Clannad

FanTao || PG-17 || Chaptered

Tres; Motel

.

Brazil itu elok nan seksi. Di bagian utara yang tropis, ada kehangatan yang memeluk. Di selatan ketika pertengahan tahun, sesekali salju turun menghujani kota. Sebuah negara dimana kau bisa mendapatkan segalanya, apapun yang masyarakat umum inginkan; keindahan, wanita, dan kedamaian. Tempat ini punya beragam destinasi wisata yang berbeda kutub.

Jika kau mencintai kegiatan menantang berkeliaran dalam hutan, maka Brazil punya Amazon. Suku-suku terasing masih menjaga rumah hijaunya, dan ternyata banyak orang sinting yang rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelami keperawanan paru-paru terbesar yang dunia miliki itu.

Kalau engkau ingin tahu kegagahan sekaligus kecantikan air terjun terbesar di dunia, maka diantara Brazil dan Argentina, ada sebuah tempat bernama Iguazu, yang demi keindahannya, ribuan bahkan jutaan orang rela menelusuri jalanan tengah hutan untuk mencapai titik itu.

Jangan lupakan Brasilia dan Sao Paulo. Walau lebih banyak beton yang tertanam di tanahnya daripada pohon-pohon yang ujungnya tak terlihat dari tanah, tapi dua kota itu tak pernah sepi. Fasionista, pebisnis muda yang sedang berlibur, dan banyak shoppers menyempatkan diri kesana untuk memanjakan diri. Surga dunia yang modern dan ternama.

Sedangkan Rio de Janeiro, kota tepi pantai itu punya lebih dari sekedar pesona pantai untuk memikat turis. Daratan ini mencuat dari perut bumi, menjorok ke samudra Atlantik yang luas dan ganas, berani menantang alam yang kuasa dan mampu meruntuhkannya dengan mudah. Terkadang ketika siang telah lelah dan diganti sore, langit akan membelah dua di batas cakrawala. Di satu bagian, matahari rendah bersemburat oranye, seperti sengaja menumpahkan cat ke sekelilingnya. Maka di belahan lain, sisa-sisa ultravioletnya membumbung tinggi, bagai membenci permukaan laut yang hangat. Siluetnya serupa kaca-kaca jendela gereja tipis berwarna-warni, mengelilingi pantai yang memanjang bagai tak berujung. Aurora belahan tropis, orang-orang berkata begitu. Tapi paduan pancaran jingga dan warna ultraviolet lebih dari sekedar aurora di lintasan katulistiwa.

Wu Yifan pertama kali melihat fenomena itu bersama Huang Zitao, pemuda itu ada di sisinya.

Ipanema begitu ramai, bahkan di sore menjelang malam. Kedai-kedai yang menjual minuman beralkohol lebih murah mulai buka, dan gadis-gadis berkulit kecoklatan dengan dada sintal sudah meninggalkan dua carik kain tipis penutup dada dan selangkangannya, berganti kain-kain yang lebih panjang, tapi tetap transparan di beberapa sisi. Lampu-lampu berkelip malu-malu, masih kalah oleh matahari yang mulai tenggelam di ujung samudra. Deretan palem bergoyang-goyang dihembus angin, lembut dan artistik.

Dua pemuda itu duduk di bangku semen tinggi dengan hotdog di masing-masing tangan kanan, gelas berisi Pepsi ada di tangan kiri. Bahu mereka saling menyentuh, namun terhalang oleh lembar kain di pakaian Yifan. Sedangkan Zitao, ia menanggalkan jaket kulitnya dan membiarkan tubuh atasnya hanya dilindungi kaus putih tak berlengan.

Masih khidmat mengunyah makanannya yang berhasil mengusir lapar dari perut, Zitao menyenggol Yifan. Ia menelan kunyahannya dulu sebelum berbicara, menanyakan sebuah pertanyaan umum. "Kau suka pemandangannya?"

Seperti gadis. Ya, Zitao seperti seorang gadis. Bagaimana cara ia tersenyum, caranya tertawa, lembut tutur kata yang ia beri, dan kecantikan yang ia miliki adalah sesuatu yang umumnya dimiliki kaum Hawa, bukan Adam. Tapi lihatlah bahu tegapnya, tonjolan di lehernya, dan aroma feromonnya yang begitu kokoh tak tertandingi. Kelembutan dan kekuatan yang menyatu dengan takaran pas, tak kurang dan tak lebih, menciptakan sosok Huang Zitao dengan kemisteriusan pesonanya.

