Sinar matahari menyeruak masuk ke kamar seorang gadis berambut blonde yang sedang tak sadarkan diri dikasurnya. Menyadari cahaya matahari menusuk matanya yang tertutup rapat, gadis ini terbangun berlahan membuka matanya.

"Ugh!" Ia menahan rasa sakit dikepalanya untuk membuka matanya. Saat kedua matanya terbuka sempurna.

"Lucy!"

Fairy Tail belongs to Mashima Hiro

.

FUTURE MISSION

By Ruis

.

"Eh? Happy? Natsu?" ucapnya melihat kedua partner kesayangannya duduk disamping kasurnya dan mengubah posisinya duduk.

"Kau tak apa-apa, Lucy?" tanya Happy khawatir saat melihat Lucy memegang kepalanya.

"Um! Aku tak apa-apa, Happy." Ujarnya tersenyum lembut agar nakama kecilnya ini tak mengkhawatirkannya.

Lucy melihat sekeliling ruangan yang ia tempati dan kasur yang sedang ia tiduri. Lucy tahu kalau ini adalah kamarnya, tapi kenapa ia bisa ada dikamarnya. Seharusnya ia sedang dalam misi mengalahkan gorilla raksasa.

"Kenapa aku ada dikamarku?" tanya Lucy menatap kedua nakamanya.

"Kau pingsan saat kita menyelesaikan misi kemarin, Luce." Jelas Natsu membuat ingatan gadis blonde ini berputar kembali saat menjalankan misi gorilla itu.

"Ya,lucy! Saat kau pingsan, Natsu sangat panik. Natsu juga tidak mau bergantian dengan Gray saat membawamu pulang. Bahkan saat Wendy mengobatimu diguild, Natsu tetap menemanimu!." Mulut lebar Happy membeberkan semuanya agar melihat reaksi dua insan didepannya.

"Y-ya..." Natsu memalingkan wajahnya kearah lain dengan pipi agak merona.

Pipi Lucy langsung merah merona. Ia sangat senang kalau Natsu sangat mengkhawatirkan dan merasa bersalah karena membuat pemuda yang dicintainya khawatir.

"Arigato,Natsu...Maaf merepotkanmu."

"Tidak, Lucy! Aku yang harusnya minta maaf. Ini semua karena kesalahanku. Aku terlalu semangat ingin mengalahkan monyet jelek itu sampai tidak menyadari keberadaan kelinci itu. Karena itu, kalian semua sampai terluka." Wajah Natsu terlihat sendu. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa melindungi nakamanya.

"Bahkan aku tidak bisa melindungimu, Lucy..." Natsu menundukkan kepalanya menatap lantai kamar Lucy.

Lucy terkejut melihat dan mendengar perkataan Natsu. Natsu yang selalu bersemangat dengan wajah cerianya saat ini terlihat suram dengan wajah sendu. Ekspresi ini tidak pernah diperlihatkannya pada siapapun. Siapa yang bisa membuatnya seperti ini selain Lucy.

'Natsu'

Lucy menyentuh pipi kanan Natsu dan berlahan mengangkat wajah Natsu menatap wajah cantiknya lebih tepatnya mata caramel Lucy. Lucy menaikkan kedua sudut bibir mungilnya membentuk senyum manis diwajah cantiknya. Dengan lembutnya ia mengelus pipi Natsu yang terpaku akan keindahannya.

"Natsu..." kalimat pertama yang dikeluarkannya dari bibir mungilnya.

"Ini bukan salahmu, ini bukan salah siapapun...Jadi jangan menyalahkan dirimu, Natsu..." tangan mulus Lucy tetap menyentuh pipi Natsu dengan senyum yang selalu melekat diwajah cantiknya.

"Kau sudah menyelamatkanku, Natsu. Jika saja kau tidak Melindungiku dari gorilla itu, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Jadi, jangan menyalahkan dirimu lagi...jadilah Natsu yang biasanya." Lucy melepaskan tangannya dari pipi Natsu dan menunjukkan cengiran yang tidak terlalu besar memperlihatkan deretan gigi putihnya

Natsu yang sedari tadi hanya terpukau melihat Lucy akhirnya tersenyum tipis. Kata-kata indah lucy telah membuatnya kembali semangat.

"Ya, Kau benar Luce!" Natsu memberikan cengiran khasnya pada Lucy yang telah membuatnya bangkit kembali.

