The Shadow
Title: The Shadow
Author: Shin Hwa Chan
Disclaimer: Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki but this fanfic actually mine. Don't plagiat my fanfic, or you would know the consequences.
Warnings: OOC, Typo, bad story, super duper abal/?, AU!,
Main cast: Kise Ryouta, Kuroko Tetsuya, Aomine Daiki, Kagami Taiga
The Shadow
Teikou Gakuen?
" ...Momoicchi.."
"SEKOLAH MACAM APA INI?!"
Gadis bersurai pink itu hanya menjulurkan lidahnya dan berkedip lucu ke arah pemuda bersurai madu –tanpa merasa berdosa sama sekali yang tampak kaget akan sekolah yang dipilihkan Momoi yang ternyata...
ASRAMA KHUSUS PRIA?!
Saat di panti saja dia sama sekali tak bisa bersosialisasi dengan baik, apalagi ini? Di masukan asrama khusus pria –yang sepertinya terlihat menakutkan di mata Kise, itu juga berarti Momoi tak bisa menemaninya lagi! Coba saja dia mencermati lagi brosur yang dibawa Momoi dan kenapa waktu tes masuk dia tak membaca papan nama sekolah itu? Baka Kise! Dia sudah di terima di sekolah yang menjadi sekolah khusus pria terbaik di daerah Tokyo, tak hanya prestasi akademik, prestasi non-akademiknya juga sangat membanggakan sehingga mengharumkan nama sekolah 'Teikou Gakuen' itu.
Jadi...
Tak mungkin ia dapat pindah sekolah dari sini...
"Momoicchi, kau tega membiarkanku sendirian di asrama yang menakutkan ini..?"
'Ctak!'
Momoi menyentil dahi Kise keras, dan itu sukses membuat pemilik nama Kise Ryouta itu merintih sakit.
" Momoicchi~!"
"Aku kan bisa berubah menjadi kelinci baka!"
"Tapi mana boleh aku membawa kelinci masuk ke dalam kamarku ssu!"
"Kau kan bisa menyelundupkanku di ranselmu Kii-chan..!"
Kise menghela nafas panjang, ia menatap Momoi khawatir, bagaimana pun Momoi adalah seorang wanita dan coba bayangkan, seorang wanita cantik berdada tak bisa dikatakan 'kecil' –besar tinggal di asrama khusus lelaki? Tidak bisa! Tidak bisa! Terlalu beresiko!.
"Momoicchi! Kau seorang wanita ssu!"
"Sudah jangan khawatirkan aku, aku bisa menjaga diriku Kii-chan!"
Dan setelah mengatakan hal itu, gadis cantik bersurai pink itu berubah menjadi kelinci manis berwarna putih, dengan cepat dia menyelinap masuk kedalam ransel biru Kise.
"Momoicchi.., kau benar-benar keras kepala.."
"Kyung!"
"Hoy kau bocah ikemen!"
'Twitch..!'
Sebuah perempatan muncul di pelipis Kise. Oh tuhan, siapa orang yang berani mengatakan dirinya ikemen? Dasar tidak sopan!
"Ikemen janai!"
"Cih, terserah katamu tapi sekarang siswa baru harus berkumpul di aula!"
"Kau juga siswa baru ssu?"
"Tentu saja baka! Teman-temanku meninggalkanku sendirian di sini! Jangan banyak bertanya!"
Pemuda berkulit tan itu menarik tangan Kise dengan keras. Apa-apaan ini?! Kenapa pemuda ini sangat –amat tidak sopan padanya? Ini pertemuan pertama mereka dan dia langsung menarik-narik tangannya seperti ini? Sungguh tidak tau malu!
"Hey lepaskan aku pemuda hitam!"
"... Kau tau kenapa aku menarikmu?"
"Tentu saja tidak ssu"
Wajah pemuda itu memerah, sesekali dia mengalihkan pandangannya dari pemuda manis bermata madu yang tengah menatapnya bingung.
"... Aku tak tau di mana aula sekolah ini.."
"Bwahahahahaha!"
Kise tertawa terbahak-bahak, ia memegangi perutnya yang sakit –karena sangking terbahak-bahaknya Pemuda bersurai biru tua itu menatap Kise dengan pandangan kesal, namun itu tak membuat rasa malunya berkurang.
" Urrusai baka!"
"Gomene...! Haha..kalau mau bertanya seharusnya kau tak usah menarikku ssu!"