Jika diibaratkan sebuah lagu, maka Zitao adalah paduan denting piano, petikan harpa, dan gesekan biola. Nada yang menari berjingkat-jingkat, seperti tari kontemporer dalam drama, indah dan memukau. Ia selayaknya Eppure Sentire, sebuah lagu dari dataran Italia. Liriknya pilu, berisi sebuah usaha menarik diri, dan Zitao adalah representasinya dalam sosok yang hidup. Yifan mudah membaca pikiran orang, menebak suasana hatinya, menerka-nerka apa yang terjadi. Tapi Zitao punya portal yang jika Yifan tembus, maka ia hanya menemukan sebuah kekosongan. Zitao terlihat jelas membatasi diri di tengah senyumnya.

Yah, mungkin karena Yifan belum mengenalnya terlalu dekat. Kurang dari satu minggu adalah waktu yang terlalu singkat, walau mereka bertemu setiap hari dan kini melewati sore yang indah bersama-sama. Tapi, suatu hari nanti, Yifan bertekad menembus portal itu dan masuk ke dunia Zitao. Pasti.

"Tentu," Yifan menjawabnya dan mengulum senyum, "ini menakjubkan."

Dalam lirikan ujung mata Yifan, ia bisa melihat Zitao tersipu bangga. Zitao mengayunkan kakinya yang tertaut dan menggigit hotdog-nya lagi. Kembali setelah selesai mengunyah, ia berbicara. "Aku pernah bertanya-tanya, bagaimana rasanya tinggal di negara yang merasakan dingin dan hangat dengan porsi yang sama." Suaranya pelan, antara bisikan dan ucapan, desau angin melewati celah antara cuping telinga mereka dan Yifan menoleh agar bisa mendengar lewat gerak bibir Zitao. "Rasanya aneh sekali menjadi seseorang berdarah Cina namun dilarang keras pergi ke negara itu."

Yifan menunggu. Ia menikmati siluet wajah Zitao dengan mata memicing. Menekuri dahinya yang tertutup helai-helai rambut, mata kecil dengan kerutan menarik di ujung, hidung bangir yang dapat dibanggakan, dan relungnya berdesir melihat liukan bibir Zitao yang merekah.

"Kau pasti tahu aku bukan orang Brazil asli, dari namaku," Zitao mulai berbicara dengan bahasa Mandarin bercampur dialek Portugis yang kental. Tersendat di beberapa kata, namun pelafalannya sempurna. Yifan sedikit melongo, takjub pada kemampuan bahasa Zitao yang tak pernah Yifan kira. Lalu tak berapa lama, Zitao berkata lagi. "Setelah aku tahu kau memiliki nama Mandarin dan dialek Beijing seperti ibuku, aku jadi ingin tahu rasanya ada di sana. Kau bukan orang pertama dari Cina yang kutemui selama disini. Tapi menjalani beberapa waktu terakhir di dekatmu, mendengar dialekmu, membuatku merasa berbeda."

Sejenak, Yifan tercekat. Tak tahu harus berkata apa pada Zitao yang tiba-tiba berkisah. Ia lalu cepat-cepat menyeruput Pepsinya yang mulai hangat, dan di sampingnya, Zitao makin tenang seperti air laut yang mulai pasang. Hening beberapa saat menguasai. Cekikikan gadis dan teriakan busuk lelaki mengambil alih kesunyian, meredam rasa canggung, memperkeruh hati yang sama-sama bingung. Yifan, masih dengan kebingungannya akan Zitao yang misterius, dan Zitao, yang heran kenapa tiba-tiba ia bercerita.

Lima menit berlalu dan Zitao tertawa. Keras, terbahak-bahak, dan memegang perutnya. Ia melempar sisa hotdog ke tong sampah, tak peduli sampah organik atau bukan. Pepsinya diminum sedikit, lalu disembur, tak kuat menahan tawa. Yifan terperanjat ngeri di sebelahnya, kaku seperti dikutuk jadi batu oleh dukun pedalaman Amazon, sedotan Pepsi masih terjepit di celah bibirnya dan ia mendelik.

