Lie

Wuih dah lama nih..

Terima kasih pada para pembaca yabng sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca fic ini, meluangkan matanya untuk melihat dan membaca cerita, yang tidak akan mungkin terjadi di episode bleach manapun.

Disclaimer : Kubo Tite

Chapter 3

Kepalaku berputar. Jantungku berdegup kencang. Bingung apa yang harus ku katakan. Otakku berjalan dua kali lebih cepat dari biasanya. Aku menatap Matsumoto. "Siapa? " Tanyaku pura-pura bodoh. Dan sudah pasti aktingku tidak meyakinkan.

"Taicho! Jangan main-main!" Bentaknya, berjalan mendekat dan mencengkaram pundakku dengan keras. Terasa sakit, akan tetapi lebih terasa pedih.

Matanya menatap mataku. Matanya masih sebiru dulu, akan tetapi terlihat lebih tegas, atau bisa dibilang terluka. "Tidak ada manusia yang cukup kuat untuk masuk ke dalam kekkai, tidak ada manusia yang bisa membuat kekkai. Tidak ada manusia yang sanggup menghadapi Arrancar! Taicho, aku yakin itu anda!"

Ya ampun, sejak kapan dia bisa berfikir sejauh itu? Aku memalingkan wajah. Sekarang aku bahkan tak bisa menatap matanya. Kelihatannya dia marah sekali. Aku memang sudah sembrono menanggil namamya. Tanpa memikirkan konsekuensinya. Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini.

"Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu maksud mu. Dan aku tidak mengenalmu." kataku berbohong.

Aku meliriknya. Wajahnya memerah. Melepaskan cengkraman kuatnya dari pundakku. Dia menunduk dan mundur beberapa kuda-kuda, "Hado No 4 Byakurai!" Dengan cepat kilatan biru mengarah ke tubuhku. Aku memejamkan mataku. Mengangkat kedua tanganku berusaha melindungi diri sebisaku.

Setelah menunggu beberapa saat, aku menyadari sesuatu. Kenapa tidak sakit? Aku menurunkan tanganku, membuka mata perlahan. Kurosaki berdiri didepanku.

"Rangiku-san, jangan gegabah! Kalau dia terluka parah bagaimana?" Teriak Kurosaki marah. Hentakkan Zanpakutonya membuat semuanya tercengang.

"Tapi dia pasti bisa menahannya!" Jawab Matsumoto. Mata birunya berkaca-kaca, menyiratkan kepedihan, kesedihan, dan keputusasaan, hingga aku tak bisa menatapnya lagi.

"Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau kau salah lihat?" Teriak Kurosaki lagi.

Mendengar perdebatan Matsumoto dan Kurosaki membuat hatiku panas. Kenapa semua orang mempermasalahkan hal ini? Kalau aku memang Hitsugaya Toushiro, memang kenapa? Apa yang akan mereka lakuakan?Apa yang bisa mereka lakukan?

Teriakan-teriakan menggema di telingaku. Membuat pikiran dan perasaanku menjadi semakin kacau. Perasaan bingung, marah, dan bersalah, bercampur aduk menjadi satu. Aku menutup teliangaku dengan kedua tangan pucatku, mencoba menghentikan suara-suara bising itu. Ingin sekali rasanya meneriaki mereka berdua untuk diam.

"Diam!"

Yang pasti itu bukan teriakanku. Itu teriakan Kuchiki Rukia. Pandanganku beralih padanya. Aku melepaskan cengkramanku di kedua telingaku, dan ternyata bukan hanya aku saja yang memperhatikannya, Semua orang, atau yang setidaknya, bisa disebut orang mengalihkan pandangan ke arahnya. Semua terdiam termasuk kedua orang yang tadi saling melempar makian. "Ichigo Tenanglah. Anda juga Rangiku-san."

Suaraku memecahkan keheningan. "Aku ingin pulang." Kataku lemah. Aku sudah muak. Aku tidak ingin terlibat lagi. Aku ingin berhenti dan cuci tangan dari dunia ini.

Aku turun dari tempat tidur. Dengan cepat kepeningan menjalari, otomatis tanganku mencari tempat untuk bertumpu. Bahkan tubuhku sendiri tidak bisa menahan berat badanku yang bahkan tidak begitu berat. Akan tetapi dengan cepat Kurosaki menangkapku. Mendudukkanku lagi di atas kasur yang empuk.

Dia menetapku tajam, atau mungkin matanya memang tajam. "Oi Kujou, jangan paksakan dirimu!"

"Ichigo, kau mengenalnya?" Tanya Abarai agak tercengang mendengar Kurosaki menyebut namaku.

"Hn. Dia muridku di sekolah." Jawabnya singkat.

