AN: Hai! :D
makasih udah nunggu... sori lama
hehehe
okee, sebenarnya aku pengen update chap 3 ini besok, karna ultah Minato kan 25 Januari... tapi karna bsok gak bisa pegang internet, aku update skarang deh :p
Makasih buat smua yg udah baca, review, fave, alert dan semacemnya lah :p
Thnks too...
CHAPPY D. ANITSU
KUDO WIDYA-CHAN EDOGAWA
SALT NO PEPPER
GERARUDO FLAZZH
RELYA SCHIFFER
CEMONGGG
KURO TENMA
DRAQUILL
RITARD S QUINT
NYX QUARTZ
NAMIKAZE SORA
TSUKIYOMI AORI HOTORI
CAN REZ'ALV
NANA-CHAN KUCHISAKI
AND ALL SILENT READERS! :D
PS: sori kalo ada typo di nama-nama-nya yaa...
SPECIAL thanks buat Draquill sama Meiko-chan! :D
tanpa bantuan kalian, chap 3 ini pasti gak bakal nongol di ffn :p
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC, typos, dont like dont read!
ENJOY! :D
CHAPTER 3
.
.
.
.
.
Dari tiga bocah yang duduk di atas atap, hanya Sakura yang menjerit girang, Naruto melongo, sedangkan Sasuke mendengus.
"Ayah melakukan itu? Berteriak di atas patungnya sendiri?" Naruto tidak bisa mempercayai ucapan Kakashi.
"Mmm… jika diingat-ingat lagi, itu memang terjadi… lima tahun lalu." Kakashi menggosok dagunya yang tertutup oleh masker. "Tanpa alasan yang jelas, ayahmu menjerit di pagi buta di atas patungnya sendiri, membuat seluruh penghuni Konoha terjatuh dari ranjang mereka." Kakashi tertawa, membuat tiga bocah menaikkan alis mereka. Kakashi tertawa? "Peristiwa itu masih dikenang sampai sekarang. Kalian bisa bertanya pada orang tua kalian. Awalnya kami tidak tahu apa alasan dia melakukan itu! Dan sekarang aku tahu." Kakashi menepuk buku diari Kushina.
Naruto masih melongo. Sosok ayahnya, Minato Namikaze, muncul di benak Naruto. Bocah tersebut membayangkan sosok ayahnya. Tenang, berwibawa, serius… Memang, ayahnya tidak pernah memasang tampang serius di depannya, ayahnya selalu menyeringai. Namun berdiri di atas patung sendiri dan berteriak di pagi buta? "Hei! Ayah tidak seharusnya melakukan itu! Itu 'kan kegiatanku sehari-hari! Aku suka berdiri di atas patung Hokage dan berteriak di pagi buta kalau aku akan menjadi Hokage! Sejak kapan ayah meniruku, dattebayo!"
Kakashi menggelengkan kepala. "Benar-benar ayah dan anak…" Kakashi bergumam begitu pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya.
"Naruto, yang benar itu… kau yang meniru ayahmu!" Sakura mendengus.
Kakashi menganggukkan kepala. Setidaknya ada yang cerdas dari kumpulan tiga bocah dengan perasaan ingin tahu yang super besar ini.
"Tapi ayahmu maniiss sekalii!" Sakura menjerit kencang. "Sasuke-kun, apakah kau akan berbuat seperti itu padaku?" Sakura mengedipkan matanya ke arah Sasuke.
"Tidak akan pernah." Sasuke mendengus.
Kakashi kembali menggelengkan kepala. Dia memang berencana untuk keluar dari ANBU dan menjadi seorang jonin yang melatih para genin. Dia ingin menjadi seperti gurunya, Minato. Dan Kakashi sudah meletakkan minatnya pada tiga bocah di sekelilingnya. Dia tahu bahwa tiga bocah di depannya ini mempunyai bakat yang besar. Naruto yang memiliki jumlah cakra yang luar biasa, Sasuke yang berbakat dan berasal dari klan terkenal, dan Sakura yang sangat cerdas. Namun, setelah mengenal mereka dengan cukup lama, dia sadar bahwa tidak mudah untuk menangani mereka. Aku harus sabar kalau sudah menjadi jonin mereka nanti. Kakashi menghela napas.
"Kakashi-ossan! Bacakan halaman selanjutnya!" Naruto kembali berseru kencang.
"Bacakan!" Sakura ikut berseru.
"Bacakan." Sasuke menganggukkan kepala.
Kakashi menghela napas sesaat dan membuka halaman berikutnya.
.
.
.
.
.
"K-Kushina! Jangan lakukan itu!" Minato tiba-tiba menghilang dari meja kerjanya dan muncul di depan wajahku, membuatku tersentak seketika. "Jangan angkat barang-barang yang berat!" Minato mengambil tumpukan buku dari tanganku. Aku hanya bisa mengangkat bahu dan menatap Minato seakan-akan dia kehilangan akal sehatnya.
"Memangnya kenapa? Buku-buku itu tidak berat kok! Lagipula bukankah menyusun data-data para genin adalah tugasku?" Aku menatapnya dengan tidak senang. Minato tetap bergeming, tangannya yang kekar seakan-akan memenjarakan buku-buku itu, tidak mengijinkanku untuk menyentuh mereka. Aku menghela napas. "Ya sudah… Aku pulang sebentar ya! Akan kubuatkan makan siang dan kuantar ke sini," aku tersenyum lebar. "Kau ingin makan apa?"
