Kris X Chanyeol

.

.

Do not copy-paste or repost because this story is from my own imagination. I just add names for fill the casts, EXO is belong to their own self.

Close the tab if you don't like it.

Warning! These is YAOI and some sexual contents for some chapters.

.

Benar-benar tidak dianjurkan untuk yang merasa 'belum' cukup umur karena...

There's some sex scenes in some chapters.

Hope you like it~

.

.


Chapter 3

Chanyeol sedikit terkejut dengan sapaan laki-laki di sebelahnya. Tetapi akhirnya ia tersenyum menanggapi, "Untukmu Chanyeol."

Chanyeol mengernyit, "No, thank you."

"Ayolah, aku sudah susah payah. Kau tahu, mesin minuman itu payah." Chanyeol tertawa saat mendengarnya, tetapi ia hanya mengulur tangan untuk menerima. Pemuda di depannya tersenyum juga dan duduk di sebelah Chanyeol. "Aku tidak tahu kau sudah lama di rumah sakit ini, hyung."

Chanyeol hampir tersedak dengan acara menelan sodanya, "Hey, pelan-pelan." Pemuda itu mendadak merasa bersalah. Setelah reda Chanyeol hanya menjawab, "Tidak apa-apa Jongin." Setidaknya agar Jongin tidak terlalu merasa terbebani.

Chanyeol meletakkan kaleng itu di kursi kosong di sisi kanan, kemudian mengarahkan pandangannya pada sisi kiri—tempat Jongin berada. "Ya, setidaknya untuk dua tahun terakhir ini."

Jongin mengernyit, "Tetapi paru-parumu bagaimana?"

Chanyeol menatap aneh kearahnya, "Kau lihat," ia menunjuk cannula di hidungnya, "Aku sekarat dan baik-baik saja."

Jongin tertawa dengan keras, "Sial hyung, jangan membuatku tertawa." Chanyeol menegur Jongin dengan tawanya yang mengerikan, tetapi dirinya ikut tertawa juga setelahnya.

"Kau sudah lama di Kanada?"

"Tidak," Jongin meneguk soda orange-nya perlahan— "Aku baru tahun ini pindah, umur 20 tahun yang tidak mudah. Aku harus melanjutkan studi. Tetapi aku malah kena usus buntu begini." Jelasnya panjang lebar. Dan Chanyeol merasa bingung karena tidak merasa menyuruhnya untuk mendetailkan semuanya. Jongin itu aneh. Sedangkan anak yang tengah ia pikirkan malah menepuk-nepuk perut dengan wajah yang di manis-maniskan, "Aku belum buang angin."

"Jesus, Jongin! Itu menjijikan!" Chanyeol tertawa keras, lorong terasa sangat sepi dengan hanya keberadaan mereka berdua siang ini. Jongin selalu seperti itu. Jongin selalu bisa membuatnya tertawa walaupun mereka tengah bertanding basket di tengah lapangan saat sma. Anak ini benar-benar menggelikan. Chanyeol merasa ikut jadi aneh karena akrab dengan adik kelas yang unik semacam Jongin.

Jam-jam siang yang menyenangkan, Chanyeol menghabiskan waktunya dengan berbicara banyak bersama Jongin. Ia merasa dirinya yang lama kembali, dan bertemu teman yang sama berisiknya sangat membantu.

Chanyeol hanya tidak menyadari seseorang yang tengah berdiri di meja administrasi tengah menatap kearahnya dan Jongin. Kris mengepalkan tangannya keras.

.

.

Chanyeol merasa aneh dengan Jongin, anak ini hanya habis operasi usus buntu, kan? Bukan terkena pneumonia mendadak seperti dirinya. Tetapi Jongin sudah dua minggu di rumah sakit. Oh, Chanyeol tidak mau terlalu memikirkannya.

Chanyeol duduk di meja kantin pegawai rumah sakit seperti biasa. Menolak jatah pasien dengan meminta bagian makanan perawat. Dan kali ini semakin ramai dengan adanya Jongin. "Kau tidak berubah, hyung."

Jongin ikut duduk dan berhadapan dengan Chanyeol. Di temani daging lezat seperti malam-malam biasanya, "Apanya?" Chanyeol menaikkan sumpitnya bingung. "Maksudku, kau tetap pembangkang sejati dan keren."

Chanyeol hampir menyemburkan makanannya, "Sial kau Jongin." Ia menelan dagingnya lalu tertawa, kemudian mengontrol dirinya sendiri—Chanyeol masih punya malu. Jongin meredakan tawanya juga, ia kembali menyantap makanan rumah sakit yang paling enak yang pernah ada.

"Ini enak sekali, hyung."

