menoleh. Ia menendang beberapa tengkorak entah-siapa ke samping agar mereka bisa melewati gua dengan mudah.
"Tadi kami melihat poster pencarian orang. Chaplin Guk Jeon. Siapa itu? Penampilannya cukup nyentrik."
Jeongguk berdeham. "Itu aku."
"Mengapa mereka mengincar kepalamu?" kali ini Namjoon yang bertanya.
"Mereka tidak suka adanya orang asing yang menyelundup." Kata-katanya masuk akal, tetapi Jeongguk terdengar ragu. Seokjin dan Namjoon tak berkomentar apa-apa.
Mereka pun berjalan semakin jauh. Ketika ditanyai berkali-kali oleh Seokjin ke mana mereka dibawa, Jeongguk bungkam. Namjoon sempat mengancam kalau ia dan Seokjin akan kembali ke tempat tadi, namun Jeongguk malah mengancam balik. Katanya, "Putar balik, lalu nyawa dicabut oleh makhluk-makhluk haus darah, atau kalian ikut aku dan tetap bertahan hidup? Kalian bukanlah tanggung jawabku lagi jika kita berpisah."
Seokjin merinding sekaligus kesal mendengarnya. Mengapa kata-kata anak itu terdengar janggal dan mulai tidak relevan? Tanggung jawabnya katanya? Kalau memang ia dan Namjoon adalah tanggung jawabnya, kenapa Jeongguk tidak mau membantu di kala tak bersama lagi?
Oh, Seokjin harus berhenti bertanya-tanya. Ini hanya membuatnya merasa bodoh.
Ia melirik Namjoon. Ternyata, kekasihnya itu juga terlihat bingung sekaligus was-was. Beberapa kali ia bergidik setiap kali melihat tengkorak manusia yang tergeletak di lantai gua. Karena mereka tidak berani menggeser tengkorak dengan kaki apalagi melangkahinya, mereka mengambil lintasan setengah lingkaran. Konon, kata orangtua kalau kuburan tidak boleh dilangkahi. Jadi, hal itu berlaku pula pada mayat maupun komponen-komponennya.
Seokjin tiba-tiba merasa pusing yang hebat. Ia langsung terjerembab ke lantai gua yang dingin, basah, dan kasar.
"Hyung!" Namjoon berlutut di depannya dan terlihat panik. "Kau tidak apa-apa?"
Seokjin tidak mampu bergerak. Pandangannya berputar-putar walaupun ia sudah beberapa kali mengerjap-kerjapkan mata. Bukan kian jelas, pandangannya malah kian kabur. Namun, ia masih bisa melihat bahwa Jeongguk menghampirinya juga.
Seokjin semakin merasa pusing ketika suara Namjoon yang memanggil-manggilnya mulai teredam oleh entah-apa. Suara kekasihnya itu mulai bergema. Sejenak Seokjin berpikir apakah ia akan jadi buta dan tuli di tempat antah berantah seperti ini.
Kendati demikian, Seokjin yakin bahwa ia tidak kehilangan kesadaran. Pandangan yang kabur itu beralih ke pemandangan kota London kuno yang penuh warna. Suara-suara yang terdengar seperti orang berbicara di dalam air tadi berubah menjadi suara penduduk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.
"We are under attack now!" kata seorang pria di balik dagangan yang ia jual, ikan. Dagangannya pasti belum terlalu laku.
"Under attack, you said? We're in glory!" protes pedagang wanita di sebelahnya, penjual daging rusa. Stoknya tinggal satu lagi, tergantung di atas meja dan terayun-ayun oleh angin.
"Bukan serangan senjata, maksudku. Penduduk menghilang satu per satu. Seperti ramalan itu, Ma'am. Chucklain is back! And so does his army! Pasti sudah ada orang yang memancing kedatangan mereka."
Sang wanita tertawa geli. "Kau terlalu melebih-lebihkan rumor yang ada, Jack."
"Aku tidak melebih-lebihkan, hanya mengulangi apa yang Kakek katakan padaku semalam." Jack membela diri dengan menggebu-gebu.
