.

.

.

Siapa yang punya pacar?

.

.

.

MISSION NUMBER : 1

AWAKEN MIKUO

Ah... Hari minggu yang indah, tenang nan cerah dan hal itu sangat disukai oleh tokoh utama kita Hatsune Mikuo yang masih berada didalam selimutnya yang hangat nan lembutnya itu, dengan nyamannya Mikuo memeluk bantal guling yang berukuran cukup besar itu ke dekapannya.

Benar-benar hari yang tenang, damai dan cerah. Dan tak ada alasan untuk tidak tidur di hari yang indah ini, namun sepertinya itu semua akan berakhir dalam hitungan detik. Karena...

"KUO-CHAN!" teriak seseorang dan membuka pintu kamar Mikuo dengan kasar, atau lebih tepatnya dibanting oleh seorang gadis bertubuh mungil.

"AAAAAAAAAAAAAA! RIN! KENAPA KAU MEMBANTING PINTU KAMARKU!" teriak Mikuo kaget setengah mati, dapat terlihat setitik air mata keluar dari ujung matanya karena kaget.

"ADA SESUATU YANG PENTING! KAU HARUS IKUT AKU!" teriak Rin sambil menyeret Mikuo keluar dari kasurnya dan selimutnya yang lembut nan hangat. Namun aksi seret-menyeret Rin terpaksa berhenti, karena Mikuo bertelanjang dada. Dengan muka memerah malu Rin segera memalingkan mukanya dan berjalan keluar kamar Mikuo.

Dan Mikuo yang masih bingung dengan hal itupun segera melanjutkan tidur indahnya yang tertunda, sampai sebuah suara membentaknya.

"MIKUO HATSUNE! SEGERA MANDI DAN BERPAKAIAN DALAM LIMA MENIT! KAMU HARUS MENEMANI RIN-CHAN! ATAU OKAA-SAN TAKKAN MEMBUATKAN MU SARAPAN DAN BENTO UNTUK SEBULAN!" bentak Okaa-sannya Mikuo, mendengar itu dengan satu gerakan Mikuo berdiri dari kasurnya yang hangat nan lembut itu dan segera mandi serta memamakai pakaian. Dan hebatnya semua itu dilakukan kurang lebih tiga menit.

Dengan tergesa-gesa Mikuo segera menuju asal suara ibunya itu, namun ternyata...

"Ahaha! Jadi Mikuo seperti itu disekolah?" tanya sebuah suara, suara Okaa-sannya Mikuo.

"Betul! Mikuo sering menjahiliku! Namun Miku-nee dan Teto-nee selalu membalasnya!" seru Rin semangat.

'Mereka berdua... sedang menggosipkan aku...' kata Mikuo dalam hati, rasa sebalpun mulai muncul. Dengan langkah berat Mikuo berjalan kebelakang Rin, "Rin... Okaa-san..." dari suaranya dapat terdengar kalau Mikuo sudah sangat sebal. Bukan hanya ia di suruh bangun pagi –yang sangat dibencinya- ia juga mendengar dua orang wanita yang menggosipkannya.

"Ah Mikuo-chan! Ayo ikut aku!" seakan tidak memperdulikan aura sebal yang Mikuo buat, Rin menyambar tangan Mikuo dan menariknya keluar rumah.

"Hati-hati dijalan!" seru Okaa-sannya Mikuo dari dalam rumah.

Sementara itu Mikuo hanya bisa terdiam, bingung mau bagaimana.

.

.

.

MISSION NUMBER : 2

FOLLOWING

"Jadi...Kenapa kita ada di mall?" tanya Mikuo sebal.

"Untuk memata-matai seseorang" jawab Rin cepat dan padat.

"... Apa? Memata-matai seseorang?" tanya Mikuo lagi tak percaya dengan apa yang ia dengar, namun Rin yang sedang membelakanginya itu hanya mengangguk-angguk saja. "Siapa?" namun Rin tidak menjawab, Rin justru sedang asik "memata-matai", karena penasaran Mikuo segera melihat apa yang Rin lihat.