Lucy hanya tersenyum senang melihat nakamanya lebih tepatnya sang pujaan hatinya kembali seperti biasanya. Lucy dan Natsu tak sadar ada yang memerhatikan mereka berdua.

"Fufufu...dunia bagaikan milik berdua..." Happy menyembunyikan mulutnya dengan kedua tangannya dan menatap kedua nakamanya jahil.

Lucy dan Natsu hanya melirik Happy dengan tatapan datar walaupun ada rona merah dikedua pipi mereka.

"Baiklah, Luce...aku akan memberitahu yang lain kalau kau sudah sadar." Natsu berdiri dari kursinya menuju jendela.

"Jaa ne, Luce! Ayo, Happy!" Natsu memberikan cengirannya sebelum melompati jendela Lucy.

"Aye,sir!" Happy mengeluarkan sayapnya mengikuti Natsu.

"Gunakan pintu!" teriak Lucy melihat Natsu dan Happy keluar rumahnya melalui jendela.

Lucy memerhatikan Natsu dan Happy mulai menjauhi apartementnya. Lucy hanya mengendus pelan dan tersenyum melihat kelakuan nakamanya.

Dia pun turun dari tempat tidurnya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia mambasuh wajahnya dan menatap cermin didepannya. Ia teringat kembali pertemuannya dengan seorang gadis yang sangat mirip Natsu dimisi kemarin.

'Siapa gadis itu? Dia mirip Natsu apalagi sihirnya. Itu sihir dragon slayer fire milik Natsu.' Batinnya terus memikirkan gadis yang telah menyelamatkannya.

'Saat aku pingsan, gadis itu juga memanggilku...tapi apa ya?' tanyanya pada dirinya.

'Apa yang lainnya sudah bertemu gadis itu?' pikirnya tapi Lucy langsung menggelengkan kepalanya cepat.

'Tidak, tidak. Mereka tidak tahu gadis itu. Kalau mereka tahu, pasti Natsu akan menceritakannya.' Mengingat Natsu tidak mebicarakan tentang gadis itu.

Lucy mengendus pelan menghentikan pergulatan dalam pikirannya.

###

Bulan telah menggantikan posisi matahari menemani malam dimagnolia. Hembusan angin malam bertiup diseluruh kota. Semua orang telah pulang kembali kerumah mereka masing-masing. Disaat semua orang tertidur, Terdapat seorang gadis menggunakan jubah berwarna hitam dengan sedikit corak kuning diujung jubahnya menatap papan nama guild nomor satu diFlore 'Fairy Tail'. Ia memandangi kebanggaan kota magnolia ini. Ia tak memerhatikan seseorang mendekatinya.

"Nona, apa yang kau lakukan didepan guild? Kau ada keperluan disini?" tanya seorang kakek dibelakangnya.

Gadis itu langsung terkaget dan berbalik melihat orang dibelakangnya. Dilihatnya master keenam Fairy tail, Makarov Drayer.

"Master..."panggil gadis ini merendahkan dirinya sejajar dengan orang yang paling dihormati diFairy tail.

"Oh..kau mengenalku, nona?" tanya Makarov pada gadis cantik didepannya.

"Ya, Master. Aku..." gadis cantik ini membuka tudung yang menutupi kepalanya, menampilan rambut halus berwarna merah muda, bola mata berwarna olive green dengan bulu mata yang lentik.

Makarov tercengang melihat gadis didepannya.

"Ada yang hal penting yang inginku sampaikan." Wajah gadis ini menjadi sangat serius.

###

Matahari bersinar terang, seluruh penduduk Magnolia mulai melakukan aktifitasnya. Disebuah kamar, seorang gadis sedang tertidur nyenyak. Sinar mentari dengan jahilnya memasuki kamar gadis blonde ini dan membangunkan sang pemilik kamar ini. Merasa wajah cantiknya disinari sang mentari, kelopak mata gadis ini berlahan terbuka. Dengan serengah sadar gadis ini turun dari kasur empuknya menuju kamar mandi serta mengambil handuk yang telah disiapkannya sedari malam. Ia mulai melakukan aktifitas pertamanya, berendam dalam bathtub yang berisi air hangat serta sabun mahalnya. Seluruh ruangan kamar mandi tercium aroma wangi dari sabunnya. Aroma ini memanjakannya yang ingin bersantai menikmati mandi paginya. Setelah selesai berendam gadis blonde ini keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaiannya dan memilih pakaian apa yang ingin ia kenakan hari ini. Ia menjatuhkan pilihannya pada pakaian kemeja lengan pendek berwarna merah muda ditambahkan sweater kancing berwarna putih serta pita merah yang ia pasangkan dikerah kemejanya, rok mini berwarna biru cerah, dan sepatu bot berwarna hitam, tak lupa ia memasang ikat pinggang dengan tambahan kunci celestial dan cambuk. Setelah selesai mempersiapkan dirinya, ia pun melangkahkan kaki jenjangnya menuju guild tercintanya, Fairy tail.

