Naruto © Masashi Kishimoto

The Executioners is belong to AmiiNina

.

Keseluruhan isi chapter ini dan chapter-chapter ke depannya merupakan FLASHBACK dari chapter awal (The Beginning : I'm Given Up).

Deidara's POV

Rate M for Violance and battle scene

Happy Reading!

.

oo0oo

.

Flashback II : The Mission

Perjalananku menuju Distrik Bisnis penuh dengan pikiran yang mengganggu. Bagaimana mungkin ini adalah efek wine milik si Pak Tua itu? Otakku cukup waras untuk menenggaknya. Kalau bukan karena penasaran, pasti aku sudah bergelung dengan batu dan alat pahatku.

Ya, memahat, satu-satunya hal yang kulakukan agar kemanusiaanku tetap berada di dalam raga.

Ketika kakiku menapak di aspal Distrik Bisnis, langsung kuedarkan pandanganku untuk menuju ke jalanan yang terbuat dari paving block. Bederet-deret gedung tinggi dengan papan digital menempel di tiap pintu masuknya menghalangi cahaya matahari yang masuk, saking tingginya gedung itu. Lalu aku membelok ke area bisnis perdagangan.

Kau jangan bertanya dengan besarnya pasar-pasar yang dirangkum dalam satu bangunan itu. Namun ada satu bangunan yang kentara ukurannya. Bangunan itu kecil, diapit oleh dua bangunan pasar besar berwarna-warni. Dinding catnya berwarna abu dengan kusen kayu yang berwarna coklat terang. Tentu bangunan itu menjadi sangat mencolok diantara bangunan-bangunan besar lainnya.

Papan billboard digital bertuliskan "Money Honey Tailor" terpasang di atas bangunan unik bergaya mediteranian itu. Kutarik engsel pintunya. Dentang bel di atas pintu berdentang ke seluruh ruangan di rumah itu. Hanya terlihat beberapa kain sisa yang berserakan di lantai. Baju pesanan yang sudah jadi tergantung di sisi lemari kayu yang ada di sudut ruangan. Jas safari dan gaun malam wanita menjadi contoh yang dipajang di sebuah mannequin.

Di dalam sini suasana begitu sepi, sampai-sampai aku bisa mendengar dengkuran kucing buluk yang tertidur di sudut meja kayu. Perutnya naik turun dengan damai. Kuperhatikan kucing itu, dan waktu pun berlalu seiring dengan dengkuran kucing itu.

'Kurr….'

Oke, ini memang penjahit untuk orang-orang kelas atas. Tak perlu kau lihat dari bangunannya seperti apa. Kau akan mengerti jika melihat kualitas jahitan jas dan gaun yang terdgantung rapi, menunggu sang pemesannya untuk segera mengambilnya. Terpampang label bertuliskan nama para pejabat teras Negara Iwa di bagian jahitan itu.

'Kurr…'

Semua pola jahitannya rapi, membentuk lekukan-lekukan yang amat janggal untuk ukuran mata manusia biasa. Pola yang rumit seperti dalam proses menenun.

Dan aku kenal pola ini.

Seingatku, ada satu orang di Ne yang sangat ahli dalam teknik bedah autopsi dengan menggunakan pola jahitan yang membentuk sandi-sandi Ne.

'Kurr….'

Dan sangat kurang ajar! Dia membiarkanku menunggu di sini selama tiga puluh menit! Bahkan kucing itu sekarang mulai menggeliat untuk bangun dari kemalasannya.

Buru-buru aku membalikan badan ke pintu keluar, sebelum aku melempar pandangan sinis untuk kucing buluk itu. Kukeluarkan bon jahitan dari saku celanaku dan membacanya sekilas. Kubalikan lagi tubuhku ke arah meja dengan cepat, hendak membanting kertas bon itu ke meja sebelum tanganku yang sedang memegang bon, dicengkram dengan kuat oleh tangan besar sewarna sawo matang penuh dengan jahitan. Spontan, tanganku yang bebas melayang dengan gerakan menebas ke arah leher si tangan berjahit itu.

Satu senti lagi tanganku ini akan membuat urat di lehernya putus, namun ia tidak bergerak. Dan tepat saat itulah aku menghentikan gerakanku.

Hening pun tercipta. Si kucing sekarang sudah beranjak lari ketakutan melihat gelagat kami. Pria dengan jahitan di wajahnya ini memandangku dengan pandangan menyelidik.

"Orderku sedang penuh, Anak Muda," kata pria dengan jahitan itu, tanpa melonggarkan cengkramannya di pergelangan tanganku sedikitpun. Bentuk intimidasi seperti ini tak mempan untukku.

Seharusnya ia lebih berani dari ini. Kusadari bahwa ia juga mengenalku, setidaknya, dia dikonfirmasikan dulu dari atasannya. Dari si Tua Onoki itu.

"Hn… Aku malah ingin meringankan bebanmu," kataku. Kuperhatikan sosok tinggi besar itu. Kulit sawo matang, kekar, tubuhnya penuh luka jahitan dan mata hijaunya mengintimidasi pikiran lawan.

Hanya ada satu orang yang mempunyai profil seperti ini di Ne, dan dialah Kakuzu si Money Drops. Kalau aku memanusiakan diriku dengan memahat, Kakuzu memanusiakan dirinya dengan menjahit. Menjahit apapun, kain, jerami, rotan kering, atau bahkan…. kulit manusia? Bisa jadi. Namun yang melebihi dari hasratnya adalah tak lain tak bukan adalah terhadap uang, sesuai dengan nama aliasnya.

Aku menarik tanganku dari cengkramannya yang tidak bisa dibilang lemah itu. Aku menyodorkan bon pengambilan jahitan itu ke wajahnya.

"Sudah jadi?" tanyaku.

Dia mengambil bon dari tanganku dan matanya memindai bon itu dengan seksama. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arahku.