"Please, jangan anggap aku gila." Zitao berkata seperti meringkik, tercekik, tawanya tersisa di ujung kalimat. Matanya tersisa segaris dan gigi-gigi mentimunnya menampang angkuh dari celah bibirnya. Ada air mata di pelupuknya, terlihat ragu-ragu ingin terjun ke pipi Zitao atau tidak. Yifan tak tahu air matam macam apa itu.

"Aduh, perutku sakit," keluh Zitao dan tawanya benar-benar mereda. Hanya tersisa senyum di bibir dan itu begitu manis. Tangannya menopang tubuh dengan kaki yang masih berayun-ayun. Yifan masih dengan Pepsi di tangan dan sedotan di bibir. "Kau tidak apa-apa?"

Bukankah harusnya Yifan yang bertanya begitu?

Tapi Yifan mengangguk. Menunduk seperti merenung, lalu membuang gelas Pepsinya. Ia menoleh ke arah Zitao dengan latar langit abu-abu kehitaman, pertanda sore sudah di ujung. "Apa ada yang lucu?"

Zitao mengangguk kuat-kuat masih dengan senyum di bibirnya. Ia menoleh ke arah matahari yang jika dilihat dari titik mereka duduk, tingginya dari tepi air kurang dari satu sentimeter. Zitao menghitung mundur dari lima, masih dengan bahasa Mandarinnya yang aneh karena dialek Portugis. Yifan teringat di malam tahun baru, orang-orang berteriak menghitung waktu yang tersisa di akhir tahun dan ia berlari di tengah keramaian. Bayangan Zitao malam itu mampir lagi dalam pikirannya, membuatnya tersenyum kecil.

"Lucu sekali aku berubah jadi melankolis hanya karena Cina." Zitao memberi alasannya tertawa saat hitungannya berakhir dan matahari tenggelam sempurna. Pantai jadi hiruk-pikuk, tetap hidup di malam hari.

"Jadi," Yifan berusaha membuat suasana jadi tidak canggung lagi, "kau ke Ipanema hanya untuk hotdog dan Pepsi? Aku juga bisa beli di dekat hotel."

Zitao meloncat turun dari bongkahan semen setinggi satu setengah meter itu. Ia menepuk-nepuk pantatnya membersihkan debu, lalu Yifan ikut meloncat turun. "Temanku merayakan ulang tahunnya di salah satu pub disini."

Yifan mengangguk paham, ia melirik Zitao yang sedang membenahi ranselnya. "Dan kau mengajakku kesana?"

"Ya, tentu," Zitao berucap yakin. "Untuk apa aku menyeretmu kesini hanya karena hotdog dan Pepsi?"

Sebuah senyum muncul di bibir Yifan, menyusul Zitao setelahnya. Tetapi Zitao yang menciptakan langkah pertama itu, dan Yifan yang kedua. Mereka berjalan beriringan melewati turis dan warga lokal lain yang juga berjalan diatas trotoar batu. Ada hening yang nyaman di antara mereka, menemani.

.

.

.

Ruang besar itu gelap dan berkilau temaram di sudut-sudutnya. Musik berdentum-dentum keras memekak telinga, tapi banyak orang yang menikmatinya dengan meliuk di lantai dansa. Bau alkohol dimana-mana, diselingi asap rokok yang mengepul. Di balik bayang-bayang hitam, beberapa sejoli saling mencumbu dengan panas dan gerah timbul di masing-masing tubuh Wu Yifan dan Huang Zitao. Mereka bertatapan dalam canggung, lalu kembali mencari celah untuk berjalan setelah Zitao tersenyum malu-malu sambil menggaruk tengkuk.

Ketika Zitao menemukan sebuah pintu ganda dari kaca hitam, ia memanggil-manggil Yifan. Pemuda itu tak menyahut, jadi Zitao berbalik dan memastikan keadaan. Namun Yifan tak ada di dekatnya. Mata Zitao mencari, dan ketika ia menemukan Yifan kebingungan dan berada sepuluh meter di belakangnya, ia meneriakkan nama pemuda itu.

"Wu Yifan!"

