Title: MARSHMALLOW AND THE PAPER CRANES
Words: 3,3K
Pairing: EXO HunHan/Oh Sehun-Luhan
Genre: Romance, Drama, slight!Mature, Yaoi


'Aku ingin pulang.'

Oh Sehun, lelaki itu hanya terdiam di tempat tidurnya. Baru dua hari dia disana, tapi dia sudah ingin pulang. Baginya, kesalahannya bukanlah sebuah kesalahan yang patut dibesar-besarkan. Selama dua hari juga dia menolak makan dan hanya membenamkan kepala diantara kedua lututnya. Sudah berkali-kali petugas menawarkan makanan, yang ada lelaki itu hanya melemparkan semua makanannya ke lantai. Ini sangat menyiksa baginya. Apalagi ketika Sehun membutuhkannya, dia benar-benar ingin mati saja.

Dia merasa bosan. Tembok putih di sekelilingnya membuat dia muak dan terasa terpenjara. Ah, mungkin dia lebih memilih dipenjara saja. Daripada harus direhabilitasi dengan kamar pribadi yang membuatnya tidak punya teman dan kesepian.

Untuk pertama kalinya dia meminta untuk keluar dari kamar itu. Dia bilang dia membutuhkan udara segar agar tidak terasa sesak dengan suasana kamarnya. Lagipula jika dia terus menyendiri, dia teringat dengan semua beban yang membuatnya begini. Beban itu berubah menjadi luka dan membuatnya memberontak layaknya seekor burung yang tidak pernah keluar dari sangkarnya.

'Siapa dia?'

Pertanyaan itu muncul di benaknya ketika melihat seorang lelaki yang berparas cantik yang sedang duduk di taman dekat kamarnya. Belum pernah ada dalam hidupnya seseorang yang menarik perhatiannya walaupun hanya dengan sekali pandang. Tanpa sadar Sehun mengamati pria yang sedang sibuk menyapa seluruh petugas yang lewat di hadapannya.

Pria itu tidak seperti orang yang sama dengan Sehun. Dia terlihat sehat dan tidak bermasalah sama sekali. Sejenak Sehun mempertanyakan apakah pria itu sama sepertinya, tapi jika melihat baju yang ia kenakan, tentu si pria mengalami hal yang serupa.

Langkah Sehun mendekat ke arah bangku taman itu. Dia sekarang tahu bagaimana figur dari pria tersebut. Jika Sehun bisa mengatakannya, si pria tidaklah berbeda banyak dengan wanita. Hanya organ-organ penting saja yang membedakannya.

Senyum dari pria itu membuat Sehun melupakan masalahnya sejenak. Terlihat bagaimana dengan tulus si pria berbicara dengan petugas yang menanyakan kabarnya. Bahkan dia membagikan sesuatu yang ada pada kotak di sisi kanannya. Marshmallow.

Pria itu menoleh dan menyadari tatapan yang didaratkan padanya. Jantung Sehun serasa tidak berfungsi ketika si pria memberikan senyum manis yang bahkan lebih memabukkan daripada tubuh wanita-wanita yang pernah tidur dengannya.

"Hey, kemarilah."

Lambaian tangan dan suara itu. Bagi Sehun hari itu adalah hari dimana dia sadar bahwa tidak buruk jika menghabiskan waktunya disana. Sekarang dia bertemu dengan seseorang. Seseorang yang ia yakini akan menjadi temannya. Bukan, teman hidupnya kelak.

"Luhan. Kau?"

Sehun yang baru saja duduk di sampingnya merasa waktunya berhenti di tempat. Belum pernah dalam hidupnya ia merasakan seperti itu. Apalagi dengan seorang pria. Dia yakin jika selama 23 tahun hidup, dia tidak pernah menjatuhkan pilihannya pada pria. Tapi kali ini berbeda. Belum Sehun mengenalnya, tapi dia yakin hidupnya akan berakhir disana.

"Sehun. Oh Sehun."

