Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Sabaku No Naruto © Back-Total yaoi addict

Rate : M

Genre: Romance, Hurt/Comfort.

Pairing : Gaara x Naruto.

Spoiler Warning : Semi-Canon, Yaoi, MaleXMale, BL, Lemon, M-PREG. Don't like Don't read!

NB: Pertama-tama Back ingin berterima kasih kepada seluruh pihak yang sudah menyempatkan dirinya untuk sekedar membaca atau mereview apalagi nge-Fav fic 'Sabaku no Gaara' ini. Tapi maaf karena Back tidak bisa menyebutkannya satu persatu seperti chapter kemarin. Parahnya lagi Back tidak membalas review para reader sekalian. Back lagi UAS sekarang, jadi buru-buru nulisnya! Huff.. Gomen.. Gomen.. Gomen nee.. TT_TT..

Oke, sebelum para reader makin eneg dengerin celotehan-celotehan Back. Ada baiknya kita langsung aja baca chapter 3 ini.. Semoga kali ini tidak mengecewakan kalian ya.. ^_^ Oh iya, sampai lupa. Karena chap ini tidak Back baca ulang setelah membutanya, mungkin akan banyak typo.. So, maklumin okeh.. Hehee..

.

.

.

Please Enjoy It!

.

.

.

SABAKU NO NARUTO

.

.

.

Chapter 3!

"HUUWAAAA.. Bagaimana ini? Kimononya robek..!"

Sekejap paras pemuda pirang yang sedari tadi panik tidak karuan, mendadak pucat pasi. Bagaimana tidak! Pasalnya, kimono yang seharusnya menjadi pakaian sakral saksi agung peristiwa sekali seumur hidupnya ini, akibat kecerobohannya sendiri telah rusak dengan tidak etisnya. Robekan vertikal yang tidak tanggung-tanggung. Kimono bagian belakang yang dengan sukses kini terbuka mencapai pangkal pahanya. Hingga kaki jenjang dan paha mulus terekspose dengan liarnya. Memang! Biar bagaimana pun, penampilan yang kini sempurna layaknya miko tidak menepis fakta bahwa si pirang tetap seorang 'pemuda kuat' aka 'Naruto si bocah no.1' aka 'Jinchuriki siluman rubah ekor-9'. Karena, hanya dengan sekali hentakan ringan mampu merobek sebuah kimono yang terdiri dari beberapa lapisan.

Apa jadinya jika seorang Sabaku no Gaara tau? Oke, memang keputusan menggunakan kimono dia ambil sendiri tanpa berdiskusi dengan sang pujaan hati. Tidak ada alasan lain, dia hanya ingin sekali ini saja berubah demi sang kekasih yang beberapa saat lagi akan menjadi pasangan seumur hidup baginya.

Mulanya, bukan masalah besar bagi pemuda pirang untuk keluar dengan pakaian yang kini berubah vulgar. Toh, dia pemuda yang tidak takut apapun. Kalau hanya hal sepele seperti ini, tidak akan membuatnya gentar. Tetapi, bila mengingat kejadian-kejadian lalu ketika bersama dengan Gaara..

'Ugh.. Ini akan jadi masalah!', batin pemuda pirang mencelos.

Satu fakta yang baru-baru ini pemuda pirang pahami. Bahwa Gaara itu seseorang yang sangat protektif dan posesif. Sudah pasti Gaara akan marah besar, jika dia keluar dengan pakaian yang seronok.

Pikiran pemuda pirang pun mengalir kemasa lalu yang membenarkan segala argumennya..

Misalnya disaat dirinya berlatih dengan Yamato-sensei. Ingat, Hanya dirinya dan Yamato-sensei. Secara tiba-tiba pemuda dengan status 'Kazekage' datang ketempat pemuda pirang berlatih. Begitu dia bertanya alasan si pemuda Sabaku hadir disana. Jawaban singkat dan datar lah yang terucap dari bibir sang 'Kazekage'..

"Tidak ada. Hanya tidak suka melihatmu berdua saja dengan lelaki lain."

Oh kami-sama, lihatlah mahluk ciptaanmu itu. Kemana perginya, otak jeniusnya! Secepat kilat pemuda Sabaku menyelesaikan semua tugas 'Kazekage'nya dan secepat kilat pula dia hijrah ke Konoha, hanya demi memastikan si pirang manis miliknya baik-baik saja tanpa terjamah sedikitpun oleh orang lain. Oke, Gaara. Cukup sudah menuduh Yamato-sensei yang bukan-bukan, karena sebenarnya dia adalah orang baik.

Berlanjut pada kejadian lain, disaat dirinya menjalankan misi level S. Tepatnya, disaat dia dan beberapa teman setim-nya beristirahat di tepi sungai. Dan asal kalian tau! Lagi-lagi si pemuda dengan kanji 'Ai' dikening, hadir di tempatnya menjalankan misi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Terbesit banyak sekali pertanyaan yang ingin pemuda pirang katakan pada kekasihnya itu. Mengenai apa gerangan yang telah membuat seorang 'Kazekage' sepertinya bergabung dalam misi desa lain.

"Gaara! Ada apa? Kenapa kesini!". Sebuah pertanyaan mengalir dengan lancar dari mulut Naruto ketika akhirnya sadar dari lamunanya sesaat.

"Tim penolong. Desa Suna, menawarkan pertolongan kepada tim 7 dalam misi level S ini." Sebuah jawaban dengan resonansi datar keluar dari mulut pemuda Sabaku.