Mata Minato terbelalak ketika dia mendengar pertanyaanku. "Tidak! Tidak boleh!" Suamiku itu cepat-cepat menggelengkan kepala. "B-bagaimana kalau kau terluka selagi kau memasak?"
Aku langsung melongo ketika mendengar kalimat tolol itu keluar dari mulutnya. Aku membuka mulutku, hendak membantah. Namun, mulut Minato sudah tidak bisa dihentikan lagi.
"… bagaimana kalau jarimu terpotong? Lalu pada saat itu pisaunya terjatuh dan mengenai kakimu? Atau lebih parahnya, kau tersenggol penggorengan sehingga kau terjatuh dan bayinya…"
Pada detik itu juga urat kesabaranku putus.
"Orang bodoh mana yang bisa tersenggol ketika memasak!" Aku menjerit kencang. "Lagipula aku bukan mau berperang! Aku hanya mau memasak!"
Minato mengatupkan bibirnya, mata birunya menatap perutku yang sudah mulai membuncit. Dia kembali membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu. Namun, aku cepat-cepat melotot, membuat mulutnya kembali terkatup. "Dengar!" Aku menekan dadanya dengan jari telunjukku. "Bayi kita sudah berusia lima bulan dan aku tahu kalau perutku sudah lumayan besar, tapi kau tidak perlu cemas setiap hari, baka! Aku bisa menjaga diri!"
Minato terdiam selama beberapa detik. "Baiklah… Aku percaya padamu." Minato tersenyum lemah. "Tapi jangan lakukan hal-hal berbahaya. Kau pulang saja dulu di rumah. Tidak perlu memasak dan mengantarkan makanan untukku. Aku bisa memesan makanan dari luar. Lalu jauhkan dirimu dari kunai dan peralatan ninja lainnya. Kalau kau capek langsung tidur saja, jangan tunggu aku. Setelah itu…"
Sambil menggertakkan gigi, aku membentuk senyuman paksa. "Baiklah, suamiku tercinta!" Tanpa buang waktu lagi, aku langsung keluar dari ruangan hokage ini. Memangnya kenapa kalau aku hamil? Aku tidak akan membunuh bayi dan diriku sendiri hanya karena aku memasak! Aku ini jonin, salah satu ninja yang bisa diandalkan di Konoha ini! Aku tahu kalau Minato mengkhawatirkan diriku, tapi tingkahnya itu terkadang membuatku kesal. Dia memperlakukanku seperti pesakit parah yang tidak diperbolehkan melakukan apa pun kecuali berdiam diri di rumah. "Padahal sebelumnya dia sangat senang setiap kali aku membantu pekerjaannya atau memasak untuknya…" aku bergumam pelan. Sekarang, Minato seakan-akan tersambar petir setiap kali melihat aku memasak. Selain itu, dia seakan-akan selalu mengusirku setiap kali aku membantu pekerjaannya. Aku kembali termenung, memikirkan masa-masa di mana aku belum hamil.
Tanpa sadar, tanganku sudah mengelus perut. "Aku mencintaimu…" gumamku pelan. Aku sangat mencintai bayi yang ada di dalam tubuhku ini. Aku bahkan rela memakan sayur-sayuran yang sangat kubenci supaya bayi ini mendapat nutrisi yang cukup. Tapi… aku merindukan masa-masa di mana aku belum hamil. Aku bisa pergi dalam misi, berlatih jurus-jurus ninja bersama Minato, dan melakukan banyak hal lainnya. Diam-diam, aku menghela napas. Entah mengapa, sejak aku hamil, aku terlalu banyak berpikir dan sering kali aku merasa… frustrasi? Minato pernah menghitung berapa kali aku menghela napas dalam sehari.
"Seratus dua puluh tiga katanya…" Tanpa kukehendaki, aku kembali menghela napas. Aku tersentak ketika aku sadar bahwa aku masih belum meninggalkan kantor Minato. Aku masih berdiri di depan pintu. Ketika aku hendak melangkah pergi, aku mendengar Minato yang berbicara.
"Aku tidak tahu harus bagaimana!" Minato terdengar putus asa. "Chouza, Fugaku, istri kalian juga hamil bukan? Bagaimana cara kalian menangani mereka?"
Aku tersentak ketika aku mendengar pertanyaan tersebut. Chouza dan si alien? Sejak kapan mereka ada di dalam ruangan Minato? Seingatku hanya aku dan Minato yang berada di dalam ruangan tadi.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kalian bertengkar tadi?" Suara menggelegar Chouza Akimichi terdengar. "Aku saja sampai segan untuk masuk ke ruanganmu ketika mendengar teriakan Kushina!" Pemimpin klan Akimichi tersebut tertawa. "Jadi, aku dan Fugaku mendapat ide untuk bersembunyi di dekat jendela dan masuk ketika Kushina keluar."
"Idemu, bukan ideku." Fugaku mendengus.
