Cast : Kim Jaejoong , Jung Yunho,dll
Warning : Typos bertebaran dimana-mana, ceritanya gaje abis, YAOI (BL) yang gak suka sebaiknya jangan baca entar bisa muntah.
Rate : T
Summary : "MWOO! Yak appa dia bukan anakku, tanyakan saja padanya, ayo jae bilang kalau dia bukan anakku"/"b..benar ajhussi ini bukan anak kami" YUNJAE FANFIC.
"Yak, Jae berhenti menyebutku playboy"
"Ani, kau memang Playboy "
"Aku bukan Playboy"
"Yak kalian berdua bisakah berhenti bertengkar lihat Moobin sudah mau menangis mendengar suara kalian" lerai Yoochun jengah.
Chapter 3
Yunho dan Jaejoong sama-sama terdiam sambil melihat Moobin yang sudah hendak menangis.
"Kalian lihat Moobin saja tidak suka melihat kalian bertengkar terus" omel Junsu, karena merasa jengah dengan kedua hyungnya yang selalu bertengkar. Padahal dalam hati Junsu mengharapkan dengan adanya Moobin mereka berdua bisa akur tapi ternyata masih saja selalu bertengkar. Tidak tahukah kau Junsu kalau cinta dan benci itu beda tipis!kekekek
"Mianhae" ujar Yunho dan Jaejoong bersamaan karena merasa bersalah melihat Moobin yang hendak menangis.
"Ya sudahlah sekarang, kita pikirkan bagaimana cara mengurus Moobin atau kalian berdua bersedia mengurusnya berdua saja biar lebih romantis ya hitung-hitung belajar jadi orang tua" goda Yoochun dengan menaik turunkan alisnya. Yang digoda pun nampaknya sedang malu-malu kucing.
"Yak, apa maksudmu dasar jidat lebar" seru Jaejoong kesal.
"Ani, aku tidak bermaksud apa-apa kok hyung" Yoochun terkekeh melihat reaksi Yunho dan Jaejoong.
"Sudah-sudah sekarang kita pulang dulu aku sudah lapar" lerai Changmin yang sudah sangat kelaparan sendari tadi "Dan apa kalian tidak kasihan aku pikir Moobin dari tadi belum makan" tambah changmin. Jaejoong menepuk jidatnya
"Aigo kau benar min, tapi aku bingung Moobin diberi makan apa?" tanya Jaejoong dengan wajah polos
"Mungkin diberi bubur tidak masalah jae" usul Yunho yang sendari tadi hanya menjadi pendengar.
"Baiklah kalau begitu, kajja kita kerumahku sekarang sudah lama aku tidak memasak" ajak Jaejoong yang disambut antusias oleh teman-temannya terutama dan paling utama siapa lagi kalau bukan Changmin.
&*& Yunjae &*&
Mereka memutuskan untuk memakai mobil Yoochun karena lumayan besar untuk mereka berlima ditambah dengan Moobin yang ikut. Sementara itu mobil mereka dititipkan di kampus. Jaejoong,Junsu,Changmin dan Moobin duduk di jok belakang Yunho dan Yoochun duduk didepan guna mengintisipasi kalau Yunho dan Jaejoong duduk berdekatan akan membuat yang lain pusing nantinya.
Selama perjalanan menuju rumah Jaejoong mereka semua terdiam hanya sesekali ketika Moobin mulai merasa tidak nyaman dengan posisinya baru mereka ada kegiatan. Karena merasa bosan Junsu membisikan sesuatu ke telinga Jaejoong.
"Hyung, apa kau tidak menyesal tidak berbaikan dengan Yunho hyung" bisik Junsu, Jaejoong mengernyitkan dahinya menanggapi bisikan Junsu.
"Waeyo?"
"Kau tidak lihat tadi ahra, apa kau ingin melihat ia menang lagi seperti dulu?" hasut Junsu. Jaejoong terdiam memikirkan perkataaan Junsu.
