Hola! Ini chapter ketiganya!
Vincy hari ini senang banget. UKK Vincy semuanya diatas 8. Padahal Vincy tergolong anak yang kurang berbakat di bidang akademik (Kec. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) karena Vincy lebih senang olahraga dan sastra.
Yosh, udah dulu curcolnya. Happy reading!
Disclaimer Kuroshitsuji © Yana Toboso
Hayate The Combat Butler © Kenjiro Hata
Main Character : Alois Trancy, Nagi Sanzenin, Ciel Phantomhive, Elizabeth Midford
Genre : Friendship, Romance
Rate : T (Teen)
Warning! : OOC, OC, alur pasaran, Typo bertebaran dimana-mana, slight CielEli
Summary : Ciel, bagaimana kalau Nagi kita ajak ke rumahmu?| Itu teman baruku|Arrgghhh….Sial! Aku kalah!| Cerpen yang bagus sekali. Ceritanya menyentuh sekali|Huaaa… Maafkan aku Ciel! Elizabeth!|
"Ciel, bagaimana kalau Nagi kita ajak nginap ke rumahmu?"
Kini mereka berempat sedang duduk di bangku taman sekolah sambil minum teh. Masing-masing di belakang mereka ada pelayan pribadinya. Di belakang Ciel ada Sebastian, di belakang Alois ada Claude, di belakang Elizabeth ada Paula, dan di belakang Nagi ada Hayate.
"Hah?" Ciel mengerutkan keningnya mendengar pernyataan dari Elizabeth. Sementara Alois hanya tersenyum.
"Ayolah Ciel. Kan kalau aku dan Lizzy menginap ke rumahmu, kita berdua kan sibuk main PS di kamarmu, sementara Lizzy hanya menonton tanpa ada yang menemani. Kan enak kalau Lizzy punya teman daripada dia sendirian kan?" Alois mendekatkan mulutnya ke telinga Ciel, "Selain itu, kita tak mau Lizzy menangis sampai telinga kita tuli hanya karena kita tak menemaninya bermain di taman, bukan?" bisik Alois pelan.
Ciel terdiam. Otaknya sibuk berpikir. Ajak, tidak, ajak, tidak. Kalau Nagi ia ajak, bagaimana dengan kedua orang tuanya nanti? Apa kedua orang tuanya memperbolehkan Nagi menginap di rumahnya? Tapi kalau ia tak mengajak Nagi, mungkin ia dan Alois akan bermain dengan tidak tenang saat di rumahnya seperti biasa.
"Baiklah," ucap Ciel. Elizabeth ber-yes ria. Sementara Alois hanya tersenyum.
"Nah, Nagi. Kami bertiga mengajak kau menginap di rumahku? Kau mau?" tawar Ciel pada Nagi.
"Yah, baiklah, lagipula hari ini aku tak banyak kegiatan" jawab Nagi setelah menyeruput tehnya.
"Sebastian, tolong bilang pada orangtuaku kalau ada teman baruku yang akan menginap di rumah" perintah Ciel.
"Yes, my Lord" ucap Sebastian lalu pergi.
"Hayate, bilang pada orang tuaku kalau aku akan menginap di rumah temanku. Dan tolong siapkan keperluanku" perintah Nagi.
"Ha'i, Ojou-sama!" jawab Hayate lalu menyusul Sebastian pergi.
"Ojou-sama artinya apa?" tanya Paula sedikit bingung.
"Artinya 'nona', Paula" jawab Nagi singkat.
"Huaaaa! Bahasa yang menarik! Aku suka!" jerit Elizabeth sambil menarik cangkirnya.
"Lizzy! Hati-hati!" teriak Ciel.
Nyaris saja Elizabeth menumpahkan tehnya sendiri..
'KRIEEET'
"Aku pulang…" kata Ciel.
"Ciel sayang!" Tante Rachel langsung memeluk Ciel erat. "Mana teman barumu? Dia laki-laki atau perempuan?"
"Mo-mommy! Se-sesak!" kata Ciel. Jarinya menunjuk ke arah Nagi yang berdiri di sebelah Elizabeth. "Itu teman baruku" kata Ciel seusai Tante Rachel melepas pelukannya.
"Uwaaah… Lucu sekali!" jerit Tante Rachel melihat Nagi yang menurutnya 'lucu' itu. "Tapi kok pendeknya kayak Tanaka ya?"