"Kalau hanya tim penolong, kenapa harus 'Kazekage' yang turun tangan? Apalagi sendirian!", sergah pemuda pirang lagi. Biar otaknya dibawah rata-rata, tetap saja si pirang manis menemukan kejanggalan dari tindak tanduk kekasihnya itu. "Nonsense, Gaara! Sebaik apapun hubungan kerjasama antar desa, tidak mungkin desa tersebut dengan rela mengorbankan 'Pemimpin Desa'nya demi misi desa lain", hardik pemuda pirang. Tajam.

"Apanya yang nonsense? Semua keinginanku adalah mutlak, Naruto." Sebuah seringai terpatri di wajah pemuda Sabaku. Seandainya seringaian mampu membunuh orang lain, maka tak akan terelakkan jika banyak berserakan tubuh tanpa nyawa di sekitar sini.

Yah, pemuda macam itulah Gaara. Perasaan sayangnya pada pemuda pirang mampu membuatnya melakukan hal yang mustahil sekalipun. Dan ternyata benar juga firasat Naruto. Pemuda Sabaku mulai bertingkah lain. Dimana pemuda pirang berada, disitu pula pemuda Sabaku berada. Selalu berada ditengah-tengah. Hingga pemilik bola mata sapphire tidak pernah berkontak fisik sekecil apapun dengan teman setim-nya. Oke, untung saja kerabat-kerabat dekat Naruto memaklumi tingkah kekasihnya itu. Kalu tidak, bisa-bisa terjadi perang. Karena, memang tingkah Gaara saat itu seolah-olah mengajak bertengkar semua orang.

Masih banyak lagi bukti-bukti keposesifan pemuda Sabaku, yang tidak akan pernah habis bila dijabarkan dengan rinci.

Seperti, Naruto tidak boleh membuka kakinya lebar-lebar saat duduk di hadapan orang lain kecuali dihadapan Gaara, Naruto tidak boleh meminum minuman dari gelas yang sama dengan orang lain kecuali dengan Gaara, Naruto tidak boleh tertidur dihadapan orang lain kecuali dihadapan Gaara, Naruto tidak boleh melepas jaketnya saat misi didepan orang lain kecuali didepan Gaara, Naruto tidak boleh memakai baju yang tipis kecuali saat bersama Gaara, Naruto tidak boleh mandi di pemandian air panas dengan orang lain selain dengan Gaara. Sungguh terlalu.. #Plakk

Masih ada beribu-ribu kalimat yang menyatakan larangan-yang berakhir dengan kalimat-Kecuali dengan Gaara, kecuali dihadapan Gaara, atau kecuali selain Gaara. Oh, demi 'Dewa Jashin' dan 'kami-sama'-yang sebenarnya adalah anak kembar-perhatikanlah ciptaanmu itu. Sabaku no Gaara yang identik dengan wajah stoic yang penuh dengan rasa cuek, seketika berubah Out Of Character hanya karena perasaan labilnya kepada pemuda pirang bernama Uzumaki Naruto. Ah, entah ini sebuah anugerah atau malapetaka baginya karena mendapatkan tambatan hati seorang Sabaku no Gaara.

Tok.. Tok.. Tok..

Bruakk..

"Narutoooo!"

Bunyi pintu yang dibuka dengan tidak elitnya membuat kesadaran pemuda pirang kembali dalam raganya. Betapa kagetnya pemuda pirang dengan tingkah kerabatnya yang satu itu. "Apa sih, Sakura baka! Jantungku hampir copot tau!"

"Siapa suruh kau kabur-kaburan terus, hah! 'Kazekage' sudah berada ditempat perayaan sejak tadi. Kau juga harus kesana sekarang menemani Gaara menyambut tamu-tamu tersebut, baka!", omel gadis berambut merah muda itu kesal.

Pemuda pirang berdiri dengan gelisah. Bagaimana caranya dia mengatakan masalah yang sedang melandanya sekarang. Bisa-bisa dia dihajar sampai babak belur oleh kunoichi-kunoichi tangguh itu, karena sudah merusak kerja keras mereka yang sudah merubahnya hingga seperti ini."A-ano.. Tapi.. Itu.. Umm.. Ki-Kimo-". Belum sempat si-empunya rambut pirang menyelesaikan kalimatnya, Sakura sudah menarik pergelangan tangannya terlebih dahulu. Menyeretnya yang sedikit kesusahan dalam melangkah karena kimono nya itu.

Oke, semakin panic perasaan pemilik bola mata sapphire. Bagaimana tidak, masa sih dia harus menyambut para tamunya yang tergolong orang-orang terhormat itu dengan menampilannya yang 'kalem didepan' tapi 'seronok dibelakang'. Lebih baik dia mati dimakan 'Manda'-nya Orochimaru daripada harus melakukan hal itu.

Tepat sebelum dua langkah dirinya berada di depan sebuah pintu, yang dia yakini bahwa dibalik pintu tersebut terdapat banyak tamu agung yang menanti kedatanngannya. Si pemuda pirang menghentikan langkahnya dengan sigap, membuat sang penarik lengannya itu mau tidak mau juga menghentikan langkahnya.

"Sakura-chan, aku tidak mau masuk! Kau saja yang masuk menggantikanku ya?", pinta pemuda pirang seraya memohon. Rupanya akibat kepanikan yang sedang dilandannya membuat pemuda pirang meracau hal-hal yang tidak masuk akal.