Percakapan mereka terhenti sebentar ketika ada pembeli yang membeli daging terakhir milik wanita itu. "Nah, saatnya pulang dan beristirahat," tukas sang wanita dengan ceria setelah pembeli terakhirnya berlalu. Dagangannya selalu laku.
Sembari Jack memerhatikan wanita tua yang sudah sangat dikenalnya itu beres-beres, ia bertanya, "Siapa laki-laki yang datang ke rumah Anda kemarin? Bajunya aneh sekali."
"Cucu dari kerabat jauhku. Nah, sudah bersih. Dan Jack, tolong, aku mau empat pon ikan."
Jack terlihat sedikit senang. Wanita tersebut sering membeli ikannya untuk disantap di rumah. Ia pun menimbang ikan dan membungkusnya dengan kertas koran. "Ini, Ma'am. Terima kasih banyak."
Sang wanita memberinya beberapa keping perunggu. "Sampai jumpa besok, Nak." Kemudian, ia melangkah pergi, menjauh dari pasar.
Sang wanita menuju sebuah rumah kecil. Ketika ia membuka pintu, ia disambut oleh aroma teh yang sangat wangi hingga membuatnya tersenyum sendiri. "Ah, Nyonya Lisa sudah pulang?" seru seorang remaja laki-laki dari dapur.
Seokjin langsung tahu bahwa remaja itu adalah Jeongguk. Namun, ia tak punya kumis.
"Ya. Kau yang membuat teh ini, Guk Jeon? Sungguh harum!" Lisa melangkah ke dapur dan meletakkan ikan yang tadi dibelinya di sebelah perapian.
"Benar. Nyonya, jangan panggil aku Guk Jeon. Aku jadi merasa takut."
Lisa menepuk jidatnya. "Oh, ya ampun. Maafkan aku, Jeongguk. Maklum, usiaku sudah lanjut."
Jeongguk tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku tidak akan lupa mengingatkanmu. Hehe."
"Kau memang harus selalu mengingatkanku," tukas Lisa sembari membersihkan ikan. "Chaplin Guk Jeon. Julukan yang konyol!" cibirnya. "Aku tak mengerti pola pikir si kepala distrik itu. Kau memakai topi khas kerajaan negaramu bukan berarti kau mirip Chaplin!"
Jeongguk tertawa gugup. "Yah, untunglah kau menyembunyikanku di sini, Nyonya. Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk berterima kasih padamu."
"Tidak masalah. Selama kau bisa membuatnya tenang, kau aman bersamaku."
"Ya."
"Oh, iya. Apa kau sudah memberinya makan?"
Jeongguk terkesiap. Tangannya yang sedang mengelap meja berhenti sejenak. Untunglah Lisa sedang membelakanginya. "Sudah, Nyonya." Jeongguk berkata dengan hati-hati agar tidak ketahuan kalau ia sedang ketakutan sekarang.
"Anak pintar."
Visi Seokjin berganti.
Jeongguk sedang berjalan pelan-pelan di lorong yang gelap. Wajahnya melukiskan ketakutan dan ia memeluk dirinya sendiri. Di belokan, ada seorang gemuk yang kelihatan mabuk sekali. Mukanya sudah merah. Di kiri kanannya terdapat dua orang kurus yang sedang membantunya berjalan dengan susah payah.
"Woi," seru si gemuk. "Chaplin Guk Jeon itu! kalian thau dia kan? Dialah yang menculik warga-warga yang hilang akhir-akhir ini."
"Hei, kau sedang mabuk." ujar orang kedua yang berambut pirang. "Diamlah."
"Orang mabuk berbicara jujur biasanya," sahut orang ketiga.
Jeongguk memutuskan untuk mengikuti agar bisa mendengarkan percakapan mereka.
Si gemuk cegukan keras sekali hingga tubuh kedua temannya sedikit terangkat. "Perhatikan saja. Sejak ia tiba di sini—entah bagaimana—penduduk mulai hilang satu per satu. Menurut ramalan, orang asing yang masuk ke sini akan memancing anak Chucklain datang ke tempatnya dan meminta makan. Kau tahu apa yang mereka makan? MANUSIAAA—HOEK."
