Naruto © Masashi Kishimoto
CAT? 2 © Hyuuga Divaa Arashii
Rated : T
Genre: Fantasy & Romance
Pair: NaruHina
Warning: AU. OOC. TYPO's. Alur kecepetan. Dan warning warning lainnya.
.
.
Dont Like Dont Read
(Remember it)
.
.
Happy Reading Minna!
.
Chapter 3: Sweet Cup Cake, Sweet Kiss
.
Sejak tadi malam pemuda pirang itu tidur dengan lelap. Wajahnya yang seperti anak kecil ketika tertidur, membuat Hinata tidak berhenti untuk terus menarik sudut bibirnya dan memperhatikan pemuda itu.
Naruto. Pemuda pertama yang Hinata ketahui namanya sejak ia menjadi aneh seperti sekarang. Sebenarnya asyik sekali bisa merubah tubuh menjadi kucing yang imut dan menggemaskan. Tapi itu membuat Hinata terkadang menjadi incaran banyak orang. Sudah beberapa orang yang membawanya dan untungnya ia bisa kabur dari orang-orang yang menurutnya aneh itu.
"Enggh.." Hinata tersentak. Ia kembali memandang Naruto yang sedang terbaring di atas sofa.
Mata Naruto mengerjap perlahan. Terbuka lalu tertutup. Begitu seterusnya.
'Sejak kapan ada seorang bidadari di rumahku? Aku pasti masih bermimpi.' Matanya kembali terpejam. Hinata terkikik kecil melihat ekspresi Naruto yang berubah-ubah saat tidur. Itu terlihat sangat lucu untuknya. Ya, walaupun kakinya terasa keram karena duduk berjam-jam demi menatap Naruto semalaman.
Kring.. Kring.. Kring..
"Eh?" Hinata sedikit terkejut karena tiba-tiba mendengar suara dari alarm yang dipasang Naruto. Mendengar suara alarm membuat Naruto langsung bangkit dari posisinya.
"Huaa!" Naruto yang tiba-tiba berdiri, lalu di kejutkan oleh kehadiran Hinata yang menatapnya polos, membuat Naruto terjungkal kebelakang dengan gaya yang sangat tidak elit.
"Sejak kapan kau di situ?!" Naruto kemudian berdiri memegang kepalanya yang terasa sakit dan kembali duduk di sofa sambil memandang Hinata yang duduk manis di atas karpet.
"Sejak tadi malam." Perkataan Hinata membuat alis Naruto naik. Yang benar saja! Berarti gadis itu tidak tidur dari semalam?
"Benarkah? Jadi, kau tidak tidur?" Hinata menggeleng perlahan.
"Lihat!" ia menunjukkan kalung yang ia punya kepada Naruto. Membuat Naruto tambah bingung dengan tingkah gadis di depannya. Sebenarnya Hinata itu gadis umur berapa sih? Tingkah lakunya menunjukan kalau dia masih anak-anak.
"Ka-Kalung ini bercahaya. Berarti energiku masih cukup untuk menjadi manusia dan tidak perlu tidur. Kalau berliannya redup, berarti aku harus menjadi kucing untuk menghemat energiku," Hinata menjelaskan sambil menggenggam kalung berliannya.
"Cahaya? Aku tidak melihat cahaya apapun dari kalung itu." Naruto menyilangkan tangannya.
"Benarkah? Souka.. aku 'kan berbeda dengan Naruto-kun. Jadi bisa saja Naruto-kun tidak melihatnya," Ucap Hinata dengan suara kecil.
"Kalung ini sangat berharga. Ini menyangkut hidupku."
"Kalau begitu kenapa bisa sampai lepas dari lehermu?"
"Mungkin saja karena mantra pengikatnya melemah~"
"Astaga! Sekarang jam berapa?!" Naruto panik sendiri. Tiba-tiba saja dia teringat sekolahnya. Lagian, harusnya ia bersiap-siap ke sekolah terlebih dahulu baru mengobrol dengan Hinata.
"Jam setengah enam. Kenapa?"
"Hah? Yokatta. Aku pikir aku sudah terlambat." Naruto menghempaskan badannya ke sandaran sofa. Hinata kemudian berdiri dan duduk di sebelah Naruto.
"Naruto-kun mau pergi?" Hinata menatap Naruto yang sedang memejamkan matanya. Di lihat dari samping pun Naruto sudah bisa membuat ia terpesona.