"Ckk.. Apa-apaan sih! Yang menikah dengan 'Kazekage' itu kau, Naruto. Kenapa aku yang harus repot. Tidak usah membantah, cepat masuk sana!", balas Sakura murka. Tidak mau menuggu lebih lama lagi, dengan cepat gadis berambut merah muda membuka pintu tersebut sedikit kasar. Menimbulkan bunyi yang lumayan keras hingga para tamu yang berada didalam seketika itu juga mengalihkan pandangannya tepat kearah mereka berdua.

SIIIIINNG..

Sunyi.. Senyap..

Tidak ada yang bersuara.. *ceklis*

Tidak ada yang berkedip.. *ceklis*

Tidak ada yang garuk-garuk.. *ceklis*

Tidak ada yang mengupil.. #PLAKK *ceklis*

Seketika keadaan yang tadinya ricuh oleh tawa, obrolan, atau sekedar senda gurau kini mendadak berubah diam. Sumber aksi mogok ribut yang tiba-tiba ini, tidak lain tidak bukan adalah berkat sosok mempesona yang berdiri di depan pintu itu. Cantik. Manis. Luar biasa. Itulah yang ada dibenak setiap penghuni ruangan ketika melihat sosok mempesona tersebut. Kesadaran mereka bagai tersihir oleh kecantikan dari panorama bak dewi kayangan tersebut.

Orang pertama yang tersadar dari lamunanya adalah sang 'Kazekage Sunagakure'. Pasalnya, dia juga tidak menyangka bahwa istrinya itu akan hadir dengan penampilan yang diluar dugaan. Cantik memang. Bahkan sangat-sangat-sangat cantik sekali. Namun, terbesit sebuah keposesifan dalam dirinya. Rasa posesif untuk memiliki kecantikan sosok tersebut seorang diri. Dia tidak rela miliknya yang cantik itu dipandang oleh banyak pasang mata. Karena, hanya dia yang berhak dan pantas menikmati siluet keindahan yang terpancar dari sosok istrinya. Tidak orang lain.

Sedetik kemudian pemuda berambut merah bata alias Gaara, menghampiri sosok yang telah mencuri perhatian semua orang. Perlahan tapi pasti, langkah demi langkah dia jalani dengan memandang sosok tersebut. Lekat. Tatapan matanya yang tajam sekan-akan mengatakan sesuatu kepada sosok mempesona itu.

Entah karena banyaknya presentasi waktu kebersamaan yang telah mereka jalani. Berkat hal ini, membuat pemuda pirang memahami arti tatapan tajam sang suami. Tatapan tersebut seolah berkata..

'Apa-apaan penampilanmu itu? Coba-coba mencari sensai, hah? Berani sekali kau mengumbar-umbar kecantikan dihadapan orang lain!'. Yah seperti itulah arti yang dapat Naruto jabarkan dari tatapan suaminya. Uluran tangan Gaara mengalihkan perhatiannya. Namun, dia hanya terdiam. Tidak mampu mengeluarkan kata-kata, biar hanya sebuah sapaan saja.

Merasakan tubuh istrinya tidak bergeming sedikitpun terhadap uluran tangannya, lantas pemuda Sabaku menarik salah satu lengan pemuda pirang dengan sekali hentak agar mengikutinya.

Akibat kurang fokus dengan tarikan pemuda Sabaku, membuat pemuda bernama panjang Uzumaki Naruto sukses tersandung kakinya sendiri. Ditambah, pemuda pirang tidak terbiasa menggunakan kimono dan geta. Alhasil dirinya terjerembab kearah depan dengan tidak elitnya.

Brukk..

Kini perhatian para tamu benar-benar terjutu kepada dua orang yang berada dihadapan mereka.

Naruto membuka matanya yang tadi sempat terpejam ketika dirinya terjatuh. Dan, oh 'dewa jashin'.. pemandangan pertama yang dia tangkap adalah wajah kekasih hatinya sendiri. Hatinya berdegup. Entah, kapan suaminya itu sudah memasang body tepat dibawahnya.

Oke.. Inilah salah satu keuntungan-minus masalah keposesifan-memiliki suami seorang shinobi, seperti Gaara. Dengan tubuh atletisnya, dia begitu sigap menjadikan dirinya sendiri sebagai sandaran istrinya di atas lantai dengan tidak memikirkan derajatnya yang setinggi langit. Pantas saja pemuda pirang tidak merasakan sakit pada bagian tubuhnya. Terisi sebuah perasaan bahagia dalam hati pemuda pirang melihat begitu perhatiannya pemuda Sabaku itu. Membuat pikirannya melayang ke negeri antah berantah.

Ah, lupakan angan-anganmu bocah. Tidak ingatkah kau dengan masalah yang tadi melandamu?

Masalah-kimonomu-yang-ROBEK-dan-kini-SEMAKIN-BERTAMBAH-ROBEK-akibat-proses-jatuhmu-barusan!

Hei, perhatikan bokongmu! Pakaian dalammu terlihat jelas! Khukhukhu.. posisimu sekarang sangat erotis bocah. Sepertinya, ini jadi tontonan menarik buat para tamu. Lihat muka mereka semua berubah merah seketika!

Pemuda pirang tau suara siapa itu. Oke, memang kenyataannya hanya dia yang mampu mendengar suara kyuubi, 'biju' yang bersemayam dalam tubuhnya. Paham dengan kata-kata kyuubi barusan, membuat pemuda pirang pucat pasi. Seakan-akan dirinya baru saja tersengat arus listrik 100.000 volt. Mati. Pemuda pirang lebih baik mati sekarang juga daripada mengalami kejadian hampir naas ini. Tidak sanggup berkata-kata, apalagi menggerakan tubuhnya untuk sekedar merubah posisinya sekarang. Lantas yang mampu dia lakukan adalah merapatkan wajahnya dengan dada bidang suaminya untuk menyembunyikan wajahnya. Sungguk tak sanggup dia mengangkat wajahnya yang merah padam itu, akibat rasa malunya yang sudah 'over loud'. Memakai Kimono yang robek masih lebih baik daripada masalah yang sekarang dia hadapi.