"Oh, shit!" maki si rambut pirang. "Sepatu baruku!"
"Hei, gendut. Lanjutkan ceritamu." Itu kata teman satu lagi yang berambut merah.
"Dasar tolol! Dia baru saja muntah!"
Jeongguk makin terlihat ketakutan. "Aku tidak boleh ketahuan." Gumamnya pada diri sendiri. "Jangan sampai kabar ini tersebar! Oh, Dewa Langit! Tolong, aku ingin pulang ke Korea!" Ia pun mendekati mereka bertiga sambil menggenggam erat kayu yang dari tadi sudah dibawa bersamanya.
Dalam waktu yang sangat singkat, ketiganya terkapar tak berdaya di kaki Jeongguk. Tiga warga itu pun dia angkat ke atas gerobak dan didorongnya gerobak itu ke rumah Lisa. Ia membuka pintu kecil yang ada di dalam perapian dan memasukkan mereka satu per satu, dibantu Lisa yang mengomel-ngomel (saking cepatnya, Seokjin tak mengerti apa yang ia katakan).
Di dalam sana terdengar geraman yang selalu membuat Jeongguk bergidik ngeri. "Ini makananmu selama tiga malam ke depan, oke? Satu nyawa untuk satu malam. Setidaknya, biarkan aku beristirahat selama dua malam ke depan. Tolong."
Seokjin tak tahu Jeongguk sedang berbicara dengan makhluk jenis apa ketika visi berganti ke keesokan paginya. Sudah ada poster pencarian Chaplin Guk Jeon di seluruh kota.
Kemudian, visinya mengabur. Yang ia lihat sekarang adalah langit-langit berbahan triplek.
Masih abu-abu.
Seokjin memijit kepalanya yang sakit dan menarik dirinya dari posisi berbaring. Ia melihat sekelilingnya. Sebuah kamar tidur. Kasur di bawahnya empuk. Ingin rasanya ia tidur lagi dan terbangun di kamarnya dan Taehyung. Ia berharap kalau ini semua hanyalah mimpi buruk.
Kendati demikian, ia tahu ini bukan mimpi. Visi yang tadi sudah cukup memberinya petunjuk mengenai apa yang pernah terjadi di kota ini.
Seokjin pun keluar kamar. Di sana ada sebuah ruang keluarga dan dapur yang cukup luas. Namjoon tengah duduk termenung di ruang keluarga dengan secangkir air di tangannya. Langkah kaki Seokjin membuat Namjoon menoleh. "Hyung!" Ia bangun dan menghapiri Seokjin untuk didekapnya erat-erat. "Kau sudah baikan?"
Seokjin mengangguk. "Ada yang harus kuceritakan."
"Kemari." Namjoon menuntunnya untuk duduk di kursi sebelahnya. "Minumlah dulu, baru cerita."
"Di mana Jeongguk?" tanya Seokjin setelah meneguk habis dua gelas air penuh.
"Tidur." Namjoon menunjuk sebuah pintu yang bersebelahan dengan kamar tempat Seokjin terbangun tadi.
"Kita di mana ya?"
"Rumah kerabat Nyonya Lisa."
Seokjin menghembuskan napas, lalu mulai bercerita tentang penglihatannya yang tadi. Namjoon tak terlihat kaget mendengar kisah tersebut. Ia malah mengangguk-angguk mengerti. "Jadi itu dia ya?" tanyanya memastikan. "Mengapa ia harus berbohong tentang poster pencarian dirinya?"
Seokjin mengangkat bahunya. "Begitulah. Tapi, aku malah lebih penasaran dengan Lisa. Dia kelihatannya tahu banyak tentang Chucklain."
"Aku setuju. Dari ceritamu, ia seperti mengancam. Jeongguk masih muda dan takut. Ia harus memiliki tempat persembunyian walaupun harus melakukan apa yang Lisa minta."
Kali ini Seokjin yang mengangguk. "Ya. Aku tak sabar untuk melihat penglihatan selanjutnya."