"Hal itu tidak penting." Minato mendesah. "Aku sangat mempercayai kalian berdua sebagai sahabatku. Dan sekarang aku meminta pendapat bagaimana cara untuk menangani…"
"Tidak perlu kau ulangi pertanyaan itu." Fugaku memotong. "Bukankah kami berdua seharusnya melapor tentang misi yang baru kami jalani? Kenapa kita harus berdiskusi tentang hal konyol seperti itu?"
Nyaris saja amarahku meledak. Hal konyol? Kehamilan bukanlah hal yang konyol! Bukankah Mikoto sedang hamil juga? Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Mikoto bisa tahan menjadi istri lelaki ini!
"Jangan begitu. Meski sudah menjadi hokage, Minato tetaplah Minato yang tidak berpengalaman terhadap wanita, bukan?" Kali ini Chouza memotong. Aku langsung menyetujui ucapan Chouza. Sesaat, ruangan tersebut menjadi hening. Tanpa sadar aku sudah menggigit bibirku, tidak sabar untuk menunggu ucapan Minato.
"Kushina… akhir-akhir ini sering cepat marah…" Minato mulai berbicara. "Entah kenapa dia selalu terlihat kesal. Selain sering menghela napas, dia sering mengerutkan kening, tidak pernah lagi tertawa… Aku bingung." Minato terdengar sangat putus asa.
Diam-diam, aku tersentak. Benarkah aku selalu begitu? Aku tidak pernah menyadari hal tersebut…
"Selain itu, dia selalu melakukan kegiatan yang berbahaya tanpa dia sadari. Kemarin dia hendak berjungkir balik! Aku tahu kalau dia ingin memecahkan rekorku dalam berjungkir balik, namun bagaimana caranya berjungkir balik dengan perut sebuncit itu?" Minato nyaris berteriak putus asa. "Lalu biasanya dia suka jalan-jalan di pagi hari bersamaku dan sekarang dia tidak mau jalan-jalan lagi! Aku tidak keberatan akan hal itu, tapi dia memilih manghabiskan pagi hari di atas atap sambil tidur-tiduran! Di atas atap! Atap rumahku tidak simetris dan Kushina tidak pernah tidur dengan tenang! Nyaris saja dia terguling dan jatuh dari atap kalau aku tidak ada di sana! Pada saat itu juga aku cepat-cepat berdoa pada kami-sama supaya Kushina tidak berpikir untuk piknik di atas patung para hokage! Syukurlah doaku dikabulkan!"
Aku hanya bisa melongo ketika mendengar jeritan hati Minato yang panjang lebar tersebut. Benarkah aku nyaris terjatuh ketika tidur di atas atap? Kukira bayi ini perlu cahaya matahari, karena itu aku tidur-tiduran di atas atap. "Astaga… aku nyaris saja membunuhmu, baby-chan…" Aku mengelus perutku dengan penuh rasa penyesalan. Namun, rasa tersinggungku jauh lebih besar dari rasa penyesalan ini. Bisa-bisanya Minato menceritakan semua itu pada teman-temannya! Namun cepat-cepat kutahan rasa amarahku ketika mendengar Minato yang masih berbicara.
"Aku mencintainya…" Minato mendesah, membuat jantungku berhenti berdetak seketika. "Aku… tidak tahu harus berbuat seperti apa… Dia tidak senang kalau aku terlalu mencemaskannya, namun aku tidak bisa kalau tidak mencemaskannya sehari pun. Apa itu salah?"
Mendengar pertanyaan Minato yang putus asa itu, mau tak mau aku langsung merasa bersalah. Sejak tadi, aku menyalahkannya karena aku merasa dia terlalu protektif. Aku merasa terkekang jika dia tidak mengijinkanku melakukan banyak hal. Namun, Minato melakukan hal tersebut karena dia benar-benar mencintaiku dan tidak ingin diriku serta bayi ini terluka. Tanpa sadar, aku tersenyum lebar. Minato memang terlalu protektif. Dia akan terus melindungiku tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Dan aku sangat yakin kalau dia akan melakukan hal yang sama untuk anak kami. "Baby-chan, kau mempunyai ayah terbaik di dunia ini…" Aku mengusap perutku sambil meringis.
"Wanita hamil memang begitu, Minato! Mereka mengalami sesuatu yang biasanya disebut 'mood swing'!" Suara Chouza membuyarkan lamunanku. "Istriku juga begitu! Suasana hatinya selalu berubah setiap saat! Bagaikan badai yang tidak diketahui kapan munculnya." Chouza berdecak. "Mereka menjadi aneh dan mereka melakukan sesuatu yang tidak biasa."
Sesaat, suasana kembali hening sampai ketika aku mendengar Minato menepuk tangannya. "Kushina juga begitu! Aku sampai melongo dibuatnya! Kalian tahu apa yang dia lakukan?"
"Apa?" tanya Chouza dan Fugaku serentak.
"Ini terjadi sebulan yang lalu! Aku ada fotonya! Aku memotretnya diam-diam."
"Mana? Mana?"
Mataku terbelalak ketika mendengar hal tersebut. Aku berbuat sesuatu yang aneh? Sampai-sampai Minato memotretku? Apa yang kuperbuat? Nyaris saja aku mendobrak masuk dan memaksa Minato untuk memberitahuku.
"Aku tidak percaya! Kushina melakukan itu?" Chouza berteriak lantang.
"Huh! Si habanero itu?" Fugaku mendengus.