"Hm. Aku akan ke sekolah." Tiba-tiba kelopak mata Naruto terbuka, membuat Hinata memerah karena ketahuan sedang memandang Naruto.
"Aku mandi dulu." Naruto kemudian berdiri dan mengacak pelan rambut Hinata. Hinata lalu memandang sendu punggung Naruto yang mendadak menjauh.
"Naruto-kun."
.
.
.
"Aku berangkat!" Naruto kemudian keluar dari rumahnya.
"Ya. Hati-hati di jalan Naruto-kun." Setelah Naruto keluar rumah. Hinata langsung mengunci pintu rumah itu. Ia masih ingat Naruto yang mengatakan kalau ia tidak boleh masuk ruangan di rumah ini sembarangan. Ia juga harus mengunci pintu kalau di rumah maupun ketika pergi. Banyak hal lainnya yang bahkan sudah di tulis Naruto dan di tempel di pintu kulkas.
Hinata kemudian berjalan sambil bersenandung. Ia haus. Jadi, ia menuju dapur untuk minum. Saat ia akan minum, mata Amethyst nya melihat sebuah kertas dengan tulisan berjejer rapi.
Ia pun membaca apa yang tertulis di kertas itu.
'Kalau ingin makan, ramen masih ada di tempat penyimpanan. Jangan lupa rapikan sesudah makan.'
Hinata kemudian membuka lemari penyimpanan Naruto. Ia mengambil satu cup ramen. Dan membuatnya seperti yang dilakukan Naruto kemarin. Ia masih mengingat, bahkan detail yang Naruto lakukan kemarin terekam jelas di memorinya.
Setelah ramen yang di buatnya siap, Hinata menarik kursi dan segera duduk di meja makan. Rasanya sangat sepi kalau tidak ada Naruto. Padahal Hinata baru ditinggalkan Naruto sekitar 20 menit yang lalu.
Pasti Naruto selalu merasa kesepian tinggal di rumah yang sebesar ini.
"Slurp.. Oishii.." dalam sekejap, ramen yang di makan Hinata langsung habis. Dan tak lupa pesan Naruto yang ada di kertas, Ia pun langsung membuang sampah ke tong sampah kecil di dapur.
Kemudian ia berjalan lagi ke arah kulkas. Ia melihat apa saja yang bisa ia lakukan selama Naruto tidak di rumah.
'Kalau bosan tontonlah Tv. Atau berjalan-jalan keluar sebentar dan jangan lupa mengunci pintu! Bawalah beberapa lembar uang yang ada di tempat aku tunjuk 'kan tadi.'
Sepertinya menonton Tv adalah hal yang bagus. Hinata kemudian meninggalkan dapur dan berjalan ke ruang keluarga. Ia juga sempat memperhatikan bagaimana cara Naruto menonton Tv dan menukar-nukar chanelnya.
Badan mungilnya ia hempaskan ke sofa empuk berwarna krem yang menjadi tempat tidur Naruto semalam. Bahkan wangi citrus tubuh Naruto masih tertinggal di sofa ini.
Hinata mengikuti gaya Naruto menukar-nukar channel. Ia juga mengikuti gaya Naruto yang memutar matanya bosan ketika melihat siaran Tv yang tidak bagus. Hal itu membuat Hinata terkikik geli sendiri.
Hinata kemudian melirik jam. Naruto bilang Naruto akan pulang sekitar jam 3. Dan sekarang masih jam 9. Ia menghembus 'kan nafasnya perlahan. Padahal baru 2 jam yang lalu ia di tinggalkan Naruto. Tapi sudah sangat bosan.
'Kalau bosan tontonlah Tv. Atau berjalan-jalan keluar sebentar dan jangan lupa mengunci pintu! Bawalah beberapa lembar uang yang ada di tempat aku tunjuk 'kan tadi.'
"Ah benar! Lebih baik aku jalan-jalan." Hinata kemudian kembali lagi ke dapur. Mengambil beberapa lembar uang yang di simpan Naruto di sebuah kotak di dalam laci meja.
"Sepertinya segini sudah cukup." Ia kemudian berjalan ke arah pintu. Merasa ada yang kurang, ia pun berbalik dan berpikir sebentar.