"...Len dan Gumi?" tanya Mikuo bingung, "OI!Lemmmmpphh!" teriak Mikuo namun dengan cepat Rin membungkam mulut Mikuo.

"Stt! Jangan berisik! Kitakan sedang memata-matai!" tegur Rin. 'Kamu yang memata-matai mereka... Aku tidak'... pikir Mikuo, setelah beberapa saat Rin-pun membuka mulut Mikuo dan mulai memata-mati Len dan Gumi yang tengah asik meminum milk-shake.

"Sudah kuduga..." kata Rin misterius.

"?"

"MEREKA BERDUA PAC! UMMPH!"

"Jangan berisik bodoh! Katamu tadi ingin memata-matai mereka berdua, lalu kenapa kau sendiri yang berisik?" bisik Mikuo yang mulai ikut memata-matai mereka berdua, sementara itu Len dan Gumi celingukan mencari sumber suara yang berteriak tadi, namun mereka berdua hanya mengangkat bahu saja dan pergi.

"Ah! Len-chan dan Gumi-chan pergi! Ayo Kuo-chan! Ikuti mereka!" seru Rin semangat dan menggeret kerah leher Mikuo,

"T-Tunggu! Kenapa kau tidak ajak y-yang lain!? Misalnya Akasaka-san kek! Nee-san kek!" seru Mikuo mulai kehabisan nafas.

"IA-chan lagi ada urusan! Miku-nee juga!" seru Rin tak peduli dengan Mikuo yang mulai kehabisan nafasnya itu. "Ah! Itu mereka!" kata Rin sambil menunjuk Len dan Gumi yang sedang mengantri tiket bioskop. "Kira-kira apa yang mau mereka tonton ya?" tanya Rin.

"Tuh..." kata Mikuo sambil menunjuk sebuah poster dengan genre horor dan ada beberapa bintang yang menunjukkan kalau film horor itu berkualitas.

"... Heeeeee... film itukan sangat menakutkan... tapi demi Len-chan!" Kata Rin sambil membalikkan badannya dan menghadap Mikuo, "Demi Len-chan... Kuo-chan harus membelikan tiketnya!" seru Rin sambil menunjuk Mikuo yang terbengong.

"Ya... Eh? APA?! BELI SENDIRI!" seru Mikuo tak percaya dan secepat itu pula Rin mulai mengeluarkan air mata.

"Hiks... Kuo-chan jahat! Aku lupa bawa dompet!" seru Rin sambil 'menangis' dan suara Rin mengundang beberapa pengunjung untuk melihat aksi Rin yang 'menangis' itu dan dapat terlihat dari tatapan mata mereka berkata;

'Pacar macam apa itu?' 'Kasihan sekali gadis itu' 'Kenapa seorang lelaki membuat seorang gadis menangis?' 'Apa-apaan itu'

"Iya-iya bocah pendek! Kubelikan tiketnya!" seru Mikuo marah karena tak tahan dengan tatapan dari pengunjung lainnya itu.

"Oke! Jangan lupa beli pop corn!" Seru Rin semangat dan semua air mata yang ia teteskan tadi sudah tidak ada.

'Sial... seandainya dia tidak ikut klub drama' pikir Mikuo sebal.

.

.

.

MISSION NUMBER : 3

HORROR MOVIE! (Tidak direncanakan)

"Kyaaaaaaa!" teriak hampir seluruh pengunjung wanita yang ada didalam bioskop itu kecuali Gumi yang malah asik menonton dengan pop corn ukuran big miliknya itu, sementara Len sendiri sedah mau menangis dan pop cornnya sudah habis setengah. Bukan karena ia makan tapi karena berjatuhan.

Sementara kedua tokoh utama kita...

"Hueeeee, Kuo-chan pulang yuk?" ajak Rin mau menangis dan menarik-narik lengan baju Mikuo, namun sepertinya Mikuo malah keasikan menonton film itu.

"Heee? Tapi tadikan kau yang paksa" jawab Mikuo dengan nada mengejek dan memakan pop cornnya, tampaknya Mikuo menyukai raut muka Rin yang sangat ketakutan itu. 'Oh iya Kagamine twins kan lemah pada film horor, pasti Len juga sedang ketakutan nih' pikir Mikuo sambil terus melihat film dan sesekali melirik muka Rin yang ketakutan itu.

