Ada yang menarik perhatian Johannes von Schicksal, saat memperhatikan kondisi luar dinding dari balik layar, di mana terhubung dengan kamera pengintai yang dipasang di beberapa tempat.
Seekor aragami kecil dimangsa oleh aragami yang lebih besar. Kesimpulannya, hukum rimba juga berlaku bagi aragami. Yang kuat akan menang, sementara yang lemah hanya menjadi umpan.
Ketukan di pintu mengembalikan Johannes pada titik sadarnya secara penuh. Mata bulatnya melirik ke arah knop pintu yang sekarang memutar.
"Ketua?" Mayor Tsunade masuk. Tangannya memegang sebuah map—sebelum menyerahkan map tersebut—lebih dulu wanita itu menarik napas.
"Hinata membuat ulah lagi?" Johannes sama sekali tak terkejut bila demikian kabar yang dibawa sang Mayor. Baginya kenakalan Hinata adalah santapan sehari-hari, selain urusannya dengan aragami.
"Kali ini Nona Hinata menyelinap di mobil tim Retalitation dan keluar dinding. Sesuai peraturan yang ada di Kami no Kuni, Nona Hinata harus mendapat hukumannya, Ketua."
Johannes merapatkan jari. Tatapannya sendu menoleh pada patung perdana menteri yang ada di area air mancur samping kantor Fenrir. Patung itu dipahat khusus sebagai wujud penghormatannya kepada sang kepala negara. Perdana Menteri Hiashi telah menitipkan putrinya. Akan tetapi, Johannes justru merasa membuat Hinata menjadi gadis pembakang.
"Apa pun, lakukan sesuai tugasmu. Tidak ada pengecualian di tanah ini. Kau tahu itu."
Tsunade keluar dari ruangan setelah memberi penghormatan kepada Johannes.
...
"Apa-apaan kalian?!"
Tiga petugas kepolisian Kami no Kuni menyodorkan surat penangkapan kepada Hinata. Jelas gadis berumur 18 tahun itu tak mengerti. Ia tidak merasa melakukan tindak kriminal baru-baru ini. Lantas kenapa ditangkap?
Rasa tak nyaman semakin menggerogoti jiwanya manakala sebuah borgol mengunci pergelangan tangannya. Hinata masih tak tahu salah apa. Ia hanya diminta berdiri dan ikut ke mana ketiga polisi itu melangkahkan kaki.
Orang-orang di barak memandangnya dengan tatapan menyepelekan. Cemooh secara tidak langsung tersirat dari sorot pandang mereka. Boleh jadi, dijebloskannya ia ke penjara merupakan hal yang patut disyukuri.
Sampai di depan sebuah pintu yang membuka, Hinata dipaksa menuruni anak tangga. Sel berukuran 5 x 3 meter siap menampung putri tunggal Hiashi itu.
Tempatnya lembab, sangat hening, juga remang. Lantai ubin terasa begitu dingin tanpa alas guna istirahat. Telapakya bersinggungan langsung dengan taris. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu tempel yang berada di samping depan sel isolasi.
Penjara bawah tanah Kami no Kuni. Hinata akhirnya tahu alasannya. Namun tak ia sangka ini bagian konsekuensi bila berani menyelinap ke luar dinding.
.
"Jika ayahku masih hidup, dia pasti sangat marah."
Pria berambut pirang itu menghela napasnya. Selang 10 menit setelah Hinata ditangkap, Johannes langsung mengunjungi putri angkatnya itu usai rapat di kantor Fenrir selesai.
Sorot pandangnya sendu. Johannes merasa dadanya seperti dihunjam batu. Sesak, tak tega, tetapi di lain pihak ia harus memenuhi janjinya kepada perdana menteri untuk tak memanjakan Hinata.
Johan—begitu Hinata biasa memanggil—mendekati sel yang mengurung gadis kecilnya.
"Apa yang Anda lakukan sangat berbahaya, Nona Hinata."
"Lalu?" Hinata memilih mengabaikan tatapan Johannes. Tangannya justru sibuk memainkan jemari kaki seolah ingin membuat pria itu semakin kesal.