"Ah ya! Alas kaki!" Hinata kemudian merunduk tepat di rak sepatu milik Naruto. Ia menatap jejeran pasang sandal dan sepatu yang Naruto punya.
"Kawai.." ia kemudian mengambil sebuah sandal putih bertali –milik Kushina dulu–. Setelah selesai memakai sandal –yang entah kenapa pas di kakinya–, ia pun berdiri. Dan mengikuti gaya Naruto yang merapikan penampilannya melalui cermin yang terpasang di dinding dekat pintu. Hal yang menyenangkan bisa melakukan aktifitas yang di lakukan Naruto.
Hinata keluar rumah dan tidak lupa mengunci pintu dan meletakkan kuncinya di sebuah pot kecil di dekat pintu. Naruto biasanya tidak melakukan itu, tapi karena kuncinya Cuma ada satu dan satu lagi ia lupa menaruhnya di mana, akhirnya Naruto meletakkannya di bawah pot kecil di depan pintu rumahnya.
"Ayo jalan-jalan!" Hinata berseru kecil sambil menutup pagar rumah Naruto.
.
.
.
"Kiba! Mana pr mu?" Naruto berdiri di dekat meja Kiba dengan wajah kesal. Ia selalu malas mengumpulkan pr untuk satu orang ini. Setiap ia akan mengumpulkan pr, pemuda pecinta anjing itu pasti selalu mengelak dan selalu memberi alasan.
"Yo ketua kelas! Bagaimana kalau aku meminjam pr mu, dan nanti siang aku trak~"
"Sensei! Inuzuka Kiba tidak membuat pr-nya!" ujar Naruto kemudian. Ia sudah lelah menghadapi Kiba. Dan ia sangat berterimakasih kepada siapapun juga yang berhasil membuat Kiba tidak sekelas dengannya.
"Inuzuka-kun! Silahkan keluar dari kelasku hari ini."
Wajah terkejut Kiba sangat terlihat jelas, membuat siswa dan siswi di sana tertawa. Naruto kemudian tersenyum tipis, dan semoga saja kali ini Kiba bisa jera dan akan selalu membuat pr.
"Selamat bersenang-senang kawan~" ujar Naruto kemudian.
.
.
.
Sensei mereka keluar sebentar. Katanya sih ke toilet. Hal itu di manfaatkan oleh murid di sana untuk merileks 'kan otak sejenak dengan bersenda gurau dengan teman-teman mereka. Naruto yang bosan mengedarkan pandangannya ke arah jendela.
'Okaa-chan.. aku sudah hidup dengan baik sekarang.' Sejak kematian kedua orang tuanya, hidup Naruto berubah 180 derajat. Ia menjadi anak yang rajin. Lebih mementingkan belajar dari pada bersenang senang keluar. Ia juga lebih suka menabung uang bulanan yang di kirimkan Menma padanya. Ia sekarang lebih berhati-hati memilih teman, tidak ingin masa lalunya kembali terulang.
Naruto cukup populer di kalangan murid murid. Hanya saja dia memang agak membatasi diri dengan mereka. Masih trauma mungkin. Dan Kiba adalah salah satu temannya yang cukup dekat dengannya –walaupun ia masih agak membatasi diri–. Terkadang pemuda coklat jabrik itu selalu membuatnya kesal setengah mati. Tapi bagaiamanapun, sejak SMA ia sudah selalu bersama-sama dengan Kiba.
'Naruto-kun.' Ia serasa mendengar sesuatu. Dan sepertinya itu cara Hinata memanggilnya. Tanpa ia sadari, ternyata ia mulai menyukai cara Hinata memanggilnya.
Hinata. Apa yang di lakukan gadis itu sekarang? Ia jadi ingin cepat-cepat pulang. Naruto terkadang heran sendiri dengan pemikirannya untuk membantu orang lain. Bahkan gadis yang tidak ia ketahui asal-usulnya. Gadis yang sangat aneh menurutnya.
"Baiklah.. mari kita lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda tadi." Naruto kembali kekesadarannya dan kemudian bersiap mengikuti pelajaran.
.
.
.
Sebenarnya Hinata terkadang risih juga sebagai manusia. Ia risih di perhatikan begitu intens oleh orang-orang. Memangnya apa yang aneh dari dirinya? Ia merasa biasa-biasa saja. Bahkan tidak bisa di katakan memalukan untuk berjalan-jalan keluar.
