.
.
.
.
© Title: Family Rush!©
.
Author:
Queen Winkata
.
Cast:
Kim Seokjin as Jin
(Putera Pertama, si Sulung Keluarga Kim)
Kim Jiwon as Bobby
(Putera Kedua; kembaran tak identik B.I/Hanbin)
Kim Hanbin as B.I
(Putera Ketiga; kembaran tak identik Bobby/Jiwon)
Kim Hyunsoo as Rany
(Putri Pertama sekaligus bungsu keluarga Kim)
.
Support Cast:
Kim Wonshik as Father of 4 Kim's Siblings
(cuman sebut nama untuk beberapa chaptere kedepan)
Cha Haekyeon as 'Mother' of 4 Kim's Siblings
(cuman sebut nama untuk beberapa chaptere ke depan)
Kim Taehyung as V
Kim Donghyuk as Donghyuk
Kim Jinhwan as Jinhwan
Koo Junhoe as Junhoe
and more cast
(penjelasannya nyusul beserta cast lain)
.
Genre:
Humor , Family, Romance, Friendship
(genre lain menyusul)
Disclaimer:
All chara belongs to themselves and GOD.
Tapi ini cerita punya saya, ide pun dari saya juga.
Summary:
Hari ini Tahun Ajaran Baru sudah dimulai!
Yang berarti Audisi untuk masuk ke Seongnam Art Senior High School sudah dimulai! Si Bungsu Kim, Rany sangat menantikan hari ini. Begitu juga dengan calon siswa-siswi yang mengikuti audisi tersebut, jangan lupakan Junhoe dan Donghyuk yang ternyata juga mengikuti audisi tersebut.
Apakah audisi ini berjalan lancar seperti harapan bungsu Kim ini?
Lalu bagaimana jadinya jika Junhoe menyatakan cinta pada si pecinta Panda itu seusai mereka melakukan audisi?
Warning:
Fiction ini terinspirasi dari sebuah Manga yang berjudul Family Rush! Karya Kuze Mizuki. Bagi yang udah pernah baca Manga ini jangan heran jika ada beberapa alur di fiction ini yang sama dengan Manga yang kusebut tadi. Tapi akan aku buat beda dengan imajinasiku sendiri. Pokoknya ini bener-bener beda dan ini tentang Family, adegan romance kujejelin berkala/?.
GaJe, OOC (maybe) Yaoi with little bit Straight ^w^
Don't like, don't read!
Just go to [X]
Nb:
Ide membuat fanfic ini berdasarkan dari ide bajret yang tiba-tiba lewat, entahlah akan jadi apa fanfic ini^^
Queen Winkata Present ^~^
Pagi hari, di kediaman Kim
"Bagaimana persiapanmu Hyunsoo-ah?" tanya Jin disaat ia dan ke-3 adiknya sedang sarapan bersama. Well, hari ini Tahun Ajaran Baru sudah dimulai. Pertanda untuk Jin, Bobby dan B.I untuk kembali ke rutinitas sekolah yang melelahkan. Dan pertanda untuk Rany yang harus melewati sesi Audisi karena ingin bergabung bersama dengan saudara-saudaranya di sekolah bergensi tersebut.
"Sempurna kak Jin, hanya saja. . ." si bungsu memainkan makanan di piringnya, gadis bersurai perak itu nampak ragu. B.I yang duduk disamping adik perempuannya itu tersenyum tipis, diusapnya surai lembut sang adik.
"Kau pasti bisa melakukannya, adikku sayang."
Bobby dan Jin menganggukkan kepala mereka kompak berusaha untuk menyemangati adik kecil mereka itu.
"Hmm, Gomawo." dengan senyum kecil yang begitu manis, gadis itu kembali ceria. Sarapan pagi kala itu benar-benar menunjukkan bagaimana harmonisnya hubungan persaudaran Kim bersaudara tersebut.
.
.
.
.
.
"Serius tidak ingin berangkat bersama kami?" tanya Bobby pada adik bungsunya yang tengah menggendong tas gitar kesayangan gadis tersebut. Gadis itu hanya menjawab dengan gelengan kepala pelan.
"Baiklah jika itu keinginanmu, hubungi kami jika kau sudah sampai disana oke?" Jin menghampiri adik bungsunya itu, pemuda dengan bahu lebar itu menatap sang adik sejenak. Tidak ia sangka jika sekarang adiknya sudah tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa secara fisik dan penampilan, karena selama ini ia hanya memandang adik kecilnya ini layaknya bocah 5 tahun yang harus selalu dijaga kemanapun perginya. "Kami akan selalu bangga padamu."
"Terima kasih kak Jin." senyuman manis gadis berpredikat bungsu itu pada si sulung, Jin yang hampir mengusak pelan surai sang adik sedikit terkejut begitu adik kecilnya itu memeluk erat tubuhnya. "Aku sayang padamu."
"Aku juga sayang padamu, adikku. Begitu juga dengan Bobby dan B.I" balas Jin dengan mengusap sayang punggung sang adik. Bobby yang melihat lirikan Jin, segera menarik tangan adik kembarnya dan memeluk tubuh Jin yang juga tengah memeluk adik bungsunya. "Kami semua, sayaang padamu!"
Tawa yang begitu manis di pagi hari yang cerah ini, membuat semangat pagi Kim bersaudara untuk menjalani hari pun juga ikut membumbung tinggi. Ke-empat bersaudara itu tersenyum dan saling menatap satu sama lain. "Kau pasti bisa, Rany."
"Ya, aku bisa kakak-kakakku tersayang."
"Semoga, semuanya berjalan sesuai dengan rencana." ucap Rany sebelum ia menutup pintu utama rumahnya. Dengan langkah santai gadis manis dengan surai perak itu menuju halte bus yang berada tak jauh dari kompleks perumahan tempat dimana ia tinggal.
Menunggu bus datang cukup membuat gadis itu bosan, sambil menunggu bus tujuannya gadis Kim itu mengeluarkan ponselnya dan mulai larut dengan game yang ia mainkan. Bahkan ia sampai tidak sadar dengan kehadiran seorang pemuda berambut pirang disampingnya.
"Arghh! Game menyebalkan!" gerutunya sebal, ekspresi cemberut muncul di wajah manis itu.
"Seru sekali, kau main apa?" tanya pemuda itu, yang sontak membuat Rany menolehkan kepalanya ke arah pemuda tampan tersebut. "Ya! Apa yang kau lakukan disini sih!" gadis Kim itu balas bertanya, dan ekspresi kagetnya menjadi suguhan untuk pemuda bermarga Koo tersebut.
"Seperti yang kau lihat darl, aku menunggu bus datang bersamamu." jelasnya dengan wajah lempeng, Junhoe merapatkan dirinya ke arah Rany yang kian mendelikkan kedua mata besarnya itu. "Bukankah aku sudah mengatakannya kemarin jika kita akan berangkat bersama hmm?"
"Cih, jangan harap ya aku berangkat bersamamu." balas Rany dengan nada ketus. Gadis dengan surai perak itu membenarkan tas gitar yang sedang dia gendong. Ucapan ketusnya itu hanya dianggap angin lalu oleh Junhoe, itu terbukti karena Junhoe hanya menatap gadis itu dengan pandangan memuja.
Pemuda ini lebih terlihat seperti seorang yang freak daripada orang yang jatuh cinta.-batin Rany sadis.