"Kyaa!" teriak pemeran wanita di film itu, dapat terlihat kalau sang wanita sedang di kejar oleh sesosok wanita lain, namun wanita itu punya rambut panjang yang menutupi mukanya dan tak punya kaki serta beberapa organ dalamnya berhamburan di jalan.

"AAAAAAAA! Kuo-chan..." isak Rin mulai menangis, namun Mikuo hanya menyeringai

"Maaf Rinny, aku tak mau dua ribu yen yang sudah ku keluarkan habis percuma, Cuma gara-gara kamu menangis~" jawab Mikuo dengan senyum serigalanya, yang membuat Rin makin ketakutan dan menangis makin keras.

Dan tiba-tiba sosok wanita yang mengejar sang tokoh utama menghilang, dan membuat tokoh utama menjadi sedikit lega, sampai ia menemukan organ dalam yang bernama usus sudah mengikatnya. Dan sebuah tangan menembus dada sang tokoh utama.

"KYAAAAAAAA!" dan dapat terdengar suara teriakan para pengunjung, Len serta Rin. Sementara Mikuo sendiri tampak sedang asik mengabadikan wajah Rin yang ketakutan itu, yah untuk memblack mailingnya.

.

.

.

MISSION NUMBER : 4

TIMEZONE!

"...F-fil-m i-itu... ser-ru... y-ya-ah?" kata Rin terbata-terbata sambil keluar dari dalam bioskop dengan kaki yang bergetar hebat, tidak. Bukan hanya kaki namun seluruh tubuh Rin bergetar dengan hebat. Karenanya, sementara itu Mikuo sendiri justru asik melihat foto-foto yang ia ambil di dalam bioskop, sambil sesekali tertawa kecil melihat raut muka Rin yang ketakutan itu. "Apa yang k-kau lihat Kuo-chan?" tanya Rin penasaran.

"R-A-H-A-S-I-A~" jawab Mikuo ceria,

"Mencurigakan" jawab Rin dan menatap Mikuo dengan pandangan : kau menyembunyikan apa? Namun Mikuo hanya tersenyum-senyum sendiri. "Yah, pokoknya ayo kita lanjutkan memata-matai Len-chan dan Gumi-chan!" seru Rin semangat. Sementara Mikuo masih tersenyum mengingat raut muka Rin di dalam bioskop tadi.

"Hei Kuo-chan! Jangan senyam-senyum! Len-chan dan Gumi-chan kesana!" seru Rin sambil menarik lengan baju Mikuo.

"Iya-iya, ayo kita ikuti" kata Mikuo santai. Sambil mengikuti Len dan Gumi menuju Timezone. Dapat terlihat kalau mereka berdua sedang membeli koin, begitu pula Mikuo dan Rin.

Namun...

Sepertinya kedua tokoh utama kita justru asik sendiri dan tidak memperhatikan target mereka yang sudah selesai, dapat terlihat kalau Len dan Gumi keluar dari Timezone dengan sebuah boneka kelinci besar yang tengah memakan wortel, makanan kesukaan Gumi.

"Ehhhh? Gawat! Kuo-chan! Len-chan dan Gumi-chan sudah pergi!" seru Rin panik.

"Ya-ya itu Cuma alasanmu karena tak ingin memainkan game ini lagi" jawab Mikuo tak peduli sambil terus melempar bola basket kedalam ring basket. Karena kesal dan tak mau kalah, Rinpun memulai lagi permainan yang telah menyita waktu mereka dari melihat kencannya Len dan Gumi.

.

.

.

MISSION NUMBER : 5

SEARCH!

"Tuhkan! Sudah kubilang apa?! Len-chan dan Gumi-chan sudah pergi!" seru Rin pada Mikuo yang menenteng sebuah boneka teddy bear besar bewarna jingga,

"Iya-iya aku minta maaf, yah karena kita tak tahu kemana Len dan Gumi, sebaiknya kita jalan-jalan, bukannya sayang? Kita... ralat aku membawa mu ke sini dengan taksi yang lumayan mahal dan tidak mendapat apapun" kata Mikuo.