"Itulah kenapa aku selalu membuang jatah makanan pasienku. Buburnya seperti tidak diberi garam, hanya air. Itu mengerikan." Kali ini Jongin tertawa lebih dulu. Chanyeol tidak memungkiri dua minggunya benar-benar ramai dengan adanya Jongin bersamanya. Mereka itu tidak terpisahkan, okay? Itu sudah sangat jelas jika di tanyakan kepada setiap anak didik di sma mereka terutama angkatan di bawah mereka. Tetapi Chanyeol terpaksa terpisah dari Jongin karena dirinya harus lulus terlebih dahulu.

"Kau masih lama di rumah sakit Jongin?"

Jongin mendongak, "Tentu saja."

Chanyeol mengerutkan keningnya karena kebingungan, "Ususmu sudah tidak apa-apa kan?"

"Tentu. Tetapi aku masih ingin lebih lama disini. Ini membuatku nyaman."

Chanyeol hanya tersenyum seadanya untuk Jongin dan kembali pada kegiatannya menyantap daging. Chanyeol merasa apa yang Jongin katakan terselip beberapa privasi yang tidak seharusnya ia tahu dan tanyakan lebih jauh. Ya, Chanyeol tidak menyadarinya.

Jongin tersenyum dan melirik kearah Chanyeol diam-diam.

.

.

Chanyeol duduk di taman bersama Jongin, lagi. Mereka tengah berbagi gurauan, dan Jongin yang berbicara paling banyak. Chanyeol memegangi perutnya, "Sial Jongin perutku sakit!" ia memegangi perut juga kedua pipinya bergantian.

"Pipiku kram."

Jongin yang tertawa paling kencang, "Nanti kalau aku kena usus buntu juga bagaimana?"

Jongin terbahak mendengar apa yang Chanyeol katakan, "Kau berlebihan, hyung."

Setelah sesi yang menyenangkan, akhirnya mereka berdua sama-sama diam. Tetapi kemudian Jongin angkat suara terlebih dahulu. "Hyung, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Chanyeol menoleh. Merasakan perubahan raut wajah pemuda yang lebih muda dan helaan nafas berat dirinya merasa ini akan menjadi serius. Tetapi Chanyeol hanya diam dan mengangguk. Jongin selalu terbuka padanya, kan? Jongin selalu bercerita apapun padanya termasuk masalah pribadinya.

"Hyung..."

"Iya?"

"Aku menyu—tidak, aku—"

Chanyeol mengerutkan keningnya, "Apa Jongin? Katakan saja." Ia melembutkan suaranya. Agar Jongin tidak usah sungkan karena mereka sudah biasa seperti ini.

Tetapi Chanyeol merasakan kejanggalan, dirinya mendapati Jongin mengulurkan tangan dan menggenggam jemarinya yang jauh lebih kurus di bandingkan saat sma. Jongin mendekatkan wajahnya sedikit, "Aku mencintaimu, hyung."

Chanyeol membulatkan matanya sedikit, "Apa?" ia mengucap dengan nada tidak percaya. Jongin? Menyatakan cinta padanya? Apakah ini serius?

Namun sebelum semuanya terjawab, Jongin sudah terlebih dulu maju dan menempelkan bibirnya pada Chanyeol. Mereka benar-benar terlihat seperti sepasang gay yang menggelikan. Yang benar saja, Ya Tuhan...

Chanyeol tidak tahu harus bagaimana saat Jongin melumat-lumat kecil bibirnya, badannya lebih kurus sehingga Jongin sudah memindahkan tangannya sepenuhnya untuk memeluk punggung Chanyeol. Semuanya. Sial, Chanyeol tidak bisa bernafas. Tetapi Chanyeol tidak mau melepaskannya.

Rasanya dunia ini milik mereka berdua saja.

Dan semua itu di renggut saat Chanyeol merasakan pergerakan lain menarik lengannya kasar. Ciuman mereka terlepas, Chanyeol sudah berjalan terseret-seret. Dan ia melihat Kris, di depannya. Itu tangan Kris.

.

.

Chanyeol tidak dapat mencerna semuanya. Tiba-tiba saja ia sudah tiba diruang Kris. Ya, ruangan tidur Kris di rumah sakit saat pria itu terlalu lelah untuk sekedar pulang ke rumah. Kris mencabut infus Chanyeol dengan tidak berperasaan.

"Sakit hyung!" Chanyeol berteriak. Sedikit darah mengalir di atas nadinya.

Kris kali ini keterlaluan menurut Chanyeol. Karena menarik cannulanya, lalu duduk di samping Chanyeol dan langsung memakan bibirnya kasar. Okay, kali ini Chanyeol tidak menikmatinya, ia ingin melepaskannya dan dirinya sungguh-sungguh tidak bisa bernafas!

