TOILET
By Cinnamons Tea
.
.
.
Disclaimer : Tite Kubo Sensei
Pairing : Rukia K, Ichigo K dan masih banyak lagi chara di sini.
Genre : Romance&Friendship
Warning : AU, TYPOS,OOC and many more gaje
Summarry : Curhat di toilet? Santai di toilet? Toilet penghilang stres? Apa jadinya jika Toilet adalah tempat untuk bersantai dan curhat sekaligus penghilang stres? Mereka akan membuktikannya.
A/N : Fic ini terinspirasi dari film pendek dari Jepang yang berjudul Sakura Toilet. Special fic saya persembahkan untuk teman-teman yang selama ini mendukung dan memberi semangat. Love u...
Karakura High School
Karakura High School atau lebih sering orang mengenal 'KHS' merupakan sekolah seni terkenal di Tokyo. Sekolah ini menonjolkan kurikulum seni di bandingkan kurikulum pada umumnya. Meskipun begitu, sekolah ini juga mengajarkan pelajaran umum. Berbicara masalah pelajaran, sekolah ini di bagi kedalam beberapa kelas tergantung talenta yang dimiliki masing-masing murid.
Terdapat kelas musik dan vokal, kelas lukis dan seni rupa, kelas olah raga dan kelas sastra. Di antara kelas yang tersedia, Rukia masuk di kelas lukis dan seni rupa sedangkan Ichigo menempati kelas sastra. Mereka berdua memang berbeda kelas, namun itu tak membuat hubungan mereka menjauh. Seperti saat ini, mereka tengah berada di sebuah galeri yang terdapat di sudut sekolah itu.
"Kau sedang baca apa Ichi?" tanya Rukia pada kekasihnya.
Ichigo melirik sebentar ke arah kekasihnya. "Hanya membaca novel yang baru ku beli kemarin. Kau mau membacanya?" tawar Ichigo.
"Nanti saja. Aku sedang membuat sketsa, Ichi."
"Coba ku lihat."
Rukia kemudian menyerahkan buku sketsa itu pada Ichigo. Secara seksama ia mengamati apa yang tergores di atas kertas putih itu. Ichigo tampak terkejut. "Kau melukisku? Sejak kapan? Kenapa cepat sekali?" tanya Ichigo penasaran.
"Beberapa menit yang lalu, tepatnya saat kau sibuk dengan novelmu," ucap Rukia sambil memberikan cengirannya.
"Waow. Ini sungguh seperti diriku. Kau memang berbakat, mungil," puji Ichigo.
"Huh, aku ini bukan mungil baka." Rukia pura-pura cemberut, entah kenapa panggilan mungil sedikit membuatnya nyaman di banding dengan midget.
"Maaf deh memanggilmu mungil. Habis kau itu menggemaskan sih. Nggak tahu kenapa melihat sketsa ini aku jadi terharu," ucap Ichigo tulus.
Rukia menatap Ichigo. Secara refleks, tubuhnya maju kedepan dan memeluk Ichigo tiba-tiba. "Kau tahu, disaat orang lain merendahkan kemampuanku melukis, kau orang kedua yang memujiku setelah Hisana nee-chan. Terima kasih banyak, Ichi."
"Kau harus tetap bersemangat. Aku yakin kau bisa meraih mimpi yang selama ini kau rajut, Rukia-chan."
"Umm."
Keheningan sesaat terjadi ketika Rukia masih di posisi yang sama memeluk Ichigo begitu pula sebaliknya, hingga suara Ichigo memecahkan keheningan dan membuat aktivitas mereka berhenti (baca: berpelukan). "Aku mendapatkan sesuatu yang menarik di toilet kemarin, Rukia."
Rukia tampak berbinar mendengar kabar menarik dari kekasihnya. Ia penasaran. Gadis beriris violet itu kemudian bertanya lagi pada Ichigo. "Wah, benarkah? Apa itu soal paper bag itu?" tanya Rukia penasaran.
"Ya. Aku rasa seseorang membaca pesan kita," Ichigo menjawabnya dengan mantap.
"Apa dia meninggalkan jejak? Maksduku note atau semacamnya, Ichi?"
"Ya, dia meninggalkan sebuah catatan kecil di buku itu." Ichigo kemudian bercerita mengenai apa yang ditulis oleh orang yang sempat berada di dalam toilet itu. Pemuda bersurai jingga itu juga menjelaskan bahwa seseorang berinisial 'GJ' membuka isi paper bag itu dan memainkan rubik yang Ichigo tinggalkan.