Kini Hinata tepat berhenti di sebuah mesin minuman kaleng otomatis. Ia tidak tau sudah berapa lama ia berjalan-jalan dan menikmati makanan, tapi uang yang di berikan Naruto, tidak berkurang sepersen pun. Tiap Hinata menatap sesuatu yang di inginkannya, pasti tiba-tiba saja ada orang yang dengan senang hati membelikan itu untuknya.
Hinata memperhatikan seseorang di depannya yang sepertinya sedang memasukkan beberapa uang logam ke dalam mesin itu. Hinata bahkan baru mengetahui cara memakai mesin itu.
"Engg.. Nona. Apa anda ingin satu?" Hinata menoleh. Ya. seperti sekarang ini contohnya. Ia kemudian menatap seorang pria bertopi yang sepertinya tidak beda jauh dengan umurnya.
"Apakah boleh?" pemuda itu kemudian mengangguk. Hinata mengambil minuman kaleng yang di berikan orang itu.
"Sini, biar saya saja yang membukakkannya." Hinata kembali menyerahkan minuman kaleng itu kepada pemuda itu.
"Arigatou." Hinata tersenyum. Pemuda itu sedikit merona melihat senyum Hinata dan kemudian pamit pergi. Hinata hanya menggeleng dengan keanehan orang-orang ini.
Jadi, sebenarnya ia lebih senang menjadi apa? Manusia seperti dia dahulu tapi membuatnya risih, atau kucing kecil imut menggemaskan tapi takut tertangkap? Sampai sekarang pun ia masih memikirkan jawabannya.
Ia meminum minuman kaleng bersoda itu, walaupun rasanya agak aneh di lidahnya tapi dia cukup menyukainya.
"Waa~ orang itu memakai baju yang sama dengan Naruto-kun." Hinata menatap dua orang siswa yang sepertinya membolos pelajaran. Dia kemudian melangkah lagi. Tapi tepat di depan toko kue ia kembali berhenti dan matanya terus terusan menatap cup cake imut beraneka bentuk dan warna.
"Tidak.. Tidak. Nanti kalau aku melihat itu lagi seseorang akan tiba-tiba datang padaku. Hee~ aku tidak ingin menggunakan cara itu." Hinata menggeleng perlahan. Tapi kemudian matanya menatap bangunan besar dengan tinggi menjulang dan banyak orang di sana. Dan baju mereka pun sama seperti Naruto.
Hinata kemudian mendekat ke bangunan itu. Tapi karena agak takut untuk mencoba masuk, akhirnya ia pun hanya duduk di taman dekat gedung itu.
"Jadi ini yang namanya sekolah." Hinata mengingat baik-baik. Ia harus mulai terbiasa dengan memori barunya. Tapi rasanya ada yang aneh yang tidak mungkin bisa ia lupakan di masa lalu dan sekarang terasa mengganjal. Bahkan ia mencoba untuk mengingat sesuatu yang hanya berujung membuatnya sakit.
Kaki Hinata berayun. Ia cukup bosan. Tapi untungnya di sini cukup teduh jadi ia bisa merasakan semilir angin yang melewatinya. Beberapa orang yang lewat menatap kagum atas maha karya tuhan yang satu itu. Hinata hanya memandang orang-orang itu dengan wajah polosnya yang menggemaskan.
Hari sudah semakin siang dan Hinata tetap duduk di sana sambil bersenandung menghilangkan kebosanannya. Sepertinya lain kali dia akan memilih menikmati AC di rumah Naruto dengan minum segelas susu dan menonton Tv.
Suara bel yang cukup keras terdengar. Dan beberapa detik setelah itu banyak orang yang keluar dari bangunan megah itu. Hinata pikir ini pasti waktunya pulang. Jadi, ia memutuskan untuk mendekat ke gedung itu.
Belum sampai di depan gerbang, Hinata malah di kejutkan oleh suara yang sangat kencang mendekat ke arahnya.
"TUAN PUTRI!"
"Eh?" refleks kaki Hinata berlari ke dalam sekolah mencari tempat berlindung.
"TUAN PUTRI!" mereka semakin banyak. Membuat Hinata kewalahan lari akibat fisiknya yang tidak terlalu kuat.
"Kyaa!" dia semakin cepat berlari membuat perhatian orang-orang kini terpusat pada dirinya.