Saat ini Lucy telah berada didepan guild tercintanya. Terdengar suara gaduh dari dalam guild. Lucy hanya tersenyum mendengar kegaduhan diguildnya. Dengan berlahan ia membuka pintu guild dan menyapa semua orang didalamnya.

"Ohayo, minna!" sapanya pada semua orang diguild.

"Ohayo, Lucy"

"Ohayo, Lucy-san"

"Kau tetap cantik seperti biasa, Lucy!"

Lucy hanya memberikan senyuman manisnya pada semuanya. Ia pun melenggangkan kakinya menuju bar guild. Terlihat seorang bartender cantik dengan panjang rambut sepinggang silver melambaikan tangannya Lucy. Lucy pun duduk disalah satu tempat duduk dibar tersebut.

"Ohayo, Lucy!" sapa gadis bartender cantik ini mendekati Lucy.

"Ohayo, Mira!" Lucy membalas sapaan bartender cantik itu.

"Lucy, kau sudah sehat?" tanya Mira sedikit khawatir.

"Um! Aku sehat! Kau lihat saja." Ucapnya tersenyum ceria menandakan kalau ia sudah sehat.

Mira hanya tersenyum manis melihat Lucy yang sehat. Jujur, ia sedikit khawatir saat Natsu membawa Lucy yang pingsan keguild sepulang dari misi mereka.

"Ohayo, Lu-chan!" seorang gadis mungil berambut biru dengan bandana berwarna orange melari kecil mendekati Lucy dan Mira.

"Ohayo, Levy-chan!" balasnya pada gadis yang telah duduk disampingnya.

"Lu-chan, bagaimana keadaanmu?" tanya gadis bernama Levy ini.

"Sehat seratus persen!" Lucy menganjungkan jempolnya.

"Yokatta...kau tahu Lucy? Waktu itu Aku sangat khawatir saat Natsu membanting pintu guild sambil menggendongmu yang pingsan." Lega Levy mengetahui keadaan Lucy saat ini. Ia sangat khawatir karena kejadian itu.

"Eh?" Lucy sedikit kaget dengan apa yang dikatakan Levy.

"Yang dikatakan Levy benar, Lucy. Saat itu Natsu membanting keras pintu guild sambil menggendongmu dengan wajah yang sangat panik dan berteriak mencari Wendy. Kami semua sangat kaget. Wendy yang masih kaget menyuruh Natsu merebahkanmu diruang kesehatan. Setelah Wendy menyembuhkanmu, Natsu langsung membawamu pulang dan menemanimu semalaman diapartementmu." Tutur Mira menjelaskan kejadiaan diguild saat Lucy pingsan.

Wajah Lucy seperti kepiting rebus. Ia tak menyangka kalau Natsu sangat khawatir saat ia pingsan, walaupun Happy sudah memberitahunya kemarin. Mira dan Levy yang hanya tersenyum melihat Lucy yang memerah. Mereka tidak ingin menjahili sahabatnya yang baru sehat ini.

"Brukk!" suara pintu guild dibuka keras menampilkan pemuda spike merah muda dengan syal putih kotak-kotak yang khas dan kucing biru yang memiliki sayap.

"Ohayo!" teriak pemuda itu keseluruh ruangan.

Semua orang menjawab sapaan pagi pemuda yang dipanggil Natsu ini. Natsu melihat kesegala arah mencari seseorang, Akhirnya ia menemukannya. Seorang gadis blonde cantik sedang duduk dibar, itulah yang ia cari. Ia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Happy menuju kearah sang gadis tanpa menghiraukan ajakan berkelahi dari para pria guild tersebut.

"Ohayo, Luce!" Natsu menyapa Lucy dengan cengiran khasnya yang dapat membuat jantung para wanita berdebar kencang.

"O-ohayo, Natsu.." suara Lucy agak tergagap dengan wajah yang sangat merah karena obrolannya dengan Mira dan Levy tadi.

