A/N : Moshi-moshi, reader-san. Terima kasih ya karena reader-san masih mau menyisakan waktu buat membaca dan mengomentari fic Kuroki. Kali ini Kuroki akan menjelasan sifat dan watak Minana tentang mengendalikan emosi.

Mengendalikan emosi itu maksudnya bisa memanipulasi ekspresi dan emosinya. Bisa dibilang, Minana bisa mengubah emosinya untuk menipu lawan bicaranya. Misal, Minana bisa menunjukkan wajah ekspresi sedih untuk menarik simpati lawan bicaranya atau menunjukkan ekspresi takut agar musuhnya lengah dan bisa menyerang balik. Tapi, tidak semua orang bisa ditipu dengan cara seperti ini, misalnya Lucky dan Naruto. Minana juga bisa menahan amarahnya agar tidak mudah terpancing oleh omongan orang lain, kecuali dari Lucky.

Yaah, mungkin segini dulu penjelasan mengenai sifat dan watak Minana. Ok, silahkan membaca.

.

Rating: T

Genre: Adventure, Hurt/Comfort

Warning: OC, Death Character

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Main Chara: Uzumaki Minana (OC), Lucky (OC), Uzumaki Kushina, Namikaze Minato (awal muncul di chapter 4)

Pembuat fic: Kuroki

.

Cuplikan chapter sebelumnya:

Lucky dan Minana berhasil sampai di masa lalu. Setelah sampai di masa lalu, Lucky melakukan jurus mustahil untuk memindahkan 95% chakra Kyuubi yang di tubuh jinchuuriki di dunia ini ke dalam tubuh Minana. Setelah melakukan itu, tubuh Lucky menghilang atau bisa dibilang... mati. Beberapa jam setelah kematian Lucky, tiba-tiba muncul 2 ninja misterius yang membawa Minana pergi.


Chapter 3: Hal yang Harus Kulakukan Dimasa Lalu

TES… TES…

Tetesan air berjatuhan dari pipa-pipa saluran pembuangan. Tetesan air tersebut mengenai wajah gadis kecil berambut merah yang memakai pakaian serba hitam. Akibat tetesan air tersebut, tidur gadis kecil tersebut jadi terganggu. Perlahan-lahan mata gadis itu mulai terbuka, menunjukkan mata kiri yang berwarna biru dan mata kanan yang berwarna merah.

"Hmm... Dimana ini?" gumam gadis itu sambil mengucek-ngucek matanya.

-POV Minana-

Aku memperhatikan tempat dimana aku berada sekarang. Kalau diperhatikan, tempat ini terlihat seperti saluran pembuangan. Tapi, ini bukan saluran pembuangan di Konoha. Kemudian aku melihat kearah langit-langitnya, bermaksud untuk melihat keadaan di luar sana. Aneh... Kenapa aku tidak bisa melihat keluar sana? Seharusnya dengan mata iblis ini aku bisa melihat keluar. Tapi, yang kulihat hanya... langit-langit tempat ini. Apakah aku tidak berhasil ke masa lalu? Dan berakhir di tempat seperti ini? Apakah aku sudah mati? Kalau iya, kenapa di dunia kematian ada saluran pembuangan? Siapa yang BAK (Buang Air Kecil) atau BAS (Buang Air Sedang) (?).

GRAOOO! GRAOO!

Lamunanku terhenti setelah mendengar sebuah suara raungan yang berasal dari ujung lorong ini. Refleks, aku pun langsung bergegas ke sana. Setelah sampai di ujung lorong, mataku melebar karena ada sebuah kurungan yang sangat besar di tempat seperti ini.

-End of Minana POV-

"Waah, apa ini? Aku tidak tahu kalau di dunia kematian ada kurungan sebesar ini," kata Minana sambil memerhatikan kurungan itu.

"Kenapa kau selalu mengganggu tidurku, HAH?!" Terdengar sebuah suara dari dalam kurungan itu.

Beberapa detik kemudian, mulai terlihat makhluk yang ada di dalam kurungan tersebut. Makhluk tersebut terlihat seperti rubah yang memiliki ekor berjumlah 9.

"Hoi, ini pertama kalinya aku berada di tempat ini, Kurama-chan!" ujar Minana yang sedikit jengkel.

"Kau bukan Kushina. Siapa kau?"

"Memang siapa juga yang bilang aku Kushina. Oh iya, Kurama-chan, ini dimana ya? Apa aku sudah mati?" tanya Minana tanpa menghiraukan pertanyaan Kurama.

"Kau belum mati. Ini di alam bawah sadarmu," jawab Kurama.