'Benar juga sih kalau aku biarkan nenek sihir itu pasti ia akan terus menganggu Yunho, tapi kalau aku mengalah nanti Yunho akan besar kepala nggak elit banget kepalanya kan sudah kecil' batin Jaejoong menimbang-nimbang.
"Jae hyung" panggil Changmin
".."
"hyung"
".."
"Yak, hyunggggg" teriak Changmin
"Eh? Wae? Ada apa min kenapa kau berteriak" seru Jaejoong. Changmin memutar bola matanya .
"Sampai kapan kau diam disitu terus hyung kita sudah sampai sekarang"
"Eh? Sudah sampai" ujar Jaejoong kaget, karena terlalu asyik melamun ia tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di kediaman keluarga Kim.
"Memang apa yang kau lamunkan sih hyung"
"Ani, mana yang lain? Moobin mana?" seru Jaejoong kaget.
"Mereka semua sudah duluan, kajja cepat masak aku sudah lapar" perintah Changmin, Jaejoong keluar dari mobil Yoochun dan segera menghampiri teman-temannya.
"Jae hyung ajhumma sama ajhussi masih di Paris?" tanya Junsu saat baru menginjakkan kakinya di dalam rumah Jaejoong.
"Begitulah, mungkin bulan depan mereka baru pulang" jawab Jaejoong sambil berjalan menuju dapurnya yang terlihat sangat bersih dan mewah "Kalian mau makan apa?"
"Kalau aku buatkan bibimbap,bulgogi,japchae,Yangnyeom Tongdak, Hoeddeok,Dduk—"
"Ya—ya kau pikir disini restoran, kalau kau mau makanan sebanyak itu lebih baik kau pesan saja sendiri" potong Jaejoong saat Changmin menyebutkan satu persatu nama makanan. Changmin mempout bibirnya karena penolakan Jaejoong.
Jaejoong membuka kulkasnya memeriksa bahan makanan apa saja yang masih ada untuk dimasak. Setelah melihat isi kulkasnya ia memutuskan untuk membuat kimchi dan bibimbap dalam porsi banyak mengingat makanan untuk mereka berlima. Namun terlebih dahulu ia membuatkan bubur untuk Moobin.
Setelah beberapa menit berkutat di dapur membuat bubur untuk Moobin akhirnya selesai juga. Ia segera menghampiri teman-temannya yang sedang bermain dengan Moobin. Jaejoong tersenyum kecil melihat Yunho yang sedang menggendong Moobin dan Junsu yang ingin mengambil Moobin dari Yunho.
"Ini buburnya sudah siap, waktunya Moobin makan" seru Jaejoong saat melihat Yunho dan Junsu yang sedang berebut Moobin.
'kenapa Yunho seperti menyayangi Moobin bukankah kemarin ia menolak merawatnya' batin Jaejoong.
"Hyung, sini Moobinnya biar aku yang menggendong" pinta Junsu
"Ani biar aku saja, nanti ia akan menangis mendengar suaramu" tolak Yunho dan berusaha menghindar dari Junsu Moobin yang melihatnya tertawa mungkin merasa terhibur dengan pertengkaran HoSu. Jaejoong menggeleng kepala melihat tingkah Yunho dan Junsu, sementara Changmin dan Yoochun tidak perduli dengan kegiatan HoSu memperebutkan Moobin mereka memilih menonton TV sambil menikmati cemilan yang mereka dapat entah dari mana.
Jaejoong menghampiri Yunho dan Junsu dan langsung mengambil Moobin dari gendongan Yunho. Karena kaget Yunho hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya menatap kosong gendongannya.
"Yak, jae kalau mau mengambil bilang-bilang dong" seru Yunho yang baru tersadar dari keterkejutannya. Sementara Jaejoong tidak ambil pusing dengan teriakan Yunho dan memilih untuk segera menyuapi Moobin. Junsu menghampiri Jaejoong yang terlihat asyik menyuapi Moobin.
"Hyung, kau sudah seperti ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya" ujar Junsu tanpa rasa berdosa. Sontak Jaejoong menghentikan kegiatannya menyuapi Moobin menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memerah. Changmin dan Yoochun yang tadinya serius menonton menoleh kearah Jaejoong dan Junsu, setelah saling melempar pandangan mereka kemudian menyeringai.
