Disclaimer : Masashi Kisimoto-sama

Mai Cast : Naaruto & all


:::::DONT LIKE DONT READ:::::

Chapter 3

TRANK! TRANK! TRANKK!

Seorang gadis baru saja menangkis kunai-kunai yang diluncurkan kearahnya. Dengan nafas yang masih tersenggal, gadis itu meraih handuk di sebelahnya.

"Latihan hari ini cukup, kau hebat Hinata" Teriak Kiba dari atas pohon, setelah tadi kunainya berhasil tertangkis semua oleh Hinata.

Ya, mereka memang sedang berlatih. Walaupun memang ini masih terlalu pagi, tapi apasalahnya jika dimulai dengan berlatih.

"Di sesi latihan ini memang tak terlalu berkembang, tapi kita akan lanjutkan sore nanti" Ujar Shino yang sedari tadi memperhatikan sambil duduk diatas sebuah kursi taman.

ZRUB! Dengan cepat Kiba turun dari atas pohon, menghampiri kedua sahabat sekaligus rekan seteamnya.

"Ohya, kabar tentang penyusup yang semalam itu bagaimana? Kudengar team 7 sudah berhasil menangkap mereka?" Tanya Kiba sambil meletakan kedua tangannya dibelakang kepala, diikuti Akamaru yang meringkuk di sebelah Hinata.

"Bisa dikatakan mereka berhasil membunuh dua ninja yang terkena jurus pengendali otak milik Orochimaru," Jawab Shino santai.

"Orochimaru lagi! Tidak bosan apa dia mengganggu desa kita terus? Dasar gila!" Sentak Kiba menjambak rambutnya frustasi. Data yang selalu masuk tentang Orochimaru membuatnya bosan.

"Memang apalagi yang Orochimaru inginkan dari desa kita? Bukankah dia sudah mengetahui semuanya? Seluk beluk desa dan semua informasi, semuanya sudah dia ketahui. Lalu kali ini apa yang ia ingin dapatkan?" Hinata mulai angkat bicara, kemudian berjalan menuju Shino yang sedang terduduk diatas bangku taman.

"Aku juga tidak mengetahui hal itu, penyusupan desa kali ini tidak beralasan. Tadi juga aku dapat laporan tentang Naruto" Shino bangkit dari duduknya, menatap Hinata yang terlihat penasaran dengan ucapan Shino tentang Naruto tadi.

"Tsunade-shisou mengatakan kita harus terus mengawasi Naruto, karena perubahan sifatnya yang mendadak, jika Naruto tidak berubah dalam satu minggu Tsunade-shisou akan melakukan pemeriksaan psikologis padanya. Terutama cakra aneh yang keluar dari tubuh Naruto semalam" Lanjut Shino menjelaskan.

"Cakra aneh?" Kini Kiba yang kembali bertanya.

"Ya. Ada cakra berwarna hitam yang keluar dari tubuh Naruto, cakra yang membawa elemen api, dan sikap Naruto menjadi sangat aneh" Jawab Shino lagi, dengan mimik wajah yang terlihat serius.

"Benar, Naruto kelihatan sangat berubah. Dia menjadi pendiam, biasanyakan dia sangat berisik sekali. Saat aku mengajaknya makan daging asap traktiran Shikamaru saja dia hanya diam, tak menjawab, dan pergi tanpa penjelasan" Tambah Kiba lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melipat tangan.

Hinata hanya terdiam. Ia juga merasakan Naruto berubah, Naruto sekarang selalu bicara keras, padahal dulu memarahi Hinata saja tidak pernah, tapi sekarang tanpa segan Naruto membentaknya dan melontarkan kata-kata kasar. Hinata sangat bingung. Setaunya Naruto tidak memiliki masalah, kemarin-kemarin ia masih ceria, tapi entahlah, mungkin memang Naruto sedang ada masalah.

"Hinata, apa kau juga merasakan perubahan Naruto?" Pertanyaan Shino membuyarkan lamunan Hinata.

"I-iya, sikapnya sa-sangat dingin p-padaku," Jawab Hinata sedikit tergagap.

