Disebuah ruang yang gelap tanpa ada sinar matahari menembus ruangan tersebut, yang ada hanyalah gelap malam dan ditemani oleh bulan sabit. Zero masih dalam keadaan tertidur pulas, padahal disamping itu ada sesosok Brunette yang berpakaian kemeja hitam polos sedang menunggu Zeronya untuk bangun. Wajah manis Zero tidak pernah hilang dari ingatan Kaname saat beberapa tahun lalu. Tangan kanan Kaname meraih poni milik Zero dan membenarkannya agar dia bisa melihat wajah manisnya.

"Cepat bangun, Zero." bisik Kaname lembut, dan mulai meninggalkan Zero.

Dilorong yang juga amat gelap namun mewah, Kaname berjalan menuju ruangannya. Didalam benaknya dia selalu memikirkan Zero. Selama beberapa tahun dia kehilangan Zero dan sekarang dia pasti sangat membenci Kaname karena kejadian itu.

Tapi bukan Kaname yang mengenal menyerah, dia akan menjelaskannya pada Zero itu semua pada saat Zero sudah bisa membuka hatinya untuk Kaname. Selain itu, Zero juga akan bersedih jika Kaname menceritakan itu semua.

'Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Zero. Apalagi pergi dariku.' Benak Kaname.

Kaname sekarang sudah berada di dalam kantornya juga sebagai kamarnya. Dia duduk di meja kantornya dan melihat beberapa lembar kertas berasal dari Dewan Vampire.

Semenjak orang tua Kaname dan Yuki meninggal, Dewan Vampire memperlakukan Kaname dan Yuki layaknya raja. Kaname hanya menerima sambutan tersebut, dia yakin suatu saat dia akan menjadi pangeran dari seluruh vampire. Dan juga adiknya, Yuki. Kaname akan menjaga Yuki sampai dia bisa hidup mandiri. Kaname sangat mencintai Yuki sebagai adiknya sendiri.

Yuki yang begitu ceria, baik, sopan dan juga manis selalu menghibur Kaname jika dia dalam kegelisahan. Yuki juga yang membuat Kaname bertahan untuk menghadapi sikap Dewan Vampire yang bisa dibilang paksa.

Kaname tersenyum setelah menggambarkan betapa beruntungnya dia memiliki Yuki, tapi sekarang dia punya Zero. Zero yang selama ini dia cari, Zero yang selalu ada dalam mimpinya, Zero yang selalu dia bayangkan. Namun, sekarang dia sudah tidak perlu mencarinya, karena dia sudah menemukannya. Kaname sangat senang dengan kehadiran malaikat silvernya.

Tok..tok..

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kaname akan Zero. Kaname kemudian memasang wajah kesal dan dingin kepada orang yang mengetuk pintu itu.

"Masuk." ucap Kaname.

Saat pintu terbuka Yuki muncul dengan malu-malu kepada Kaname. Wajah Yuki begitu manis dan mata bulatnya membuat dia begitu lucu.

"Ada apa, Yuki?"tanya Kaname lembut, tidak lupa Kaname memberikan senyuman ramahnya.

"Eum..Kaname Nii-san, apakah manusia yang kau bawa kemari itu, orang yang selama ini Nii-san cari?"tanya Yuki. Mungkin yang dimaksud oleh Yuki adalah Zero yang Kaname bawa kemari. Dengan anggukan Kaname,dia pun menghampiri Yuki yang berdiri didekat pintu.

"Kau jangan mengganggunya, Yuki. Dia masih sangat sensitif pada kita. Jadilah gadis baik, Yuki."ucap Kaname tersenyum sambil mengusap rambut halus Yuki.

Yuki dengan senang menganggukkan kepala dan membalikkan badan. Sebelum membuka knop pintu. Yuki tidaklupa mengucapkan 'selamat tidur' pada Kaname, Kaname juga membalas dengan 'selamat tidur juga' sebelum Yuki menutup pintu.

Sekarang tinggal Kaname yang sendirian didalam kamarnya, dia sangat bosan dengan pekerjaannya dan lebih memilih untuk melihat bulan yang kini sabit, Kaname menatap tajam kearah langit yang gelap, awan hitam menutupi sinar bulan.

"Zero." bisik Kaname.

Tidak ada pikiran lain di kepala Kaname selain Zero, sebesar itukah cinta Kaname kepada Zero?

Dilain sisi Zero yang sudah lama tertidur sekejap bangun dan masih merasakan sakit melanda disekujur tubuhnya. Tangan Zero terus memegangi keningnya yang terasa seperti dipukul-pukul itu.