"Aku tidak bohong." Minato menjawab dengan mantap. "Dan jangan panggil istriku dengan julukan itu. Bisa tewas kau dibunuhnya, Fugaku."
Jantungku berdetak semakin kencang. Tanpa sadar, aku sudah menggigit keras bibirku. Apa yang kuperbuat? Apa yang kuperbuat? Tanganku sudah gatal untuk menghancurkan pintu ini. Namun, aku tiba-tiba teringat kalau amarah yang luar biasa bisa berpengaruh buruk terhadap bayi. Aku langsung menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diriku.
"Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan ini pada kalian." Minato kembali berbicara. "Tapi aku takut kalau tindakan Kushina ini tidak biasa, makanya aku meminta pendapat kalian. Apakah tindakannya itu cukup normal bagi seorang wanita hamil?"
Tindakan apa? Apa yang kulakukan? Sialan! Apa pun yang terjadi aku harus merebut foto itu dari si pirang brengs…
"Tenang… tenang… Tidak boleh menyumpah suami sendiri di depan baby-chan…" aku cepat-cepat menarik napas lagi. Namun aku sampai lupa untuk menghembuskan napas ketika terlalu serius mendengar percakapan Minato.
"Sepertinya hal itu normal…" Chouza berkata dengan ragu-ragu. "Wanita hamil memang cepat berubah suasana hatinya. Benar kan? Fugaku?"
Fugaku terdiam sesaat. Aku bisa merasakan ketegangan Minato yang menunggu jawaban dari Fugaku. "Bisakah kita tidak membicarakan tentang masalah ini?" Lelaki tersebut cepat-cepat menjawab.
"Kenapa? Ada sesuatu yang tidak ingin kau bicarakan? Fugaku?" Minato bertanya dengan sinis. Nada suara Minato berhasil memancing Fugaku. Diam-diam, aku menempelkan telingaku, tidak sabar untuk mendengar cerita tentang keanehan Mikoto.
"Kurang ajar juga mereka… Membicarakan kita sampai seperti itu…"
Aku nyaris melompat kaget ketika mendengar suara bisikan seseorang dari balik punggungku. Aku menoleh dan menatap wanita dengan perut yang lebih buncit dariku. "Mikoto!" aku mendesis. "Sejak kapan kau ada di sini?" Sepertinya Mikoto menghilangkan auranya sehingga aku sama sekali tidak merasakan kedatangannya. Mikoto tidak menjawab, melainkan menempelkan telunjuk di bibirnya. Aku mengangguk dan kembali menajamkan pendengaranku.
"Apa! Mikoto melakukan itu?" Suara Chouza melengking nyaring. "Tidak mungkin!"
"Kau serius, Fugaku? Ada fotonya?" Minato tergelak. Tawanya menggelegar.
"Tentu saja tidak. Kau pikir aku selicik dirimu?" Fugaku mendengus. "Tapi aku tidak menyangka dia melakukan hal itu."
Aku langsung menoleh ke belakang ketika merasakan hawa panas dari punggungku. "Mi-Mikoto…" aku berbisik dengan takut-takut. "Ingat, kau yang mengajarkanku untuk tidak menyebutkan kata-kata kotor ketika sedang mengandung bayi." Ucapanku membuat Mikoto kembali mengatupkan bibirnya.
"Pokoknya, dengan ini aku bisa tenang." Minato menghela napas. "Sekarang aku yakin kalau istriku masih baik-baik saja! Dia hanya menginjak tahap di mana suasana hatinya selalu berubah tanpa dia kehendaki." Ujar Minato dengan mantap. "Mood swing. Yaa, mood swing."
"Senang bisa membantu." Chouza meringis. "Istriku juga emosinya selalu meledak di saat-saat yang tak terduga. Tingkahnya semakin aneh saja setiap hari. Yah… tapi hal itu masih biasa."
"Biasa?" tanya Minato.
"Menurut dokter kandungan, emosi yang tidak bisa dikendalikan itu hal biasa bagi wanita hamil. Bagian parahnya adalah ketika mereka mengidam sesuatu."
"Setuju." Minato dan Fugaku langsung menjawab serempak.
Aku melirik ke arah Mikoto dan aku segera sadar bahwa wajahnya juga semerah wajahku. Memang, terkadang aku merasa ingin memakan sesuatu yang unik. Rasa kepingin itu sangat besar sehingga sering kali aku memimpikan makanan. Aku tahu kalau aku bukan tipe wanita yang suka merengek-rengek di depan suami untuk dibelikan sesuatu. Namun sepertinya tanpa sadar aku merengek di depan Minato, meminta dibelikan makanan-makanan yang muncul di mimpiku. Wajahku terasa semakin panas ketika aku teringat kejadian dua hari lalu, di mana aku membangunkan Minato di pagi-pagi buta dan memintanya membelikan es serut untukku. Tentu saja suamiku itu langsung melongo, namun dia tetap beranjak dari tempat tidur dan membawakanku es serut.
"Kalian tahu," Chouza berseru kencang. "Aku sampai puasa sepanjang hari ketika istriku menghabiskan satu bakul nasi dan tidak ada lagi beras di rumah." Chouza menghela napas. "Satu bakul nasi untuk seorang diri! Dalam sehari lagi!"