Yifan menoleh ke asal suara. Pening menderanya karena pengeras suara tepat ada di sampingnya, mengalunkan lagu The Girl From Ipanema yang telah digubah. Ia memicing menatap Zitao yang terus memanggil sambil melambaikan tangannya. Setelah sebuah dengus pelan, Yifan berjalan ke arah pemuda itu.

"Hati-hati kalau ada di pub seperti ini," nasehat Zitao dengan suara tinggi seolah Yifan belum pernah ke tempat hiburan malam. Yifan mengangguk-angguk, membiarkan pergelangan tangannya diseret Zitao masuk ke sebuah ruangan dibalik pintu ganda dari kaca hitam. Ia tidak mempermasalahkannya, masih terheran-heran karena pub yang sudah ramai sebelum pukul tujuh malam.

Ruangan yang mereka masuki mungkin seluas 5x6 meter. Dindingnya hijau tosca dengan wall sticker bernuansa langit. Lampu yang menggantung diatas menyala redup, tapi sedikit lebih terang daripada keadaan diluar. Sofa-sofa warna gelap membentuk huruf U di tiga sisi, dan beberapa sudah terisi. Ada belasan pria dan wanita di sana, beberapa mengekspose hal yang seharusnya ditutupi. Yifan kembali sadar total melihat pemandangan itu.

Yifan menoleh ke arah Zitao. Pria itu sedang memeluk seorang gadis berambut pirang sebahu. Gaun merahnya sama dengan gincu di bibirnya, hot. Mereka saling memeluk sambil melompat-lompat kecil dan di akhir peluka Zitao mengecup sekilas bibir gadis itu.

Kernyitan bingung muncul di dahi Yifan, wajahnya tertekuk dan tangannya terlipat di depan dada. Itu teman atau pacar Zitao, sih? Dengan tatapan tajam Yifan mengamati setiap inci tubuhnya yang tinggi. Ia membisikkan sesuatu pada Zitao dan dibalas cekikikan pemuda itu. Si pria mengambil dompet, mengeluarkan secarik kertas berbentuk kupon dari sana dan gadis itu melengking. Ia merebut kupon kuning dari genggaman Zitao dan kembali mencium bibir pemuda itu.

"Yifan!" Zitao memanggilnya. Senyumnya lebar dan tangannya mengibas lembut, menyuruhnya mendekat. Mau tak mau Yifan tersenyum kecil sambil mendekati pemuda itu.

"Marina," panggil Zitao pada gadis di sampingnya. Oh, namanya Marina, "ini teman imporku dari Cina, Yifan Wu." Yifan mengernyit. Impor, katanya? "Nah, Yifan, dia adalah salah satu surfer terbaik di Rio, Marina Sol."

Gadis bernama Marina Sol itu tersenyum cerah, bersinar seperti sulur-sulur cahaya matahari. Sesuai namanya─Sol yang berarti matahari─, auranya terasa menyenangkan dan hangat jika diamati dari dekat. Yifan sedikit mengurangi ketidaksukaannya pada gadis itu, memberinya kesempatan. Tangannya terulur menyalami, tapi Marina memeluknya erat sambil melingkarkan tangannya di leher Yifan. Pria itu mendelik ke arah Zitao, tapi ia membisik dan berkata seolah itu tidak apa-apa.

"Senang mendapat teman baru," Marina tetap tersenyum setelah melepas pelukannya. Ia punya gigi kelinci yang manis, satu tahi lalat kecil ada di atas bibirnya, hampir tak terlihat, dan matanya biru seperti laut. Begitu cantk untuk ukuran wanita yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pantai. Kulitnya bahkan tidak terlalu coklat.

"Sama denganku," ujar Yifan dan Marina makin cerah senyumnya. Ia tertawa kecil dan menggumamkan ucapan terimakasih.

Yifan akhirnya mulai merasa bahwa Marina bukannya ancaman. Senyum dan tawanya mengundang simpati, persis Zitao. Mereka berdua terlihat berbicara panjang lebar setelahnya. Zitao mengambil segelas besar bir dan meminumnya dengan rakus. Yifan memilih koktail buah dan mengamati mereka dari jauh.

