Bittersweet
Disclamer " Eichiro Oda"
Author " Constantinest"
Pairing "Doflamingo x Hancock, Hancock x Luffy"
Family, Romance.
T semi M.
.
.
Hancock tersenyum lembut menatap bayi yang sedang tidur di boxnya, Doflamingo melepaskannya dan tentu saja dimanfaatkannya dengan bermain dengan bayinya. Tetapi bayi itu sudah tertidur pulas.
"Kau benar-benar manis ketika tidur." Ucapnya berguman, lalu ia terdiam, "Kau tahu betapa hancurnya hatiku ketika aku harus menyerahkannya kepada Doflamingo? Aku ingin merawatmu, memberikan segenap cintaku kepadamu. Tetapi aku tidak bisa dan itu membuatku merasa gagal akan semuanya. Aku menangis tanpa henti seolah hatiku hancur, ibu mana yang mau kehilangan anak yang baru saja dilahirkannya? Baru sebulan umurmu dan aku harus meninggalkanmu," ucap Hancock berusaha menahan tangisnya. Tetapi air mata itu tumpah dengan perlahan membuat ia menahan agar tangisannya tak membangunkan bayi kecil itu.
Hancock perlahan keluar, tentu menangis dihadapan bayinya sendiri tidak ada gunanya. Ia menutup pintu dengan perlahan. Mata birunya menatap Doflamingo yang sedang berdiri di sebrang pintu, pria itu tidak tersenyum atau apa hanya terdiam.
"Kau sudah bangun?" tanya Hancock dan dengan cepat menyeka air matanya sendiri. "Apa kau menungguku disini karena takut aku mengambil bayimu? Tenanglah, aku tidak akan mengambilnya."
Hancock tahu bahwa dirinya begitu tersiksa, ia tak berani menatap pria itu dan berjalan perlahan. Ia tak peduli kemana kaki ini melangkah, yang ia inginkan adalah pergi dari hadapan pria itu.
Melihat wajah bayinya sendiri ditambah lagi dengan wajah pria yang pernah mengisi hatinya yang dulu bagaikan momok mengerikan untuk Hancock.
Doflamingo mengikuti wanita itu dari belakang, ia masih mengingat kapan wanita itu menangis. Yah, Doflamingo pernah melihat pemandangan yang membuat semuanya kembali ke masa lalu. Tangisan itu seolah kesalahan terbesarnya.
Memang ia selalu memaafkan kesalahan anak buahnya, tetapi ia tidak bisa memaafkan kesalahannya sendiri karena karena kebodohannya, dirinya kehilangan wanita itu.
Doflamingo tak ingin memeluk wanita itu. Ia memang menyadari bahwa wanita itu bukan wanitanya lagi. Wanita itu sudah terikat dengan pria lain dan itu menghancurkan hatinya.
...
Hancock duduk setengah melamun menatap pria yang sedang ayik membaca korannya.
"Membosankan sekali!" ucapnya tiba-tiba membuat Hancock tersadar dari lamunannya. "Hei, Hancock tak bisakah kau menghiburku?" tanyanya usil.
Tetapi wanita itu hanya diam, mengoyangkan borgol yang mengikat tangannya. "Bukankah kau memiliki banyak wanita yang mau bersamamu. Pergilah dan lepaskan ini,"
"Aku sudah bosan dengan mereka. Tetapi denganmu aku tidak bosan, fufufu" ucapnya menyeringai puas, berjalan mendekati wanita itu. Hancock masih diam menatap dengan malas. "Ayolah, sudah lama kita berpisah. Bukankah dulu kau selalu bercerita banyak kepadaku?"
"Itu dulu, sekarang ya sekarang," ucap Hancock ketus.
"Ini sudah malam, kau tak mau tidur?"
Hancock hanya mengangkat tangannya, "lepaskan ini dulu," ucapnya ketus.
"Kau tidur denganku, tenanglah di kamarku ada double bed, lagi pula selain anggota keluarga banyak yang tidak mengerti denganmu. Bukankah itu berbahaya klo kau melukai anak buahku yang tak bersalah? Jika kau selalu bersamaku, mreka akan tahu bahwa kau adalah orang terdekatku,"
Hancock hanya mengeleng, "terserah, kau memang dari dulu pandai berbicara." Ucap Hancock gemas.
...
Hancock menatap dengan gemas. Pria ini benar-benar menyebalkan. Doflamingo berkata bahwa dia memiliki double bed. Tetapi faktanya pria itu memiliki ranjang besar dan hanya satu.
"Aku akan menyuruh orang untuk mengambil kasur lagi. Tenanglah," ucapnya menenangkan.