Naruto sudah tidak sanggup membayangkan bagaimana anggapan para tamu terhormat Gaara, ketika melihat dirinya yang memalukan saat ini. Dia pasti akan dicap orang yang tidak tau sopan santun. Ughh.. Parahnya lagi kalau dia dicap 'murahan'. Wakzz, 'Dewa Jashin'.. Bantulah pemuda pirang!

Berkat kecepatan intuisi yang didapat dari begitu banyaknya waktu bertempur, membuat pemuda berkanji 'Ai' dikening peka terhadap situasi yang ada. Dia mengingat kejadian beberapa detik yang lalu, dimana dirinya menarik lengan pemuda pirang tiba-tiba hingga berakhir dibawah lantai seperti sekarang. Kemahirannya dalam menilai situasi, membuat pemuda bernama panjang Sabaku no Gaara seketika menggunakan rangsangan impuls dari otaknya menuju saraf pengelihatan, menyadari pandangan seluruh tamu yang tertuju pada istrinya.

1 fakta yang menohok jantungnya ketika menilai situasi yang ada.

Seluruh-tamu-memandang-lekat-ke-arah-mereka-berdua-!-Lebih-tepatnya-ke-arah-tubuh-istrinnya!

'lihat apa mereka?', batin Gaara merasa aneh.

Sedetik kemudian pemuda Sabaku mendongakan kepalanya untuk melihat pusat perhatian dari seluruh tamu yang datang.

1 detik..

2 detik..

Dan..

BWOOOOOSSH..

Seketika pasir milik Gaara memenuhi ruangan. Seluruh udara yang berada di dalam ruangan terkontaminasi bercampur dengan pasir milik Gaara. Membuat para tamu teralihkan dari pertunjukan menarik dihadapan mereka.

Walau bukan maksud Gaara untuk melakukan penyerangan, tapi yang namanya shinobi tetap saja shinobi. Terbiasa berada dalam kondisi peperangan yang harus selalu sigap dalam situasi apapun. Kurang lebih sekitar dua puluh shinobi yang hadir disana mengambil gerakan antisipasi berupa pertahanan dengan jutsu andalan masing-masing. Diikuti dengan persiapan serangan balik kalau-kalau pasir milik Gaara melakukan serangan. Yah, bagaimana pun tempat ini adalah kandang 'Kazekage'. Jadi, tidak ada salahnya para tamu sekedar memperkuat pertahanan dan mulai siap siaga.

Murka. Gaara benar-benar murka. Sudah cukup sabar dirinya membiarkan orang lain melihat kecantikan istrinya. Tapi tidak kali ini. Tidak untuk bagian tubuh istrinya yang satu ini. Kakinya yang jenjang, pahanya yang mulus, dan.. Ugh.. bokong istrinya yang begitu sintal dan padat terbalut pakaian dalam berwarna oranye. Kini bagian itu, dengan liarnya terekspos dengan bebas dihadapan banyak orang.

'HUUUWAAAA..', batin Gaara menjerit.

Bagian tubuh itu adalah tempat yang paling intim. Bagian tubuh yang mampu membuat Gaara mabuk kepayang dan lupa diri. Hanya dirinya seorang yang boleh melihat bagian itu. Bukan orang lain. Tidak akan dia biarkan begitu saja orang-orang yang telah melihat miliknya itu, barang sedetikpun. Akan dia simpan rapat-rapat dalam memori internalnya siapa-siapa yang mengalami perubahan ekspresi negatif (mesum) pada wajahnya.

Wajah memerah.. *tabok 5x*

Hidung mengeluarkan darah.. *kasih Sabaku no Gaara renden*

Mulut mengeluarkan liur.. *hajar pake Sabakukyuu*

Gaara kembali pada mode 'Kazekage'. Sadar dengan status terhormatnya itu, tidak mungkin dirinya menghajar para tamunya sekarang juga. Lantas dia berdiri dengan posisi pemuda pirang masih merapat pada dada bidangnya. Wajah stoic-nya berkata seolah-olah tidak ada yang terjadi. Oke, mudah bagi Gaara sang master menyembunyikan perasaan dibalik keignoran perawakannya itu. Tapi dalam hatinya ia berjanji akan memberi pelajaran pada mereka semua suatu saat nanti. Tunggu saja.. #Gaara Death Glare

"Ga-Gaara, kita.. Pe-Pergi saja.. Dari sini.. Aku.. Aku ma-malu..", bisik Naruto terbata-bata akibat tubuhnya yang bergetar hebat.

Detik berikutnya Gaara menonaktifkan pasirnya. Pasir yang tadi memenuhi ruangan, sekarang masuk kembali kedalam gentong dengan teratur. Pemuda dengan kanji 'Ai' dikening membuka pembicaraan terlebihi dahulu, "Maaf semuanya, jangan takut aku tidak akan menyakiti kalian," ucap Gaara lagi sambil tersenyum lembut. Ugh.. Buat orang-orang yang mengenal Gaara dengan baik pasti tau arti senyuman yang tidak pernah sekalipun dia perlihatkan itu. Arti sesungguhnya dari senyum itu pasti kebalikan dari kenyataannya.