"Bahkan Naruto bersikap dingin padamu!? Ada apa dengan si kuning itu. Ini benar-benar membingungkan!" Seru Kiba sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Sebaiknya kita terus mengawasi Naruto, mungkin ada sesuatu yang membuatnya berubah drastis seperti ini. Kali ini Shikamaru harus aku beri tau" Ujar Shino yang langsung menghilang dengan serangga-serangganya.

'Naruto-kun, ada apa denganmu?'

.

.

.

.

.

.

Suara gemericik air derdengar jelas, tak kala ada seseorang yang sedang berpijak dalam air yang tergenang itu. Matanya berwarna hitam, tidak biru seperti biasa. Pria itu terus berjalan, mengikuti suara hatinya saat ini, menuju suatu tempat yang pastinya sudah sangat ia kenal. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan monster itu lagi.

"NARUTO!" Geram sanga monster rubah saat Naruto berdiri tepat dihadapannya. Senyum liciknya tak kala mengembang ketika ia lihat mata Naruto, mata yang sudah termakan kegelapan.

"Apa lagi?" Tanya Naruto cepat.

"Wahahahahahahaha! Tidak ku sangka kau sudah terlalu dalam, ternyata kau sudah menikmati peranmu ya? Jahat lebih menyenangkan bukan?" Ujar Kyubi yang berubah menjadi buih-buih berwarna orange, agar dia bisa lebih dekat dengan lawan bicaranya ini.

"..."

"Aku bangga padamu Naruto, tak kusangka kekuatan dari sisi gelapmu itu sangat mengerikan" Puji Kyubi penuh kebanggaan.

"Ya," Tiba-tiba cakra hitam itu kembali keluar dari tubuh Naruto, menyelimuti tubuh tegapnya itu. "Ini sangat hebat, bahkan kekuatan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Tapi, aku mau lebih dari ini, aku mau yang lebih hebat dari ini!" Sahut Naruto menyeringai, merasakan hembusan cakra yang menyelimuti tubuhnya, ini sangat menyenangkan.

"Rupannya begitu. Kau ingin yang lebih dari ini?" Tawar Kyubi, menatap Naruto yang sepertinya sudah tergila-gila akan kekuatan.

"Ya, katakan padaku! Aku ingin yang lebih hebat dari ini!" Seru Naruto lantang. Pikirannya sudah benar-benar kacau, tak ada yang dapat ia piikirkan lagi selain kekuatan. Karena Naruto sudah sangat terbius oleh cakra hitam itu.

"Gulungan yang tersimpan dalam gua dimana kau dilahirkan. Benda itu tersegel dalam sebuah gerbang Shinigami, kau harus mempelajari jurus pelepas segel itu dulu, baru kau bisa mengambil gulungan yang ada didalamnya. Tapi kau harus berhati-hati Naruto, tempat itu dijaga ketat oleh para anbu khusus. Salah langkah sedikit saja, kau akan tewas" Jelas Kyubi mantap.

"Gulungan itu berisi segel kegelapan bukan? Segel Shinigami juga merupakan segel kegelapan. Jadi untuk apa aku membuang-buang waktu mempelajari segel pembuka itu, karena cakra hitam ini sudah memenuhi persyaratannya" Naruto menatap mata Kyubi dengan tajam. Sepertinya juga Kyubi setuju dengan pendapatnya. Segel kegelapan hanya bisa dibuka dengan kegelapan juga, dan Naruto sudah memiliki itu.

Sungguh Naruto sudah sangat termakan kegelapan dalam hatinya, tak ada setitik kepercayaan lagi dalam hatinya. Yang ada hanya kekuatan dan kekuatan. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti, selagi ia bisa mendapatkan gulungan itu, Naruto pasti bisa menguasa kelima negara besar dan menempatkannya pada titik teratas. Menjadi penguasa dunia ini.

(x_x)(O_0)

"Naruto?!" Seru seorang gadis berambut pink yang sedang berlari kearah pria yang ia tuju itu. Sudah seharian Sakura mencari Naruto, ternyata Naruto ada sedang berjalan-jalan disekitar desa.

Narutopun membalikan badannya, menatap dengan datar gadis yang memanggilnya barusan.

"Ada misi lagi yang harus kita jalani. Yaitu sebuah pengawalan petinggi dari desa Kirigakure, yang sedang mengadakan perjalan ke desa Suna. Dan besok siang kita bisa berangkat" Jelas Sakura langsung pada intinya. Karena ia tau jika ia berbasa-basi pasti Naruto akan melontarkan kata-kata dingin padanya.

