Frozen Summer
Pair:
Park Jimin (as Hyperion) x Min Yoongi (as Theia)
Slight:
Kim Namjoon (as Perseus) x Kim Seokjin (as Maeve)
Rate: T - T+
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Undetermined
Summary:
Api dan es bagaikan dua sisi mata koin, mereka bersama, tapi mereka tidak akan bertemu. Lalu bagaimana jika takdir mengatakan sang api mencintai dia yang membeku dalam es? / MinYoon, GS!Yoongi.
Notes:
Nama sengaja dirubah untuk kepentingan cerita.
Min Yoongi: Theia (meaning: Goddess) as the Ice Queen
Park Jimin: Hyperion (Theia's husband in Irish/Greek Mytology) as the Fire King
Kim Namjoon: Perseus (meaning: to destroy) as the Fire Knight
Kim Seokjin: Maeve (meaning: intoxicating) as the Petals Princess
Warning:
GS! Yoongi and Seokjin, AU, Fiction. Inspired by 'Halsey - Castle', slightly inspired by The Huntsman: Winter's War.
Notes 2:
Diceritakan dalam sudut pandang Yoongi dan Jimin. Perhatikan agar kalian tidak bingung mana sisi Yoongi dan mana sisi Jimin karena aku tidak akan menuliskan 'Yoongi POV' atau 'Jimin POV' di atas partnya ;)
.
.
.
.
.
.
.
Part 2: Our Agreement
Aku berjalan mengikuti langkah lembut Princess Maeve di sepanjang koridor istana milik White Land yang harus kuakui sangat cantik. Princess Maeve memerintahkan agar aku dan Perseus mengikutinya sedangkan seluruh pasukan Perseus diminta untuk menetap di barak prajurit bersama dengan prajurit White Land lainnya.
Mataku tidak sengaja melirik Perseus yang nampak begitu fokus pada punggung Princess Maeve. Matanya bahkan tidak berkedip sedikitpun sejak tadi, dan ini adalah pertama kalinya bagiku melihat sosok Perseus yang terpesona akan keindahan seorang wanita.
Princess Maeve memang cantik, sangat malah. Tapi aku sudah amat sangat jatuh pada pesona Queen Theia yang begitu misterius dan dingin. Sejak dulu aku memang suka tantangan dan bertemu dengan Theia seperti memberikan suntikan adrenalin terbaru untukku.
"Princess Maeve," panggilku pelan.
Maeve berhenti melangkah dan berbalik dengan anggun, "Ya?"
"Kemana kau akan membawa kami?"
Maeve tersenyum, membuat bibirnya yang sewarna mawar terlihat melengkung dengan indah. "Aku akan mengantar kalian ke kamar kalian selama di sini. Selama tinggal di sini, kalian bebas melakukan apapun yang kalian suka. Anggap saja di rumah sendiri."
"Kapan prajurit Yang Mulia berlatih?" tanya Perseus yang membuatku menaikkan alis.
"Setiap pagi jam tujuh di halaman utama istana. Ada apa?" jawab Maeve dengan lugas.
"Saya ingin ikut latihan bersama mereka. Jika nantinya kerajaan ini akan bersatu dengan kerajaan milik King Hyperion, maka saya akan bertanggung jawab untuk prajurit dan latihan mereka. Saya ingin mempelajari sistem latihan mereka terlebih dahulu."
Diam-diam senyumku terbentuk saat mendengarkan ucapan Perseus, tidak salah aku mengangkatnya sebagai ksatria tertinggi kerajaanku.
Maeve terlihat agak terkesiap, mata bulatnya mengerjap lembut sebelum kemudian dia berdehem dengan pelan. "Aku akan mengatakannya pada Queen Theia."
"Kau adalah kakak Theia, benar?" ujarku tiba-tiba. Ada satu hal yang sangat mengganggu pikiranku sejak aku tiba di sini dan lidahku terasa sangat gatal untuk bertanya.
Maeve mengangguk kecil.