Pria itu tertawa kecil. Dia menyadari bahwa ada kegugupan dibalik suara parau yang baru saja di keluarkan dari mulut Sehun. Tawa itu, tawa itu membuat Sehun melengkungkan senyumnya dengan ikhlas. Dia tidak ingat kapan terakhir melakukannya, karena semua masalah di hadapannya memburamkan kebahagiannya sendiri.

"Sehun-ssi, kau mau marshmallow?"


"Hyung."

Lelaki itu empat tahun lebih awal darinya. Lelaki yang membuat senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya selama seminggu belakangan. Luhan Hyung. Obyek pertama yang akan dia cari ketika matanya terbuka, dan akan menjadi pemandangan terakhir sebelum dia terlelap.

"Sehun-ah, ceritakan masalahmu padaku. Aku akan mendengarkannya."

Dialah orang pertama yang mau mendengarkan cerita Sehun dengan seksama. Cerita tentang masalahnya. Tentang kedua orang tua yang terlalu sibuk untuk memperhatikan keadaan anak semata wayangnya, dan orang tua yang selalu menentang apapun yang diinginkannya. Sehun adalah seseorang yang hanya perlu bernafas untuk mendapatkan uang, tapi baginya dia harus menderita untuk mendapatkan sebuah senyuman.

Sehun bercerita bagaimana dia mengenal Jongin dan Yifan. Kedua orang itu memperkenalkannya dengan beberapa pil yang bisa membuatnya melupakan semua masalah sejenak. Sehun berteman dengan mereka berdua. Dan pertemanan itulah yang membuatnya semakin terjerumus dengan permasalahan yang tanpa disadarinya adalah masalah yang lebih besar. Masih ingat dibenaknya bagaimana ayahnya mengetahui rahasia tersebut. Berulang kali tamparan keras mendarat di pipinya. Berulang kali juga ayahnya menyebut dia sebagai Pembawa Sial.

Lelaki itu tersenyum ketika mendengar semua keluh kesah Sehun. Kemudian dia mengusap pucuk kepala temannya dengan perlahan. Menenangkan. Hal pertama yang dirasakan Sehun selama bertahun-tahun belakangan. Tak pernah dalam hidupnya dia merasa setenang dan diterima seperti ini. Mungkin karena kedua orang tuanya lebih memilih uang daripada dirinya.

"Kau lebih beruntung daripada aku, Hun-ah."

Sehun terkejut mendengar perkataan Luhan yang di luar ekspektasinya. Selama ini dia berpikir bahwa dia adalah orang yang paling merugi.

"Hyung, kau bisa menceritakannya padaku?"

"Apa kau yakin akan mendengarnya?"

Sehun mengangguk, "Aku ini seorang pelacur Sehun-ah." Lelaki itu menarik nafasnya, "Aku tinggal bersama seseorang yang menemukanku ketika aku berjalan di jalanan sepi tepat setelah kedua orang tua meninggal dan hartanya disita. Aku pikir kehidupanku akan kembali seperti semula. Ternyata menjadi 180 derajat berbeda."

"Maksudnya?"

"Sejak delapan tahun yang lalu, aku tinggal bersamanya. Park Jungsoo. Mungkin menjadi nama paling menakutkan yang pernah hadir di hidupku. Dan semenjak itu pula dia memberiku obat, yang awalnya aku tidak tahu apa gunanya. Tapi jika aku meminum obat itu, aku tidak punya rasa lelah dan malu untuk menjajakan diriku pada pria-pria diluar sana. Obat yang membuat aku terperangkap disini. Jika aku kembali tanpa uang yang cukup, aku harus melayaninya ataupun disiksa olehnya. Maka dari itu kau bisa melihat luka-luka yang aku tidak tahu kapan ia akan berhenti menghiasi tanganku.

Dua bulan lalu, aku bertemu dengan Park Chanyeol, seorang polisi yang secara tidak sengaja menemukanku ketika aku berhasil melarikan diri. Dia yang membawaku kesini. Dan saat ini, entah kemana Chanyeol pergi. Yang aku dengar dia sudah tidak di Korea lagi."

Luhan. Dengan ceritanya yang begitu menyedihkan, masih bisa tersenyum ketika mencurahkan semuanya. Sehun tidak habis pikir mengapa dia bisa setegar dan sekuat itu. Padahal yang selama ini dia tahu, dialah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini.