Ketika koktailnya habis dan Yifan ingin mengambil satu gelas lagi, seseorang duduk di sofa sebelahnya, menyodorkan segelas bir yang serupa dengan milik Zitao. Ia menoleh, mendapati sosok tak dikenal dengan wajah dingin orang Asia. Pemuda di sebelahnya tak menatapnya sama sekali.

"Minumlah," ujar pemuda itu. Yifan kebingungan tapi menurut saja. Satu seruput kecil ia rasakan, dan Yifan mengernyit. Itu bukan bir biasa, itu stout. Rasa pahitnya khas, dan aromannya terasa seperti cachaÇa.

Pemuda di sebelahnya juga meminum stout. Beberapa tegukan besar ia lakukan sekali minum, menyisakan setengah gelas. Gelas itu digenggam dengan dua tangan dan pria itu menunduk sambil mendesah kecil. Yifan berlagak masa bodoh. Ia meminum stout-nya lagi.

"Kau pacar baru Zitao?"

Sambil mengangkat alisnya, Yifan kembali menatap pemuda itu, namun ia tetap tak menatap Yifan. Matanya mengarah pada satu titik, Yifan mengikuti arah pandangnya dan menemukan Zitao yang sudah setengah mabuk. Ia tertawa keras sambil bersulang dengan segelas minuman beralkohol lain. Bukan bir, mungkin skotch.

Tunggu! Kalau Zitao mabuk, lalu siapa yang akan mengantar mereka pulang?

"Kau pacar baru Zitao?" ulang pemuda itu. Yifan menyesap minuman di gelasnya sebelum menjawab. "Cuma teman."

Yifan melirik lagi dan pemuda itu mengangguk kecil, mengerti. Kemudian ia menoleh, memberi senyum kecil di sudut bibir. Tangannya yang memegang mug kaca besar berisi stout tersodor ke Yifan. "Bersulang untuk perkenalan kita. Aeolus Oh."

"Kris Wu," Yifan menyambutnya dengan satu denting suara akibat gelas kaca yang bersenggolan. Mereka meminum stout-nya sampai habis tak bersisa. Kemudian Aeolus mengambil rokok dan menyalakannya sekaligus. "Kau bisa memanggilku Sehun."

Sayangnya Yifan tidak membawa rokok kali ini. Ia menggumam tanda mengerti. "Kau juga bisa memanggilku Yifan."

Mereka berdua saling menyenden di sofa. Tatapan mereka bertumpu pada satu sosok yang memunggungi dan duduk di kursi tinggi. Gelas skotchnya sudah terisi penuh lagi, entah yang keberapa. Pemuda bernama Zitao itu pipinya sudah terlihat memerah ditengah temaram. Yifan mendesah, malas berpikir cara untuk pulang. Sedangkan Sehun menyesap rokoknya panjang dan membiarkan asapnya bergulung-gulung dalam mulut, keluar sedikit demi sedikit menciptakan sulur panjang.

"Kau sering datang ke Paradise Summer akhir-akhir ini." Sehun membuka suaranya dan aroma rokok makin tajam ketika ia berbicara. "Dan kau terlihat sangat akrab dengan Zitao."

Pemuda yang dibicarakan masih asyik dalam lingkup pertemanannya. Ia bagai bintang malam itu. Walau bukan yang berulangtahun, tapi ia mendapat banyak salaman, ciuman di pipi, dan pelukan. Tidak ada ciuman di bibir lagi kali ini. Zitao sedang memakan kue ulangtahun yang telah dipotong entah sejak kapan. Ia memutar sedikit kursinya hingga separuh wajahnya terlihat oleh Yifan, mungkin Sehun juga. Krim kocok putih mengotori sudut bibirnya dan Yifan bertanya-tanya, bagaimana rasanya menjilat krim itu sembari mencuri ciuman Zitao? Belum Yifan membersihkan pikirannya, Zitao menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar dengan mata sayu yang menggoda.

Yifan berdeham kecil, teringat kata-kata Sehun untuk mengalihkan pikirannya. "Kami baru kenal di malam tahun baru. Tidak terlalu akrab." Ia melirik lagi ke arah pemuda itu, dan ia juga menatap Yifan dengan rokok diapit bibirnya. "Apa pedulimu? Kau pacarnya?"