'Tempat apa ini? Dimana ini? Siapa yang membawaku kemari? Kenapa tidak ada siapa-siapa disini?' benak Zero terus berkutik.

Kemudian dia dapat merasakan aura vampire dimana-mana? Zero paling tidak suka dengan aura menjijikan itu. Karena tidak tahan, dengan paksa Zero bangkit dari tempat tidur besarnya dan menuju pintu. Tubuhnya masih sangat sakit dan luka dilengannya juga masih basah.

Dengan hati-hati Zero tidak menyakiti dirinya sendiri, dia berjalan menelusuri lorong-lorong gelap. Lalu, muncullah pikiran jernih Zero.

'Apa aku berada di istana para vampire? Banyak aura berkeliaran disini.' pikir Zero langsung merinding, dan segera mencari jalan keluar. Dia tahu kalau nyawanya sekarang masih dalam bahaya besar, karena dia manusia sendiri yang dikelilingi puluhan vampire.

"Ugh."keluh Zero yang merasakan luka lengannya mulai terbuka dan darah mulai membasahi lengan bajunya. Zero tau darahnya akan mengundang para vampire disini.

Dengan secepatnya Zero berlari mencari pintu keluar. Namun,tidak ada pintu yang mengarahkan untuk keluar dari rumah ini. Dia tidak ingin mati disini dan dimakan oleh monster itu.

Zero saat itu tidak tahu dimana Bloody Rosenya, terakhir dia pakai adalah saat menembak level E sebelumnya. Akhirya Zero menyerah dan memilih untuk bersandar di tembok. Banyak darah yang kelua, namun aneh tidak ada satupun vampire yang datang menghampiri Zero.

Beberapa menit Zero beristirahat, terdengar suara sepatu mendekatinya. Zero terbangun dan mulai mundur beberapa langkah menjauhi suara sepatu itu. Dia yakin kalau suara sepatu itu tidak lain adalah vampire.

Karena tidak melihat belakang Zero tidak sengaja menjatuhkan subuah vas kaca dan membuat suara begitu keras. Kemudian suara sepatu itu datang mendekat dan hampir sampai. Tubuh Zero semakin melemah karena banyak darah yang dikeluarkan dari lengan tangannya.

"Ternyata kau." kata Yuki.

Zero hanya menatap datar tanpa mengatakan apa-apa, saat Yuki mulai mendekatkan dirinya kepada Zero, Zero selalu menghindar.

"Jangan takut, aku tidak akan menggigitmu. Aku akan mengantarmu kembali ke kamarmu." ucap Yuki tersenyum ramah.

Pada saat tangan Yuki ingin meraih tangan Zero, mencoba untuk menuntunnya, namun dihempas oleh Zero.

"Pergi vampire. Katakan dimana pintu keluarnya?"tanya Zero masih sulit untuk berucap.

Yuki yang hanya memandang sedih, diam tidak ingin menyakitinya lebih. Sebab, jika sampai dia menyakiti Zero, Kaname Nii-san akan marah kepadanya. Selain itu, Yuki juga dilarang untuk menunjukkan pintu keluar kepada Zero. Karena suatu saat dia akan kabur dari rumahnya.

"Kenapa kau ingin pergi?" tanya Yuki.

"Aku tidak tahan disini. Ugh-!" jawab Zero, yang kemudian dia merasakan sakit lebih parah dari sebelumnya. Yuki tidak tinggal diam, dia langsung memapah Zero menuju kamarnya, tidak ada rasa lelah untuk membawa Zero karena dia adalah vampire atau bisa dibilang pureblood.

Setelah membawa Zero ke tempat tidurnya kembali, dia segera memanggil Kaname untuk mengurusnya. Karena Yuki tahu kalau Kaname sangat suka untuk mengurus Zero tercintanya.

Dengan cepatnya Kaname datang menghampiri Yuki yang sedari tadi menunggu Kaname datang. Yuki pada saat itu berada di depan kamar Zero, dia tidak ingin menyakiti Zero, maka dia memilih untuk membawa Nii-san nya datang.

"Yuki, ada apa dengan Zero? Kenapa kau belum tidur?" tanya Kaname.

"Nii-san, lukanya terbuka lagi. Itu sebabnya aku terbangun, bau darahnya menggodaku." jawab Yuki, jari-jarinya menyentuh bibirnya. Kaname menatap Yuki tajam.

"Apa kau mencoba mencicipi darahnya, Yuki?"tanya Kaname lagi.

"Ti-tidak, Nii-san. Karena aku tahu jika aku menyakiti Zero, kau akan marah."jawab Yuki, merasa dirinya bersalah dan menundukkan kepalanya. Kaname akhirnya mengelus rambut Yuki sambil tersenyum tenang.