Bruk
"Ittai!" ia terjatuh. Lalu mengadah dan untungnya ia menemukan Naruto-kun yang sudah lama ia tunggu. Ia segera berdiri dan bersembunyi di balik punggung tegap Naruto.
"Ada apa Hinata? Kenapa bisa disini? Hoii?"
"Kyaa!" mendengar suara langkah kaki yang banyak kian mendekat, membuat Hinata mengeratkan genggamannya pada lengan baju Naruto.
"Naruto-senpai! Kembali 'kan tuan putri kami!"
"Eh? Tuan putri?"
"Ya. Kami tidak tau namanya tapi kami langsung jatuh cinta pada pandangan pertama." Seseorang berambut hitam berbicara dengan matanya yang sudah berubah menjadi berbentuk Love.
"Ya! Dan kami memutuskan membuat Fans club!" seseorang berada di tengah gerombolan itu kemudian berbicara. Sementara Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya yang mulai berdenyut.
"Ah terserah kalian. Hinata perkenalkan dulu dirimu." Hinata kemudian memunculkan kepalanya dari balik punggung Naruto.
"Huaaa! Tuan putri kami yang cantik!" ujar orang-orang itu histeris. Hinata keluar dengan langkah hati-hati dan tangan yang masih memegang lengan baju Naruto.
"Engg.. Hinata desu. Yoroshiku." Perkenalan yang singkat, apa lagi dengan suaranya yang halus membuat beberapa orang di sana pingsan, agak lebay tapi memang itu yang terjadi.
"Minggir.. aku akan pergi dengan Hinata. Jika ingin membuat fans club silahkan tapi jangan sampai menyentuh Hinata." Ujar Naruto dengan deathglarenya yang menakuti orang-orang disana.
"Ha'i Naruto-senpai. Tapi sering-sering bawa Hinata-sama kesini! Ok?"
'Lupakan.' Ujar Naruto dalam hati. Entah kenapa ada perasaan aneh saat ia melihat Hinata memiliki fans sebanyak itu. Ada perasaan tidak rela orang-orang itu menyukai Hinata.
Hinata masih memegang lengan baju –ralat– sekarang lengan Naruto dengan senang. Banyak juga orang-orang yang iri. Sementara Naruto yang tidak sadar hanya membiarkan Hinata tetap memeluk lengannya.
Tiba-tiba Hinata berhenti. Tepat di depan toko roti yang menjual Cup Cake tadi. Mau tidak mau Naruto juga berhenti karena lengannya yang di peluk Hinata.
"Kau mau?" Naruto hanya mendapat anggukan dengan pipi Hinata yang menggembung. Mereka pun masuk kedalam toko itu. Memilih cup cake yang akan dibeli.
"Hanya satu. Ok?" Hinata mengangguk senang dan kemudian memilih sebuah cupcake dengan krim berwarna putih dan cherry di atasnya. Tidak lupa beberapa taburan meses warna warni yang menambah cantiknya cup cake yang dipilih Hinata.
Naruto kemudian membayar cup cake yang dipilih Hinata dan segera mengajak Hinata keluar karena tidak tahan melihat para gadis yang menatapnya centil.
Hinata memandang dengan takjub cup cake yang Naruto beli. Ia sangat suka. Suki suki suki suki desu~
"Kau menyukainya?"
"Hm.. karena Naruto-kun yang membelikannya untukku. Jadi aku suka." Ia kemudian menggigit sedikit cupcake itu.
"Naruto-kun mau? A-Ah tidak.. Itu terdengar seperti aku memberikan sisa makananku ke Naruto-kun." Hinata memakan kembali Cup cakenya dengan perlahan dan wajah yang sedikit menunduk. Tanpa ia sadari Naruto melangkah dengan cepat ke depan dan membungkukkan badannya sedikit. Ia kemudian memakan cupcake yang sedang di makan Hinata.
Wajah mereka dekat. Hanya dipisahkan oleh sebuah Cup cake. Naruto juga tidak tau apa yang merasukinya. Dan kenapa dia malah tiba-tiba berjalan ke depan dan ikut menggigit cup cake yang sedang di makan Hinata.
Mereka diam dengan posisi seperti itu beberapa detik, bahkan ada orang yang memotret momen mereka yang sedang memakan cup cake dengan mesra di depan umum. Dengan perlahan Naruto mundur dan ia kembali berdiri seperti biasa.