Hah, Tante, Tante. Kalau ngomong jangan asal ceplos dong…
"Mommy! Sudahlah!" kata Ciel, ia sedikit bergidik melihat Nagi yang mengeluarkan tatapan membunuh ke arahnya. "Lebih baik kita ajak dia ke ruang tamu daripada diam berdiri terus kan?"
"Oh ya benar!" kara Tante Rachel. "Nah, ayo" ajak Tante Rachel. "Dan Sebastian, tolong kau buatkan teh untuk tamu kita ini" tambahnya.
"Nah gadis kecil, siapa namamu dan pemuda di belakangmu?" tanya Tante Rachel lembut pada Nagi.
Nagi memandang Tante Rachel dengan ramah, meskipun dalam hatinya ia sedikit kesal mendengar Tante Rachel memanggilnya 'Gadis kecil'. "Nama saya Nagi Sanzenin, salam kenal, Nyonya Phantomhive" ucap Nagi sambil tersenyum. "Dan ini pelayanku, Hayate Ayasaki" tambah Nagi. Hayate membungkukan badannya tanda salam.
Ciel, Elizabeth, dan Alois bergidik melihat senyum Nagi. Bagi mereka, senyum Nagi sangat mengerikan. Mereka bisa merasakan aura membunuh dari Nagi yang ditujukan kepada mereka. Sementara Hayate yang di belakang Nagi hanya nyengir dipaksakan.
"Oh! Salam kenal juga, Nagi!" ujar Tante Rachel yang tak merasakan aura Nagi, "Namaku Rachel Phantomhive. Panggil saja aku Tante Rachel. Dan anggap saja ini rumah sendiri" ucap Tante Rachel sambil menyunggingkan senyum ramah.
"Terima ka-" belum selesai bicara, tiba-tiba ada suara…
'PRAAANG!'
"Ma-maaf Nyonya, t-tadi k-kacamata s-s..saya j-jatuh d-dan s-saya m-menyenggol r-rak i-ini" ucap Meirin gagap sambil menunjuk ke arah sebuah rak sedang yang jatuh dengan isi yang terpecah belah.
"Tidak apa-apa. Bard, Finny. Bantu Meirin membersihkan rak itu" perintah Tante Rachel. Bard dan Finny muncul dan membantu Meirin membersihkan rak yang kacau itu.
"Nah, Tante permisi dulu. Ciel, ajak main ketiga temanmu ini" kata Tante Rachel lalu berjalan meninggalkan mereka berlima.
"Sebastian" panggil Ciel. Sebastian langsung muncul, "Siapkan air panas untukku dan ketiga temanku. Kami akan mandi pada pukul 5.00 pm"
"Baik" Sebastian langsung pergi. Mereka berempat berjalan menuju kamar Ciel. Sementara Hayate pulang untuk menyiapkan keperluan Nagi untuk menginap.
"Omong-omong, Claude kemana ya?" tanya Elizabeth.
"Dia akan menyusul. Paling ia sedang pacaran dengan Hannah" kata Alois enteng. Sejak kapan iblis pacaran dengan iblis?
"Huaaah? Sejak kapan Claude berpacaran dengan Hannah?" tanya Elizabeth heboh. Alois mengangkat kedua bahunya.
"Sssst… diamlah Lizzy" kata Ciel berusaha menenangkan.
"Hannah siapa?" tanya Nagi.
"Dia maid di rumahku." kata Alois. 'Dan dia maid paling menyebalkan yang pernah ada' tambah Alois dalam hati.
'Seperti Maria?' batin Nagi teringat pada maid pribadinya.
'KLEK'
Ciel membuka pintu kamarnya. Dan tampaklah, kamar Ciel yang bernuansa mewah nan elegan itu.
Ciel dan Alois langsung berjalan ke arah PS3 di depan TV LCD dengan layar 32 inc. Elizabeth duduk di kasur Ciel. Sementara Nagi hanya diam berdiri di depan pintu dengan canggung.
"Kenapa diam? Ayo masuk" ajak Elizabeth. Tangannya menepuk-nepuk kasur tanda duduk di sampingnya.
Nagi masuk ke kamar Ciel dengan ragu-ragu. Baru kali ini ia masuk ke kamar laki-laki. Jadi tentu saja ia agak canggung dan kikuk. Pikirannya mulai melayang.