"Rasanya begitu membahagiakan ketika kita melakukan hal sepele untuk orang lainnya. Aku senang jika 'GJ' bisa meninggalkan jejak bahkan ia menggunakan rubik tersebut untuk membuatnya lebih tenang."
"Aku turut senang karena ide ini lumayan mendapat respon. Huh, aku jadi penasaran dengan toilet wanita di sana."
"Bagaimana jika kita besok ke taman itu, Rukia."
"Ide bagus."
.
.
Karakura park, hari yang sama
"Maaf aku hari ini tidak bisa datang ke acara pertunanganmu," ucap seseorang gadis bertubuh sintal dari seberang sambungan telephone. Gadis itu bernama Nelliel Tu Odelschwanck merupakan seorang model terkenal keturunan Jepang-Spanyol yang saat ini sedang berbicara via telephone pada mantan kekasihnya.
"Oke, aku mengerti Nelliel," jawab sang lawan bicara.
"Semoga kau bahagia Shinji." Dalam hati yang paling dalam, Nelliel tak pernah menyangka rasa sakit hatinya ini harus ia terima. Ia tampak berusaha tegar, namun sepertinya ia sudah tak mampu menahan kerapuhannya.
"Kau juga. Dan sekali lagi aku minta maaf karena mencampakkanmu," ucap sang lawan bicara yang tak lain bernama Shinji Hirako.
"Umm, kau tak perlu merasa bersalah, aku baik-baik saja," ucap Nelliel berusaha tegar.
"Sayonara, Nelliel."
Tut
Tut
Tut
Sambungan telephone-pun terputus. Nelliel menangis. Gadis itu bahkan belum siap kehilangan orang yang paling ia cintai. Ia dan kekasihnya Shinji sebenarnya sudah berpacaran hampir lima tahun lamanya. Nelliel bahkan berencana akan melangsungkan pernikahan, namun semua rencana indah itu sekarang nyatanya hanya menjadi history yang tak akan terwujud bersama Shinji. Nelliel menangisi kebodohannya.
Gadis itu perlahan menghapus air mata yang mengalir di pipi mulusnya. Ia bermaksud mencari toilet di area Karakura park. Mata gadis itu kemudian menangkap dua bilik toilet yang menurut Nelliel berbentuk unik. Kaki jenjang berbalut heels setinggi dua belas centimeter, membawa Nelliel menuju bilik toilet wanita tersebut. Ia mengetuk pintu toilet tersebut, memastikan apakah di dalamnya ada yang menggunakan atau tidak. Beberapa saat mengetuk pintu toilet itu, Nelliel yakin di dalam tak ada orang. Ia kemudian masuk ke dalam toilet untuk merapikan sedikit penampilannya yang kusut.
Brakk
Pintu toilet di tutup oleh Nelliel. Ia tak lupa mengunci pintu tersebut. Memastikan pintu itu terkunci, ia lantas mengambil cermin kecil yang ia selalu bawa dari dalam tasnya.
"Duh, cerminku mana ya? Apa tadi ketinggalan di studio?" gerutu Nelliel.
Lama mencari, cermin di dalam tas Nelliel tak kunjung ketemu meski isi dalam tas telah ia keluarkan. "Arrrgghh, kenapa bisa lupa dengan benda pusaka itu sih. Sial!" umpat Nelliel kesal. Bagi Nelliel cermin kecil itu merupakan pusaka yang wajib ia bawa. Ia frustasi karena tidak menemukan benda kesayangannya.
Nelliel kemudian duduk di atas toilet dengan tubuh lemasnya. Ia menghela nafas pelan lalu ia memasukkan kembali barang-barang yang sempat ia keluarkan. Ia kemudian berdiri dan meletakkan tasnya pada gantungan dibelakang pintu.
"Eh? Apa ini?" gumam Nelliel heran. Ia kemudian membaca note itu. Senyum tipis tak bisa Nelliel hindari ketika membaca note tersebut. Gadis itu kemudian membuka paper bag itu dan kemudian mengeluarkan isi di dalam paper bag. Mata Nelliel tampak berbinar ketika menemukan sebuah cermin di dalamnya.
"Wah, senangnya ada cermin," ungkap Nelliel lega. Ia pun segera bercermin dan merapikan riasan wajahnya dengan telaten. Nelliel sangat bersyukur menemukan benda tersebut, setidaknya perasaannya menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.
Selama kurang lebih sepuluh menit Nelliel memandangi cermin sambil merapikan make up-nya, gadis cantik itupun selesai dengan aktivitasnya. Hendak memasukkan kembali ke dalam cermin itu, Nelliel tampak sedikit ragu. Ia lagi-lagi bercermin untuk sekian kalinya. Nelliel memandang pantulan dirinya di depan cermin itu. Seolah tersihir, Nelliel sempat bergumam beberapa saat. "Aku ini cantik, seorang model dan otakku jenius serta di bekali kekayaan yang melimpah, tapi kenapa kau meninggalkanku Shinji?" ucap Nelliel bermonolog.