'Jadi, aku berhasil pergi ke masa lalu. Kalau ini dialam bawah sadarku, berarti Kurama-chan disegel di dalam tubuhku dan orang yang bernama Kushina itu adalah Jinchuuriki di dunia ini. Tapi, siapa yang menyegel Kurama-chan di dalam tubuhku? Lucky, kah?' pikir Minana. "Kurama-chan, emangnya orang yang bernama Kushina itu siapa? Apakah dia selalu mengganggumu tidur?" tanya Minana seraya maju beberapa langkah mendekati Kurama.

"Dia itu bocah yang gampang emosi. Dia selalu mengganggu tidurku dengan ocehan-ocehan yang membuat kupingku panas. Hei! Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?! Dan kenapa kau menambah embel-embel '–chan' segala!" jawab dan tanya Kurama yang agak kesal.

"Aku tahu namamu karena aku dari masa depan. Aku tahu namamu karena kakakku selalu bilang `tidak akan kubiarkan kau mengambil Kurama`, begitulah," jelas Minana simpel pada Kurama.

Kurama tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan gadis kecil tersebut. Ia tahu... jurus yang bisa mengembalikan seseorang kemasa lalu hanya... jika kesembilan bijuu mengorbankan seluruh chakra mereka. Yang membuatnya heran... apa iya, para bijuu mau menolong seorang manusia untuk kembali ke masa lalu.

Lalu Kurama mencoba mencari keraguan yang ada pada Minana, tapi ia tidak bisa menemukan keraguan/kebohongan itu.

"Apa itu benar?" tanya Kurama memastikan.

"Aku sedang tidak punya alasan untuk berbohong sekarang ini. Lagi pula... Aku kesini untuk mengubah masa depan," jawab Minana.

"Apa kau kesini dengan bantuan para bijuu?" tanya Kurama lagi.

"Iya! Kenapa kau cerewet sekali, sih!" jawab Minana kesal.

Kurama hanya mengacuhkan apa yang dikatakan Minana barusan. Lalu Kurama mulai bertanya lagi. "Hoi, bocah, siapa namamu?"

"Uzumaki Minana," jawab Minana simpel.

"Heh! Lagi-lagi aku disegel di tubuh Uzumaki. Aku benar-benar benci dengan orang Uzumaki. Uzumaki hanya dipenuhi oleh orang-orang cerewet," gerutu Kurama.

Setelah mendengar hal itu, Minana langsung menghampiri Kurama. Sekarang, ia sudah berada di depan mata Kurama. Kurama sedikit kaget dengan apa yang ingin dilakukan Minana. Kemudian Kurama pun bertanya. "Hei, apa yang ingin kau lakukan?"

"Kau tahu Kurama-chan? Sepertinya hal pertama yang harus kulakukan di masa lalu adalah... menghilangkan kebencianmu itu," kata Minana sambil menunjukkan senyuman tulusnya.

"JANGAN BERCANDA! AKU INI ADALAH KYUUBI! MONSTER YANG DIPENUHI OLEH KEBENCIAN! TIDAK MUNGKIN BOCAH SEPERTIMU BISA MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU!" bentak Kurama yang kesal, mendengar perkataan Minana barusan.

"Oh ya? Kita lihat saja nanti, Kurama-chan. Aku pasti bisa menghilangkan kebencianmu itu. Yaah~ Walaupun aku juga tidak tahu bagaimana caranya," ucap Minana sambil berjalan menjauhi Kurama dan melambaikan tangannya.

Kurama hanya diam saja melihat Minana. Kurama terus memperhatikan gadis berambut merah yang terlihat seperti... kebingungan.

"Ano... Kurama-chan, bagaimana cara keluar dari tempat ini ya?" tanya Minana sambil nyengir gak karuan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Huh... Sudah kuduga. Dasar payah! Kau cukup konsentrasi saja," jawab Kurama yang mulai mencoba untuk tidur lagi.

"Konsentrasi?" gumam Minana sambil memegang dagunya seperti sedang berpikir.

Entah apa yang dilakukan Minana, tiba-tiba tubuhnya mulai menghilang.


Disuatu tempat, ada gadis kecil berambut merah yang sepertinya sedang tidur dan ditemani oleh seseorang yang memakai topi dengan lambang api.

"Hmmmm," gumam gadis itu.

Perlahan-lahan mata gadis kecil itu mulai terbuka. Menunjukkan warna mata kiri yang berwarna biru dan mata kanan yang berwarna merah. Hal pertama yang dilihat gadis itu adalah... langit-langit berwarna putih.