"Kushina tidak seperti itu." Minato cepat-cepat menyela.
"Mikoto juga." Fugaku menambahkan.
Aku tidak tahu apakah aku harus menganggap ucapan Minato sebagai pujian atau tidak.
"Tapi dia memang makan lebih banyak dari biasanya dan dia juga suka minta dibelikan makanan yang unik…" Minato bergumam. "Aku tidak masalah akan hal itu. Sebisa mungkin akan kudapatkan semua makanan yang dia inginkan."
Wajahku kembali terasa panas. Namun kali ini bukan karena amarah atau rasa malu. Entah apa nama perasaan ini… Aku melirik ke arah Mikoto dan aku tahu kalau dia menatapku dengan tatapan iri.
"Sudah yuk, Kushina." Wanita berambut raven ini menarik tanganku. "Ayo pergi dari sini."
"Hei, mereka masih berdiskusi! Ayo dengarkan mereka sampai selesai!"
Mikoto menggeleng. "Ironis bukan? Ninja-ninja terhebat di Konoha sama sekali tidak sadar akan dua wanita yang menguping di depan pintu. Mereka terlalu bersemangat sampai-sampai tidak sadar kalau kita sudah berada di sana cukup lama." Mikoto mendengus. "Rugi aku datang untuk menjemput Fugaku! Ternyata dia membicarakanku dari belakang!"
Aku hanya bisa meringis. "Ternyata bukan cuma wanita yang suka bergosip ya!" Aku dan Mikoto keluar dari gedung hokage. Mikoto menuruni tangga dengan hati-hati, sedangkan aku nyaris melompat turun kalau saja Mikoto tidak mendelik ke arahku.
"Kita harus balas mereka, Kushina!" Mikoto masih mengerutkan kening. "Aku masih penasaran dengan akan perbuatan yang kulakukan tanpa sadar sehingga membuat Fugaku menjadi seperti itu!"
"Iya juga." Aku langsung mengerutkan kening. Aku kembali teringat akan Minato yang memamerkan foto diriku. "Apa pun yang terjadi, akan kurebut foto misterius itu dari Minato!"
"Sudahlah, bagaimana kalau kita berbincang-bincang di rumahmu?"
Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Boleh saja. Kenapa tidak?
.
.
.
.
"Kushina, aku pulang!" Seruan kencang Minato membuatku tersentak. Aku melirik ke arah Mikoto yang duduk di sebelahku. Sahabatku tersebut menyeruput teh sebelum dia beranjak dari kursi goyangku ini. "Ah, ada Mikoto juga." Minato berjalan mendekati kami. Senyum lebar menghiasi wajahnya ketika dia menatap puluhan tusuk dango sekaligus beberapa bungkusan onigiri yang sudah kosong di atas meja. "Kalian piknik di sini?"
"Selamat sore, yondaime-sama." Mikoto menundukkan kepalanya. "Terima kasih karena sudah mengijinkan saya untuk menghabiskan waktu bersama istri anda."
Minato melongo dan menatap Mikoto seakan-akan wanita itu sudah kerasukan sesuatu. Mikoto memang wanita yang sangat sopan, namun dia tidak pernah se'formal' itu di depan Minato. "Ada apa, Mikoto? Kau tidak pernah bertingkah seperti ini di depanku." Minato cepat-cepat menyuruh Mikoto mengangkat kepalanya.
"Oh, maafkan saya atas ketidaksopanan saya selama ini." Mikoto malah menunduk semakin dalam. Minato kembali melongo. Dia langsung menatapku, meminta penjelasan. Namun, aku hanya mendengus, mengabaikannya. Aku tahu kalau di balik kesopanan itu bersembunyi rasa kejengkelan yang luar biasa. Biar saja Minato melongo sampai mulutnya jatuh dari wajahnya! Minato semakin melongo ketika melihatku yang mengacuhkannya.
"Saya permisi dulu." Mikoto memasang senyum 'termanis' dan keluar dari rumah. Sesaat sebelum dia keluar rumah, dia melirik ke arahku dan memasang senyuman lebar. Sekarang mata Minato sudah tidak menempel pada Mikoto lagi, melainkan padaku.
"Kushina…" Minato memanggilku dengan rasa cemas. Aku mengabaikan panggilannya dan duduk meringkuk di pojok kursi. Melihatku yang seperti ini, Minato menjadi semakin cemas. "Hei, sayang, ada apa? Kau marah padaku? Apa salahku?"
Ingin rasanya aku menjerit, "BANYAK!" namun aku cepat-cepat menahan rasa kesalku. Minato hanya bisa terpaku ketika melihatku yang merajuk. Dia duduk di kursi terdekat dan menatapku dengan seksama.
"Jangan-jangan mood swing ya?" Minato bergumam dengan sangat pelan. Lelaki berambut pirang ini terdiam, sepertinya dia mencoba untuk mengingat ajaran Chouza tadi siang. Pelan-pelan, Minato duduk di sebelahku. Dengan lembut dia mengelus wajahku. "Hei, Kushina…" Bisikannya yang selembut beledu itu langsung membuat rasa kesalku hilang. "Ada apa? Ayo, ceritakan padaku…" Minato menyentuh rambut merahku yang panjang, menyelipkan rambutku di balik telingaku. Jari-jarinya mulai memainkan rambutku dan tiba-tiba, aku merasakan kecupan lembut di kepalaku.