"Ikuti aku," katanya. Lalu ia berjalan ke pintu di belakangnya. Terdengar suara empat atau lima mesin jahit yang sedang berdengung dari ruangan di balik pintu itu ketika dibuka. Kami berjalan terus melewati para pembuat pola yang mungkin keheranan melihat ada tamu asing di wilayah mereka. Aku mengaktifkan alat perekamku dan menyembunyikannya di belakang telinga kananku, untuk berjaga-jaga kalau aku lupa dengan penjelasannya. Hei, aku juga manusia, toh?

"Mungkin kau harus memeriksanya dulu sebelum memberikannya ke 'kakakmu'," kata Kakuzu, suaranya serak dan membuat para wanita takut kalau mereka tidak terbiasa mendengarnya. Tangannya membuka kenop pintu dan mempersilakan aku masuk ke ruangan yang lebih dalam, lalu menutup pintunya.

"Dengar, aku sendiri tidak mengerti kenapa mereka menugaskanmu di misi kali ini," katanya disela-sela pencariannya dalam deretan jas.

Aku hanya menaikkan alis dalam diam. Bagaimana mungkin ia tidak mengerti? Aku juga anggota Ne yang masuk secara 'normal', sudah sewajarnya aku mendapatkan misi apapun.

Laki-laki di depanku ini berbalik padaku sebelum ia melanjutkan, "Tapi ini misi asasinasi. Tindakan infiltrasi progresif sangat dianjurkan. Diharuskan malah, kalau kau masih ingin hidup."

"Apa maksudmu?" tanyaku. Dia memberikan jasnya padaku. Jas berwarna dengan bahan beludru di sisi kerah dan tutup sakunya.

"Kau belum pernah mengadakan kontak dengan Konoha dibandingkan dengan agen yang lain. Jadi saranku, kau pergilah ke sana dulu untuk persembunyianmu. Tapi supaya lebih jelas, coba kau periksa dulu jas ini. Aku menemukan beberapa nama dari kode di situ," katanya, matanya mengedik ke arah jas yang terlipat di tanganku.

Aku memeriksanya sekilas, meraba seluruh serat kainnya dengan jemariku. Lalu aku menemukan tonjolan benang border tipis di salah satu kerah beludrunya.

"Lalu apa lagi?" tanyaku. Tidak mungkin misi seperti ini tidak dilengkapi detail lain. Sejauh aku berbicara dengan Kakuzu, aku sama sekali belum mendengar poin penting lainnya.

Targetku, misalnya.

Dan aku sangat sadar dan mengakui kalau Kakuzu adalah informan yang sangat bisa diandalkan. Dari pejabat-pejabat yang jadi pelanggannya, seringkali terdengar desas-desus berharga yang bisa digunakan untuk informasi misi.

Aku hanya memiringkan kepala dan memicingkan mata, berharap mendapat informasi lebih dari mulutnya. Tapi ternyata, Kakuzu malah menyenderkan satu tangannya di atas meja dan jarinya yang dilingkari cincin giok berwarna hijau diketuk-ketukan ke meja. Sikap mengintimidasi lainnya. Aku tidak suka itu.

"Ck…for God sake," aku berteriak sebal sambil merogoh dompet di celanaku. Kukeluarkan lima lembar uang 100 ryo dari dompet. Kubanting uang itu di meja dan ia langsung menghitungnya.

Sial, bahkan aku juga lupa kalau Kakuzu adalah maniak uang. Nama aliasnya menjelaskan hal itu.

"Baiklah," katanya, sambil menyelipkan uang ke saku celananya, "Kalau kau ke Konoha, kau akan bertemu dengan organisasi teroris yang bernama Amatsukami. Kelompok yang sangat idealis, menolak segala bentuk tentang Iwa. Sangat kuat dan solider. Ada kemungkinan besar kau akan berhadapan dengan mereka," sambungnya. Rokok terakhirnya ia hisap dan ia padamkan di asbak.

"Profilnya? Kenapa aku harus waspada dengan mereka?" tanyaku. Dan lagi, pertanyaanku hanya menggantung di udara. Hanya suara ketukan jari di meja-lah yang terdengar.

Kakuzu meminta lebih.

Lagi-lagi aku mendecih. Kukeluarkan 100 ryo tambahan untuknya. Bibir Kakuzu langsung menyeringai. Ia menang.

"Mudah saja. Karena kau adalah orang Iwa. Profilmu adalah profil khas orang Iwa. Dengar, mereka semua ahli dalam memakai senjata dan ahli dalam bernegosiasi. Anggotanya kebanyakan adalah mantan tentara khusus yang terlatih selama medan perang. Dan jangan tanya aku tentang siapa saja mereka. Data mengenai mereka masih belum lengkap," katanya.

Lalu, apa bedanya mereka denganku? Meledakkan kapal tongkang di usia bocah bukan hal baru untukku. Menemukan kecocokan antara aku dan lawanku -seorang yang terlatih untuk membunuh- sungguh membuatku gemetar, saking semangatnya. Ini semakin menarik.

Kakuzu mulai berdiri dan merapikan beberapa pakaian yang berserakan di meja, kemudian ia melanjutkan, "Sepertinya atasan memilihmu juga bukan pilihan yang buruk. Kau belum pernah mengadakan kontak dengan Konoha,kan? Otomatis mereka tidak akan mengenalmu. Lagipula, aku menemukan nama yang tidak asing di kode itu. Hanya saja aku belum mendapat informasi yang akurat mengenai itu," katanya.

Tak ada gunanya lagi aku mengeluarkan ryo ke Kakuzu, karena sepertinya dia terus mengulang kata 'data belum lengkap'. Aku harus pecahkan kode ini dan langsung bertanya ke Onoki. Aku pun melipat jas itu dan memasukannya ke kantong plastic. Aku membalik badan menuju pintu keluar.