"Jika kau kakaknya, kenapa Theia yang menjadi ratu? Bukankah seharusnya kaulah yang menjadi ratu?"
Aku memperhatikan ekspresi Maeve yang terlihat tercengang dengan ucapanku. Dia mengeluarkan senyum tipisnya dan menatap mataku.
"Karena Theia memiliki kekuatan dan jiwa seorang Ratu, Yang Mulia."
.
.
.
.
.
.
.
Aku menangkup jemariku yang bergetar dan berusaha sekuat mungkin untuk menenangkan diri setelah pertemuan pertamaku dengan King Hyperion, pria yang nantinya akan menjadi suamiku.
Aku tidak ingin menikah dengannya. Aku tidak mencintainya dan sejak dulu aku berprinsip untuk menikah hanya dengan pria yang aku cintai. Dan sekarang aku menghadapi kenyataan bahwa aku akan menikah demi menyelamatkan kerajaanku dari bahaya.
Mataku berputar menatap keseluruhan Sanctuary tempatku berada. Ini adalah ruangan pribadiku tempatku menghabiskan waktu seorang diri. Tempat ini merupakan bagian lantai bawah dari menara tempat kamarku berada.
Aku memang memiliki menara tersendiri sebagai tempat tinggalku dan menara itu terpisah dari bangunan utama istana dan terletak di bagian paling belakang. Ini dilakukan untuk melindungiku apabila istana diserang dan juga karena aku lebih menyukai ketenangan.
Kakiku melangkah ke bagian tengah ruangan tempat miniatur White Land yang terbuat dari es berada. Ujung jemariku menyentuh pelan bagian runcing dari gunung bersalju yang saat ini sedang berusaha diterobos oleh pasukan dari kerajaan lainnya.
Aku memang tidak memberitahu masalah ini kepada King Hyperion dan aku bertekad untuk menang dalam perang kemudian menghindari pernikahanku dengannya. Aku optimis aku akan memiliki kekuatan yang cukup untuk bertahan seorang diri apabila aku memenangkan perang ini.
Hanya saja ada bagian dari dalam hatiku yang meragu karena prajuritku semakin berkurang dan pemuda yang berada di wilayah White Land masih belum cukup umur untuk bertempur. Jalan terakhir yang bisa kuambil hanyalah ikut turun ke medan perang dan ikut berperang bersama prajuritku walaupun aku sangat yakin Maeve akan melarangku melakukan itu.
Maeve begitu mencintaiku sebagai adiknya. Dia bahkan tidak pernah terlihat sedih tiap kali ayah kami memuji kekuatanku yang luar biasa di depannya. Hanya ibu kami yang menyayangi kami berdua secara adil, sedangkan ayahku tentu saja lebih mengagungkan diriku yang kadang membuatku merasa tidak enak hati pada kakakku sendiri.
Kakakku memang tidak memiliki kekuatan sekuat diriku, tapi pesona yang dimiliki oleh kakakku jelas adalah pesona paling kuat yang pernah dimiliki oleh seseorang. Kakakku terlahir dengan kecantikan seperti Dewi Venus. Dia bisa menyulut gairah seorang pria bahkan hanya dengan tatapan matanya.
Hanya warga White Land yang tidak terpengaruh dengan pesona kakakku karena kakakku sendiri sudah terlalu sering melihat mereka dan berinteraksi dengan mereka.
Tapi aku mengenali arti tatapan Perseus pada kakakku saat mereka di ruangan singgasanaku. Perseus terpesona pada kakakku.
Dan jika melihat dari sikapnya, kurasa Perseus bukanlah orang yang mudah menyerah untuk mendapatkan kakakku.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi ini aku dan Perseus memutuskan untuk melihat sesi berlatih para prajurit White Land dan menurutku latihan mereka memang cukup bagus, hanya saja terlalu banyak memiliki celah di sana sini dan membuat pertahanan fisik dari prajurit itu melemah.