"Ayolah, Nagi! Kan ada Elizabeth!" kata Nagi berusaha menenangkan dirinya dalam hati. Ia pun duduk di samping Elizabeth.
Mereka berdua menonton Ciel dan Alois yang sedang bermain 'Tekken'. Nagi terperangah melihat permainan Alois yang sangat ahli dan cepat.
"Yes! Aku menang!" seru Alois sambil meninju udara. Sementara Ciel mendengus kesal.
"Cih, kalau begitu sih belum apa-apa, Tiang Listrik" kata Nagi dusta. Padahal ia begitu kagum dengan permainan Alois.
"Apa katamu?" geram Alois. Sejauh ini, dia dijuluki 'Spider of PS', berbeda dengan Ciel yang dijuluki 'King Dog of PS'. Baru kali ini ada yang mengejek permainan PS nya selain Elizabeth (Kalau Elizabeth sih alasannya dia tak suka PS)
"Kalau aku lihat secara detail, permainanmu masih kurang, hei Tiang Listrik" komentar Nagi.
"Cih! Kau ngajak ribut ya? Memangnya kau bisa main PS? Kalau bisa, ayo kita tanding!" tantang Alois yang mulai jengkel. Sabar Al…
"Aku bisa kok, kita lihat saja" kata Nagi dengan senyum meremehkan.
"Na-Nagi bisa main PS?" tanya Elizabeth.
"Tentu. Aku yang paling jago diantara semua temanku di Jepang. Bahkan aku biasa bermain PS dengan Hayate yang jago juga" jelas Nagi. Padahal sebenarnya, Hayate lah yang dipaksa bermain PS oleh Nagi, dan lama-kelamaan Hayate sendiri mahir juga.
"Oke! Kalau kalah, hukumannya bernyanyi lagi 'London Bridge' dengan Claude!" kata Alois.
"Siapa takut?" Nagi memegang stick PS yang tadi dipengan Ciel, "Eh, mau main apa?" tanya Nagi.
"Gimana kalau 'Guitar Hero 2'?" usul Alois. Nagi mengnggukan kepalanya.
"Ciel temani aku disini ya?" pinta Elizabeth. Ciel mengangguk dan duduk di kasur samping Elizabeth.
"Yeah! Terus!"
'TICK. TICK. TICK'
"Arghhh!"
Alois dan Nagi nampak serius sekali bermain. Permainan mereka yang berjudul, 'Guitar Hero 2' tersebut memainkan lagu Dead! - My Chermical Romance dengan suara rock nya. Nagi tampak begitu sulit karena lagunya terlalu cepat. Sedangkan Alois malah tenang-tenang saja. Lah kan dia pernah mainin lagu ini dengan Ciel.
"Yey! Aku menang!" seru Alois girang. Ia langsung loncat-loncat di karpet dan berseru. 'Yeye…aku menang…dan kau pecundang'
'DUAGH!'
"Siapa yang pecundang, hah?" geram Nagi. Satu benjolan muncul di kepala Alois.
'TOK-TOK-TOK'
"Permisi. Sekarang jadwal anda mandi, tuan muda, nona muda" kata Sebastian.
"Baiklah, ayo kita mandi dulu" kata Alois.
'DUAK!'
"Siapa yang mau mandi denganmu, hah?" geram Nagi sambil menjitak kepala Alois. Total sudah dua benjolan yang ia dapatkan dari Nagi.
"Idih, lagian siapa juga yang mau mandi denganmu? Kan dadamu 'rata' dan badanmu kecil pula" ejek Alois lalu kabur keluar kamar.
'Grrrrr….'
'DUAK!'
'BRAK!'
'MEOW!'
"GUK-GUK!'
Oke, mari kita skip saja adegan kacau ini…
"Alois, ada apa dengan wajahmu?" tanya Tante Rachel heran plus prihatin.
Di tengah-tengah makan malam di Manor House Phantomhive, seluruh anggota keluarga Phantomhive termasuk teman-teman Ciel makan dengan tenang. Terkecuali Alois Trancy. Pewaris keluarga Trancy ini sedang komat-kamit dalam hati, 'Aku galau, Tuhan. Mengapa aku bisa ditonjok oleh Pirang Pendek kayak Nenek Sihir Kecil ini?'
"I-itu…Aw!" rintih Alois menyadari kalau Nagi di sebelahnya menendang kakinya dengan keras. "Ehehe…tidak apa-apa kok, Tante…" ujar Alois sambil nyengir dipaksakan.