Beruntung bus tujuannya berhenti tepat setelah ia beradu argument (?) dengan pemuda Koo aneh itu. Dengan langkah cepat gadis itu segera memasuki bus tujuannya dan duduk dikursi paling belakang. Ia tidak begitu suka duduk dikursi depan, entah kenapa.
Baru saja ia mendaratkan pantatnya dikursi belakang, pemuda dengan rambut blonde itu sudah duduk disebelahnya. "Hai manis~" sapa pemuda itu dengan senyuman mematikan. Rany yang melihat hal itu memasang ekspresi malas. "Berisik."
Pemuda Koo itu nampak cemberut mendengar gerutuan gadis incarannya itu, tapi sepertinya Junhoe tidak segampang itu menyerah. "Kau akan menampilkan apa nanti?"
Rany yang semula memperhatikkan jalanan, menoleh ke arah pemuda cerewet disampingnya. "Bagaimana bisa ada laki-laki cerewet sepertimu eoh?" gadis itu memasang wajah sinis, "Tentu aku tidak akan memberitahumu, dasar bodoh."
"Aku kan hanya ingin tahu." Junhoe memasang wajah jutek, lelah juga jika dijuteki seperti itu. Rany pun tak ambil pusing dengan reaksi pemuda disampingnya. Ia kembali hanyut dalam lamunannya, sambil memperhatikkan jalanan.
Tanpa gadis itu sadari, pemuda disampingnya justru memusatkan perhatiannya pada dirinya. Junhoe tersenyum tipis, entah apa yang ada di benak pemuda itu, tapi yang jelas itu berkaitan dengan gadis Kim disampingnya.
Tunggu!
Bukankah Junhoe anak orang kaya-well siapa sih yang tidak tahu putra tunggal keluarga Koo yang terkenal sebagai jutawan Korea Selatan ini. Tapi, kenapa Junhoe tidak berangkat dengan mobil kesayangannya saja dan memilih berangkat menggunakan bus? Jawaban pastinya adalah karena gadis disampingnya ini. Ingin lebih dekat tentunya dengan gadis yang berhasil menarik perhatiannya itu.
"Junhoe-ssi." Junhoe yang merasa namanya terpanggil mengerjapkan kedua matanya bingung begitu dilihatnya gadis pujaannya tengah menatapnya dengan pandangan serius. "Err, ya?" jawabnya dengan nada ragu, takut sekali karena dia ketahuan memandangi intens gadis Kim itu.
Rany nampak menghela nafas, tidak ambil pusing tentang Junhoe yang kedapatan memandanginya intens. "Darimana kau kenal kak Hanbin?"
Gadis itu sepertinya masih penasaran bagaimana kakak tersayangnya itu bisa mengenal makhluk bernama Junhoe ini.
"Sebenarnya pertama kali kami bertemu di suatu perkumpulan Penyuka Michael Jackson. Yah diperkumpulan itu tidak hanya membahas tentang music, tapi juga dance dan fashion. Sedikit melenceng dari nama perkumpulannya memang. Tapi yah karena perkumpulan itu aku mengenalnya." jelas Junhoe. Rany menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Tak terasa, perjalanan menuju Seongnam Art Senior High School tidaklah memakan waktu banyak. Bus yang ditumpangi Rany dan Junhoe berhenti tepat di pemberhentian bus yang tak jauh dari Sekolah Seni tersebut.
Setelah turun dari bus, kedua berjalan beriringan. Terlihat begitu banyak anak seusia keduanya yang berjalan ke arah Seongnam Art SHS. Bisa dipastikan jika mereka juga mengikuti audisi di sekolah seni bergensi itu.
"Ah, kemana ponselku." Rany terperanjat kaget begitu diingatnya pesan kak Jin yang memintanya untuk segera menghubungi kakak tertuanya itu begitu ia sampai di tempat dimana sang kakak menuntut ilmu. Gadis itu nampak sibuk mencari ponselnya. Entah dikantung long pants hitam yang ia kenakan ataupun di kantung coat yang ia kenakan.
"Kau mencari sesuatu?" Junhoe bertanya dengan pandangan bingung, gadis disampingnya nampak membutuhkan bantuan. Rany menolehkan kepalanya ke arah pemuda tampan itu. "Apa tadi kau melihat ponselku Junhoe-ssi?" tanya gadis itu dengan wajah putus asa.
"Coba cari dikantung celanamu. Dikedua kantungnya yang aku maksud."
"Sudah kuperiksa, dan tidak ada."
"Bagaimana dengan coat?"
"Tidak ada! Aku sudah memeriksanya."
"Yakin? Coba kau periksa ulang."
Mendengar perkataan Junhoe, Rany pun kembali menggeledah coat hitam yang ia kenakan. Disemua kantung terutama. Gadis itu tak berhenti menggerutu. Kedua matanya membola begitu jemarinya menyentuh sesuatu. Dengan riang ia menarik keluar benda tersebut. Dan yah, itu ponselnya. "Ponselku! Y-ya, p-ponselku." pekik Rany riang, tapi nada riang itu perlahan hilang begitu Junhoe menatapnya remeh. Gadis itu memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat tipis di pipi gembilnya.
"Harusnya kau bilang apa gadis manis?"
"Ck, okey. Thanks Mr. Koo Junhoe, bantuanmu SANGAT membantuku."
Junhoe tertawa terbahak setelah Rany mengakui jika ia berterimakasih atas suruhannya tadi. Rany memasang wajah cemberut. Alis tebal ini benar-benar menyebalkan, batin Rany kesal.
Memilih meredakan emosinya, gadis itu berkutat pada ponselnya. Dan setelahnya membawa ponsel itu ke arah telinganya yang terhiasi berbagai macam piercing. Tanda jika ia sedang menghubungi seseorang.
Drrt~~ drrtr~~
"Halo? Kak Jin!" begitu sambungan telfon tersebut disambut oleh pihak seberang yang ternyata adalah kak Jin-nya, Rany menyapa dengan antusias.
"Oh, akhirnya kau menelfon juga. Dimana kau sekarang hm?" terdengar nada lega dari perkataan Jin, pemuda diseberang line telfon itu menghembuskan nafas lega.
"Eum, aku berada di pintu masuk Seongnam kak." Rany memberitahu keberadaannya sekarang, yah dirinya dan juga Junhoe yang kini mencari Donghyuk-yang secara paksa berangkat sendirian karena titah seenaknya Junhoe. "Dimana tempat mendaftar ulangnya kak?"
"Kau hanya perlu pergi ke aula utama, ajak juga Junhoe dan Donghyuk. Persyaratan kalian sudah kakak urus. Kakak tunggu di backstage, okey?" Gadis itu memekik senang, well kakak tertuanya itu memang terbaik-jika memang sedang baik. 'Tapi, tunggu. Kak Jin bilang Junhoe dan Donghyuk? Wait! It's okay for Donghyuk. Tapi, kenapa harus dengan si alis tebal menyebalkan dan bodoh itu sih!' –Rany tak habis pikir dengan permintaan kakaknya itu.
"Tidak ada tapi little Kim. Sampai bertemu di backstage!"
BIP!
Gadis dengan surai perak itu memasang wajah tidak percaya, ia bahkan belum sempat mengucapkan sepatah katapun! Dan Jin sudah memutuskan sambungan telfon mereka! Oh, Great!
"Hei! Apa yang kau bicarakan dengan kak Jin?" Rany memasang wajah tertekuk sebal begitu dilihatnya Donghyuk datang bersama Junhoe, si alis tebal menyebalkan dan bodoh.