"Beritahu aku kalau kau menemukan sesuatu," kataku, sambil meraih kenop pintu.

"Tentu informasi itu 'berharga'," jawabnya, dengan menekankan nada di kata 'berharga'.

"Oh, seriuslah, Money Drops! Kau tidak bisa terus menerus seperti itu," kataku lagi, kesal.

"Tentu aku serius, C-Four! Kau pikir berkat siapa Ne sekarang terus kebanjiran kasus?" jawabnya sambil menyeringai. Tentu aku juga mengakui bahwa peran Kakuzu sebagai 'resepsionis' Ne juga membuat agensiku terus sibuk untuk memikirkan cara supaya Iwa terhindar dari terror.

Aku hanya membalasnya dengan debuman pintu yang kulewati untuk keluar dari ruangan penuh kain itu.

.

the exe II AmiiNina

.

Kini, di kamarku, aku menerawang di tulisanku sendiri. Tulisan yang berhasil kupecahkan dari bordiran halus di kain beludru jas itu. Entah apa yang dipikirkan oleh pemberi misi ini. Membunuh target dengan mengarahkan organisasi, apa maksudnya? Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri sampai suara laki-laki tua, membuyarkanku.

Aku beranjak pelan dari sofa. Jari tangan kiriku mengapit rokok sementara yang kanan menyiapkan pistol Socom ke mode lock off.

"Ini hanya aku, sialan," sebuah suara serak khas orang tua terdengar dari sudut kamar. Kulirik siluet di sudut ruangan yang sedikit disiram cahaya dari sela jendela itu, dan terlihatlah uban putih yang mencuat dari kepala lelaki kerdil. Aku mendengus kesal.

Sosok Onoki yang pendek dengan buntalan jaket di tubuhnya perlahan keluar dari kegelapan ruangan. Yeah, meskipun sudah tua, tapi kemampuan infiltrasinya tetap hebat seperti dulu. Masuk ke ruanganku tanpa terdeteksi.

"Pistol di tangan dan abu di mulutku. Begitukah sambutan untuk orang tua ini, anak brengsek?" katanya, berdecak sambil melemparkan jaket dari tubuhnya, "Aku hampir kepanasan gara-gara menunggumu di balik jaket ini. Kulit tua sialan!"

"Biasanya kau langsung mendobrak," kataku.

"Tidak kali ini. Karena ini bukan wilayah kekuasaanku. Ini adalah—" Onoki melangkah ke jendela dan merobek koran yang menutupinya. Tirai dan kaca jendela terbuka, dan anginnya langsung berebut masuk ke kamar. Onoki tua itu menghirup udara di luar sebelum dirinya melanjutkan, "—kekuasaanmu," katanya.

Aku terkesiap dengan cahaya yang tiba-tiba menerjang mataku. Aku memiringkan kepala dan menghalangi pandangan dengan sebelah lengan. Aku lemas, badanku terhuyung mundur. Menjauh sejauh mungkin dari jangkauan cahaya. Sampai akhirnya punggungku bertabrakan dengan lemari.

Jujur, cahaya selalu membuat tubuhku selalu merespon negatif. Ini mengingatkanku pada kejadian itu, pada saat usiaku masih 4 tahun ketika sekelompok teroris menyerang desaku.

Aku berada di sebuah desa kecil di pinggiran Iwa. Bom-bom dan asap selalu mengeluarkan cahayanya tiba-tiba.

Tapi bukan itu masalahnya.

Aku pernah dimasukan ke dalam peti kecil dan gelap. Mereka menggerek petiku di atas jalanan berbatu, membuat aku yang ada di dalamnya berkali-kali terbentur dan terbanting. Cahaya bom yang masuk melalui sela-sela peti nyaris membutakan mataku. Aku ingat betapa mataku berair saking silaunya, begitu juga dengan tubuhku. Kemudian aku merasakan petiku dijatuhkan ke sebuah lubang, tak lama kemudian suara kerikil dan tanah terdengar di atasku.

Mereka menguburku hidup-hidup.

Sampai keadaan hening dan pengap. Aku teringat pada petasan buatanku yang pertama, yang tertinggal di celana yang kupakai. Aku menyalakannya dengan sisa korek api dan 'boom'. Alhasil aku berhasil keluar dan kedua lenganku nyaris putus. Dada kiriku juga hampir hangus namun tidak begitu parah.

Berhari-hari kulihat desaku yang rata dengan abu dengan kerongkongan yang kering tanpa asupan air. Sampai pada akhirnya aku terjatuh di reruntuhan rumah. Aku berpikir hari itu adalah akhirku. Aku akan mati menjadi santapan gagak.

Namun sebuah tangan yang memegang sebotol air terulur padaku. Tangan Onoki Ryotenbin, dengan versi beberapa tahun lebih muda.

Lagi, aku harus menghadapi cahaya ketika tubuhku diangkut dengan kasur beroda. Mataku berpendar oleh cahaya yang bergerak dari atas ke bawah. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Ketika tersadar, aku menemukan Kakuzu mengoceh di sampingku sambil mengeluhkan betapa sulitnya mencari kulit yang cocok untuk menyambungkan lenganku. Aku bersumpah bahwa ia bicara tentang kebenciannya terhadap ledakan sambil terus menerus menusukkan jarum di tanganku.

Masalah bom dan ledakan menjadi trauma tersendiri bagiku hingga terbawa kea lam bawah sadar. Karena terus memikirkan itu, aku jadi terobsesi untuk menghadapi ledakan-ledakan itu. Lama-lama ledakan dan bom pun bisa kuatasi. Aku pun menjadi spesialis bom dan senjata gara-gara itu.

Lamunanku tersentak ketika siluet Onoki menghalangi pemandanganku. Aku menurunkan lengan dari depan kepalaku dan memandang orang tua itu dengan intens.