Johan menarik tangannya dari jeruji besi. Posturnya yang tadi sedikit membungkuk kini kembali tegap sembari atensinya tetap tertuju pada gadis itu.
"Saya mohon jangan diulangi. Keluar dinding adalah kesalahan fatal."
Hinata terlihat merebahkan diri. Ia memilih tidur menyamping, dan membuat Johannes memandang punggungnya.
Johannes tahu, suaranya tak kan pernah Hinata dengar.
.
.
.
Hari ke-15 kalender lunar, angkasa menyajikan panorama luar biasa. Bulan bulat sempurna, purnama kelimabelas membuat malam tampak lebih terang.
Hal itu seperti membakar rasa lelah para pengungsi. Rasa lapar, haus, rasa bosan menunggu tak terbendung lagi. Truk pengangkut makanan terakhir datang jam 10 kemarin malam. Sekarang bila dihitung hampir sehari, dan sampai pukul 7 petang ini, belum ada secuil pun makanan dibagikan. Entah apa yang dilakukan para Fenrir di dalam sana.
Orang-orang berkumpul membentuk blokade di depan dinding raksasa setinggi 65 meter. Wilayah Kami no Kuni dibagi menjadi dua teritori. Dinding luar setinggi 50 meter bagi para pengungsi, dan dinding dalam setinggi 65 meter untuk anggota Fenrir. Entah apa yang mereka sembunyikan dalam dinding setinggi itu. Fenrir terlalu menyimpan banyak rahasia.
"Kalian ingin melakukan genosida?! Mana tanggung jawab kalian!"
"Konspirasi macam apa ini?!"
"Oi, Fenrir! Kalian bahkan tak memberi kami makanan yang layak!"
"Cepat keluarlah!"
"Keluar!"
.
Gelombang protes warga sampai ke telinga Mayor Tsunade. Ia bergerak cepat dengan menggelar rapat dadakan. Sebenarnya bukan truk makanan yang mandek beroperasi, hal ini lantaran tak adanya stok bahan tersisa di gudang.
"Kau sudah menghubungi tim Utsugi?"
"Mereka baru tiba, Mayor." Ujar asisten Tsunade; Haruno Sakura. Perempuan berambut fuchsia itu berkomunikasi melalui alat yang menempel di telinganya.
Pesawat tanpa awak pengantar logistik dari Rusia mendapat masalah, diserang oleh aragami terbang yang mendiami wilayah lautan es di lepas Shiretoko, Hokkaido.
Tim Utsugi yang terdiri dari tiga orang dikerahkan guna mempercepat proses distribusi. Ketua Johannes pun sudah memberi titah kepada Mayor Tsunade untuk sebisa mungkin menenangkan masa. Sementara itu, pasukan Lindow masih dalam misi dan belum kembali.
.
"Saudara-saudaraku, aku mengerti bagaimana perasaan kalian. Kita sama-sama lapar. Dalam kondisi sekarang ini tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu. Kami sudah mengerahkan bantuan untuk mempercepat datangnya logistik. Pesawat kami diserang aragami." Mayor Tsunade berusaha menjelaskan, akan tetapi segera dipotong oleh salah seorang demonstran.
"Bohong! Kalian pasti memangkas biaya konsumsi untuk mengenyangkan perut sendiri!" tukas orang itu.
"Benar! Kalian pembohong!"
"Dasar sekumpulan pembual!" yang lain pun turut membenarkan.
Karena kesal Fenrir terus dipojokkan, akhirnya Sakura angkat suara.
"Itu tidak benar!"
Secara emosial gadis yang turut menemani Mayor Tsunade menemui demonstran tersebut berucap. Bukan karena dia bawahan wanita paruh baya itu, bukan. Melainkan, apa yang disampaikan sang mayor semuanya adalah fakta.
Pesawat barang pengangkut kebutuhan pokok dari Rusia 'dibajak' aragami. Bisa dibilang, monster-monster itu menunggangi pesawat tersebut dalam jumlah ratusan. Mereka seperti albratos yang hidup berkelompok.
