Author's greeting :
Tsuki : Bales review non-login dulu ah!
Dena Shinchi, waa… makasih nih untuk reviewnya. Ya, ntar kalau aku mau nyulik Akashi aku hubungin deh #diguntingAkashi
zasm, lho? Kok dobel? Iya nanti Mbak Hanji-nya muncul kok di chap ini. Hehehe…
Okey… silahkan lanjutkan membacanya!
.
.
.
.
.
Disclaimer :
Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki
Shingeki no Kyojin © Hajime Isyama
Pesantren Al-Sekoting (SnK's parody) © Pesantren Al-Sekoting RP
but this fanfiction is mine
Segala macam merek milik perusahaan mereka masing-masing
Rated : K
Genre : Humor & Friendship
Warning :
doakan gak ada typos, relakan mereka OOC, misalnya ini fic gaje, pastikan kau tetap RnR, soal nge-flame itu mah cuek, lama-lama jadi nge-fave, siapa yang tau pasti, silahkan dibaca dulu… -nyanyi ala Budi Doremi- Happy reading minna…
.
.
.
.
.
Tak terasa sudah dua bulan Kiseki no Sedai masuk ke Pesantren Al-Sekoting. Dan selama sebulan itu juga, Kiseki no Sedai mulai mengakrabkan diri mereka dengan santri Sekoting yang lain. Sebagai contoh, Kuroko dan Eren yang sudah seperti kakak-adik. Kemana-mana pasti selalu bersama kayak Upin-Ipin. Mulai dari masuk kelas bareng, tidur bareng, makan bareng, dihukum Ustad Rifai bareng (itu mungkin pengecualian), sampai mergoki si Joko lagi nyolong sandal aja bareng.
"Oy! Joko! Ngapain lu ngumpet di semak-semak celingak-celinguk begitu?" tanya Eren saat menemukan Joko lagi sembunyi di semak-semak.
"Diem lu Eren! Gue lagi konsentrasi nih!" jawab Joko sambil terus waspada. Siapa tau ada Ustad Rifai lewat trus mengganggu niat sucinya. (baca: nyolong sandal)
"Cih! Nyolong sandal aja pake konsentrasi! Noh, di warungnya Mpok Riko ada trasi ampe bejibun noh!" kata Eren sambil nunjukkin warung milik Mpok Riko. Atau lebih tepatnya Aida Riko yang jualan di warung pesantren. (Tsuki: what?! Riko jualan di warung pesantren? Jangan-jangan ntar makanannya dikasih suplemen).
"Apa? Mas Joko nyolong sandal? Jangan-jangan, selama ini yang nyolong sandalnya Mas Aomine sama Mas Kise itu Mas Joko?" tanya Kuroko. O iya, semenjak Kuroko tinggal di pesantren, dia yang biasanya manggil orang pake embel-embel –kun sekarang jadi manggil pake embel-embel mas.
"Oy! Kuroko! Jangan keras-keras dong ngomongnya! Ntar kalau ketahuan Pak Ustad gimana? Bisa digantung gue!" omel Joko. Dan tanpa disadarinya, Akashi dan Takao berdiri di belakangnya sambil senyum-senyum jahil gitu. O iya, sekarang Akashi dan Takao udah baikkan dan mereka memutuskan untuk tobat dan menjadi 'lurus' setelah masuk pesantren. Capek jadi homo katanya.
"Ehem!" Akashi berdehem.
"GYAAA! PAK USTAD!" teriak Joko kaget. Dan sangking kagetnya, si Joko jadi salto. Berterima kasihlah pada suara Akashi yang mirip Pak Ustad.
"BWAHAHAHAHA!" tawa Eren dan Takao pun meledak. Sedangkan Akashi dan Kuroko sudah mati-matian nahan tawa. Jaga image katanya.
"Kampret! Ternyata elu, Bakashi?!" tanya Joko seketika gondok karena Akashilah sang pelaku deheman itu.
"Maaf, tenggorokanku gatel sih" kata Akashi nyari alesan.
"Ahahaha… makan noh Pak Ustad!" ledek Eren.
"Yuk, Kuroko! Kita kabur!" ajak Eren sambil menyeret Kuroko.
"AWAS YA KALIAN SEMUAAAAA!" Joko mulai ngamuk.
"Satu, dua, tiga!" guman Akashi menghitung.