"Ini adalah kekuasaanku. Dan aku adalah kekuasaanmu. Begitu, kan, maksudmu, Pak Tua?" tanyaku mencibirnya.

"Deidara, keluarlah dan hadapi cahayamu. Aku tidak mendidik pengecut seperti itu," jawabnya, dia mengambil vodka milikku dan duduk dengan santai di sofa, "Dan inilah cahayamu, misi ini," lanjutnya.

Aku baru ingat bahwa ada keasyikan lain yang sempat tertunda gara-gara urusan cahaya tadi. Ya, misi ini.

"Siapa itu Frost, Pak Tua?" tanyaku, kembali ke topik masalah. Onoki itu menenggak isi gelas vodka -nya.

"Dia misi utamamu," katanya, kali ini memainkan cerutunya. Ia mengambil tablet PC yang gambarnya bisa diproyeksikan ke udara dengan bentuk hologram. Atau lebih dikenal dengan nama Holo PC. Lalu ia membuka folder dan terlihatlah foto seorang wanita dengan bermacam-macam gaya. Ada yang rambutnya hitam, ada yang sudah beruban, ada seorang remaja usia 13-15 tahunan, dan gaya lainnya. Onoki melanjutkan,

"Tak ada informasi pasti tentang dirinya, termasuk nama asli dan profil sebenarnya. Yang kita tahu, dia adalah mantan Konoha. Buronan kelas S yang diincar tiap kepala di dunia bawah, seorang pembunuh solo dan pemalsu identitas yang handal," katanya.

Bagaimana mungkin wanita ini… tak ada dalam akses manapun? Jika dugaanku benar, dia seorang hacker jenius yang bisa menghapus semua jejaknya di semua sistem.

Dan sangat tidak mungkin ia melakukan itu sendirian. Pastilah ada orang ata kelompok yang membantunya. Tidak ada orang yang bisa lolos dari Konoha semudah itu. Konoha pasti menutupinya mati-matian jika ada pengkhianat negara semacam ini yang kabur dari negara itu. Itu reputasi yang buruk untuk Konoha.

"Kudengar Konoha adalah negara radikal yang menghabisi apapun yang bertentangan dengan ideologinya," kataku.

Onoki menghisap cerutunya dan mengangguk, "Ya, mereka menentang siapapun. Tak terkecuali dengan pengkhianatnya. Frost adalah pengkhianat Konoha. Jadi—"

"Jika aku masuk Konoha, maka kemungkinan untuk mengakses data tentang Frost akan semakin besar," aku menyela.

"Tepat! Ah, seandainya sesederhana bicaramu itu," jawab Onoki. Asap cerutu mengepul dari mulutnya seiring dia bicara.

"Maksudmu?" tanyaku.

"Mungkin kau sudah dengar tentang organisasi Amatsukami? Mereka mengincar Frost. Bagi mereka, keberadaan Frost di luar Konoha sama seperti gelandangan yang harus dienyahkan dari jalanan. Dia terlalu banyak menyimpan informasi," jawab Onoki.

Masuk akal. Sebagai mantan Konoha, Frost pastilah punya informasi berharga tentang negara itu. Aku menduga, apa dia sudah ditanami microchip di otaknya sehingga harus dienyahkan seperti gelandangan?

"Maka, dibutuhkan seseorang dengan kemampuan infiltrasi yang tinggi. Di Iwa, tak orang dengan kemampuan infiltrasi sebaik kau, Deidara sialan! Para petinggi setuju merekomendasikanmu," lanjut Onoki lagi.

"Apa-apaan ini sampai para Petinggi juga ikut campur? Kenapa mereka tidak menyuruh ANBU biasa saja?" tanyaku, jelas ini tidak beres.

"Lawan kita adalah Konoha! ANBU biasa terlalu mencolok. Dan itu bukan gayaku," kata Onoki, lalu ia menghampiri jendela, "ANBU biasa akan menyerang langsung dari depan, sedangkan Ne akan menghancurkan dari dalam. Ibaratnya, kekuatan satu orang agen Ne sama dengan satu pleton ANBU biasa," sambungnya.

Aku terdiam, menatap punggung bungkuk orang tua ini. Angin semilir membelai rambutku. Kemudian Onoki bicara, kali ini dengan nada keyakinan,

"Tapi kau berbeda. Kekuatanmu, sama dengan satu batalyon ANBU. Akulah yang merekomendasikanmu ke para Petinggi. Aku yakin kau pasti senang menerimanya," katanya, memalingkan wajahnya ke arahku. Wajahnya memerah terkena sinar matahari.

Ada yang berbeda dengan nadanya kali ini. Nada yang sering kudengar ketika seorang ayah sedang menyemangati anaknya ketika kalah sepakbola. Suara kekasih yang menenangkan pasangannya di kala gundah.

"Aku percaya padamu," lanjutnya, "Karena kau adalah—"

"—intel. Ya, aku mengerti," jawabku menyelanya.

Jangan sampai kata-kata melankolis itu keluar dari mulutnya. Membuatku bergidik. Tidak ada kata melankolis dalam kamusku.

Onoki hanya tersenyum samar, " Baiklah. Jadi misimu adalah, menginfiltrasi Konoha, dapatkan informasi tentang Amatsukami, dan juga tentang Frost. Itu misi utamamu sementara. Tindakan lanjut akan diambil sesuai dengan perkembanganmu di lapangan."

Aku hanya memberinya hormat –menapakkan tangan kanan ke dada kiri sambil menunduk—tanda persetujuan.

Namun di luar dugaan, Onoki malah mendekat padaku. Ia memukul kepalaku dengan telapak tangannya keras sekali.