Aku tidak tahu apa yang diajarkan Chouza dan Fugaku, tapi yang pasti ajaran mereka sangat ampuh.
"Aku akan duduk di sini, menunggumu berbicara." Minato berbisik dengan lembut. Dengan kaku, aku melirik ke arahnya dan dia langsung tersenyum manis. "Aku siap untuk mendengarkan ceritamu."
Nyaris saja aku bertekuk lutut di depan senyumannya kalau saja aku tidak mengingat tujuan utamaku melakukan aksi 'merajuk' ini.
"Janji? Kau tidak akan kesal atau marah ketika mendengar ceritaku?" Aku berbisik pelan sambil menatap Minato melalui bulu mataku yang lentik.
"Janji." Minato mengulurkan jari kelingkingnya. Aku menatapnya dengan ragu-ragu, namun Minato memasang tampang serius. Dengan kikuk, aku mengaitkan jari kelingkingku.
"Sebenarnya… aku ada rahasia yang belum pernah kuceritakan padamu…" Aku menatap Minato dengan kikuk. Namun, lelaki itu mengangguk dengan wajah tenang dan menungguku untuk berbicara. "Ah… sudahlah… kurasa sebaiknya aku tidak menceritakan hal ini padamu." Aku memalingkan wajahku darinya.
"Kushina… jangan begitu dong," Minato cepat-cepat berjongkok di depanku. "Aku sudah janji untuk tidak marah, bukan? Bukankah aku selalu menepati janjiku?" Meski wajahnya dihiasi senyuman lebar, aku tahu kalau Minato tidak sungguh-sungguh tersenyum. Dia sedang berusaha menerka-nerka apa yang kurahasiakan.
"Sebenarnya…" Aku meneguk ludah. "Beberapa minggu lalu, ketika kau belum pulang rumah, aku keluar sebentar, membeli ramen…"
"Lalu?" tanya Minato dengan penuh kesabaran.
"Lalu… aku merasa kalau ada yang membuntutiku dari belakang…" Aku membekap mulutku dengan tangan yang bergetar. Mata biru Minato terbelalak seketika. "Lalu… lalu… aku… tidak bisa berbuat apa-apa di hadapannya…"
"Apa yang dia lakukan padamu!" Topeng kesabaran Minato langsung pecah seketika. Mata birunya membara, dibakar api kemarahan. "Kushina! Kenapa kau tidak memberitahuku hal sepenting ini! Apa yang dia lakukan padamu?" Kedua tangan Minato sudah merangkul tubuhku yang bergetar.
"Aku… aku takut kalau kau akan marah padaku…" Suaraku pecah.
"Kushina, sayang, aku tidak mungkin marah padamu!" Minato mengusap wajahku.
"Kau pasti marah." Aku menepis tangannya dari wajahku. "Karena… karena aku sudah melakukan sesuatu yang tidak termaafkan…"
Mata Minato terbelalak. Tubuhnya membatu seketika. Dia sama sekali tidak bersuara. Aku melepaskan diriku dari pelukannya dan menyingkir darinya. "Aku… aku jatuh cinta padanya…"
Jantung Minato langsung berhenti berdetak. Butuh waktu beberapa menit baginya untuk menyerap ucapanku.
"Aku mencintainya, Minato." Tubuhku bergetar dan suaraku mulai serak. "Aku… tanpa sadar aku membandingkan dirinya denganmu! Dia sangat baik! Perhatian! Dia selalu ada di sisiku setiap kali aku memanggil namanya!" Air mata mengalir, dan tubuhku berguncang semakin hebat. "Dia tampan dan gagah! Aku… aku bahkan mengundangnya masuk ke dalam rumah ini selagi kau bekerja…"
Wajah Minato semakin lama semakin pucat. Aku tidak heran kalau dia terkena serangan jantung saat ini.
"Aku… tidak bisa menahan diriku…" Aku mengusap air mataku. "Tubuhnya yang hangat selalu membuatku merasa tenang. Kehangatan tubuhnya melebihi kehangatan tubuhmu…"
Minato masih bergeming. Rahangnya mengeras. "K-kehangatan?" dia berbisik lirih. "Ku-Kushina…" mata birunya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan.
"Karena itu… maafkan aku, Minato…" Aku berbisik dengan suara mantap. "Aku memutuskan kalau aku ingin tinggal bersamanya… Apa pun keputusanmu, aku tidak peduli."
Wajah Minato yang sejak tadi pucat itu mulai memerah. Apakah karena amarah? Ataukah kebencian? Aku tidak tahu.
"Di mana dia?" Minato mendesis dari sela-sela giginya. Tubuhnya mengejang dan rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok Minato yang belum pernah kulihat sebelumnya. Banyak orang bilang kalau Minato bertarung seperti cheetah yang sedang berburu. Cepat, tangkas dan gagah. Dan saat ini adalah saat pertama kalinya aku menyetujui ucapan mereka.
"Dia… ada di rumah ini sejak tadi…"
Oke, aku bersumpah kalau aku melihat Minato mengeluarkan kunai-nya.
"Kumohon, Minato… jangan lukai dia… dia sangat baik dan menyenangkan…" Aku mulai merasa takut. Kusentuh tangan Minato, namun dia menepis tanganku.