Aku menggoyangkan pedang milikku sembari menatap para prajurit yang sedang berlatih berduel satu lawan satu. Ini adalah ide Perseus yang disetujui oleh Maeve yang sedang mengamati kami sejak kami menginjakkan kaki di lapangan.
Hari ini Petals Princess itu mengenakan sebuah gaun panjang berwarna kuning cerah dengan mahkota dari kelopak bunga matahari di atasnya. Di tangannya melingkar sebuah gelang yang terbuat dari sulur tanaman yang dihiasi dengan bunga kecil berwarna kuning juga.
Rambut ikal miliknya dibentuk menjadi sebuah cepol tinggi ke atas kepalanya dan memamerkan sedikit bagian dari bahu dan tulang selangkanya pada umum. Pesona Princess Maeve memang tidak diragukan lagi, dia memiliki wajah dan tubuh seorang dewi, tidak heran Perseus bisa terpesona padanya.
Kepalaku terangkat dan aku memperhatikan lorong istana yang terlihat dari lapangan tempatku berada. Sejak pagi ini aku belum bertemu dengan sang Ratu di kerajaan ini. Sarapan kami pagi ini diantarkan ke kamar dan setelah sarapan aku dan Perseus langsung pergi menuju halaman utama sebelum kemudian kami bertemu dengan Maeve yang datang mengejar kami.
Aku ingin melihat Theia, dia memiliki pesona unik yang membuatku merasa begitu haus untuk terus melihatnya lagi dan lagi. Aku benar-benar terjebak dalam pesona mata berwarna biru pucatnya dan kesan misterius dalam dirinya membuatku semakin tertantang untuk melelehkan hati sang Ratu yang membeku.
Jemariku bergerak membentuk sebuah pusaran api mungil, kebiasaanku saat sedang bosan atau memikirkan sesuatu. Sensasi hangat dari api di tanganku membuatku menjadi lebih rileks dan tanpa sadar aku terus mempermainkan pusaran api mungil itu hingga kurasakan tangan seseorang mencengkram lengan bawahku.
"Es di kakimu mencair."
Suara yang sarat akan desisan marah itu membuatku tersadar dan aku melihat Maeve tengah menatapku dengan sengit. Aku mengepalkan tangannya dan api di tanganku langsung padam.
"Maaf," ujarku pelan.
Maeve menghela napas dan mengangguk pelan.
"Dimana Queen Theia?" tanyaku tiba-tiba.
Maeve mengangkat kepalanya dan menatapku, "Kenapa menanyakan adikku?"
"Karena aku belum melihatnya hari ini."
Dari kejauhan aku bisa melihat Perseus menghentikan latihannya dan berjalan menghampiri kami yang berada di ujung halaman utama istana.
Hmm..
Perseus cemburu.
Seringaianku muncul saat mengingat dugaan itu dan tanpa sadar aku melemparkan senyum kecil pada Maeve yang masih berdiri di depanku dan sama sekali tidak menyadari kehadian Perseus yang semakin dekat.
"Dimana kamar Queen Theia?"
"Sanctuary."
"Sanctuary?" beoku.
"Anda dilarang untuk mendekati Sanctuary, Yang Mulia. Selama anda dan adikku belum resmi, kalian tidak diperkenankan untuk bertemu satu sama lain sesering itu."
Jawaban Maeve yang terdengar begitu lugas dan tegas membuatku mau tidak mau mengangguk paham.
"King Hyperion,"
Suara berat Perseus membuat Maeve memalingkan pandangannya ke arah Perseus.
"Ya?" ujarku tenang kemudian menoleh ke arah Perseus.
"Queen Theia memperhatikan anda sejak tadi." Perseus menatap ke arah belakangku dan kepalaku berputar cepat untuk melihat apa yang diucapkan Perseus memang benar.
Dan hal pertama yang aku lihat adalah pupil berwarna biru pucat dan jemari kurus yang sedang mencengkram bingkai jendela. Aku melihat Theia menatapku untuk dua detik berikutnya dan akhirya dia memalingkan pandangannya dan kembali berjalan.