"KABORRRRRR!" seru Takao lalu lari bersama Akashi. Sedangkan Joko mengejar mereka berdua sambil membawa street sign yang baru dia nyomot dari tangan Shizuo di anime sebelah. (Tsuki: hee? –sweatdrop–)
.
_–_o0o_–_
.
Lain cowok lain pula cewek…
"Aduh… nyeri banget ini perut…" keluh Momoi sambil memegangi perutnya. Sekarang ini, Momoi sedang guling-gulingan di atas kasur di kamar asramanya.
"Lho? Momoi! Kamu kenapa?" tanya Sasha yang juga merupakan teman sekamar Momoi.
"Biasalah, Sas. Lagi dapet" jawab Momoi sambil terus mencengkram perut bagian bawahnya.
"Ow… gitu toh?" kata Sasha ngangguk-ngangguk. "Kalau gitu, ayo ikut aku buat nemuin Mbak Hanji!"
"Hah? Ngapain?"
"Lho? Katanya kamu lagi haid? Ya tentu saja buat minta ijin haid" jawab Sasha dengan polos.
"Emang harus ya?" tanya Momoi lagi dengan muka penuh penderitaan.
"Ya iyalah! Kalau enggak, kamu nanti bakalan dihukum sama Pak Ustad"
"Lha? Emang apa hubungannya?"
'Sumpah! Ini cewek pink kebanyakkan nanya deh' batin Sasha.
"Gini ya Momoi! Setiap kita lagi haid, kita wajib minta ijin sama petugas mushola. Nanti kita bakalan dikasih kartu tanda haid. Nah, kau tau kan kalau setiap kita sholat di mushola, kita selalu diabsen? Padahal kita tidak sholat saat haid"
Momoi mengangguk.
"Nah itu maksudnya kenapa kau harus minta ijin haid. Dengan memiliki kartu tanda haid, kau boleh tidak ikut sholat berjamaah selama seminggu. Dan ketika kau sudah selesai haid, kartunya kau kembalikan pada petugas. Kalau tidak kau bisa kena denda" jelas Sasha.
"Ow… gitu ya? Jadi kalau kita meninggalkan sholat bukan karena haid, kita bakalan dihukum sama Pak Ustad?"
"Yups!"
'Ow… pantesan kok dulu setelah sholat Maghrib, Pak Ustad kayak lagi nungguin temen-temen Kiseki no Sedai yang lagi ngebersihin WC' batin Momoi saat ingat hari pertamanya di pesantren bersama Kiseki no Sedai yang lain.
Flashback on
Hari pertama setelah sholat Maghrib…
"Tetsu-kun!" panggil Momoi melambaikan tangan kepada Kuroko. Setelah itu dihampirinya cowok baby blue yang sedang bersama Eren dan Mikasa.
"Momoi-san" sapa Kuroko.
"Eh, kamu kan yang bukannya duduk sebangku sama aku ya?" tanya Mikasa yang merasa familiar dengan Momoi.
"O iya, kenalin namaku Momoi"
"Aku Mikasa. Senang bertemu denganmu"
"O iya, Momoi-san. Kenalin, ini Eren, temen sekelasku sekaligus saudara angkat Mikasa" kata Kuroko memperkenalkan Eren pada Momoi.
"Aku Momoi. Yoroshiku"
"Eren, yoroshiku"
"Are? Itu bukannya Kagami-kun, Aomine-kun, dan lainnya? Mereka sedang apa di situ?" tanya Kuroko sambil menunjuk anak Kisedai –minus Kuroko dan Momoi– yang berada di WC umum pesantren bersama Ustad Rifai.
"Eh, iya tuh. Ada Pak Ustad Rifai juga lagi" kata Eren.
"Paling mereka sedang dihukum" kata Mikasa.
Sementara itu…
Terlihat para cowok Kiseki no Sedai, minus Kuroko, sedang membersihkan WC pesantren. Dan terlihat pula Ustad Rifai yang menunggui mereka dengan tatapan tajam andalannya.
"Oy! Cepat oy! Nanti keburu orang-orang pada ngantri loh!" kata Ustad Rifai seenaknya nyuruh-nyuruh anak Kisedai.
"Iya! Iya! Gak usah bawel kenapa sih, Akashi?" dumel Aomine yang salah paham.
"Bukan aku yang ngomong, Daiki!" protes Akashi yang dengan khusyuknya ngepel lantai.
