Sebuket mawar hitam... mungkin suatu mimpi buruk.
Tapi bagaimana kalau itu menyimpan sesuatu yang lebih baik di baliknya?
. . .
A Bouquet of Flower
.
Bleach, everything related aren't mine. They're Tite Kubo's
I just own the plot—warning! crack-ish, weird-ish! =_=
.
Part 3
. . .
"Gelap..." Momo berusaha membuka pandangannya—hitam sekali sekelilingnya. Tangannya berusaha menggapai-gapai, mungkin ada objek yang bisa ia buat untuk berpegang.
Ia tetap meraba, namun tidak bisa juga ditemukan satupun pegangan. Momo merasa langkahnya memberat, seiring gelap yang tak kunjung tertembus cahaya.
"Ini—dimana? Tolong, siapapun tolong aku—"
Ia merintih sendiri, gelap adalah suatu keadaan yang menakutkan baginya. Membutakan, kesepian yang sangat.
"Tolong..." bisiknya lagi.
Momo merasa kakinya membentur sesuatu, hingga ia jatuh. Perih ia rasakan di bagian yang terantuk tadi. Mungkin saja berdarah, tapi itu bukan hal utama. Yang penting sekarang—adakah cara untuk keluar dari sini?
"Hitsugaya-kun—" lirih ia panggil nama itu, dengan secuil harapan akan ada keajaiban.
"To—" ia berusaha berteriak, tapi kerongkongannya serasa tak sampai untuk mewujudkannya. Suaranya habis ditengah-tengah.
"Siapapun..." bisik saja yang bisa ia keluarkan.
Momo memejamkan matanya, semoga saja setelah satu kedipan panjang ini ia bisa menemukan cahaya.
Dzing!
Momo buru-buru membuka matanya.
Benar saja, ada kilasan cahaya yang lewat, samar, namun ia bisa menangkapnya dengan baik.
"Siapa itu? Tolong bawa aku keluar dari sini. Tolong," suara Momo bergetar. Sekalian berdoa kalau kali ini bukanlah penjebak yang datang.
Cahay putih yang samar itu sekelebat lewat di kirinya, lantas berhenti tepat di depannya bersimpuh.
"Kau—"
Butuh beberapa detik hingga Momo bisa mengenali sosok itu. Hanya seperti bayangan, putih kelabu. Kalau seksama diperhatikan, seperti tembus pandang.
"Rasanya, kau..."
Pemuda yang begitu ia tahu itu tidak berkata apapun, lantas hanya menyerahkan sebuah... buket bunga?
Momo memperhatikan kalau itu adalah sekumpulan mawar hitam yang disatukan dengan pita hitam. Ia mengangkat kepalanya lagi, dan menatap pemuda itu.
Sang pemuda tidak balas menatapnya, hanya berbalik dan kemudian meninggalkannya perlahan.
"Ulquiorra Schiffer..." gumam Momo. Meski terpanggil, bayangan itu tidak datang kembali, ia terus saja melayang, menjauh.
Makhluk yang pernah menjadi musuh bebuyutan pihak dewa kematian. Yang telah terbunuh dengan sukses di tangan si shinigami pengganti.
Secercah cahaya yang lebih besar dan lebih terang lagi menyerang, terlalu silau hingga Momo harus menutup mata.
"AAAAH!"
Momo bangkit duduk. Ternyata—hanya mimpi. Nafasnya tak beraturan, irama turun-naik yang tidak seimbang. Ia melihat sekeliling. Masih terang, agak sore.
Ada yang tergenggam di tangannya.
... Mawar hitam tadi? Tetap utuh satu ikatan.
"A—apa maksudnya ini?" tanga Momo mulai begetar memegangnya.
Mawar hitam—berarti kematian, kan?
.
xxx
.
xxx
.
Momo tidak bisa tidur kali ini, meski selarut-larutnya malam telah lewat. Ia masih terngiang akan mimpi buruknya tadi siang.
Perlahan ia bangkit dari tempat tidur, keluar mungkin lebih baik. Menyusur jalan dan menikmati malam di sepanjang Soul Society dipikirnya merupakan suatu pilihan yang bagus.
Setapak demi setapak jalan ia langkahi. Matanya tidak diam, sesekali berputar menyusur langit malam.
Teringat, terpikir, terbayang masa lalu. Sama seperti ini, namun dengan suasanya yang berbeda. Tidak sepi, tidak juga ia melangkah sendiri.