"Kau sudah sadar, gadis kecil?" tanya seseorang yang berada di samping Minana.

Sepertinya Minana tidak mendengar apa yang dikatakan orang yang disampingnya karena baru bangun tidur. Kemudian Minana mencoba duduk di kasurnya. Spontan, orang yang ada disamping Minana langsung membantu Minana. Setelah berhasil duduk, Minana mengucek-ngucek matanya untuk mengumpulkan nyawanya karena baru bangun tidur. Karena omongannya tidak dihiraukan, seseorang yang ada disamping Minana menegur Minana lagi.

"Ohayou, gadis kecil."

'Hah, gadis kecil?' pikir Minana kaget saat seseorang memanggilnya dengan sebutan 'gadis kecil'.

Minana langsung melihat tubuhnya. Matanya melebar saat melihat tubuhnya yang terlihat seperti anak berumur 7 tahun.

"Kau tidak apa-apa, gadis kecil?" tanya orang yang disamping Minana yang merasa sedikit khawatir melihat reaksi Minana.

Mendengar suara seseorang yang ada disampingnya, Minana langsung menoleh ke arah orang itu. Lagi-lagi Minana terkejut... saat melihat seseorang yang ada disampingnya ini.

"I-i-i-i-iya," jawab Minana gugup sekali.

"Kau tidak perlu takut. Kau aman disini," kata orang yang ada di samping Minana yang mencoba menenangkan Minana.

'Aku bukan takut karena ingin dibunuh seseorang, tapi aku benar-benar tidak menyangka akan melihatmu dalam versi muda, Kakek Hokage ke-3!' batin Minana.

"Nama paman Sarutobi Hiruzen. Paman adalah Hokage ke-3. Nama kamu siapa?" sapa dan tanya Hokage Ke-3.

'Paman, huh?Ah, lebih baik aku bertingkah seperti anak kecil yang sedang ketakutan. Agar kakek tidak bertanya hal yang macam-macam,' pikir Minana.

"U-U-U-Uzu...maki...Mi...nana. Umm... Hokage-sama, aku... ada... dimana?" jawab dan tanya Minana terbata-bata dengan ekspresi takut.

"Kau berada di Rumah Sakit Konoha…" jawab Hiruzen. "Begini Minana-chan, Kemarin 2 anggota anbu yang sedang berpatroli menemukanmu di hutan bagian barat Konoha. Kenapa kau bisa ada disana? Dan kenapa pakaianmu waktu itu terlihat seperti shinobi Konoha? Padahal, kau bukan shinobi Konoha," lanjut Hiruzen dengan nada serius.

Minana hanya diam saja. Agar Kakek Hokage tidak menginterogasinya lebih jauh lagi, Minana menunjukan ekspresi seorang anak yang ketakutan dan membuat badannya terlihat merinding.

Hokage yang melihat wajah ketakutan Minana tidak berani bertanya lagi tentang kenapa dia berada di hutan itu. Hiruzen hanya menyimpulkan kalau Minana sekarang ini benar-benar sedang trauma dengan apa yang sudah terjadi. Kemudian Hiruzen memeluk Minana agar dia tidak ketakutan lagi.

"Cup, cup, jangan takut. Paman tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu lagi," ujar Hiruzen yang masih memeluk Minana.

Minana hanya diam saja mendengarkan apa yang dikatakan Kakek Hokage. Sudah lama sekali dia tidak dipeluk seperti ini oleh orang yang sudah ia anggap seperti kakeknya. Setelah beberapa menit Hiruzen melepaskan pelukannya.

"Mulai hari ini kau boleh tinggal disini. Dengan keluarga Uzumaki yang lainnya," kata Hiruzen.

'Uzumaki yang lain?'

TOK! TOK! TOK!

Terdengar suara ketukan pintu dari kamar pasien Minana.

"Iya. Silahkan masuk," kata Hiruzen.

Perlahan-lahan pintu kamar pasien yang di tempati Minana mulai terbuka. Lalu mulai terlihat seorang gadis yang sebaya dengan Minana. Terlihat sangat mirip dengan Minana, hanya saja mata gadis itu berwarna coklat.

"Ah, hari ini kau datang lagi ya, Kushina-chan? Bagaimana sekolahmu?" sapa dan tanya Hiruzen pada gadis yang bernama Kushina.

"Seperti biasa," jawab Kushina sambil mendekati Hiruzen.

Kushina mulai memerhatikan seseorang yang sedang duduk di kasur pasien. Itu adalah anak yang selalu ia jenguk setiap sepulang sekolah. Lalu Kushina pun berjalan menghampiri Minana.