"Ya," Sahut Naruto singkat kemudian kembali berjalan.

'Ini menyebalkan!' Rutuk Sakura dalam hati. Lalu berjalan cepat untuk segera memberi pelajaran pada Naruto yang telah bersikap menyebalkan padanya.

"Naruto!" Teriak Sakura hendak meluncurkan tendangannya.

TAP!

"Jangan macam-macam" Ketusnya.

Dengan santai Naruto menahan kaki Sakura, kemudian melepaskannya dengan kasar dan kembali melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Sakura yang dibelakangnya hanya dapat mencelos kaget, karena Naruto, tidaklah terlihat seperti dirinya lagi.

Naruto terus meneruskan perjalanannya menuju apartemen. Latihan kali ini benar-benar menguras tenaganya. Cakra hitam itu harus pandai-pandai ia kontrol, dan itu tidaklah mudah. Ia harus menjalani beberapa sesi yang telah diberi tahukan Kyubi. Apalagi resiko bila Naruto gagal mengontrol cakra hitam itu, maka tubuhnya sendirilah yang akan jadi korban.

CLEK!

Naruto membuka pintu apartemennya. Dan seperti biasa, sudah ada Hinata disana. Dengan senyum ramahnya Hinata menyambut kepulangan Naruto sambil meletakan beberapa hidangan yang baru saja ia masak.

Setelah melepas sepatunya Naruto segera menghampiri meja makan, duduk dengan tenang dan mulai memakan hidangan yang ada disana.

"A-apakah latihan Naruto-kun hari ini l-lancar?" Hinata membuka pembicaraan. Ia harap Naruto sudah tidak bersikap dinginseperti kemarin.

"Ya," Balas Naruto singkat. Tanpa sedikitpun menoleh kearah Hinata.

Jantung Hinata langsung berdegup kencang. Tenyata Naruto belum berubah. Tak sengaja Hinata menangkap luka di dahi Naruto, mungkin luka karena terkena suriken saat Naruto berlatih tadi. Segera saja Hinata berlari kearah dapur untuk mengambil handuk hangat untuk mengusap luka sekaligus wajah Naruto yang sedikit kusam tercampur debu.

Setelah Hinata kembali segera saja ia memeras handuk panas itu, dan perlahan pengusap luka di dahi Naruto.

PLAK!

Naruto menepis tangan Hinata dengan kasar, hingga meninggalkan bekas merah disana.

"Ada a-pa Naruto-kun?" Tanya Hinata sedikit ragu, sambil memegangi tangannya yang memerah.

"Itu sangat menjijikan!" Jawab Naruto yang langsung beranjak dari meja makan, "Kau membuat aku tak berselera" Timpalnya dingin.

Hinata hanya bisa menunduk, air matanya serasa ingin keluar. Yang ia ingin lakukan hanyalah mengusap luka Naruto, tapi kenapa Naruto berbicara sekasar itu? Apakah salah Hinata memberi perhatian pada pria yang ia cintai. Namun Hinata harus tetap sabar menghadapi perubahan sifat Naruto ini, sampai Naruto kembali menjadi dirinya lagi.

.

.

.

.

.

.

Matahari siang ini memang sangat terik, membuat siapapun yang berada diluar merasa terbakar. Tapi tidak untuk tiga ninja ini, mereka harus tetap berdiri menjaga seseorang yang berada didalam tandu. Menjalankan misi mereka serapih mungkin.

"Seratus meter lagi kita belok kearah utara tuan Hiroku. Kita harus melewati jalan pintas, karena jalan biasa yang akan kita lewati pasti sudah bersiap mencuri berkasmu" Ujar Sasuke mengintrupsi sambil terus mengamati peta yang ada ditangannya.

"Baiklah, lakukan yang terbaik" Balas Hiroku, seorang petinggi dari desa Kirigakure yang harus mereka kawal.

Misi kali ini adalah mengantar tuan Hiroku untuk memberikan surat kerjasama pada desa Sunagakure. Dan didalam misi itu juga team 7 harus menjaga gulungan rahasia yang dipegang Hiroku, karena jika gulungan itu terambil, desa Kirigakure akan hancur.