"Berhubung sepertinya keadaan istriku sedang tidak baik, kami mohon ijin terlebih dahulu meninggalkan tempat ini". Gaara merengguh kimono Naruto yang robek vertical agar bagian tersebut tidak terbuka dan memperlihatkan bagian tubuh istrinya lagi. Kemudian dia mengangkat tubuh istrinya ala pengantin.

"Kalau begitu kami pamit dulu, silakan lanjutkan pestanya," ujar Gaara datar. Dia tidak peduli dengan pestanya itu. Yang dia butuhkan sekarang adalah waktu berdua dengan pemuda pirangnya. Banyak sekali hal yang ingin dia sampaikan mengenai kejadian barusan.

"Kangkurou, tolong atur pesta ini. Semuanya..", ujar Gaara lagi. Pelan. Kepada orang yang dia anggap kakaknya itu. Terdapat sebuah nada khusus dari kalimatnya. Entah apa itu?

"Ya.. Ya.. Baiklah," jawab Kangkurou. Dia menggeleg-gelengkan kepalanya melihat kepergian Gaara. Dia tidak habis pikir dengan tingkah adiknya itu. Benar-benar protesif (protektif+posesif) sekali.

Sepeninggalan Gaara, para tamu yang tadinya berada dalam posisi siaga kini kembali tenang. Bersyukur kemungkinan terburuk yang sejenak mereka pikirkan tidak benar-benar terjadi. Hahh.. Pesta yang merepotkan.. #PLAKK

.

.

.

.

.

.

.

"Ugh..". Pekik pemuda pirang ketika dirinya dilempar sedikit kasar ke atas ranjang oleh pemuda yang kini sah menjadi suaminya itu. Dilihatnya sosok pemuda yang kini berdiri dengan gagah tepat dihadapannya. Wajah tampan, dada bidang, tubuh tinggi dan kekar. Benar-benar sempurna.

"Katakan sesuatu Na-ru-to," ucap Gaara penuh penekanan. Matanya yang memincing menuntut penjelasan dari pemuda berstatus istrinya itu.

"A-Ano, Gaara.. Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu," jawab pemuda pirang gugup. "Y-Yah, walaupun hasilnya diluar dugaan.. Hehehe..", ujar pemuda pirang lagi. Tawanya yang garing tidak mampu meruntuhkan wajah sangar pemuda Sabaku saat ini.

"Kejutan bodoh! Aku tidak suka kau berpenampilan seperti itu dihadapan orang lain". Gaara mengucapkan kalimatnya tajam. Terdapat keseriusan dari kata-katanya itu. Sedangkan lawan bicaranya hanya tersenyum-senyum aneh. "Kau membuatku marah, Naruto. Apa kau sengaja menujukan bagian tubuhmu, hah?" hardik Gaara lagi.

Dengan sedikit hentakan pemuda Sabaku membalikkan tubuh pemuda pirang, hingga robekan vertikal dari kimono dengan motif Hana-Koume tersebut terlihat dengan jelas. Menampakan kaki jenjang, paha nan mulus, bokong sintal dan padat yang terbungkus pakaian dalam berwarna oranye. Melihat panorama didepannya, membuat Gaara teringat kejadian menyebalkan tadi. Benar-benar berengsek. Tidak pernah terbesit sekalipun dalam otak jeniusnya untuk memperlihatkan setitik kulit karamel milik istrinya kepada orang lain, apalagi betis, paha, dan bokong sexy itu. Arrghh, tidak pernah sekalipun!

Sudah cukup Gaara bersabar. Kini, api kemarahan sudah menyulut birahinya. Lantas tanpa berpikir panjang 'pamuda no.1 di Sunagakure' meremas bongkahan padat tersebut dengan kedua tangannya, sedikit kasar. Membuat pemuda dibawahnya sedikit memekik kaget bercampur sakit.

"Arrghh, Gaara. Apa yang kau lakukan? Lepas.. Cepat lepas!", jerit Naruto kalangkabut. Bukannya dia benci dengan perlakuan Gaara. Dia hanya sedikit malu setiap tubuhnya mulai dijamah. Yah, walaupun dia sudah menikah tetapi tetap saja dirinya masih canggung setiap berhubungan intim dengan Gaara.

Pemuda berpangkat 'Kazekage' tersebut tidak mempedulikan jeritan pemilik bola mata sapphire dibawahnya. Karena, saat ini dirinya sedang fokus pada kegiatanya menjamah bokong indah tersebut.

Selang satu menit..

Merasakan jeritan pemuda pirang berhenti, lantas Gaara membalikan posisi pemuda pirang hingga dirinya bertatapan langsung dengan wajah manis yang sudah memerah tersebut. Betapa cantiknya pemilik bola mata sapphire dihadapannya. Memang tidak salah selama ini dirinya menggebu-gebu mengejar cinta pemuda manis itu.

"Kenapa diam. Sudah menyesali tingkahmu tadi?", sergah Gaara. Dia pandang bola mata sapphire tersebut. Lekat.

"Sudah ku bilang, bukan maksudku sengaja melakukan itu. Aku hanya ingin buat kejutan untukmu. Dan masalah kimono yang robek, itu semua diluar kuasaku, Gaara. Kalau kau tidak mau mengerti, ya sudah. Terserah.. ", ucap Naruto lirih. Pemuda yang dijuliki 'Bocah Penuh Kejutan' itu pasrah pada keadaan. Dia sedikit kecewa dengan pemuda Sabaku yang meragukan dirinya. Padahal, dia sudah berkorban untuk memakai kimono. Berkorban untuk memalsukan jati dirinya sendiri di hadapan para petinggi desa lain. Memang, Gaara tidak memintanya untuk bertindak demikian. Tapi, tetap saja Naruto ingin di hari besarnya kali ini bebas dari tatapan-tatapan aneh orang lain kepada mereka berdua. Hanya untuk malam ini saja.