"Luce? Kau sakit?" dahi Natsu menyentuh dahi Lucy untuk memeriksa suhu tubuh Lucy. Wajah mereka sengat dekat, hal ini pasti membuat wajah Lucy bertambah merah.

Mira dan Levy hanya tersenyum geli melihat ekspresi Lucy yang sedang malu. Tindakan Natsu saat ini sangat romantis tapi sayang Natsu tak peka pada wanita, dia pasti menganggap hal ini biasa.

"A-aku baik-baik saja, Natsu!" ucap Lucy cepat-cepat menjauhkan kepalanya. Keadaan tadi bisa membuatnya terkena serangan jantung mendadak.

"Ara-ara...kau bisa membuat Lucy kena serangan jantung, Natsu." Mira menyentuh pipi kanannya den tersenyum geli melihat wajah Lucy yang sangat merah.

"Kenapa?" tanya Natsu polos.

Mira dan Levy yang mendengar pertanyaan polos Natsu tertawa kecil. Lucy memanyunkan bibir mungilnya, kesal dengan sifat polos Natsu yang sangat tidak peka. Dan Natsu memiringkan kepalanya bingung.

"Lu-chan, aku keperpustakaan dulu ya, jaa ne." Levy berdiri dari tempatnya dan pergi keperpustakaan guild.

"Mira! Omeletnya satu!" salah satu anggota guild memesan pesanan.

"Ha'i! Lucy aku pergi dulu..." Mira langsung meninggalkan Natsu dan Lucy.

"Natsu, dimana Happy?" tanya Lucy baru sadar tak adanya makhluk biru didekat Natsu.

"Happy? Mm...disana!" tunjuk Natsu kearah Happy yang sedang merayu Charle dengan ikan mentah andalannya dan ditolak mentah-mentah oleh Charle.

Lucy menatap datar sahabat kecilnya itu. Terkadang ia kasihan juga melihat Happy yang selalu ditolak Charle.

"Woi, flame-head! Ayo bertarung!" teriak pemuda raven hanya menggunakan boxer.

"Gray-sama!" teriak Juvia dengan mata berbentuk hati.

"Gray, fuku..." ucap Cana dengan santainya meminum segentong bir.

"Waa! Bajuku!" Gray dengan cepatnya mencari pakaiannya.

"Cari saja bajumu, boxer prince!" teriak Natsu mengejek.

"Apa?!" kepala Gray bermunculan urat-urat.

"Apa? Kau ingin kelahi, stripper? Ayo!" Natsu mendekati Gray sambil memutar-mutarkan lengan kanannya.

"Kau akan menyesal, flame brain!" Gray bersiap-siap berkelahi dengan Natsu.

Saat Natsu dan Gray berlari saling meninju, seorang gadis bersurai merah menangkap kepala mereka dan saling menghantamkannya. Natsu dan Gray langsung terjatuh menahan sakit dan shock melihat orang yang menghantamkan kepalanya.

"E-Er-Erza..." tubuh mereka gemetaran melihat Erza yang mengacak pinggang dengan death glarenya.

"Jangan berkelahi!" teriaknya pada kedua makhluk yang gemetaran didepannya.

"H-Ha'i/ A-Aye!" jawab spontan Gray dan Natsu.

Semua yang melihat mereka hanya sweatdrop.

"Mira, apa ada Master?" tanya Erza tudepoin dengan tampang serius.

"Master sedang keluar. Ada apa, Erza?" Mira memerhatikan mimik wajah Erza.

"Tadi aku bertemu Jellal, dia ingin bertemu Master. Ada hal yang sangat penting ingin ia katakan." Jawab Erza menjelaskan.

"Jellal? Apa yang ingin ia sampaikan?" Lucy yang penasaran menanyakannya pada Erza.

Erza menggelengkan kepalanya menandakan ia pun tak tahu.

"Tapi...yang ingin disampaikan Jellal pasti sangat penting." Erza memegang dagunya perpikir.

Tiba-Tiba pintu guild meledak seperti dihantam sesuatu yang sangat keras. Semua orang diguild kaget dan melihat kearah pintu yang telah hancur. Seorang sosok wanita keluar dari debu-debu bangunan depan yang telah hancur. Wanita berambut hitam dengan mata onxy merah mencari sesuatu diguild. Setelah ia menemukan targetnya, dengan cepat ia berlari mendekati targetnya. Tangannya hampir meraih seorang gadis yang masih shock akan kedatangannya. Sedikit lagi ia mendapatkannya tapi digagalkan oleh tinjuan Natsu. Wanita itu terkempal ke request board.