Aku terkesiap, karena ini pernah dilakukannya dulu, dulu sekali. Ketika aku berhasil membuat bom yang pertama, ketika aku berhasil menuntaskan misi pertamaku, ketika aku lulus tes Ne dengan nilai tertinggi, ketika aku bilang padanya kalau aku cemas, dan ketika ia memungutku dari desa hancur itu sejak 20 tahun yang lalu.

Pukulan yang tidak biasa. Kata-katanya memang tidak melankolis, namun selalu membuatku sadar bahwa aku harus terus maju dengan dada terbusung. Hangat. Seperti yang ia ucapkan saat ini sambil tersenyum,

"Dasar anak gila!"

.

the exe II AmiiNina

.

Berkat sponsor dari Kakuzu, lusa harinya aku sudah berada di sebuah kompartemen kereta api menuju Konoha.

"Kau naik kereta api ini. Tidak mencolok, dan lebih murah!" katanya. Ah, aku curiga uang itu malah tersesat di akun miliknya.

Kalau saja aku tidak ingat tentang pertemuan dengan salah satu agen Ne di atas kereta ini, mungkin saja aku sudah melompat keluar kereta dan memilih melesat dengan mobilku.

Dalam diam dan gelisah aku bertaut menopang wajah dengan sebelah tanganku. Menatap jendela, memandangi jalan-jalan serta tanah tandus yang silih berganti seperti credit dalam film.

Aku tak memperdulikan tentang pria yang baru saja menggeser kompartemenku. Ia duduk di kursi kompartemen dengan berat, seakan berat tubuhnya tertumpu pada tulang yang melindungi bagian ekornya. Pikiranku berusaha menemukan eksistensi seorang agen yang nyatanya tidak ada satu pun di antara penumpang kereta ini yang mendeklarasikan dirinya sebagai bayangan Ne.

Setidaknya, sampai bilah aquamarine milikku menangkap visualisasi seseorang yang berpakaian serba hitam,dengan sepeda motor yang juga memiliki warna yang sama dengan yang menungganginya. Bagai gerakan lambat, mata yang biasa kulatih untuk menangkap objek yang bergerak cepat ini menangkap sinyal dari objek hitam itu. Hening sekelilingku ketika jari telunjuk dan jari tengah sosok itu diangkat ke udara sejajar dengan kepalanya, kemudian diayunkannya jari itu ke depan wajahnya.

Adegan lambat itu berakhir, dan pemandangan padang tandus dengan sedikit oase di luar sudah mulai bergerak cepat kembali di luar jendela.

Tidak mungkin mataku akan tertipu dengan imaji kasat itu. Aku memejamkan mataku dengan perlahan. Pria teman sekompartemenku sudah mendengus tak nyaman.

Ketika membuka kembali mataku, kulihat objek hitam di luar itu melaju dengan cepat menggunakan motornya. Menyaingi kecepatan kereta yang kutumpangi. Bisa kubayangkan berapa kecepatannya untuk menyusul kereta ini. Coba lihat…130 kilometer per jam, mungkin? Aku berani bertaruh, sosok itu lebih cepat dari sekedar 130.

Tak ada satu pun manusia yang bertahan dalam kecepatan seperti itu, kecuali … Mungkinkah dia …

Tak lama aku berpikir panjang mengenai sesosok hitam itu, satu timah putih dilepaskan ke langit-langit kereta. Tercipta lubang berdiameter 9 milimeter di langit kereta saat itu.

"Merunduk semuanya! Atau kalian mati!" Begitulah suara laki-laki yang kudengar dari luar kompartemen itu. Pantulan bayangan tangannya yang memegang pistol terlihat di sudut jendela.

Lalu, kurasakan lempeng besi yang dingin menyentuh pelipis kananku. Suara besi yang bergerak dari engselnya begitu familiar di telingaku, terdengar dari dalam lempeng besi itu. Pistol di pelipis kananku itu membuka pengamannya.

"Kau juga, sebaiknya kau merunduk, Kuning!" Pria sekompartemenku tadi menodongkan Revolver-nya ke pelipis kananku. Aku mengenali hembusan nafasnya yang tengah terkontaminasi alkohol buatan. Bibirnya menyunggingkan kepuasan, tanda ia memang menguasai teritoriku.

Aku mendengus perlahan sambil memejamkan mata, kedua tanganku diselipkan di belakang kepalaku. Tak ada jalan lain selain menurutinya dan mengamati situasi yang tengah terjadi.

Kereta ini dibajak? Mungkin. Mengingat kereta ini ditumpangi para aristokrat Iwa yang bersembunyi dari kemewahan yang ditawari pesawat supersonik milik Iwa.

Pria di depanku ini menggeretku keluar dari kompartemen untuk disatukan dengan penumpang lain di gerbong utama. Ah, cara membajak seperti ini … membosankan!

Suara tembakan lainnya menyusul sesaat setelah aku terduduk. Seperti hanya ingin unjuk gigi. Hanya rentetan AK-47 dan MP5 kuno yang sudah usang, menurutku.

Beberapa sudah siap di posisi mereka. Dua orang memegang AK-47 berjaga di pintu gerbong belakang dan depan. Yang membawa Revolver terus membentak penumpang yang ketakutan, sementara kawanan lain beranjak ke gerbong kepala, bermaksud mengendalikan kereta.

Tunggu dulu, komando kelompok yang terlihat bias. Aktualisasi pembajakan tak terstruktur. Ini pembajakan liar. Tak ada pengambilalihan komando diantara para pembajak ini, karena pemimpin komando pun mereka tak punya.

Bias struktur pada pembajak macam ini bukanlah gaya kelompok teroris besar. Bukan pula kelompok yang menjadi kekhawatiran Divisi Ne. Yang berarti bukan pula kelompok yang penting untuk diinfiltrasi oleh Ne.

Hipotesisku, diantara para pembajak ini, tak ada agen Ne yang kucari.

Urusanku bukan dengaan tikus-tikus ini.