"Arrrrgh! Bisa gak sih, kalian berdua kalau mau ngomong gak usah bikin bingung orang?! Ngomong siapa yang ngomong kek!" omel Kagami frustasi sambil melempar sikap WC ke lantai.
"BISA GAK SIH GAK USAH KOMENTAR?! KERJA SANA!" bentak si duo Kamiyan (Ustad Rifai dan Akashi).
Kagami kicep.
'Duh… apes nemen yo nasibku. Wis dhek wau isin gara-gara salah ngira gender, saiki malah dibentak karo wong loro cebol iki. Nasib… nasib…' batin Kagami ngejowo. (Translate: Duh… apes banget ya nasibku. Udah tadi malu gara-gara salah mengira gender, sekarang malah dibentak sama dua orang cebol ini)
"Kamu sabaro, Kagami…" kata Takao sambil mem-puk-puk Kagami.
"Urusai naa~~" guman Kagami madesu.
"Murasakibara, bisa gak sih berhenti nyemil? Remah-remahmu mengotori lantai, nanodayo! Padahal aku sudah capek-capek membersihkannya, nanodayo!" omel Midorima pada Murasakibara yang asyik makan Ch*ta*o.
"Nyam~ nanti nyam~ aku bersihin nyam~ Mido-chin nyam~"
'Halah! Paling ujung-ujungnya aku juga ngebersihin. Haa… jadi heran deh. Ini orang kok betah amat nyemil di WC?' batin Midorima.
"Hoy! Kise! Mau sampai kapan kau ber-narsis-ria di depan cermin, nanodayo?!"
"Ish! Midorimacchi ngaco deh! Orang aku lagi ngebersihin kaca juga!" protes Kise kemudian melanjutkan pekerjaannya. Tapi kadang-kadang Kise berpose-pose gak jelas di kaca toilet.
Sementara itu, Ustad Rifai menghela nafas dan memijat-mijat keningnya gara-gara melihat santri barunya yang tak kalah ajaib dari santri-santrinya yang lain.
Flashback off
.
_–_o0o_–_
.
Kembali pada Momoi dan Sasha yang sekarang sedang bertemu dengan Mbak Hanji, selaku guru petugas di Al-Sekoting.
"Assalamualaikum, Mbak Hanji!" sapa Sasha.
"Waalaikumsalam. Eh, Neng Sasha. Ada apa?" tanya wanita berkacamata itu.
"Gini loh Mbak Hanji, temen saya ini kan pindahan dari Teiko sebulan yang lalu" cerita Sasha sambil menunjuk Momoi.
"Nah, masalahnya sekarang dia lagi haid. Dan maka dari itu, saya menemaninya untuk minta kartu tanda haid sama Mbak Hanji" lanjutnya.
"Oh… gitu…" guman Hanji manggut-manggut lalu menoleh pada Momoi dan bertanya, "Namamu?"
"Momoi Satsuki desu"
"Momoi, ikut aku!" kata Hanji lalu pergi dan Momoi mengikutinya.
Dan ketika sampai di tempat yang di tuju…
"Lho? Kok ke toilet? Emangnya Mbak Hanji mau pipis ya? Atau mau be'ol?" tanya Momoi yang entah kenapa jadi bego kayak Aomine. #dibuang
"Enak aja! Siapa yang mau be'ol?! Ini!" omel Hanji lalu memberi Momoi selembar tisu.
"Eh? Buat apa?" tanya Momoi cengo.
"Buat ngebuktiin kalau kamu emang lagi datang bulan" jawab Hanji.
"Hah? Jadi Mbak Hanji gak percaya kalau aku lagi dapet?! Gak lihat apa mukaku yang penuh penderitaan gara-gara nyeri haid?! Belum lagi kalau jalan gak enak banget rasanya! Kayak ada yang ngeganjel! Udah gitu ini lagi deres-deresnya, takut nembus!" keluh Momoi mendramatisir suasana. Ketularan Kise ini orang. (Kise bersin-bersin)
"Ish! Bukannya aku gak percaya sama kamu! Aku juga tau kok penderitaanmu saat lagi datang bulan. Secara, aku ini juga wanita! Dan bisa aja kamu cuma ngaku-ngaku supaya kamu bisa terbebas dari hukuman Pak Ustad, iya kan?"
