ChanBaek Fanfiction
Tittle : Royal Pleasures
Author : StarDust_ (authornya sering ganti uname xD )
T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri (panggil apa saja bebas.) Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .
WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.
.
.
"Jangan memanggilku seperti itu. Damn it, kau sangat…sangat…" Chanyeol menghentikan kalimatnya bersamaan dengan helaan nafas beratnya yang ikut terhenti saat Baekhyun menggerakan kepalanya, menjenjangkan lehernya di depan bibir serigala yang lapar itu.
"Hentikan aku, Baekhyun.. karena aku tak dapat menghentikan diriku."
Hanya dalam hitungan detik, Chanyeol sudah berhasil menjamah leher sensitive Baekhyun dengan bibirnya. Ia bahkan mengikutsertakan giginya untuk menggigit di tengah hisapan dan ciuman di permukaan kulit leher Baekhyun. Bercak kemerahan tercetak memancang di leher Baekhyun setiap kali Baekhyun mencoba menggerakkan kepalanya, menjauhkan lehernya dari hisapan kuat yang diterimanya. Namun yang dilakukannya justru menambah ketertarikan Chanyeol untuk menambah lagi. Chanyeol membawa lidah seduktifnya mengikuti jejak kemerahan tersebut hingga berhenti di belakang telinga Baekhyun.
Chanyeol menggigit pelan daun telinga Baekhyun saat menyadari dirinya sudah sedekat ini dengan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun refleks menjauhkan tubuhnya sedikit ketika merasakan adanya bibir yang menarik telinganya.
"So beautiful.. sangat sempurna…"
Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun sebelum membawa dirinya kembali berhadapan dengan leher Baekhyun. Chanyeol mencium beberapa bercak kemerahan—yang menodai kulit putih leher Baekhyun—untuk menutupi kemungkinan rasa sakit yang Baekhyun rasakan. Tapak gigitan dari giginya turut menghiasi noda merah di leher Baekhyun, dan Chanyeol tersenyum karenanya.
Baekhyun masih memejamkan matanya, tangannya menyerah untuk mencoba mendorong tubuh Chanyeol menjauh. Kepalanya terlukai di atas kasur sementara tubuhnya melengkung saat menggeliat. Baekhyun tidak ingin Chanyeol menyentuhnya, ia ingin menghentikan sang Raja namun tatapan mata yang berkalut nafsu itu terus menatapnya dengan lapar, membuat Baekhyun memilih pasrah saja sebagai satu-satunya pilihan yang tersisa.
"Aku mohon, Yang Mulia…" Baekhyun memohon lagi, namun yang didapatinya hanyalah Chanyeol dengan seringaiannya. Chanyeol yang dengan perlahan membawa tangannya berjalan lebih ke bawah, melepaskan ikat pinggang yang Baekhyun pakai, memudahkan Chanyeol untuk menyelundupkan tangannya di balik celana Baekhyun.
Tangan Chanyeol yang dingin menyentuh bokong sintalnya dengan perlahan, sebelum Baekhyun kembali mendorong tubuh Chanyeol untuk menjauh.
"Tinggalkan aku sendiri! Pergi kau, beast!"
Namun Chanyeol bahkan tidak peduli. Ia seakan tak mendengar teriakkan Baekhyun dan tak melihat air mata yang kembali turun di wajah Baekhyun. Matanya terselimuti nafsu dan kepalanya penuh oleh hasrat yang membara. Chanyeol menginginkan Baekhyun, ingin menandai Baekhyun sebagai miliknya.
Ketika Chanyeol merangkak perlahan untuk membaringkan dirinya di samping Baekhyun, saat itu juga Baekhyun menggunakan kesempatan ini untuk meloncat turun dari ranjang dan berlari menuju pintu. Baekhyun berusaha mati-matian untuk membuka pintu namun usahanya kembali sia-sia karena pintunya kali ini terkunci, dan ia tak menemukan adanya kunci disana.
Tak lama, ia mereasakan tangan Chanyeol memeluk pinggangnya, membuat Baekhyun menangis dan mencoba untuk mendorong Chanyeol lagi.