Setelah sosok Theia menghilang dari pandanganku, aku menatap Princess Maeve. "Aku akan menjadi suaminya sebentar lagi. Dan kurasa tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi.
Maeve menatapku dan tersenyum miring, "Wanita selalu memiliki sebuah rahasia. Kau harus tahu itu."
.
.
.
.
.
.
.
Aku menggigit bibirku kuat seraya bertopang dagu sementara di depanku ada dua orang panglima di kerajaanku yang sedang sibuk menyusun strategi agar kami bisa menang pada pertempuran kali ini.
Erangan kesal terdengar dari mulutku saat aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan demi memenangkan perang ini. Pasukan dari kerajaan itu akan tiba sebentar lagi sedangkan yang bisa kulakukan hanyalah memperkuat benteng kami.
"Yang Mulia,"
Kepalaku terangkat dan menatap panglima yang baru saja memanggilku.
"Anda baik-baik saja?"
Aku memaksakan sebuah senyum di bibirku, "Aku baik, kalian boleh keluar."
Setelah kedua orang itu pergi, aku memutuskan untuk berdiri dan berjalan keluar dari ruangan singgasanaku. Kakiku melangkah tanpa arah dan yang terdengar di sepanjang koridor hanyalah suara langkahku dan ujung gaunku yang terseret di lantai.
Kemudian tanpa sengaja aku berhenti di sebelah sebuah jendela dan saat pandangan mataku turun ke bawah, aku melihat Maeve, kakakku, dengan gaunnya yang secerah mentari, tengah berdiri bersebelahan dengan King Hyperion yang nampak gagah dalam balutan mantel dan pedang di tangannya.
Mataku memperhatikan interaksi mereka dan aku bisa mengerti kalau King Hyperion nantinya pasti akan memiliki kakakku yang memiliki pesona seorang Venus dibandingkan denganku yang pesonanya sama dengan gunung es.
Tapi aku tidak mau mengorbankan kakakku untuk menikah dengan King Hyperion.
Aku terlalu mencintai kakakku dan aku tidak mau dia menderita. Jika ada yang patut dikorbankan di tengah krisis ini, maka itu adalah diriku. Aku adalah Ratu dan ayah memilihku untuk melindungi kerajaan ini.
Dan aku tidak akan pernah berlindung di balik gaun Maeve untuk urusan melindungi kerajaan.
Aku melihat Perseus berjalan menghampiri King Hyperion dan Maeve kemudian dia mengatakan sesuatu. King Hyperion memutar kepalanya ke arahku dan kami bertatapan. Pupil biru pucatku bertabrakkan dengan pupilnya yang berwarna merah gelap.
Aku menatapnya dan mencoba untuk memahami isi kepala dari Raja terkuat itu dan aku tidak menemukan apapun. Aku tidak bisa menebak apa kiranya motif dari seorang King Hyperion untuk menyetujui perjanjian lama yang dibuat oleh kedua ayah kami. Karena jika motifnya adalah batu mulia di kerajaan kami, seharusnya yang dia perhatikan adalah tambang, bukan kondisi prajurit di kerajaan ini.
Aku menarik napas dalam dan memutuskan kontak mata kami kemudian bergegas menuju Sanctuary untuk menenangkan diri. Aku butuh waktu sendiri karena tanpa kusadari King Hyperion sudah mencuri sebagian perhatianku, di hari kedua dia tiba di kerajaanku.
.
.
.
.
.
.
.
Aku sedang melangkah menyusuri koridor untuk kembali ke kamarku ketika aku mendengar derap langkah seseorang yang berjalan di belakangku. Dan saat aku berbalik, aku melihat seorang prajurit tengah berhenti tak jauh dariku dan membungkuk sopan.
"Yang Mulia Queen Theia memanggil anda, King Hyperion."