Oke, itu pertama kalinya dia menolak sentuhanku.
"Shi… Shiro…" aku berbisik pelan. "J-jangan lukai Shiro…" Tubuhku bergetar hebat dan lagi-lagi, aku membekap mulutku.
"Shiro!" Minato meraung. "Keluar sekarang juga!" Tubuh Minato menegang ketika dia mendengar sesuatu yang mendekat dari belakangnya. Aku tahu kalau Minato bisa langsung melempar kunai-nya, namun sepertinya dia ingin menatap wajah Shiro dulu. Lelaki itu menatapku dengan tatapan terluka. Tangannya menyentuh wajahku, menghapus air mata dari wajahku. "Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku…" Dia tersenyum pahit. "Jika kubilang kalau aku tidak marah, maka aku berbohong padamu." Minato memejamkan matanya dan di detik ketika dia membuka mata, aku melihat tatapan membunuh. Dengan kecepatan kilat, dia memutar tubuhnya. "Shiro, bersiaplah!"
"Guk!"
"Mati kau...! … eh? Guk?"
.
.
.
.
.
"Astaga! Aku masih tidak bisa berhenti tertawa!" Untuk kesekian kalinya, aku mengusap air mataku yang mengalir deras. Tubuhku berguncang keras, tawaku menggelegar. Ini pertama kalinya aku tertawa seperti ini. Yah… terima kasih atas Mikoto tentunya!
"Aku masih butuh penjelasan." Minato menggelengkan kepalanya. Dia menatapku yang masih terbahak-bahak. Lalu dia menatap anjing hitam yang duduk di sebelahku. "Ini apa?"
"Shiro." Aku menahan tawa.
"Dia menggunakan henge no jutsu?" Minato menatap Shiro dalam-dalam. "Aku tahu. Dia pasti menggunakan henge no jutsu dan menyamar sebagai anjing, bukan?"
"Tidak, dia benar-benar anjing." Aku kembali tergelak. "Anjing dari klan Inuzuka."
Minato terdiam sesaat. Dia meneliti wajahku sesaat. "Kau… membohongiku?" tanyanya dengan nada tersinggung.
Aku mendengus. "Tentu saja tidak! Sejak kapan aku berbohong?" Aku mendengus lagi. "Aku bilang kalau ada yang membuntutiku. Aku tidak pernah bilang kalau ada lelaki yang membuntutiku. Kau saja yang langsung meloncat ke kesimpulan yang salah."
Minato kembali terdiam. "Lalu? Apa maksudmu dengan 'dia selalu ada di sisiku jika kupanggil' dan kehangatan yang melebihi tubuhku itu?"
Aku kembali mendengus, berusaha menahan tawa. "Shiro selalu datang kepadaku jika kupanggil. Lalu tentu saja tubuhnya lebih hangat darimu! Coba lihat bulu dia yang lebat itu!" Aku langsung memeluk Shiro dan membenamkan wajahku di bulunya yang lebat.
Minato kembali terdiam. "La-lalu… katamu dia itu tampan dan gagah…"
"Dia bisa dibilang tampan jika dibandingkan dengan Pakkun milik Kakashi. Dia gagah karena dia salah satu anjing ninja terkuat yang dimiliki Tsume. Dan Tsume meminjamkan anjing ini padaku." Aku mendengus bangga. "Dia bilang aku boleh menyimpan Shiro untuk menemaniku. Dan aku mau dia tinggal di sini, bersama kita." Shiro menggonggong dan menjilat wajahku.
"Ja-jadi pada awalnya dia membuntutimu karena…"
"… tergoda akan ramen yang kubawa." Aku langsung memotongnya.
Minato sudah tidak bisa berkata apa-apa. "La-lalu kenapa kau sampai menangis seperti tadi? Lalu tubuhmu bergoncang keras sekali!"
"Karena aku menahan tawa, sampai-sampai tubuhku bergoncang keras dan perutku terasa sakit." Aku kembali tertawa. "Makanya air mata keluar tadi! Ahh, lega sekali rasanya! Kau tidak tahu kalau aku membekap mulutku keras-keras supaya aku tidak tertawa terbahak-bahak dan menggagalkan rencana yang kubuat bersama Mikoto ini!"
Minato menggelengkan kepalanya keras-keras. "Tunggu. Rencana bersama Mikoto?"
Aku mengangguk. "Iya. Pembalasan dendam karena kau sudah menggosipkan kami. Kurasa Mikoto juga melakukan hal yang sama terhadap Fugaku saat ini." Aku meringis. Tak bisa kubayangkan apa yang dilakukan Mikoto. Jujur saja, Mikoto jauh lebih berbakat dariku. Di balik wajah yang manis dan tenang itu, dia adalah wanita yang sangat berbahaya. Dalam hati aku tertawa.
Di detik itu juga, Minato langsung terkulai lemas. "Kushina! Kau tahu kalau kau bisa membunuhku hanya dengan berakting seperti itu!" Dia memelukku erat-erat. "Aku kira aku kehilangan dirimu gara-gara seorang penguntit tampan yang tidak kukenal!"
Aku meringis dan membalas pelukannya. "Meski dia lebih tampan sepuluh kali lipat darimu, aku tidak akan menyukainya, karena kau yang paling tampan bagiku." Aku mengecup pipinya.