Chanyeol memukul-mukul dada Kris keras, dan Kris melepaskan bibirnya seperti barang tidak berguna. Sial, bibirnya bisa lecet.

"Kau ini apa-apaan?!"

"Kau yang apa-apaan hyung?!" Chanyeol balas berteriak karena kesal. Ia mengusap-usap bibirnya, Kris tertawa mengejek. "Apa? Kau tidak menyukainya? Kau lebih suka orang itu yang melakukannya, huh?!"

Chanyeol baru melihat Kris yang seperti ini, tetapi Chanyeol terlalu lelah untuk peduli lagi. Kenapa Kris berkata seperti itu? "Sejak kapan kau mulai mengurusi urusan orang lain, huh?" Chanyeol terlalu lelah untuk berteriak, ia memasang cannulanya kembali. Paru-parunya hampir benar-benar tidak berfungsi tadi.

Kris mendecih, "Aku bisa melakukan ciuman yang lebih baik daripada yang orang itu lakukan!" serunya sebal. Dirinya benar-benar kacau. Tetapi Chanyeol tidak mengerti, dirinya benar-benar tidak mau tahu apapun tentang Kris Wu lagi.

Nafas Chanyeol masih terengah-engah, "Kau ini bicara apa hyung? Memangnya apa hubungannya dengan diriku?"

Kris mengusap kasar wajahnya karena merasa frustasi sendiri, "Jangan dekat-dekat dengan dirinya!"

"Memangnya kenapa?" Chanyeol masih mengontrol nafasnya.

"Kau tidak mengerti Chanyeol!"

"Kau yang tidak mengerti hyung!" Chanyeol balik membentak Kris lagi. Kali ini air mata sudah turun dan membasahi wajahnya sendiri, perasaan Kris yang mengeras mendadak lunak. "Aku ini gay, aku ini sering mengganggu saat-saat santaimu, aku terlalu cepat mengartikan semua perhatianmu yang hanya sebatas dokter-pasien itu adalah sesuatu untukku. Tidakkah kau mengerti?"

Chanyeol mengusap hidungnya yang memerah, ia takut lebih kesulitan bernafas dengan kondisi seperti itu. "Aku memanggilmu hyung, bukan dr. Wu karena aku menganggapmu sebagai seseorang untukku. Dan kau dengan mudahnya bilang kalau aku ini membicarakan apa—kau mempermainkan perasaanku."

"..."

"Kalau memang kau tidak suka padaku, kenapa kau harus repot-repot melepaskanku dari Jongin dan menyeretku kesini hanya untuk bilang kau bisa melakukan ciuman itu dengan lebih baik. Aku tahu kau bisa melakukannya dengan baik, semua orang bisa. Kenapa kau bersikap seperti ini?"

"..."

"Kau sering memarahiku karena mengganggumu, kenapa kau harus repot-repot menarikku kembali kepadamu? Aku sudah terlalu lelah dengan sikapmu, aku memilih dr. Smith untuk menjauhimu... Kenapa kau lakukan ini lagi?!"

"Chanyeol..."

"Kau membuat seolah-olah pada akhirnya aku akan kembali padamu, padahal jelas-jelas kau tidak menganggapku sebagai seseorang-mu. Aku ini hanya pasienmu yang sekarat. Aku bahkan sulit untuk bernafas hyung!" Chanyeol dengan kedua matanya yang seperti itu, membuat Kris berkali-kali lipat merasakan sesuatu mengetuk-ketuk hatinya. Bukan, ini bukan iba.

"Chanyeol aku—"

"Bukan penyakit ini yang membuatku ingin mati hyung. Tetapi ini karena dirimu! Kau membuat segala hal yang secara tidak langsung manis yang kau lakukan itu untuk menjadi suatu hal pokok yang harus kupikirkan sepanjang hari, membuatku merona dan jantung tanpa kontrol saat berdekatan denganmu... Tetapi semua itu hanya terjadi padaku! Kau tidak memikirkanku di setiap malam-malam yang ada, kau tidak merasakan detak jantung yang sama! Kau tidak menyukaiku!"

"Chanyeol!" Satu bentakan, dan Chanyeol menghentikan semua ucapannya. Kris memegangi pundaknya agar anak itu tidak berpaling darinya. Chanyeol menunduk dengan ringisan di setiap rasa pedih yang ia rasakan. Kris tidak berkata banyak. Kris langsung mencium bibirnya. Hanya menempelkan saja. Chanyeol menangis dalam ciuman itu.

Kris menuntunnya, ia melepaskan jas putihnya dan melemparkan ke lantai. Lalu mengangkat tubuh Chanyeol hingga terduduk dengan ringkih di atas tubuhnya. "Aku merasakan kekhawatiran yang amat sangat padamu, aku selalu memikirkan apa kau menjaga kesehatan dan pola makanmu dengan baik."