Dengan teliti Naruto memperhatikan keadaan sekitar. Menurutnya melewati jalan pintasan ini merupakan pilihan yang tepat. Namun musuh tidak bodoh bukan? Mereka pasti sudah mengira dari awal kalau mereka akan mengambil jalan ini. Sebenarnya Naruto ingin mengambil jalan ketimur, memang sedikit agak jauh, tapi setelah dipikir-pikir untuk apa ia memperdulikan ini? Jika benar musuh akan menyerang ia hanya tinggal melenyapkannya saja. Sangat mudah bukan?

DUARRRR!

Sebuah ledakan hebat telah menghancurkan tebing-tebing sekitar jalan, sehingga jalan yang mereka lalui tertimbun. Dan selang beberapa waktu, munculah ninja-ninja dari dalam tanah dan udara. Ada sekitar tiga puluh tujuh ninja, ah bukan. Ada lebih dari lima puluh ninja yang mengepung mereka sekarang.

"Ambil posisi!" Teriak Sasuke memberi aba-aba pada rekannya untuk melingkari tandu Hiroku, Sasuke tidak mengira akan ada ninja sebanyak ini yang mengincar gulungan itu.

Dengan santai Naruto maju, ia tak sedikitpun mendengarkan ucapan Sasuke tadi. Naruto tidak suka disuruh menunggu, ia lebih suka menghabisi lawannya dengan cepat.

"Goitsu hayakami!"

BWARR!

Segera saja tanah mencuat dari dalam membentuk runcingan akibat rapalan jurus ninja-ninja itu.

"Hiro kusa ne gami!"

"Yukire kyuso!"

"Suiton jutsu!"

"Kirimano hikyo!"

"Suren no kiri jutsu!"

BWAR! BWARRR! ZRRRGGGG!

Gabungan jurus ninja-ninja itu menyerang Naruto yang mendekat, namun tak satupun jurus mengenai Naruto. Sasuke dan Sakura maju menghajar satu persatu ninja yang ada di hadapan mereka. Sebelumnya Sakura telah membuatkan tempat persembunyian untuk Hiroku, kondisi alam yang menyerupai tebing-tebing memudahkan Sakura untuk membuat gua.

DASH! DASH!

PRANK!

Merka mulai bertarung sengit. Menahan setiap serangan yang datang. Ninja-ninja ini tidak bisa diremehkan, penggabungan elemen yang lengkap membuat Sasuke dan Sakura sedikit kewalahan.

"KIRIN!" Sasuke menebas lima ninja sekaligus menggunakan raikirinya. Cakranya terasa terhisap setiap kali ia menyerang ninja-ninja itu.

"Sasuke, mereka menggunakan alat penghisap cakra!" Teriak Sakura dari kejauhan.

"Hahhh...hahhh...hahhh..." Nafas Sasuke tersenggal kelelahan, ternyata benar, cakranya memang banyak terhisap.

"RASINGGAN!" Kini Naruto yang berhasil menghabisi sekelompok besar dari ninja-ninja itu.

Sasuke menatap Naruto yang sedang berdiri disampingnya, mata Sasuke membulat setelah melihat rasinggan yang baru saja Naruto luncurkan. Saringgan berwarna ungu, dan lagi-lagi Sasuke melihat mata Naruto berubah menjadi hitam.

ZLUB!

Sebuah tombak menancap di dada Sasuke. Tombak yang Sasuke tidak sadari karena dirinya sibuk memperhatikan Naruto dan saringgan hitamnya.

"Sasuke!" Pekik Sakura yang langsung menghampiri Sasuke yang sudah bersimbah darah, dan segera memberikan pertolongan menggunakan jutsu medisnya.

"Naruto! Kenapa kau tidak menangkis tombak itu?!" Bentak Sakura pada Naruto yang mematung di sebelah Sasuke. Sakura memang benar, seharusnya Naruto bisa menangkis tombak itu dengan mudah. Tapi kenapa ia hanya diam saja.

"He! Ahahahahaha, ahahahahah!" Tawa Naruto kencang, ditengah cakra hitam yang kembali keluar menyelimuti tubuhnya. "Ini hebat! Ini hebat!" Teriaknya lagi.