Nelliel kembali terdiam. Dirinya seolah tersadar mengenai beberapa hal yang baru ia sadari. Ia memang cantik, namun justru itu yang menjadi masalah. Ia sering di lirik pria lain karena penampilannya dan Shinji tak suka akan hal itu, tapi justru Nelliel mengabaikan perasaan Shinji. Ia seorang model, terkenal dan juga buruan paparazi. Nelliel suka ketenaran dan popularitas namun Shinji beranggapan bahwa hidup bukan untuk memperoleh ketenaran dan popularitas semata. Nelliel dan Shinji jelas berbeda misi.
Dari segi kekayaan, Shinji memang kalah jauh di bandingkan dengan Nelliel, tapi Shinji tidak pantang menyerah untuk memberikan apapun pada Nelliel namun justru terkadang Nelliel berlebihan dalam memperlakukan seorang Shinji. Harga diri Shinji yang terlalu tinggi bahkan membuatnya harus menolak secara tegas mengenai tawaran menjadi model yang jarang orang lain bisa dapatkan. Selama ini memang Shinji selalu mendukung karirnya dari nol, namun ia tidak berpikir sedikitpun mengenai dunia model karena itu bukan jati dirinya.
Gadis itu kembali terduduk lemas. Ia menyadari bahwa dirinya telah kehilangan sebagian jati dirinya ketika ia mulai menjajaki dunia modelling. Mungkin ini juga yang membuat Shinji akhirnya menyerah padanya. Bagaimana tidak menyerah, lamaran menikah dari Shinji selalu ia tanggapi dengan lelucon. Selama berpacaran hampir lima tahun, Shinji sering sekali mengajak Nelliel untuk melangsungkan pernikahan dan lagi-lagi Nelliel beralasan bahwa kontrak kerjanya belum berakhir.
Shinji putus asa, ia akhirnya memutuskan hubungan yang terjalin hampir lima tahun itu tepat pada hari ulang tahun Nelliel yang ke dua puluh lima. Nelliel terpukul namun ia tak bisa berbuat apa-apa ketika Shinji hanya mengatakan dunianya dengan dunia Nelliel berbeda.
'Mungkin karena aku berubah ya, Shin? Maafkan aku baru menyadarinya, Shin,' batin Nelliel. Puas merenungkan kesalahannya, Nelliel kemudian memasukkan cermin tersebut ke dalam paper bag itu. Mata Nelliel kemudian beralih pada sebuah buku dan sebuah bolpoin. Nelliel membuka halaman pertama pada buku itu. Ia membaca sebuah tulisan yang membuatnya tersenyum. 'Aku sengaja mengecat dinding ini supaya tampak bersih. Sekali lagi terima kasih sudah di ingatkan untuk tetap menjaga kebersihan.'
"Huh, tidak disebutkan namanya. Ya sudah aku akan tulis di halaman selanjutnya," ucap Nelliel cuek. Gadis itu kemudian menuliskan sesuatu di halaman kedua.
'NailArt'
Salam kenal. Panggil saja aku 'NailArt'. Aku seorang model. Aku sangat berterima kasih pada cermin yang anda sediakan di dalam paper bag ini. Cermin ini cermin biasa, tapi aku rasa cermin ini punya kekuatan magis di dalamnya, hahhahah.. bercanda. Tapi memang benar, melihat bayang sendiri di cermin ini aku jadi tahu bahwa aku telah kehilangan sosok jati diriku yang sebenarnya. Aku baru menyadarinya bahwa orang yang mencintaiku dengan tulus terpaksa meninggalkanku karena hal ini. Aku sangat menyesal. Jika saja aku tidak berubah, mungkin pacarku tidak akan menikahi orang lain.
Oya, dalam note yang anda tulis itu mengatakan bahwa dinding ini kotor, tapi yang aku lihat sekarang dinding toilet ini bersih. Apa anda yang membersihkannya? Atau mungkin oranglain? Oh, yang pasti aku jadi betah berlama-lama disini. Sekali lagi terima kasih banyak atas cermin yang anda sediakan, mulai sekarang aku akan menjadi diri sendiri dan lebih peduli terhadap perasaan orang lain. Sampai jumpa.
Nelliel kemudian menutup bukunya. Ia meletakkan kembali buku tersebut ke tempat asalnya. Ia kemudian bangkit dan berdiri mengambil tas. Sebelum membuka pintu toilet, Nelliel menarik nafas panjang lalu ia keluarkan perlahan. Nelliel tersenyum dan bersiap untuk menjadi dirinya sendiri apapun yang terjadi.