"Waah~ Akhirnya kau bangun juga," kata Kushina yang sudah berada di samping Minana.

"Ah, i-iya," jawab Minana gugup.

"Namaku Uzumaki Kushina. Namamu siapa?" Kushina memperkenalkan dirinya seraya menjulurkan tangannya seakan meminta Minana untuk menjabat tangannya.

"U-Uzumaki... Minana," jawab Minana seraya menjabat tangan Kushina. 'Sepertinya wajah kami sedikit mirip? Ah bukan. Lebih tepatnya, wajahnya mirip Naru-nii-chan,' batin Minana yang memerhatikan Kushina.

"Minana-chan juga dari klan Uzumaki ya. Tapi, kenapa warna bola matamu warna-warni begitu?"

Mendengar hal itu, Minana langsung menutup mata kanannya dan memalingkan wajahnya. Melihat apa yang dilakukan Minana, Kushina jadi merasa bersalah karena ucapannya.

"M-Maaf, Minana-chan, aku... menyinggung perasaanmu ya?" tanya Kushina yang benar-benar merasa bersalah.

Minana tidak menghiraukan perkataan Kushina dan masih menutup mata kanannya. Hiruzen yang melihat itu hanya diam saja... sebelum akhirnya mulai berbicara lagi. "Minana-chan... di tempat kau pingsan, kami menemukan gulungan yang tergeletak di dekat kakimu. Kami sudah membuka segel yang ada pada gulungan itu. Aku minta maaf karena sudah membaca isi gulungan itu, sepertinya gulungan itu sengaja ditinggalkan untukmu," ucap Hiruzen seraya memberikan gulungan hitam pada Minana.

Minana langsung mengambil gulungan hitam itu. Lalu mulai membuka ujung dari gulungan hitam itu. Kushina, yang terlihat sedikit penasaran dengan gulungan itu, langsung mendekatkan kepalanya agar bisa membaca isi surat itu juga. Minana yang melihat hal itu hanya membiarkannya saja lalu mulai membaca isi gulungan itu.

Minana-chan... I love you full... UWA HA HA HA HA HA HA HA!(A/N: Cara bacanya make gaya Mbah Surip)

"Ffu...ffu...ffu… AHAHAHAHAHAHAHA!" Kushina yang melihat isi surat itu tidak bisa menahan tawanya. "GYAHAHAHAHA! Apa itu? Surat cinta ya? HAHAHAHA!" lanjut Kushina yang masih tertawa karena membaca surat itu.

Minana yang membaca surat itu hanya bisa men-deathglare Lucky, karena masih sempat-sempatnya saja Lucky membuat hal konyol seperti ini. Minana yang melihat tingkah Kushina, langsung menatap tajam Kushina.

"Kenapa? Apa ada yang lucu?" deathglare Minana dan menatap tajam Kushina.

Kushina yang melihat tatapan Minana langsung menghentikan tawanya dan langsung menunduk.

"M-Maaf," gumam Kushina pelan, namun masih bisa di dengar Minana.

Hiruzen yang melihat hal itu langsung menyuruh Kushina duduk di dekatnya. Kushina pun langsung duduk di dekat Hiruzen. Setelah Kushina menjauh sedikit, Minana menggulung kembali gulungan itu. Lalu...

CRASSHH!

Tanpa memberi aba-aba, Minana menghantam gulungan itu ke dinding di dekatnya. Entah mengapa gulungan hitam yang di pegang Minana tiba-tiba terlihat retak, seperti ada es yang melindungi gulungan itu. Setelah es yang melindungi gulungan yang di pegang Minana menghilang, mulai terlihat sebuah gulungan yang terlihat sedikit lebih kecil dari yang sebelumnya di tangan Minana.

Mata Hiruzen melebar melihat fenomena barusan. Bukan karena Minana menghancurkan apa yang melindungi gulungan itu. Tapi, Hiruzen benar-benar tidak menyadari kalau gulungan itu masih dilindungi oleh suatu jurus. Seperti dugaan Hiruzen sebelumnya, tidak mungkin surat yang sampai di lindungi oleh fuinjutsu tingkat tinggi seperti itu hanya berisi kata-kata konyol.

Minana yang sudah menghancurkan pelindung es yang ada di gulungan itu langsung membaca gulungan tersebut.