Chanyeol berpegangan dengan pundak Kris dan dirinya masih diam. Air mata tidak bisa berhenti mengalir. Kris melepaskan pakaian pasien berbahan tipis yang Chanyeol kenakan hingga tersisa bagian bawahnya saja. Chanyeol sudah topless di atasnya. Kris menatap Chanyeol yang masih menunduk dan enggan untuk menatapnya.

"Aku selalu merasakan takut tentang bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu, lebih kepada suatu pemikiran yang buruk. Bukan karena aku takut karena kau mempunyai pneumonia, aku hanya takut kau terluka." Kris melepaskan atasannya sendiri. Ia mengusap air mata Chanyeol setelah itu, menangkup wajah anak itu hingga menatap netranya. Kedua mata Chanyeol sangat merah.

"Aku selalu sebal ketika kau menggangguku, bukan berarti aku tidak suka. Kau selalu tertawa dan memberikan senyuman itu hanya untukku, dan aku menyadari saat kau mendiamkanku... Aku merasa kehilangan. Aku kehilangan Chanyeol-ku."

"..."

Chanyeol membiarkan Kris melepaskan celana mereka berdua, masih dengan posisi yang sama. "Aku merasa panas saat melihat kau dengan orang lain. Apa itu? Aku merasa cemburu Chanyeol. Aku merasa kau hanya harus bersamaku karena kau milikku." Kris tersenyum dan mengusap air mata Chanyeol lagi. Mereka sudah dalam posisi telanjang.

"Aku baru sadar, kalau saja kau tidak mengungkapkan semuanya dan mengacuhkanku... Aku tidak akan tahu kalau ternyata aku sudah mencintaimu. Jauh sebelum kau menyatakannya." Kris mengecup bibir Chanyeol. Chanyeol memejamkan matanya.

"Aku mencintaimu, Park Chanyeol."

Setelah itu Kris melanjutkannya. Melumati bibir Chanyeol, meraba setiap inci kulitnya yang terasa lembut walaupun dingin. Menggenggam jemari yang semakin kurus itu, mengusak rambut Chanyeol hingga berantakkan dan menarik tengkuknya agar lebih merapat. Kemudian ia menyusup pada tiap jengkal di kulit leher Chanyeol hingga pundak, menciptakan bercak-bercak merah keunguan dan membuat anak itu mendesah lirih dalam tangisnya.

"Kau hanya milikku Chanyeol."

"..."

Mereka melakukannya. Chanyeol menjerit sakit saat milik Kris masuk walaupun perlahan, ia merasakan kalau dirinya hampir tidak bisa bernafas.

"Hyungh..."

"Breathe Chanyeol..."

"Ahh..."

Kris berpacu pada ritme yang sama, ia tidak ingin kepuasan. Dirinya hanya ingin merapat dengan Chanyeol lebih dalam lagi. Chanyeol merasakan semua sentuhan Kris, dan rasanya sangat sulit untuk mengontrol nafas karena kondisi paru-parunya yang seperti itu. Kris memeluk punggung Chanyeol secara keseluruhan, Chanyeol memegangi pundak itu dan sesekali mencengkram jika merasakan prostatnya yang ditusuk-tusuk.

"Ahh.. hyungh... Kris hyungh... ahhhh!"

"Chanyeol... hhh...hhh.."

Mereka hampir sampai, dan Chanyeol menjadi orang pertama yang berteriak kencang karena orgasmenya. Kris menyusul sambil memeluk Chanyeol.

Keduanya terengah, Chanyeol membenarkan posisi cannula nya. Kris membaringkan Chanyeol diatas dadanya dan memeluk Chanyeol.

.

.

.

To Be Continued—

.

.

Or End?

.

.


Well, karena ff yang lain belum jadi.. so, eonni publish chapter 3 ff ini aja. Muehehe '-' Jangan pada baper...


Thanks To:

[XOXO KimCloud] [ceretbruh] [azzuradeva] [OH SEKYUNG] [bublegum] [JongOdult] [PlayerJEJ] [RarasAsti] [winter park chanChan] [retnoajeng19] [XiuNiiChan] [parkchu] [AprialianyArdeta] [sayakanoicinoe] [nadine] [oktaviarita rosita] [PurpleGyu] [BibiGembalaSapi] [miyuk] [Fetty EXO-L] [egatoti] [KaiNieris] [Chanbrakadabra] [cosmojewel] [Baby Crong] [wafel's] [Kim Chan Min] [Wufanxing] [Guest] [yeollyana] [tyasWufan] [ling-ling pandabear] [HyuieYunnie] [Guest]


Wanna give me some reviews again?