"Jelas saja Su, jiwa keibuan jae hyung kan tidak perlu diragukan. Makanya hyung cepatlah menikah dan buat anak yang banyak" kata Changmin sambil tersenyum evil.
"YAKK, DASAR PABBO" seru Jaejoong dengan wajah yang semakin memerah.
"Menikahlah denganku jae" kata Yunho sambil memasang senyum sejuta wattnya.
"Dalam mimpimu tuan JUNG"
"Sudahlah hyung kami tahu kalau kau masih mencintai Yunho hyung" goda Yoochun sambil menaik turunkan alisnya.
"Ne, hyung akui saja" kini Junsu yang ikut-ikutan menggoda Jaejoong.
"YAK—YAK kenapa kalian semua menyudutkanku" seru Jaejoong kesal karena merasa di sudutkan.
"Tapi memang benarkan hyung" kata Changmin
"Yak dasar kalian Pabbo! Ini kalian suapi Moobin aku sudah tidak mood" kata Jaejoong sambil menyerahkan Moobin ke pangkuan Junsu dan ia pun langsung berdiri menjauhi HominYoosu. Mereka semua tertawa melihat Jaejoong yang sedang marah namun tidak ada seram-seramnya malah menggemaskan ditambah dengan rona merah dipipinya. Sebenarnya ia tidak marah hanya saja ia merasa malu dan untuk menutupinya ia ya bersikap pura-pura marah.#dasar Umma gengsi bener
"Huh masih saja gengsi" cibir Junsu. Yunho berdiri dari duduknya bermaksud menemui Jaejoong.
"Yah mudah-mudahan mereka bisa secepatnya baikan" ujar Yoochun yang melihat Yunho menemui Jaejoong.
&*& Yunjae &*&
Mata musang itu terlihat memperhatikan Jaejoong yang sedang memotong sayuran dengan telaten dan terlihat sangat serius hingga tidak menyadari keberadaan namja bermata musang yang kini tengah tersenyum menatap punggung namja cantik tersebut.
Jaejoong berbalik melihat masakannya kemudian mengambil sendok untuk mengaduk masakannya. Sesekali mencicipinya merasakan apa ada yang kurang dengan rasa masakannya. Perlahan namja bermata musang itu mendekat kearah Jaejoong yang masih belum menyadari keberadaannya. Dengan ragu ia memeluk pinggang ramping Jaejoong membuat Jaejoong tersentak kaget dan hampir menjatuhkan sendok yang ada ditangannya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari normal tanpa ia melihat pun ia sudah tahu siapa yang berani memeluknya. Pelukan hangat yang sudah lama tidak dirasakannya. Hatinya menolak namja bermata musang tersebut memeluknya namun tubuhnya seolah berkhianat padanya.
"Jae, Bogoshipoo" gumam namja bermata musang tersebut.
'Nado yun' batin Jaejoong ia hanya bisa menyuarakannya dalam hati entah kenapa mulutnya terasa kelu walau hanya untuk menjawab pertanyaan Yunho.
"Jae, aku ingin kita kembalilah seperti dulu"
'Aku ingin tapi rasanya masih sakit mengingat semuanya Yun' Jaejoong kembali menyuarakannya dalam hati.
"Apa kau masih mencintaiku Jae" lirih Yunho yang masih berusaha walaupun Jaejoong hanya diam namun ia tahu namja cantik itu mendengarkannya.
"…."
"Kau bilang pada Ahra kalau kita tidak pernah putus bukankah itu berarti kau masih mencintaiku"
'DEG' mata Jaejoong terbelalak tubuhnya semakin menegang mendengar kalimat yang baru saja terucap dari mulut Yunho. Memorinya memutur kejadian pagi tadi saat Ahra menghadangnya di depan kelas.