Aku bangkit kembali, dan menglepaskan pegangannya. Memegang kayu penyangka kasur sebagai tumpuan, "Aku bisa menjaga diriku sendiri." Jawabku dingin. Aku tidak ingin dikasihani orang lain. Aku bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain.

"Oi..oi..sudah kubilangkan jangan memaksakan diri." Aku menatapnya tajam. Menyiratkan kalau aku sudah tidak tahan disini, dan ingin pulang secepatnya.

Sepertinya ia menangkap maksud dari tatapanku. Itu tertanda dari tingkahnya yang mengacak-acak rambutnya dan berbalik membelakangiku. " Dasar keras kepala! Baiklah, kalau begitu biar ku antar. Kau tidak boleh menolak. Sementara itu, Kau berbaringlah dulu. Aku akan bersiap-siap. Yang lainnya keluarlah. Kecuali Inoue." Dia memalingkan wajah pada gadis cantik berambut coklat di sebelahnya. "tolong ya. "

"Hai Kurosaki-kun!" Jawabnya ceria. Kurosaki berjalan keluar dengan diikuti oleh shinigami-shinigami lainnya dan juga beberapa orang bekas ryouka yang aku lupa namanya. Meninggalkan ku berdua dengan Inoue Orihime. Dan tak lupa menutup pintu.

Inoue berjalan mendekatiku. Nah adik kecil berbaringkah." Memapahku dan membaringkanku pada kasur tadi. " Ngomong-ngomong, siapa namamu?"

"Kujou Shouitaro." Jawabku.

"Nah Kujou-kun tenang ya, aku akan mengobatimu." Dia meletakkan kedua tangnnya diatas tubuhku. Memejamkan mataku, berusaha mengalihkan pikiranku. Sensasi hangat yang sama, yang pernah kurasakan dulu menjalar melintasi tubuhku.

"Er…Kujou-kun? Biasanya orang biasa akan bertanya siapa mereka? kenapa mereka menggunakan pakaian hitam? Kenapa mereka menbawa pedang, dll. Tapi kenapa Kujou-kun tidak bertanya?"

Hening sejenak. Aku memikirkan jawaban terbaik agar dia tidak curiga. "Karena, itu bukan urusanku." Jawabku singkat.

"Be..begitu ya" Jawabnya terbata-bata. Sepertinya agak kaget mendengar jawabanku. Kami melanjutkan proses penyembuhan yang dia lalukan ditemani keheningan. Aku memang bukan orang yang pintar mencari bahan perbincangan.

Mendadak sensasi hangat itu menghilang. Inoue terdiam. Aku membuka mata perlahan penasaran apa yang sedang terjadi. Aku melihat sekeliling. Tidak terjadi apa-apa. Aku mengamati wajahnya. Seperti agak terkejut, dan menegang.

" Ku..Kujou-kun?" tanyanya ragu, " Kenapa tidak bertanya bagaimana caraku menyembuhkanmu?"

Pertanyaan itu benar-benar telak mengenaiku. Aku tahu Inoue Orihime memiliki kekuatan istimewa, yang dapat menyembuhkan orang lain. Aku sudah tahu itu sejak awal, karena itu aku tidak mempertanyakannya. Aku sudah terbiasa.

Aku tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menghindar dari pertanyaan itu. Untungnya. bunyi pintu kamar yang terbuka menyelamatkanku. Kami menoleh bersama sama. Kurosaki dan shinigami lainnya , sepertinya sudah masuk ke gigai mereka masing masing.

"Inoue, bagaimana ?" Tanya Kuchiki Rukia.

"Eh? Su..sudah tidak apa-apa." Jawabnya ragu. Apa dia sudah curiga?

Aku bangun dan ternyata rasa pening yang sama masih terasa. Aku memegang kepalaku. Mengernyit kecil. Baru pertamakali pengobatan Inoue Orihime tidak berhasil.

Inoue berjalan mendekati kawanan shinigami itu dan berbisik. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dan juga tidak ingin tahu. Yang ada di pikiranku saat ini, hanya pulang, mandi dan tidur.

Matsumoto berjalan mendekatiku, berjongkok didepanku. "Siapa namamu?" Tanyanya pelan sambil tersenyum.

"Kujou Shouitaro." Jawabku sambil melihatnya. Tatapannya begitu lembut. Menyiratkan sesuatu.

"Shou-chan, maafya tadi kakak agak kasar. Soalnya, kamu sangat mirip dengan orang yang dulu kukenal. Namaku Rangiku Matsumoto."

"Tidak masalah."Kataku sambil memalingkan wajah. Entah sejak kapan aku jadi sensitive begini.

"Ayo kalau begitu Kujou." Aku mengikuti Kurosaki keluar dari rumah itu. Mengamati sekelilingku. Aku mengenali rumah ini. Rumah tempat semuanya berawal. Rumah tempat tinggal keluarga Kurosaki. Aku mengikutinya dengan seksama, tanpa suara, hingga ke sebuah ruangan gelap yang biasanya disebut garasi. "Kenapa kau ikut kemari? Kau tunggu di luar saja."