(Owalah… Tsuki pikir Hanji itu cewek jadi-jadian. –dibuang ke kandang Sawney–)
"Ya Allah, Ya Rob… aku aja baru dikasih tau sama Sasha, Mbak! Gimana aku mau ngaku-ngaku cuma biar gak ketahuan Pak Ustad, coba?"
"Ya udah, kalau gitu ambil tisunya, lalu kamu masuk ke toilet, trus kamu colek bagian –piiip– kamu pake itu tisu, setelah itu tunjukkan itu tisu sebagai barang bukti" jelas Hanji.
"Eh? Sekarang?" tanya Momoi ragu-ragu.
'Ini gak ada cara pembuktian yang lain ya? Masa aku harus melakukannya sih? Gak banget deh!' batin Momoi. Ngomong-ngomong, dia jadi jijik sendiri.
"Ya iyalah… masa kamu mau nunggu sampai kucingnya Pak Kamiya melahirkan bayi kucing kembar tiga? Ayo cepat lakukan! Atau kamu mau dihukum sama Pak Ustad gara-gara dia gak tau kalau kamu lagi datang bulan?" ancam Hanji.
Dan please deh, perasaan kucingnya Pak Kamiya itu cowok! (Pak Ustad+Akashi: Tsuki, kenapa kamu malah bawa-bawa seiyuu kami?! | Tsuki: Oh? Gomen…)
"Hai" dan akhirnya Momoi pun menurut.
Beberapa saat kemudian…
"Nih! Sekarang Mbak Hanji puas kan dengan buktinya?" tanya Momoi yang baru keluar dari bilik toilet sambil menunjukkan selembar tisu yang kini sudah ternodai dengan cairan berwarna merah kepekatan.
"Okey, okey… ini kartunya" kata Hanji sambil memberikan sebuah kartu tanda haid kepada Momoi.
"Nah, itu kartu bisa kamu gunakan untuk absen tidak ikut sholat berjamaah selama kamu datang bulan. Dan setelah seminggu, kartu itu harus dikembalikan. Kalau tidak dikembalikan, satu hari denda 5000 rupiah" jelas Hanji membuat Momoi melotot.
'WHAT THE-?!' batin Momoi shock.
.
_–_o0o_–_
.
Keesokan harinya saat upacara…
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" salam Pak Erwin mengawali pidato.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut para santri yang berbaris 'super' rapi. Sangking rapinya, Murasakibara megang Ch*tat* dan Kuroko megang vanilla milkshake. Lalu ada Joko yang main lempar-lemparan sandal sama Eren. Ada juga Kagami dan Aomine yang malah adu engkol. Kise yang sedang foto-foto selfie ditempat. Sasha yang kebetulan (atau emang disengaja) dekat dengan Murasakibara, diam-diam menyomot snacknya si titan ungu. Mikasa yang entah mengapa berada di barisan cowok. Katanya sih mau ngejagain Eren dari Ustad Rifai. Dan segala tingkah ajaib mereka yang membuat para guru wajib mengelus dada.
"Puja dan puji syukur kami panjatkan kepada Allah Swt karena berkat rahmatnya, kita semua dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal'afiat. Kepada bapak-ibu guru yang saya hormati dan juga para santri Al-Sekoting yang saya cintai. Berhubung kita akan menyambut bulan Ramadhan, pesantren kita akan mengadakan sebuah drama. Blablabla…" ceramah Pak Erwin panjang kali lebar sama dengan luas itu.
Satu abad kemudian… #plak
"… Dan demikianlah pidato singkat dari saya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" kata Pak Erwin yang akhirnya mengakhiri pidatonya.
Dan nampaklah hampir semua makhluk penghuni Al-Sekoting tepar karena mendengar ceramah Pak Erwin yang panjangnya dari Sabang sampai Merauke. Tapi ada beberapa yang masih bertahan di antara mereka. Yups, mereka adalah para guru, Akashi, Midorima, Kuroko, Momoi, Mikasa, Annie, dan Armin. Yeah, beri tepuk tangan pada mereka… –prok– –prok– –prok–
.
_–_o0o_–_
.
Di kelas 2A putra…
"Gila! Ceramah Pak Erwin panjang banget! Sama tepar gue nungguin ceramahnya selesai. Mana panas lagi!" keluh Eren sambil kipas-kipas.