"Cih, urrusai! Cepat beritahu aku di mana tempatnya!"
"Etto..aku juga tidak tau ssu."
Kise menjawabnya dengan ekspresi polos, pemuda 'Ao' itu semakin kesal pada pemuda yang selalu menggunakan suffix 'ssu' disetiap kalimatnya itu.
"Kalau begitu bilang dari tadi baka!"
"Kau sendiri baru memberitahuku sekarang ssu!"
"Oh ya siapa namamu ssu?"
"Aomine, Aomine Daiki."
Setelah mengatakan hal itu, Aomine berjalan meninggalkan Kise sendirian, namun Kise langsung menarik tangan Aomine, matanya menatap mata Aomine dengan pandangan memelas.
"Daripada mencarinya sendirian, lebih baik kita mencarinya bersama ssu!"
"Terserah saja."
"Sepertinya itu aulanya ssu!"
"Hah, syukurlah kita belum terlambat.."
"Baiklah, sampai jumpa bocah ikemen!"
"Ikemen jana–hey kau mau kemana ssu!"
"Mencari teman-temanku, kenapa?"
"... Tidak jadi ssu, hehehe."
Kise melambaikan tangannya pada Aomine sambil tersenyum kecil, setelah ia rasa Aomine benar-benar sudah pergi, ia menundukkan wajahnya sedih, ia kira setelah bertemu Aomine dia bisa berteman dengannya, namun dia salah, Aomine malah meninggalkannya sendirian di tengah kerumunan seperti ini.
Tak ada peluang untuk mendapat teman.
Setelah 2 jam, akhirnya Kise dapat bebas dari pak tua –kepala sekolah yang menyebalkan itu, oh ayolah! Siapa yang tidak bosan jika di ceramahi tentang sejarah sekolah ini secara panjang kali lebar! Semua orang di jepang pasti sudah tau kalau sekolah ini merupakan sekolah khusus lelaki terbaik di tokyo!
"Kise Ryouta..Kise Ryouta..Kise–ah ini dia ssu! Kamar 310!"
"Hah..,berarti kamarku berada di lantai 3 ssu..,"
Kise menenteng ranselnya dan bergegas pergi menuju ke kamarnya. Dia sangat lelah hari ini, belum lagi luka yang ia dapat 2 hari yang lalu masih belum sembuh betul.
'Wah..! Lihat gedung besar itu! Apa itu asramanya? Besar sekali ssu!'
Kise berdecak kagum menatap bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya ini, kalau di lihat dari bentuknya, gedung ini mungkin mempunyai 5 lantai yang cukup untuk dihuni lebih dari 500 siswa.
'Bahkan, gedung memakai lift ssu! Bukan tangga! Keren!'
Setelah sampai di lantai tiga, ia segera mencari kamar 310. Kise sangat berharap teman sekamarnya akan menerimanya dengan baik. Dan ini dia, kamar 310. Dengan pelan, Kise mengetuk pintu kamar itu, saat terdengar suara pintu di buka, dengan gugup dia menundukkan kepalanya,
"Salam kenal ssu! Namaku Kise Ryouta, senang bertemu denganmu!"
"Heh... bocah ikemen?"
' Lelaki ini..'
"Eh? Kau lelaki ganguro yang buta arah itu kan? Kalau tak salah namamu A..A..Ahomine?"
"Ganguro janai! Ahomine janai! Namaku Aomine baka!"
"Kenapa kau di sini ssu?"
"Justru aku yang harusnya bertanya begitu! Apa yang kau lakukan sampai ada di depan kamarku?!"
"Ini kamarku ssu! Lihat! Kise Ryouta dan–eh? Aomine Daiki?!"
Kise duduk dengan wajah tertekuk, mata madunya menatap malas pemuda tan yang sedang membuatkannya teh sebagai ucapan selamat datang, kira-kira apa yang harus aku lakukan sekarang Momoicchi...? Eh? Momoicchi!. Dengan cepat Kise membuka ransel biru lautnya dan bisa dilihat, seekor kelinci putih tengah pingsan dengan bintang di sekeliling kepalanya, matanya berputar-putar dan akhirnya berbentuk huruf X.
"Momoicchi!"
Kise mengangkat kelinci itu lalu ia kibas-kibaskan tangannya agar kelinci putih itu bisa merasakan sejuknya udara diluar, Kise merasa sedikit bersalah menaruh Momoi di dalam ranselnya yang penuh sesak dengan buku-bukunya yang ia bawa dari panti.