Naruto menutupi wajahnya dengan kain sutra berwarna kuning gading dikepalanya. Dia sedih semua berakhir tidak sesuai dengan rencana. Pesta pernikahan yang penuh kebahagiaan kini kandas ditiup angin. Entah, siapa yang salah. Dirinya sudah tidak dapat berpikir jernih sekarang. Mengingat itu semua membuatnya ingin menangis saja. Yah, sekarang dirinya benar-benar ingin menangis..

Walau Naruto seorang shinobi tangguh, tetapi dia sangat peka dalam urusan perasaan. Ya, itulah Naruto. Takdir hidup yang berat memang membuat dirinya menjadi shinobi yang tangguh. Semua orang mengakui itu. Namun, tidak ada yang tau seberapa banyak air mata yang telah dia keluarkan selama ini hanya untuk melewati fase hidup menuju kedewasaan.

Sebuah isakan halus membuat batin Gaara tersentuh. Pasalnya, dia tidak pernah mendengar isakan tersebut keluar dari pemuda pirang dibawahnya selama ini. Tidak pernah sekalipun. Kecuali disaat dirinya meminta pemuda pirang untuk bercinta. Itupun berupa isakan menahan sakit, bukan sebuah isakan lirih yang menggetarkan batin seperti ini.

Pemuda pemilik bola mata emerald menyunggingkan senyum lirihnya sesaat. Dia merasa bodoh telah semena-mena menilai pujaan hatinya. Bukankah seharusnya dia paham dengan pengorbanan yang telah diberikan untuknya. Pengorbanan pemuda pirang untuk sedikit melakukan perubahan dihari penting mereka. Dirinya tau, mataharinya itu berdandan seperti perempuan agar dirinya terbebas dari cemooh orang-orang yang menentang mereka. Dia paham itu.. Sangat paham..

"Naru..", ucap Gaara lirih. Dia dekati wajah pemuda pirang dan menyingkirkan sehelai kain sutra yang menutupi wajah manis tersebut. Dilihatnya bola mata yang berwarna kemerahan dihiasi segelintir air bening. Ah, begitu terhanyut hatinya. Bukan tujuan hidupnya membuat bola mata sapphire tersebut kehilangan pesonanya. Terdapat penyesalan yang amat sangat dalam relung hatinya saat ini. Lantas dirinya mengecup kening pemuda yang berada dibawahnya. Dalam. Kecupan sayangnya yang terdalam.

"Naru.. Maafkan aku. Aku yang salah. Maaf. Tolong, jangan menangis lagi sayang.. Aku tidak kuat melihatmu seperti ini..", lirih Gaara. Ia hapus air mata yang mengalir dipipi pujaan hatinya dengan lembut. Dan sekali lagi mengecup kening tersebut memberikan perasaan tenang.

Pemilik bola mata sapphire nan indah menghentikan tangisnya. Dia paham betul, dirinya kembali tenang karena aura kelembutan yang diberikan Gaara padanya. Sudah kebiasaan Gaara memberikan perhatian berupa kelembutan dan ketenangan.

Memahami penyesalan yang disampaikan Gaara, membuat Naruto tersenyum lembut. Di sematkan jarinya pada helai merah bata dan mengusapnya. "Ya, Gaara. Aku tau kau sangat sayang padaku. Kau tidak suka orang lain memandangku dengan pandangan–pandangan aneh kan? Aku paham benar itu, Gaara.." Pemuda pirang mengecup bibir pemuda merah bata dengan lembut. Sangat lembut.. dia curahkan semua perasaannya kepada pemuda yang kini sah menjadi suaminya itu.

Mendapat senyum lembut dan sebuah kecupan hangat membuat hati pemuda Sabaku menjadi tenang kembali. Pasalnya, hanya keberadaan pemuda piranglah yang dapat memberikan pengaruh pada hidupnya. Sedih, bahagia, susah, senang. Semua perasaan yang jauh dari aktivitas hidupnya, kini berubah drastis sejak dirinya bertemu dengan mataharinya itu. Matahari yang membuat hatinya menghangat. Mataharinya yang bernama..

Uzumaki Naruto

.

.

.

"Mmm.. mmh.. Ga-Gaara.. Kenapa-Akh.. A-Aku sudah.. Keluar.. 4 kali.. Nnghh.. Ce-cepat masukkan milikmu.. A-Aku sudah.. Tidak kuat.. Aku lelah.. Nnh.."

Pemuda pirang begitu kelojotan dengan perlakuan suaminya itu. Pasalnya, sejak tadi pemuda bernama Gaara tidak juga menyatukan dirinya dengan tubuh pemuda bernama Naruto. Dari awal permainan, dirinya hanya bermain-main dengan tubuh pemuda pirang dengan sangat bernafsu. Dia remas-remas keras, kulum, gigit, jilat. Seluruh permukaan tubuh pemuda pirang tidak ada yang terlewatkan semilipun dari kenikmatan-kenikmatan ragawi yang diberikan pemuda berstatus 'Kazekage' tersebut.