"Tinggalkan aku… please, don't…"
Yang lebih tinggi menatap Baekhyun yang sedang menangis, ia memiringkan wajahnya ke samping untuk menilik lebih jelas ukiran indahnya wajah Baekhyun. Kedua tangannya menyeka perlahan mata yang menangis, kemudian merapikan helaian rambut Baekhyun yang berantakan.
"Shh, jangan menangis, baby." Ia membelai kepala Baekhyun dengan lembut, juga memberi beberapa kecupan di pipi Baekhyun.
"Ssh, maafkan aku, maafkan aku." Chanyeol mencoba membuat Baekhyun untuk berbalik badan menghadapnya, namun Baekhyun menolak dengan menjatuhkan diri ke lantai. Chanyeol menghela nafas, mengatakan beberapa kata bujukan agar Baekhyun menghadapnya kembali seraya membawa tubuh Baekhyun untuk kembali, namun lagi-lagi Baekhyun menolak.
"Tidak, tidak! Jangan sentuh aku!" teriak Baekhyun ketika tangan Chanyeol menyentuh pahanya.
"Aku tidak akan melakukan apapun, please." Chanyeol mencoba untuk berbisik dengan lembut, melontarkan kata-kata penenang meskipun suara dan tubuhnya masih diliputi hasrat. Chanyeol kembali membawa tubuh ringkih Baekhyun dalam kungkungannya dan dengan perlahan membaringkan tubuh itu kembali ke atas ranjang. Baekhyun mencoba untuk melarikan diri lagi, namun Chanyeol dengan segera menahan pemuda itu untuk pergi.
"Maafkan aku.. maaf. Kumohon jangan kabur.."
Chanyeol memeluk Baekhyun dengan kelembutan, merangkul lekukan tubuh pemuda itu yang terasa pas di lingkaran lengannya, seperti Baekhyun diciptakan hanya untuk mengisi kekosongannya.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menakutimu, please, dengarkan aku..."
Perlahan-lahan, Baekhyun kini mulai merasa tenang. Karena pelukan dari lengan yang membawanya kehangatan dan Chanyeol juga tidak lagi bergerak, membuat nafasnya kembali teratur dan jantungnya menurunkan ritme detakannya kembali normal. Nafas Chanyeol berbenturan dengan kulit lehernya, namun pelukan pria itu di pinggangnya sungguh erat dan hangat, bagai Baekhyun akan pergi lagi jika Chanyeol melepaskannya.
"Vixen… apa kau percaya pada cinta pandang pertama?" Chanyeol berbisik saat menanyakannya, ia dapat merasakan Baekhyun kini bersandar dengan nyaman di tubuhnya.
"Kau tahu, aku sudah bertemu dengan—sangat—banyak orang, namun tidak ada satupun di antara mereka yang secantik dirimu. Kau sangat sempurna, Ya Tuhan.. bagaimana mungkin kau bahkan ada di dunia? Kau membuatku mabuk, sungguh."
Chanyeol mengangkat satu tangannya ke udara, lalu menggerakkan jemarinya berjalan di atas lengan Baekhyun.
"Kau terlihat sungguh kecil dibandingkan denganku, kulitmu sangat indah, dan suaramu…" Chanyeol menutup matanya untuk menarik nafas dalam.
"Indah… lihat aku, baby." Bisikannya kali ini membuat Baekhyun patuh untuk bergerak duluan, memutar tubuhnya di atas ranjang untuk berhadapan dengan Chanyeol. Ranjang yang besar didalam ruangan yang luas terlihat sebanding. Baekhyun kira ia bisa membawa lima orang untuk tidur di atas ranjang king size ini tanpa tidur berdesakan. Lukisan besar yang tergantung di dinding memperlihatkan pemandangan taman kerajaan yang pernah Baekhyun kunjungi dengan Luhan saat itu dipulas dengan panorama siang dan malamnya. Sedangkan dindingnya di cat merah dan ranjang berseprai putih.
Pakaian Chanyeol benar-benar menggambarkan bahwa ia adalah seorang raja tanpa dikatakan secara langsung, dengan pernak-pernik lainnya yang terbuat dari emas. Rambut sang Raja dicuci dengan baik, giginya yang putih, matanya yang besar, dan bibirnya yang biasanya menyunggingkan seringaian yang menurut Baekhyun menyeramkan. Namun meski begitu, kenyataannya adalah Chanyeol pria yang tampan. Sangat tampan.