"YAK, LEPASKAN AKU MAU MASAK" teriak Jaejoong berusaha melepaskan tangan Yunho dari pinggangnya, walaupun diperlakukan kasar namun entah kenapa senyum dibibir hati itu kini terkembang dengan tidak rela ia melepaskan pelukannya menatap punggung Jaejoong yang membelakanginya tanpa berani menghadap Yunho. Yunho memilih untuk duduk di salah satu kursi di depan meja makan daripada membuat Jaejoong semakin marah padanya. Ia tersenyum melihat tingkah Jaejoong. Namun tidak dengan Jaejoong hatinya terus menerus meruntuki Yunho yang masih duduk di dekatnya.
'Aigo apa ia mendengar semua malunya, ini semua gara-gara nenek lampir itu' runtuk Jaejoong sambil bergumam tidak jelas.
"APA YANG KAU LIHAT" bentak Jaejoong saat melihat Yunho memandanginya sambil tersenyum.
"Ani, kau sangat cantik jae"
'BLUSS' Pipi Jaejoong langsung dihiasi rona merah mendengar pujian Yunho. Namun bukan Jaejoong namanya kalau harus menunjukan sisi feminimnya.
"Yak dasar Pabbo aku ini namja aku tampan bukan cantik" seru Jaejoong tidak terima "Kau pergi dari sini jangan ganggu aku lagi masak"
"Ne—ne" ujar Yunho kemudian bangkit dari duduknya
'Chuu~~'
Jaejoong mengerjapkan matanya berkali-kali tubuhnya membatu pikirannya masih meloading apa yang baru saja terjadi. Tangannya refleks menyentuh bibirnya yang baru saja bertemu dengan bibir hati milik Yunho. Rasa hangat langsung menjalar keseluruh persendiannya.
1 detik masih memproses
2 detik mengernyitkan dahinya
3 detik
"JUNG YUNHHOOOO PABBBOOOOOOOOOOOOOOO" teriakan mengelegar terdengar dari penjuru rumah milik keluarga Kim. Namun tersangka yang membuat seorang Kim Jaejoong marah hanya tersenyum sambil menutup telinganya beruntung ia segera menghindar dari namja cantik tersebut sebelum namja cantik itu menyadari ia telah mencuri ciumannya.
&*& Yunjae &*&
Mata doe itu memandang tajam seorang namja yang tengah asyik menyantap makanannya seolah-olah tidak menyadari tatapan membunuh seorang namja cantik diruangan tersebut. Suasana di dalam ruang makan terasa aneh dengan hawa yang tidak mengenakan. Tiga orang namja lain saling melempar pandangan namun kemudian mereka mengeleng kecil saling berbicara melalui bahasa tubuh.
Untungnya suasana tersebut segera berakhir karena tangisan Moobin yang tiba-tiba pecah. Jaejooong segera menghampiri Moobin dan menenangkannya. Membuat Yoochun, Junsu dan Changmin bernafas lega karena terbebas dari suasana yang panas dan mereka bisa makan dengan tenang 'Moobin sepertinya mengerti kalau orangtuanya sedang bertengkar' batin tiga orang tersebut.
Kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka pada satu orang namja yang menjadi tersangka marahnya namja cantik tersebut yang kini tengah asyik menikmati makanannya. Menatap tajam namja tersebut, karena merasa diperhatikan namja bermata musang tersebut mendongkakan kepalanya.
"Waeyo, kenapa kalian melihatku seperti itu" tanya Yunho tanpa rasa bersalah
"Apa yang kau lakukan pada jae hyung, kenapa ia bisa semarah itu" tanya Junsu namun yang ditanya hanya mengendikan bahunya dan kembali menikmati kimchinya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, kalian tahu sendiri kalau ia itu pemarah" jawab Yunho dengan cengirannya.
"Kami tidak percaya padamu"
"Terserah, cepat habiskan makanan kalian atau ia akan semakin marah" kata Yunho mengingatkan kalau Jaejoong tidak suka ada masakannya yang tidak habis dimakan.