Timah panas sembilan millimeter menembus tengkorak salah seorang penumpang yang berani melawan. Semua sandera menjerit tertahan dan para pembajak berteriak-teriak minta dituruti perkataannya. Mereka terus membuang-buang amunisinya. Sementara tanganku sibuk melepas borgol yang mengait di tanganku. Sebilah lempeng besi pipih yang terselip diantara jam tanganku cukup untuk menjadi partner kali ini.

Tepat setelah buyi 'klik' terdengar dari engsel borgolku, suara gedebum keras terdengar di atas gerbong yang kunaiki. Disusul dengan bunyi langkah kaki yang beradu dengan suara mesin kereta. Para pembajak itu berpikir bahwa mereka tengah diserang dari atas, lantas mereka kembali membuang amunisinya untuk menembak atap gerbong.

Tanpa suara, aku menarik kaki salah satu pembajak, membuatnya jatuh tengkurap. Namun sebelum badannya sempat menyentuh lantai, kedua tanganku menahan berat tubuhnya. Aku sedikit membenturkan kepalanya ke lantai gerbong agar ia diam. Tangan kiriku menahan kepalanya agar tetap menangkup ke lantai, dan tangan kananku memukul titik syaraf di telinganya. Si pria pembajak ini pun langsung tak sadarkan diri.

Dengan hati-hati, aku menyeret tubuh pria itu untuk disembunyikan di salah satu kursi penumpang. Tak sengaja ada sepasang mata anak laki-laki yang menatapku. Setelah aku aman memposisikan tubuh pria pingsan itu, aku menatap pada si anak kecil. Aku mengacungkan jari telunjukku ke depan bibirku, menyuruhnya tutup mulut.

Rentetan tembakan membabi buta di gerbong depan. Beberapa pembajak dikerahkan ke pesta di gerbong depan. Sementara itu aku mundur dan masuk ke pintu gerbong belakang.

Aku sembunyi diantara sambungan gerbong dan retinaku menangkap seorang pembajak berlari ke arahku. Matanya tetap fokus ke depan, bermaksud mengikuti pesta di gerbong depan, namun ia tak menyadari kehadiranku. Aku tangkap badannya dari belakang, membekap mulutnya dengan tangan kananku lalu memiting lehernya dalam sekali nafas. Aku tetap membiarkan pitinganku beberapa detik sampai akhirnya kepala si pembajak benar-benar terkulai lemas.

Aku diam-diam menerobos gerbong belakang yang kini sepi, hanya ada suara dentingan gelas yang bergulir menabrak dinding akibat goncangan kereta. Terdengar suara derap kaki dari gerbong di belakangku. Tak ada tempat sembunyi, akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan pisauku dari ikat pinggang. Aku memanjat kursi kereta dengan sekali langkah, lalu merentangkan kedua tangan dan kakiku diantara celah langit-langit gerbong dengan posisi wajah menghadap lantai, menahan tubuhku agar tidak merosot ke bawah. Pisauku, kugigit di mulut.

Suara teriakan marah dari rombongan pembajak yang baru saja memasuki gerbongku ini turut mengantarkan derap kaki mereka yang berat dan tak bersahabat. Aku menajamkan mata ke orang paling terakhir dalam rombongan itu. Sekilas setelah rombongan itu lewat, aku melepaskan tahanan tangan dan kakiku untuk turun . Ketika tubuhku melayang jatuh, pisau di mulutku menggores persis wajah pembajak paling terakhir dengan irisan vertikal yang lumayan dalam. Sebelum ia sempat berteriak, irisan horizontal yang menganga sudah terhias terlebih dahulu di lehernya.

Hal ini menarik perhatian rombongan yang baru saja hendak pergi ke pesta di gerbong depan. Aku menoleh sambil melemparkan pisau itu ke wajah pembajak yang paling dekat, tepat menembus jantungnya. Dengan cepat aku mengambil AK yang ditinggalkan pemiliknya tadi dan menembaki rombongan yang ada di depanku. Sisa satu pembajak.

Aku melemparkan AK ke wajah si pembajak itu, membuat ia terhuyung. Saat ia kembali meraih keseimbangannya, tinjunya melayang ke arahku namun hanya sebatas di udara. Aku lebih cepat menekuk lututku sembilan puluh derajat ke bawah sehingga wajahku menengadah ke atas persis seperti posisi berlutut. Aku condongkan punggung ke belakang dan aku menyeret di lantai dengan lutut sebagai tumpuan, sementara tanganku dengan sigap meraih tangan si pembajak yang tadi meninju udara.

Aku menyeret ke antara kakinya yang ketika itu mengangkang. Kusentak pegangan tangannya ke bawah dan si pembajak terjungkal seratus delapan puluh derajat. Kupatahkan sendi di pergelangan tangannya lalu aku berguling ke belakang sehingga menindih perutnya. Tanpa basa-basi, aku meninju tenggorokannya dengan siku dan memuntir lehernya.

Segera aku bangkit dan mengambil pisau yang masih menancap di dada pembajak, lalu menuju gerbong depan. Aku tak ingin ketinggalan pesta dengan sang agen di sana.

Benar, ketika aku tiba di gerbong depan sudah banyak pembajak yang pingsan, bahkan beberapa ada yang berdarah-darah. Para sandera sudah dipindahkan entah kemana. Sosok hitam yang kulihat dari luar tadi berada tujuh meter di depanku. Ia memunggungiku dengan tegap, masih mengenakan jaket dan celana jins hitamnya. Kepala yang berhiaskan rambut yang berwarna senada dengan darah yang menetes-netes di pisaunya, menoleh ke arahku. Sampai akhirnya ia membalikkan badan seutuhnya secara mendadak. Pisaunya melayang ke arahku. Seakan kami sudah sehati, aku menunduk dan berguling ke depan sementara si rambut merah berlari ke arahku dan melompati tubuhku yang sedang berguling. Tak lama, suara erangan kesakitan terdengar dari pembajak di belakangku. Ia mengeluhkan tentang sesuatu yang tertancap di matanya.