Tante Rachel mengerutkan keningnya. Ia menatap suaminya, Om Vincent dengan, 'Ada apa sebenarnya ini?'. Namun Om Vincent mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
Ciel dan Elizabeth? Tentu saja tahu. Karena mereka menyaksikan 'adegan penyiksaan' itu secara langsung. Namun mereka lebih milih tutup mulut. Daripada kena imbasnya dari Nagi, mereka tidak mau wajah mereka mendadak hancur selamanya.
Sebastian dan Hayate yang berdiri di belakang majikan mereka masing-masing hanya diam. Namun bedanya Sebastian mengeluarkan senyumnya dan Hayate mengeluarkan cengiran yang agak dipaksakan. Tentu saja mereka berdua tahu, karena Sebastian yang menyaksikannya sendiri. Kalau Hayate karena melihat gelagat Nagi yang terlihatan kesal dan melihat Alois babak belur.
"Ahahaha… Nagi Sanzenin. Mmm… Sanzenin ya… Ah, aku kangen bertemu dengannya, Yukariko…dimana dia sekarang?" gunam Tante Rachel.
"Ia ada di rumah. T-Tante Rachel kenal Okaa-san?" kata Nagi tak percaya.
"Tentu. Aku adalah teman SD nya dulu. Aku dan suamiku terakhir bertemu dengannya dan suaminya saat pesta pertemuan 5 tahun yang lalu." Kata Tante Rachel. "Kamu tidak ikut ya?"
"Aku tidak terlalu suka pesta" kata Nagi. "Karena disana hanya ada obrolan dewasa dan sangat membosankan"
"Ahahaha… Kau mirip sekali dengan Yukariko." Kata Tante Rachel sambil tersenyum. "Tapi terakhir bertemu dengan nya aku melihat dia begitu lemah lembut dan feminim saat di pesta"
"Okaa-san memang lembut. Tapi memangnya dulu ia kasar sepertiku?" tanya Nagi.
"Iya. Dia sangat tomboy, tapi setelah berpacaran dengan Sato, mendadak menjadi lemah lembut sampai sekarang" ujar Tante Rachel. Wajar saja Tante Rachel tahu. Karena dulu Tante Rachel sekolah di Jepang dan bersahabat dengan Tante Yukariko.
"Aku sudah selesai. Alois, ayo kita main PS lagi" ajak Ciel.
'BLETAK!'
"Sudah kubilang habis dinner langsung BELAJAR!" bentak Elizabeth dengan penuh penekanan dengan kata 'Belajar'
"Cih, lagipula kan nilaiku dan Alois bagus-bagus terus. Apa yang perlu dikhawatirkan?" tanya Ciel dengan nada meremehkan. Ia menarik tangan Alois dan langsung kabur begitu saja.
'Grrrrr…' Elizabeth menggeram. Om Vincent dan Tante Rachel siap-siap ke kamar mereka (baca : kabur). Paula, Sebastian, dan Claude sudah siap dengan posisi mereka. Sementara Nagi hanya diam tak bereaksi.
"SIALAN! AWAS KALIAN! AKAN KUHAJAR SAMPAI TULANG KALIAN REMUK!" jerit Elizabeth ngamuk lalu berlari kencang mengejar Ciel dan Alois.
Astaga Elizabeth, sebegitu tingginya emosimu sampai kau mengucapkan kata-kata yang sangat tidak pantas untuk seorang Lady?
"Lady Elizabeth!" Paula, Sebastian, dan Claude berlari mengejar Elizabeth. Hayate hanya cengo melihat Elizabeth yang ngamuk.
Bersiap-siaplah Ciel, Alois. Malam ini mungkin sampai seterusnya, kalian tidak akan bisa mimpi indah…
"Ojou-sama" panggil Hayate.
"Hm?" Nagi sedang bercermin di kamar. Tubuhnya sudah terbalut dengan pakaian tidur beberapa menit yang lalu. Ia menoleh ke arah Hayate yang berdiri di belakangnya. "Ada apa?" Nagi melepas kedua kuncirannya yang terikat dengan rambut pirangnya.
"Apa Ojou-sama merasa pernah bertemu Ciel-sama sebelumnya?" tanya Hayate.