Oke, setelah Marina Sol terbebas dari predikat pengancam oleh Yifan, sekarang ada pria bernama Oh Sehun yang merebut posisi itu.

Sehun terkekeh, tapi tidak ada senyum di bibirnya. Ia menyesap rokoknya dalam-dalam lagi. Abunya yang panjang terjatuh begitu saja di celananya. Kepulan bola asap keluar dari mulut Sehun begitu bibirnya terbuka. Tapi Sehun diam saja. Orang itu bersikap seolah-olah kata-kata dari mulutnya adalah barang mahal. Sehun kembali menatap Zitao dari jauh, membuah Yifan menyenden sebal dan ikut diam.

Yifan merasa pening, antara kesadarannya yang mulai turun atau pusing betulan. Ia terlalu lelah hari ini, dan segelas stout penuh serta koktail buah yang sedikit asam agaknya memperburuk kondisinya. Musik masih berdentum-dentum, namun tak begitu keras. Perutnya nyeri, mungkin karena terlambat makan dan dipenuhi minuman beralkohol. Ia ingin menyeret Zitao pulang tapi nalarnya menolak, itu sedikit tidak sopan.

Yifan mendengus dan membuka kelopak matanya. Sehun berdiri di depannya, tersenyum dan menyingkir entah kemana. Kemudian yang ia lihat adalah Zitao yang berjalan mendekat, duduk di pangkuannya, dan yang terjadi selanjutnya, Yifan merasa tidak ada yang perlu dijelaskan.

.

.

.

Gelap. Ruangan itu cukup gelap karena seluruh lampu dimatikan dan hanya ada sedikit cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai yang tersingkap. Zitao mendapati dirinya sedang berbaring di ranjang dengan kepala pening, terasa nyaris pecah. Pandangannya masih buram dan membuatnya harus mengerjap beberapa kali untuk mendapat fokus yang tepat. Mengedarkan pandangan, hal yang Zitao dapat hanyalah fakta bahwa ia tidak mengenali kamar itu.

Tubuhnya berangsur duduk, menggeliat kecil, lalu sekali menguap. Badannya seperti remuk, sakit sekali. Ia merasa suhu begitu diring seolah-olah kulit tubuhnya bersentuhan langsung dengan udara dari pendingin ruangan yang terpasang. Ketika ia melihat kondisi tubuhnya, benar saja, bagian atasnya polos dan kancing celananya terbuka. Apa yang terjadi padanya malam itu?

Dengan panik Zitao mengingat-ingat apa yang terjadi. Sepertinya kesadarannya benar-benar nol dan membuatnya kesulitan untuk mengingat sesuatu. Hal yang terakhir ia ingat hanyalah keinginannya menghampiri Yifan untuk mengajaknya segera pulang, dan lelaki itu juga menghilang pagi ini. Ada ketakutan dalam diri Zitao bahwa Yifan berlaku macam-macam padanya.

Zitao bangkit dari ranjang dan mengancingkan celananya. Ia mencari sisa-sisa sperma, kalaupun benar Yifan telah memperkosanya dalam keadaan tidak sadar. Pemuda itu tak menemukan apapun, dimanapun. Zitao juga memeriksa pantatnya, melompat-lompat dan lari di tempat, tapi tidak ada rasa sakit sama sekali.

Gemerisik suara pengering rambut dari arah kamar mandi mengusiknya. Zitao mempertajam indera pendengarannya dan mendekat perlahan ke pintu putih gading itu. Samar-samar ia juga mendengar siulan lembut yang merdu walau terdengar seperti cekikan di akhir, ia tidak tahu lagu macam apa itu. Tangannya hampir menyentuh gagang pintu ketika pintu itu terbuka dan menampakkan Yifan dengan dada telanjangnya serta raut wajah polos.

Dua mata itu saling menatap. Canggung, namun tak ada satu pun yang menyela. Zitao merasa gerah duluan dan ia berdeham, tak sengaja melirik kausnya yang tersampir di lengan Yifan. Dengan ketus pemuda itu merebut kausnya kembali dan Yifan berjengit mundur. Saat Zitao cepat-cepat memakai kaus tak berlengan itu dan menyingkir, Yifan membuntutinya dari belakang sambil menyalakan lampu. Ia terheran-heran dengan perangai Zitao yang aneh.