"Sama. Haa~ haa~ gue juga capek…" timpal Kagami ngos-ngosan yang sedang tidur-tiduran di atas meja. Anak baik…
"O iya, Kuroko! Kata temen-temen Kisedai, kau itu yang paling lemah? Kok kamu masih betah gitu sih sama ceramah panjang Pak Erwin di tengah lapangan yang panas lagi?" tanya Rustam kepo.
"Hehehe… ini semua berkat vanilla milkshake yang diberikan Pak Ustad Rifai" jawab Kuroko sambil nyengir-nyengir OOC.
"What?!" guman orang-orang itu gak percaya.
"Bagaimana bisa, Tetsuya? Aku aja yang kalau di Teiko serba absolut, jadi bertekuk lutut sama Ustad yang bahkan lebih pendek dari kita?" tanya Akashi dengan mata melotot.
"Um…"
"Hn?"
"Rahasia"
Gubrak!
Mereka pun terjengkang sementara Kuroko senyum-senyum gaje tapi imut.
Btw, kepo kenapa Ustad Rifai mau-maunya membelikan Kuroko vanilla milkshake? Mari kita flashback…
Flashback On
Pagi itu, ruang kelas 2A putra sedang gaduh-gaduhnya. Lalu, tiba-tiba Ustad Rifai masuk kelas dan berteriak pake toa.
"WOY! UPACARA WOY! KALAU GAK UPACARA, AKU TENDANG SATU-SATU NIH!"
Langsung saja, semua santri pada ngacir ke lapangan. Menyisakan Kuroko, Akashi, dan Ustad Rifai yang masih berada di dalam kelas.
"Oy! Kalian berdua kok malah masih di kelas? Gak upacara?" tanya Ustad Rifai kepada AkaKuro yang dengan tumbennya bermalas-malasan. Rupanya mereka kecapekan gara-gara semalam suntuk nonton bola bareng yang lainnya. Biasa, kan lagi demam bola, piala dunia lagi. Kuroko yang aslinya emang lemah jadi langsung K'O karena jam tidurnya kurang. Sedangkan Akashi, fisiknya sih lebih kuat dari Kuroko, cuma males karena masih ngantuk. Kan waktu belum masuk pesantren, jam tidur Akashi udah diatur. Makanya Akashi belum terbiasa dengan jam tidurnya yang tiba-tiba berkurang drastis.
"Males" jawab AkaKuro kompakan. Membuat sang ustad gondok seketika. Gimana gak gondok? Jawabannya ngajak berantem, mana nadanya juga dingin lagi.
"Kalian mau aku tendang satu-satu, heh?!" bentak Ustad Rifai sambil memamerkan kaki kanannya yang udah siap untuk fabulous kick-nya.
"O iya? Wani piro?" tantang Akashi sambil main gunting. Pengennya sih membuat Ustad Rifai ketakutan, tapi yang ada…
Tap! Tap! Tap!
Pletak!
"Ittei…" rintih Akashi memegang kepalanya yang kini tumbuh benjol. Rupanya Ustad Rifai yang memberi 'belaian kasih sayang' kepada Akashi.
"Ikut upacara atau aku jejelin mulutmu pake rumput laut setiap hari?!" ancam Ustad Rifai sarkatis.
Mendengar kata 'rumput laut', otomatis Akashi pun langsung ngibrit ke lapangan. Takut dijejelin rumput laut beneran. Sementara itu Ustad Rifai tersenyum nista melihat kepergian Akashi.
'Muehehehe… untung aja si Nijimura memberiku data-data lengkap tentang Kisedai. Dengan begini, tak ada yang bisa menentangku terutama Akashi sekalipun. Khukhukhu…' batin Ustad Rifai.
"Dan eh kamu! Ngapain kamu malah asyik tidur-tiduran di situ?! Cepat ke lapangan!" seru Ustad Rifai kepada Kuroko yang masih bertahan di kelas.
"Gak mau, Pak Ustad"
"Berani ngelawan kamu, heh?!"
"Tidak" kata Kuroko dengan muka datarnya. Membuat Ustad Rifai membatin, 'Dasar muka Teflon!'
Jiah! Si Ustad gak sadar diri kalau mukanya juga muka Teflon. #ditendang
"Lha terus kenapa kamu gak mau upacara?"
"Bukannya aku gak mau ikut upacara, Pak Ustad. Tapi aku mau ikut upacara dengan satu syarat"
"Syarat?"
