Chapter 3
Warning: OOC kyaknya, gak sesuai pilem. gak suka gak usah baca, daripada nanti muntah paku kek limbad buahahaha
DLDR and happy reading~~
Dibenci masyarakat menjadikan Boboiboy semakin terpuruk dan tidak lagi mengalami hari yang indah. Bisikan bahkan cacian yang ia terima, entah itu di sekolah ataupun di lingkungan rumah membuat dirinya tertekan dan sempat berpikiran untuk meracuni dirinya dengan anti serangga. Sebuah pertanyaanpun muncul dalam benaknya, masih adakah orang yang percaya pada seorang penjahat berkedok pahlawan?
= karena kau lahir dari sebuah ketidak sengajaan seorang Boboiboy=
Selepas menghilangnya Boboiboy dan Probe secara misterius sejak 6 bulan yang lalu. Tidak ada kabar lagi mengenai kedua makhluk itu di sekitar Pulau Rintis. Sekolah yang biasanya ramai akan canda dan tawa dari keempat sekawan itu, sekarang mulai hilang seiring tidak kembalinya pemuda bertopi dinosaurus yang bisa terpecah menjadi empat.
Penduduk Pulau Rintis pun mulai kembali berharap pada bocah-bocah pahlawan yang dulu membantu mereka. tepatnya setelah kepergian Boboiboy dan Probe secara misterius, ketentraman yang diharapkan hanyalah angan semata. Adudu yang awalnya berniat mengambil Koko dan Bola kuasa, mulai beralih ingin menguasai Pulau Rintis dan menindas para awalnya membantu para penduduk seperti apa yang dilakukan Boboiboy dulu. Tapi, seiring berjalannya waktu.. para penduduk mulai menyesali perbuatan mereka yang lebih mempercayai Alien Hijau kotak yang berencana jahat pada mereka.
"Tok Aba.. tolonglah buat Boboiboy kembali" pinta salah satu penduduk yang kini datang ke kedai Tok Aba. Orang tua yang kehilangan cucu kesayangannya itu hanya mendengus kesal. Tok Aba memang orang yang sabar, tapi dia sudah terlanjur kecewa dengan Penduduk Pulau Rintis.
"bukankah kalian yang berharap dia menghilang? Dan dia memang menghilang, kan? Apa yang kalian harapkan? terimakasih sudah membuatnya pergi" ujar Tok Aba yang makin membuat para penduduk merasa bersalah. Dalam hati orang tua tersebut, ada rasa sakit dan perih saat lidahnya mengucapkan kalimat seperti itu.
Tangan Tok Aba menarik sebuah bingkai foto yang menampilkan wajah ceria Boboiboy bersama keempat temannya yang berekspresi lepas dihadapan kamera, tentunya Tok Aba dan Ochobot juga ada disana.
"sebenarnya kemana kau, cucuku?" lirih Tok Aba. Pria tua itu mengusap air mata yang tak sengaja keluar, berusaha sekeras mungkin menutupi segala kesedihan agar tidak berpengaruh pada robot kuning yang menjadi pekerja tetap dikedainya.
.
.
.
.
Di hutan yang tidak jauh dari pulau rintis, tempat sang matahari bersembunyi kala sekat sementara bernama senja mulai menyingsing. Di sebuah gubuk yang di dalamnya terantai seorang pemuda bertopi dengan pakaian lusuh di tubuhnya. Matanya yang tertutup bagaikan tertidur, serta tubuhnya yang terbungkus tanah yang membungkus sebagian tubuhnya.
Sebuah robot ungu bersama pemuda bersurai ungu gelap yang kini memasang wajah kagetnya. Pikirannya saling berkecamuk dengan hati yang merasa perih kala melihat keadaan sang Rival yang baru diketahuinya menyiksa diri dalam kekuatannya sendiri.
"K-Kenapa tidak kau beritahukan dari awal kalau keadaannya seperti ini, Probe?" kesal Fang yang kini sudah kalut akan emosi. Probe tidak berekspresi seperti biasa. Dia mendengus lalu menyerahkan sebuah amplop yang bertuliskan 'Untuk: Fang'.
Pemuda bersurai ungu yang kini memegang amplop, membukanya perlahan dan membaca isi dari kertas yang terlihat mulai usang.