"Kita ada dimana?" tanya Zitao ketus sambil memasukkan sebelah lengannya ke lubang yang benar.

"Di motel. Lantai dua dari pub tempat Marina berulang tahun."

Zitao tidak mengerti mengapa Yifan terlihat begitu santai setelah apa yang ia lakukan pada Zitao semalam, seperti apa yang Zitao yakini. Ia memakai pakaiannya dengan tenang di depan cermin, menata rambut cepaknya yang masih agak basah, lalu mengerling dengan begitu sensual ke arah Zitao setelah merapikan dirinya.

"Apa yang kau lakukan padaku?"

Alis Yifan terlihat menekuk dan jelas sekali ia tak nyaman dengan keadaan disana. "Kukira kau salah paham. Aku tidak melakukan apapun padamu. Kau terlalu mabuk kemarin."

"Kesempatan dalam kesempitan, kan?"

"Aku bersumpah, aku tidak menyentuhmu! Aku tidur di sofa semalam. Mabukmu itu benar-benar parah dan kita tidak bisa pulang."

"Jadi, hal itu membuatmu legal melepas pakaianku tanpa persetujuanku, begitu?"

"Kau muntah di bajuku, Zitao, lalu pingsan begitu saja. Dan otomatis bajumu juga kotor karena tiba-tiba saja kau duduk bersamaku. Salah satu temanmu dengan baik hati menawarkan tumpangan untuk membawamu pulang, tapi aku tidak mungkin merepotkannya karena kau terus-menerus mengeluarkan cairan menjijikkan dari mulutmu dalam kesadaran nol, itu bisa membuat mobilnya jadi bau. Marina yang merekomendasikan motel ini padaku."

Rahang Yifan terlihat mengeras. Zitao tak tahu apa itu artinya perkataan Yifan benar, atau ia hanya berusaha menutupi kesalahannya. Meningat Zitao tak menemukan sperma ataupun merasa pantatnya sakit, sepertinya ia terlalu berprasangka buruk pada Yifan. Sarkasmenya pasti membuat Yifan geram.

"Tetap saja kau melepas pakaianku saat aku tidak sadar!"

"Aku melepas pakaianmu karena aku harus mencucinya dengan pakaianku juga. Aku juga membuka kancing celanamu agar kau tidak terus-terusan mual dan muntah dalam tidurmu. Apa kau masih menuduhku memperkosamu semalam?"

Zitao mengatupkan bibirnya ketika ia hendak menjawab. Kemarahan dalam mata Yifan terlihat berapi-api. Rasanya aneh berada dalam posisi seperti ini, terintimidasi. Mata tajam Yifan benar-benar membuatnya meleleh seperti es krim sekaligus tak perdaya. Ada rasa takut menelusup hatinya, takut bahwa ia salah langkah.

"Yifan, aku─"

"Aku mau pulang." Yifan beranjak dan mengambil dompet serta ponselnya. Mengambil beberapa lembar uang, menaruhnya di nakas sebelum ia pergi. "Terima kasih untuk kemarin."

Yifan berbalik begitu saja, meraih gagang pintu dan keluar, menutup pintu itu dengan bantingan keras. Kesunyian setelahnya terasa mengganggu, Zitao tak suka sepi. Rasanya menyebalkan ketika tidak dipercayai lagi. Pemuda itu bisa mengingat mata marah Yifan, rahang kokohnya yang mengeras, serta kedua tangannya yang mengepal. Hal itu membuat Zitao mengerti, ketika ia salah langkah, tak akan mudah untuk berbalik arah.

To Be Continued

.

.

.

Hei~

Allahhuakbar akhirnya aku apdet juga xD Yesh

Jujur aku lagi dalam mood yang buruk bangeeettttt sejak akhir tahun kemarin. Rasanya mau nulis tuh jadi susah banget. Apalagi FFN telah berubah /? Wkwk

Semoga suka sama chapter ini yaaa

Btw, ini PENTING!
Setting waktu saya ubah jadi tahun 2015, bukan 2014 lagi.
Perbaikan di chap sebelum-sebelumnya akan menyusul dan bertahap.

Terima kasih atas perhatiannya xD

Sampai ketemu lagi...

sign,

Jonanda Taw