"Kalian salah bila berpikir kami hidup lebih layak dari kalian! Kami hanya makan makanan kaleng untuk mempercepat aktivitas. Di saat kalian mengantre makanan, kami mempersiapkan semuanya agar tak kurang. Kalian makan makanan yang lebih sehat daripada kami. Memakan sayur dan ikan segar, bukan makanan instan dalam kemasan!
"Saat kalian bersantai, kami harus terus bekerja. Saat kalian tidur, kami sedikit pun tak beristirat. Para God Eater bahkan menumbalkan darahnya demi tanah ini. Jangan salah sangka pada Fenrir ..." Suara Sakura memelan. Agaknya, perasaan melankolisnya berhasil membuat hati para demonstran melunak.
"Lalu sampai kapan kami menunggu?! Katakan!"
Sakura terlihat mencengkeram roknya. Sungguh, ia tidak tahu.
Melihatnya, Tsunade berinisiatif mengambil mikrofon dari gadis berambut gulali itu.
"Besok pagi! Kalian bisa pegang janjiku." Tsunade berujar dan terdengar serius. Tak ada keraguan dari sorot matanya yang senantiasa tajam. "Janji seorang Fenrir, adalah harga dirinya."
...
Namun adakalanya realitas tak sejalan ekspektasi. Hingga fajar muncul, janji Mayor Tsunade tak ubah dandelion rapuh yang melayang tersapu angin.
Harapan palsu sang mayor membuat hati penduduk kembali kaku.
"Aku hanya butuh makananku!"
Percayalah, rasa lapar bisa membuat manusia jadi apa saja. Dalam kondisi terdesak, mereka bahkan bisa menjadi predator yang memakan golongannya sendiri.
Hal ini berujung pada aksi masa yang kembali berkumpul di depan pintu gerbang—setelah sebelumnya mereka melakukan tindak anarkis dengan merusak sejumlah sarana barak.
"Fenrir membodohi kita!"
"Tidak mungkin sampai pagi logistik belum datang!"
"Mereka ingin membunuh kita! Genosida! Kudeta!"
Tak puas hanya berkumpul, sebagian masa bergerak ke kantor Divisi Keamanan Kami no Kuni yang terletak berdekatan dengan gerbang Fenrir.
.
Peluit panjang tanda dinding terbuka ... bertiup. Mobil double cabin yang dikemudikan Kapten Amamiya perlahan masuk, lantas parkir di samping pos keamanan.
Yang turut dalam misi semalam ada empat orang. Masih sama dengan formasi tim Retalitation yang biasa, hanya, posisi Alisa digantikan oleh Kouta Fujiki. Anggota termuda di tim Utsugi sekaligus satu-satunya God Eater Asia yang berusia di bawah 15 tahun.
Naruto turun dari mobil, kemudian Kiba mengambil ranselnya dan turun dari bak belakang.
"Ini punyamu, Bocah!" Kiba melempar tas ransel Kouta.
Jelas anak itu langsung protes. Kouta tak suka bila dipanggil bocah atau anak kecil, meski dia masih pantas mendapat julukan itu.
"Jangan sembarangan memanggil!"
Entah kenapa, melihatnya Naruto jadi tertawa.
Sementara itu, Kapten Lindow tampak memantik rokok dulu sebelum turun dari mobil. Ia mengambil tasnya, lalu menyusul anggota timnya yang sudah berjalan lebih dulu.
Jarak antara dinding depan dan tengah kira-kira 5 kilometer. Ada kendaran sendiri yang biasa mengangkut mereka. Namun hari ini, kondisi di area barak benar-benar sepi. Tak ada aktivitas. Malah, atap pengungsian terlihat runtuh, meja kursi terlempar seperti baru terjadi kerusuhan. Banyak sarana barak yang rusak.
"Apa yang terjadi?" Lindow memutar badan, matanya memperhatikan sekitar. Sebelum akhirnya seluruh atensinya teralih pada jerit yang terdengar dari dalam penampungan.
Lindow, Kiba, Naruto dan Kouta langsung berlari menyambangi suara tersebut. Rupanya, berasal dari seorang bayi yang menangis keras dalam gendongan ibunya. Penampilan si ibu terlihat begitu lusuh. Rambutnya dikuncir seadanya, menyisakan helaian panjang terurai yang luput diikat.