Aku segera keluar ke sambungan gerbong di depan, dan menempelkan peledak yang aku rancang sendiri. Peledak mini yang direkatkan plester, namun daya ledaknya cukup untuk merontokkan besi dan baja.

Aku kembali ke gerbong di belakang dan melihat si merah melempar pembajak ke arahku. Aku meneruskan lemparannya dengan membuka pintu gerbong dan menendangnya. Dan tak lama setelah pintu sambungan tertutup, suara ledakan diiringi dengan teriakan derita dari segerombolan pembajak di depanku. Suara desingan besi dan goncangan kereta yang cukup kuat menandakan gerbong yang terlepas dari sambungannya.

Aku beralih ke si rambut merah itu menodongkan pisauku ke arahnya. Si rambut merah langsung mengangkat tangan. Diam beberapa detik, sampai akhirnya dia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu mengayunkannya ke depan wajahnya.

Itu sandi Ne, bahwa kami berada di pihak yang sama.

"Di mana sandera yang lain?" tanyaku.

"Tak banyak. Ada di gerbong depan. Dan kau baru saja melepaskan gerbong depan itu dengan meledakannya," katanya. Nada suaranya yang dingin namun teratur. Seperti tidak bersemangat. Namun ketika menatap mata hazel-nya, terlihat pancaran penuh percaya diri dan kekuatan tak terdefinisi lainnya.

"Tapi tak apa," sambungnya lagi, "itu memang bagian dari rencanaku."

"Kau? Membajak kereta ini?" tanyaku lagi, kali ini sambil memicingkan sebelah mataku.

"Tidak. Lebih tepatnya, aku mengambil kembali apa yang menjadi milikku," jawabnya. Si rambut merah ini berjalan dengan santai ke pintu keluar sebelum ia melanjutkan, "Kau, larilah ke kalajengking di gerbong paling belakang. Ada sesuatu yang harus kubereskan," lalu si merah itu melompat keluar kereta yang sedang melambat ini.

Melihat kereta depan sudah mulai menjauh, aku berlari ke gerbong belakang tepat seperti perintahnya. Ketika kuberlari, motor hitam dengan sedikit surai merah melintas mendahului kereta yang kunaiki. Aku sampai di gerbong mesin paling belakang. Ternyata yang dimaksud dengan kalajengking adalah tonjolan berbentuk kalajengking kecil yang ditempa di badan gerbong bagian bawah belakang. Sekilas ini memang mirip gerbong mesin biasa, namun ketika pintu otomatisnya bergeser, ternyata ini semacam pesawat pengangkut versi mini. Cockpit-nya masih belum menyala, hanya beberapa lampu saja yang menyala di bagian kanan cockpit itu, menunjukkan tekanan udara dan kecepatan.

Beberapa menit kemudian, suara gedebum keras terdengar dari atap gerbong ini. Disusul dengan suara langkah kaki yang ringan lalu suara kaki itu menetap di depan pintu gerbong. Pintu pun bergeser dan memperlihatkan si surai merah.

Pintu pun tertutup di belakangnya. Ia membuka kacamata bermotornya. Tidak ada tanda-tanda kelelahan dari tubuhnya yang lumayan kecil untuk proporsi seorang laki-laki. Namun bisa kuakui, tampangnya yang baby face ini pasti sudah menarik perhatian ratusan wanita. Lalu ia beralih ke koper besar abu-abu tua dan membukanya dengan tergesa namun teliti.

"Aku lega, ternyata kita memiliki banyak kesamaan," katanya, disela-sela kegiatannya pencariannya di koper, "contohnya, sama-sama suka menarik perhatian."

Aku menanggapinya dengan lirikan sekilas. Badanku tak berpaling dari cockpit yang masih padam lampu-lampunya itu. Ia menarik suatu serum berwarna kebiruan dari tabung kecil, menghisapnya dengan suntikan miliknya. Kemudian berkata lagi disela hembusan nafas.

"Aku senang membuat mesin. Kau senang membuat senjata dan peledak. Bagiku, seni adalah keabadian lewat mesin dan robot yang kucipta, sedangkan kau dengan kefanaan dari senjata dan peledakmu," katanya.

Aku menghembuskan nafas bosan, "Itu adalah seniku. Seniku tak bisa dipahami dengan mudah, Scorpion," kataku. Lalu ia menyimpan suntikan dan serumnya di sudut meja dekat koper. Sasori Akasuna, sang Scorpion itu membalikkan badannya ke arahku. ANBU Ne yang sudah tiga tahun bertugas di Sunagakure itu tersenyum tipis.

"Kau dengan prinsipmu, dan aku dengan prinsipku. Mereka yang memahami prinsipku terus berusaha mengambil ideku, seperti para aristokrat Iwa, Otoritas Sunagakure dan tikus-tikus Suna yang tadi hendak membajak atau menjual Hiruko milikku," katanya. Sang Scorpion berjalan ke arah cockpit. Ia memutar kunci khusus yang tersembunyi di bawah cockpit dan membuat panel-panel itu menyala. Terdengar suara raungan mesin yang dihidupkan. Lampu merah yang sedari tadi menyirami gerbong ini berubah menjadi putih menyilaukan. Lalu, terdengar suara wanita digital ketika mesin itu sepenuhnya menyala.

"Welcome, Scorpion. Welcome, C-Four."

"Ah, ini mesin?" tanyaku, penasaran walaupun tidak kentara.

"Ini seniku. Ciptaanku. Hiruko-ku," katanya dengan senyum percaya dirinya. Ia menekan tombol –tombol dan menggerakan tuas yang mirip seperti simulasi pesawat tempur.