"Tidak usah banyak tanya, ikut aku sekarang." gadis Kim itu membalas pertanyaan Junhoe dengan jutek, ia juga tidak memperdulikan Junhoe yang kesal karena dirinya ditinggal olehnya dan Donghyuk yang sengaja ia tarik.
Dia sedang kesal, dan butuh pelampiasan.
Maybe?
.
.
.
.
.
"Lama sekali kalian datang." Jin, Bobby dan juga B.I (oh ada 1 pemuda manis yang berdiri disamping B.I ternyata.) mengernyitkan dahi bingung. Wajah Rany nampak tertekuk sebal dan bibirnya mengerucut membentuk pout lucu yang jujur terlihat menggemaskan bagi Bobby si kembar pertama. Menggemaskan untuk dicubit maksud Bobby.
"Ah, annyeong haseyo~" sapa Donghyuk dengan senyuman manis pada 4 orang dengan seragam Seongnam Art SHS yang berada didepannya. 3 bersaudara Kim balas tersenyum manis ke arah pemuda manis tersebut, terlebih Bobby yang mengedipkan mata genit. Dasar Bobby.
Sekejap, pemuda manis yang berada disamping B.I membulatkan kedua mata sipitnya begitu melihat sosok Donghyuk. "D-donghyuk?"
Donghyuk pun ikut membulatkan kedua matanya dan berekspresi kaget, "Kak J-Jinhwan? I-itukah kau?"
Kini B.I, Bobby, Jin dan Rany yang berganti memasang ekspresi bingung dengan suasana yang tiba-tiba tercipta. "Kau mengenal Donghyuk, Jinanie baby?" tanya B.I pada kekasihnya, Kim Jinhwan. Pemuda sipit itu menganggukkan kepalanya kuat, airmata nampak menggenang menyelimuti almond bening pemuda tersebut.
Pemuda bertubuh mungil tersebut -ia lebih suka dikatai mungil dibanding dikatai pendek walau kata mungil dan pendek memiliki arti yang sama sebenarnya, tapi ia benci dengan kata pendek- menghampiri Donghyuk yang masih shock, dan memeluk erat tubuh bongsor Donghyuk. "Dia adalah adik sepupuku yang selama ini kucari-cari Hanbin-ah." ucap Jinhwan dengan nafas tersendat, tapi senyuman manis kini menghiasi wajah manisnya begitu Donghyuk membalas pelukannya.
Rany menyenggol Junhoe yang malah sibuk dengan ponselnya, "Ya!" dan Junhoe menoleh, pemuda itu menatap gadis disampingnya bingung. "Apa?"
Rany menunjuk ke arah Jinhwan dan Donghyuk yang sedang berpelukan, dan 3 saudaranya yang masih memasang ekspresi melongo. "Kau tidak kaget?"
"Oh, aku sebenarnya sudah tahu. Hanya saja aku ingin membiarkan Donggu tahu dengan sendirinya." ucap Junhoe dengan nada yang cukup bijak, dan jujur Rany sedikit tidak percaya jika Junhoe bisa berkata sebijak itu.
"Jadi kau sudah kenal dengan kak Jinhwan sejak lama?" gadis bersurai perak itu berbisik ke telinga Junhoe yang dihiasi 1 macam piercing. Gadis Kim itu nampaknya penasaran tingkat akut.
"Akan kujelaskan nanti." Junhoe balas berbisik, kemudian ia sedikit memberi jarak dengan si bungsu Kim. Lagipula Jinhwan dan Donghyuk tampaknya sudah selesai
menangis berpelukan, lebih baik ia tidak terlalu macam-macam pada bungsu Kim ini. Mata sipit Bobby terlihat jelas sedang mengawasinya sedari tadi.
Jin tersenyum kecil melihat bagaimana gugupnya adik perempuannya ini, anak gadis satu-satunya Kim Wonshik tersebut mondar-mandir gelisah dihadapan ke-3 kakak laki-lakinya. "Ya Tuhan bagaimana ini? Aku belum siap!"
Bobby menarik lengan sang adik, dan membawa gadis itu untuk duduk diantara dirinya dan Jin, "Hei, rileks baby panda." ujar Bobby sembari mengusap surai perak adiknya itu, ia bahkan mengusapnya sangat pelan agar tatanan rambut sang adik tidak rusak.
"Aku takut." Rany menatap Bobby dengan pandangan memelas, sekilas terlihat jelas airmata yang nampak menumpuk di ujung manik kecoklatan itu. "Bagaimana jika aku mundur saja? Aku pulang saja ya kak."
Jin, Bobby, B.I, Jinhwan, Donghyuk -sekarang adalah giliran Junhoe, pemuda itu sedang melakukan audisinya- melototkan mata kaget, ke-5 pemuda itu tentu kaget dengan perkataan Rany. Terlebih Rany sudah berancang-ancang meninggalkan backstage aula Seongnam Art SHS.
B.I menarik pelan kerah kemeja hitam yang dikenakan sang adik, "Mau kemana hm?" Rany menatapnya dengan pandangan memohon. "Hehehehe, pulang kak." jawab gadis itu sambil cengengesan, dan B.I justru menyeretnya untuk kembali duduk di kursi yang tersedia di backstage.
"AAAAAAAAA, biarkan aku pulaaaang. Aku tidak sanggup berada disini!" pekik gadis Kim tersebut begitu kakak ketiganya itu menyeret tubuhnya, ia mencoba melakukan perlawanan dengan berusaha terlepas dari cengkraman B.I.
Bobby turun tangan membantu adik kembarnya yang sepertinya kesusahan menenangkan-jika bisa disebut seperti itu- adik terakhir mereka. Pemuda bergigi kelinci itu mendekap gadis bersurai perak tersebut dan mendudukkan bokong gadis itu ke kursinya tadi. "Diam, dan tenangkan dirimu. Ini bukan akhir dunia Kim Hyunsoo."
Rany menundukkan kepalanya dalam begitu Bobby memanggilnya dengan nama lengkap, well itu pertanda bahaya baginya. Entah kenapa pikirannya begitu kacau, ia seperti tidak tahu harus melakukan apa.
Cklek
Satu-satunya pintu yang ada di backstage itu terbuka, menampilkan sosok Junhoe yang tersenyum puas, dan jujur Rany sedikit mengakui jika senyuman itu begitu mempesona. Sepertinya pemuda itu berhasil melalui tahap audisinya.
Pemuda itu lalu menghampiri Donghyuk yang juga sudah selesai dengan tahap audisinya. "Bagaimana tadi?" tanya Donghyuk, pemuda manis itu duduk bersama dengan Jinhwan yang tengah memainkan helaian rambutnya pelan.
"Sesuai dengan apa yang aku inginkan." jawab Junhoe sombong, nadanya terkesan angkuh sekali. Tanpa sadar Rany mengerucutkan bibirnya lucu. 'Cih, sombong sekali dia', batin Rany kesal. Karena perkataan Junhoe yang terkesan sombong itu semakin membuat gadis Kim tersebut gugup bukan main.
Hening beberapa saat, sampai. . .
"Peserta no.311! Silahkan masuk!"
Panggilan tersebut cukup membuat Rany dan saudara-saudaranya terkejut. Jin memeriksa nomor audisi yang tersemat di kemeja hitam sang adik, "Masuklah, kau pasti bisa."