"Ada apa dengan bayimu?" Lindow bertanya usai mendekat.
"Dia kelaparan. Tidak ada bantuan makanan dari kemarin."
Kening lelaki 25 tahun itu mengerut. Bukankah tim Utsugi sudah diterjunkan untuk mempercepat proses distribusi? Apakah mereka belum kembali?
"Lalu ada apa dengan tempat ini? Kenapa banyak properti yang rusak?"
"Warga marah, mereka merusaknya. Ta-tapi itu salah Tsunade-sama!"
"... apa?"
Belum juga keterkejutannya mereda, Lindow kembali dikagetkan; kali ini oleh suara ledakan.
"Kapten!" Kouta menunjuk kepulan asap samar dari arah timur, tepatnya arah kantor divisi keamanan dan gerbang Fenrir.
"Ada apa lagi ini?!"
"Kemarahan warga adalah puncak kesabaran mereka. Itu karena kami tidak diperlakukan dengan layak selama ini."
Baik Lindow, Naruto, Kiba, dan Kouta menoleh ke arah si ibu yang menggendong bayi tadi.
"Selama ini kalian tak peduli dengan kesejahteraan kami! Kalian menempatkan kami dalam satu barak, tanpa sekat, hanya dengan kasur gulung dan sangat tipis! Bagaimana dengan bayi-bayi kami? Makanan yang datang pun tidak ada rasanya, dan toilet juga terbatas! Sejujurnya kami ingin diperlakukan lebih baik ..."
Lindow menelan getir saat mendengar itu. Tak ia pungkiri bila kinerja Fenrir masih belum maksimal. Mengurus orang di seluruh dunia bukan perkara mudah. Mereka memiliki keterbatasan dana, terutama ancaman dari luar yang juga butuh biaya besar.
Sekarang tidak ada waktu untuk mendengar keluh kesah ibu ini. Mereka harus segera menuju gerbang Fenrir.
"Naruto, hubungi Sakuya-san. Tanya pada mereka sudah akan pulang atau butuh bantuan!"
"Siap, Kapten. Akan kucoba menghubungi tim Utsugi."
Lindow berlari kembali ke pos keamanan untuk mengambil mobil.
...
Di bawah sini, baru saja Hinata merasakan getaran yang sangat hebat dari atas sana. Sampai-sampai, atap selnya turut menjatuhkan debu-debu yang seketika membuatnya terbatuk.
Tangan Hinata dari mulut turun menyentuh leher. Dahaga terasa mencekik.
Keparat betul si Johannes. Setelah menjebloskannya ke kandang tikus, ia tak diberi makan dan minum. Apa pria pirang itu ingin membuatnya gila dengan memakan kotoran, dan meminum air kencingnya sendiri?!
Saking lemasnya, Hinata hanya bisa bersandar pada dinding yang dingin tanpa banyak bergerak. Bibirnya terasa kering. Perutnya berkali-kali berbunyi.
"Haaah ... dia benar-benar ingin membunuhku—"
Tiba-tiba, Hinata merasakan dadanya sesak. Karbon monoksida mengikat oksigen yang masuk dalam paru-parunya dengan cepat. Asap hitam tebal mendadak merangsek masuk melalui celah pintu dan ventilasi.
Hinata terbatuk-batuk.
Ia merasakan pandangannya kabur.
.
Kepulan dari arah kantor Divisi Keamanan Kami no Kuni. Api melahap bagian depan kantor, menjalar ke belakang, semakin besar oleh embusan angin musim panas yang datang dari selatan.
Sementara kantor divisi keamanan dilahap si jago merah, kondisi di luar tak kalah ricuh. Sejumlah lelaki berseragam kepolisian bentrok fisik dengan warga. Mereka membentuk blokade, menghalau masa yang hendak merusak dinding Fenrir.
Beberapa kali tembakan peringatan dilepas ke udara, akan tetapi tidak dihiraukan.