Minana-chan... Kalau kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak bisa menolongmu lagi. Minana-chan, mungkin kau sudah tahu,tapi, aku akan tetap mengatakannya. Aku menyegel 95% chakra Kyuubi dalam tubuhmu dan 5% chakra Kyuubi tetap di tubuh jinchuuriki di dunia ini. Alasan pertama aku melakukannya adalah karena ingin melihat wajah kesal Madara atau Akatsuki.Lalu alasan keduaku adalah demi Naruto-kun. Soalnya, kalau ini di masa lalu saat kau berumur 7 tahun, dan chakra Kyuubi di dalam tubuh Naruto-kun hanya 5%, maka dia tidak akan diincar akatsuki. Dan kalau ini masa lalu saat Kushina-chan masih hidup, mungkin orangtuamu tidak akan mati karena penyerangan Kyuubi. Aku sengaja menyisakan 5% chakra Kyuubi pada jinchuuriki masa ini agar mereka tidak menyadari kalau aku memindahkan hampir seluruh chakra Kyuubi padamu. Tidak hanya itu, walaupun hanya 5%, kalau mereka terluka, mereka tetap akan disembuhkan oleh chakra Kyuubi. Jadi, kau tidak perlu khawatir kalau-kalau Naruto-kun terluka. Itupun kalau ini di masa saat Naruto-kun masih hidup.

'Heh, ternyata kebiasaanmu memancing emosi orang tidak pernah hilang, ya? Luck...' batin Minana saat membaca bagian surat itu.

Oh iya Minana-chan, tolong ingat ini. Misalnya kau berada di masa lalu saat kau berumur 7 tahun, kau jangan sampai bertemu dengan dirimu yang di masa lalu... karena mungkin aku yang ada di tubuhmu akan mencari info tentang dirimu. Kalau aku yang di masa lalu tahu kalau kau dari masa depan, mungkin masa depan akan berubah dari yang kita tahu.

Jika kau berada di masa lalu saat Kushina masih di Akademi, sebaiknya kau jangan menanggapinya atau acuhkan saja dia. Mungkin ini sangat kejam, tapi biarkan dia melewati masa sulit itu sendirian. Biarkan Minato saja yang membantunya. Kau tidak perlu membantunya. Dan kalau ini masa lalu saat Mito-sama yang menjadi jinchuuriki...Well, aku tidak tidak tahu karena aku tidak berpikir sampai disitu.

'Kau menyuruhku…? Ok,ok, baiklah.Aku akan melakukannya. Kau pasti punya alasan yang kuat, 'kan?' batin Minana.

Aku pernah diberitahu, katanya dia mulai jatuh cinta pada saat Minato menolongnya saat penculikan yang dilakukan shinobi Kumogakure. Aku tidak tahu kapan.

Saat membaca bagian yang baru ia baca, Minana terlihat seperti tidak mengerti. Lalu Minana melanjutkan bacaannya.

Minana-chan boleh aku minta tolong? Maukah kau melindungi Kushina untukku? Tapi, setelah Kushina sudah mulai berteman dengan Minato. Kau tahu maksudku, kan? Maaf, selalu menyusahkanmu, bahkan setelah aku mati. Aku sudah menyegel Kyuubi di dalam tubuhmu dan memintamu untuk menjauhi Kushina, ibumu. Tapi, tolong lakukanlah untukku, Minana-chan.

Mata Minana melebar saat membaca bagian surat ini. Namun, Minana masih bisa menahan ekspresinya.

'Hah! Kushina... ibuku?!' batin Minana saat membaca surat itu.

Sekali lagi aku benar-benar minta maaf ya, Minana-chan. Karena sudah menyusahkanmu.

'Ya, kau memang menyusahkanku. Dan lagi, kau tidak menepati janjimu. Kau bilang kau akan memberitahuku semuanya. Kau bilang kau akan selalu menemaniku. Kau bilang kau akan bersamaku sampai mati. Tapi... Hiks... Tapi, kau malah membuang nyawamu hanya karena alasan bodoh seperti itu. Dasar, Lucky bodoh! Bodoh!Bodoh!Bodoh! Hiks... Hiks...' rutuk Minana saat membaca bagian surat itu.

Air matapun mulai membasahi pipinya. Hiruzen yang melihat Minana menangis, ikut merasa iba. Minana sudah tidak bisa menahan kesedihannya. Padahal kesedihannya akan kematian Naruto belum sepenuhnya hilang dan sekarang ia pun harus kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang berharga baginya. Kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya dalam waktu yang hampir bersamaan, membuatnya kehilangan semangat hidup. Meskipun begitu, Minana terus melanjutkan membaca gulungan yang sengaja di tinggal Lucky.