"Apa yang ingin kau lakukan pada Lucy?!" teriak Natsu marah pada wanita yang baru saja mau menangkap Lucy.

Wanita ini berdiri menghapus darah yang keluar disudut bibirnya. Dia mengangkat tangan kanannya keatas. Semua orang langsung menggunakan sihirnya bersiap-siap kalau wanita itu menyerang.

"Elipor!" sebuah lingkaran sihir muncul dikanan kiri wanita itu. Lingkaran itu langsung berubah menjadi sebuah portal, satu bersatu monster-monster itu keluar dari portal itu.

"Bhiman! Serang mereka!" perintah wanita itu langsung dituruti para monster itu.

Monster-monster itu menyerang seluruh anggota guild dengan kekuatan fisik supernya tapi semua anggota guild dapat menghindar dan memblok serangan mereka. Gray dengan ice magenya menyerang monster-monster yang ada didekatnya dengan cepat. Erza yang mengenakan flight armor membantai monster-monster itu dengan sangat cepat. Mira yang berubah menjadi satan soul membantu menyerang monster bhiman itu. Natsu yang marah karena wanita itu menjadikan Lucy targetnya, langsung berlari kearah wanita itu ingin meninju dengan apinya. Wanita itu sadar apa yang ingin dilakukan Natsu langsung menghindar.

"Apa yang ingin kau lakukan pada Lucy?!" tanya Natsu sekali lagi pada wanita itu. Siapapun yang melihat Tatapan onxy tajam Natsu saat ini pasti akan ketakutan. Tapi wanita didepannya menyeringai licik.

"Oh~kau sang salamander, Natsu Dragneel." Wanita itu menyeringai licik.

"Jawab pertanyaanku!" amarah Natsu memuncak, tubuh Natsu dilapisi api amarahnya.

"Sayang sekali, aku tak bisa mengatakannya. Tapi aku memerlukannya jadi serahkan dia, Salamander." Wanita itu mengeluarkan sebuah pedang yang ditutupi oleh aura hitam pekat.

"Tak akan!" Natsu mulai mengarahkan tinju apinya pada wanita itu.

Terjadi pertarungan sengit antara Natsu dan wanita misterius itu, Natsu menendangnya dengan cepat tapi dihentikan oleh wanita itu dan dibalas dengan ayunan pedangnya, tak mau kalah Natsu menghindari ayunan pedang wanita bermata merah tersebut. Erza yang berada didekat pertarungan Natsu, langsung membantu Natsu. Erza melemparkan pedangnya tepat kearah kepala wanita yang sedang bertarung dengan Natsu. Sebuah dinding sihir hitam memblok serangan Erza. Erza melompat kearah wanita itu dengan pedangnya, berniat menyerang dari atas. Wanita itu langsung melompat kebelakang menghindari serangan Erza dan Natsu.

"Wah, wah, lihat siapa yang ada disini...Erza Scarlet dan Natsu Dragneel. Dua lawan satu...sepertinya ini akan sulit." Wanita berambut hitam ini tersenyum licik menatap Natsu dan Erza yang sangat marah.

Tanpa terduga seseorang dengan jubah hitam dengan corak kuning dipinggir jubahnya melompat tinggi dibelakang wanita itu.

"Karyuu no houkou!" sebuah semburan api seperti larva mengarah pada wanita itu.

Wanita itu terkejut dengan serangan tiba-tiba dibelakangnya. Dengan cekatan wanita itu menghindari serangan dadakan yang hampir mengenai dirinya.

"Bukan dua lawan satu tapi tiga lawan satu, Terrynicca." Gadis berjubah itu mendarat dari lompatannya.

"Fufu...kau sangat menyebalkan, Dragon girl!" wanita bernama Terrynicca itu terlihat kesal dan melompat menjauh, ia mendaratkan dirinya dilantai dua guild.

Ia baru menyadari, bahwa seluruh pasukannya telah dikalahkan. Semua mata memandang wanita berambut hitam dengan mata onxy merah.

"Fufufu...kalian hebat, Fairy tail!" teriak Terrynicca pada seluruh orang dalam ruangan.

"Tapi ini hanyalah peringatan dari tuanku, tuan Kral! Jika kalian tak ingin mendapatkan kesakitan dari tuanku Kral, kalian harus menyerahkan celestial mage kalian, Lucy Heartfilia!" Terrynicca menunjuk Lucy dengan tatapan yang mengerikan.