"Aduh. Pasti seram. Kenapa kau tiba-tiba terlihat seperti seorang peramal?" Namjoon terkekeh.
Seokjin tersenyum geli. Namjoon tahu kapan harus mencairkan suasana tegang. "Entahlah. Hahaha. Mungkin aku akan berhenti jadi dokter lalu menjadi shaman."
"Sudah dapat penglihatan ya?" suara Jeongguk mengangetkan mereka hingga terlonjak dari kursi. Jeongguk melangkah ke arah mereka dan duduk di kursi goyang. Seokjin entah kenapa takut bertemu dengan kursi goyang yang kedua itu. "Nyonya Lisa bukan mengancam, melainkan membantu. Itu yang harus kalian tahu. Tanpanya, aku tak akan bisa bertahan hidup sampai sekarang ini.
Kalian tahu apa, aku ingin pulang ke Korea. Kalian harus membantuku. Jika berhasil, kita bisa kembali ke tempat asal kita."
Namjoon tertawa sinis. "Heh. Membantu apa? Mengorbankan nyawa kami sebagai santapan mereka?"
Jeongguk tak bereaksi. "Aku sudah sering mendapat sarkasme seperti itu."
"Kau berbicara hal aneh lagi," sahut Namjoon. "Sering? Berarti bukan kami saja ya yang telah berurusan denganmu? Apa mereka-mereka yang sebelumnya gagal membantumu sehingga akhirnya harus mati? Hebat ya."
Jeongguk tersenyum tipis. "Jenius. Asal kalian tahu, aku jauh lebih tua dari yang kalian sangka."
"Tidak mungkin." Seokjin berkata. "Kau masih delapan belas. Dan, tolong deh, cabut kumis palsumu itu!"
Jeongguk tertawa, kemudian mencabut kumis palsu dan topi tingginya. Ia memiliki paras yang sangat tampan sekaligus menggemaskan. "Baru kau yang menyadari kalau ini palsu, Kim Seokjin."
"Siapapun akan tahu kalau itu palsu," balas Seokjin pongah.
Jeongguk menggeleng-gelengkan kepalanya. "Orang-orang sebelumnya mengejekku karena dianggap masih bocah. Akibat keegoisan mereka, makhluk-makhluk itu jadi makin lapar. Eh.. Maaf, aku tidak boleh bercerita banyak."
"Bagaimana kalau kau menceritakan tentang umurmu saja?" saran Seokjin. Ia benar-benar penasaran. Jeongguk terlihat semuda dan sesegar dalam penglihatannya. Logikanya kan, Jeongguk seharusnya tampak lebih tua—brewokan barangkali. Dan lelah. Namun, Jeongguk kelihatan seperti remaja yang baru selesai mandi dan siap-siap ke sekolah.
Jeongguk meneguk segelas air sebelum menjawab, "Setelah kejadian itu, aku mulai mencari tahu tentang Chucklain; asal usul mereka, cara berkembang biak, mengapa mereka bisa muncul dalam waktu yang tak tentu, dan bagaimana matinya. Singkat cerita, aku mendapatkan cara menghentikan mereka. Kubilang, menghentikan, bukan membunuh. Mereka abadi. Sejak itulah—"
"Tunggu!" potong Namjoon. "Mengapa mereka tak memakanmu?"
"Tidak tahu. Jadi,-"
"Tidak mungkin kau tidak tahu," ucap Seokjin. "Jangan membohongi kami lagi, tolong."
Jeongguk menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia tampak frustasi. "Tolong juga, jangan memaksaku. Biarkan aku memberitahu apa yang perlu kalian tahu saja. Aku tidak mau kalian bernasib sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Janji, aku jujur kali ini. Tapi, tahan pertanyaan-pertanyaan hingga kita menyudahi ini semua.
Intinya, aku membuat perjanjian dengan Chucklain. Dan pop! Orang dari masa depan tahu-tahu muncul begitu saja. Jadi, aku meminta bantuan mereka. Simbiosis mutualisme. Kau bantu aku, kau bisa kembali ke tempat asalmu. Tapi semuanya gagal. Setiap kali begitu, orang-orang itu jadi santapan dan aku kembali ke hari di mana insiden itu terjadi.