"Tapi Kuo-chan kan menang sebuah boneka kenapa kita harus jalan-jalan?" tanya Rin polos yang membuat pipi merona sedikit,

'Ukh! Jangan beri aku tatapan polosmu itu!' pikir Mikuo

"Y-yah maksudku kau kasihan sekali! Sudah berjalan jauh dan tak dapat apa-apa! Kasihan!" seru Mikuo sambil menunjuk Rin.

"Apa?! Ya sudah! Ayo! Kita belanja!" seru Rin sebal, "Dan tentunya kamu yang bayar!" seru Rin lagi.

"Oh ya? Kau pikir kau yang membawa dompet ku?" tanya Mikuo, namun seketika muka Mikuo memutih ketika melihat sebuak kotak berwarna hitam, atau dompet Mikuo ada di tangan Rin. Dan Rin menjulurkan lidahnya. 'SIAAAAAL!' teriak Mikuo dalam hati.

.

.

MISSION NUMBER : 5.5

SHOPPING!

"Kuo-chan! Ayo ke cafe itu! Aku lapar! Tenang saja aku yang bayar!" seru Rin ceria, dan dibalas death glare oleh Mikuo, namun sepertinya Rin tidak memperdulikannya.

"Kau yang bayar pakai uang ku bocah!" seru Mikuo kesal, dan hanya dibalas tawa oleh Rin.

.

"Kuo-chan! Ayo kita ke toko boneka itu!" Seru Rin sambil menunjuk sebuah toko yang etalasenya terjejer puluhan boneka berbagai bentuk.

"Hah? Boneka? Bukannya kau sudah punya banyak?" tanya Mikuo sedikit sebal.

"Tapi aku belum punya boneka teddy!"

"Nih!" seru Mikuo gemas, boneka teddy besar bewarna jingganya itu ia berikan pada Rin. Rin yang bingung hany menerimanya saja. Sementara itu telinga Mikuo yang tajam dapat mendengar bisikan beberapa orang yang melihat aksi Mikuo memberikan boneka teddynya itu pada Rin.

'Wah... Pasangan yang imut!' 'Aku iri...' 'Sayang, bisakah kau seperti laki-laki itu?' 'Mereka jadian ya?' 'Beruntung sekali gadis itu!'

Mendengar pujian atau kutukan itu semua, entah kenapa Mikuo merasa kalau ada ribuan kupu-kupu yang bertebaran di sekitar hatinya. Namun...

"Horeee! Makasih Kuo-chan! Aku memang mau boneka ini! Tapi aku tak enak memintanya langsung!" jawab Rin polos, yang amat sangat polos bagi Mikuo dan itu membuat Mikuo kesal, 'Kenapa aku bisa tertipu?!' teriak Mikuo dalam hati.

.

.

.

MISSION NUMBER : 6

HOME

Setelah dua jam berputar-putar, akhirnya Mikuo dan Rin memutuskan untuk pulang. Lagipula sekarang juga sudah pukul empat kurang.

Rin yang asik memeluk boneka teddynya yang baru serta Mikuo yang sedang asik mendengarkan lagu melalui earphonenya terus berjalan menuju pintu keluar namun... tanpa sengaja mereka Rin menabrak seseorang.

"Aduh!"

"Kyaa!"

"Gomen!" seru dua wanita yang saling bertabrakan itu, "Eh?"
"Gumi-chan!/Rinrin!" seru mereka berdua kaget dan salling menunjuk satu sama lain.

"Nee-chan? Kenapa kau ada disini?" tanya Len yang kaget melihat Nee-chan yang memeluk sebuah boneka teddy yang hampir sebesar tubuhnya, "Dan... Mikuo-san juga?" tanya Len tak percaya dengan apa yang ia lihat. Biasanya Len selalu melihat Rin dan Mikuo bertengkar, bertengkar, cakar-cakaran, bertengkar, saling menarik rambut, bertengkar dan bertengkar. Tumben sekali mereka sedang akrab.