Aku mengangguk pelan dan memutar langkahku untuk mengikuti prajurit itu dan dia mengantarku ke sebuah koridor yang tidak kukenali dan saat kami tiba di ujung koridor, aku disambut oleh dua dayang berpakaian serba putih dengan tudung yang menutupi kepala mereka.
Dahiku mengerut dengan sendirinya, 'Kemana mereka akan membawaku?'
Salah satu dayang membuka sebuah pintu berat yang terbuat dari es dan mempersilakan aku untuk masuk. Aku melangkah dengan langkah waspada walaupun keteganganku agak mengendur karena aku tahu Theia memintaku untuk bertemu dengannya.
"Selamat datang di Sanctuary, Yang Mulia. Silakan naiki tangga di ujung koridor ini. Queen Theia menunggu anda di kamarnya."
Apa?
Sanctuary?
Bukankah itu adalah kamar Theia?
Dan dayang itu mengatakan Theia menungguku di kamarnya?
Aku mengangguk dan berjalan menyusuri koridor panjang hingga aku tiba di sebuah pintu lainnya, aku membukanya dan aku langsung dihadapkan pada tangga melingkar yang terbuat dari es.
Kakiku melangkah menaiki undakan tangga satu persatu hingga akhirnya aku tiba di puncak tangga dan disambut dengan koridor lainnya dengan sebuah pintu besar di ujungnya. Aku baru menyadari kalau bagian istana ini benar-benar terbuat dari kristal es. Bagian istana yang lainnya masih ada yang terbuat dari tembok dan lantai, tidak seperti bagian istana ini.
Udara dingin begitu menusuk hingga aku harus menghembuskan napas api dan menaikkan suhu tubuhku agar tetap hangat dan tidak membeku. Tapi aku juga berhati-hati agar tidak sampai melelehkan lantai es di bawah kakiku yang terlihat begitu mengkilap dan licin.
Ketika tiba di pintu yang ada di ujung koridor, aku menarik napas dalam, memantapkan hati dan perlahan membuka pintu berat itu.
Hal pertama yang menyambut mataku adalah pemandangan khas sebuah kamar tidur, dengan ranjang besar, sebuah cermin, dan juga beberapa sofa serta jendela besar yang berada di tiap bagian dinding. Kemudian aku mendengar suara kain yang terseret dan saat aku menoleh ke asal suara, aku melihat Theia, dengan gaun tipis berwarna biru pucat tengah berjalan menghampiriku.
Gaun itu begitu tipis hingga aku bisa melihat lekuk tubuhnya yang membayang. Bagian depan gaun itu terbuka dengan bentuk celah V yang indah sehingga aku bisa melihat belahan dada milik sang Ice Queen.
Rambut panjang Theia tergerai dengan halus dan jatuh dengan manis membingkai lekuk tubuhnya, langkahnya terlihat begitu pelan saat menghampiriku dan akhirnya dia tiba di hadapanku yang masih terpaku menatapnya.
"Aku.. memiliki sebuah permintaan yang harus kau penuhi."
Oh Tuhanku, suara Theia begitu lembut membelai telingaku dan matanya yang berwarna biru pucat itu menatapku dengan lembut.
Theia mengulurkan tangannya dan mengelus lengan atasku dengan jemari kurusnya yang dibalut kulit putih pucat.
"Kerajaanku sedang diserang dan pasukan dari kerajaan itu akan tiba dalam hitungan hari." Theia berujar lembut dengan gerakan mengusap lenganku dengan lembut. Gerakannya membuat celah terbuka di bagian depan gaunnya ikut bergoyang dan aku berusaha setengah mati untuk tetap fokus pada matanya dan bukan pada kulit dadanya yang semakin terbuka.
Theia mendongak dan menatapku dalam-dalam, "Win that battle for me.."
"…and I'll become yours.."
.
.
.
.
.
.
.