Nagi terdiam. "Belum. Aku baru menemuinya 3 hari yang lalu" Nagi tiduran di kasur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia membalikan tubuhnya memunggungi Hayate dan matanya terpejam, berusaha untuk tidur.
"Apa anda lupa kejadian 8 tahun yang lalu di padang bunga dekat sekolah Hakuo?"
Nagi tersentak. Ia berbalik dan menatap Hayate yang masih berdiri di dekat ranjang yang ia tiduri.
"Kejadian…8 tahun yang lalu?" tanya Nagi memastikan.
"Iya. Waktu anda berusaha kabur dari rumah. Lalu saya dan Maria menemukan anda bersama Ciel-sama" kata Hayate menjelaskan. "Saya pertama kali melihat wajah Ciel-sama, dan saya langsung ingat insiden itu"
"A-apa? A-arggghhhh!" Nagi menjerit. Ia memegang kepalanya. Mendadak kepalanya terasa nyeri.
"Ojou-sama!"
"Nagi, mengapa kau lesu begitu?"
Nagi menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa" Nagi berusaha mengulum sebuah senyuman, agar ketiga temannya tidak khawatir kepadanya. "Aku baik-baik saja"
"Yang benar? Oh ya, semalam aku mendengar suara jeritan manusi…".
"Aku tidak mendengarnya, Ciel…" potong Elizabeth cepat. "Mungkin itu hanya halusinasi kau saja"
"Aku serius, Lizzy. Dan kau sendiri juga mendengarnya kan?" tanya Ciel sambil melirik ke arah Alois. Dan dibalas anggukan kecil oleh laki-laki pirang itu.
"Iya sih…" Alois menjeda sesaat. "Tapi…Aku merasa jeritan itu seperti jeritan suara…anjing?"
'Twich!' dahi Nagi langsung berkedut.
"Masa? Suara jeritan itu sangat nyaring dan…menyakitkan. Khas perempuan" ujar Ciel.
"Menyeramkan? Apa maksudmu?" tanya Nagi.
"Ya, kau tahu pendek, Tuan Muda Phantomhive ini sangat benci mendengar jeritan perempuan…" kata Alois sambil menatap kaca dari dalam kereta kuda. "Katanya…mmmppphhh!"
Belum sempat melanjutkan omongannya, Ciel sudah membekap mulutnya.
"Jaga omonganmu, Mr. Trancy" bisik Ciel dengan nada mencengkram dengan tatapan yang, uhk…tajam. "Kau mau tubuhmu remuk dan patah tulang di tulang rusukmu hanya karena kau membeberkan aibku, hah?"
"He-hei! Lepaskan!" Alois menarik tangan Ciel paksa. "Iya, iya! Aku tidak akan kasih tahu kok!" kata Alois dengan nada yang dipaksakan.
"Ciel…" Nagi dan Elizabeth mengeluarkan tatapan membunuh mereka ke arah Ciel."Apa yang kau sembunyikan dari kami, hah?" tanya Nagi dan Elizabeth dengan nada yang mencengkram.
Meskipun Elizabeth sudah kenal lama Ciel (Bahkan Elizabeth menjadi teman perempuan pertama Ciel dan sudah bersahabat akrab sejak mereka berumur 5 tahun) tapi sekalipun Ciel tak mengetahui aib-aib nya kepadanya. Kalau ke Alois jangan ditanya lagi. Alois tahu semua aib Ciel dan sebaliknya.
"Itu bukan urusan kalian" Ciel membuang mukanya ke arah kaca jendela. "Ini urusan pribadi"
'BRAAAK!'
"Ho…mau menghindar ya" Nagi mencengkram kerah baju Ciel dengan erat. "Nyawamu bisa melayang lho…" Nagi mengeluarkan senyum iblis terbaiknya dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Baiklah! Baiklah!" Ciel akhirnya menyerah. Ia merasa risih sekaligus takut dipandang seperti itu oleh Nagi. "Aku benci suara perempuan karena waktu kecil aku pernah menjerit seperti perempuan karena melihat kecoak!" teriak Ciel malu.
Nagi dan Elizabeth terbelalak. Mereka saling berpandangan sejenak. Seketika tawa mereka meledak.
"Bwahahahahaha…Ciel takut kecoak!" ledek Nagi sambil menjulurkan lidahnya. Ciel hanya berdecih sebal dan memalingkan wajahnya. Alois menutup mulutnya untuk menahan tawanya.