.
.
Keesokan harinya
Sesuai rencana, Rukia dan Ichigo datang ke Karakura Park. Rukia dan Ichigo secara bersamaan masuk ke dalam bilik toilet sesuai dengan gender. Rukia dan Ichigo terlihat takjub. Toilet ini telah berubah dari yang terakhir mereka kunjungi. Sungguh bersih dan terlihat ada beberapa benda yang bertambah di bagian sudut toilet tersebut.
Senyum merekah tampak dari wajah Ichigo dan Rukia meskipun keduanya tak bisa saling memandang satu sama lain akibat dinding pembatas itu. Dari dalam kedua toilet tersebut, Ichigo dan Rukia masing-masing membuka paper bag. Semua benda yang mereka tinggalkan masih lengkap, hanya saja buku yang mereka tinggalkan sudah mulai penuh tulisan dari para pengguna toilet.
Baik Ichigo dan Rukia memutuskan duduk di atas toilet tersebut. Mereka membaca catatan yang di tinggalkan. Mereka senang, ada yang peduli pada toilet itu. Mereka juga membaca beberapa curhatan-curhatan yang diyakini di tulis oleh pengguna toilet ini kala mereka membaca note yang mereka tempel.
Rukia bahkan sampai terbengong-bengong membaca curhatan itu. Pasalnya ada beberapa curhatan yang terkadang membuat dia shock. Lain Rukia, lain juga Ichigo. Ia hanya tersimpul geli menatap tulisan di depannya. Sungguh ini lebih menarik di bandingkan membuat karya tulis.
Puas dengan berlama-lama di dalam toilet, Rukia segera mengirim pesan singkatnya pada kekasihnya untuk segera keluar.
.
.
"Tadi itu sungguh menyenangkan. Aku tak menyangka toilet itu akan bersih seperti itu, di tambah lagi ada vas bunga. Siapapun yang membawanya aku sangat berterima kasih, Ichi."
"Ya, ada banyak perubahan yang drastis yang terjadi pada toilet itu. Semoga kita bisa bertemu dengan orang-orang yang mengisi buku itu."
Rukia tersenyum. Ia pun juga ingin bertemu dengan mereka. "Semoga saja, Ichi."
"Nah, sebaiknya kita pulang. Kapan-kapan kita kesini lagi, midget."
DUAGHHH
"Arrrrghh sakit!"
Rukia puas menendang kaki kekasihnya. Ia kemudian menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan Ichigo yang mengaduh kesakitan akibat ulahnya sendiri. Poor Ichigo.
.
.
To be contiuned
A/N: oke, saya akan njelasin bagian ini. Porsi Ichiruki disini 50:50 dengan tokoh yang akan saya ceritakan dalam hal ini pengguna toilet.
Saya sengaja menampilkan Nelliel dan Grimmjow di dua chapter ini. Alasannya ini akan menjadi awal mereka bertemu. Sebaliknya, ada tokoh lain yang sengaja nggak saya pasangin alias tokoh tunggal.
Oya, saya tidak akan menjelaskan secara detail barang yang di gunakan para tokoh saat berada di dalam toilet. Intinya, merekalah sendiri yang akan menggunakan barang apa yang akan mereka pakai untuk mengisi waktu senggang mereka di toilet.
Ichiruki disini masuk ke toilet sesuai gender lho. hahahha.. bukan satu toilet di masukin 2 orang. heheh
Well, thanks udah mau nyempetin baca fic gaje ini.
.
.
.
Balesan yang belum log ini. yang udah log in lwt PM ya, hehhe
Uki: thanks so much uki dah RnR... iya ini terinspirasi dari film toilet sakura, film pendek dari jepang. Ini sudah update.
Guest: thanks so much udah mampir..hehhe, tentunya meninggalkan jejak juga. 50:50 gabungan antara Ichiruki dan pengguna toilet. Oh, itu makasih sudah di ingetin. Saya akan berusaha tonjolin sisi romance ichirukinya ya mungkin dengan romance ala mereka. Hehehe
.
.
.
Curcol gaje.
Akhirnya hari ini tiba. Misi membahagiakan diri sendiri. Heheh... hari ke 9 sampai hari ke7 di lalui dengan normal seperti biasa. Sampe hari ke 6 sakit. Baru sembuh setelah empat hari bed rest. Dan akhirnya sampai hari ini tepatnya pas ulang tahun, Alhamdulillah sehat. Terima kasih untuk ucapannya Minna. I love you.
