–PERFECT SHAPE–
Main Cast : Byun Baekhyun , Park Chanyeol
Other Cast : Jung Soojung / Krystal, Kim Jongin, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Lu Han and other EXO's members. [Genderswitch for all uke]
Cuaca hari ini cukup cerah sehingga Baekhyun dapat duduk di bangku taman yang jaraknya tak jauh dari kantin. Matanya terfokus pada jendela transparan kantin yang menampilkan dua orang yang saling bergurau. Park Chanyeol dan Jung Krystal. Pasangan yang belakangan ini mendapat pujian juga dukungan. "Mereka berdua memang pantas bersama," gumamnya tanpa sadar.
Matanya belum terlepas dari pemandangan yang seolah mengiris hatinya itu. Hingga mata Chanyeol bertemu dengan matanya. Baekhyun mengalihkan tatapannya, ia meraih buku sketsanya dan menggoreskan pensilnya ke kertas putih itu. Bentuk persegi lagi.
"Hey pendek!" Baekhyun tetap menunduk kala sebuah panggilan menyapa indra pendengarannya. Sudah pasti itu Chanyeol karena panggilannya selalu dengan kata-kata memalukan.
Alih-alih pergi dari situ karena tak dapat jawaban, Chanyeol justru mendudukan dirinya di samping Baekhyun. "Persegi? Kau sedang sedih, eoh?" tanyanya. Baekhyun menoleh, menatap dalam mata Chanyeol. "Kau sedang sedih?" tanya Chanyeol, kali ini lebih lembut.
Memang benar adanya, Baekhyun selalu menggambar persegi saat suasana hatinya memburuk. "Mungkin," jawabnya lirih.
"Ada apa?" tanya Chanyeol, matanya menatap cemas Baekhyun yang memilih bungkam. Baekhyun menggeleng. "Ceritakan padaku, Baek," paksanya.
"Kenapa –" ucapnya lalu menarik nafas dalam-dalam guna mengurangi kegugupannya. "Kenapa kau ingin tahu?" tanyanya. Chanyeol terkejut mendapati jawaban ketus sahabatnya itu. "Sudahlah Yeol, aku tak apa-apa."
Chanyeol menggeleng samar. Lalu senyuman setipis benang yang membuat Baekhyun tidak melihatnya itu menghiasa bibir Chanyeol. "Kau bisa ceritakan padaku kapanpun kau ingin,"
Baekhyun mengangguk. Tangannya yang ia sembunyikan di samping tubuhnya gemetar meremas rok seragamnya. "Chanyeol." Itu bukan suara Baekhyun melainkan suara Krystal yang berdiri di depan keduanya.
"Aku harus pergi. Annyeong Chanyeol-ah, Krystal-ya." Baekhyun berlari menjauh dari pandangan Chanyeol dan Krystal. Setelah itu Krystal duduk di samping Chanyeol.
"Kau sudah sampaikan pada Baekhyun tentang itu kan?" tanya Krystal. Chanyeol mengangguk lemas. "Terima kasih Chanyeol-ah," ucap gadis itu dengan senyum merekah di kedua sudut bibirnya.
Perfect Shape
"Ck! Iya oppa aku sedang berjalan pulang ke rumah, jangan jadi manusia cerewet seperti itu!" ucap Baekhyun pada Kris melalui ponselnya.
Kris tertawa jahat di sebrang sana. "Aku mengkhawatirkanmu, bodoh. Baiklah, berhati-hatilah. Salam untuk Chanyeol, ya." ucap Kris. "Ya! Byun Baekhyun." Panggil Kris sekali lagi saat dirasa adik kesayangannya itu tak menjawab.
"A-apa? Chanyeol?" gugupnya.
"Iya, Park Chanyeol, kekasih idiotmu. Salam untuknya ya, kalian pulang bersama, kan?" tanya Kris lagi.
"Aku bukan kekasihnya," lirih Baekhyun sebelum menutup sambungan itu. "Karena dia sudah memiliki Krystal," gumamnya setelah tak ada lagi sambungan yang menghubungkannya dengan Kris.
Mengapa semua orang selalu mengungkit-ungkit Chanyeol dihadapannya?
Lagi-lagi kakinya berhenti di halte bus yang tak lain dari kemarin. Baekhyun duduk di kursi putih itu dengan tangan menggenggam ransel yang bertengger sempurna di pundaknya. Bus akan tiba sekitar sepuluh bahkan lima belas menit lagi.
Baekhyun melepas ranselnya, satu tangannya merogohisi ransel untuk mencari dimana buku sketsanya itu. "Ya Tuhan, dimana buku itu?" gerutunya kala tangannya tak kunjung menemukan buku tebal itu.
Baekhyun mulai panik. Bukunya tak juga ketemu walau ia telah mengobrak-abrik seluruh isi ranselnya. "Mungkin aku meninggalkannya di sekolah, aku harus mencarinya!"
Gadis itu memakai ranselnya kembali sebelum berlari balik arah ke sekolahnya lagi. Jarak halte bus dan sekolahnya lumayan jauh hingga ia harus berlari sebelum seseorang mengambil buku berharga itu.