Untuk : Fang
Fang, saat membaca ini, aku yakin Probe sudah lelah menjagaku kali ini. tapi jujur, aku butuh ketenangan saat ini. dan mungkin, sedikit hukuman social seperti pengasingan yang kulakukan tanpa persetujuan semua orang termasuk Tok Aba dan kawan-kawan lain. Aku berharap, kau tidak akan memberitahukan keberadaanku yang sudah kau ketahui melalui Probe. Percayalah, dia baik.. sangat baik kalau sedang dihadapi dengan kesulitan seperti dicampakkan oleh Adudu dan Boboibot. Aku tidak mengerti, kenapa bisa robot ini memiliki perasaan seperti itu. mungkin karena dia diaktifkan oleh air ledeng? Oh ok, aku bercanda. Aku mungkin akan bersenang-senang dengan klonku di alam bawah sadar, bermain dalam khayalan dan perlahan akan menuju pintu kematian. Jangan buat orang-orang kecewa dengan kalian, kalian adalah superhero terbaik yang pernah ada. Tidak sepertiku yang menjadi monster kala diperlukan. Ugh.. aku tidak ingin mengingat. Jadi sampai jumpa di dunia berikutnya^^
Boboiboy –Halilintar,Taufan,Gempa,Api-
Fang meremas kertas itu dengan kesal. Tangannya kini mengguncang tubuh yang matanya masih tertutup berusaha membangunkan dengan cakar bayangnya namun tak kunjung berhasil.
"BODOH! BANGUN SEKARANG, SEMUA ORANG MEMBUTUHKANMU" teriak Fang di depan wajah Boboiboy. Air matanya sedikit menetes ketika tidak ada pergerakan dari manusia di hadapannya. Probe paham, dia pun sebenarnya tidak setuju mengenai keputusan Boboiboy yang satu itu.
"Dasar cengeng" seru sebuah suara. Fang dan Probe sedikit terkejut melihat seorang anak yang mirip dengan yang terkurung dibalik lilitan tanah. Dia masih Klon Boboiboy, namun memakai baju biru secara keseluruhan dan topi biru yang menghadap kebawah. Dia duduk diatas bola air yang besar, sambil memainkan tetesan-tetesan air kecil yang dibuatnya.
"B-Boboiboy, bukankah K-Kau?"
"Aku Air. Salah satu elemental Boboiboy yang tidak terlalu eksis. Aku muncul dari air mata terakhirnya, ketika dia dengan bodohnya mengurung diri dalam tanah pencekam. Paham?" jelas Air. Probe menatap tak percaya kali ini, sambil merenung dengan satu pertanyaan yang memutar, kira-kira seperti 'untuk apa aku menjaganya kalau ada yang keluar lagi-_-?'
"T-Tapi, kenapa Boboiboy masih menutup matanya?"
"Bukankah dia sudah mengatakan di dalam surat aneh itu? dia di alam bawah sadar sedang bermain bersama Taufan dan Api. Mengenai Halilintar dan Gempa, mereka bahkan berperang dalam tubuh Boboiboy sejak tiga hari yang lalu. Kalau boleh kuperkirakan, kalau Halilintar dan Gempa masih berperang, secara tidak langsung itu menghancurkan jiwanya perlahan"
Fang masih tidak mengerti, dan Air tau jelas karena sudah tercetak di wajah Fang.
"kau lihat tanda merah dan kuning yang saling menyala di topinya?" tunjuk Air pada topi pemuda yang kini bertukar warna. Fang mengiyakan dan melirik kembali kearah Air.
"Bisa dibilang,jika salah satu warna diantara merah dan kuning itu sudah menghapus salah satunya, Boboiboy akan menghilang untuk selamanya"
Probe menampar wajah Boboiboy, berusaha membangunkan pemuda itu dari tidur nyenyaknya. Air melirik kearah jam tangannya, ada Taufan disana yang berusaha melerai dan Api yang kini di depan layar hologramnya.
"Air, Boboiboy tidak akan bertahan lebih lama lagi. bagaimana ini?"
"Kalau dia hilang, kita semua hilang, sudah selesai" tutup Air dan mendapat tatapan kesal dari Probe serta Fang. "Bagaimana cara membangunkan, Boboiboy?"
"aku juga tidak tau"
Fang rasanya ingin memukul Klon Boboiboy yang satu ini, disaat genting seperti ini dia masih santai dan seperti tidak peduli dengan keadaan. Namun, Air mulai melangkah kehadapan tubuh yang sama dengannya. Matanya sedikit menyipit tajam, mencoba meneliti di setiap inci tubuh yang sama seperti dirinya.
DUAAAAAARRRRR!
Ledakan itu terdengar. Adudu dan Boboibot muncul dibalik asap yang mengepul. Kedua makhluk itu tertawa sinis saat melihat keadaan musuhnya yang tidak berdaya bagai korban penganiayaan. Mengenai Air, dia ada dibalik awan sambil menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya.