"Setelah aku selesai dari rehabilitasi ini, aku tidak tahu harus pergi kemana. Jungsoo sudah ditahan atas apa yang dilakukannya padaku. Meskipun dia sudah menyiksaku seperti itu, dia sudah merawatku selama delapan tahun belakangan."

"Merawat? Hyung! Dia menyiksamu!"

"Setidaknya aku masih hidup, Sehun-ah."

Senyum itu masih tergurat disana. Sehun tidak tahu bagaimana dia bisa melengkungkan bibirnya disaat hatinya terkoyak oleh luka. Disaat dia merasa frustasi dengan kehidupannya, Luhan justru bersyukur dengan semua siksaannya.

"Hyung, jika kau keluar nanti, kau bisa hidup bersamaku. Kita bisa memulai semuanya dari awal."

Lelaki itu tertawa kecil, "Kau sudah mempunyai beban yang berat, mana mungkin aku akan menjadi beban tambahanmu?"

"Kau bukan bebanku, hyung! Kau adalah penyemangat untukku."

"Kalau begitu," Lelaki itu menangkup wajah Sehun, "Berjuanglah untukku."

"Jika aku berjuang untukmu, apakah kau akan selalu ada di kehidupanku?"

Dia tersenyum manis, "Aku akan selalu ada, Sehun-ah."


Paper Crane.

Hal pertama yang dilihat Sehun pagi itu. Disaat dia sedang bersemangatnya pergi ke kamar Luhan, dia mendapati banyak paper crane bertebaran disana. Ungu, hijau, biru, merah, bahkan hitam. Si pembuat paper crane sedang terduduk dengan kertas lipat yang ada di tangannya. Dengan telaten dia membuat paper crane terebut.

"Hyung, ini untuk apa?" tanya Sehun yang kemudian mendudukkan diri di samping Luhan.

"Ibuku pernah mengatakan jika aku berhasil membuat seribu bangau kertas, maka permintaanku akan terkabul."

Sehun tertawa dibuatnya, "Kau masih mempercayai hal itu? Kau bukan anak kecil lagi, hyung."

"Paling tidak aku sudah berusaha mewujudkan apa mauku. Sebelum aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Lelaki itu masih terfokus dengan paper crane yang ada di tangannya. Tak lupa dia membetulkan setiap detail agar semua terlihat sempurna.

"Seratus delapan puluh dua."

Masih ada delapan ratus delapan belas lagi. Lelaki itu menarik nafasnya seraya meregangkan otot-otot tangannya. Sejenak dia menatap Sehun yang menatap semua karya tangan tersebut.

"Sehun-ah," Luhan menggenggam tangan Sehun, "Maukah kau membuat sisa dari bangau kertas ini bersamaku?"


Sudah tiga hari ini Sehun tidak boleh masuk ke kamar Luhan dengan alasan bahwa lelaki itu butuh waktu sendirian. Sehun memaklumi. Pengguna obat-obatan terkadang membutuhkan waktunya karena sedang bertahan dengan hasrat untuk mengkonsumsi barang laknat tersebut. Mungkin Luhan sedang mengalami fase itu. Mungkin.

Pintu itu terbuka. Sehun mencoba melihat apa yang dilakukan lelaki itu. Lelaki yang membawa warna kertas paper crane ke dalam kehidupannya.

"Hyung?"

Lelaki itu menoleh. Dia masih terduduk di atas tempat tidur dengan kertas lipat yang berserakan disana. Dia tersenyum. Tersenyum ketika melihat wajah Sehun yang muncul dari balik pintunya.

"Hyung, apa kau baik-baik saja?"

Luhan mengangguk dengan senyum yang masih melekat disana. Wajahnya terlihat pucat dari pada tiga hari yang lalu. Sehun mencari apa yang tidak beres dari lelaki itu. Pergelangan tangannya. Ada perban yang terbalut disana.

"Hyung! Apa yang kau lakukan?"