Panas. Begitu panas permainan yang diberikan Gaara. Sampai-sampai tubuh Naruto bergetar sedemikian hebatnya. Seluruh tenaganya seakan terserap habis akibat terlalu banyak cairan kenikmatan yang telah dia keluarkan. Tubuhnya luluh lantah. Dia tidak mampu menggerakkan tubuhnya barang sedikitpun. Dia pasrahkan seluruh jiwa dan raganya itu hanya untuk Gaara. Apapun yang pemuda merah bata inginkan, sebisa mungkin akan Naruto berikan.

Saat ini, yang Naruto bisa lakukan adalah tetap bertahan untuk mengimbangi permainan liar pemuda Sabaku. Dirinya tidak ingin kehilangan moment bahagia ini hanya karena jatuh pingsan akibat kelelahan. Tidak. Tidak untuk malam penting ini. Dimana akhirnya mereka berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri.

"Ga-Gaara.. Tolong.. Ce-Cepat hentikan..", lirih pemuda pirang. Tubuhnya sudah benar-benar mencapai batas yang seharusnya. Ini kali pertama Gaara membuatnya mencapai puncak lebih dari 4 kali dalam semalam. Kalau tau begini jadinya, dia akan mempersiapkan mental terlebih dahulu.

"Ya, sekali lagi.. Sampai kau keluar sekali lagi, baru aku akan memasukkan milikku.."

Sabaku no Gaara, pemuda dengan status 'Kazekage' semakin mempercepat sodokan, kocokan, dan kulumannya di ketiga titik sensitif pemuda yang bersandar dalam pelukannya. Dia rengguh wajah yang membelakanginya itu hingga bertatapan langsung dengan wajah pemuda pirang. Wajah manis yang memerah sempurna. Bola mata sapphire kini sedikit tertutup oleh hasrat yang memuncak. Bibir mungilnya kemerahan akibat pagutan-pagutan ganas. Lelehan demi lelehan saliva terjuntai dengan lembut dari bibir mungil tersebut. Puas. Pemuda Sabaku sangat puas dengan karyanya itu. Pemuda manis bak dewi kayangan yang pasrah akan nafsu birahi pemuda helai merah bata.

"NNGGHH.. AAHHHHHH!", jerit pemuda pirang. Ini adalah kali kelima dirinya mengalami puncak. Tubuhnya lunglai. Matanya terpejam rapat akibat sisa-sisa kenikmatan yang baru saja melandanya. Yakinlah dirinya, jikalau pemuda Sabaku tidak juga segera menyelesaikan hasrat terpendamnya, dia akan benar-benar pingsan kali ini.

Melihat pujaan hatinya mengeluarkan hasratnya yang kelima, lantas pemuda Sabaku mencabut sodokan ketiga jarinya didalam lubang kenikmatan milik pemuda pirang. Tanpa berpikir dua kali, pemuda bernama Gaara secara tiba-tiba melesakkan kejantannya ke dalam lubang kenikmatan pemuda pirang dibawahnya.

"Uwaaahh.. Sa-Sakit.. Ga-Gaara.. Tidak.. Ughh.. Ahhh.. Sakit.."

Gaara mengusap-usap pinggul Naruto lembut, berusaha menenangkannya dari rasa sakit. "Tahanlah, sayang.. Perlahan rasa sakitnya akan hilang."

Pemuda pemilik bola mata sapphire mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasa sakit dibagian bawah tubuhnya seakan mengoyak-ngoyak pertahanannya. Tangan mungilnya mencengkram pundak pemuda Sabaku dengan kuat sambil memejamkan matanya erat-erat.

"Aaah… Nnh… Haaah… A-ahh… Ummngh…"

Rintihan perlahan mulai berubah menjadi desahan. Rasa sakit bagaikan dikoyak belati sirna seutuhnya, tergantikan oleh rasa nikmat yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.

"Gaara… Aah-Ah-Ah-Ah-Ahh.. Ahhnn.. Ti-Tidak.. A-Aku lelah.. Ce-Cepat selesaikan.. Ahhh..", pinta pemuda pirang. Suaranya terbata-bata akibat begitu ganasnya hentakan-hentakan yang diberikan pemuda merah bata.

"Baiklah. Kalau begitu.. Tahan, ya..", ujar Gaara.

Bersamaan dengan itu pemuda Sabaku semakin mempercepat tempo sodokannya. Mengakibatkan pemuda pemilik bola mata sapphire tersentak hebat akibat merasakan getaran nikmat disekujur tubuhnya. Sedetik kemudiaan pemuda Sabaku mengeratkan lengannya yang melingkar di pinggang pemuda pirang, kembali membawa bibir kemerahan itu ke dalam sebuah ciuman yang memabukkan.

"Nnng.. Nnghh.. Ahhh.. Ah.. Haahh.. Gaara.. Aaahh.. Ahh-Ah-Ah-Ah-Ahhnn.. Akh.."

Gaara menyeringai mendegar desahan demi desahan keluar dari pujaan hatinya. Lantas dia melebarkan dan menahan kedua kaki istrinya itu, kemudian menyodokan kejantanannya jauh-jauh ke dalam. Sangat dalam.

"Uwaaah.. Ah-ah-ah-ah-ahh.. Ga—Gaaaraaaa.. Ahh.. Haaa.. Mmmngh.. Uaahh.."

Desahan dan erangan erotis itu membuat pemuda berstatus 'Kazekage' semakin menggila. Tanpa berpikir panjang dia menambah kecepatan pada sodokannya. Hingga tubuh pemuda pirang mengejang dan akhirnya menyemburkan hasratnya yang ke-6 pada malam ini. Pemuda Sabaku menghentikan sodokannya sesaat. Matanya memandang liar kearah pemuda manis yang kini menjadi istrinya itu.