Sakura terdiam, baru kali ini ia melihat Naruto seperti itu. Matanya berwarna hitam, dan kulitnya terlihat terkelupas akibat cakra yang keluar tadi. Apakah Naruto akan berubah menjadi ekor 6?

"HUWAAAAA! GWAAAAAA!" Teriak Naruto seraya cakra hitam itu membalut tubuhnya, mengubah Naruto menjadi rubah berekor 6 dengan cakra hitam, bukan merah.

Setelah itu Naruto segera melesat kencang, membantai habis ninja-ninja itu tanpa ambun, belas kasihan, apalagi keraguan. Dan lagi-lagi Sasuke dan Sakura hanya bisa tercengang melihat ini, melihat pemandangan mengerikan ketika Naruto tanpa ampun membunuh ninja-ninja itu dengan sadis. Membelah tubuh mereka, mencabik, merobek, mengoyak, memenggal, bahkan mengancurkannya hingga tak bersisa. Dan ada satu hal yang Sasuke ketahui dari hal ini. Naruto dengan tiba-tiba memiliki elemen api, yang jelas bertentangan dengan elemen angin. Secara logika jika benar itu terjadi, maka cakra yang dihasilkan adalah cakra oranye, bukan hitam. Secara cakra dasar Naruto memang berwarna biru, tapi jika cakranya seperti ini, tak dapat dipungkiri lagi bahwa cakra ini telah membentuk elemen meiton, yaitu elemen kegelapan. Dan elemen ini hanya dapat bangkit ketika seseorang telah jatuh terlalu jauh dalam kegelapan, kegelapan yang sungguh sudah menenggelamkannya terlalu dalam, dan ini akan sulit dihilangkan maupun dihentikan.

Sunyi. Keadaan seketika menjadi sunyi. Hanya hamparan bebatuan, mayat yang sudah tak berbentuk dan bau anyir darah yang membasahi hampir seluruh tebing ini. Ditambah sinar terik matahari yang menunjukan sosok hitam yang berada ditengah mayat-mayat itu, sosok yang tengah tertawa puas melihat lawan-lawanya telah lenyap. Dengan sorot mata yang tajam Naruto menghampiri gua dimana Hiroku disembunyikan, lalu menarik tandunya dan kembali melanjutkan perjalanan.

"Kau sudah baikan Sasuke?" Tanya Sakura khawatir.

"Hn, luka luarnya sudah berhasil kau tutup, tinggal luka dalamnya saja yang butuh pemulihan. Terimakasih" Jawab Sasuke cepat. Kemudian bangkit dari posisinya untuk melanjutkan perjalanan, diikuti Sakura yang berjalan disampingnya.

"Kita harus melaporkan ini pada Tsunade-shisou" Ujar Sakura sambil terus memperhatikan Naruto yang berjalan didepannya.

"Ya. Ini sudah terlalu berbahaya" Sahut Sasuke datar. Tidak bisa Sasuke pungkiri, sekarang ia sangat khawatir pada kondisi sahabatnya itu. Ia tidak mau Naruto juga terjebak dalam kegelapan, sama seperti dirinya dulu, yang sudah termakan oleh kegelapan.

Seseorang muncul dari dalam tanah, setelah beberapa jam melihat pertarungan hebat tadi. Senang, bangga, puas, itulah perasaan pria berjubah hitam itu saat melihat Naruto dengan ganas menghabisi ninja-ninja suruhannya itu. Dengan begitu, ia akan semakin kuat.

"Tuan!" Ujar seorang ninja melapor kepada pria berjubah hitam tadi.

"Ya?" Tanya pria berjubah hitam itu dengan santai.

"Haruskah saya memerintahkan pasukan kedua untuk menyerang mereka lagi?"

"Tidak perlu. Ini sudah cukup untukku, ternyata dia sudah berkembang sangat pesat. Baguslah kalau begitu. Dan kau, boleh pergi"

"Baiklah, Menma-sama "

TOBECONTINUE


YEEEEEYEEELALALAYEYEYELALALA L! Chap tiga selesai setelah nyuri-nyuri waktu belajar buat ngetik hehehe^^

Semoga kalian sukaya? Dan dimohon riviewnya!

Kalian juga boleh request kelanjutan cerita!

ARIGATOU! ^^