Buku itu sungguh berharga karena berisi puluhan sketsa dengan gambar Park Chanyeol. Ya, Park Chanyeol. Ia akan membuat Chanyeol menjauhinya jika sahabatnya itu tahu ia menyimpan rasa lebih dari sahabat pada Chanyeol. "Ya Tuhan, tolong aku."
Hujan deras tiba-tiba mengguyur Seoul saat itu. Maka dengan sangat terpaksa Baekhyun mencari buku itu di tengah hujan. Ia melesat pergi ke kelasnya, dicarinya buku itu hingga sampai ke pelosok ruangan. "Dimana buku itu?!" Baekhyun memekik tertahan.
Ia mengingat sesuatu. Tadi pagi ia sempat melukis di taman sebelum ia beranjak ke perpustakaan. Baekhyun berlari menuju taman yang dipenuhi rumput basah itu. Kepalanya menunduk memastikan keberadaan buku sketsanya.
Baekhyun berjongkok, matanya menyipit melihat pensil gambarnya yang masih ada di bawah bangku taman. Namun buku sketsa itu tetap tidak ada. Baekhyun menyerah. "Seseorang telah mengambilnya dan akan melihatnya. Chanyeol mungkin akan membenciku esok," tangisannya pecah.
Baekhyun berlari kembali ke halte bus yang ternyata masih kosong itu. "Aku ketinggalan bus, lagi," gerutunya. "Mungkin nasibku akan terus seperti ini," Baekhyun tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.
Tiga puluh menit ia menunggu, akhirnya bus itupun datang. Baekhyun menghampirinya dengan sedikit tergopoh karena pergelangan kakinya yang sedikit terkilir tadi.
Perfect Shape
Baekhyun mengurung dirinya di kamar hingga jam delapan malam. Matanya membengkak karena tangis yang tak henti-henti. Di luar hujan sudah reda, hanya gemercik air akibat hujan yang turun dari atap-atap rumah.
TING. Bunyi bel rumahnay mengalihkan perhatian Baekhyun. Dengan piyama dan rambut yang sama acak-acakannya juga pipi dan hidung yang memerah, Baekhyun membuka pintu itu. Siapa yang berani bertamu semalam ini–
"Chanyeol?"
"Oh hei Baek," sapa lelaki jangkung itu. "Kau.. – menangis?" tanya Chanyeol saat melihat penampilan Baekhyun dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Baekhyun mengusap pipinya. "A-aku terjatuh di halte tadi, sial." Bohongnya yang berhasil membuat sahabatnya ini nampak cemas.
"Kau terluka?" tanya Chanyeol. Matanya lagi-lagi melirik seluruh tubuh Baekhyun membuat perempuan itu sedikit risih.
"Tidak, tapi kurasa tulang ekorku akan patah," kau memang pembohong ulung, Byun Baekhyun. "Jadi.. – untuk apa kau disini?" tanya Baekhyun.
"Oh ya, ini milikmu kan?" Chanyeol menyerahkan sesuatu yang membuat mata Baekhyun sedikit membesar. Buku sketsanya. Yang merupakan satu-satunya alasan mengapa ia bisa menangis hingga semengerikan ini.
"Dari mana kau dapatkan itu?!" Baekhyun merebut buku itu dari tangan Chanyeol. "Kau.. – tidak membukanya, kan?"
Chanyeol mengedikan bahunya. "Kau meninggalkannya ditaman dan kurasa tidak."
"Bagus," Baekhyun benar-benar merasa lega sekarang.
"Sudah tidak ada perlu lagi, kan? Kau bisa pulang." Ucap Baekhyun datar.
"Yea kau benar, sampai jumpa.."
Baekhyun menutup pintu rumahnya dengan terburu-buru. Matanya memanas lagi melihat tak ada lagi gelang yang pernah ia beri pada Chanyeol bulan lalu di tangan kekar Chanyeol. Padahal lelaki itu selalu memakainya dulu. Ya, sebelum lelaki itu mempunyai Krystal.
Perfect Shape
Seperti hari minggu sebelumnya, Baekhyun membeli kebutuhan pangannya untuk seminggu penuh ke supermarket.
Susu stroberi, yoghurt stroberi, puding stroberi, ramen, sayur dan buah-buahan, segala berbau stroberi dan segala berbau pisang kesukaan –"Aku lupa, untuk apa aku membeli susu pisang. Chanyeol tak akan mungkin berkunjung bahkan menginap ke rumahku lagi," dengan itu ia menaruh kembali segala berbau pisang yang sebelumnya telah masuk ke keranjang belanjaannya.
Setelah itu ia merasa bodoh telah menghadirkan kembali bayang-bayang Chanyeol diotaknya.
Baekhyun berjalan pulang menuju rumahnya yang tak jauh dari supermarket itu sendiri. Matanya menatap tak suka taman bermain anak-anak disamping supermarket itu, itu semakin mengingatkannya pada Chanyeol yang suka meledeknya seperti anak kecil.
Dunia selalu bisa menghubungkan semua tentang dirinya pada Chanyeol. Selalu.
TO BE CONTINUE
Jangan lupa reviewnya guys! Makasi yang udah nyempetin baca, fav, follow, bahkan review ff ini. See ya next chapter, ANNYEONG!