Hancock hanya setuju dan duduk di salah satu sofa, sebenarnya ia ingin tidur dengan bayinya hanya saja sepertinya mustahil. Putranya sendiri menangis ketika ia hendak mengendonganya. Tetapi ketika digendong Doflamingo bayi itu terdiam.
Hanya dengan itu ia merasa kecewa. Bayinya menolak dirinya, ibunya. Hancock hanya mendesah berat lagi.
"Kenapa? Kau ada masalah,"
"Apa pedulimu?" ucap Hancock ketus, ia iri dengan Doflamingo. Junior lebih menyukai ayahnya dari pada dirinya.
Kasur sudah tersedia, baik Doflamingo dan Hancock mereka berdua sudah berganti pakaian dan siap untuk tidur dengan tangan masih terikat. "Ini menyebalkan, tak bisakah kau melepaskan ikatan ini! aku tidak nyaman dengan suaranya!" ucap Hancock ditengah-tengah frustasinya.
"Baiklah, kau dari tadi mengerutu saja." Doflamingo mengambil kunci dari sakunya dan melepakan borgolnya tetapi memasang borgol itu diranjang Hancock. "Berjaga-jaga agar kau tidak kabur,"
"Doffy! Kau membuatku gila! Bagaimana kalau aku ingin ke kamar mandi?" ucapnya gemas.
"Kau bisa membangunkanku. Tenanglah, aku hanya tidur sebentar. Bahkan susah untuk tidur, fufufu."
Kebiasaan Doflamingo yang menyebalkan, pria itu tidak bisa tidur dan selalu terbangun dengan mimpi buruk. Butuh waktu lama untuk membuat pria itu tidur. Tetapi bagaimana dengan pria ini sekarang.
Doflamingo berdiri dan pergi, kemudian ketika kembali pria itu membawa wine yang berada ditangannya. "Kau mau?"
Hancock menatapnya dengan pandangan menyedihkan, "Kau selalu meminum itu?"
Doflamingo menangguk yakin, "Yap,"
"Kau mau mati cepat, HAH? Siapa yang akan merawat junior kalau kau mati!" jerit Hancock frustasi.
"Oh kau peduli kepadaku, aku tersentuh sekali. Tetapi aku tidak bisa tidur, kau ingat?" ucap Doflamingo membuka tutup wine dan meminumnya.
"Terserah,"
...
Bahkan wine sekalipun tak mampu membuat Doflamingo tenang, Hancock tahu bahwa pria itu lagi-lagi bermimpi buruk, meminum winenya lagi dan mencoba untuk tidur. Berkali-kali ia melakukan itu, dan itu membuat Hancock tidak bisa tidur.
Hancock menyerah, jika dirinya ingin tidur. Dia harus membuat Doflamingo tidur.
Doflamingo terbangun dengan nafas terengah-egah, keringat membanjiri tubuhnya. "Mimpi buruk?"
"Kau terganggu? Aku minta maaf," ucapnya mengambil tissu dan mengelap wajahnya sendiri.
Hancock berdiri dari ranjangnya dan mendekati ranjang Doflamingo. "Kau mau sebuah pelukan? Pelukan pertemanan?" ucap Hancock menambahkan kata pertemanan adalah yang terbaik. Hei, mereka sudah pernah putus bukanlah baik kalau mereka bisa berteman.
"Aku setuju dan aku membutuhkan itu," ucap Doflamingo, memeluk wanita itu dengan erat.
"Kau masih sering bermimpi buruk lagi?"
"Entahlah, rasanya akhir-akhir ini mimpi itu datang lagi," ucap Doflamingo kacau.
Hancock mengulus punggung pria itu dengan lembut. Doflamingo memiliki tubuh yang besar seolah Hancock memiliki tubuh yang kecil jika disandingkan dengan pria ini.
Cukup lama Hancock memeluk Doflamingo, sampai pria itu tertidur pulas. Tetapi Doflamingo memeluknya sambil tertidur membuatnya tak bisa kembali keranjangnya. Mata birunya menatap wajah tirus yang sedang tertidur seolah dia bukanlah pria yang jahat.
"Kenapa kau kurus sekali sekarang? Apa karena kau tidak bisa tidur? Kau ini raja, kenapa seperti teraniaya seperti ini?" ucap Hancock menatap pria itu dan mengecup keningnya.
"Selamat malam Doflamingo,"
-To be Continued-
Thanks yang sudah mau membaca, fave, dan follow. Hehe, mengingat pair ini sangat langka.
Maaf untuk Update yang begitu lama, haha. Membuat pair Dofla x Hancock adalah kesenang pribadi untukku dan aku menyayangi pair ini.
Kuharap kalian mau mereview chapter ini. Thanks..
Constantinest