Baekhyun sedikit menengadah untuk menatap mata Chanyeol. Mencari kebenaran dari janjinya untuk tidak menyentuhnya seperti tadi lagi, namun Baekhyun tak menemukannya. Yang mana membuatnya kembali merasa takut.
"Bisakah aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?"
Suara yang Chanyeol lontarkan masih berupa bisikan, kali ini sembari merendahkan kepalanya untuk mempertemukan bibir mereka kedalam sebuah ciuman yang manis. Dan Baekhyun tentu saja menolak.
"Jangan seperti ini. Meskipun aku memintamu untuk memanggilku Chanyeol dan meskipun aku mungkin mencintaimu, aku tetaplah Tuanmu, Rajamu."
Kata 'mungkin' yang Baekhyun dengar seketika mengingatkannya pada kalimat-kalimat yang selalu Luhan katakan.
"Akankah.. kau melemparkanku ke kandang kuda?" Baekhyun menatap mata Chanyeol takut-takut, dan yang ditatap justru mengulas sebuah seyuman hangat.
"Tidak, tentu saja tidak. Mengapa kau berpikir aku akan melakukannya? Aku tidak tahu cerita apa yang mungkin sudah kau dengar, tetapi aku tidak akan pernah melemparmu kesana." Chanyeol membalas tatapan itu, menilik wajah dengan sorotan mata yang menggemaskan, yang mengingatkannya pada seekor anjing yang terlantar.
"Jangan takut padaku lagi." Chanyeol mencoba untuk mencium Baekhyun lagi namun pemuda itu tetap saja menolak untuk kesekian kalinya.
"Kumohon, biarkan aku pergi ke kamarku." Baekhyun berbisik, menuturkan suaranya di celah inci terakhir antara bibirnya dengan bibir Chanyeol. Tidak terjadi apa-apa selama sepersekian detik selain tubuh keduanya yang rapat tanpa celah, tangan Chanyeol yang menjelajah pungguh Baekhyun dan bibir itu yang akhirnya menyentuh sedikit pipinya.
"Tidak, baby. Mulai sekarang kau tidak lagi bekerja disini, dan kau…" Mata Chanyeol memerah ketika ia menangkup wajah Baekhyun dan akhirnya berhasil untuk mencium bibirnya.
"Kau akan menjadi milikku, selamanya." Kalimatnya lebih terdengar seperti ancaman daripada untaian kata penuh cinta. Chanyeol kembali mengulas senyuman saat menilik leher Baekhyun yang penuh dengan bekas gigitan, dari yang semula berwarna kemerahan, lalu benar-benar berwarna merah hingga keunguan. Apakah semua adalah ulahnya?
Ya, Chanyeol yang melakukannya.
.
.
"Yang Mulia! Aku menolak untuk membiarkan adikku menjadi mainan pribadi Raja!"
Kris berdiri tegak menghadap Ratu sesaat setelah wanita itu memasuki ruang tahta.
"Lord Wu, aku pikir kau sudah paham. Aku tahu dia adalah saudaramu, namun ini adalah Raja yang sedang kau bicarakan. Dan kau tahu, kalian berdua berada disini untuk membayar hukuman kedua orangtua kalian."
Sang Ratu sungguh merasa terganggu, moodnya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Anak bungsunya menolak berbagai cara agar terlepas dari pria China itu, dan sekarang anak sulungnya justru dibuat tergila-gila pada seorang pemuda. Dan meskipun keluarga kerajaan hampir saja hancur oleh dua orang tersebut, Ratu tetap bersyukur bahwa Chanyeol masih bisa menjadi Raja yang baik disamping kebiasaan dan keinginan anehnya. Orang-orang menyayangi Chanyeol dan Chanyeol pun demikian. Chanyeol sangat peduli dan perhatian pada semua orang, memberi mereka uang dan makanan yang layak meskipun Chanyeol akan terlihat berbeda jika sudah berada di dalam istana.
"Ratuku, aku tidak tahu apa yang sudah orangtua kami lakukan, namun Baekhyun benar-benar tidak tahu apa-apa!" suaranya meninggi, Kris memanggil nama sang Ratu berkali kali tanpa berlutut seperti yang biasa ia lakukan.
"Kris."