Ah, satu hal lagi. Jangan sampai dirimu atau dirimu yang di masa lalu mati ya, Minana-chan. Lalu, jangan sampai identitasmu sebagai jinchuuriki Kyuubi diketahui oleh orang lain. Karena mungkin masa depan akan berubah dari yang kita tahu.Minana-chan... Kau jangan sedih karena kematianku. Minana yang kukenal bukanlah gadis yang cengeng, Minana yang kukenal adalah gadis yang kuat, tegar dalam menghadapi masalah. Jadilah Minana yang seperti itu. Jangan buat aku kecewa, Akai Chishio no Habanero Ni.

Setelah membaca bagian ini, Minana pun menghapus air mata yang membasahi pipinya dan mencoba menghilangkan kesedihan yang ia rasakan sekarang. Yah, walaupun tidak mungkin kalau kesedihannya akan hilang dalam sekejap, tapi setidaknya inilah yang bisa ia lakukan sekarang untuk Lucky dan Naruto. Kalau ia terus menerus sedih seperti ini, nanti Naruto juga akan ikut sedih dan Lucky pun akan kecewa padanya.

'Dasar bodoh! Padahal sudah mati, tapi masih aja cerewet menceramahiku! Iya, iya, aku tidak akan menangisi kematianmu! Kau puas, 'kan?!' Walaupun dalam hati Minana berkata kasar seperti itu, tapi ia sebenarnya... masih belum bisa menghilangkan kesedihannya.

Kemudian Minana menarik kertas gulungan itu. Siapa tahu masih ada hal yang masih tertulis disana. Dan ternyata memang masih ada.

P.S. Setelah kau membaca semua isi tulisan di sini, segera buang gulungan ini... Atau kau akan ikut membeku juga bersama gulungan ini dalam hitungan ketiga. Bersiap… 3…

Refleks, Minana langsung melempar gulungan itu ke arah pintu kamar pasien. Tiba-tiba gulungan itu langsung membeku dan hancur berkeping-keping.

'Kau…! Apa kau ingin membekukanku juga, hah?! Dasar!' umpat Minana.

"Kau tidak apa-apa, Minana-chan?" tanya Hiruzen khawatir karena gulungan tadi yang tiba-tiba membeku. "Lalu, apa isi surat itu?" lanjutnya.

Minana kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Hiruzen.

"Ah... Itu..." Minana mencoba berpikir, mencari alasan berbohong yang logis untuk isi gulungan itu.

"Kalau kau tidak ingin membicarakannya, tidak perlu kau katakan," ujar Hiruzen.

"A-Ah... Baiklah," gumam Minana pelan, namun masih bisa di dengar Hiruzen.

"Oh iya, Hokage-sama, apakah aku udah boleh keluar dari rumah sakit ini?" tanya Minana yang kali ini menunjukkan ekspresi anak kecil yang malu-malu bertanya.

"Hmm, tentu kau sudah boleh keluar. Mulai hari ini, kau akan tinggal bersama Kushina," ucap Hiruzen sambil menunjukkan senyum khasnya.

"Begitu ya," gumam Minana lalu melihat kearah Kushina.

'Kenapa dia harus tinggal denganku?! Awalnya aku memang senang karena ada anggota klan Uzumaki yang masih selamat! Tapi, setelah dia menatapku dengan tatapan yang penuh dengan kebencian itu, aku jadi tidak mau tinggal bersamanya!Apalagi sekarang, dia menatapku aneh seperti itu! Apa-apaan, sih, anak itu!' batin Kushina yang menatap tajam Minana.

Minana yang melihat ekspresi kebencian yang ada pada pancaran mata Kushina, hanya diam saja.

"Minana-chan, apa kau ingin menjadi ninja?" tanya Hiruzen tiba-tiba.

"Menjadi ninja?" tanya Minana yang menunjukkan ekspresi bingung.

"Ya, menjadi ninja. Agar kau bisa melindungi dirimu kalau kau berada dalam bahaya," ucap Hiruzen.

Minana diam sejenak mendengar tawaran Hiruzen. Tindakannya sekarang seolah berpikir untuk menerima tawaran tersebut atau tidak.

"Hmmm, kedengarannya menarik. Baiklah, aku mau," jawab Minana menunjukkan senyumannya. Tentu saja itu adalah senyum yang dibuat-buatnya.

"Kalau begitu, aku akan pergi ke Akademi dan mendaftarkanmu. Besok, kau langsung pergi saja ke Akademi pada pukul 8 dan temui orang yang ada di depan Akademi. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan," jelas Hiruzen seraya pergi meninggalkan Minana dan Kushina.