Toushiro Hitsugaya.
Tapi sepertinya itu mustahil.
Ia dan Hitsugaya—dulu sahabat kecil. Terlalu akrab menimbulkan sesuatu yang lain daripada sekedar persahabatan. Tapi sayangnya ia terlalu terlambat untuk tahu kata hatinya.
Dulu Hitsugaya terlampau protektif padanya, melindunginya dengan teguh. Bahkan rela untuk membunuh Aizen jika terjadi sesuatu padanya.
Dan dirinya terlalu bodoh untuk tahu itu, dan berkeras hati memilih untuk memihak Aizen. Tapi itu bukanlah pilihan yang baik. Itu hanya mencelakakan dirinya sendiri.
Ia baru menyadari, baru memahami arti di balik semua perlindungan Hitsugaya itu. Bukan di waktu yang tepat, ketika pemuda itu sudah mulai menjauh darinya—terbawa oleh seorang pendatang baru.
Kurosaki Karin. Gadis itu telah habis masa hidupnya di dunia nyata, dan masuk ke Soul Society beberapa waktu yang lalu. Dan sesuai tebakan saja, Hitsugaya mendekat padanya. Mengajarkannya bagaimana menjadi shinigami, termasuk melindungi si tomboy itu dalam kegiatan 'belajar'nya.
Pelan-pelan, kata: "Aku akan melindungimu, Hinamori!" hilang. Tidak ada lagi, sekarang.
Kalau ditanya soal 'apakah ia merindukannya'... mungkin jawabannya akan terkesan hiperbolis. Sangat, sangat. Amat sangat. Terlalu merindukan itu semua.
"Hinamori-san!"
Suara yang dikenalinya sebagai orang yang barusa mencuat di kepalanya. Karin disana.
"Karin-chan?"
Karin—membetulkan simpul yang mengikat rambutnya. Langkahnya dipercepat, hingga sejajar dengan Momo.
"Tidak bisa tidur juga ya, Karin-chan?" Momo berusaha menyertakan senyumnya ketika bertanya.
Ia tidak benci gadis ini, samasekali tidak. Kepribadiannya yang santai membuatnya sedikit belajar. Hanya saja—ketika ingat bagaimana gadis ini datang dan merebut waktunya bersama Hitsugaya, ia sedikit kecewa.
Tapi ia berusaha menyembunyikannya. Bukan hal yang baik menunjukkan kebencian hanya karena alasan sepele itu, kan?
"Iya. Banyak yang kupikirkan."
"Hee? Apa? Ada masalahkah?" Momo menatapnya. Jelas ia perhatikan garis-garis wajah yang mencerminkan kecuekan itu.
"Eh, hng, tidak kook—hehe~"
"Memikirkan seseorang, ya?"
"Ah, Hinamori-san... Hehe~"
Itu adalah jawaban ya. Lihat saja dari wajahnya. Meski hanya ada satu cahaya dari atas sana, Momo bisa tahu ada rasa malu yang ditampilkan wajah itu.
"Katakan sajalah."
"Aku boleh bercerita?"
"Silahkan saja. Daripada sepi, ayo, cerita saja."
"Hngg—Toushiro-kun, hehe. Aku hanya terpikirkan dia terus," Karin terlihat menunduk.
Dapat diduga. Momo mendesah diam-diam, takut kalau sedihnya akan terdengar oleh orang yang sedang berbahagia.
"Kau menyukainya, ya?"
Karin tidak bisa menjawabnya. Serta-merta Momo menyambungnya dengan gelak tawa. Palsu.
Momo tidak mau menyambung pembicaraan lagi, serupa saja dengan Karin. Mereka masing-masing sibuk sendiri dengan apa yang sedang berputar di otak mereka saja.
Hawa yang begitu dingin sekilas lewat. Momo memegang tengkuknya, seraya memperhatikan sekeliling. Ada perasaan tidak baik.
"Hinamori-san," panggil Karin. Sepertinya ia juga merasakan hal yang sama, dengan langkah yang mendekat pada Momo.
Momo meraih tangan Karin, mereka sama-sama memandang waspada.
Ada yang berkelebat. Momo makin menajamkan matanya, berusaha mencari celah dimana ia benar-benar bisa menangkap pandang pada makhluk itu.
"Rooarrrh!"