Pintu utama yang besar terbuka, membawa langkah Chanyeol memasuki ruangan bersama dengan Baekhyun yang mengekori. Kris mengikuti pandangan Baekhyun yang kosong bersamaan dengan para pengawal yang selalu berada di sisi Raja.
"Kau tahu bahwa aku tidak peduli dengan hubungan apa yang ada diantara kalian berdua dan aku juga tidak peduli jika kau adalah pengawalku. Aku bisa membunuhmu kapan saja aku mau jika kau tidak mematuhi perintahku." Chanyeol memberi penekanan pada kata 'membunuh' yang membuat Baekhyun mengangkat kepala dan menatap kakaknya. Kris menyadari tatapan adikknya, ia berpaling lalu mengukir senyuman pada Baekhyun.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apapun." Sang Raja meyakinkan Baekhyun, namun pemuda itu masih tetap merasa takut hingga inti tulang yang ada di tubuhnya.
"Pelajari bagaimana caranya mengontrol kalimat yang keluar dari mulutmu. Atau kau ingin aku menahanmu di penjara untuk beberapa hari? Mungkin kau bisa menjernihkan pikiranmu."
Baekhyun mengenggam lengan kakaknya, menatapnya memohon untuk tidak lagi bersuara. Kris melirik pada leher Baekhyun saat itu, dan pakaian yang Baekhyun kenakan tak menutupi bercak-bercak keuguan dan jejak gigitan sana.
"Baek.." Kris menyentuh leher Baekhyun dengan jemarinya, dengan gerakan yang terlihat lembut membuat Chanyeol terganggu dengan apa yang Kris lakukan.
"Baekhyun?" Chanyeol memanggilnya, dan Baekhyun dengan segera berbalik untuk menghadapnya.
"Ya, Yang Mulia?"
"Kau bisa pergi sekarang." Baekhyun melirik sekilas pada kakaknya, tidak ingin meninggalkan saudaranya itu sendirian diruangan besar ini bersama Raja dan Ratu.
"Baekhyun, pergilah." Sang Ratu akhirnya bersuara kembali, suaranya yang lembut dihiasi dengan sebuah senyuman ramah. Baekhyun tahu bahwa terkadang sang Ratu memang bersikap berang dan kasar, namun wanita itu tetaplah memiliki hati dan peduli pada semua bawahannya. Baekhyun membungkuk hormat perlahan, kemudian melirik pada kakaknya lagi, menatapnya dengan sorotan agar Kris tak lagi mengatakan apapun.
Semuanya sudah cukup.
.
.
Taman kerajaan masih sama besar, hangat dan indah seperti yang Baekhyun ingat terakhir kali. Semuanya masih sama namun tetap saja, ada yang telah berubah. Baekhyun tidak yakin apakah dirinya sendiri ataukah taman besar ini yang mengalami perubahan, yang pasti sesuatu benar-benar terasa berbeda. Rasanya seperti dirinya tak berada disana, jiwanya pergi jauh dari raganya dan terjebak di kurun waktu dan tempat yang berbeda. Dan Baekhyun berdiri disini dengan menilik berbagai hal tanpa tahu bagaimana cara mengendalikannya, cara menghadapinya dan cara mengubah semuanya.
Setiap kali Baekhyun memejamkan mata, ia melihat mata Chanyeol yang berkalang nafsu menatapnya lapar, dan tangan kokohnya yang menyentuh beberapa bagian tubuhnya dimana tak seorangpun diizinkan untuk menyentuhnya.
Baekhyun masih dapat mendengar kalimat yang Chanyeol utarakan di telinganya, namun tak ada satu katapun yang dapat ia percaya. Bohong. Semuanya adalah kebohongan, kata-kata itu hanyalah bualan untuk membuat Baekhyun terjatuh dalam perangkapnya.
Chanyeol adalah Raja yang cukup bengis, dan egois. Baekhyun sangat yakin bahwa dirinya adalah satu dari sekian boneka yang sudah Chanyeol mainkan selama hidupnya, dan hal ini hanya akan merubah jalan hidupnya lagi. Sudah terlalu banyak perubahan yang Baekhyun alami, dan semuanya selalu di luar dugaan.
Ia melirik pada beberapa pengawal yang berdiri kaku di belakangnya, yang dikirim Chanyeol untuk memperhatikannya, menjaganya selalu mulai dari sekarang. Semuanya terasa sangat konyol.