"Jangan salah sangka Len, aku hanya menemani bocah ini me- umph!" belum selesai Mikuo berbicara Rin sudah membungkamnya dengan memasukkan tangan teddy kedalam mulut Mikuo dan memberi tatapan yang berarti: 'Kau bilang = mati'

"Me? Tunggu dulu... Nee-chan?! Kau memata-matai kencan ku dengan Gumi?!" teriak Len tak percaya pada hal yang dilakukan Rin, 'Kalau begitu... apa Nee-chan dan Mikuo melihatku dan Gumi bercium... gah! Mengatakannya saja sudah memalukan!' pikir Len frustasi. "Kalian memata-matai kami dari tadi?!" seru Len menginterograsi Rin dan Mikuo,

"Ya dan tidak..." Jawab Rin pendek.

"Maksudnya?"

"Tadi ketika kalian berdua ada di timezone, kami keasikan main jadi kami tak bisa mengikuti kalian" jawab Rin jujur. Mendengar itu, baik Gumi dan Len menjadi lega.

"Memangnya ada sesuatu yang terjadi ya?" tanya Rin selidik, mendengar itu. Baik Gumi dan Len hanya bisa merona semerah tomat. "Benarkan?! Ayo! Katakan!" seru Rin semangat, melupakan Mikuo yang mulutnya masih tersumpal tangan boneka teddy Rin.

'Menyebalkan' pikir Mikuo.

.

.

.

LAST MISSION!

"Mikuo-chan!" seru Rin dari luar rumah Mikuo malam harinya,

"Oh! Rin-chan! Sudah malam kenapa kau kesini?" tanya Okaa-sannya Mikuo.

"Aku ingin memberi ini pada Mikuo! Sebagai tanda terima kasih! Dan Obaa-san tak perlu khawatir! Aku memasaknya bersama Okaa-san!" seru Rin semangat, dan bahagia. Mungkin makanan ini takkan 'beracun' jika ia memasaknya bersama Okaa-sannya.

"Hm... kalau kau memasaknya dengan Kagamine-san, pasti akan baik-baik saja" kata Okaa-sannya Mikuo.

"Ung! Sampai jumpa!" seru Rin sambil berlari pulang kerumahnya dan melambaikan tangannya.

.

"Rin memasaknya dengan Obaa-san kan?" tanya Mikuo memastikan. Dan Okaa-sannya mengangguk. Memanga makanan yang mereka buat sepertinya cukup normal dan enak untuk dimakan.

Dengan sedikit khawatir Mikuopun memakanannya, namun...

"Hm...? Ini enak" kata Mikuo pelan dan mulai mengambil sesendok lagi dan memasukkannya kedalam mulutnya.

'Sepertinya jalan-jalan (kencan) dengan Rin hari ini tidak terlalu jelek juga' pikir Mikuo bahagia.

"Okaa-chan! Aku lapar! Eh? Ne nee Mikuo kau makan apa?" tanya Miku penasaran sesaat setelah ia sampai di dapur untuk meminta jatah makanannya.

"Innui duarri Ruinnn (Ini dari Rin)" kata Mikuo sambil memakan nasi kare yang ternyata enak itu.

"Rin-chan?! Aku juga MAU!" seru Miku dan berusaha memakannya sesuap sajalah, namun Mikuo dengan reflek menangkis tangan Miku yang hampir menyentuh makanannya itu, "BERIKAN!" geram Miku.

Dan Mikuo hanya menggelengkan kepalanya saja, dan itu membuat Miku marah.

"MIKUO!"

"HATSUNE MIKU! Jangan berisik!" seru Okaa-sannya dan langsung membuat Miku terdiam dan harus menunggu makan malamnya, sementara tanpa sepengetahuan Miku, Mikuo menjulurkan lidahnya.

Pertanda kalau Mikuolah yang memenangkan 'perang' itu.

.

.

.

A/n : maaf membuat para reader menunggu! Jangan lupa review dan rate!

Kalian lihat kotak dibawah?

Bagus,

Tekan

Dan

Beri

Review.