"Nah, bisa bantu aku untuk meledakan sambungan gerbong di belakang, C-Four?" pintanya.

Aku tak langsung menjawab dengan verbal. Segera aku tempelkan plester peledakku di sambungan gerbong, dan seketika gerbong dan kepala gerbong pun terpisah.

Aku kembali masuk ke Hiruko¸demikianlah nama mesin itu. Ciptaan Sasori Akasuna alias Scorpion. Agen ANBU Ne yang ditugaskan dalam penjara Sunagakure untuk membangun sumber daya dan laboratorium rahasia jariangan Ne dari Sunagakure. Seorang jenius berbakat di bidang teknik mesin dan elektronik. Sasori kecil dulunya sering membuat boneka kayu yang digerakan dengan benang di tangan dan kakinya. Kemudian hobinya itu berkembang ke sesuatu yang benar-benar bergerak, yaitu dengan mesin. Baginya, mesin bagaikan karya seni keabadian. Semakin awet nilai mesin itu, maka makin tinggi harga seninya.

Seiring dengan melajunya kereta ke arah berlawanan, Sasori menceritakan betapa Hiruko adalah mahakarya-nya setelah Sandaime. Ketika di Sunagakure, ia membuat Hiruko ini. Kemudian dengan persetujuan sepihak, pihak Otoritas Sunagakure semena-mena menjadikan Hiruko sebagai kereta komersial yang menurut Sasori, tentu saja, hal itu terlalu rendahan untuk dilakukan oleh mahakarya sekaliber Hiruko.

"Mereka itu, terlalu merendahkan," ujar sang Scorpion itu disela-sela kegiatannya mengendalikan laju Hiruko. Aku terlalu terlena dengan apa yang bisa dilakukan oleh mesin yang katanya menakjubkan ini. Lalu ia melanjutkan.

"Hiruko lebih dari sekedar kereta," katanya lagi. Tak lama setelah ia berbicara, aku merasakan kecepatan kereta melaju lebih dari seharusnya. Kemudian aku merasakan kereta itu miring tiga puluh derajat ke atas dan lama-lama bagian bawahnya tidak lagi menyentuh rel. Kereta itu melayang, semakin tinggi, dan tinggi. Kereta itu take off.

Kulihat monitor di depanku, terlihat bagan berwarna hijau tentang sebuah kereta yang bertransformasi menjadi pesawat. Angka ketinggian terus memuncak hingga akhirnya tetap di ketinggian lapisan stratosfer. Pesawat itu akhirnya kembali ke kemiringan normal. Autopilot dinyalakan.

Sasori melepas sabuk pengamannya dan beranjak dari kursi. Ia langsung menuju koper yang berisi suntikan tadi.

"Jangan terkejut seperti itu," katanya.

Demi Tuhan aku tidak terkejut. Sebagai sesama seniman, aku selalu menghargai karya orang lain. Dan aku menghargai karya orang ini, sama seperti aku mengahrgai karya seniman lain. Dan hargaku untuk Hiruko ini, lumayan.

"Lumayan juga. Tapi aku tak bisa menangkap prinsipmu tentang seni adalah keabadian," kataku, sambil melepas sabuk pengaman dan membalikkan kursi.

"Memang, seperti katamu. Seni sangat sulit dipahami. Dan maka dari itu ... " Sasori berjalan menghampiriku dan dengan kasar membalikkan kursiku dengan aku yang masih duduk di atasnya. Tiba-tiba, kurasakan sebuah jarum yang dingin menembus pangkal leherku. Bayangan Sasori yang menancapkan jarum suntik terlihat di layar monitor yang sata ini sedang hitam.

"K-kau.." aku menggeram.

Buru-buru membalikkan kursiku. Tanganku memegangi leher bekas injeksi tadi. Aku berusaha berjalan menghampirinya. Namun apa yang diperintahkan otakku seakan tidak sinkron dengan stimulan yang dibuat oleh gerakan kakiku. Syarafku melemah, otakku tak bisa lagi memerintah. Alhasil lututku lemas dan badanku gemetaran. Menggerakan tangan dan menolehkan kepala pun aku bersusah payah. Aku ambruk ke lantai besi yang dingin dari pesawat itu. Mataku setengah tertutup dan gigiku gemerutukan.

Sayup-sayup kudengar langkah kaki beradu dengan lantai besi mendekatiku. Sepasang sepatu bermotor warna hitam lalu berhenti di depan wajahku. Pemilik sepatu hitam itu berjongkok. Dengan susah payah, aku menoleh ke atas, ke wajah Sasori. Tanganku mengepal tanpa daya.

"Maka dari itu, mungkin kau harus tidur sebentar. Agar ketika kau bangun nanti, otakmu yang keras kepala itu sudah segar untuk memahami betapa agungnya seniku, yang lain," kata Sasori sambil menyeringai. Tangannya menahan kepalaku untuk tetap terbaring. Suaranya terdengar sayup bergaung di telingaku. Lama-kelamaan suaranya menghilang, begitu pula visualisasiku.

Aku merutuk diriku yang kini bergetar hebat namun sangat lemah. Mataku memejam dan tubuhku akhirnya terdiam.

"Sialan!"

.

.

.

To be continued

Maafkan atas keterlambatan update yang makan waktu agak lama ini. Tapi mudah2an bisa mengobati kerinduan reader -tachi semua..

*Reader: "Rinduu?" *PLAK!*

Gimana? Makin suka-kah? Atom akin bingung? Wkwkwkwkwk…

Saya juga ngarepin bgt masukan-masukannya supaya fic ini lebih baik… Maka dari itu Review amat penting bagi author.. ^^V

Makasih udah mau baca fic ini…

You RAWK!

.

.

Next Chap – Flashback 3 : She –

.

.

See u in the next chap!

*** AmiiNina ***