"Yuki, pergi tidur sekarang. Aku akan urus dia."ucap Kaname terenyum sampai akhirnya Yuki pergi ke kamarnya sendiri.

Baru saja dia ingin menyentuh knop pintu kamar Zero, dia mendengar erangan dari dalam. Dia tahu kalau suara itu suara Zero. Kaname membuka pintunya dan segera menhampiri Zero yang terus memegangi lengannya. Kaname mencoba menenangkan Zero, namun yang ia dapat hanyalah penolakan kasar dari Zero.

"Pergi! Vampire brengsek!" teriak Zero menjauh dari sosok Kaname.

Kaname memasang wajah sedih, kemudian dia berusaha untuk menenangkan Zero.

"Kiryu-kun. Biar kulihat lukamu. Aku akan mengobatinya."ucap Kaname pelan, sambil mendekatkan dirinya pada Zero yang sudah bergetar tubuhnya.

Saat Kaname mendekatkan dirinya pada Zero, Zero tidak menghindar lagi. Zero menatap tajam kearah Kaname dan waspada jika Kaname secara tiba-tiba menyergapnya.

Dengan mengambil lengan Zero yang terluka. Kaname merobek lengan baju Zero dan melihat-lihat lukanya. Mata merah Kaname menyala-nyala, apakah karena darah Zero yang menggiurkan. Tidak heran saat dia sedang dikantor menghirup aroma darah yang lezat. Tapi kemudian Kaname mengurung niatnya dan menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan luka Zero. Mata Zero tertutup rapat merasakan akan datang rasa sakit. Sedikit demi sedikit lukanya menutup dan tidak ada darah yang keluar, bersih seperti semula.

Kedua mata Zero terbuka, dia tidak merasakan rasa sakit apapun. Kemudian dia melihat lengannya dan lukanya menghilang. Lalu,dia menatap Kaname, kenapa bagi Zero wajah Kaname terlihat tidak asing. Tapi dia tidak tahu Kaname.

"Kau pasti lapar, aku akan membawakan makanan untukmu."ucap Kaname, sembari meninggalkan Zero yang diam.

Beberapa menit kemudian, Kaname datang membawakan makanan dan minuman untuk Zero. Saat itu, Zero tidak berpikir untuk melarikan diri, semenjak melihat Kaname. Si Brunette duduk dipinggir tempat tidur dia tersenyum hangat kepada Zero, namun yang disenyumi hanya membuang muka.

"Makanlah, setelah makan. Kau boleh bicara."ucap Kaname menyodorkan seporsi bubur hangat dan juga buah anggur juga tidak lupa dengan segelas air mineral.

Inilah saatnya Kaname untuk mendekatkan dirinya pada Zero, Zero yang sekarang sangat keras kepala dan mudah dibalik itu mungkin Zero bisa diluluhkan. Kaname melihat Zero tidak menyentuh makanannya melainkan hanya ditatap. Dia berpikir apakah makanan ini beracun atau tidak.

"Makan, aku tidak meracuni makananmu."ucap Kaname menjawab pertanyaan dibenak Zero.

Akhirnya Zero melahap makanannya dan sampai akhirnya tidak tersisa makanannya. Zero mungkin sangat lapar, dia sudah beberapa hari tidak makan. Kemudian setelah selesai makan dia menatap kembali Kaname. Dia benar-benar tidak tahu siapa itu Kaname.

"Pertama, terima kasih sudah menolongku."ucap Zero kembali pelan.

"Sama-sama."jawab Kaname tersenyum ramah.

Mengapa begitu melihat senyuman Kaname, Zero merasa sangat akrab dengannya, tapi dia tidak merasa mengenalnya juga. Zero juga baru pertama kalinya ditolong oleh seorang vampire, sebelumnya dia tidak ingat lagi. Semenjak insiden kebakaran dikotanya dulu,membuatnya lupa akan sesuatu.

"Tadi kau memanggilku "Kiryu" apa kau mengenalku? Siapa sebenarnya kau ini?" tanya Zero bingung. Kaname menatap Zero seolah merasa ada yang salah dengan Zero.

"Tentu aku tahu kau, clanmu selalu memburu kami. Kiryu Zero."jawab Kaname tersenyum untuk menjawab pertanyaan pertama Zero.

Kemudian sentak Zero bangun dari kasurnya dan ingin bergegas pergi, dia tidak ingin berlama-lama dengan vampire. Tapi dia kemudian merasakan pergelangan tangannya terasa ada yang menahannya. Dia melihat tatapan sedih Kaname. Zero mengangkat alisnya bingung.

"Siapa kau?"Tanya Zero.