Minato melepaskan pelukannya dan menatapku dengan kesal. "Oke. Kurasa aku tidak bisa selamat dari 'mood swing' yang tidak jelas ini. Pertama-tama kau mudah merasa tersinggung. Lalu kau menjahiliku sampai seperti itu. Dan sekarang kau memujiku! Kau belum pernah memujiku tampan."
Aku kembali tertawa dan membentangkan tanganku lebar-lebar. Minato menaikkan sebelah alisnya dan memelukku lagi. Aku mengaitkan kedua lenganku di pinggangnya dan berusaha untuk memenjarakannya di balik pelukanku. Kubenamkan wajahku di lekukan lehernya. "Hmmm…." Kuhirup napas dalam-dalam, membawa serta aroma tubuh Minato yang menyenangkan. "Maaf, tapi entah mengapa rasanya aku ingin menjahilimu." Aku meringis.
"Aku memilih kau meletakkan kulit pisang di depan pintu kerjaku daripada dijahili seperti ini." Minato menggerutu.
Oke, ini pertama kalinya dia mengambek.
Lucu juga.
"Hehe, maaf yaa. Aku sayang padamu Minato. Makanya aku ingin menjahilimu." Aku menyeringai lebar.
"Alasan macam apa itu?" Minato mendengus, masih mengambek. "Kau jahil sekali. Aku tidak heran kalau anak kita nanti sejahil dirimu."
"Dan aku tidak heran kalau anak kita nanti akan menawan sepertimu."
Minato kembali melepaskan pelukannya dan menatapku dengan bingung. "Aku menawan?"
"Sangat." Kukecup lagi pipinya. Syukurlah, sepertinya aku sudah menghilangkan kemarahannya yang luar biasa itu. "Minato, ijinkan Shiro untuk tinggal di sini ya? Aku ingin dia tinggal. Dia menyenangkan dan baik. Kau ijinkan dia tinggal di sini sampai bayi kita lahir, oke?"
Tubuh Minato langsung menegang seketika. Dia menyipitkan mata dan menatap Shiro yang mengibaskan ekornya. "Apakah aku boleh memilih 'tidak' sebagai jawaban?"
Kali ini tubuhku yang menegang. Aku mengibaskan tanganku, berniat untuk melepaskan pelukan Minato. "Oke, oke. Mood swing." Minato menghela napas tanpa merenggangkan pelukannya. "Oke, kau menang. Aku tidak pernah bisa menang berdebat denganmu." Minato terkekeh ketika merasakan tanganku yang mulai membalas pelukannya.
"Oh iya, Minato. Aku penasaran akan foto yang kau pamerkan pada teman-temanmu itu…"
Tubuh Minato kembali menegang. "Foto apa?" tanyanya dengan nada selembut beledu. Mendengar ucapannya, aku kembali meronta, berusaha melepaskan diriku dari pelukannya. "Oke, oke. Akan kuberikan foto itu padamu." Dia mengacak-acak rambutku dan meraih sesuatu dari tasnya. "Tunggu dulu." Minato menahan tanganku yang nyaris merampas foto itu. "Janji? Kalau kau tidak akan marah?"
Aku mengerutkan kening. Ucapannya membuat rasa penasaranku semakin menggila. "Oke. Aku janji," jawabku, cepat. "Berikan foto itu."
Di detik ketika aku menerima foto itu, Minato mengaktifkan jurus transportasi kilatnya.
Awalnya, aku bingung kenapa Minato kabur secepat itu. Namun, aku langsung mendapat jawabannya ketika aku melihat sosok diriku di foto itu. Di sana tercetak diriku yang sedang menangis sambil memotong ikan. Aku melongo. Sejak kapan aku menangis? Sambil memotong ikan pula? Lalu, seakan-akan terdengar bunyi 'klik' di kepala, aku langsung ingat apa yang terjadi. Pada saat itu, emosiku sedang meluap-luap dan suka berubah. Yeah… mood swing. Aku sedang memotong ikan dan aku sadar bahwa ikan itu sedang mengandung ratusan telur di dalam tubuhnya. Tanpa sadar, air mataku sudah mengalir, membayangkan betapa jahatnya diriku, membunuh sang ibu, membunuh bayi-bayi ikan yang mungil ini. Namun sekarang aku merasa kalau diriku itu sangat konyol.
Kushina, si habanero, menangis ketika memotong ikan.
Oke. Aku tidak menyalahkan Minato yang langsung meraih kameranya dan mencetak saat-saat memalukan seperti itu. Tapi… menunjukan foto memalukan seperti ini kepada teman-temannya…
"Kushina sayang…" Aku bisa mendengar suara Minato dari suatu tempat. "Marah-marah itu tidak baik buat baby-chan loh…"
"MINATOO! Ke sini kau!" aku meraung, mengabaikan ucapannya. Namun, kali ini suamiku cerdas. Dia lebih baik bersembunyi daripada menerima amukan dariku.
TBC
YAAH... segitu dulu deh :p
awalnya aku gak mau publish chapter 3 ini karena rasanya ada yang kurang...
moga-moga para pembaca puas...
kalau ada pertanyaan atau saran silahkan kasih tau yaa :D
thnks for reading, mid to review? :)