Sehun meraih tangan itu. Si pemilik hanya bisa tertawa kecil dengan reaksi yang di berikan lelaki di hadapannya. Dia terlihat gugup dan terkejut dengan apa yang dilakukannya.

"Aku sudah melakukan itu untuk yang kesekian kalinya."

Sehun merasa naik pitam, "Untuk apa? Kenapa kau melakukan ini?"

"Aku tidak punya tempat untuk kembali, Hun-ah. Bukankah sama saja jika aku menghilang dari dunia ini?"

"Tidak! Itu tidak akan sama untukku!"

Pelukan itu. Tanpa sadar Sehun memeluknya. Jika awalnya Sehun berharap Luhan akan menangis di dadanya, ternyata itu salah. Lelaki itu malah tertawa dengan cerianya.

"Aku tidak akan melakukan ini lagi, Hun-ah. Aku masih punya sebuah harapan yang harus aku wujudkan."

Lelaki itu melepas pelukan dan menyodorkan kotak berisi marshmallow-nya, "Hun-ah, maukah kau menyelesaikan bangau kertas kita sembari menikmati marshmallow ini?"


Lima ratus dua puluh.

Sekarang mereka membagi ruangan itu bersama. Dengan tawa dan goda yang saling mereka lontarkan. Mereka masih melakukan kegiatan yang sama, melipat semua kertas menjadi paper crane dan melahap marshmallow yang Luhan sukai–sekarang Sehun menyukainya juga.

"Hyung, mengapa kau sangat menyukai marshmallow?"

Luhan yang menyandarkan kepalanya di pundak Sehun dan dengan tangan yang masih melipat kertas menjawab, "Entah. Dulu ketika aku masih kecil, ibuku selalu memberikan marshmallow ketika aku sedang menghadapi masalah ataupun bersedih. Maka dari itu, setiap hari aku meminta pada petugas untuk memberiku marshmallow."

Lelaki itu bersenandung tentang lagu masa kecilnya. Dia bilang masa kecilnya sangat menyenangkan. Tentu sebelum semuanya terjadi dan mengubahnya seperti ini. Tapi Luhan berkata jika itu sudah jalan hidupnya, jadi mau tak mau dia harus menempuhnya.

Sekarang mereka tidak canggung untuk memeluk satu sama lain. Bahkan terkadang Sehun mengecup pucuk kepala lelaki yang lebih tua darinya itu. Sikap lembut dan perhatian dari lelaki itu membuat Sehun merasa bahwa dia lebih dari berarti. Sekarang dia merasa ada yang menerima keberadaannya setelah selama ini terbuang sia-sia.

Sehun menyukai sorot mata lelaki itu. Kehangatan ia temukan disana. Sebuah rasa yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya. Setiap kata dan ucapan yang terlontar dari mulut Luhan menjadi penyemangat jalannya kelak. Ia berjanji. Berjanji untuk memulai hidup barunya berdua. Mungkin berdua.


Tangan dingin itu digenggamnya erat-erat. Dia, lelaki yang selama ini tidak pernah mengeluh di hadapannya sekarang terkulai lemas di tempat tidurnya. Wajah pucat dan bibirnya yang mengering sudah menandakan bagaimana perjuangannya melawan keinginan, bukan, kebiasaannya untuk menkonsumsi obat tersebut.

Air mata Sehun tidak berhenti mengalir ketika melihat lelakinya mengerang ketika merasakan sakit. Dia masih ingat bagaimana wajah menggigil dari Luhan yang hanya bisa menelungkupkan badannya di ranjang tempatnya beristirahat. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh dokter dan petugas disana selain memberinya obat tersebut. Walaupun dengan dosis yang lebih kecil. Rasa sakit itu juga dirasakan oleh Sehun. Bukan dari fisik dan nyerinya, tapi sakit bagaimana melihat tubuh lelakinya tersiksa.

Malam itu dia terjaga di samping tubuh lemah itu. Nafas dari si lelaki teratur yang menandakan dia sudah tenang dalam mimpinya. Sehun mengamati fitur dan lekuk dari paras si pria. Cantik. Bahkan melebih wanita yang pernah bersetubuh dengannya. Wajah si pria sangat damai layaknya tidak pernah terluka. Seperti seorang anak kecil yang masih suka menikmati permainan bersama teman-temannya. Polos. Pure.