Rany menggigit bibir bawahnya ragu, haruskah ia masuk sekarang? Demi boneka panda koleksinya yang hampir memenuhi setengah kamarnya, ia sangat takut dan gugup.
Junhoe yang melihat betapa gugupnya gadis Kim yang menjadi incarannya itu mendekat ke arah gadis perak tersebut. Dengan perlahan pemuda itu memegang lembut pundak kecil gadis Kim itu, "Tenang, Rileks. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Oke?"
Rany mencoba mengikuti perkataan Junhoe, ditariknya napas kuat dan menghembuskannya secara perlahan melalui mulut kecilnya. Ia tersenyum manis setelah merasa ia sedikit tenang. "Terimakasih, Junhoe-ah."
Junhoe balas tersenyum tampan, dan menganggukkan kepala pelan. Dan gadis Kim itu pun memasuki ruang audisi.
.
.
.
.
.
.
Begitu masuk ke ruangan audisi, rasa gugup yang berhasil ia kendalikan kembali muncul. Membuat gadis Kim yang semula percaya diri kembali gemetaran, terlebih para juri yang memandangnya dengan pandangan yang seolah menelanjanginya.
Ia berdiri di tengah stage, langsung berhadapan dengan 3 juri yang telah menunggunya.
"Kim Hyunsoo, usia 16 tahun. Benar?" tanya salah satu juri yang tengah membaca selembar kertas yang sepertinya berisi profilnya. Rany pun menganggukkan kepalanya, "Ya, benar."
"Apa yang ingin anda perlihatkan pada kami?"
"Saya akan menyanyi diiringi gitar akustik dan melakukan dance cover."
"Baiklah, silahkan."
Setelah dipersilahkan, gadis Kim itu segera mengeluarkan gitar kesayangannya dari dalam tas gitar yang ia bawa. Ketika menoleh kesamping kiri sudah tersedia sebuah kursi. Mungkin dia-nya saja yang tidak sadar jika panitia audisi ini menaruh kursi disampingnya.
Dengan pelan ia mendudukkan tubuhnya di kursi tersebut, sedikit mengatur nada pada gitarnya. Dan setelah dirasa pas, gadis itu mulai memetik senar gitar tersebut dengan lembut.
"There's a fire starting in my heart. Reaching a fever pitch and it's bringing me out the dark." dengan penuh percaya diri, bungsu Kim itu memulai penampilan solo singingnya. Dengan petikan gitar bernada slow ia memulai awal lagu yang ia bawakan.
"Finally, I can see you crystal clear. Go'head and sell me out and I'll lay your ship bare." suara gadis bersurai pendek tersebut terdengar begitu merdu nan manis, sedikit cempreng memang tapi itu semua bukan masalah untuknya. 2 diantara 3 juri di ruangan audisi itu sempat terkagum dengan suara manis nan merdu Rany.
"The scars of your love remind me of us, They keep me thinking that we almost had it all. The scars of your love, they leave me breathless. I can't help feeling." petikan gitar tersebut mulai terdengar berbeda, sedikit cepat temponya. Rany seperti menguasai kegugupannya dengan menutupinya dengan kepiawaiannya memainkan gitar.
"We could have had it all." dengan nada tinggi yang sesuai Rany melantunkan bait lagu kesukaannya itu, dan gadis itu kini beralih ke nada rendah yang sangat mengagumkan, "Rolling in the deep."
Dan kembali ke nada tinggi dengan suaranya yang khas, "You had my heart inside of your hand," lalu kembali lagi ke nada rendahnya. "But you played it to the beat, Yeah~"
.
.
.
.
.
Jin, Bobby, B.I, Jinhwan, Donghyuk dan Junhoe menengok ke arah layar minitor yang tersedia di backstage, mereka melihat jika Rany telah meletakkan gitar kesayangannya dan mulai mengambil mic di stand mic yang ada dihadapannya. Gadis itu bangkit dari bangkunya.
"Piryo eobseo ireon jijeobunhan keotdeul. Nae cheongchuneul da buswobeorin jeokdeul. Nuguneun geurae yesul shini jushin seonmul. Naege isseoseon geunyan shin'e hemanggomul." Gadis itu memulai bagian rapnya dengan sangat apik, tidak kehabisan nafas apalagi tersendat. Sempurna sekali. Gaya swagnya begitu membuat Bobby iri, kharisma adiknya benar-benar tiada duanya jika sudah terlarut ke dunia rap.
"Yeah nae cheongchuneun gomul. Gabakhan sesange nataehaejyeoganeun nae moseub. Yeah jibjunghaetdeon manheun nun. Daeshin nunbodaneun sikkereoun jansorideulppun." Gadis itu berusaha untuk menguasai stage yang ia pijaki, sesekali menggerakkan tangannya sebagai bahasa tubuh dari lagu tersebut.
"Saramdeuleun geurae yesuliyamallo areumdaum. Hajiman geugeol kkumkkuneun geon eoriseokeun maeum." Rany kembali duduk di kursinya, memasang kembali micnya di standmic dan mengambil gitarnya. Memangkunya kembali.
"But nan dasi ireonan daeum. Sijakhalke kkumeul wihan na'e mu'emihan ssaum."
Dan setelahnya gadis itu kembali beradu dengan petikan gitar yang membuat orang-orang yang ada di dalam ruang audisi maupun di backstage terkagum dengan taktiknya menguasai panggung.
"Wow, apa kalian berdua yang membantunya selama latihan?" tanya Jinhwan dengan tatapan yang tak lepas dari monitor yang tersedia di backstage hall sekolah mereka. Monitor yang tengah menampilkan aksi memukau adik kekasihnya.
B.I dan Bobby mengangkat bahu tanda tak tahu, "Tidak, kami bahkan tidak melakukan apapun. Sepertinya ia yang merencanakannya sendiri." kata B.I yang tersenyum lembut sambil memperhatikan aksi memukau adik bungsunya. 'Kau benar-benar membuat kejutan baby panda.'
"Adikku memang hebat!" Bobby nampak heboh sendiri, pemuda itu langsung mengambil ponselnya dan merekam aksi sang adik. Jin tersenyum senang, well setidaknya usaha keras adik kecilnya itu akan terbayarkan nantinya. Jin yakin jika adiknya akan diterima masuk di sekolah bergengsi ini.
Donghyuk bertepuk tangan kagum begitu dilihatnya teman barunya itu mengeluarkan nada tinggi yang khas di bagian menuju akhir lagu. Sepertinya pemuda manis itu ingin belajar banyak dengan bungsu keluarga Kim itu.
Lain Donghyuk lain pula dengan Junhoe, reaksi pemuda tampan itu justru terbengong dengan wajah bodoh yang sangat jelek-itu menurut Bobby yang tidak sengaja melihat ekspresi bodoh pemuda Koo tersebut. Mulut terbuka lebar dan kedua mata yang melotot tak percaya akan apa yang ia lihat melalui layar monitor.
Gadis incarannya begitu mengagumkan, ia sungguh berbakat.
Si bungsu Kim itu berhasil menyelesaikan penampilan menyanyi solo dengan gitar akustiknya. Terlihat gadis bersurai perak itu membawa gitarnya ke pinggir panggung. Dan kembali ke tengah panggung, setelah mengangguk ke arah panitia yang memberi suatu kode padanya.