Aku tidak bisa memikirkan lebih jauh mengenai keputusanku. Kerajaanku dalam kondisi terdesak dan aku tahu King Hyperion pasti mampu membantuku untuk memenangkan pertempuran yang pastinya akan terjadi dalam hitungan hari.
Karena itulah aku memutuskan untuk memanggilnya ke kamarku dan mengenakan sebuah gaun provokatif yang akan membuatnya terpesona padaku. Aku harus membuat King Hyperion memenuhi permintaanku dan hanya akan tertuju padaku.
Aku tidak akan membiarkannya jatuh dalam pesona kakakku dan membiarkannya menikah dengan kakakku.
Aku tidak mau terjadi, karena aku tidak mau membuat kakakku menderita karena sebuah pernikahan yang dipaksakan.
Atau itulah alasan paling logis yang aku coba yakini sepenuh hatiku.
.
.
Suara langkah Hyperion semakin terdengar dan aku yakin saat ini dia sudah semakin mendekati kamarku. Kemudian pintu kamarku terbuka dan dia berdiri di ambang pintu, dengan pakaian atas sebuah mantel kulit dan sepatu bot hingga betis. Aku yakin dia pasti baru kembali dari luar istana jika menilai dari pakaiannya.
Aku berjalan keluar dari balik ranjangku dan berjalan menghampirinya. Mataku memperhatikan setiap gerakan kecil yang terjadi pada dirinya dan aku menyadari dia menatapku dari atas ke bawah hingga tiga kali.
Kakiku bergerak dengan perlahan dan berusaha membuat diriku tampil menawan untuk menarik perhatiannya, kemudian saat tiba di hadapannya, aku menatap matanya dalam-dalam.
"Aku.. memiliki suatu permintaan yang harus kau penuhi." Mataku masih menatap matanya dan kali ini kugerakkan jemariku unutk meraih lengan atasnya.
Tubuh King Hyperion sangat panas.
Benar-benar panas hingga aku merasa jemariku yang sebelumnya membeku menjadi meleleh karena suhu tubuhnya.
Aku menggerakkan jemariku untuk mengelus lengannya yang keras dan liat karena otot kemudian berbisik pelan, "Aku.. memiliki suatu permintaan yang harus kau penuhi." Aku tidak mampu mempertahankan kontak mata kami sehingga aku menundukkan kepalaku.
"Kerajaanku sedang diserang dan pasukan dari kerajaan itu akan tiba dalam hitungan hari." Gerakan tanganku mengelus lengannya tidak berhenti, aku tidak tahu kenapa tapi kurasa aku suka sensasi yang muncul saat aku menyentuhnya.
Aku mengulum bibirku sebelum mendongak menatap matanya yang masih menatapku dengan tajam, "Win that battle for me.." bisikku pelan.
"…and I'll become yours.."
Kemudian aku melihat mata King Hyperion membulat kecil sebelum kemudian perlahan dia kembali normal dan sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis.
"Okay, My Lady.." bisiknya rendah.
'This is for my kingdom..' ujarku berulang untuk memantapkan hatiku.
.
.
.
We made an agreement
Finally,
Our own agreement
.
.
.
We made an agreement
And it make me one step closer to the Queen's heart
To Be Continued
.
.
.
.
Hai!
Maaaaaaaaffff sekali karena lama tidak muncul.
Aku sibuk pkl. Huhuhu
Sungguh, kehidupan mahasiswa semester akhir memang luar biasa T^T
.
.
.
.
Aku tidak mau banyak bicara. Semoga kalian suka dengan part ini!
.
.
P.S:
POVnya memang tidak aku tulis. Kan aku sudah tulis di Notes 2. Kalian baca saja. Hehehe
Jadi jangan menanyakan lagi kenapa aku tidak menulis POVnya ya.
Habisnya menulis POV di awal bagian cerita itu bukan gayaku sekali. Hahahhaa XD
.
.
.
Review?
.
.
P.S 2:
Yang lainnya ditunggu ya!
Nanti aku kerjakan kalau ada waktu luang! ^^
.
.
Thanks