Mata lelaki itu tergerak dan menatap seseorang yang terduduk dengan setia di sampingnya. Sejenak mata itu menyesuaikan cahaya yang terpapar disana. Baru pukul dua petang itu, tapi lampu ruang yang terang membuatnya sulit untuk membuka mata secara penuh.

"Hun?"

"Hyung…" ucap Sehun lemah.

Lelaki lemas itu berusaha mendudukkan dirinya, "Kau tidak tidur?"

"Aku tidak bisa tidur jika melihatmu begini. Apa kau sudah lebih baik dari sebelumnya?"

"Jauh lebih baik."

Senyum itu lagi-lagi muncul dan mengembang di wajah Luhan. Wajah pucat yang semakin lama semakin tirus dimakan waktu. Tangan lelaki itu juga masih digenggam erat. Tak rela bagi Sehun melepaskannya barang sedetik saja.

"Hun-ah, bisakah kau memelukku sebentar?"

Sehun bergerak menuju sisi kanan lelaki itu. Lengannya melingkar di badan Luhan yang semakin ringkih setiap harinya. Dihirupnya aroma rambut dari lelaki yang ada pada dekapannya. Aroma itu menenangkan. Bahkan dia mengakui jika itu sama candunya dengan obat yang dia hindari.

"Hun, bisakah kau-"

Ciuman pertama mereka. Terlalu polos untuk diartikan. Seperti halnya seorang remaja yang baru saja mengenal cintanya. Jika orang lain melihatnya layaknya hanya sebuah ciuman sepele, tapi mereka itu merupakan bukti bahwa cinta itu ada. Walaupun dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Walaupun disaat yang sangat sulit. Walaupun takdir yang belum memastikan jalan mana yang akan ditempuh nantinya.


"Hyung, seminggu lagi aku akan mengakhiri masa rehabilitasiku."

Tubuh lelaki yang ada di dekapannya itu menegang sesaat. Pelukan yang ia lakukan mengerat tanpa sadar. Rasa kehilangan menyeruak diantara udara yang mereka hirup. Perpisahan layaknya sebuah kenyataan yang sulit untuk ditelan.

"Aku akan menjengukmu setiap hari."

Lelaki itu hanya terdiam. Dia masih menyandarkan kepalanya di tubuh Sehun yang mengusap rambutnya lembut. Tidak ada jawaban yang terlintas di mulut ataupun otaknya.

"Jangan menjengukku." Ucapnya setelah membiarkan hening memegang kuasa untuk sesaat.

Sehun menatap manik matanya dengan alis yang berkerut, "Kembalilah. Kembalilah ketika kau sudah menemukan kebahagiaanmu."

"Tapi belum tentu kau masih disini, hyung."

"Kau akan menemukanku. Kau pasti akan menemukanku disini. Berjanjilah padaku agar kau kembali ketika kau sudah bahagia."

Luhan kembali membenamkan wajahnya di bawah rengkuhan lelakinya. Lelaki yang selama ini mendengarkan semua keluh kesahnya. Lelaki yang selama ini mau menjadi sandaran ketika dia cukup lelah untuk berdiri sendiri.

Lelaki itu berdiri dan mengambil kertas lipat yang ada di meja dekat ranjangnya. Tiga ratus dua belas. Sisa yang harus dia buat agar genap menjadi seribu. Demi harapan dan keinginan yang benar-benar ingin dia dapatkan suatu saat nanti.

"Sebelum kau pergi, maukah kau membuat bangau kertas bersamaku?"

"Aku akan selalu membantumu, hyung."


Luhan hanya bisa memperhatikan lelakinya berjalan dengan orang tuanya. Air matanya sudah terlanjur mengering untuk mengalir. Dibiarkan kepalanya terbenam diantara kedua lututnya. Dia sudah terlalu lelah untuk menangis lagi.