Alunan musik piano terdengar, gadis itu memposisikan dirinya seolah membungkuk dengan 2 tangan terjuntai di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Beberapa detik kemudian ia menegakkan tubuhnya dengan menggerakan seluruh badan bagian atasnya, lalu tangan kanan yang mengarah ke atas dan tangan kiri yang berada di tangan kanannya yang seolah menyangga tangan kanannya yang terbalutkan kemeja hitam kebesaran tersebut. Lalu tangan kanan yang turun dengan cepat dan menekuk dimana telapak tangan saling bertumpu. Lalu posisi kedua tangan tadi berputar ke arah 90 derajat kearah kiri dan lengan bawah tangan kanan turun kearah siku lengan bawah tangan kiri dan lengan bawah tangan kiri yang berada di atas lengan bawah tangan kanan (lebih lanjutnya silahkan liat INFINITE Last Romeo Dance Practice, maap penjabarannya hancur begini T^T ). Gerakan gadis itu terlihat bertenaga dan luwes.
"Nan neo bakken an boinda."
Setelah intro dance dari lagu tersebut selesai, terdengar kembali intro music pembuka dari lagu tersebut.
Walau hanya latihan selama beberapa hari, itupun tersendat karena kakak tertuanya melarangnya berlatih terlalu keras, namun gadis itu sanggup menarikan koreo lagu tersebut sama persis dengan koreo yang dilakukan penyanyi aslinya.
Ekspresi yang tak lupa dimainkan, begitu apik ditampilkan gadis yang tengah berjuang di dalam ruangan audisi tersebut.
"Gireul barkhyeojwo, ije wonteun maldeun seontaegeun kkeutnasseo."
"Naui jeonbureul da geolgesseo."
"Jikyeo nael geoya, eotteon eoryeoun yeojeongi doenda haedo."
"Nan neo bakken an boinda."
Juri cukup terbengong melihat penampilan gadis tersebut, karena ternyata gadis tersebut menari sekaligus menyanyi. Yah walau tidak seluruh part yang ia nyanyikan, hanya beberapa part yang sekira sanggup ia nyanyikan partnya.
"Kkochi sideureo nalligo, dareun giureo sarajyeo gado."
"Byeonhaji anheul nae maeum, saranghanda saranghanda."
Sampai kembali ke reff yang diulang kedua kali, gadis tersebut masih pada gerakannya yang luwes dan tak ada kesalahan sedikitpun.
Ia terus menari sesuai dengan gerakan yang sudah ia latih selama ini, yang ia pikirkan adalah menyelesaikan semua ini dengan sempurna dan berharap jika hasil audisinya ini dapat mengantarkannya untuk masuk ke sekolah yang sama dengan ke-tiga kakaknya.
"Anak ini benar-benar. . ." Jin terkagum dengan hasil latihan keras adik kecilnya itu, dia tahu jika adiknya itu mencuri kesempatan berlatih kembali di studio mininya dengan mengendap-endap dimalam hari, dimana kebanyakan manusia tengah beristirahat melepas lelah.
Tapi sekarang, Jin benar-benar bangga dengan usaha keras gadis kecil keluarga Kim itu.
"Sarang hanae sesanggwa gyeoruryeoneun majimak, geu namjaga dwaejugesseo."
"Eotteon wihyeopdo neol wihaeseon matseol suitjanha, nan neoman isseumyeon dwae."
3 juri disana nampak berdiskusi melihat penampilan Rany, ke-3nya menganggukkan kepala sepakat dan kembali mencatat sembari melihat penampilan gadis tersebut.
"Neon machi mirogachi bokjaphae wae jakkuman mireonae nal mideo neoi Romeo."
"Naegen neo bakken eopda."
Begitu lirik terakhir dari lagu itu terucap, gadis itu memposisikan dirinya untuk duduk dilantai dengan kaki kanan tertekuk dan tangan kanan yang terangkat ke atas.
Dengan nafas yang terengah-engah gadis itu mengakhiri penampilannya yang memukau. Dan tak disangka-sangka, ke-3 juri disana bertepuk tangan. Rany pun bangkit
dan membungkukkan badannya, tak lupa senyuman manis tersemat di wajahnya.
"Aigoo~ Adikku ini benar-benar ya . . ." dengan rasa bangga yang tak terkira, Bobby merangkul leher adik perempuannya itu dan mengusak sayang surai perak sang adik. Dan tumbenan sekali, Rany tidak marah akan ulah sang kakak ke-duanya itu. Ia malah tertawa. "Hahaha, memangnya ada apa denganku kak Bobby?"
"Penampilanmu tadi itu memukau tahu! Ya kan Hanbin-ah?" B.I menganggukkan kepala tanda setuju akan pernyataan Bobby, pemuda itu mencubit pelan pipi sang adik. Kebetulan sekali ke-3 Kim bersaudara itu duduk di satu kursi panjang yang ada di kantin Seongnam Art SHS. Dimana posisinya adalah B.I, Rany baru Bobby.
Tak lupa juga Jinhwan, Donghyuk, Junhoe dan Jin yang duduk di seberang ke-tiganya.
"Dapat ide darimana hm?" tanya B.I, pemuda itu melepaskan cubitannya begitu sang adik merintih kesakitan. Gadis bersurai perak itupun tersenyum manis. "Rahasia~ Hahahaha."
Bobby dan B.I langsung cemberut mendengar ucapan Rany yang terdengar sok rahasia sekali. Keduanya kini saling menarik kedua pipi sang adik dari sisi yang berbeda. B.I menarik pipi kiri Rany dan Bobby menarik pipi kanan Rany. Dan yah karena ulah mereka, suasana meja mereka nampak sangat ribut. Apalagi Rany meronta minta dilepaskan sambil menarik rambut ke-dua kakaknya itu.
"Dongie-ya~ Penampilanmu tadi juga bagus kok~ Latihan berapa lama?" Jinhwan mengalihkan pandangannya ke arah Donghyuk yang ikut tertawa melihat pemandangan B.I, Rany dan Bobby yang kini saling tarik menarik rambut dan pipi. Pemuda manis yang dipanggil pun menoleh, masih dengan senyumannya yang begitu manis. "Makasih kak Jinanie~! Umm, tidak lama sih. Hanya 1 minggu penuh berlatih bersama manusia jelek disampingmu itu."
Junhoe mendelikkan kedua matanya begitu merasa Donghyuk tengah menatapnya dengan tatapan menyalahkan. "Kenapa? Kenapa kau menatapku begitu!?"
"Lihatkan kak? Dia begitu menyebalkan." adu Donghyuk pada Jinhwan, Jinhwan hanya tersenyum dan mengusak sayang surai coklat sang adik sepupu. Ia tidak mau banyak masalah, wajah Junhoe sudah tidak enak sekali untuk diajak bercanda soalnya (?).
"Junhoe-ah, penampilanmu tadi juga bagus. Suaramu ternyata enak didengar juga ya." Jin mencoba memuji calon kekasih adik kecilnya itu, bukan bermaksud mengejek sih, itu kata-kata refleks saja. Junhoe tersenyum kearah calon kakak ipar (?)nya itu, "Terimakasih kak. Aku sempat mengira jika aku tidak akan berhasil melakukannya."
B.I, Rany dan Bobby terlihat sudah sedikit tenang dengan kegaduhan yang mereka buat. Rany memandang ke arah Junhoe yang kini tengah memandangnya dengan tatapan memuja maybe?
Bobby yang melihat hal itu juga mendelikkan kedua mata sipitnya ke arah Junhoe yang kini balik memandangnya tajam.