&*& Yunjae &*&
Kelima namja sedang berkumpul diruang tamu keluaraga Kim, Junsu dan Jaejoong sang pemilik rumah nampak sedang bermain dengan Moobin, sesekali kegiatan mereka diganggu oleh Yunho. Changmin dan Yoochun mengelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga temannya. Jaejoong yang marah dan kesal karena Yunho terus menganggunya seolah melupakan kejadian yang mereka alami di dapur tadi.
"Jae hyung, Yunho hyung" panggil Yoochun. Merasa namanya di panggil Yunho dan Jaejoong melihat kearah Yoochun.
"Bagaimana mengurus Moobin kalau kalian ada kuliah, bukankah kalian satu kelas tidak mungkinkan kalian bergantian menjaganya" tanya Yoochun.
"Kau benar juga chun" kata Yunho membenarkan perkataan Yoochun.
"Ini semua gara-gara kau, kenapa kau harus mengambil jurusan yang sama denganku" omel Jaejoong.
"Sudah-sudah jangan mulai bertengkar lagi" lerai Junsu
"Titip di penitipan anak saja selagi kalian kuliah, Otte" usul Changmin
"Ide yang bagus, tapi kami tidak tahu tempatnya" kata Jaejoong.
"Aku ada kenalan bagaimana kalau kalian menitipkannya disana" kata Yoochun
"Boleh juga baiklah kalau begitu" kata Jaejoong
"Emm, jae hyung boleh aku bertanya" tanya Junsu ragu-ragu.
"Ne, ada apa Su?"
"Tapi jangan marah ne" Jaejoong mengernyitkan dahinya mendengar ucapan junsu
"Waeyo?"
"Itu aku masih penasaran kenapa kau membawa Yunho hyung mengurus Moobin bukan kah kalian sering bertengkar" ujar Junsu ragu. Wajah Jaejoong menegang mendapati pertanyaan Junsu.
"Ne, aku juga penasaran Jae kenapa kau membawa bayi itu kerumahku" tanya Yunho yang masih penasaran terkadang ia ingin menanyakannya namun terlupakan kalau sudah berdekatan dengan Jaejoong.
"Anu—u itu" ujar Jaejoong terbata-bata bingung ingin mengutarakan alasannya apa karena ia sendiri juga bingung kenapa ia bisa mendatangi rumah Yunho malam itu.
"Apa jangan-jangan kau sengaja biar kita bisa kembali seperti dulu lagi" goda Yunho
"YAK, BUKKAN seperti itu" kata Jaejoong tidak terima.
"Lalu apa?"
"Waktu itu, aku—" Jaejoong meremas ujung kaosnya "Aku hanya ingin meletakannya dirumah Yunho tapi saat aku berbalik sudah ada Mr. Jung ya begitulah" Jaejoong memejamkan matanya takut melihat reaksi Yunho.
"MWOOO! Kau aishhh" geram Yunho setelah mendengar alasan Jaejoong
"Mian" cicit Jaejoong. Yang lainya hanya bisa tersenyum entahlah yang ada dipikiran mereka adalah Moobin bisa jadi pemersatu hubungan hyungnya lagi.
"Kau ingin melimpahkan tanggung jawab itu padaku" seru Yunho
"Mian yun, saat itu hanya kau yang ada dipikiranku" Jaejoong langsung menutup mulutnya karena kalimat yang tidak ingin ia ucapkan keluar begitu saja dari mulutnya. Yunho tertegun berusaha memproses apa yang ia dengar tadi bukan ilusi.
"Mwo?"
"Ani, maksudku saat itu aku tidak sengaja melihat kearah rumahmu, jadinya aku langsung kepikiran dirimu" kata Jaejoong meralat ucapannya.
"Benarkah"
"N—ne tentu saja, memang apa yang ingin kau harapkan"
"Aku sih berharap kalau kau selalu memikirkanku"
"Jangan mimpi tuan JUNG" ucap Jaejoong.
&*& Yunjae &*&
Hampir dua minggu sudah Moobin berada ditengah-tengah pasangan yang selalu bertengkar tersebut. Hubungan mereka mulai ada sedikit perubahan walaupun terkadang masih suka bertengkar karena masalah-masalah kecil mengenai Moobin. Changmin, Junsu dan Yoochun tidak terlalu ambil pusing ada perubahan saja mereka sangat bersyukur daripada mereka terus-menerus bertengkar.