Tentu saja, kemudaanku juga kembali. Yang buruk adalah jumlah Chucklain tidak kembali seperti semula (sedikit) melainkan bertambah karena orang-orang dari masa depan itu dimakan. Setelah dihitung-hitung, aku sudah teperangkap di sini selama ratusan tahun. Selesai! Mari kita makan malam."
"Malam?" Seokjin mengerutkan kening, lalu melihat ke luar jendela. Benar, sudah gelap.
"Kau tak sadarkan diri lama sekali, Kim Seokjin." Jeongguk berkata sambil berjalan ke dapur. "Sebelum kita bertemu, aku ke mobil dan mengambil bekal milik kalian. Tak apa-apa kan?" Ia nyengir.
Namjoon dan Seokjin bergabung bersamanya. "Kurasa kau penasaran dengan makanan masa depan. Iya kan, Hyung?"
"Benar!" Jeongguk menjawab alih-alih Seokjin.
"Terima kasih sudah mengambil makanan ini, Jeongguk," kata Seokjin. Ia membuka kotak bekal yang mengundang pekikan dari Jeongguk.
"KIMCHI! Astaga! Aku rindu kimchi!" Sepuluh jari tangan Jeongguk bergerak-gerak antusias. Seokjin berani bertaruh kalau kedua mata Jeongguk juga berbinar-binar. Senyum anak itu sungguh cemerlang. Sejenak, ia terlihat seperti remaja pada umumnya, hanya saja dari jaman yang berbeda.
"Habiskan saja kimchi itu," tukas Seokjin sambil tersenyum ikhlas.
"Apa? Bagaimana denganku?" protes Namjoon.
Seokjin memutar bola matanya. "Mengalahlah pada yang lebih muda."
"Dia sudah kakek kakek kakenya buyut buyutnya buyut, Hyung."
"Hadoh. Apa yang kaukatakan itu? Kan, umurnya kembali ke delapan belas tahun!"
Namjoon mengusap mukanya pasrah. "Ya sudah. Aku makan bibimbap saja. Bagi dua denganmu."
"Sekotak berdua?" tanya Jeongguk. "Aku hanya akan memakan setengah porsi nasi dan kimchi ini kok."
Seokjin menggeleng. "Makanlah semuanya. Jika kita berhasil dalam misi, akan kubawakan kau banyak kimchi dan makanan jaman abad 21." Katanya sungguh-sungguh. Ia tak peduli siapa Jeongguk. Kasihan benar ia sudah terjebak di sini tiga abad lamanya.
Seokjin kira Jeongguk akan mengangguk antusias, namun ia malah menunduk dalam.
"Ada apa?" tanya Namjoon.
"Aku baru sadar satu hal." Jeongguk menatap dua orang di depannya dengan mata memerah, hendak menangis. "Jika kita berhasil, aku tak bisa kembali ke jamanku. Aku malah... akan ikut ke jaman kalian bersama-sama. Aku... aku rindu ayah dan ibuku." Ia mulai terisak. Tak lama, isakannya berubah menjadi tangisan yang sangat menyedihkan di telinga Seokjin. Tubuh Jeongguk pun berguncang dan ia menutup wajahnya dengan tangan.
Seokjin pindah ke sebelah Jeongguk dan menepuk-nepuk kepalanya. Ia sering melakukan hal itu saat Taehyung menangis di waktu kecil. "Menangislah sampai puas. Tidak usah ditahan jika tidak mau makin sesak dadamu."
Begitulah. Selama hampir setengah jam Seokjin dengan sabar menenangkan Jeongguk sementara Namjoon menghabiskan bagian makan malamnya, lalu menjelajahi rumah kuno itu.
Jeongguk akhirnya menyantap makan malam sambil memuji masakan Seokjin itu.