"Pak Ustad harus mentraktirku vanilla milkshake berukuran jumbo setiap upacara"
"Eh? HEEE! Enak aja! Kau pikir aku ini siapamu, dasar santri durhaka!"
"Gak mau ya? Ya udah, nanti aku sebarkan rahasia bapak ke semua santri"
"Hee?! Rahasia?"
"Iya. Bapak naksir kan sama Mas Eren?" tanya Kuroko yang langsung men-jleb-kan hati Pak Ustad. Bagaimana bisa seorang ustad naksir sama seorang santrinya? Bergender cowok lagi?
"B-bagaimana kau bisa tau? Eh! Tapi bukan berarti aku beneran naksir sama Eren ya!" kata Ustad Rifai tiba-tiba tsundere.
"Kemarin Mbak Momoi bilang padaku kalau dia menemukan foto Mas Eren di dompetnya bapak. Trus juga, di kelas bapak sering berurusan dengan Eren. Dan menurut pendapat Mbak Momoi, itu pasti karena Pak Ustad suka sama Mas Eren"
Kuroko… Kuroko… sama fujoshi aja dipercaya. Momoi bisa saja akurat saat menganalisa data. Tapi ketika fujoshi-nya kumat, bisa jadi analisanya ngaco.
'WUEDAN! Bener kata Nijimura. Si cewek pink itu emang cocok jadi informan. Tapi fujo -nya itu loh amit-amit cabang pohon. Ini lagi si Hanji, ngapain juga mensabotase dompetku lalu diisi fotonya Eren? Dan please deh, aku ini wali kelasnya sedangkan Eren ketua kelasnya. Jadi wajar kan?' batin Ustad Rifai dengan muka facepalm.
"Jadi, Pak Ustad pilih mana?" tanya Kuroko yang udah merasa menang.
"Iya deh, iya deh… puas kau?"
Kuroko hanya nyengir dalam hati melihat Ustad Rifai takluk dengan ancamannya.
Flashback off
Brak!
"Eren, Kuroko, Rustam, Connie! Kalian dipanggil Pak Erwin. Ditunggu di ruang aula sekarang!" seru Hanji setelah mendobrak pintu kelas.
"Hee?! Dipanggil Pak Erwin?! Aduh… pasti bakalan dihukum nih gara-gara ketahuan kalau aku diam-diam menjual sirup Marjan di lingkungan pesantren" kata Connie langsung heboh.
"Jangan ngawur, DaAho! Kalau Pak Erwin memanggil kita buat dihukum, mana mungkin Kuroko ikut-ikutan?! Secara dia kan santri teladan!" omel Rustam sambil menggeplak kepala Connie.
'Eh tunggu? Kok rasanya kayak familiar gitu ya?' batin Kuroko dan Kagami. Hayo… siapa itu…?
"Trus aku gak teladan gitu?" tanya Eren merasa iri karena Kuroko dipuji-puji.
"Iya. Kalau kamu mah emang santri 'teladan' sejak dulu. Alias telat datang pulang duluan" sindir Rustam mengingat Eren yang sering bolak-balik masuk ruang BP semenjak SMP.
"Eh? Gak bisa gitu dong! Curang itu mah!" protes Eren plus sweatdrop.
"Kau cerewet sekali, DaAho!"
'Tuh kan, familiar lagi' batin KagaKuro again.
"Ano… kalau boleh tau, ada apa ya Pak Erwin memanggil mereka?" tanya Akashi kepada Hanji.
"Kepo banget sih!"
Seketika itu Akashi mengeluarkan guntingnya untuk menyerang Hanji. Tapi Aomine dan Kagami mencegahnya.
"Dan pokoknya kalian berempat cepat temui Pak Erwin di aula, sekarang juga!"
.
_–_o0o_–_
.
Di aula…
Terlihat beberapa santri yang dipilih Pak Erwin sedang berkumpul di sana. Termasuk Kuroko, Eren, Rustam, dan Connie. Terlihat pula Midorima, Kise, Armin, Mikasa, Christa, dan Momoi.
"Kurokocchi!" seru Kise saat melihat Kuroko.
"Tetsu-kun!" seru Momoi yang juga melihat Kuroko.
"Tch! Kuroko" kata Midorima sambil membuang muka. Dasar tsundere.
"Hai semuanya!" sapa Kuroko ramah meskipun dengan nada datar.
"Eren!" seru Mikasa lalu menghampiri Eren. Seperti biasa, cewek tsuyoi yang over-protective itu memeriksa Eren secara berlebihan. Untuk memastikan kalau Eren masih virgin katanya.