"Hinamori-san!"
Momo menoleh, pada arah yang ditunjuk Karin dengan gemetar telunjuknya. Ada hollow besar disana. Momo buru-buru mengeluarkan zanpakutou dari pinggangnya. Bersiap dengan kuda-kudanya.
"Graaawwhhh!" hollow itu mendekat, terbang dengan kedua sayapnya. Sosoknya besar dan pucat, dengan lelehan liur yang menjijikkan. Tangannya yang penuh duri dan cakar menggapai-gapai ke arah mereka berdua.
Momo melompat, membawa serta Karin di tangannya.
"Kau!" Momo berusaha menangkis, gerak makhluk itu cepat sekali. Sepersepuluh detik saja terlambat, mereka berdua bisa terhempas akan kuku-kukunya yang tajam itu.
"Rawwh! Groarrh!" sang hollow mengamuk, ia mengejar Momo dan Karin tanpa ampunan dan toleransi waktu samasekali. Belum sempat Momo menggerakkan pedangnya, hollow itu selalu melawan dengan selisih waktu yang tipis, dan selalu nyaris menghantam mereka.
"Isssh!" Momo mengayunkan pedangnya. Tepat, terkena punggung monster itu.
Ah, sial. Pedang itu tidak bisa dicabut, terlalu dalam, namum sepertinya tidak berefek melumpuhkan.
"Hinamori-san, awas!" Karin berusaha menarik Momo yang berada di depannya, ketika monster tak berotak itu menghempaskan ekor panjangnya.
"Aaaa—" Momo terlambar bereaksi, dan ia terlempar. Tersisalah Karin yang berhadapan langsung dengan sang monster.
"Karin-chan—" disela rintihan, Momo masih sempat memanggilnya. Ia mencoba untuk bangun, tapi sepertinya separuh bagian tubuhnya remuk. Ekor makhluk itu terlalu besar.
Whussss~
Serbuan dingin lewat, dan butiran-butiran es yang halus menghambur.
"Hi—tsugaya-kun?"
"Toushiro-kun?"
"Karin, kau tidak apa-apa?"
Bibir Momo bergetar. Hanya Karin-kah?
"Ti—tidak. Tapi, Hinamori-san yang..." Karin menoleh padanya, hingga baru Hitsugaya mengikuti.
"Tahanlah. Akan kubereskan ini dulu," Hitsugaya dengan nada datarnya berkata pada Momo.
Hollow itu sepertinya tahu suasana. Ia melompat-lompat, seraya mengepakkan sayapnya. Seolah memperolok, ia terbang bolak-balik antara Momo dan Karin.
"Mati kau!" Hitsugaya bangkit, dengan sayap esnya pula. Sementara Karin berlari menuju Momo.
Hollow itu memancing. Ia mendekat pada kedua gadis, membuat Hitsugaya juga mengarah ke sana. Tapi dengan gerak cepat ia menuju balik punggung Hitsugaya, dan menembakkan sesuatu.
"Argh!"
Ekor es Hitsugaya cacat sedikit. Cepat ia berbalik untuk segera berhadapan kembali dengan sang monster.
Si hollow segera menembak lagi. Hitsugaya sudah waspada dengan ujung pedangnya.
Zzziing!
Tapi sepertinya arahan cahaya itu tidak padanya. Tapi pada dua orang yang ada di bawah sana. Mata Hitsugaya terbuka lebar.
Diameter cahaya itu kecil saja, paling-paling hanya mengenai satu orang. Dan pertanyaannya, siapa yang harus ditarik lebih dahulu? Ia sudah terlalu terlambat untuk menyelamatkan secara bergantian. Cahaya itu sudah semakin mendekat.
"Hitsugaya-kun—"
Druar!
Hitsugaya menaruh Karin di tanah.
"Toushiro-kun! Hinamori-san bagaimana? Dia—"
"Kau, bawa dia ke divisi 4. Aku akan bereskan ini," Hitsugaya dengan dinginnya menjawab. Ia tak mempedulikan cengkeraman yang kuat dari Karin.
"Bawa sekarang!"
"Ba—baiklah..."
Karin menghampiri tempat yang masih mengepulkan asap seperti sisa ledakan itu.
Tubuh Hinamori—menghitam. Matanya terbuka dan kosong, kaku sekali tubuhnya.
"Hinamori-san..."
.
xxx
.