Tiga menit di sana, Lindow tak melihat adanya perwakilan Fenrir yang menemui demonstran. Di mana Johannes? Batinnya.
.
"Baiklah. Kami akan menunggu!" masih dengan menggunakan alat komunikasi dua arah yang menempel di telinganya, Sakura berusaha memastikan posisi tim Utsugi dan pesawat yang mengangkut logistik mereka. Pesawat itu sudah dalam perjalanan.
Di saat yang sama, Johannes merasakan gawainya bergetar. Ia melihat nama Amamiya Lindow di panggilan masuk.
"... ya?"
"Ketua, kondisi di luar dinding kacau sekali! Kantor divisi keamanan terbakar, demonstran memaksa masuk!" ujar pria itu dari seberang telepon.
"Aku sedang memperhatikannya dari sini." Kata-kata Johannes terdengar tenang, meski baru saja ia meremukkan satu remot kontrol pendingin ruangan. "aku sudah mengirim tim pemadam dan ambulans. Sebentar lagi mereka sampai."
Netra Johannes memandang jeli bangunan yang terbakar. Entah alasan apa yang membuat perasaannya tidak enak begitu melihat gedung tersebut.
"Lindow?"
"Ya, Ketua? Tiga unit pemadam kebakaran dan dua ambulans baru datang."
"Tidak, bukan itu. Apa kau melihat ada korban dari pembakaran itu?"
"Belum bisa dipastikan. Tetapi tadi timku sudah meneriksa, dan tak ada orang di dalam."
"Tidak ada orang ya ...?"
... baru hatinya merasa lega, Johannes teringat akan sesuatu.
"Tu-tunggu! Apa timmu sudah memeriksa penjara bawah tanah?!"
"Penjara bawah tanah?"
"Celaka! Putri perdana menteri masih ada di sana!" suara Johannes terdengar panik.
"A-apa?!"
.
Langkah kaki Lindow menuruni anak tangga dengan cepat.
"Anak Perdana Menteri, apa kau dengar aku?!"
Asap hitam membuat pandangannya terbatas. Jangankan melihat, membuka mata saja rasanya pedih sekali. Belum lagi hawa panas dan asap yang begitu menyesakkan dada.
Satu-satunya akses ke penjara bawah tanah hanya di ruang tengah, sebelah ruang sipir. Kau bisa lewat pintu samping!
Sampai di lantai dasar, asap justru makin pekat. Ventilasi yang sempit membuat aliran keluar masuknya udara berjalan tak cukup baik. Ruangan yang tidak berlampu menambah kesan tempat ini seperti cerobong asap sisa pembakaran sampah.
"Anak perdana menteri, kau dengar aku tidak?!"
Lindow memeriksa sel satu per satu. Total ada lima sel di ruangan itu.
Kosong.
Kosong.
Kosong!
Tubuh Lindow mulai berkeringat.
Sampai di sel keempat, ia melihat seorang gadis sudah tergeletak di lantai. Wajahnya tertutupi rambutnya yang panjang. Entah mati, atau pingsan.
"Anak perdana menteri?!" Lindow yakin pasti dia. Baju yang dikenakan, juga postur tubuh semuanya meyerupai. Sialnya tidak ada kunci di sana. Lindow terpaksa mematahkan gembok pengunci sel.
"Oi, bangunlah!" Lindow membalik tubuh Hinata. Ia menempelkan telinganya di dada gadis itu.
Rasa lega tumbuh di hati Lindow setelah memastikan detak jantung gadis di pelukannya ini masih ada.
.
.
.
Balai Kesehatan Kami no Kuni,
Cahaya keemesan terasa mengetuk-etuk kelopaknya agar membuka. Rasa hangat di pelupuk, bau karbol yang merangsang indra penciumannya untuk membau. Semua seperti berlomba membangunkannya dari tidur yang ia rasa sangat panjang.
Perlahan tapi pasti, kelopak berbulu mata lentik itu membuka. Memperlihatkan sepasang iris rembulan sayu yang tampak kebingungan.
Setidaknya, empat kali Hinata mengerjap, sebelum akhirnya ia menarik badan dan duduk bersandar—melihat ke arah jendela di mana ada vas kaca tanpa bunga berisikan air.