Pertama, para pengawal itu memiliki jabatan yang lebih tinggi dengannya, orang-orang yang digambarkan tidak pernah peduli dengan tahta kerajaan, kekayaan dan yang sejenisnya. Kedua, Baekhyun adalah seorang pelayan, pelayan sederhana yang diminta Luhan melakukan beberapa pekerjaan sederhana untuk Raja.
Dan sekarang, ia tidak tahu harus memanggil dirinya sendiri apa. Chanyeol tidak memiliki ratu yang sah—ia tidak memiliki istri—sehingga ibunya sendiri yang mengambil posisi tersebut. Ia tidak melihat lagi orang-orang seperti Baekhyun—yang katanya mereka semua kini tinggal di kandang. Baekhyun hanya penasaran, apakah ia benar akan dilemparkan ke peternakan nantinya meskipun Chanyeol berkata tidak akan melakukannya.
Baekhyun tidak ingin kembali masuk ke istana karena Chanyeol ada disana menunggunya. Dan Baekhyun tidak yakin jika kali ini ia bisa menghentikan Chanyeol untuk berbuat lebih jauh.
"Baekhyun-ah!" Luhan yang datang tiba-tiba memanggil, kemudian segera membawa Baekhyun kedalam pelukan yang erat.
"Hyung! Aku tidak bisa bernafas!" Baekhyun mencoba membebaskan dirinya namun Luhan tak membiarkan dirinya lepas.
"Apa kau masih hidup? My little baby, aku sangat mengkhawatirkanmu. Apa dia melakukan sesuatu padamu? Apa kau baik-baik saja, Baekhyun?" Wajah Baekhyun memerah karena kekurangan pasokan oksigen, membuatnya menarik nafas dalam-dalam.
"Hyung, kau akan membunuhku!"
Luhan tertawa karenanya, ia menggoda Baekhyun setelah melepaskan pelukannya dengan gerakan akan memeluknya erat lagi, namun Baekhyun refleks mundur untuk menghindarinya.
"Maaf, Baekkie. Aku hanya.. aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Dan ngomong-ngomong, mengapa kau berpakaian seperti ini? Wah.. apa kau memang pernah setampan ini?" Luhan mengedipkan sebelah matanya yangmana membuat pipi Baekhyun disapu rona kemerahan. Namun beberapa detik kemudian Luhan menyadari ada yang aneh dari cara Baekhyun berpakaian.
"Tunggu, mengapa kau berpakaian seperti ini? Tidak, ah sungguh, kenapa?"
"Hyung, aku juga tidak tahu mengapa. Tetapi Raja.. ketika ia terbangun tadi pagi, dirinya mengatakan bahwa aku tidak lagi bekerja dan kemudian memberikanku pakaian seperti ini. Dan juga… kau tahu, kamar yang ada di sebelah kamarnya, dia bilang itu adalah kamarku mulai dari sekarang. Dan…"
"Tunggu, jadi dia menjadikanmu sebagai Lord, Baekhyun?" Baekhyun menghela nafas lalu merundukkan kepalanya mendengar pernyataan tersebut. Baekhyun sama sekali tidak tahu karena selama ini ia tidak pernah peduli pada apapun yang bersangkutan dengan kerajaan.
"Dia… dia—ah Luhan hyung, aku tidak mau berada disini lagi." Baekhyun mendekat agar dirinya bisa membisikkan kalimat selanjutnya pada Luhan, "Tadi malam, Raja terlihat seperti binatang buas yang kehilangan kendali, dia terus menyentuhku. Dia menyentuh bagian yang tidak pernah aku inginkan untuk disentuh, dan dia juga mencoba untuk—tetapi aku berhasil lolos, aku menghentikannya! Hyung, aku tidak yakin apa aku akan bisa terus menghentikannya jika dia terus mencoba berbagai cara. Bisakah kau membantuku untuk pergi dari istana?"
Luhan membulatkan matanya mendengar penuturan Baekhyun, namun kemudian ia menggelengkan kepalanya untuk berkata tidak.
"Baek, jika dia menangkapmu lagi, kau bisa dibunuh! Jangan pernah berpikir kau bisa melakukan hal seperti itu!"