"Nah sudah sampai" kata Elizabeth berusaha menengahi. Mereka berempat turun dari kereta kuda.
"Wah…lihat mereka…"
"Ciel dan Alois keren sekali!"
"Tapi ada si Nyonya tuh!"
"Eh tapi siapa anak yang paling pendek itu?"
"Iya, kok bisa bersama mereka ya?"
Bisikan-bisikan mulai bermunculan di koridor sekolah. Ciel dan Elizabeth menghela napas mereka. Alois hanya tersenyum sambil tebar pesona, sedangkan Nagi merasa risih.
"Tenang aja. Mereka semua tidak akan menggigitmu kok." Kata Alois santai lalu melanjutkan aksi tebar pesona(?) nya lagi.
Nagi menghela napasnya. Ia memandang bosan ke arah siswi-siswi yang terus menatap Ciel dan Alois bagaikan malaikat. Namun seketika matanya terbelalak melihat sekelompok siswi yang sangat tidak ia ingin temui di pojokan koridor.
Yap, sekelompok siswi yang dimaksud adalah Maurice dkk. Maurice menatap tajam pada Nagi. Nagi membalasnya dengan tatapan tajam juga.
'CTAR! CTAR!'
Muncul sengatan listrik di antara mereka berdua. Nagi Sanzenin VS Maurice Fred. Terlihat jelas aura permusuhan di antara mereka berdua. Muncul permusuhan baru yang sangat menarik ini.
"Lizzy! Tolong ambilkan vas bunga disana!"
"Baik!"
Kini kelas mereka sedang dibenah oleh sekelas. Yap, sekolah mereka memang menerapkan aturan kebersihan dan kedisiplinan. Meskipun mereka semua anak bangsawan, namun sekolah mereka tetap memberikan penerapan tersebut agar para anak bangsawan akan menjadi lebih disiplin dan bersih. Kegiatan rutin ini dilakukan setiap hari Jum'at.
Dengan dibantu Miss Angela, wali kelas mereka, semua murid mulai bergotong royong membersihkan kelas. Ciel mengangkat meja dan kursi bersama keempat siswa lainnya, Alois membersihkan papan tulis, Elizabeth membersihkan dan menata meja guru, sedangkan Nagi menata mading kelas. Sementara yang lainnya mulai menyapu lantai, mengecat tembok kelas, dan sebagainya.
Elizabeth menaruh berbagai macam bunga yang baru saja ia petik di padang miliknya ke dalam vas. Ada berbagai macam bunga yang Elizabeth pilih, ada bunga mawar, bunga matahari, untaian bunga melati, dan ikatan bunga cattelya kecil dengan batangnya.
Nagi berpikir keras dengan tugasnya, menata mading kelas. Ia bingung untuk menatanya, karena banyak karya-karya yang bagus tapi sangat berantakan.
"Apa ini?" Nagi mengambil sebuah kertas yang berisikan cerpen. Ia membaca cerpen itu dengan seksama.
'Cerpen yang bagus sekali. Ceritanya menyentuh sekali' puji Nagi dalam hati. Namun seketika matanya terbelalak melihat pengarang cerpen tersebut.
"Pe-pengarangnya…Ciel?" tanya Nagi tak percaya.
"Sedang apa, Sanzenin?"
Nagi tersentak, ia menoleh ke belakang, terdapat Miss Angela berdiri sambil tersenyum ke arah Nagi. Nagi menyembunyikan kertas cerpen tersebut di belakang punggungnya.
"Kamu membaca cerpen karangan Phantomhive?" tanya Miss Angela.
"I-iya, Miss" kata Nagi ngaku. Ia menyerahkan kertas cerpen itu kepada Miss Angela.
"Cerpen yang menyentuh sekali. Saya sampai terharu membaca cerpen itu" Miss Angela membaca cerpen itu sekilas. "Aku tak menyangka seorang Ciel Phantomhive bisa membuat cerpen itu tentang... Middleford.
Isi cerpennya, tentang isi hati Ciel memandang Elizabeth. Ciel merasa sedih melihat Elizabeth tak mempunyai teman perempuan satupun. Saat itu temannya hanya Ciel dan Alois. Namun saat kedatangan Nagi, Elizabeth mempunyai teman perempuan pertamanya.