Aku menggeram pelan dan berjalan keluar rumah dengan perasaan agak marah. Akan tetapi perasaan itu cepat tergantikan dengan keadaan rumah yang tiba-tiba sepi. Semua Shinigami tadi sudah tidak ada. Mungkin mereka kembali ke tempat persembunyian mereka.

Suara geraman keras mengaum. Memecah keheningan sesaat yang begitu kunikmati. Sebuah motor balap besar keluar dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat didepanku. Aku memandanginya. Motor besar dengan merek terkenal terukir di badannya.

Aku memandangi motor itu dengan seksama. Dan tanpa sadar terdiam. "Kenapa melamun? Cepat Naik!" Ucapnya keras.

Aku naik ke atas motor tanpa berkata apa-apa dan perjalanan pulang pun ditemani keheningan panjang sampai Kurosaki menanyakan dimana rumahku.

"Jalan di depan belok, rumah pertama. Ada papan namanya. " Jawabku singkat.

"Ok!"

Motornya melaju semakin cepat, aku memper erat peganganku dan menutup mata. Tiba-tiba berhenti mendadak. Aku membuka mata. Ternyata sudah sampai di depan rumahku. Aku turun dari motornya. Dan berbalik, "Terima kasih."

Dia menaikkan kaca helmnya, "Apa perlu ku antar sampai di dalam?" Tanyanya.

" Tidak usah, juga tidak ada siapa-siapa."

"Oh.. Kalau begitu jaga dirimu baik-baik."

"Hn." Jawabku seadanya.

Aku masuk ke dalam rumah. Rumah yang tidak terlalu besar, tapi terasa sangat besar dan sepi untuk ditiggali oleh seorang anak berumur 9 tahun. Aku segera naik ke lantai 2 menuju kamarku. Menaruh barang barangku, dan bersiap untuk mandi.

Hari sudah larut ketika aku kembali ke kamar. Jam dinding yang tergantung di atas pintu menunjukkan pukul 9 malam. Jam yang sudah terlalu malam jika ingin makan malam, jadi sebaiknya ditunda dan dilanjutkan saat sarapan.

Junk ternyata sudah menunggu di atas tempat tidurku. Berbaring malas dengan gaya mendekap. Aku mengambilnya dan menghempaskannya.

"Shou-chan… jahat sekali!" katanya.

"Aku tidak ingin dikatai oleh pengecut yang meninggalkan majikannya dalam kesulitan." Jawabku tak acuh.

"Jangan begitu… Aku hanya mengikuti instingku. Jika ada bahaya ya, aku lari.. Bukannya malah mendekati sumber masalah."

"Terserah kau saja. Aku lelah." Aku berbaring dan memejamkan mataku. Mulai sekarang aku mengingatkan diriku, aku harus selau berbohong. Berbohong mengenai segalanya. Kekuatanku, ingatanku, keadaanku, dan terutama siapa diriku.

Pagi harinya aku terbangun, melakukan aktivitasku seperti biasa, tetapi kejadian setelahnya tidak seperti biasa.

Setibanya di sekolah, dua anak, laki-laki dan perempuan mendatangiku. Anak laki-laki itu sepertinya lebih tua dariku, rambutnya coklat, kulitnya agak terbakar dan bertubuh tinggi besar. Sedangkan yang perempuan berambut hitam sebahu, kulit putih langsat dan barusan, aku mengingat ingat kembali kalau dia teman sekelasku.

"Ikut kami." Kata yang laki-laki. Aku tidak mengacuhkannya. Ia menarik tanganku. "Ku bilang, ikut aku."

Aku menghempaskan tangannya. "Atas dasar apa aku harus ikut dengan mu?"

"Kami melihat apa yang lakukan kemarin. Kau melawan monster itu."

Tenggorokanku tercekat. Ada anak yang bisa melihat ke dalam kekkai buatanku! Siapa mereka? Untuk sementara aku harus menyimpan pertanyaan-pertanyaanku. Mereka menarik tanganku lagi, tetapi kali ini aku tidak melawan. Mengikuti kemana mereka akan membawaku.

Gomen ne semuannya..

Yang tadi itu, aku Cuma coba ngupdate, tenyata mau…

N' nie fic yang bener…

Oc, buwat yang nge review chapter yang lalu makaci, makaci, makaci banget.

Tanpa kalian cerita ini tidak akan berkembang.

Mohon kritik dan sarannya ya, agar fic ini menjadi lebih baik dan dapat memuaskan anda pembaca sekalian.

Terimakasih..

Dan kata-kata terakhir..

Mind to review?

.