Kendati demikian, ketenangan malam mereka terusik oleh bayangan-bayangan yang lewat depan jendela-jendela rumah. Keadaan di luar mendadak menjadi terang sewarna lampu minyak. Suara-suara orang bercengkrama terdengar.
Yang lebih mencengangkan Seokjin, Jeongguk, dan Namjoon adalah semuanya kembali berwarna.
Kursi yang mulanya berwarna kelabu tua kini berwarna cokelat kuda. Meja kelabu muda menjadi cokelat tua, sama halnya dengan kusen jendela. Gorden dan dinding putih bersih, lantai krem, pintu hitam legam dengan ukiran rumit. Semuanya tampak hidup sekarang.
Pintu depan menjeblak terbuka dan masuk beberapa orang. Orang-orang... dengan tubuh yang tidak lengkap.
Yang di depan, seorang pria tua. Rambutnya yang beruban hampir seluruhnya dinodai bercak merah—apa itu darah?. Sebelah matanya tak ada, alhasil darah keluar dari lubang tempat seharusnya mata berada dan menetes-netes ke lantai rumah. Hidungnya bengkok dan berwarna biru-hampir-hitam. Kemudian, mulutnya robek lebar sekali hingga mencapai telinga. Lehernya juga berdarah-darah seperti habis digorok pisau. Kedua tangan sang pria tua loyo bak tak bertulang. Kedua kakinya tak memiliki panjang yang sama sehingga jalannya sangat timpang. Bagian yang paling mengerikan—menurut Seokjin—adalah usus sepanjang lengan bawah yang menggantung keluar dari perutnya.
Yang kedua seorang wanita. Kondisinya kurang lebih sama, hanya saja lebih banyak darah dan pakaian yang compang camping.
Ada lagi remaja laki-laki dan perempuan, telanjang bulat, dan kondisinya jauh lebih parah. Tubuh yang seharusnya mulus dipenuhi noda hitam dan merah yang lengket (terlihat serat-serat ketika mereka menggerakkan tangan dan kaki). Bentuk tubuh mereka tak wajar karena patah tulang di mana-mana, yang menimbulkan suara kretek kretek setiap kali mereka berjalan.
Ada dua lubang kosong dan gelap di wajah anak laki-laki, tempat indera penglihatan seharusnya berada. Dengan kepala botak seperti tentara.
Tak mau kalah tak lengkap, yang perempuan giginya ompong semua. Alih-alih gusi berwarna merah, ia punya gusi berwarna hijau lumut. Ia mengeluarkan cairan kental berwarna hitam berbau oli dari mulutnya. Rambut panjangnya acak-acakan dan dihiasi banyak bulu ayam.
"Keluarga Wright," gumam Jeongguk.
"Siapa?" tanya Namjoon. "Kau kenal mereka?"
"Ini rumah mereka," ujar Jeongguk, "saudara Nyonya Lisa."
"CHAPLIN GUK JEON!" suara Tuan Wright menggelegar. Tangannya yang loyo mengarah ke Jeongguk. "HE'S HERE! AKAN KUDAPATKAN 1000 KEPING EMAS ITU!"
"PENGGAL KEPALANYA, AYAH!" raung si anak perempuan.
Seokjin sulit mencerna apa yang ia lihat dan dengar. Sudah menjadi mayat hidup, tetapi masih saja menginginkan uang?
"Gerakan mereka lambat. Kita bisa lari dari sini," kata Jeongguk. "Ayo!"
Jeongguk memimpin di depan, sedangkan Seokjin dan Namjoon mengikuti di belakang. Tak disangka, keempat anggota keluarga Wright balik berlari ke arah mereka, ingin menyergap. "Chucklain akan senang sekali bila dua cecunguk di belakangmu kami santap!" kata sang ibu sambil menyeringai.
Dan Jeongguk salah. Mereka sangat cepat. Kaus bagian depan Seokjin dirobek oleh anak perempuan Wright. Serius, kukunya panjang sekali!
"Sial!" pekik Jeongguk. Ia terjengkang ke belakang karena Tuan Wright hampir menangkapnya dengan gerakan memeluk.