Minana hanya mengangguk saja. Melihat Hiruzen pergi, Kushina juga ikut-ikutan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun pada Minana. Minana hanya diam saja melihat kepergian Kushina, karena dia tahu alasan Kushina mulai membencinya.

Dan itu mungkin awal bagus agar ia bisa menjauhi Kushina. Walaupun Minana sedikit sedih karena ibunya membencinya. Yaahh, apapun itu. Sekarang, yang tersisa di ruangan itu hanya Minana seorang.

Kemudian Minana turun dari kasurnya dan mengambil pakaiannya yang ada di lemari. Melihat pakaiannya yang ada dilemari terlihat berlubang-lubang dan ukurannya sangat besar, Minana langsung membekukan baju serta syal miliknya itu dan menghancurkannya berkeping-keping. Setelah melakukan hal itu, Minana langsung menggigit jempolnya dan melakukan sebuah handseal. Setelah melakukan handseal, Minana langsung menaruh telapak tangannya kelantai dan...

BOOF!

Muncul sebuah gulungan ukuran sedang di depan Minana. Minana membuka gulungan itu. Ternyata gulungan itu menyegel semua pakaian yang dimiliki oleh Minana, dari pakaian ukuran anak-anak sampai ukuran orang dewasa. Minana memilih pakaian yang sesuai dengan ukuran badannya. Setelah menemukannya dia langsung memakainya dan menghilangkan/menyimpan gulungan itu kembali ke tempat semulanya.

Sekarang, Minana mengenakan kaos putih polos panjang dengan motif lambang klan Uzumaki di punggung dan di kedua bagian lengan atasnya, serta angka 9 berwarna merah yang ada di bagian dada kanannya lalu memakai celana chuunin berwarna hitam yang panjangnya sebetis dan memakai sandal ninja berwarna hitam serta memakai syal berwarna hitam polos. Setelah mengganti pakaiannya, Minana langsung pergi ke bagian check out di lantai satu rumah sakit Konoha. Setelah check out, Minana langsung berkeliling di Konoha.


KRIUKK KRIUKK

Sepertinya suara cacing yang ada di perut Minana mulai meminta makan. Karena ia merasa lapar, Minana mulai mencari tempat untuk makan, yaitu pergi ke tempat Ramen Ichiraku.

Minana berjalan pelan menuju ke tempat itu sambil memperhatikan tempat yang ia lewati. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Konoha yang ini agak berbeda dari Konoha yang ada di masa depan. Setelah berjalan sebentar, akhirnya Minana sampai di tempat biasanya Paman Teuchi menjual ramennya. Namun, Minana sangat terkejut, karena tempat yang biasa ia gunakan untuk menambah staminanya itu... ternyata belum ada di masa ini.

Merasa kecewa, Minana langsung mencari toko supermaket untuk membeli ramen cup. Minana sudah berada di depan supermaket yang dia cari dan langsung masuk ke supermaket tersebut.

"Selamat datang."

Terdengar suara seorang pegawai yang menyapa pelanggan yang mampir ke tokonya. Minana hanya mengacuhkannya saja dan langsung pergi ke tempat yang berisi ramen cup. Setelah berada di tempat itu Minana terdiam sebentar dan memerhatikan sekitarnya agar tidak orang yang akan melihat apa yang akan ia lakukan.

Setelah yakin tidak ada siapapun, Minana menggigit jempolnya dan melakukan sebuah handseal. Setelah melakukan handseal, tiba-tiba muncul dompet berbentuk katak dan langsung dimasukan dompet katak itu kesakunya. Minana memerhatikan tempat di sekitarnya lagi agar tidak ada orang yang curiga karena anak kecil yang belum bersekolah ninja sudah bisa melakukan jurus yang seharusnya baru bisa di kuasai bila sudah menjadi mid genin.

Kemudian, Minana mengambil ramen cup yang ada di depannya... lalu pergi ke bagian minuman. Setelah mengambil beberapa barang yang dibutuhkan, Minana pergi ke bagian kasir untuk membayar barang bawaannya. Sepertinya uang yang di zaman ini sama dengan dengan uang yang ada di masa depan.

"Terimakasih sudah berkunjung. Datang lagi ya," ucap pegawai yang ada di kasir kepada Minana.

Minana hanya mengacuhkannya saja. Setelah membayar, Minana pergi ke tempat yang agak sepi untuk memasak ramennya. Minana memutuskan untuk pergi ke tempat latihan pertama kakaknya untuk mengambil bel saat di tim 7.


Akhirnya Minana sampai di tempat itu. Minana memperhatikan seluruh tempat ini dan sepertinya tidak ada orang disekitar sini. Mungkin karena hari sudah mulai menjelang malam. Minana berjalan ke tepi sungai yang ada di dekat sini.