"Err, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Rany entah pada siapa, tapi semua yang ada di meja mereka mengalihkan pandangan ke arah gadis bersurai perak tersebut.
"Kau ingin bertanya apa hm?" balas Jinhwan yang kini tersenyum manis, pemuda manis itu berfirasat jika adik perempuan kekasihnya itu ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya dari kejadian tadi pagi.
"Karena kebetulan kak Jinhwan yang menyahut, aku ingin menanyakan yang tadi pagi." Jinhwan tersenyum, benarkan feelingnya?
"Bagian mana yang ingin kau tahu Rany-ah?" tanya Donghyuk, pemuda manis itu ikut bersuara. Pasalnya kejadian tadi pagi kan menyangkut dirinya juga. Rany tersenyum antusias, "Eum bagaimana bisa kalian yang sepupuan ini berpisah?"
B.I menganggukkan kepalanya setuju, "Kenapa kalian bisa berpisah? Dan kenapa kau mencari Donghyuk, Jinanie?"
"Jadi begini, aku dan Donghyuk adalah saudara sepupu dari pihak Ayah Donghyuk. Kami sangat jarang bertemu, karena sewaktu kecil aku tinggal di Tokyo. Sedangkan Donghyuk tinggal di Seoul, dan yah kami saling bertemu ketika liburan tiba." Jinhwan pun mempersilahkan Donghyuk untuk melanjutkan ceritanya, "Yah suatu hari ada kejadian yang menimpa keluargaku, dimana saat itu tak ada kabar lagi dari Kak Jinhwan. Setelahnya aku tinggal di rumah keluarga Koo. Dan yah beginilah jadinya. Selesai~"
Junhoe menendang pelan kaki Rany dari bawah meja, meminta perhatian dari gadis tersebut. Rany menolehkan kepalanya kearah Junhoe. Ia melihat pemuda tersebut menggelengkan kepalanya pelan.
"Oh begitu, karena sepintas kalian terlihat mirip ya?" gurau Rany dengan senyuman, membuat Jinhwan dan Donghyuk terkekeh pelan. Memang banyak yang bilang jika mereka tampak mirip, apalagi sewaktu kecil. Apalagi perawakan mereka yang sama.
"Apa ada yang lapar?" Jin melihat kearah jam dinding yang ada di kantin utama, menunjukkan pukul 11.30 AM. Well itu sudah menuju jam makan siang, pasti 2 adiknya akan merengek minta makan.
"Aku!/Aku/Aku~" suara Rany, Bobby dan Jinhwan terdengar lebih jelas, sedangkan Junhoe dan B.I hanya sekedar menyahut. Jin tersenyum manis. "Kalian ingin pesan apa?"
"Bulgogi!" ini tentu saja suaranya Rany, suara gadis itu terdengar cukup keras.
"Ramyun~" kalau ini suara Donghyuk dan Jinhwan.
"Pizza!" Bobby dan B.I melakukan high five, karena pilihan mereka sama. Dan kemudian tertawa bersama.
"Aku terserah saja." yang ini suara Junhoe. Pemuda itu memasang wajah kalem yang membuat Rany curiga. Pasti ada maunya ini anak.
"Jiwon-ah, Hanbin-ah. Disini tidak tersedia pizza oke." mendengar perkataan Jin yang memang benar adanya, kedua saudara kembar itu meringis pelan. "Kami hanya bercanda kak. Sama seperti si bungsu saja."
Rany mendelikkan kedua mata kaget, ia menarik kerah kemeja sekolah Bobby yang berada disampingnya, "Kau memesan Bulgogi, kau mati." ancamnya dengan nada menakutkan.
"Tapi aku ingin makan itu!"
"Tidak boleh! Daging itu milikku!"
Jin menepuk pelan keningnya, dia lupa jika kedua adiknya ini pecintanya daging. Terlebih si bungsu, ia tidak peduli jika itu kakaknya. Ia akan mengancam siapapun yang berani-beraninya memesan makanan berbau daging-apalagi pergi makan bersama dirinya.
Jin membisikkan sesuatu ke telinga Junhoe-mereka duduk bersebelahan. "Bawa adik bungsuku pergi. Hasil pengumuman audisi kalian akan diumumkan besok. Pastikan dia sudah ada di rumah sebelum petang." Junhoe langsung menganggukkan kepalannya, menandakan jika ia setuju dengan permintaan kakak tertua dari gadis incarannya.
Pemuda itu segera bangkit dari kursinya dan menghampiri gadis pujaannya yang masih sibuk adu mulut, tak banyak omong pemuda itu segera menarik lengan si gadis dan menyeretnya untuk pergi dari tempat tersebut.
Rany yang tentunya kaget diseret secara tiba-tiba begitu, memukul cepat kepala Junhoe.
"Ya! Sakit tau!" gerutu Junhoe sembari mengusap pelan bekas pukulan gadis disampingnya itu. Sedangkan sang pelaku hanya memasang wajah jutek dan kerucutan di bibir pertanda sebal.
"Hei, aku akan mentraktirmu makan. Dan sesuai janjiku tadi. Aku akan menjelaskan kenapa aku tidak kaget dengan kejadian pagi tadi."
.
.
.
.
"Aku pesan bulgogi dan sup rumput laut saja. Minumnya air putih yang dingin~" Junhoe menganggukkan kepalanya, pemuda itu menatap pelayan yang tengah mencatat pesanan gadis dihadapannya. "Untukku aku pesan 2 porsi bulgogi, minum sama seperti dia."
Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya dan mengulangi pesanan kedua remaja tersebut, setelah dirasa ia pergi untuk mengatakan pesanan kedua tamu tersebut.
"Jadi, janjimu tuan Koo?" gadis itu langsung menagih janji si pemuda Koo, membuat pemuda Koo tersebut tertawa. Gadis ini sangat ahli mengingat hm.
"Seperti perkataan Donghyuk tadi, terjadi sesuatu dengan keluarganya dan kini ia tinggal bersamaku." Junhoe memancing si bungsu untuk bertanya kembali, terbukti dengan si bungsu yang kini memandangnya dengan wajah bingung. Aigoo lucu sekali kan gadis ini?
"Memang apa yang terjadi dengan keluarganya?" tanya Rany dengan wajah penasaran ala anak kecil. Junhoe yang gemas refleks mencubit pipi chubby gadis didepannya itu. Dengan tepisan kasar cubitan Junhoe terlepas, Junhoe kembali tertawa apalagi melihat rona merah bekas cubitan di pipi Rany.
"Hahaha kau lucu sekali!" Rany semakin cemberut melihat Junhoe yang tengah menertawakan dirinya. Dengan tidak penuh perasaan, gadis itu menendang kaki Junhoe dengan cukup keras dari bawah meja. Membuahkan ringisan dari sang pemilik kaki.
"Baiklah, jangan tatap aku dengan wajah seperti itu." Junhoe masih sibuk mengusap-usap kakinya yang baru saja ditendang Rany. Sepertinya ia harus lebih berhati-hati dengan gadis dihadapannya, wajah boleh manis tapi tenaga seperti tenaga ikan paus.
"Donghyuk kehilangan orangtuanya saat ia berusia 5 tahun. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Karena kebetulan aku adalah tetangga dan teman masa kecilnya, ke-2 orangtuaku membawanya untuk tinggal bersama dirumah keluargaku." Rany yang mendengar penjelasan Junhoe menganggukkan kepalanya tanda paham, tapi ia menyadari sesuatu hal. Lebih baik ia tanyakan langsung pada Junhoe. "Eum, maaf jika ini menyinggung perasaanmu. Tapi kenapa sekarang kau dan Donghyukie hanya tinggal berdua? Kemana orangtuamu?"