Baekhyun memalingkan wajahnya, rautnya tak menunjukkan ekspresi apapun termasuk raut ketakutan yang sebelumnya selalu terpancar di matanya.
"Kau harus lihat bagaimana dia tadi malam, hyung. Jika kau melihat apa yang dia lakukan padaku tadi malam, jika kau adalah aku, kau tidak akan mengatakan itu. Kata mati tidak menakutiku, tetapi…"
Luhan segera menutup mulut sebelum dirinya membiarkan bibirnya berbicara lebih. Ia melihat anjing kecil milik Raja berlari-lari menghampiri mereka, dan Luhan tau pasti bahwa pemiliknya sudah seharusnya berada disekitaran mereka, tak jauh dari anjing kecil itu.
"Oh, puppy!" Baekhyun membungkukkan tubuh untuk menangkap dan menggendong anjing kecil yang menghampirinya.
"Ah, siapa namamu, pretty boy?" ia sedikit bernyanyi saat melontarkan kalimat tersebut, kemudian mengelus bulu halus anjing tersebut dengan gemas.
"Namanya Myung Min." Chanyeol yang datang bagai hantu di balik si anjing menjawabnya, "Kau tahu, ayahku.. aku menamainya seperti itu karena ayahku. Chang Min, Myung Min. Aku selalu memanggilnya Minnie. Sangat mengejutkan dia membiarkanmu untuk menyentuhnya, karena Minnie tak pernah mengizinkan orang lain selain aku untuk menyentuhnya. Ah, kau pasti lelaki yang sangat baik." Chanyeol turut membungkuk untuk meraih tangan Baekhyun, menggerakkan tangannya dan tangan Baekhyun bersamaan untuk mengusak-ngusak manja anak anjing kesayangannya.
"Y- yang Mulia!" terkejut akan kehadiran pria yang ternyata Chanyeol, ekspresi pada wajah Baekhyun berubah dengan segera. Ia cepat-cepat berdiri untuk membungkuk pada sang Raja.
"Kau menyukainya?" Chanyeol bertanya selagi membawa anjing kecilnya ke pangkuan.
"Maafkan aku." Baekhyun tak mengangkat kepala untuk menatap mata Chanyeol, melainkan melirik pada tangannya sendiri. Tawa kecil terdengar dari suara berat Chanyeol, namun sedetik kemudian suara beratnya kembali pada nada yang serius.
"Aku akan menunggumu di kamarku, Baekhyun. Dan kau, Lord Xi, berhenti dekat-dekat dengan kekasihku. Kau punya pangeranmu sendiri, biarkan dia milikku sendiri."
Kris yang berdiri di belakang Chanyeol menghela nafasnya berat mendengar kalimat yang Chanyeol lontarkan. Setelah Baekhyun dan Ratu memaksanya untuk menyetujui apapun yang Raja Chanyeol katakan, ia harus kembali mengawasi Chanyeol dengan menjadi pengawal pribadinya. Bagaimana pun juga Kris tetaplah masih menyandang sebutan Lord Wu.
Ketika Raja mulai berjalan menjauh, Kris diam-diam menjanjikan sesuatu pada Baekhyun; 'aku akan mengeluarkanmu dari sini."
"Sungguh, pria mana yang memberi nama anjingnya seperti itu, ck. Dasar pemarah." Luhan berbisik untuk menggerutu, namun kalimatnya ia hentikan ketika melihat tatapan kosong Baekhyun setelah Raja pergi.
"Baekhyun…"
Luhan tidak mencoba untuk menenangkan Baekhyun, tidak juga memberi semangat. Bagaimanapun kata-kata Raja adalah perintah mutlak. Karena hidup di samping Raja sudah menunggu Baekhyun.
.
.
Ketika Baekhyun perlahan memasuki kamar Chanyeol, ia melihat pria itu terduduk di atas ranjangnya, menggerak-gerakkan telunjuknya untuk bermain dengan anjing kecil tadi.
"Oh, sini mendekat." Chanyeol tersenyum menyambut Baekhyun. Dan untuk sepersekian detik yang Baekhyun lewatkan, Baekhyun mendapati Chanyeol tak semenakutkan sebelumnya. Chanyeol terlihat ramah seperti orang yang baik.