Kepulan samar membumbung dari sebuah bangunan yang lokasinya agak jauh. Dari sini, tampak pula ata-atap barak. Ia sekarang pasti berada di tempat yang lebih tinggi.
Hinata mengalihkan fokusnya ke dinding kamar bercat putih. Tempat yang asing, baru ia lihat pertama kali.
Begitu netranya menatap samping kiri, Hinata langsung dibuat meloncat mundur. Bagaimana ia tak kaget melihat lelaki 'berlidah api' itu tidur di sampingnya—ya, meski di ranjang yang berbeda.
"Ah, sudah bangun ya?" suara lembut datang dari wanita berambut berma yang sedang menata obat di mejanya. "pria itu membawamu ke sini ..."
Hinata melihat Lindow sekali lagi.
Tangan kanan lelaki bekulit eksotis tersebut dibalut perban. Hanya perasaannya saja, atau memang dari dulu demikian? Tangan kanan Lindow memiliki warna terlalu belang. Seperti ada singgungan di atas sikunya; seperti bekas operasi yang telah lama mengering atau sejenisnya.
Perawat yang tadi menata obat, mendekat. Nama 'Hibari T' tertulis pada name tag di depan saku dada wanita itu.
"Sepertinya dia kelelahan, jadi kubiarkan saja dia tidur di sana. Kau juga harus istirahat, Nona. Tadi kau dibawa ke sini dalam kondisi dehidrasi."
Hinata baru menyadari ada selang infus di pergelangan kirinya.
"Aku keluar dulu untuk cek makanan buat kalian."
Tak lama, terdengar suara pintu ditutup.
Hinata berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Asap, lapar, haus, lalu semua jadi gelap. Ingatannya terdiri dari fragmen-fragmen yang minta disusun menyerupai sebuah puzzle. Saat ia berusaha mengingat lebih keras, kepala Hinata justru terasa sakit.
Atensi perempuan beraroma lavendel itu kembali ke ranjang samping tempatnya istirahat. Dari bersandar, Hinata mengubah posisinya ke duduk menghadap pria yang telah menyelamatkannya.
Ada perasaan sebal dan sesal, kenapa dari sekian banyak manusia di Kami no Kuni, malah pria ini yang menolongnya? Namun di lain pihak, Hinata tak memungkiri bila ia sangat berterimakasih.
Kalau saja si 'mulut beracun' ini tak datang, boleh jadi ia tinggal nama sekarang.
Lama memperhatikan wajah Lindow, Hinata menyadari ada goresan hitam seperti bekas arang di pipi pria itu.
Alhasil, Hinata turun dari ranjangnya. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga agar tak jatuh di wajah pria tersebut saat ia menunduk.
Dengan hati-hati, Hinata menghilangkan bekas hitam itu—sebelum akhirnya pupilnya dibuat membola menyadari sang pemilik pipi terbangun.
Mata Lindow mengerjap.
"Kau sedang apa?"
Hinata tersentak. Pipinya memerah.
"Ti-tidak—"
"... bohong. Ingin menciumku ya?"
.
.
.
Bersambung
Sonata Klaus Scherbe Poppe
ea owokwokwow, nanana~~
welcome back di dunia ffn yang rusak ini, akan banyak review yang lebih mengerikan datang, tunggu dan nikmati. wakakaka~~
ngelapak di fandom cross dengan tema cem ini, okelah gua masih pantau fic lu..
[Bagi saya, flame dan flamer itu bukan hal asing. Mereka hanya bocah labil yang cari perhatian. Kaya yang di bawah ini. Wkwkw]
Mar 11c1666-Kuro XIvIX
Intinya lu itu ngentot :v babi
suka heran sama yang sok jijik Hinata dipasangin sama yang bukan Naruto, tapi gak jijik kalo baca Naru x DxD / Naru x Kushina Rate M. Wkwkw, terus ngakunya fans NaruHina garis keras lagi. Pas pembagian otak gak dateng sih. Jatuhnya ya tolol:(
Sekian dari Kim. Selamat membaca :)