"Siapa yang mau menurutimu, sialan!" teriak Natsu menentang perkataan Terrynicca.

"Terrynicca! Katakan pada tuanmu itu! Lucy Heartfilia tak akan pernah dia dapatkan! Aku yang menjamin!" gadis berjubah itu menunjuk wanita bersurai hitam dengan suara nyaring melambangkan ia sangat marah.

"Fufu...tunggu saja Fairy tail...kalian akan menyesal!" sebuah portal tercipta dibelakang wanita itu. Dia langsung melompat kedalam portal tersebut dan menghilang.

Suasana Fairy tail menjadi sepi. Mereka tak menyangka seseorang wanita dengan beraninya menyerang guild nomor satu ini sendirian dan membuat mereka sedikit kewalahan, ditambah seorang gadis misterius berjubah hitam berada diantara mereka. Mereka melirik dan menatap gadis itu.

"Siapa kau?" tanya Erza belum mengubah armornya.

Gadis itu hanya membalikkan tubuhnya menatap Erza tanpa membuka tudungnya. Gadis itu langsung menatap pintu yang telah hancur tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Woi! Kau dengar?! Siapa kau?!" kesal Natsu pada gadis tersebut yang hanya diam.

"Tenanglah, Natsu." Ucap seorang kakek tua melewati pintu guild yang telah rusak.

"Master!" teriak kaget semuanya.

"Haa...aku tak menyangka mereka menunjukkan dirinya secepat ini." Keluh Master keenam Fairy tail.

"Aku pun tak menyangka..." gadis berjubah hitam itu mengeluarkan suaranya.

"Master, apa maksud semua ini?" tanya Erza bingung akan keadaan saat ini.

"Baiklah, anak-anak! Ada yang inginku sampaikan pada kalian!" wajah Master berubah menjadi sangat serius.

###

Disebuah ruangan yang diterangi pencahayaan minim, seorang lelaki sedang duduk dengan secangkir wine dijari-jarinya. Ia hanya memain-mainkan minumannya bosan. Sebuah portal muncul dibelakangnya menampilkan seorang wanita bersurai hitam dan mata onxy merah menyala. Wanita tersebut langsung berlutut hormat pada pria didepannya.

"Tuanku, Kral-sama." Panggil wanita tersebut.

"Hm..." lelaki itu tidak membalikkan tubuhnya menatap wanita yang gemetaran dibelakangnya.

"Maafkan aku, tuanku...aku tak bisa memenuhi perintahmu..." ucap wanita yang dipanggil Terrynicca itu ketakutan akan kemarahan tuannya.

"Tak apa-apa, Terrynicca. Yang terpenting kita telah memberikan peringatan pada mereka." Pria tersebut berdiri mendekati sebuah jendela yang tertutup tirai sambil tersenyum licik.

Terrynicca merasakan aura yang mengerikan disekitar tuannya itu. Dia menundukkan kepalanya untuk mengurangi rasa takutnya.

"Fairy tail...Kali ini kalian tak akan bisa menghentikanku mandapatkan Lucy Heartfilia." Lelaki itu memandang keluar jendela dengan senyum yang sangat menakutkan.

.

.

.

#TO BE CONTINUE#

A/N:

Konichiwa, Minna-san!

Dengan Ruis disini!

Wah! Akhirnya chapter 3 selesai juga!

Maaf semuanya, chapter kali ini cukup lama diupdate...

Beberapa hari ini tugas sekolah Ruis amat sangat banyak dan otak Ruis yang lagi ngeblank. Jadi lanjutin Future Mission tertunda.

Nama Terrynicca ku ambil dari kata Terry yang artinya gelap dalam bahasa Albania, sedangkan nama Kral artinya raja dari bahasa Azerbajan. Ilmu sihir Terrynicca 'Elipor', ku ambil dari bahasa kanada yang artinya teleport. Sedangkan nama monster yang dikeluarkan Terrynicca 'Bhiman' dari bahasa malayalam artinya raksasa. Aku bersyukur ada google translate...

Aku ingin berterima kasih pada semuanya yang telah mereview, memfavorit, dan memfollow q. Karena kalian, aku yang cepat putus asa ini kembali semangat saat melihat review kalian.

Hontou ni arigatou!

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisanku.

Sekian dariku...

Salam hangat

Ruis