"Ada apa? Kenapa kau berhenti seperti itu?" Chanyeol melebarkan senyumannya, ia meletakkan anjing kecilnya di atas kasur kemudian bangkit untuk menghampiri Baekhyun dan membawa pemuda yang tadi ia katakana sebagai 'kekasih'nya itu kedalam pelukannya. Baekhyun sendiri tak melakukan gerakan apapun, ia membiarkan dirinya masuk kedalam kedua lengan kokoh Chanyeol, membiarkan Chanyeol merasakan kebagaiaannya sendiri.
"Kau harum sekali, kau tahu?" Chanyeol terkekeh, membenamkan wajahnya pada rambut Baekhyun.
"But well, aku memanggilmu kesini untuk hal lain. Aku bertanya pada kakakmu mengapa kau berada di ruangan itu untuk memainkan piano, dan dia bilang kau sangat suka memainkannya. Kau juga bisa bernyanyi dengan baik. Dan kemudian aku ingat sesuatu, kau tidak diperbolehkan untuk masuk kesana, Baekhyunnie ~" nada yang Chanyeol tuturkan terdengar sedang menggoda Baekhyun terlebih ketika Chanyeol menyebut nama Baekhyun dengan nada yang lucu. Ia menaut-nautkan jemarinya dengan jemari Baekhyun. Ketika Chanyeol merasakan detakan jantung dari dada Baekhyun yang berdebar cepat, ia menggoda pemuda itu lebih jauh.
"Jadi ~ karena kau telah pergi kesana, kau harus mendapatkan hukuman! Well, Raja Chanyeol sudah memutuskan, bahwa Lord Byun dihukum untuk memberikan dua ciuman pada Rajanya!" Chanyeol terkekeh seraya merendahkan kepalanya, hampir menyapukan bibirnya di atas bibir Baekhyun.
"Tapi tunggu! Raja memiliki penawaran untukmu ~" Chanyeol sedikit menjauhkan bibirnya.
"Untuk tiga kali ciuman, aku akan mengizinkanmu memainkan piano, untukku. Dengan piano yang sama yang kau mainkan kemarin-kemarin~" suaranya terdengar seperti memelasnya anak kecil, sangat kekanakkan. Hal ini justru membuat Baekhyun berada dalam pilihan yang sulit. Ia mencintai piano lebih dari apapun yang ada didunia, namun apakah alasannya tersebut cukup kuat untuk melakukan apa yang Chanyeol inginkan?
"Yang Mulia… aku… tidak bisa."
"Tidak ada kata 'aku tidak bisa', Baekhyunnie-ku. Kau harus melakukannya! Jika kau menolak, kau harus dihukum!"
Baekhyun menekankan tangannya di dada Chanyeol, membuat pria itu sedikit menjauh dari tubuhnya.
"But—"
"Kalau begitu cukup terima sentuhanku. Satu…"
Baekhyun merasakan bibir Chanyeol menekan bibirnya, menutup udara yang menyentuh permukaan kulit bibirnya. Menangkap bibirnya dengan gerakan dan sentuhan yang lembut juga manis. Baekhyun memang sudah tidak takut lagi, namun dirinya tetap saja tidak menyukai ini. Baekhyun tidak pernah menyentuh siapapun selama hidupnya, dan sekarang, ciuman dibibirnya dicuri dengan cara seperti ini…
Baekhyun tidak pernah memikirkannya.
.
.
To Be Continued
T/N : Selamat Pagi! Selamat menikmati long weekend ~ pertama-tama, aku mau ucapin maaf banget karena minggu kemarin aku gak update sesuai yang aku janjiin. Aku lagi diserang banyak tugas (and no one will cares about it) sekaligus situs ffn di blok sama provider yang aku pake, jadi susah buat tethering padahal setiap hari udah coba. Dan gak ada wifi gratisan yang bisa aku pake (dan emang ga ada yang peduli sama ocehan aku). Tapi aku mau bilang sesuatu sama mbak iyuh, maaf karena aku gak pake bahasa indonesia yang benar dan baik, maksudku update setiap minggu itu dalam artian seminggu sekali, bukan setiap hari minggu. Dan buat mbak guest, iya aku tinggal mentranslate doang kok. emang gak susah tapi seperti yang aku bilang tadi, keadaan yang gak mendukung. sekali lagi aku minta maaf ya.
Reviewnya? hehe xD