"Aku selalu melihat Middleford hanya dekat dengan Phantomhive dan Trancy." Miss Angela menjeda sesaat. "Karena itu, Middleford dimusuhi siswi-siswi yang merupakan fans dari Phantomhive dan Trancy"
"Lalu, mengapa anda tak melaporkan nya pada Mr. Edward (Kepala Sekolah)?" tanya Nagi dengan nada yang tajam. Ia tahu itu tindakan yang tidak sopan, tapi itu demi kebaikan Elizabeth baginya.
"Itu karena…Middleford memintaku untuk tidak melaporkan nya kepada Mr. Edward. Aku pernah hampir melaporkannya diam-diam, namun dia mengancamku untuk membenciku seumur hidupnya" Miss Angela menatap Elizabeth dengan sendu.
Nagi terdiam. Ia tahu posisi Miss Angela pasti berat. Ia kembali menatap kertas cerpen itu. Terbesit rasa cemburu di dalam hatinya.
"Ciel…" lirih Nagi.
"Eh, awas!"
'BRUK!'
"Eh?"
Semua pasang mata memandang ke depan kelas, tempat asal suara itu muncul tiba-tiba. Seisi kelas syok melihat apa yang menjadi pemandangan yang ada di depan kelas mereka.
Elizabeth menindih Ciel dan…bibir mereka bersentuhan.
"Huaaa… Maafkan aku Ciel! Elizabeth!" jerit Grell.
Suasana menjadi hening seketika. Ciel dan Elizabeth tak merubah posisi mereka. Mata mereka saling memandang, terasa hanyut oleh pandangan mereka. Sapphire bertemu emerald…
"Hooo…sampai kapan kalian tak merubah posisi itu?"
Ciel dan Elizabeth tersentak, mata mereka terbelalak. Dengan panik, Elizabeth bangkit dari badan Ciel, ia merapikan roknya yang kusut dan basah.
"Ma-maafkan aku!" kata Elizabeth. "A-aku yang salah! Seandainya aku melihat ember yang ada di pintu, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini!"
Ceritanya, tadi Elizabeth keluar ke ruang praktek menjahit untuk mengambil taplak baru. Saat ia kembali, ia berlari-lari dan tanpa sengaja ia tersandung ember pel yang ditaruh oleh Grell di depan pintu kelas. Kebetulan ada Ciel yang di dekatnya dan mereka bertubrukan, karena badan Ciel yang lebih kecil dari badan Elizabeth, Ciel tak dapat menahan badan Elizabeth sehingga Ciel ditindih oleh Elizabeth dan lebih parahnya lagi, bibir mereka bersentuhan satu sama lain.
"T-tidak! Ini salahku!" Grell menjerit, "Ini salahku yang menaruh ember di atas meja."
Melihat kejadian itu, suasana kelas menjadi lebih hening. Mulut Alois menganga lebar dan menatap Ciel dan Elizabeth dengan tak percaya. Sedangkan Nagi? Matanya berkilat-kilat, hatinya terasa sakit. Wajahnya terbakar karena amarah. Dan ia mengalami sesuatu yang biasa disebut…cemburu.
Namun ini hanya sebuah awal. Awal dari bencana yang menimpa persahabatan mereka berempat.
TO BE CONTINUED
Huaaa…gimana chapter ini? Mudah-mudahan para pembaca senang dengan chapter ini. Maaf kalau masih ada typo. Ini chapter terpanjang yang pernah Vincy buat =.=
Yosh! Saatnya membalas review!
The Girl Anon123 : Makasih ya. Vincy usahaiin konfliknya panas. Latarnya zaman sekarang, tapi Vincy buat di London tidak diperbolehkan memakai kendaraan bermotor. Karena Vincy tidak suka kalau London terkena polusi udara. Review lagi ya!
Nasumichan Uharu : Yosh! Ini sudah Vincy panjangin sedikit. Mudah-mudahan senang ya. Ini baru slight romance nya. =.=, karena bahan konfliknya baru datang =.=. review lagi ya!
Lol : Arigatou! Ini udah Vincy panjangin sedikit. Review lagi ya!
Aiko-chan : Thanks! Ini baru semi romance. Review lagi ya!
Hikaru Nero : Iya -.- kan Lizzy cuma punya Paula :) Review lagi ya!
Toriii : Thanks! Ciel dan Elizabeth belum bertunangan. Mereka kan masih sahabat. Review lagi ya!
Akhir kata dari Vincy,
Review please...
Sign,
Ravincy Aloisa Phantomhive