Namjoon menarik Seokjin ke belakangnya, lalu menarik Jeongguk untuk berdiri. "Kata kau mereka lambat?" sindir Namjoon.
"Biasanya mereka lambat," ucap Jeongguk.
Mereka bertiga mundur selagi empat zombi maju mendekati merka.
"Oh, ini sudah pernah terjadi ya?" tanya Namjoon. Seokjin bisa merasakan kalau pacarnya sudah mulai tidak suka dengan Jeongguk.
Jeongguk menggeleng. "Ini lain perkara. Percayalah padaku!"
"Aku akan percaya padamu kalau kau bisa menyingkirkan mereka," balas Namjoon.
"Namjoon-ah," panggil Seokjin tajam. Namjoon pun bungkam. "Hei, Jeongguk. Mungkin kau bisa merapalkan mantra lagi?"
"Sudah kucoba dari tadi," tukas Jeongguk. "Tapi tak berefek apa-apa."
"Mungkin kau tidak boleh mengucapkannya dalam hati," tebak Seokjin.
"Betul juga kau! Terima kasih." Seokjin ingin sekali menempeleng kepala anak itu saking pikunnya dia. Dan Jeongguk pun mulai komat-kamit.
"HA!" seru anak laki-laki Wright. "Mantramu sungguh payah! Kami semua sudah kebal akan bahasa-bahasa menjijikkan itu."
"Tidak tahu diri sekali," gumam Namjoon. "Kalian lebih menjijikkan, tahu."
Mata satu Nyonya Wright mendelik ke arahnya dan menerjang. Mereka berdua jatuh dengan Namjoon berada di bawah.
"NAMJOON-AH!" pekik Seokjin. Ia panik. Mantra Jeongguk benar-benar tak mempan lagi. Kini pacarnya hendak dimakan oleh zombi.
Namjoon berusaha melawan dengan susah payah. Jelas, sang wanita lebih berat tubuhnya dari Namjoon. Seokjin ingin menghampiri namun si anak perempuan kembali merobek pakaiannya, tepatnya celana panjangnya. Kedua matanya menatap haus ke ... Seokjin mengikuti arah pandang gadis zombi itu.
Kretek kretek kretek
"NOOO!" Seokjin spontan berteriak dalam bahasa Inggris. Gadis zombi mengincar alat kebangsaannya (?). Ia melompat mundur sementara musuhnya mengulurkan kedua tangan penuh hasrat dan nafsu ke arah Seokjin.
Jeongguk lebih parah. Ia harus menghadapi dua zombi. Memang, yang satunya tak punya mata, namun entah mengapa ia tahu kemana ia harus bergerak. Jeongguk tak berhenti meluncurkan mantra, tetapi sia-sia. Para zombi makin lambat, tetapi takniat berhenti. Sedetik saja Jeongguk berhenti untuk mengambil napas, mereka kembali menjadi gesit.
"Guk Jeon!" seru Tuan Wright. "Menyerahlah! Kau tak akan berhasil sampai Chucklain sendiri yang turun tangan! Jangan terus-terusan mengorbankan nyawa orang banyak demi kebebasanmu! Mari, serahkan dirimu dan mereka akan kembali ke dunia mereka."
"Apa?" Seokjin terkejut bukan main.
"Jangan dengarkan dia!" suara Jeongguk penuh penekanan dan nada perintah.
"BAH! Jangan percaya bocah berkumis ini. Dia hanya memanfaatkan kalian."
tbc
Hai hai~
Terima kasih banyak buat yang udah follow, favorite, apalagi review :*
Maaf banget telat updatenya Saya benar-benar sibuk dan sempat drop.
Chapter ini lebih panjang dari sebelumnya kok hehe
Dan maaf juga belum sempat balas review.
oh iya.. btw menurut kalian di sini siapa uke dan siapa yg seme ya? kok saya linglung o.O
btw lagi, jangan panggil saya author ya hehe apalagi Thor. kan ga puya palu sakti wkwk panggil miparkland aja boleh. atau margaretha :)
Kalo ada yang mau kenalan lebih dekat, boleh add line saya 4mip_
Last, mind to review?