Masih ingat dua hari sebelumnya. Bagaimana dia menjadi seseorang yang lemah di bawah kekuasaan Sehun. Dia masih ingat tatapan Sehun yang penuh perhatian ketika air matanya mengalir. Dan dia masih ingat bagaimana rasanya melakukan bersama orang yang paling ingin dimilikinya. Dia masih terbayang cara Sehun yang memperlakukannya dengan lembut. Dia berusaha membuat Luhan tidak merasakan sakit dan mengalihkan seluruh perhatiannya.

Dibenaknya terputar layaknya sebuah film bagaimana mereka menyatukan tubuh bersama. Bagaimana lenguhan dosa itu berubah menjadi nada yang paling indah untuk didengarkan. Keringat yang menyeruak di tubuh mereka dibiarkan mengalir sesuai dengan irama yang mereka ciptakan bersama.

"Sehun-ah. Kita belum menyelesaikan bangau kertas itu bersama."

Kata-kata itu terucap dari bibirnya ketika Sehun memeluknya sebelum pergi. Sehun mengingkari janjinya. Sembilan ratus tiga puluh dua. Hanya membutuhkan sedikit lagi agar angka seribu menjadi kenyataan. Tapi semangatnya untuk melanjutkan sudah hilang seiring kepergian Sehun.

Ranjang di sampingnya sudah tertata rapi layaknya belum berpenghuni. Biasanya Sehun selalu mengamati dirinya yang sibuk membuat bangau kertas. Lelaki itu memang pemalas. Dia hanya membantu lima atau enam bangau setiap harinya. Tapi bagi Luhan, bangau-bangau itu mengobarkan semangatnya untuk membuat lebih dari sepuluh kali lipatnya.


Setahun telah berlalu. Sehun menepati janjinya untuk kembali ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Orang tua yang menerimanya dengan hangat, dan menjadi seorang pemain teater seperti yang dia cita-citakan sebelumnya.

Senyumnya mengembang hari itu. Langkah kakinya terasa ringan ketika menjejakkan kakinya disana. Di tempat dimana dia dan Luhan bertemu. Dilihatnya semua masih sama. Bahkan bangku taman yang sering mereka gunakan untuk menikmati marshmallow kesayangannya masih dengan warna dan keadaan yang serupa seperti sebelumnya.

Kamar itu sudah di depan mata. Kamar dimana mereka membuat paper crane bersama. Kamar dimana mereka membagi keluh kesah dan kebahagiaan berdua. Bahkan sebuah kamar dimana dia dan Luhan menyatukan cinta mereka berdua.

Gelang cartier yang ada di tangan kanannya sama seperti yang ada pada genggamannya. Dia sudah berniat untuk melingkarkannya di tangan Luhan juga. Dia sudah membayangkan bagimana senyuman yang akan diberikan laki-laki itu padanya.

"Hyung."

Penghuni kamar itu mendongakkan kepalanya. Bukan. Bukan Luhan yang ada disana. Melainkan seorang pria bermata sayu dan berambut blonde. Bukan Luhan yang berambut hitam dan bermata bening seperti sebelumnya.

"Kau siapa?" ucap pria itu.

"Sehun. Oh sehun. Kau penghuni kamar ini?"

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Kita tidak pernah saling mengenal, bukan?"

Pertanyaan itu membuat Sehun sadar dan memacu langkahnya pergi. Pergi menemui Seo Joohyun, seorang wanita yang dengan telatennya merawat mereka dulu.

Wanita itu masih berdiri di belakang meja kerjanya. Dia masih sama. Harapan Sehun untuk menemukan Luhan yang semula meredup kembali memuncak ketika menemukan Seohyun yang masih disana.

"Seohyun-ssi!"

"Oh Sehun?"


"Sehun-ah! Apa kabarmu? Aku harap kau telah menemukan kebahagiaanmu. Aku akan menemukan kebahagiaanku sendiri nanti. Ketika kau sudah menuai apa yang akan kau tanam.

Sehun-ah, aku merasa masih melihatmu disini. Di ranjang yang ada di sampingku. Aku ingat bagaimana kau selalu memandangiku ketika aku tertidur. Kau selalu melakukan hal yang sama setiap harinya.