Pemuda pirang berusaha mencari napas sebanyak-banyaknya. Dadanya terasa sesak karena napas yang terputus-putus. Belum sempat dirinya mengatur nafas sestatis mungkin, pemuda berstatus 'Kazekage' tersebut kembali menariknya keatas pangkuan.

"Sekali lagi, Naru.." bisik Gaara. Kemudian memegang kedua sisi pinggang Naruto, lalu memompanya turun-naik dengan tempo yang semakin bertambah cepat.

"Haah.. Ah.. Ahh.. Mmmngh.. Hyaaa.. Aaah.. Jangan.. Ga-Gaara.. A-Aku lelah.. Ahh.. Ti-Tidakk.."

Tubuh pemuda pirang terjebak di antara kenikmatan yang menghantam raganya. Desahan-desahannya memenuhi seluruh ruangan.

"Ngh.. Aah.. Haah.. Aah.. Aah.. Aaah.. Aah.. Uwaah.. Haaa.. Aaaahhh.."

"Maaf, Naru.."

Lidah pemuda Sabaku turun ke arah leher mulus Naruto. Kembali melumat kulit caramel tersebut hingga meninggalkan tanda bukti kepemilikan yang mutlak bahwa pemuda pirang, pemilik bola mata sapphire adalah miliknya. Seutuhnya!

Beberapa saat kemudian, tubuh pemuda pirang mengejang dan mencapai titik puncaknya, begitu juga dengan Pemuda sabaku. Nafas keduanya memburu. Naruto merasa tubuhnya benar–benar luluh lantah. Kedua matanya pun terpejam erat. Tidak kuasa dirinya walau hanya untuk membuka kedua kelopak matanya itu. Yakinlah dia, bahwa besok dirinya akan tegeletak di ranjang selama sehari penuh akibat aktifitas yang kelewat batas ini. Pertama kali tenaganya benar-benar terkuras bukan karena berlatih jutsu.

Puas. Gaara sangat puas malam ini. Perasaannya yang sejak dulu terpendam pada pemuda pirang kini dengan mudah dapat dia utarakan. Baik dengan ucapan maupun tindakan. Dirinya begitu bahagia memiliki Naruto sebagai istrinya. Seseorang yang mampu mengimbanginya dalam banyak hal. Salah satunya dalam bercinta. Dirinya yakin dengan orientasi nafsunya yang meledak-ledak ini, hanya pemuda berambut secerah mentari itulah yang mampu mengimbanginya.

"Terima kasih, Naru.. Sekarang tidurlah. Akau akan menjagamu..", ujar Gaar lembut. Dia kecup kening pemuda manis dihadapannya sebelum merengguh tubuh mungil tersebut kedalam pelukannya. Hangat. Hingga mimpi indah penuh kebahagiaan mengalun lembut dalam tidur nyeyak mereka berdua.

.

.

.

.

.

.

.

TAP.. TAP.. TAP..

Seorang pria bertopeng riak air mengenakan jubah berwarna hitam kelam dengan motif awan merah, memasuki sebuah markas berbatu. Ruang didalam markas tersebut minim udara dan pengap. Sinar mataharipun tergantikan oleh cahaya lilin kecil. Benar-benar sebuah tempat yang tidak layak untuk ditinggali orang biasa.

"Darimana?". Sebuah suara mengagetkan pria bertopeng riak air. Suara tersebut berasal dari sesosok pemuda yang bersandar pada sebuah dinding batu, tidak jauh dari pria bertopeng berdiri.

"Khukhu.. Hanya mengunjungi teman lama. Memang kenapa? Tidak biasannya kau bertanya!", ujar pria bertopeng. Sebuah sindiran dia layangkan untuk sesosok pemuda dihadapannya itu.

"Hn", balas pemuda tersebut, cuek. Detik berikutnya sosok pemuda tersebut melangkahkan kakinya hendak meniggalkan tempat itu. Dia tidak peduli dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh si pria bertopeng. Akan tetapi, sebuah kalimat yang muncul dari bibir pria bertopeng membuatnya sedikit tergelak. Sebuah kalimat yang mengingatkan dirinya pada penyesalan atas keputusan yang telah dia ambil dulu. Sebuah kalimat yang membuatnya teringat dengan kebodohannya yang telah memilih pergi dari sisi orang terkasih hanya demi sebuah balas dendam. Sebuah kalimat yang membuat hatinya merasa sakit hati yang amat sangat. Sebuah kalimat yang mengatakan..

"Sepertinya rubah kecilmu itu sudah jadi milik orang lain, Sasuke.."

.

.

.

~TO BE CONTINUE~

.

.

.

Hahh.. Akhirnya selesai juga chap ini. Gimana, Jelek ya? Yah, makanya Back bilang pernikahan GaaNaru aneh dan heboh. Karena memang pesta pernikahan mereka bisa dibilang kacau dan gagal. Begitulah..

Mengenai malam pertamanya, sepertinya kurang eksplicit ya? Sengaja sih memang. Coz, Back ingin secepatnya mengupdate chap ini. Jadi apapun hasilnya, Back pasrahkan pada para reader saja.

Yooshh, terima kasih untuk semua yang mau membaca fic 'Sabaku no Naruto' ini!

Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Okeyyy.. ^_^

.

.

.

So, MINNAAA..

R

E

V

I

E

W

THANKS A LOT.. ^_^