"Oh, jadi disini Boboiboy bersembunyi? Lemah sekali dia tampaknya" ejek Adudu yang membuat Fang naik pitam. Giginya menggertak menahan amarah, namun tepukan pelan dipundaknya membuatnya membalik perlahan.
"Sejak kapan korang ada disini?" kaget Fang yang menemukan Yaya, Ying, dan Gopal dibelakangnya. Mereka bertiga hanya menunjukkan deretan giginya tanpa dosa dan kembali menatap tajam kearah alien kotak hijau yang merusak suasana.
"OY KEPALA KOTAK! BERANINYA KAU HAH" geram Ying menahan amarah. Matanya sedikit melirik kearah pemuda yang masih menutup mata, tepatnya kearah Boboiboy. Sedih sekali ketika dia sangat telat untuk mengetahui keberadaan sang sahabat.
"Boboibot! Hancurkan mereka"
"Siap, Incik Bos"
Robot itu melempar bola-bola api di tangannya. Keempat pahlawan itu saling menghindar satu sama lain. Kekuatan robot itu sama kuatnya dengan elemental Boboiboy yang lain. Fang melirik kearah topi Boboiboy yang masih bertukar-tukar symbol, dia berdoa semoga rivalnya itu terbangun dan melawan robot jahat ini.
Boboibot merasa tubuhnya sedikit merasa aneh, dia meraba lehernya yang sedikit basah oleh air. Eh tunggu, Air?
Robot itu mengadah keatas, begitupun Adudu yang kini memasang ekspresi kaget yang khas. Diatas sana, Boboiboy Air sedikit mengendalikan butiran-butiran air yang menyabotase system dalam Boboibot. Robot replika Boboiboy itu sedikit tersengat, dalam mode Halilintar seperti ini tentu membuatnya kesakitan. Ditambah lagi, perlahan Boboibot menyerang dirinya sendiri ketimbang orang lain. Fang tersenyum saat Boboiboy Air menyelimuti Boboibot dengan air yang perlahan menjadi es. Tanpa ragu lagi, tangannya mengambil kayu lalu memukul keras robot yang terselimuti es itu hingga hancur berkeping-keping.
Probe yang memihak dengan boboiboy kini mengunci Adudu dengan borgol yang didapatnya entah darimana. Suara sirine polisi terdengar, Adudu mulai panic ketika para polisi menggeretnya ke dalam mobil tahanan. Semuanya sudah selesai, Boboiboy Air perlahan turun dari singgasananya- lebih tepatnya bola air raksasanya-. Dia tersenyum sebentar dan perlahan mendekati tubuhnya yang masih tertanam tanah pencekam.
Tanah itu perlahan menurun, membuat Air kembali menggenggam tangan layaknya menyalurkan energy. Matanya kembali terbuka dan tersenyum kearah teman-temannya.
"Kurasa sudah saatnya aku pergi, selamat tinggal semua" tubuh Air perlahan memudar. Senyum yang pertama dan terakhir kali ditunjukkan. Seiring hilangnya tubuh Air, Boboiboy pun terkulai lemas dan senyum terpasang diwajahnya.
"Dia pergi" gumam Probe. Ketiga temannya menangis pilu saat tidak ada lagi nafas yang terhembus di tubuh mungil itu. saat awan yang tadinya mendung mulai pergi, kala sinar mentari perlahan menyusup diantara awan dalam sunyi, jiwa itu pergi.
Ochobot dan Tok Aba memeluk erat tubuh anak ceria yang kini terbaring kaku dengan senyuman. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya selain raungan penyesalan, begitupun rakyat pulau rintis lainnya.
Ya, penyesalan adalah kata terakhir yang sangat terlambat dirasakan. Saat tubuh itu kembali ke rumah, dengan keadaan kaku yang membuat air mata tak sanggup untuk tidak menetes. Kerinduan yang selama ini terbendung, tersalur dalam derasnya aliran air mata di pipi.
Diatas sana, kelima orang berwajah sama dengan pakaian berbeda menatap pilu dari bawah. Ketika seorang bersayap menyadarkan mereka, disaat itu pula mereka terbang menuju dunia berikutnya.
"Semoga kita bertemu di dunia berikutnya, aku akan menunggu kalian disana^^"
END
A/N: Doooohh apa banget yang gue bikin :'v/tatap horror layar laptop/ maksa banget ya? Sorry guys~~ bahahaha :'v satu ff telah selesai, semoga ff lain juga ^^. Sampai jumpa di FF selanjutnya^^/ tau kok ffku gak bagus, rada maksa dan gak dapet feel. Buahahahhaaa.. karena aku gak peduli /nari bareng keong/?
Salam Asem Manis
Nanas~