Junhoe tersentak kaget, baru kali ini ada yang berani bertanya tentang keluarganya. Atau gadis ini memang tidak tahu siapa dirinya? Well setidaknya kedua orangtuanya.
Kedua orangtua Junhoe dulunya adalah Pengusaha dan Desainer ternama se-Seoul. Mereka sering muncul di media cetak ataupun media elektronik. Tapi ya sudahlah, mungkin Rany memang tidak tahu.
"Sebenarnya aku agak sensitif dengan pertanyaan semacam ini, tapi karena ini dirimu ya tidak apalah." Rany mengernyitkan dahi begitu mendengar respon Junhoe, maksud perkataannya apa coba?
Tapi gadis itu memilih diam dan membiarkan Junhoe melanjutkan ucapannya, "Ayahku bernama Koo Seunghyun, ia adalah pengusaha minuman ber-alkohol dan Ibuku bernama Kwon Jiyong ia adalah seorang desainer sekaligus model. Keduanya meninggal ketika usiaku 13 tahun. Pesawat yang mereka tumpangi disabotase dan meledak diatas lautan." Junhoe nampak begitu sedih setelah menceritakan kedua orangtuanya, membuat Rany beralih simpati ke arahnya. Gadis itu menggenggam jemari Junhoe dengan lembut, membuat Junhoe menatap gadis yang kini tersenyum lembut kearahnya.
"Kau tidak sendirian, jangan bersedih okay?" Junhoe tersenyum dengan sangat tampan. Membuat Rany cukup merona parah melihatnya. "Lagipula sejak kejadian itu aku mulai belajar hidup mandiri. Beruntung aku mampu melanjutkan semua tugas Ayahku di perusahaan dan juga menjual semua hasil desain Ibuku. Setidaknya aku mampu bertahan hidup bersama dengan Donghyuk. Karena bagiku dia bukan hanya sekedar teman, tapi juga kakak bagiku. Kami hanya berbeda beberapa bulan saja."
"Perjuangan hidupmu benar-benar keras ya? Di usia semuda itu kau harus menjalani hidup tanpa adanya orangtua. Kedua orangtuaku masih ada, hanya saja mereka tidak pernah ada untukku dan ke-3 kakakku." Rany tersenyum dengan sangat cantiknya, membuat Junhoe sedikit terpana. Gadis itu melanjutkan kembali ceritanya, "Tapi aku berharap suatu hari nanti, kami ber-6 bisa berkumpul bersama dan menghabiskan waktu bersama. Nanti aku akan mengundangmu dan Donghyuk."
Dengan tangan yang bebas, Junhoe mengusap pipi chubby Rany yang sontak memerah. "Terimakasih."
"Sama-sama Junhoe-ah." dan gadis itupun membalas senyuman Junhoe. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata tampak memperhatikkan interaksi mereka berdua. Aura kasmaran dan romantic terasa menguar di restoran & cafe itu.
Tapi siapa yang peduli dengan pandangan orang hm?
"Apa aku semenyeramkan itu sampai kau menundukkan kepalamu terus Donggu-ah?" Donghyuk mendongakkan wajahnya kaget, Bobby yang tengah sibuk menyetir terkekeh pelan melihat wajah Donghyuk yang begitu polos layaknya anak kecil.
"Aku tidak akan menggigitmu kok." Bobby tersenyum jenaka, membuat pemuda manis disampingnya ikut tersenyum. "Kalau kau jadi pacarku, mungkin tiap hari aku akan menggigitmu. Setiap bagian tubuhmu tentunya."
Blush
'Demi Tuhan, pemuda disampingnya ini benar-benar mesum sekali. Bagaimana bisa pemuda bergigi kelinci ini bisa berkata sebegitu vulgarnya didepanku', batin Donghyuk tidak habis pikir, antara kesal dan malu.
"Kak Bobby apa-apaan sih~" bukan maksud Donghyuk untuk merajuk, tapi bagaimana caranya berbicara dan nada suaranya membuat Bobby kelepasan. Pemuda tampan bergigi kelinci itu menarik Donghyuk dengan tangannya yang bebas. Dan mengecup singkat pipi kiri pemuda manis yang menatapnya kaget, dimana wajah pemuda manis itu merona hebat. Layaknya kepiting rebus yang siap santap.
"Kau manis, aku suka."
Donghyuk merasakan getaran halus di dadanya begitu melihat senyuman tampan Bobby dan perkataannya itu. Apa maksud dari kata suka yang diucapkan pemuda ini sebenarnya?
"Bagaimana kalau kita mampir ke suatu tempat sebelum pulang?"
Dan Donghyuk hanya mampu menganggukkan kepalanya, tampaknya ia masih shock dengan apa yang terjadi padanya.
Sedangkan Bobby menyeringai, ia bertekad untuk menjadikan pemuda manis disampingnya ini kekasihnya.
Dia tidak akan menyerah.
.
.
.
.
.
"Baby~" panggil pemuda tampan dengan mata sipit itu menggandeng mesra kekasih manisnya yang kini tengah sibuk memilih novel teenlite kesukaan pemuda manis tersebut. Keduanya kini sedang ada di toko buku dekat sekolahan.
Ini bahkan belum jam pulang sekolah tapi kenapa mereka sudah berkeliaran di luar sekolah? Tentu saja karena pihak sekolah memulangkan seluruh siswa-siswinya untuk memilih kandidat siswa baru dari para audisi yang sudah menyelesaikan seleksi masuk Sekolah Seni ternama se-Seoul itu.
Begitu tahu pulang cepat, Jinhwan-kekasih manis pemuda tampan itu- langsung membereskan buku-buku dan peralatan belajarnya ke dalam tas. Dan segera mencegat kekasihnya itu untuk menemaninya ke toko buku.
"Ada apa sayang~ Aku sedang memilih novel yang bagus nih." tukas Jinhwan yang merasa sedikit terusik dengan sang kekasih. Pasalnya pemuda tampan tersebut menarik-narik lengannya dengan tangan pemuda tersebut yang bebas.
"Kau mau apa sih?" tanya Jinhwan gemas, pemuda manis itu kini berdiri berhadapan dengan pemuda tampan yang tengah tersenyum genit ke arahnya. "Kau mempermainkanku hm?" B.I atau Jinhwan lebih suka memanggilnya dengan panggilan Hanbin tersenyum tampan dan mengecup singkat pipi kekasihnya itu. "Kau sibuk dengan calon-calon novelmu itu sampai mengabaikanku. Aku cemburu tahu."
Jinhwan terkekeh pelan mendengar gerutuan Hanbin. Pemuda manis itu mencubit sayang pipi Hanbin, "Hahaha, baiklah. Maafkan aku ya?"
Hanbin mengerucutkan bibirnya, kode minta cium sebenarnya. "Kumaafkan kalau kau menciumku." tak lupa wajahnya berubah menjadi wajah mesum-efek berguru pada kakak kembarnya yang agak-agak itu tentunya. Jinhwan pun merona malu, pemuda itu menepuk pelan bibir Hanbin yang mengerucut itu. "Ini tempat umum tahu. Ayo ke kasir, aku sudah menemukan novel yang kucari."
Dan keduanya berjalan beriringan menuju spot kasir yang terletak tak jauh dari tempat mereka tadi berada.