Setelah sampai, Minana mengeluarkan peralatan memasak air dari gulungan yang ia simpan di dimensi lain. Setelah mengeluarkannya, Minana mulai memasak air dengan air yang ada di sungai dan membuat api dengan jurus elemen api. Sambil menunggu air mendidih, Minana mulai membuka bungkus ramen dan memasukkan bumbu-bumbu ramennya. Setelah airnya mendidih, Minana langsung memasukkan airnya ke dalam cup ramennya.

Setelah itu, Minana menunggu sejenak dan memakan ramennya sampai habis dan meminum minuman yang ia beli tadi. Sudah merasa kenyang, Minana langsung bangun dan membereskannya. Setelah membereskannya Minana langsung pergi dari tempat itu dan langsung mencari sumber chakra yang dimiliki Kushina. Setelah menemukan chakra Kushina, Minana langsung pergi ke tempat Kushina dengan shunshin-nya.


-Uzumaki Mansion-

Minana akhirnya sampai di depan pintu rumah Kushina kemudian membuka pintu tersebut.

"Tadaima," ucap Minana seraya membuka pintu rumah.

Tidak ada sahutan balik dari orang yang tinggal di rumah ini. Tanpa memerdulikan hal itu, Minana pun beranjak menuju kamar mandi di rumah ini. Kemudian membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang mirip dengan milik Naruto. Hanya saja punya Minana warna dasarnya adalah hitam. Setelah mandi, Minana langsung pergi mencari kamarnya.

Sepertinya kamar milik Minana berada di sebelah kamar Kushina. Terlihat dari secarik kertas yang tertempel di depan pintu yang bertuliskan 'ini kamarmu'.

Minana langsung masuk ke kamarnya dan memerhatikan isi dari kamarnya tanpa menghidupkan lampu kamarnya. Walaupun kamarnya terlihat gelap, Minana tidak punya masalah dengan penglihatan di tempat gelap karena mata iblisnya. Yah, sebenarnya kamar ini juga tidak terlalu gelap karena ada sedikit cahaya bulan yang masuk dari jendela kamar Minana. Di kamarnya terdapat sebuah kasur ukuran sedang yang terletak di dekat jendela, lemari pakaian ukuran sedang yang letaknya berseberangan dengan kasur, dan beberapa loker kecil berjajar di dekat kasur dan lemari serta sebuah jam weker di dekat kasur.

Minana berjalan menghampiri kasurnya. Saat tiduran di kasur, Minana memerhatikan tembok yang membatasi kamarnya dengan kamar Kushina, mencoba melihat apa yang sedang dilakukan Kushina. Tentu saja dengan mata iblis yang ada pada mata kanannya, ia bisa melihat apa yang dilakukan Kushina. Sepertinya Kushina hanya tidur-tiduran dikasurnya dengan ekspresi kesal yang masih ada di wajahnya. Setelah melihat apa yang yang dilakukan orang yang berada di ruang sebelahnya, Minana langsung menutup matanya, mencoba untuk tidur. Tapi, sepertinya . . .

"Fuh. Walaupun aku menutup mataku, tetap aja tidak bisa tidur. Mata ini menyusahkanku saja," gerutu Minana.

.

.

Bersambung...


Menjawab beberapa pertanyaan reader-san

Umm, disini, jinchuuriki yang di masa lalu gak akan jadi lemah. Selagi ada chakra Kyuubi, walau hanya 5% dia gak apa-apa. Dan untuk pairing,Kuroki belum memikirkannya. Yaah, lihat aja nanti. Dan beberapa pertanyaan lainnya mungkin sudah terjawab di chapter ini.

A/N: Chapter inipun di edit juga. Tapi, tenang aja, tetap gak ngubah alurnya, kok. Oh iya, disini Minana dikirim 1 tahun setelah kedatangan Kushina di Konoha. Begitulah. Dan menurut reader-san gimana cerita ini? Bilang saja langsung. Kuroki nggak akan tersungging kok (yang bener 'tersinggung' Kuroki #plaakk). Tolong dikomen ya. Setidaknya dengan me-review, Kuroki bisa tahu kalau fic Kuroki itu dibaca oleh seseorang. Tidak sulit, kok, untuk mengetik beberapa huruf untuk me-review atau mengomentari. Mohon bantuannya ya. Dan maaf bila ada kata-kata yang salah. Terimakasih sudah membaca fic Kuroki. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.


Special Thanks for 4869fans-nikazemaru