"Ini—dimana?"
Gelap lagi. Sama seperti mimpi itu. Hingga satu lagi bayangan yang lewat.
"Hei, jangan bercanda. Siapa itu?"
Momo merasakan ada yang jatuh pada pangkuannya. Dirabanya untuk memastikan benda apa itu.
Ada—seperti pita. Dan kelopak-kelopak yang banyak, berlapis-lapis.
"Dimana ini? Kau, tolonglah aku. Aku tahu kau di sana."
Bayang-bayang itu akhirnya menampakkan diri dengan berhenti. Mata emerald yang samar tampak itu dingin sekali.
"... Ulquiorra Schiffer? Hei, kau lagi? Bangunkan aku kalau ternyata ini mimpi!"
"Ini bukan yang waktu itu, Momo Hinamori."
"... Maksudmu?"
Momo berusaha bergerak. Tapi tubuhnya berasa ringan sekali. Apa yang ia pangku tadi jatuh begitu saja tanpa ia sadari.
"Ini bukan mimpi. Ini kenyataan."
"Ke—kenyataan?"
"Selamat datang di sini."
Ulquiorra berjalan—bukan, mungkin tepatnya melayang—menjauh. Menyisakan tanda tanya untuk Momo.
"Hei, tunggu! Apa maksudmu? Ulquiorra-san!"
Tidak. Bayangan itu tidak menunjukkan secuilpun kepeduliannya. Menyisakan gema saja untuk Momo—bukan jawaban.
Momo beringsut, kini semuanya menjadi gelap lagi, benar-benar membutakan.
"Aku—takut... Ini... dimana?" Momo ingin memeluk sesuatu, namun tidak ada satupun yang bisa mewujudkannya.
Benar-benar sepi.
.
xxx
.
Ulquiorra menjentikkan jemarinya, di depan Momo ia berlutut. Tak sampai satu detik terhitung, mata gadis—yang air matanya telah mengering—itu membuka.
"K—kau? Tolong katakan dimana ini! Aku ingin kembali! Bangunkan aku!"
"Kau tidak tertidur. Inilah duniamu sekarang."
"Duniaku? Tidak! Bagaimana bisa? Kembalikan aku ke Soul society!"
"Asal kau tahu, kau akan tetap di sini. Hanya kita berdua."
"Ki—kita? Katakan padaku, ini tempat apa?"
Ulquiorra memalingkan wajahnya. Tatapannya tetap kosong, memperhatikan kehampaan di depannya.
"Rohmu tersesat. Ini adalah tempat diantara Soul Society dan Hueco Mundo. Bukan dalam lorong penghubung itu, tapi suatu dimensi saat rohmu tidak bisa memasuki Hueco Mundo kembali atau ketika akan bereinkarnasi. Kalian sebagai shinigami, jika mati maka akan bereinkarnasi kembali, dan kami sebagai modifikasi hollow akan kembali ke Hueco Mundo sebagai roh."
"Jadi..."
"Kau gagal melewati fase reinkarnasi."
"Bagaimana bisa?" Momo menggigit bibirnya dengan kuat. Ini bukan hal yang baik, pikirnya.
"Itu suatu kebetulan yang buruk."
Momo mundur, tapi ada tembok yang menahannya. Ketika ia raba, tembok itu keras dan lembab.
"Tidak adakah cara kembali? Aku ingin kembali..." ucapan Momo mulai bergetar. Dengan sedikit cahaya dari dirinya. Ulquiorra menyadari gadis itu mulai menangis.
"Sejauh aku tinggal di sini, aku berpikir..."
"Apa itu? Katakan!" Momo mengulurkan tangannya, ingin ia mengguncang pundak Ulquiorra, tapi tak kunjung bisa digapainya.
"Lupakan."
"Ke—kenapa?"
Ulquiorra bangkit, dengan tanpa menjawab apapun, ia meninggalkan Momo lagi.
"Ulquiorra-san! Ulquiorra-san!"
Momo memekik, tapi menjadi kemauan untuk Ulquiorra menoleh padanya. Gadis itu hanya bisa menekukkan lututnya, menangis di sana.
"Hitsugaya-kun... tolong aku..."
.
"Berhentilah menangis."
Momo mengangkat kepalanya. Ulquiorra kembali lagi padanya, setelah air matanya nyaris ia keringkan karena menangis.
"Aku takut..."
