Don't Like Don't Read

.

.

Caution! Miss Typo(s)

.

.

Tidak sesuai EYD

.

.

Just a NightMare!

.

.

Well..

happy reading !

Setelah pesta yang diadakan di Mansion, aku membanting bada di atas kasur yang empuk, berharap bahwa malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku membenamkan kepalaku di atas bantal dan mencoba untuk tidur adalah gagasan paling sempurna yang bisa ku pikirkan.

"Luka-san" teriak seseorang dari balik kabut. Suara yang setengah memekik dan hampir terdengar seperti geraman dari hewan. Satu-satunya hal yang bsa kudengar saat ini adalah suara orang itu. Darah menutupi seluruh daerah di hutan itu. Membuat suasana hutan yang gelap jadi pemandangan mengerikan yang mungkin bisa membuat perut mual.

"Aaaaaaa..." teriak seorang perempuan dari kejauhan.

Sekujur tubuhku membeku, rasanya seperti aku mengetahui penyebab teriakan tadi. Suasana mejadi hening, bahkan sangat hening. Suara burung hantu dan jangkrik tidak lagi terdengar, seperti seluruh penghuni hutan telah lenyap.

Aku sedang diawasi, pikirku. Tiba-tiba kabut tebal menjalar di sekelilingku, diikuti dengan cakar dan taring yang tampak familiar, kulit pucat pasi dan segel di tangan kanannya, dengan tubuh tinggi mirip dengan iblis yang baru saja dibangkitkan dari neraka. Ia berlari mengejarku, raut wajahnya tampak seperti monster yang cukup kuat untuk mengancurkan satu kerajaan tapi di sisi lain aku melihat jiwa manusia hidup di dalamnya. Tapi tetap saja, aku yakin dia yang mengakibatkan teriakan tadi dan darah yang berlumuran di sini. Aku berlari menghindari makhluk itu, hingga sampai pada sebuah gua di dekat sungai yang kurasa cukup aman.

Makhluk itu tidak lagi mengikutiku. Setelah merasa cukup aman aku mengitari gua itu dan membuat segel di mulut gua agar makhluk tadi tidak bisa masuk dan melukaiku hanya untuk berjaga-jaga.

Tiba-tiba seseorang berjalan terhuyung ke arah gua, aura kegelapan merasuk ke dalam kulitku, bahkan segelku pun tidak dapat menghalangi aura itu. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang menerangi hutan, entah mengapa tampaknya malam ini sepertinya bulan pun ikut merasa ketakutan yang sama seperti yang sedang menjalar di darahku sehinga cahayanya meredup. Wajah orang itu pun terlihat seiring dia barjalan mendekat. Jantungku serasa mau melompar keluar dari tubuhku ketika aku meyadari siapa yang sedang berjalan itu.

"Len..." teriakku padanya

Tubuhnya dipenuhi dengan bekas cakaran hewan buas, kemeja putih yang hampir seluruhnya berwarna merah karena darah dan bekas seperti terbakar yang berbentuk segel di lengan kirinya. Keadaanya saat itu sangat kacau, mungkin karena telah berkelahi dengan makhluk tadi. Aku segera melepaskan segel dan berlari kearahnya. Aku menopang badannya yang jauh lebih tinggi dariku. Kami masuk ke dalam gua untuk menyembuhkan luka-luka di tubuhnya. Aku sudah sedikit tenang saat luka-luka itu sudah sembuh, tapi tubuh Len masih terbaring karena kelelahan. Tapi ada yang aneh, sesuatu sedang terjadi diluar sana, sesuatu yang gelap, sesuatu yang mungkin ada hubungannya dengan Lucifer dan perjanjian bodohnya itu.

Sebelum bertemu Len, aku dan Lucifer (ayah dari kakekku, bisa dibilang kakek buyutku) membuat sebuah perjanjian yang terpaksa harus ku setujui karena ingin bebas dari ikatanku dengan Lucifer. Dia akan melepaskanku tapi aku akan terus diikuti oleh kutukan-kutukan yang akan dia beriakan, termasuk kutukan Iblis yang pernah disegel oleh Len.

Awalnya aku ragu kalau dia akan melakukan sesuatu seburuk itu padaku. Dan sekarang semua keraguan itu terjawab, ternyata dia serius dengan perjanjian dan kutukan itu. Aku bisa merasakan kegelapan menyelimuti seluruh isi hutan.

Makhluk itu datang lagi, ia menghancurkan segel yang kubuat di gua, bahkan tetua terkuat di kerajaanku tidak bisa menghancurkan segel milikku.

"Utusan Lucifer" bisikku pada diriku sendiri sambil berdiri untuk melindungin Len yang masih terbaring tidak berdaya di tempatnya.

Aku berdiri hanya beberapa langkah darinya, dan tubuhku sudah merasa panas yang membara saat makhluk itu menatapku. Tubuhku tidak bisa digerakkan, sepertinya aku membatu, makhluk itu mendekat dan meletakkan telunjuknya di dahiku. Sensasi terbakar menjalar di seluruh pembuluh darahku, mataku terasa perih.

"Oh tidak... Tidak.. Tidak.. Jangan.. Len tolong aku..."

"Luka-san, Luka-san, bangun... Aku disini... Ini cuma mimpi buruk" suara serak yang khas membangunkanku.

Aku langsung memeluknya "Len-kun.. t-t-tadi.."

Sebelum sempat melanjutkan kata-kata ku, dia mencium ku dengan penuh kepastian.

"Mungkin ini bisa sedikit menghilangkan mimpi burukmu" ucapnya sambil mengambil selimut dan berbaring di sampingku. Yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk dan menatap wajahnya.