.
.
.
.
Jin memusatkan perhatiannya ke arah pemuda yang sebenarnya berwajah manis, pemuda itu tengah berlatih dengan beberapa alat yang biasa digunakan klub Karate. Yah Jin tengah mengintip pemuda yang tengah berlatih di ruangan klub Karate. Ketua Dewan Siswa itu sesekali memotret pemuda manis yang tampak asyik dengan kegiatannya.
Berlatih tanpa menyadari jika sedang diawasi.
Pemuda manis itu bernama Kim Taehyung, dia 1 angkatan dengan kedua adik kembarnya. Sayangnya ia tidak berada di kelas yang sama dengan kedua adiknya itu.
Jin tersenyum memandang pemuda itu dari kejauhan sini-Jin mengintipnya dari pintu kaca ruangan klub bela diri tersebut.
Pasti kalian bingung dengan tingkah Jin yang tengah mengintip pemuda manis yang akrab disapa Taehyung itu dengan pandangan memuja dan senyum yang begitu
tampan kan?
Hanya 1 jawaban pastinya.
Kim Seokjin, si salah satu pangeran Seongnam Art jatuh cinta dengan Kim Taehyung, si manis ahli Karate.
Dan semua itu berawal dari Jin yang tidak sengaja menjatuhkan dompetnya di Hall Utama yang kala itu dijadikan tempat Pembukaan Penerimaan Siswa Baru. Setelah menyampaikan pidatonya dan acara pembukaan tersebut selesai, ia begitu terburu-buru pergi ke ruangannya sampai tidak sadar jika dompetnya itu jatuh. Karena saat itu ia diminta untuk menggantikan sementara Ketua Dewan Murid yang baru, karena belum diputuskan siapa yang menjadi Ketua Dewan Murid yang baru. Dan sebagai Ketua Dewan Murid yang lama, Jin menyanggupi permintaan tersebut.
Beruntung Taehyung yang saat itu tidak sengaja dompet itu, dan tentunya pemuda itu dengan baik hatinya mengembalikan dompet tersebut kepemiliknya.
Suatu hal yang simple berujung tumbuhnya benih-benih cinta. Sungguh hal yang tidak terduga kan?
Hampir 1 tahun belakangan ini, anak sulung keluarga Kim itu menjadi stalker dadakan pemuda manis itu. Semua hal yang berkaitan dengan Taehyung, pastinya pemuda dengan wajah tampan dan pandai memasak itu tahu.
"Hah~ Lelahnya~" Jin terkesiap mendengar suara Taehyung yang merdu, secepat kilat ia bersembunyi dipinggir dinding yang sedikit jauh dari pintu ruangan klub bela diri tersebut.
Lebih baik ia segera pergi dari tempat ini, bisa gawat jika Taehyung tahu, pikir Jin. Pemuda itu bersiap pergi. Namun sebuah suara mengejutkannya lagi.
"Senior Seokjin?"
Sesosok pemuda manis tersenyum manis dan menyapanya, siapa lagi jika bukan Taehyung. Pemuda manis itu sudah berganti pakaian, memakai lagi seragam sekolahnya. Jin mengusap dadanya kaget, untung saja ia tidak memiliki penyakit jantung.
"Oh, hai Taehyung-ah." sapa balik Jin, Jin sedikit gugup dibuatnya. Pasalnya jarak keduanya terbilang cukup dekat kini. Sepertinya Jin terlalu larut dalam pikirannya sampai tidak tahu jika Taehyung keluar dari ruangan klub dan memandanginya bingung.
"Baru kembali dari ruangan Song Songsaenim ya kak?" tanya Taehyung dengan nada yang begitu ceria, tak lupa pemuda itu tersenyum dengan begitu manisnya. Membuat Jin mau tak mau ikut tersenyum melihatnya. "Seperti yang kau lihat, kau sendiri? Kenapa baru keluar ruang klub jam segini? Bukannya pihak sekolah sudah memulangkan para murid ya?"
Taehyung kembali tersenyum dengan ekspresi cerianya, "Hanya ingin berlatih saja kak. Sudah agak lama juga tidak berlatih. Hehehe."
Jin mengusak pelan surai coklat kehijauan milik Taehyung, beruntung saja pihak sekolah memperbolehkan siswa-siswinya untuk mewarnai rambut dengan warna yang dibebaskan. Pemuda tampan itu memasang senyum memikat yang membuat Taehyung merona tipis, "Kau akan pulang bersama siapa?" tanya Jin to the point, well mencari kesempatan selagi ada tidak apa kan?
"Aku terbiasa pulang sendirian kak, lagipula rumahku tidak terlalu jauh dari kawasan sekolah." jawaban Taehyung membuat Jin bersorak dalam hati, berarti ada kesempatan untuknya pulang bersama dan mengantarkan pulang Taehyung! Owh Yeah~ Ini kesempatan bagus Seokjin-ah!
"Bagaimana jika kita pulang bersama?" Taehyung tersenyum malu-malu dan menganggukkan kepalanya. Sejujurnya perasaan Jin itu terbalaskan, Taehyung juga menyukai senior tampannya itu.
Semua perhatian yang Jin berikan padanya membuatnya luluh, tapi mereka hanya belum berani mengungkapkannya saja.
Jin dengan refleks memerangkap Taehyung dengan memeluk pinggang pemuda manis tersebut, dan sekali lagi rona tipis muncul menghiasi pipi gembil Taehyung yang siap untuk dicubit.
Keduanya berjalan beriringan dengan begitu mesranya, layaknya sepasang kekasih.
Yah semoga saja, keduanya segera mengungkapkan perasaan masing-masing.
Dan semoga saja ketika pulang nanti, Jin tidak mengamuk. Karena ke-3 adiknya sibuk dengan dunia mereka masing-masing. If You Know What I Mean~
To Be Continue~
Hai~ Hai~ /dadah ala miss uniperse/?
Kembali lagi dengan fiction gaje karyaku ini~
Hehehe, maaf baru bisa update sekarang. Setelah kemarin menjalani Pengabdian di Masyarakat dan sibuk dengan kegiatan perkuliahan, apalagi saya baru di semester awal hehehe; "Gak ada yang nanya woi -_-"
Jadi tolong maafkan saya yang tidak bisa update asap /bow/
Oke back to the story, di chaptere ini aku menampilkan beberapa scene dimana para couple mulai beraksi. Maafkan aku jika beberapa penjelasannya bikin mubeng dan pusing.
Otte? Puaskah kalian dengan chaptere ini?
Nah akhir kata~
Silent reader, Looked/? Reader mari silahkan menikmati~
Balasan Review – Perkenalan Cast
for BbuingHeaven : Ini sudah mulai muncul Taehyungnya~ Maaf jika menunggu lama hehe.
Chaptere selanjutnya akan kubuat Taehyung juga muncul lebih banyak. Tenang aja chingu^^
Semoga chaptere ini menarik ya menurut kamu^^
Silahkan review lagi ya~
for she3nno: Hahaha, bingungnya gimana? Sini aku jelasin/?
Ntar bisa via PM kalau mau jelasnya gimana. Aku jelasin biar kami tambah bingung /nah loh kkk
Kepo banget sih kamu, sini Seokjin tjipok dulu /plakk/?
Semoga keponya semakin tambahnya baca chaptere kali ini.
Semoga chaptere ini menarik ya menurut kamu^^
Silahkan review lagi ya~