Kau selalu menggodaku ketika kita sarapan bersama. Kau pasti membuatku malu karena kau selalu bersikukuh menyuapiku di depan semua orang. Aku yakin mereka bergidik jijik ketika melihat kita melakukan itu.

Hunnie-ya, kau tentu masih ingat bagaimana kita dengan bodohnya mencuri persediaan obat terlarang itu dan mengkonsumsinya di kamar, bukan? Kalau bukan karena aku yang terlalu membutuhkannya, kau pasti tidak akan mungkin melakukan itu. Kau bukan seorang pecandu berat sepertiku. Kau masih pemula, Hunnie-ya. Kau pemula!

Aku akan menyelesaikan masa rehabilitasiku. Tapi aku tidak tahu kemana aku akan pergi. Dan aku juga tidak tahu kapan kau kembali. Aku tidak pernah menunggu kau kembali. Karena aku tahu kau sedang berjuang dengan kebahagiaan yang selama ini kau inginkan.

Aku tahu kau akan kembali. Ketika kau kembali kau pasti akan membaca surat ini. Surat yang aku tulis sebelum aku pergi. Aku akan pergi, pergi untuk meminta marshmallow kepada ibuku. Persediaan marshmallow ku sudah terlampau habis. Tapi tenang saja, aku menyisakan sebungkus besar marshmallow untukmu. Kau akan menemukan kebahagiaan jika kau mengunyahnya, Sehun-ah! Percayalah padaku!

Semenjak kau pergi, aku masih membuat bangau-bangau kertas itu. Tapi sudah tidak sesering ketika kau menemaniku. Karena aku harus membuat dengan pergelangan tangan yang terluka. Beberapa diantara mereka terkena tinta merah dariku. Maafkan aku.

Sehun-ah! Masih ada dua buah kertas lipat tersisa di dalam kardus itu. Satu berwarna putih, dan satunya lagi berwarna hitam. Kau harus melipatnya yang hitam untukmu, dan lipatlah yang putih untukku. Maka harapanku selama ini akan terkabul.

Kau tahu apa harapan yang aku inginkan?

Kebahagiaanmu. Ketika kau membaca surat ini dan melipat kertasnya, berarti kau sudah membantuku mewujudkan harapanku."

"Aku menyayangimu, Oh Sehun."

Dua bulan yang lalu. Dimana Luhan ditemukan dengan pergelangan tersayat untuk yang kesekian kalinya. Hari terakhir rehabilitasinya juga menjadi hari terakhir dalam hidupnya. Seohyun mengatakan jika Luhan merasa tidak punya siapa-siapa lagi untuk bernaung. Maka dari itu dia memilih untuk meminta marshmallow kepada ibunya.

Sehun mencoba melipat kertas itu walaupun dengan tangan yang tidak bisa diam. Matanya tidak berhenti mengeluarkan air. Di sampingnya terdapat sebuah kardus besar yang berisi sembilan ratus sembilan puluh delapan bangau kertas dan satu bungkus besar marshmallow. Dia tidak mengerti, tidak mengerti mengapa Luhan melakukan ini.

Dia membalik kertas hitam itu. Ada bercak merah dan sebuah tulisan disana. Tulisan yang merupakan tulisan dari pemiliknya.

"Sehun-ah, aku lelah. Aku sudah berputus asa."

Dengan berat hati Sehun melipat bagian putih dan menyisakan bagian hitam pada permukaannya. Sehun sendiri membiarkan air matanya membasahi pipinya. Dia tidak peduli bagaimana semua orang memperhatikan dan mengatakan bahwa ada seorang pria yang menangis di sebuah bangku taman. Bangku tempat mereka bertemu dahulu.

Kertas putih.

Sebelum Sehun melipatnya, dia juga menemukan bercak merah dan tulisan disana. Sehun membaca tulisan itu dan tersenyum. Senyum yang paling menyedihkan yang pernah ia ukir sebelumnya.

"Sehun-ah! Kau berhasil melipat bangau ke seribu. Sebagai perayaannya, maukah kau menikmati marshmallow bersamaku?"

.
.

END.