Selama mereka kuliah Moobin mereka titipkan di salah satu tempat penitipan bayi, sorenya saat selesai kuliah mereka menjemput Moobin. Terkadang Yunho harus rela(ikhlas lahir batin) menginap ditempat Jaejoong, karena Jaejoong tidak ingin mengurus Moobin sendirian apalagi Moobin yang sering menangis tengah malam.
Seperti saat ini pasangan ini terlihat kerepotan menenangkan Moobin yang tidak berhenti menangis sejak sore tadi, padahal biasanya kalau Moobin menangis dengan berat hati Jaejoong merelakan nippelnya untuk menyusui Moobin supaya berhenti menangis namun kali ini sepertinya Moobin tidak menginginkan nipple Jaejoong.
"Aduh yun kenapa Moobin terus menangis" gerutu Jaejoong sambil mengendong Moobin.
"Aku juga tidak tahu Jae"
"Cobalah kau tanyakan pada bibi Lee bagaimana cara menenangkan Moobin, aku sudah sangat cape hari ini" keluh Jaejoong karena memang kegiatannya di kampus menguras tenaga dan pikirannya karena bakti social yang mereka adakan.
"Ne, tunggu sebentar" Yunho meraih ponsel disaku celananya menghubungi telepon rumahnya. Setelah menunggu beberapa saat seseorang mengangkat teleponnya.
"Yebboseo"
"Bibi Lee bisakah bibi ke rumah Jaejoong sekarang"
"Ada apa tuan?"
"Kesini saja"
"Baik" telepon pun diputus Yunho dan dimasukannya lagi kedalam saku celananya.
"Bagaimana yun, apa kata bibi Lee" tanya Jaejoong
"Sebentar lagi bibi Lee akan kesini"
"Bin kau kenapa sih eoh kenapa menangis terus" kata Jaejoong.
"Bi kenapa Moobin terus menangis tidak seperti biasanya" kata Jaejoong saat melihat bibi Lee memasuki kediamannya. Setelah memeriksa sebentar keadaan Moobin "Sepertinya Bin masuk angin tuan"
Dengan perasaan khawatir Yunho berinisiatif membawa Moobin segera ke rumah sakit "Jae sebaiknya kita bawa Moobin ke rumah sakit" usul Yunho.
"Ne kau benar Yun, kajja bibi Lee tolong siapkan bajunya Binnie ne ada di kamar" pinta Jaejoong. Bibi Lee pun menangguk kemudian segera menyiapkan keperluan Moobin.
&*& Yunjae &*&
"Moobin baik-baik saja hanya masuk angin" kata dokter Kang yang memeriksa Moobin beberapa saat yang lalu. Yunho dan Jaejoong bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter Kang.
"Khamsahamida dok" ucap Yunho. Dokter Kang tersenyum melihat raut kelegaan diwajah Yunho.
"Gwenchana, menjadi orang tua baru memang agak susah pada awalnya" kata Dokter Kang sambil menepuk pelan bahu Yunho. mendengar ucapan dokter Kang Yunho dan Jaejoong jadi salah tingkah.
Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka dengan pandangan yang terlihat menyimpan kerinduan dan terluka.
TBC
A/N: mian Yura telah banget updatenya, soalnya tugas yura bikin pusing dan lagi-lagi ide ceritanya yang mampet ditengah jalan. Ini yura ketik disela waktu-waktu pusing yura mian kalo chap ini mengecewakan karena jujur yura kurang puas dengan chap kasih buat yang udah ngasih Yura reviewnya gak nyangka banget yura* chap kemarin mian kalo pendek banget, soalnya udah mentok banget itu idenya,kekeke. Mian juga kalo cara pengurusan bayinya rada-rada gak masuk akal cz yura bingung gak pernah ngurusin bayi. hee
Kalo masih ada typosnya mian, sudah yura perbaiki semampu yura tapi kalau masih ada mohon koreksinya ne tapi jangan dibash. :)