"A-Aku tidak akan jijik makan makanan yang sama dengan orang yang semanis Hinata." Naruto kemudian merutuki dirinya yang malah membuat suasana bertambah canggung. Rona merah pun menjalari pipi keduanya.
"Ano.. A-Arigatou gozaimasu." Hinata berucap dengan sangat pelan. Ia kemudian mengadah menatap Naruto yang kini terlihat sangat lucu. Krim dari cup cake tadi ternyata mengenai bagian atas bibir Naruto. Dan tampaknya pemuda maniak ramen itu tidak sadar sama sekali.
"Naruto-kun." Hinata menunjuk bibirnya sendiri. Mengisyaratkan Naruto untuk menghapus krim yang ada di atas bibirnya.
Tapi Naruto yang salah paham mengartikan isyarat Hinata, tampak terkejut karena menurutnya Hinata meminta sebuah ciuman. Naruto tambah merona.. ia menoleh ke kiri dan ke kanan lalu menggaruk-garuk leher belakangnya. Tidak ada salahnya 'kan? Lagian Hinata 'kan sangat manis.
Chu~
'Ya tuhan. Jangan pingsan.' Hinata langsung mensugestikan ke badannya agar tidak bereaksi berlebihan.
Mereka berciuman. Di muka umum. Hanya beberapa detik dan hanya menempelkan bibir, tapi itu saja mampu membuat jantung Hinata berdetak keras. Ini ciuman pertamanya. Ciuman pertamanya sejak ingatannya hilang dan di gantikan ingatan baru. Dan Naruto pemuda pertama yang merasakan ciuman pertamanya.
Naruto kemudian melepaskan ciumannya. Ia sedikit terkejut saat melihat krim yang ada di bibir Hinata. Padahal sebelum ciuman tadi ia merasa tidak ada krim di bibir Hinata.
Hinata memegang dadanya dengan telapak tangan yang terkepal. Ia harus mampu menetralkan kembali detak jantungnya. Apalagi masih ada perjalanan pulang ke rumah Naruto.
"Na-Naruto-kun salah paham." Ia berujar dengan suara yang sangat sangat kecil.
"Itu.. bibir Naruto-kun ada krim. Ma-Makanya~" Naruto sudah tidak lagi mendengarkan perkataan Hinata. Rasanya telinganya terdapat asap yang keluar karena saking malunya. Bagaimana mungkin ia bisa salah paham?
Hinata kemudian dengan cepat berjalan meninggalkan Naruto yang masih mematung.
"Eh, Hinata? Hinata! Gomenasai!" Hinata tambah mempercepat langkah kaki kecilnya.
"Na-Naruto-kun no baka!" dan sore yang indah itu terjadi aksi kejar-kejaran antara dua orang berbeda gender yang menarik perhatian.
Ne, selamat berjuang Naruto-kun! Ganbatte!
.
.
TBC
.
.
A/N: Ah haloo! Divaa update agak cepat karena permintaan maaf Divaa kepada readers-san. Soalnya chp 2 kemarin Naruto jadi terlihat cengeng dan Divaa baru sadar akan hal itu setelah baca review dari kalian. Padahal Divaa ingin ngebuat Hinata bisa ngelihat sisi lemah dari Naruto. Tapi nyatanya malah buat Naruto sering kali nangis ya? Gomenasai!
Oh ya~ masalah konflik.. karena permintaan readers yang gak pingin Divaa buat cerita cinta segitiga, segi empat, segi lima (Divaa ketawa sendiri loh baca salah satu review) jadi Divaa putuskan akan mencari konflik lain dan untungnya udah ada beberapa konflik yang terpikirkan.
Konflik pertama mungkin akan ada di chapter 5. Sekarang masih pengenalan antara Hinata dan Naruto. Oh ya, karena divaa updatenya cepat, divaa jadinya gak bisa balas review satu-satu! Jadi Arigatou gozaimashita yang udah review fic Divaa!
Arigatou minna:
Retsuya02 , itanatsu, june25, , kurama no yokay , kirei- neko , Nobi , betmenpengangguran , JihanFitrina-chan , Ome Mr Panda , Zombie-NHL , Blue-senpai , Murasaki –Nabilah, Nirina-ne Bellanesia , 2nd silent reader , KandaNHL-desu , Bunshin Anugrah ET , Aizen L sousuke.
Jangan lupa review, ok? n,nb