"Ini, kubuatkan teh untuk–Hah! Apa itu?!"
"Hiks...Momoicchi bertahanlah ssu! Jangan mati ssu! Jangan tinggalkan aku sendirian ssu!"
"Kyu..ung~"
Itu isyarat dari Momoi yang artinya 'Dai..joubu~', Aomine hanya sweatdrop melihat kelakuan teman sekamarnya yang kelewat aneh.
"Oy, kenapa kau membawa kelinci kesini?"
"Aominecchi~"
Kise menatap Aomine dengan mata puppy eyes, Aomine hanya memalingkan wajahnya dari tatapan 'mematikan' milik seorang Kise Ryouta yang mempunyai kadar keimutan lebih dari rata-rata.
"Biarkan aku memeliharanya di sini ssu! Tenang dia tak akan menggangumu!"
"Apa-apaan itu! Namaku Aomine, bukan Aominecchi! Lalu, bagaimana jika kelinci mu ini buang air sembarangan? Aku ogah membersihkannya!"
"Kyung~!"
Momoi dengan kesal menggigit kaki Aomine, baiklah ia sebenarnya manusia, terlebih lagi dia adalah seorang putri kerajaan genesis, jadi mana mungkin dia akan buang air sembarangan! Itu namanya Aomine menginjak harga dirinya sebagai seorang kelinci bermatabat/?.
"Ahh!–sakit tau! Kenapa dia menggigitku?"
"Etto.., sepertinya dia tak terima dikatai kelinci yang suka buang air sembarangan.."
"Grrr... baka usagi!"
"Kyung!"
"Oh ayolah kalian berdua.."
"Jadi bagaimana? Kau memperbolehkannya ssu?"
"Cih, kalau kelinci itu tak merepotkanku tak masalah!"
"Kau bilang namamu Kise Ryouta?"
"Hm! Nande?"
"Iie, sepertinya aku pernah mendengarnya tapi aku lupa dimana."
"Hahaha, mungkin saat tes masuk ssu! Saat itu, lembaranku tertukar dengan seseorang makanya aku di panggil ke ruang panitia dengan menggunakan speaker!"
"Mungkin."
Aomine menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya, bentuk tempat tidur mereka seperti tempat tidur di asrama-asrama biasa. Tempat tidur tingkat yang mempunyai dua kasur, di atas dan di bawah. Kise yang melihat Aomine tidur di kasur bawah hanya bisa merengut kesal, dia lebih suka tidur di bawah daripada di atas! –Aomine menolak tidur di atas dengan alasan bahwa dia takut kalau tempat tidurnya tak bisa menahan berat badannya yang mencapai 82 kg– maka mau tak mau Kise harus mengalah untuk tidur di atas.
"Momoicchi, kau tak apa tinggal di sini?"
'Daijoubu Kii-chan! Hanya aku tak suka dengan teman sekamarmu yang menyebalkan itu!'
"Hahaha.., kau mau makan sesuatu? Aku bawa beberapa snack!"
'Sekarang aku menjadi kelinci, beri saja aku wortel!'
"Walau sebenarnya kau manusia, kau masih mau saja memakan wortel!"
'Aku suka buah dan sayur, itu bagus untuk kesehatan! Lagipula aku juga dalam program diet!'
"Ha'i Ha'i, itadakimasu Momoicchi!"
"Kyung!"
"Oy Kise."
"..."
"Kise!"
Karena kesal panggilannya tak dijawab, Aomine akhirnya naik ke kasur Kise, ternyata pemuda bersurai madu itu tertidur dengan Momoi yang tidur di sebelahnya. Mulanya Aomine ingin membangunkan Kise karena sebentar lagi waktunya makan malam, namun melihat wajah polos Kise saat tidur, ia jadi tak tega membangunkannya.
'Bangunkan atau tidak ya?'
'Iya.'
'Tidak.'
'Iya.'
'Tid–'
"Hoamm!–Eh? Aominecchi sedang apa disini ssu?"
"HUAA!"
Dengan tidak elitenya, Aomine jatuh dengan posisi yang tidak elite –jatuh dengan posisi terlentang dengan mata yang berputar-putar– Kise menatap polos Aomine, ia turun dan membantu Aomine berdiri.
"Daijoubu?"
"Ittai..."