"Eren, kau tak apa-apa kan? Kau tidak digrepe-grepe sama ustad cebol itu kan?" tanya Mikasa yang sepertinya sudah mendengar dan percaya dengan cerita ngawur dari Momoi. Terlihat cewek sakura yang kini berjilbab itu nyengir-nyengir fujoshi. Tau kan tentang analisa ngaconya Momoi tentang RiRen?
"Mikasa, maksudmu apa sih?" tanya Eren sweatdrop.
'Ara-ara… sepertinya si calon 'saudara ipar' sulit untuk memberikan restu. Akankah Pak Ustad tetap bertahan? Ataukah Pak Ustad akan membawa Eren untuk kawin lari? Kyaaaa~~' batin Momoi ber-fangirling-ria dalam hati.
"Mbak Momoi, hidungmu berdarah tuh" komen Kuroko sambil menunjuk hidung Momoi yang rupanya mimisan akibat imajinasinya.
"Momoi, kau tak apa? Atau kau perlu ke UKS?" tanya Armin khawatir.
"Udah, tidak usah pedulikan dia, nanodayo. Dia emang kayak gitu kok" kata Midorima sambil menaikkan kacamatanya.
"Mas Mido jahat sekali sih. Mas Mido tidak mengerti perempuan" komen Kuroko pedes. Tak lupa dengan wajah datar keimut-imutannya yang entah mengapa terasa menyebalkan bagi Midorima.
"Kh~! Kuroko! Ssssshhh~~!" geram Midorima tersinggung.
"Maa, maa, daijoubu da yo, Midorimacchi!" kata Kise sambil mem-puk-puk Midorima.
"Urusai, nanodayo!"
"Assalamualaikum anak-anak!" sapa Pak Erwin akhirnya nongol juga.
"Waalaikumsalam, Pak Erwin!"
"Pak Erwin, ada apa ya kok kami semua dikumpulkan di sini?" tanya Christa yang tadi belum dapet dialog.
"Karena minggu depan sudah memasuki bulan Ramadhan, maka Pesantren Al-Sekoting akan mengadakan sebuah pertunjukkan drama tepat di malam sebelum bulan Ramadhan. Maka dari itu saya memilih kalian untuk menjadi pemerannya"
"Kalau boleh kami tau, drama apa yang akan kami tampilkan?" tanya Kuroko.
"Drama itu adalah…"
.
.
.
–_–つづく–_–
Author's diary :
All Charas : Tsuki! Kenapa berakhir di saat yang tidak tepat?! Jangan bikin kami penasaran dong!
Tsuki : Wee… gomen deh gomen… biar seru gitu hihihi…. –senyum innocent–
O iya, itu yang masalah Momoi minta kartu haid ke Hanji itu, aku terinspirasi sama ceritanya temenku yang dulunya merupakan anak pesantren. Aku yang emang bukan anak pesantren aja udah kayak jijik gitu ngebayanginnya. Tapi kalau gak gitu, yang ada malah gak diijinin gak ikut sholat. Dan masalah dendanya itu, juga ada di pesantrennya temenku. Tapi harga dendanya aku ngawur. Hehehe… #dibuang
Kuroko : Tsuki-san, kenapa aku di sini nampak… ndeso?
Tsuki : Bukan gitu, Kuro-nyan! Itu hanya untuk memperenak Kuroko untuk memanggil tokoh SnK. Terutama untuk yang namanya dialternatif seperti Joko (Jean), Rustam (Reiner), dan Budi (Berthold). Gak asyik dong kalau Kuroko manggil Joko, "Joko-kun"?
Eren : Ngomong-ngomong apa ya dramanya nanti?
Tsuki : Penasaran? Okey, nanti rencananya drama ini akan ku buat agak berbeda dari drama-drama biasanya. Bukan tentang Cinderella, Snow White, Romeo Juliet, apalagi Kulit Manggis(?) (What? Emang kulit manggis termasuk drama? -_-`)
Ku kasih bocoran nih, drama itu aku ambil dari cuplikan sebuah anime yang dimana seiyuu-nya Eren sama Kuroko main di situ. Dan yang satu seiyuu sama Eren itu, mirip sama Kise. Nah, yang kenal pasti ngerti tuh!
So, akhir kata…
All Charas : Review please…