Dia meletakkan kepalaku begitu dekat dengan dadanya yang bidang dan hangat. Air mata mengalir di pipiku, aku menangis sampai tertidur. Dan malam itu aku tertidur nyenyak sepanjang malam di pelukannya yang hangat.

Cahaya matahari serasa menggelitik kulitku, merambat dari ujung tanganku hingga wajah. Tapi hari ini rasanya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini terasa sangat aneh, atau mungkin hanya perasaanku saja. Aku memakai selembar kain untuk menutupi piyamaku. Dan au baru sadar kalau semalam au tidur dipelukan Len dan pagi ini dia sudah menghilang begitu saja, tidak seperti biasanya. Setiap pagi Len dan Sakuya datang ke kamarku dan membawakan sarapan diatas nampan perak dan sekantong darah.

Aku berjalan menuju ruang tamu yang baru saja kami pakai untuk pesata dansa semalam. Dan medengar pembicaraan yang sedang berlangsung di ruangan itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang begitu serius sampai ada yang membentak-bentak. Aku akan melakukan sesuatu yang sering ku lakukan dulu di kerajaan, menguping.

Dinding ruang tamu yang dibuat dari beton dan besi itu sangat tebal, dan pembicaraan yang bisa kudengar sangat sedikit. Mansion ini menjadi tempat tinggal dan sekaligus tempat pertahanan saat perang yang terjadi dulu. Dan ini adalah satu-satunya bangunan yang masih berdiri dan sampai saat ini dan belum pernah diubah sedikitpun. Semua perabotannya bergaya Kerajaan. Tirai Beludru, dan cat perak yang kalau dipandang terus menerus saat matahari menyinarinnya bisa menyilaukan mata.

Kami "vampir" tidak alergi terhadap perak juga tidak bisa dibunuh dengan perak, yang bisa membunuh kami hanya sesuatu yang menciptakan kami, sihir. Juga kami tidak terbakar karena sinar matahari, hanya sedikit pedih dan tidak terbiasa dan juga kulit kami pucat pasi, tidak seperti manusia biasa, oleh karena itu kami memutuskan untuk bersembunyi dan menjaga kaum kami agar tidak diketahui publik.

"Luka-san"

Len membukakan sedikit pintu ruang tamu dan memberiku celah agar bisa masuk. Pendengaran kami sangat sensitif, bahkan kami bisa mendengar seseorang berbisik dari satu kilometer jauhnya. Dan terlebih kami juga bisa merasakan kehadiran vampir lain yang mendekat, apalagi aku sudah mengikatkan diriku pada Len, jadi dia bisa dengan mudah merasakan kehadiran ku.

"Tak perlu menguping" ucapnya sambil tersenyum ramah

"Oh ya.. maaf pagi ini aku tidak sempat membawakanmu sarapan, karena ada yang datang untuk mencarimu" dia memicingkan mata ke arah seorang perempuan berambut kemerahan yang diikat dibelakang.

"Ibu.." sahutku saat berlari untuk memelukknya.

"Hah.. Luka, kau tidak berubah sejak kau meninggalkan kerajaan, kecuali.." ibu menatap Len yang sedang bersandar di pintu ruang tamu.

"Ibu, dia hanya teman dan tidak sengaja mengikat dirinya padaku" gumamku sambil mencoba untuk menyembunyikan muka ku yang mulai merona.

Setelah perbincangan singkat itu aku, Len, Ibu dan kedua orangtuanya sarapan di ruang makan, saat makan tidak ada yang berbicara, bahkan hanya untuk menanyakan tentang kabar.

"Semuanya aneh hari ini" bisikku

Matahari mulai tenggelam. Senja pada hari ini begitu indah, warna jingga dengan sedikit campuran ungu membuat langit sangat indah untuk dinikmati, semilir angin bertiup menenggelamkanku ke dalam indahnya senja hari di Mansion ini.

"Belum pernah ada senja seindah ini" Len berdiri di belakangku sambil mengelu-elus rambut merah muda ku.

"Benarkah?"

"Ya"

Sedikit demi sedikit bulan mulai memunculkan dirinya. Angin dingin masuk melalui jendela dan menerpaku, bahkan baju hangat yang kukenakan sekarang masih terasa dingin bagiku, dinginnya menusuk kulitku, bahkan menjadi vampir bukan alasan aku kebal terhadap dingin. Jantungku memang tak berdetak, namun aku juga masih mempunyai sedikit sisi manusia, dan sedikit sisi NekoVampire. Suara burung hantu mulai terdengar, sepertinya burung itu kelaparan.

Len menutup jendela agar aku bisa tidur tanpa harus merasa dingin. Malam ini aku tidur lebih awal karena besok akan diadakan Pesta Tahunan di Kerajaan Timur, semua keturunan kerajaan harus datang. Tapi ada perasaan aneh yang mulai membuatku khawatir, ketakutan menjalar di nadiku, ketakutan akan datangnya hari esok dan kenyataan bahwa besok akan menjadi hari terburuk dalam hidupku.

Banyak pertanyaan muncul di benakku.

Apakah mimpi itu berarti sesuatu? Apakah aku akan terbebas dari kutukan yang diberikan Lucifer? Siapa monster di mimpiku itu? Apa yang akan terjadi besok?

Sesegera mungkin aku menyingkirkan pertanyaan itu, dan mempersiapkan diriku untuk besok. Namum malam ini aku akan menikmati setiap detik yang bisa ku lalu dengan Len.

To Be Continued...

.

.


Yah, mungkin sedikit tidak bisa dimengerti. Tapi saya sudah mencoba untuk menuliskan sedikit penjelasan di dalam fanfict ini.


.

.

.

Mohon Review nya! ^^

Maaf kalau mengecewakan ya Minna-san.. Soalnya saya hanya menulis apa yang terlintas dipikiran saya

Hm... Jaa Nee ~