Aomine meringis kesakitan, tangan kirinya ia gunakan untuk memegang kepalanya yang sepertinya benjol. Kise menepuk-nepuk kepala Aomine,
"Yosh, 1..2..3! Sakit pergilah~!"
Kise memegang kepala Aomine dan mulai mengeluarkan 'kekuatan spesial'nya, cahaya kuning menyelimuti tangan Kise dan dalam sekejab, rasa sakit di kepala Aomine langsung hilang tanpa bekas. Aomine membulatkan matanya tidak percaya, bagaimana bisa rasa sakitnya hilang begitu saja?
"Pusing...ssu~"
Kise jatuh terduduk dengan mata berbentuk X, sama sepeti Momoi tadi. Aomine langsung menatap Kise dengan pandangan yang sulit di artikan.
Mungkinkah...?
"Kau–bagaimana bisa melakukannya..?"
"Kata ibu kepala panti, jika mengucapkan kata ajaib seperti itu rasa sakitnya akan langsung hilang ssu!"
"Lalu kenapa kau yang jadi pusing?"
"Jika aku langsung bangun tanpa duduk selama 5 detik, kepala akan langsung pusing ssu~!"
"Sou.., sudah cepat sana mandi! Sebentar lagi makan malam!"
"Ha'i!"
Kise melesat mengambil bajunya yang sudah ditata rapi oleh pemilik asrama jauh-jauh hari sebelum ia datang di sini, lalu segera pergi ke kamar mandi. Setelah Kise pergi, Aomine duduk di sofa sambil memakan maibou yang ia dapat dari temannya. Dan ya,
Sepertinya Kise melupakan handuk dan sabunnya. Kedua benda itu tergeletak manis di meja kecil dekat dengan TV.
"Kise, kau melupakan handuk dan sabunmu..!"
"..."
"Kise!"
"..."
"Kalau kau tak membukakan pintumu maka aku yang akan masuk!"
"..."
"Baiklah..! Kalau itu maumu!"
1..
2..
3..
"Ki–"
Mata Aomine membulat tak percaya, pupilnya mengecil seolah-olah ia ingin memastikan apakah benar apa yang ia lihat sekarang.
Tubuh Kise penuh dengan luka sayat.
Tak hanya di punggung,
Lengan, perut dan dadanya memperlihatkan luka sayat yang sepertimu belum sembuh benar.
" sedang apa di sini ssu!"
"Kenapa tubuhmu...?"
"Ah, itu ceritanya panjang! Yang lebih penting kenapa kau ke sini ssu?"
"Handuk dan sabunmu tertinggal.."
"Ah, arigatou ssu!"
Dan akhirnya Aomine sadar, ia tak boleh ada di sini terus.
" Gomene..."
"Mm..! Aku yang harusnya bilang maaf, maaf sudah merepotkanmu Aominecchi!"
Lalu Aomine melesat pergi keluar dari kamar mandi itu, meninggalkan Kise yang bersenandung ria membilas rambut pirangnya dengan air shower.
Saat Aomine melihat luka sayat itu, matanya tak mungkin salah, itu luka goresan pedang.
Di zaman modern seperti ini mana mungkin ada orang yang berkelahi menggunakan pedang kecuali...
Seorang anggota genesis.
Tunggu...
Siapa namanya tadi..
Kise Ryouta?
Kise Ryouta..
Kise Ryou–
Ah!
"Apa dia Kise Ryouta, healer yang dibicarakan Riko kemarin...?"
Hanya suara gemericik air yang menjawabnya, pokoknya setelah Kise keluar, ia akan langsung menanyainya dengan seribu pertanyaan.
"Huwaaa~! Segarnya ssu!"
"Eh?"
"Aominecchi kenapa berdiri di situ ssu?"
Aomine menghampiri Kise, matanya menatap iris madu Kise yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kau..."
"Salah satu anggota genesis..?"
"Eh?"
Skakmat
"Apa kau seorang healer?"
TBC
Fuwah~!
Setelah lama akhirnya selesai juga chap ini/?
Maaf kalau Aomine ama Kisenya OOC T^T
Maaf juga kalau misalnya agak ancur/? Buatnya ngebut sih hehehe
Makasih banget buat yang udah nge review, nge fav, nge follow hiks.. Arigatou gozaimasu! *bows*
Aku kira gak bakal ada yang nge ripiuw T^T
RnR please :9 Arigachuu~