Momo perhatikan Ulquiorra tampak duduk di sampingnya. Tak ada sepatah kata pun hingga Momo yang memulainya.
"Benar-benar tidak bisa kembali?"
"... Kau ingin kembali dan menyakiti hatimu di sana?"
Momo tertegun. Ah, iya nyaris melupakan mengapa ia berada di sini.
Hollow. Karin. Hitsugaya. Dan ia terkena serangan monster terbang itu ketika Hitsugaya memutuskan menolong Karin terlebih dahulu.
... Ia terbuang?
Tetes mutiara bening matanya kembali jatuh, nanar kosong pada matanya. "Hitsugaya-kun..."
Ulquiorra tetap diam. Ia membiarkan Momo untuk terus berpikir—dan membiarkannya menangis tanpa menyekakan air mata itu.
Momo terus memutar pikirannya, berusaha mencari hiburan untuk meyakinkan dirinya kalau Hitsugaya melakukan itu bukan karena kesengajaan.
Tapi kalau ditilik lagi, ia sedari awal terlihat lebih peduli pada Karin. Jelas ia akan menyelamatkan gadis itu terlebih dahulu. Salah siapa?
Yang jelas, ia akan menyalahkan dirinya terlebih dahulu. Siapa yang mengindahkan perlindungan mati-matian terhadap dirinya di masa lalu? Ini karma.
"Pikirkan itu."
.
xxx
.
Ini... hari kedua mungkin?
Momo tidak bisa melihat apapun, kalau Ulquiorra tidak datang padanya. Dan itu sudah terhitung lebih dari satu hari.
"Hitsugaya-kun..." ucapnya berat. Pikirannya masih menimbang-nimbang.
Hidup dalam kegelapan, namun damai, atau hidup dalam dunianya sebelumnya dengan hati yang sakit? Melihat Karin, ia merasa trauma. Terlebih jika gadis itu bersama Hitsugaya.
Sakit karena penyesalan itu lebih berat dari apapun—baginya.
"Kau bisa kembali, kalau panglima tertinggi Soul Society mengerahkan kemampuannya untuk merusak dimensi ini."
"Ha?" Momo mundur sedikit karena terkejut, Ulquiorra kembali.
"Mereka mengetahui apa yang terjadi. Mereka akan bersiap."
"Jadi—"
"Keputusanmu."
Momo memandang sekeliling—yang tidak lebih daripada kegelapan dan samar-samar semata.
"Aku bisa menghentikan mereka dengan caraku."
"Caramu?"
"Masuk ke dalam mimpi mereka. Mengaturnya lewat sana tidak sulit."
Mimpi? Ah, benar. Momo mengingatnya. Sebuket bunga mawar yang itu, pertanda semua ini, lewat sana diberikan.
Momo sekali lagi berpikir. Semuanya ia putar lagi, berusaha mendewasakan pikirannya untuk keputusan ini.
"Tidak."
Momo bergerak, berdiri. Berusaha 'menjangkau' bayangan itu, meski percuma.
"Biarkan aku di sini. Bagiku menerima bunga mawar hitam lebih baik daripada menanti perlindungan dari jurus bunga es Hitsugaya-kun lagi—itu mustahil."
Ulquiorra membuka matanya lebar. secara tak sadar tangannya juga menjangkau 'tangan' Momo.
Momo tersenyum. "Melihat orang lain yang tidak lagi peduli pada kita lebih berat daripada hidup sendiri namun dengan ketenangan seperti ini. Meskipun gelap."
Sesaat, gadis itu memejamkan matanya. "Bantu aku, temani aku di sini, ya?"
Ulquiorra turut menutup pandangannya. Kata mengiyakan hanya ia simpan dalam hatinya.
Ingin saling menyentuh, tetap tidak bisa dalam keadaan tanpa jasad seperti itu. Tapi itu lebih baik, daripada berjasad dan berusaha menyentuh tapi Momo tidak dihiraukan.
...
.
part 3: end.
.
...
gosh. kenapa jadi gini? oke, maaf, saya ngga tau lagi harus bagaimana. ini dulunya 'challenge' dari umma oliv dan chika. but, yeah. becomes this weird.
maaf atas typo atau apalah atau keanehan gitu, ya. ini sudah malam, gak bisa koreksi/beta-ing. gomenasai... m(_ _ ")m
anyway, thankies! :D
